SAJAK MALAM
berkali-kali menarik nafas dalam-dalam
menahan ngilu detak jarum jam
serupa irama langkah makhluk yang aku rindukan
: sajak malam!
Cilacap, 29 Juni 2015
KAUBUKALAH JENDELA
kaubukalah jendela sunyimu, suatu siang
udara panas menyerbu kamarmu yang berantakan
cemburumu pada sajak-laut bergemeretap
: hidup harus berkeringat, bisikku di telingamu
seperti debu, suara isakmu berlompatan dari jendela
hidup harus selalu tersenyum, bisikku lagi.
Cilacap, 29 Juni 2015
SUARAMU YANG SERAK
suaramu yang serak kukira bangun tidur
mengabarkan mimpimu: mengemas hatiku setulusnya, sepenuhnya!
Cilacap, 29 Juni 2015
TUBUH SENYAP KEKASIHKU
rasa kehilangan yang mengekal; menetesnya darah puisiku
pada jalan panjang masalalu yang absurd
pada amis pelabuhan, karang-karang runcing
padang getir, bukit dan lembah berkabut
aku kemas segalanya untukmu, tubuh senyap kekasihku, o, puisi!
Cilacap, 28 Juni 2015
KENIKMATAN DALAM LAPAR
kenikmatan dalam lapar adalah menjejak alam bawah sadar dengan perlahan
ada keindahan yang asing serupa senja dan matahari yang menurun
di batas laut, dan kau duduk di sampingku, melukis sketsa diriku berlatar laut senja.
Cilacap, 27 Juni 2015
APAKAH DIRIMU SUKA LAUT
aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku, bung puisi
kekasihku masak diksi yang dipetik sepanjang jalan berdebu
goreng estetika, rendang daging-ambigu
bakar kata-kata dari laut
semur jamur-lumut ilham
jus kepahitan hidup
segelas airmata, dan keringat yang mengucur dari leherku
dirimu datang tepat waktu ya bung?
banyak cerita yang akan bisa kaudengarkan dariku
dan aku juga ingin mendengar cerita darimu
apakah dirimu, bung puisi, akan mati?
seperti diriku, apakah dirimu suka laut?
Cilacap, 26 Juni 2015
DARI WAKTU KE WAKTU
dari waktu ke waktu kenangan menggenang di kamar ini, rumah ini
bagaimana setiap malam engkau mengecup keningku
engkau menyiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatanku
bahkan tak jarang engkaulah yang menyisir rambut dan merapikan bajuku
dan banyak hal unik dan tulus lainnya kau lakukan kepadaku, chin
: genangan di kamar ini sering merendam gigilku, lalu melambungkanku
aku melayang ke mana saja
sampai aku lelah dan tertidur dengan sejuta mimpi
dengan sejuta mimpi!
Cilacap, 26 Juni 2015
MENCINTAI KABUT
mencintai kabut yang turun di penghujung malam
dalam sujudku; angin pelan seperti isak tertahan
dan jemari tanganMu mengelus rambutku yang beruban
kelopak mataku basah merindukanMu.
Cirebah, 24 Juni 2015
Biodata:
Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.
Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
Handphone: 082322062966
