Tamsil Caraka
ajarkanlah aku bagaimana mengeja sunyi
dari altar paling lindap, berlinang di jari meja makan
yang kenyang dari gemuruh dan rusuk tubuh
tuturkanlah berita ini pada anak dan cucumu
bahwa kau menganggit benda itu
yang sampai pada kedua tanganmu
dan tulangnya tak terbit pada sebuah adalah
kubisikan pada angin di sebuah perjalanan
tentang kesik yang mengudara di duri-duri
juga malam yang tak kunjung padam
di hela pusaka dan nyanyian istana
sebagaimana utusan, kidung ialah jaduk dalam nurani
menuntun tajali, dari gelap yang abadi
dengarlah baris-baris ini
pusaka terbang tak jauh dari bayang dirimu
memeluk lirih rangkul dan pangku tubuhmu
Bintaro, Juli 2016
Dora Sambada
aku tidak dusta pada api dalam mulutmu
tidak pergi dengan tahi di atas punggungmu
kubayangkan amsal ular dalam panu merekah
di sela tubuh yang dengki paling purbawi
aku tidak remuk dalam doamu
mencemari asap banal pun profan dalam paru-paru
kulihat lidah yang menari di sekujur tubuh
desis bisa menyiratkan api suci
aku tidak tidur dalam tangismu
menyanyikan kidung kesetiaan
pada bilik sembab dan sembah
kudengar derap langkah gagah
terbang di atas sebuah kisah kasih
tak sudah-sudah.
Bintaro, Juli 2016
Mendengar Kecipak Air
selimut cuacamu
memayungi batu-batu penyangga kepala
yang kerap bersuara
di dalam langit-langit kepakan sayap
ombak bertapa dan sauh buritan
meluncur di selebu
mimpi yang bergelombang pada riak
hibuk mudik membuka makrifat,
desir pantai yang raun-raun di sepanjang bibir
menyalakan senja yang tawar dalam dadamu
di atas tebing rindu dan di bawah pualam kalbu
wajahku terhapus oleh kaki-kaki geladak
yang membakar doa
dalam avontur laksamana mengunyah pembajak
mendengar kecipak air
setidaknya kepalaku mengalir tenang
nujum ikan-ikan
kembali dansa mendekap jaring nelayan.
Bintaro, Juli 2016
Pulau
jangkar tak mampu lagi menahan perhentian kita
yang ada hanya karat pada batu karang
dan kau tak mampu lagi menyusun pasir
yang kita tinggalkan pada peristirahatan kemarin.
apa yang tersisa dari jejak yang dihapuskan pasir kepada air?
lumbung kaki yang menimbun ingatan-ingatan perjalanan,
angin dan genggaman hujan.
apa yang terpelihara dari tubuh-tubuh yang datang silih berganti,
menuangkan tujuan mereka masing-masing lalu melaut bersama udara
yang dingin memekakkan tas, pakaian dan wewangian sementara?
kita dicurigai orang-orang dan diusir oleh dermaga kita sendiri.
pergi dan pulang hanya omong-omong kendaraan,
membawa gugusan petang
lalu akan segera terbenam menjadi malam.
palung hati mengubur perahu-perahu
yang mondar-mandir di perhentian keterasingan.
menakhodai badai yang datang
membawa tumpukan makanan cepat saji
yang hangat senantiasa menidurkan kita dari piring-piring kebahagian
sebentar saja.
Bintaro, Juli 2016
Sampyuh
demikian kita sampai di sini
tidak di mana-mana dan tidak apa-apa
langkah yang kulalui gumul dengan angin sembap
asap lembap dan aspal tak henti-henti
penaka paradoks zeno, langkah kita
tak tiba dalam beberapa cuaca
achiles, kura-kura dan kita
mencoba berlari sekuat tenaga
menembus lorong-lorong beliak
mendayung mimpi kian beriak
aku di atas, kau di atas dan terus berperang
di antara kantata cemas tak berkesudahan
kita bertapa dalam ombak gerak
menabrak celah langit-langit yang bergejolak
di bawah gema semu dan belian lindur
lahir anak panah dalam riwayat papa
panah itu,
panah yang kuhujamkan di langit-langitmu,
menerobos dinding waktu kita
kita bersidekap di antara bayang-bayang remang
merawi gamang yang bersarang di tiang-tiang
Bintaro, Juli 2016
Tatahan
jikalau jalan raya mendengar lebam semut
dan bersin seseorang dari kamar yang dikunci
adakah mobil-mobil itu memejamkan mata
dari langkah-langkah beribu sunyi?
jikalau airmata menertawai bola mata yang berkaca-kaca
adakah yang peduli pada gemercik yang turun setetes demi tetes?
jikalau tetes itu menggunung di kasur dan tisu
adakah yang didapat dari tisu yang berwisata
ke tempat sampah—dan kasur yang dijemur?
jikalau lembayung masih menatap kita
adakah jawaban meluncur dari sekon-sekon kesekian?
jikalau andaimu itu terbit di sebuah adalah
maka tiada belum dalam pertanyaan-pertanyaan kita.
Bintaro, Juli 2016
Galeh Pramudianto, mahasiswa akhir Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Jakarta. Menulis naskah drama, puisi, esai dan skenario. Penerima beasiswa menulis fiksi Tempo Institute. Manuskrip puisinya (Kacukan) masuk nominasi 10 besar (masih berlangsung, dengan juri Herman J. Waluyo dan Gunawan Maryanto) dan akan diterbitkan dua bahasa (Indonesia dan Inggris) oleh Pena Kawindra. Pengajar teater dan sutradara di Sanggar Embun Cileungsi—juga kadang bergiat di Riset Teater Jakarta. Buku puisi tunggalnya: Skenario Menyusun Antena (2015).
Pernah memenangkan sayembara antara lain: 10 besar Festival Film Bandung IKAPI JABAR 2014 (Cipta film), UNJ Art Festival 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksimida 2014 (Juara 1 penulisan lakon), Peksiminas 2014 (Juara 3 penulisan lakon), Festival Seni UNJ 2015 (Juara 1 cipta puisi), Falasido UI Bulan Bahasa 2015 (Juara 2 cipta puisi). G-Sastrasia Bulan Bahasa UNJ 2015 (Juara 1 Cipta Puisi). Piala Indonesia UNJ (Juara 1 Cipta Puisi dan Juara 2 Cipta Cerpen).
Naskah dramanya: Sesuka-suka (2013), Opera Oposan (2014) dan Parabel Pembelot (2014). Beberapa puisinya termaktub di pelbagai antologi: Dari Negeri Poci: Negeri Langit (2014), Rodin Memahat Le Penseur (2015), Buletin Jejak Forum Sastra Bekasi, Buletin Sastra Stomata Rawamangun, Dari Negeri Poci: Negeri Laut (2015) dan beberapa media daring. Bisa ditemui di senandungmendung.com atau melalui akun twitter @galehpramdianto. Korespondensi: galeh.pramudianto@gmail.com dan 0856-175-7768.