Arsip Tag: Otang K.Baddy

[Cerpen] Habitat Sudarmos

Cerpen Otang K.Baddy

Gila! Kiranya telah minuman apa lelaki itu. Juga tak jelas apa dikonsumsinya itu produk imfor, lokal berizin depkes atau sekadar oplosan. Tak ada yang tahu.  Selain ia tampak merasakan gatal yang luar biasa di sekujur serta tak enjoy duduk di kursinya. Tangan dan kakinya tak bisa diam. Jentak-jentik mirip cacing yang kepanasan di musim kemarau. Apakah ia  tengah  mabuk berat?

“Tidaakkk….!”  ia berteriak seraya menggebrak meja sekuatnya. Karuan saja berkas-berkas yang menumpuk itu terjatuh dan tercecer ke lantai.

“Eling, Tuan Mos?”

“Santai aja, Boss. Jangan emosi begitu, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

“Iyalah, kayak  bocah kampung aja, pake cengeng!”

“Tidaaaakkk….!”

Sudarmos pun melompat keluar,  lalu diikuti beberapa anak buahnya yang takut kehilangan. Dari gerak-gerik serta ucapanya terus dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan ketika lelaki itu berlari  hendak meninggalkan tanggungjawabnya.
*

Sudarmos melempar baju seragamnya. Kepada para pengikutnya ia mengajak untuk menanggalkan segala atribut yang selama ini telah menjadi kebanggaannya.

“Cih, semuanya cuma tikotok, jadi buat apa dipelihara!” katanya seraya  meludah. Demi melupakan kemelut yang  bak mencekik leher, ia mengajak rilek di tepi pantai.. Menurutnya itu merupakan cara terbaik dan harus dilakukan secara total. Dalam arti  tak cukup cuma dengan menikmati desir angin, melainkan harus diwujudkan dengan car berjoget. Demi keloyalan akan janji dan sumpah bawahan, tak seorang pun yang berani menolak. Bahkan beberapa pengawal bersenjata laras panjang pun segera melucuti senjatanya, lantas ikut pula berjoget bersama Sudarmos.

Mereka berojet tanpa musik. Mereka berdendang bersama debur ombak.
**
Sebenarnya bukan suatu kegembiraan, melainkan pelampiasan atas kemelut tanpa ujung selama ini. Sanjung puja atas kemenangannya menjadi seorang bupati terpilih di Saliwong, telah melahirkan lagu-lagu manja dari para pendukungnya. Minta sekian persen ke, minta tender anu ke, minta pulus pulus lainnya –yang padahal nyata-nyata gatal melebihi daun pulus.

Topik yang paling hangat dalam pembicaraan tiada lain mengenai Wisata Karang Toge. Satu agenda pengembangan wisata bahari andalan di kab Saliwong. Belum apa-apa sudah ricuh. Sedianya batu karang yang sebelumnya sempat dikenal sebagai tempat bertapa pemburu nomor togel tersebut hendak dikemas dengan balutan sorga seribu bidadari. Namun wacana gila itu berujung buntu dan saling lempar tanggungjawab. Semua investor yang sempat diundang tak seorang pun ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Hampir setiap hari sejak terpilih menjadi bupati,  Sudarmos sering mengadakan rapat darurat. Tapi hasilnya tetap buntu. Segala solusi yang diajukan tak ada yang pas, malah kesannya merupakan hayalan basa-basi belaka. Solusi terakhir yang dianggap dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, Sudarmos telah memilih tepi pantai yang damai. Namun tetap saja gagal, semua seperti benang kusut bercampur tikotok yang sulit diurai.

“Makanya, sejak kini kita semua tak usah kembali ke kantor. Kita terus berjoget saja di sini.”

“Wah?”
“Sampai kapan kelainan cinta ini berlangsung, Bos?”

Sudarmos tak menjawab. Ia terus saja berjoget. Tubuhnya yang semula kekar menjadi lentur. Ia menari gemulai seperti ular. Di benaknya ia mecoba menikmati sorga dengan seribu bidadarinya. Sesekali ia bersalto di atas ombak. Kadang tubuhnya berjungkir di atas pasir.
Melihat majikannya yang bertingkah aneh, para pengikutnya tak cuma cemas. Melainkan bulu kuduk mereka pun  seketika meremang, terlebih ketika melihat muka sang majikan itu berubah seperti kelelawar.

“Jong, saya berhenti jadi bupati, deh!” katanya dengan suara beda.

“Lho, memangnya kenapa.,boss?”

“Makhluk macamku tak mampu jadi pemimpin manusia!”  katanya, sebelum kemudian ia terbang jauh menuju ke habitanya sebagai hewan pemakan buah-buahan(*)

 

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (3)

–sambungan dari Bag-2

Lagi-lagi terjadi simpar-siur, apakah ini cerbung ataukah  cerita mini seri.  Tak ada yang tahu pasti. Namun harap maklum karena tulisan  ini timbul dan terjadi di sebuah dusun sunyi di masa lalu. Di mana anak-anak perawan dan bujang konon belum mengenal lipstick dan gincu. Tapi bukan berarti karena tak tahu mana kulit mana isi lantas berlipstick  menggunakan tai ayam atau berbedak pakai abu. Tidak.  Mereka pun tetap berlagu. Kidung kasmaran, kidungnya parahyangan yang merdu. Saat malam terang bulan, mereka bermain di tanah lapang. Sementara rumah-rumah bilik diterangi pelita kelapa atau lentera. Begitu indah dikenang. Yang jelita, yang rupawan di masanya, suka-cita dan ceria warga di zamannya.

Namun suasana yang kerap membuai itu tiba-tiba lenyap tatkala malam-malam tanpa bulan, tanpa bintang, juga bilik-bilik tanpa lentera dan lampu kelapa.  Suasana ceria itu tersulap aroma mistis, bayangan horor berkembang dan kental di benak-benak mereka.

Masalahnya, kalau tak batu terguling pada malam-malam tertetu,  pasti yang didengar suara tangis.

Tangis itu seorang lelaki teraniaya. Tangis kesakitan yang melenguh panjang. Tangis kesedihan sekaligus kesaksian. Tangis yang tak sudi difitnah sebagai penghianat pada bangsa, negara dan agama. “Tidak. Aku bukan penghianat. Aku tidak berbuat macam-macam. Aku hanya sebagai rakyat biasa!”  Barangkali begitulah yang hendak diutarakan dalam suatu sidang. Namun di sini tak ada sidang, keputusan terlalu cepat dibuat. Tanpa penyelidikan atau penyidikkan. Zaman memang tengah darurat.

Lelaki tertuduh itu bernama Kaswian. Disaksikan para anggota keluarga dan khalayak para pengungsi dan beberapa anggota pejuang di bukit itu. Bukit Kiarapayung. Suatu tempat yang terbilang aman untuk mengungsi jika terjadi konsfrontasi. Jadi tak mungkin ada peluru nyasar karena di sana-sini banyak pohon pelindung  –termasuk pohon kiarapayung yang teduh, dan juga goa-goa.  Kaswian, dalam hukumannya harus menggali kubur sendiri, tak diperbolehkan barang seorang pun untuk membantu. Lelaki itu terus mencangkuli tanah, mengangkatnya dengan sekop, kadang meratakan sisinya dengan tembilang .

“Biar semua tahu, begitulah cara penghianat mengawali detik-detik perjalanan hukumannya,” ujar seorang lelaki berpengaruh . Seorang yang dipercaya dari pihak pejuang sebagai ketua dalam  acara yang menggetirkan itu. Para hadirin, hanya meringis menyaksikannya. Tak mampu berbuat apa-apa selain menonton.

Setelah selesai menggali tanah di kemiringan bukit itu,  Kaswian disuruh berdiri membelakangi lobang tanah galian itu. Lalu seorang petugas mengambilkan tali khusus, yang di tengahnya telah dibuat kolongan, pas untuk dimasukan ke kepala terhukum.  Setelah kolongan itu dipasang di leher, tali itu ditarik dari dua arah berlawanan. Bak suatu lomba tarik tambang.

“Lihatlah semuanya….inilah ganjaran bagi seorang mata-mata..!”  kata lelaki yang memimpin itu, dengan komando berikutnya; “Satu….dua….tiga…tariiik….!”

Orang-orang hanya meringis. Kalau diperbolehkan banyak yang mau menangis. Namun di sini tak boleh menangis. Buat apa menangisi seorang penghianat. Menangis berarti akan kena hukuman yang sama, mau tak mau – suka tak suka, harus siap dijerat leher setelah sebelumnya menggali kubur sendiri. Namun menangis boleh saja asal memenuhi syarat, yakni harus berjanji dan bersumpah seyakin-yakinnya. Tangis di sini bukan tangis kasihan melihat korban. Tapi harus menangis sejujurnya bahwa tak akan sudi sedikit pun untuk jadi penghianat seperti Kaswian. Dan itu pun  harus minta izin terlebih dulu pada yang punya kuasa di situ. Yakni para pejuang yang punya misi memurnikan negara ini menjadi bangsa madani. Isi perizinan itu, diantaranya harus berani berjuang melawan antek-antek penjajah yang saat itu memegang tampuk kekuasaan. Salah satu kesepakatan itu, paling tidak jangan menjadi penghianat dengan menjadi mata-mata seperti yang dituduhkan pada Kaswian.

Kaswian, lelaki itu. lidahnya menjulur keluar. Matanya mendelik, melotot terbalik.  Perut dan otot-ototnya mengencang, kadang pula bergumpal-gumpal, melendung-lendung  seperti balon mau meletus. Sekira nyawanya akan hilang, tali dari dua sisi itu diulur kembali.

“Bukan suatu hukuman namanya  jika  ia dibunuh terlalu cepat, biarlah dia merasakan siksa dan penyesalan atas perbuatannya sendiri,” begitu sang pembicara berujar. Sang tertuduh segera memburu nafasnya yang hampir hilang. Seraya berkata berat terpatah-patah; “bunuhlah aku..bunuhlah aku, biar lebih puas..”

“Haha…lihatlah dia telah menyadari perbuatannya. Dia telah menyadari dan tampak begitu sudi atas ganjarannya!”

Dan hukuman pun dilanjutkan dengan cepat. Leher lelaki itu dijerat kuat hingga tubuhnya terjengkang dan masuk kubur galiannya. Tanpa dimandikan, karena sang pengianat haram untuk dimandikan –apalagi disolatkan. Entah masih bernafas atau tidak, tubuh lelaki itu segera ditimbun dengan tanah. Tanah yang merah di bukit itu, tanah pengungsian di jaman bergolak. Konflik horizontal antara orang dalam dan luar. Yang pada intinya tak ada bedanya orang luar dan dalam , bagi rakyat tetap saja rakyat. Rakyat satu negeri, satu pulau, satu kecamatan, satu desa, satu lembur dan satu sumur –bahkan satu kasur.

Seperti apa yang dilakukan Kaswian, hanyalah sebagai rakyat biasa. Namun dari segi ekonomi terbilang berada.  Artinya, walau berada di pengungsian ia masih bisa pergi ke pasar. Sekedar beli makanan dan tembakau.  Pasar itu letaknya di dekat kecamatan, dekat dengan markas tentara. Dituduh penghianat, alasannya karena ia pulang membawa makanan kaleng. Yakin, itu dia beli dari pasar. Namun namanya juga jaman darurat, jaman bergolak. Mungkin saja yang namanya iri-dengki di pengusian itu ada. Mungkin ada yang melapor pada orang luar, orang luar itu  –yang menurut versi penguasa dinamai gerombolan pengacau.  Lelaki itu dituduh sebagai mata-mata dari penguasa, yang diberi imbalan makanan kaleng berisikan olahan daging. Gerombol yang menamakan dirinya pejuang kebenaran, makanan kaleng itu bukan makanan bangsa dirinya. Makanan itu makanan orang asing, begitu katanya. Maka, Kaswian, lelaki itu yang jadi korban. Ia terhukum. Terjerat. Terjengkang. Diduga lelaki itu saat dikubur masih bernafas. Jadinya, lelaki itu terkubur hidup-hidup. Di sebuah bukit, di dekat pohon kiarapayung, yang memang kerindangan pohon itu mirip payung.

**

Sampai negeri itu berubah. Sampai gerombolan pejuang kebenaran itu habis ditumpas, suara tangis di bukit itu masih sering didengar. Tangis seorang lelaki yang teraniaya. Tangis kesakitan. Tangis yang melenguh panjang. Tangis kesedihan yang tak berkesudahan. Tangis kesaksian  bahwa dirinya bukan penghianat. Tangis penasaran dari zaman yang pernah bergolak.

Para warga di dekat bukit itu sudah maklum akan tangis itu.  Yang biasa terdengar antara waktu magrib dan isya, pukul sembilan, tengah malam dan menjelang subuh. Semua  menduga tangis itu muncul atas kematian Kaswian yang tak wajar, sehingga melonggarkan kesempatan setan atau demit bukit kiara payung untuk mengoyah iman manusia. Karenanya tangisan itu pun kadang muncul beragam, sesekali terdengar seperti tangis perempuan yang berakhir  dengan tawa meringkik.

 

Namun yang lebih mencengangkan saat berikutnya ada suara gemuruh dari bukit itu.      Braakk….bruuk….! guluduugg…borotokkk….gorobass….prraaaaakk…..!

 

Gemuruh yang terdengar  itu suara batu-batu terguling. Mungkin sebesar kerbau atau sebesar truk lebih. Membetur sesama batu yang terlindas dan melabrak rerumpunan bambu. Braakk..! Bruuk…!     Guluduuk…guluduuk…! bletok..karabyaak…!, begitulah. Bukan satu batu, tapi banyak batu. Setelah gulingan batu itu sampai di lembah dan hampir menghantam rumah warga, kejadian serupa kembali menyusul. Bahkan saat berikutnya petaka itu datang lagi.

“Ah, ini benar-benar terlalu!” ujar seorang warga seakan menyesali keadaan. Begitupun yang lainnya, mengeluh, berpikiran sama yang ujungnya menyudutkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bah Madro. Lelaki bertubuh tambun itu yang selalu iseng mengganggu orang.

Betapa tidak, jika malam ada pejalan kaki yang lewat di jalan berbatu, di lembah sana, kalau tak melempar pasti menggulingkan batu-batu itu. Ulah itu sering dilakukannya, terutama saat-saat mondok di saung huma dekat kiarapayung itu. Barangkali keisengannya menakuti orang, agar dia dianggap demit bukit itu. Demit yang zaman sebelumnya kerap terdengar suara tangis lelaki teraniaya, tangis perempuan yang sebelum kemudian tertawa meringkik. Arwah penasaran berujud amarah dengan mengguling-gulingkan batu dari bukit pohon kiara. Mungkin terinspirasi dari itulah  Bah Madro senang bertingkah,  dan baginya seakan menjadi hiburan tersendiri.

Tapi kenapa mesti mengguling-gulingkan batu besar? Sebab dengan demikian, kesannya bukan horor lagi. Melainkan sebuah teror bencana yang mematikan.

“Ini sungguh membahayakan!”  desis warga lain di sekitar lembah.

Dan bukan satu dua orang yang mengutuk ulah Bah Madro saat itu. Namun mereka tak ada yang berani mengambil tindakan, mungkin karena kejadiannya selalu tengah malam. Rasa malas mereka semakin menjadi tatkala kantuk berat selalu menyerang.

Sebenarnya, gemuruh itu bukan wujud nyata suatu bencana. Kendati diacuhkan pun tak akan menjadi persoalan. Untuk mengatasinya  cukup dengan do’a atau keyakinan yang kuat. Sebab, manuver itu hanyalah ilusi belaka. Suatu ulah yang tercipta untuk menggoyah hati yang mendengarnya. Buktinya, di waktu siang jejak-jejak itu tak ada. Tak sedikit pun ada bongkahan batu, tak juga tampak bekas benturan atau rerumpunan bambu yang rebah. Tak ada sama sekali. Tak ada.

Yang ada cuma kisah masa lalu. Di jalan desa penghubung dusun itu dan dusun lainnya. Para anak bujang tiap menjelang larut malam selalu lewat, sekitar lima atau kadang sepuluh orang. Bernyanyi riang penuh guyonan, baik hendak atau pulang dari dusun tetangga tatkala mengintip bilik-bilik di pondok perawan. Mereka bukan sekali dua kali mendapat perlakuan iseng Bah Madro, yang tengah tunggu kebun di bagian atas bukit itu.

Sering ada lemparan, ya karena namanya juga iseng lemparan itu pun  tak dikenakan. Benda yang dilemparkan itu tak cuma batu, kadang ubi, jagung bakar, kedodong atau degan. Memang saat pertama ada rasa takut, namun kejadian berikutnya kalau tak digubris kadang pula senang jika lemparan itu berupa makanan.

“Hahah…! Hahaha…hahahah..!” Bah Madro kerap tertawa manakala usai melakukan isengnya. Suaranya begitu besar dan menggelegar. Mungkin dibuat sengaja agar disangka demit Kiarapayung, yang menurut dongeng sepuh terkesan angker.

Namun keangkeran itu ternyata cuma resep meredam anak agar tak cengeng. Juga upaya melestarikan alam agar sumber mata air tak kering, dan pohon kiara itu tak ditebang oleh tangan-tangan jahil. Namun tak menutup kemungkinan, yang namanya makluk halus itu ada. Begitulah, barangkali Bah Madro merasa terinspirasi sebagai demit bukit Kiarapayung.

Bah Madro suka iseng, telah dilihat sendiri oleh Sarno –seorang cucunya yang pernah ikut mondok di kebun lelaki itu pada musim panen jagung. Benar, ladang jagung itu tak jauh dari rimba kiara. Di tempat itu banyak lutung, monyet, dan juga babi hutan. Pada musim itu Bah Madro merasa kewalahan. Selain bantu menjaga serangan binatang itu, juga hitung-hitung menikmati bakar jagung yang hijau segar.

Malam itu cahya bulan benderang, anak-anak bujang terdengar riang di jalan desa di lembah sana.

“Nanti saat pulangnya..” Bah Madro terkekeh menahan kegelian niatnya. Ia menunjuk sebuah batu besar, diperlihatkan pada cucunya yang berusia tujuh tahun itu. Anak itu pun ikut-ikutan menahan geli, dan tak sabar ingin menyaksikan bagaimana kisah seru yang dilakukan kakeknya.

Dan tak begitu lama, saat yang dinanti itu datang. Bahkan kesannya lebih awal dari biasanya. Kepulangan mereka dirasa cukup cepat. Yang biasanya kunjungan itu memakan waktu sedikitnya dua jam, ini sekira limabelas menit. Namun keheranan itu seketika lenyap tatkala ditemui suatu alasan. Mungkin saja ada gangguan, misalnya para perawan itu tak berangkat ke pondok karena sorenya terjadi hujan gerimis.

“Mari..kakek, bantu!” lelaki itu menyeret cucunya. Mengambil linggis, mendongkelnya. Begitu berat, namun berusaha sekuat tenaga hingga otot-otot lelaki itu tampak mengencang. Dan batu besar itu mulai terguling…gorobass…gorobass…dak..duk..brak..brek…prak…! Menggelinding ke lembah, ke jalan itu,, ke para anak bujang itu.

 

Aneh!?

Seperti ada keganjilan di sana. Biasanya usai aksi itu bakal terdengar suara langkah atau sorak-serai para anak bujang. Entah suara takut atau suara pura-pura takut, misal saling mempercepat langkahnya. Sebab, mereka sudah tahu yang menggulingkan batu itu bukan demit bukit Kiarapayung, tapi Bah Madro. Ini benar-benar di luar dugaan. Apakah yang lewat kawanan tadi itu bukan aslinya para pemuda kampung? Lantas siapa ya?, begitulah  Sarno sempat heran.

**

Bah Madro, demit Kiarapayung, atau ilusi yang tak bertanggung-jawab, entah siapa sebenarnya yang menggulingkan batu malam-malam saat orang lelap. Malam-malam berikutnya menjadi tak jelas, simpang-siur. Mungkin karena kesiur angin, atau karena warga terlalu segan dengan pohon kiara yang kerap menunjukkan keperkasaan di benaknya. Bahkan, mungkin penguasa saat itu pun terinspirasi untuk menjadikan kiarapayung sebagai lambang partainya.

Dengan koloni rotan alas dan bambu, bermacam kedaka, binatang buas seperti ular cobra, macan belang atau tutul. Keluarga monyet atau lutung , para bajing, juga bermacam burung  seperti elang, gagak, kangkareng, ciung, ketilang, jalak, dsb, termasuk pipit pun lengkap di situ.    Kiarapayung laksana sebuah kerajaan rimba yang perkasa.

Sosoknya  yang menjulang menggapai langit itu kerap dijadikan barometer para nelayan pencari ikan,  misal apakah pelayarannya tak terlalu jauh menyasar atau tidak. Jika pohon itu masih terlihat, berarti perambahan laut masih dalam status wajar. Barangkali dari kepercayaan yang diakui warga itulah, Kiarapayung tetap menebar manuvernya. Yang jadi korban, tentu dusun terdekatlah. Dengan menuduh Bah Madro sebagai kambing hitamnya?

Bagaimana tidak. Batu-batu terguling, kadang disusul tawa terbahak. Kadang terdengar alunan seruling kidung kasmaran. Juga suara-suara wanita cekikikan, yang sebelumnya lolongan anjing sebagai penghantar suasana seram mencekam. Namun berita itu cuma isyu, kadang tak jelas alias simpang siur.  Sebab, saat terjadi batu terguling  –atau lemparan-lemparan iseng  — seperti batu-kerikil, ubi jalar, singkong, pisang, pepaya, jagung, kedongdong atau daugan, kadangkala di ladang itu Bah Madro tak mondok.

**

Selama hamir  40 hari setelah kematian tragis itu, warga dusun tak ada yang berani keluar rumah. Terutama jika hari berganti malam, begitu magrib datang, tua-muda semua masuk ke biliknya. Karena rasa takut yang menyungkup di benak-benak mereka, untuk sekedar buang hajat atau kencing pun tak merasa sungkan walau cuma ditadah di ember. Biarlah, besok saja air dan hajat itu dibuang, begitu pikir mereka. Tak peduli bau pesing dan bau haluan botrok menyergap di rumah bilik mereka.

Begitu pun langgar-langgar mendadak sepi, tak ada solat berjamaah. Tak ada bacaan solawat nabi dan pepujian anak-anak mengaji. Aktivitas itu seakan berhenti tiba-tiba. Anehnya tak ada wejangan atau penyuluhan dari tokoh agama atau pemerintah setempat. Semua seolah terhipnotis dengan keadaan.  Lampu lentera, pelita kelapa atau cempor tak ada satu pun yang dinyalakan. Dusun itu sepi mencekam. Malam-malam gelap bagai kuburan.

Bayangan horor itu memang terus menyergap pikiran mereka. Terutama setelah melihat kematian Bah Ado yang mengenaskan. Lelaki itu memang telah mati terbunuh. Namun entah siapa pembunuh itu, sungguh sangat misterius. Sepertinya pembunuh itu bukan manusia, sebab luka di bagian belakang kepala itu bukan bekas senjata tajam seperti golok atau sejenisnya. Luka yang menganga itu bekas tancapan kuku tajam yang meruncing. Orang menduga, karena lukanya bekas kuku harimau, yang membunuhnya itu pasti harimau atau siluman harimau. Namun entahlah.

Yang jelas di pagi buta geger. Istri mendiang tak tahan dengan keadaan, tangisnya meledak dan meraung-raung seraya mendekap seorang yang tak berdaya. Darah segar tercecer di dekat pintu masuk dan sampai ke tengah rumah. Bahkan tak sedikit yang muncrat ke bilik.

Tersiar kabar yang membunuh lelaki itu adalah seorang wanita. Tanda-tanda yang mengarah ke situ memang ada. Beberapa saat sebelum kejadian itu, beberapa warga yang terlintasi jalan setapak di depan rumahnya mendengar suara wanita seperti tengah cekcok dengan Bah Madro.

Bahkan seorang bercerita, ketika malamnya lelaki itu nganjang ke rumahnya. Entah kenapa sang korban seperti gelisah. Apalagi setelah di luar ada suara seorang wanita seakan memanggil-manggil nama lelaki itu.

“Tunggu sebentar,” kata Bah Madro yang saat itu tengah menikmati kopi. Walau tampak sungkan ia segera permisi ke pribumi hendak memenuhi panggilan itu, yang diduga tuan rumah adalah istrinya Bah Madro.

“Ditunggu sejak tadi, kok,” terdengar percakapan oleh tuan rumah. Selanjutnya tak tahu karena keduanya semakin menjauh. Ya, mungkin itu tadi, para tetangga yang jalannya terlewati.

Bah Madro seakan cekcok dengan seorang wanita. Namun percekcokkan itu berubah menjadi teriak kesakitan seorang lelaki yang disusul suara tawa meringkik seorang perempuan.

“Hihihi…Hihihi…!” Begitulah. Ada yang menduga, wanita itu istrinya Bah Madro. Mungkin istrinya  yang lain dari bukit kiara payung. (*)

[Cerbung) Di Balik Mata Yang Buram (2)

Sambungan dari Bag-1

Karena itu hati-hatilah. Mata dan kuping harus difungsilkan secara jujur. Mengingat panca indera manusia multiguna, salah kendali bisa berakibat fatal. Jangan dibiarkan benak itu sampai melenggang dan menggentayang. Seperti dalam kisah ini, seketika tercipta dan terdengar suara yang sebelumnya dibayangkan. Ya tentang suara dari yang punya bulu halus, corak belang dan yang berekor panjang itu toh. Suara yang terdengar mendengkur, mengaum dan juga menggeram. Mungkin karena kepercayaan yang kuat itulah yang membuat otak terasuk.

Ya seperti cerita tentang rumah kosong dekat langgar itu. Kan jadi membawa ingatan pada mulut sebuah goa di tepi hutan. Maka tak pelak aroma horor pun kerap meneror, baik sebelum atau sesudah keluar langgar. Ya, seperti yang dialami Kodir belakangan ini.

“Allahu Akbar!” Ia setengah meloncat dan berjingkat dari langgar, tatkala pulang usai menunaikan solat isya sendirian. Gara-garanya ia terlambat berjamaah akibat keenakan nonton bola di tv. Di benaknya, dari balik kaca rumah yang gelap itu sepasang mata merah menyala mengancam. Betapa tidak, sebab sebagai jemaah langgar ia tahu betul karakter siempunya rumah itu yang punya watak kasar. Dan wajarlah jika kerap menghantui dirinya, juga para tetangga sekitar langgar.
**

Semua yang terjadi itu sebenarnya gara-gara Ki Tamim, seorang lelaki tua di lingkungan ke-RT-an itu. Seharusnya ia bisa menjaga lidahnya dalam bertutur, bukan malah sebaliknya. Omongnya yang seperti bijak, tak tahunya telah menggentayangkan arwahnya Kardian, seorang tetangga yang telah lama meninggal.

“Meninggal tak bersih tentu tak sampai ke Maha Suci, karena kesucian mana sudi menerima yang kotor. Maka ia akan menggentayang di antara langit dan bumi. Jiwa yang gelap akan tersesat ke jalan yang lebih hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang gelap dan seram,” Begitulah dari lidah pertamanya pernah tercetus, dan orang-orang mencernanya sepenuh jiwa, sampai pada akhirnya menyergap jiwa-jiwa mereka yang kerdil.

Goa dan rumah kosong, dalam kisah ini terkait erat. Namun sebenarnya itu bukan goa, tapi semacam lobang dangkal pada sebuah tebing di lembah kebun kelapa. Di tempat inilah diduga ia sengaja sembunyi untuk sekedar menghingdar dari pandangan orang atau pun para tetangga.

Lobang berukuran sekira 1,5×2 meter itu cukup leluasa untuknya berbaring terlentang, tengkurap atau meringkuk. Toh tak sampai 24 jam, ia hanya mebutuhkan waktu tak lebih dari 13 jam dalam waktu siang. Masuk menjelang pagi, di remang senja ia keluar. Kalau tak singgah ke kebun (yang berjarak sekira 10 meter dari lobang itu) untuk sekedar duduk menatap malam, ia akan langsung pulang. Dengan kehidupan malamnya yang terlatih, dalam waktu yang singkat pun telah mampu masuk rumahnya yang gelap.

Namun kendati kerap sembunyi dan mengisolasikan diri, tetap saja tercium. Tak karena rumahnya dekat langgar, tapi tatkala saban hari menghuni goa dekat kebunnya itu pun sudah banyak yang tahu. Berbatuk yang tertahankan itu kesannya menggeram, wangi rokok linting yang kerap menguar. Baik berasal dari lobang goa atau pun dari dalam rumahnya yang selalu gelap, siapa lagi yang berulah kalau bukan ia sempunya?

Ia lelaki gelap. Wajar jika orang mengatakan itu. Karena jika suka yang terang kenapa setiap siang ia mau membenamkan diri di sebuah lobang gelap. Juga, kenapa ketika malam-malam dalam rumahnya selama itu tak pernah menyalakan lampu. Padahal listrik ia punya, bahkan lampu di langgar itu pun listriknya dari dia. Seolah dengan lampu 5 watt di bagian depan rumahnya merasa lebih dari cukup. Itu pun penyala-pematiannya terpaksa dengan cara, yakni diputar orang langgar sesaat sebelum waktu magrib dan jelang pagi.

“Kalau dipikir, sungguh kasihan nasibnya sampai malang begitu,” ujar Ki Tamim di hadapan para tetangga, yang pagi itu sengaja berkerumun di depan rumahnya, yang juga tak jauh dengan rumah seorang tergunjing itu. Lelaki yang melansia dan jadi ki merebot di langgar itu, seolah tak bosan menceritakan nasib kematian tetangganya selama itu.

“Tapi biarlah, semua itu terjadi atas karmanya sendiri,” lanjut Ki Tamim. Semua yang mendengar berdecak miris, terutama para ibu-ibu. Nyali mereka tampak ciut dan gigil. Terbayang, wujud seram itu akan terus menghantuinya, terutama jika saat hari berganti malam..

Lelaki itu memang telah terfitnah!
**

Sebenarnya isyu itu sudah lama lenyap terkubur waktu. Suasana telah adem-ayem. Namun setelah hampir setahun terlupakan, tiba-tiba kisah serupa muncul lagi, bahkan yang ini ceritanya lebih parah. Semuanya terjadi karena jiwa-jiwa dan pikiran mereka yang lemah dan dangkal.

Sepatutnya yang mesti betanggungjawab adalah Ki Tamim, sebagai orang tertua di lingkungan itu. Kata-katanya yang seolah kebenaran dan bijak, bahkan dalam hal mimpinya yang riwan, malah bak sengaja menebar teror mistis.

“Ia memang lelaki gelap!”

Begitulah berkali ia katakan, bahkan sejak seminggu kepergiannya.

Mungkin kesyuudzonannya timbul dari ulah-ulah Kardian sebelumnya yang agak nakal dan pelit. Nakalnya, ia kerap menyambar gula-kopi dan rokok di tempat hajatan tetangga dengan tangan secepat kilat melebihi tukang sulap.. Pelitnya, nah, inilah sumber utama yang diduga melemparkannya pada kegelapan. Saat berjamaah magrib di langgar itu lampu gelap (karena layanan itu dengan lampu tunggal tanpa stop-kontak), seorang jemaah keluar dari syaf dan meloncat ke rumah Kardian untuk sekedar nekan saklar. Kardian yang pelit dengan teganya membatalkan shalat dan mengejar orang itu dengan hardikan, “Dasar kurang ajar kamu..Kodir, beraninya masuk rumah orang! Ataukah kamu mau maling,hah!?” tuding lelaki itu dengan mata menyala.

Dan kericuhan pun terjadi di langgar itu. Saking ricuh dan lampu tak sampai dinyalakan, jamaah shalat magrib pun bubar. Bahkan saat itu tak ada shalat magrib. Alasannya ya karena kegelapan dari lampu Kardian itu.

“Itu sebenarnya menunjukkan jati dirinya yang memang benar-benar gelap!” seakan mantap Ki Tamim kala itu berkata.

***

Kepergian Kardian telah sampai setahun.

Setelah punya mimpi –riwan, Ki Tamim kembali berkata-kata yang seolah bijak.

“Kegelapan itu terjadi karena dosa dalam hidup.” berhenti sejenak, lalu matanya menyapu reaksi orang-orang di hadapannya. “Arwah seperti Kardian akan terus menggentayang, melayang di antara langit dan bumi. Setelah mengalami derita yang panjang, ia akan terbanting ke jalur yang hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang seram dan gelap,”

Yang mendengar terhipnotis.Terlebih setelah orangtua itu menjelaskan pengalamannya semalam. Dalam keadaan setengah tidur dan terjaga, katanya, tiba-tiba tanganya meraba sosok tubuh mendengkur yang terbaring di sampingnya. Dengkur siapa, ia kenal betul suaranya. Dan ketika mata terbuka sesosok hitam terperanjat dan meloncat lewat jendela yang memang benar terbuka atau mungkin lupa menutupnya.

“Ia pasti langsung masuk lewat pintu belakang rumahnya, yakin saya mendengar suara pintu berderit,” kata Ki Tamim. Semula, sebagian menyangka yang masuk rumah itu Lumah—istrinya Kardian, yang sejak setahun tinggal bersama anak perempuannya di lain RT. Hanya saja, dalam waktu tak tentu ia kadang masuk rumah untuk sekedar menyapu ruang atau ngambil barang yang tertinggal bekas kunjungan siang.

Namun tiba-tiba pikiran mereka berpaling dari kejujuran, hingga tega melayangkan ke hal terbodoh sekalipun. Ilusi yang kian terpupuk itu semakin subur dan berkembang, bahkan menjadi suatu yang nyata-nyata di benak-benak mereka.

Baik di kebun kelapa tepi hutan atau di dekat rumahnya, tak luput selalu menebar suasana seram. Penghuni lobang dan rumah gelap itu, matanya menyala liar, seakan menacatat gerak-gerik orang di luar. Bagi jiwa yang terasuk, telah meluangkan energi negatif untuk terus menggoda kelabilan iman. Tak terkecuali Ki Tamim sebagai perpanjangan tangannya yang dianggap mereka lelaki pencetus kebijakan.

“Benar-benar kematian yang tak sempurna, kasihan dia padahal telah bergelar haji,” masih kata Ki Tamim dalam suatu kerumunan.

“Ya, arwahnya benar-benar gelap. Padahal kuburnya telah beberapa kali disirami air do’a, toh tak mampu mensucikan pendirianya demi menghadap sang khaliq. Ini malah tersangkut pada unsur kebendaan, dan terpaksa harus menjadi makhluk dengan wujud yang seram,” sambung Kodir seperti hotbah. Ia telah terpengaruh oleh dongeng-dongeng lelaki tua itu. Sikap pemuda 37 taunan ini tak pelak seakan mengukuhkan jiwa dan pandangan orang di lingkungan ke-RT-an itu, bahwa arwah Kardian sebenarnya masih akan terus gentayangan sampai hari kiamat.

Hampir setahun setengah, setelah kematian lelaki itu. Tak sepatutnya fitnah kubur itu terus menyebar dan jadi bahan gunjingan. Anehnya, orang sekampung tak satu pun yang mengatakan bahwa itu hanyalah fitnah kubur yang harus dibuang jauh-jauh. Semua seakan percaya, jasad lelaki itu tak diterima oleh bumi. Ruhnya yang kotor dan gelap, telah memilih jasad harimau sebagai penerus hidupnya. Nauzubillahimindzalik.

Selanjutnya

Lelaki Yang Terus Menangis

Cerpen Otang K.Baddy

Siang dan malam, tak henti-henti,  bahkan hingga nyaris satu minggu ini, lelaki itu terus menangis.

Tangisnya tersedu seperti anak tak diberi jajan. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Melenguh seperti kerbau lapar. Kadang pula berteriak histeris seperti ketakutan.

Anak-isteri, sanak saudara, para kerabat, tak habis pikir kenapa lelaki itu terus menangis? Beberapa dokter dan ahli nujum, pun kewalahan dan geleng kepala. Untuk yang satu ini mereka benar-benar angkat tangan, sekedar menunjukkan ketidakbecusan atas kinerja yang dipercayakannya selama ini. Lelaki berusia hampir 60 tahun itu tetap saja menangis.
“Wiiw…wiwi wiiiww….!
Wualaw…., wawawaw….wowowow….!
Aouuuwwww……!”
Demikianlah ia kerap menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang kebetulan lewat depan rumahnya.

Dibilang sakit keras  sepertinya tidak karena setiap ditanya ia selalu menggeleng. Bahkan, karena penasaran, anak-istrinya secara rahasia mencoba menelanjangi lelaki itu di ruang tertutup, siapa tahu ada luka menganga atau semacam bisul yang ganas. Namun hasilnya nihil. Tak ada luka atau pun bisul ditemukan di sana. Selain kariput sedikit faktor usia, kulit lelaki itu masih tetap mulus.

Tapi lelaki itu tak henti-hentinya menangis. Kadang tersedu seperti anak tak diberi jajan. Terisak-isak seakan merana yang dalam. Melenguh seperti kerbau lapar. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Kadang pula berteriak histeris dan menjerit-jerit seperti sakit tersiksa dan ketakutan. Tak pelak dan kadang bikin merinding tatkala suara tangis lelaki itu seperti tangisnya perempuan. Bahkan ada yang meringkiknya seperti suara kuntilanak dalam film horor.

Jika di siang tak terlalu jadi soal, mungkin suara nyaring tangis itu terhambat cuaca panas atau bising kendaraan. Yang menjadi risih jika tangis itu didengar tengah malam. Cuaca yang dingin itu telah mengantarkan suara tangis itu ke volume yang lebih nyaring dan melengking. Karenanya tak sedikit yang merasa terganggu oleh tangis itu. terutama para tetangga dekat, di pagi hari banyak yang lemas karena tak bisa tidur semalam.

Namun mereka masih bisa menguasai diri hingga tak terjadi antipati. Bahkan rasa simpati kerap hadir di benak-benak mereka yang mendengarnya. Semua berpikir mencari solusi, dan menduga-duga, mungkin penyebab tangis yang tak berkesudahan itu disebabkan dari sakit hati yang teramat dalam.

Pak Ketua RT yang merasa bertanggungjawab serta cemas merasa kewalahan. Pasalnya setiap kali ia menjenguk tangis lelaki itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangisnya terbilang aneh dan luar biasa. Yang biasanya seputar tersedu, terisak, sedikit melolong dan melenguh, ini malah menggeram seperti haraimau.

Karenanya sang ketua RT tersebut segera meghubungi Pak Kadus untuk mencari solusi terbaik. Setelah bermbuk singkat mereka berdua  segera mengumpulkan warga kampung di dekat rumah yang bersangkutan. Satu persatu, lelaki atau perempuan dewasa dipanggil dan dipertemukan dengan lelaki penangis itu. Siapa tahu dari sejumlah itu ada di antara warga yang mengeluarkan perkataan kotor yang menyakitkan. Atau tak mustahil kalau-kalau di antara mereka ada yang terlibat konflik yang bisa mengakibatkan lelaki itu merana. Sayang, di antara warga yang tak kurang dari 500 orang itu tak satu pun yang punya masalah dengan lelaki itu.

Lalu kembali ke masalah internal. Yang ini lebih memungkinkan karena dari sekian waktu lebih banyak dihabiskan bersamanya. Pertama sang istri, suatu anggota keluarga yang paling dekat dengan penangis. Dari mulai pelayanan siang atau pun malam. Misal dari cara penyajian masakan, kalau-kalau ada yang kurang garam atau pun kepedasan, hingga ke masalah hubungan intim suami-istri. Semua dijawab dengan lancar, tak hambatan yang cukup berarti. Kemudian dipanggil kedua anaknya yang masih abg, siapa tahu di antara mereka terlibat perang mulut minta dibelikan laptop, handpone atau motor baru. Yang ini pun tetap lolos, tak ditemukan kenakalan di keduanya.

Lalu apakah penyebab lelaki itu hingga terus saja menangis?

Tangis itu seperti kesedihan karena ia kerap tersedu. Merengek seperti anak tak diberi jajan. Mencekam karena melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Mungkin rasa takut dan kesakitan karena sering berteriak keras dan menjerit-jerit.

“Ya Allah, Yang punya sifat Rahmaan-Rahiim, kasihanilah lelaki itu. Jangan biarkan ia menangis terus-menerus,” seseorang memohon doa, seolah mewakili yang lainnya. Kendatipun begitu semuanya tak tinggal diam. Terus mencari informasi dan solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Penelusuran pun tak henti. Dari mulai pekerjaan atau keseharian lelaki itu. Dia itu bukan pegawai negeri atau pun pegawai swasta. Kehidupan sehari-harinya bertani, menggarap sawah, mencangkul, menanam ketela, menyabit rumput untuk pakan sapi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, ia pun tak ketinggalan dengan yang namanya Hp, komputer, dan dunia online. Dalam arti lelaki itu tak ketinggalan info terkini.

Lantas, diperiksalah lumbung padi yang ia miliki, barangkali mengalami gagal panen? Tidak, beberapa karung gabah kering cukup tersedia untuk bekal sebelum panen berikutnya . Mungkin sapi peliharaannya ada masalah -misalnya beberapa kali gagal inseminasi? Juga tidak, malah sapi itu telah bunting delapan bulan.

Lalu, kenapa lelaki itu masih terus saja menangis?

Mungkin ada rasa bosan dengan makanan yang kerap tersaji di rumah. Maka istrinya diminta membuka ingatan tentang apa yang menjadi makanan favorit lelaki itu. O, beberapa bulan lalu ia sempat meminta dibelikan martabak telor dan pepes tawon. Karenanya dengan segera dicarikan penganan yang berbahan terigu campur telor, sebagai makanan favorit utama lelaki itu. Bahkan dipesan pada pembuatnya agar penganan itu dibuat lebih istimewa, selain empuk harus lebih manis dan gurih dari biasanya. Bukan masalah kendati harganya dua atau tiga kali lipat dari harga normal. Dengan terlonjak dirumus mantap, seorang anaknya memangku setumpuk tangkupan  martabak dan langsung diberikan pada ayahnya yang tengah menangis tersedu. Namun rumus mantap itu ternyata tak berpihak, setumpuk martabak super manis, gurih dan empuk tetap ditolak.

Nah, selanjutnya gampang-gampang susah. Pepes tawon. Bagi yang suka, makanan untuk sarapan ini lebih enak daripada martabak. Benar-benar lezat dan mantap! Pasti tangis lelaki itu akan segera berakhir dan kecengengannya bakal kucar-kacir tercumbui rasa gurih dan wangi bawang. Makanya meski mahal melebihi harga setumpuk martabak, tak perlu ditawar lagi, langsung saja gobrak dibayar.

“Yang ini pasti tak akan gagal lagi, alias mantap!” begitu pikir anak-istrinya, sebelum kemudian menyerahkannya pada penangis itu. Tapi, lagi-lagi kandas tak dapat ditolak, pepes tawon itu tak mampu merubah sikap lelaki itu. Bahkan penolakkan yang ini lebih keras dan berdampak malu pada sepihak.

“Makanan model ini kata sebagian orang, haram!” katanya seraya melempar pepesan itu ke lantai. Karuan saja penganan telur jenis larpa itu berceceran di lantai.

Anak dan istrinya kehabisan akal. Mereka tak mau lagi mencari solusi. Bahkan menjadi tak sudi, dan membiarkan lelaki itu terus menangis.

Mungkin punya pacar gelap seperti lelaki lebay pada umumnya? Inisiatif ini datang dari Pak RT, dan lantas ia menelusurinya dengan sendiri. Ada firasat lain ketika ingat beberapa waktu lalu ia sempat terjatuh dari jendela kamar Mbok Romlah -janda beranak lima yang berusia 73 tahun itu. Malam itu Pak RT tersentak dan meloncati jendela tatkala di kolong rumah panggung janda itu terdengar suara batuk terhanan hingga terkentut-kentut. Ternyata yang bikin teror lucu di bawah kamar itu adalah dia, lelaki yang kelak diketahui sering menangis. Tak ada dendam kesumat antara keduanya saat itu selain saling pengertian dengan tutup mulut.

Dan lelaki yang menjabat ketua RT itu pun tak habir pikir, kenapa teman karibnya tak mau terus terang? Bukanlah ia pun merupakan sama-sama maling?

Sementara di lain hari orang-orang itu berdatangan,  saat diketahui seorang janda tua telah mati membusuk dengan kepala terpisah bekas pembunuhan.(*) Bagaimana, mggak nyambung ya endingnya? Karena itu kirimkan cerpen Anda untuk ditampilkan di sini, kalau bisa ceritanya jangan yang ngelantur seperti cerpen saya ini..hehe.. ditunggu kirimannya..

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (1)

Oleh: Otang K.Baddy

Orang kampung tak mau peduli lagi terhadap Markonah. Begitu pula pada Kartieum. Mereka menganggap kedua nama perempuan itu tak ada bedanya. Sama-sama kurang waras atau gila. Namun kemudian ceritanya agak lain, terlebih pada perempuan yang tiba-tiba kasak-kusuk ke sana kemari itu.
“Bulu apa di atas pusar ini bulu apa?” Wanita itu kebingungan. Ia tak habis pikir, “Bulu apa ini, wahai ini bulu apa?” katanya pada orang-orang. Kenapa ia bertanya-tanya karena ia bingung mengingat bulu itu sebelumnya tak ada. Mulanya orang-orang tak terpengaruh, namun setelah Kartieum mengulangi pertanyaan yang sama seraya memperlihatkan bagian pusarnya mereka bereaksi. Bahkan yang semula jauh mulai mendekat seraya memelototkan matanya hingga hingga liar. Sepintas bulu itu seperti rambut yang kerap tumbuh di kepala, tapi jika diteliti dengan seksama bulu itu seperti bulu babi hutan. Tapi ada juga yang mengatakan bulu itu lebih mirip dengan bulu domba.
“Coba tolong, bulu apa ini?” Kartieum memelas minta kepastian ketika salah seorang lelaki tua terus memelotkan matanya lekat-lekat. “Ayo, bulu apa ini?”

Tapi lelaki tua itu tak bisa memberi jawaban, bahkan saking puyengnya ia pun nyaris pingsan seketika. Begitupun yang lainnya. mereka kebanyakan bingung. Betapa tidak, bukankah untuk pembuktian harus diteliti lebih jeli atau setidaknya melibatkan pakar bulu-buluan. Sementara untuk meneliti langsung itu mereka rasa teramat canggung. Sekadar menutupi kelemahannya di antara mereka ada yang bilang bahwa bulu yang berada di atas pusar itu mungkin merupakan kiriman dari tukang santet. Mendengar kata santet, wanita itu segera pergi, seolah ia tak sudi. Dan ia tetap bertanya-tanya pada setiap orang yang ditemuinya.
“Akang-akang, Aceuk-aceuk,  bulu apa ini hai bulu apa?” wanita itu menudingkan telunjuknya di bawah dada.
Sama seperti sebelumnya, orang-orang tak langsung terpengaruh, bahkan ketika wanita itu memperlihatkan bagian pusarnya. Orang-orang hanya melihat sesaat sebelum kemudian memalingkan muka. Di balik kegeliannya setelah melihat bagian pusar batinnya berujar: “Dasar orang gila!” Namun di sisi lain batinnya mengatakan, “Wow, pemandangan yang eksotis !”
Seraya berjalan. Wanita itu terus bertanya-tanya sambil berteriak. “Bulu apa ini bulu apa, kok tega-teganya tumbuh di pusar saya?”
Wanita itu benar-benar kebingungan. Kadang ia merintih seperti menangis.  Benar-benar tak habis pikir. Kalau memang benar itu bulu babi hutan kenapa bisa tumbuh di atas pusarnya. Namun seberapapun bukti, kendati timbul di bagian lain tubuhnya tetap saja tak masuk akal. Babi hutan bukan, kok apa bisa bulu itu tumbuh bercokol di kulitnya yang bukan babi. Bukan babi hutan. Ia manusia tulen kok. Begitu pun jika bulu itu mirip bulu domba, tetap saja ia geleng kepala. Domba bukan, ah masa iya bulunya bisa tumbuh di perutnya?
“Wahai semua, bulu apa ini bulu apa? Bulu kasar di atas pusar, bulu lembut di kulit perut?”

Wanita itu bergeming.
Di benaknya mencoba mengingat-ingat tentang peristiwa semalam.
Wanita itu bermimpi di tengah pasar ada seorang wanita seperti gila. Wanita itu bertanya-tanya tentang bulu yang tiba-tiba bercokol di pusar. “Bulu apa ini bulu apa?” demikianlah katanya. Meski agak malu ia sempat melirik apa yang ditunjukkan wanita itu pada pusarnya. Sepertinya bulu itu bulunya Markodin, lelaki yang tiba-tiba jadi lutung setelah beberapa tahun mengasingkan diri di hutan. Namun perlu dicatat, kata lutung di sini hanyalah sekadar julukan atau hinaan atas bulu-bulu di tubuhnya yang tak mengenal istilah cukur. Lelaki itu adalah suaminya sendiri yang pernah main serong dengan Markonah, janda penjual kue surabi. Tapi ia tetap heran, jika benar itu bulunya Markodin manusia lutung, kenapa saat ini bisa tumbuh di bagian pusarnya? Apakah pertanda ia telah kualat dan terkena kutukan akibat sebelumnya pernah berhubungan badan?
Perempuan itu akhirnya mematung sendiri.di tengah pasar. Seolah berusaha hendak memulihkan keadaannya yang ia rasa ganjil.

Terhenyak. Siapa diriku ini sebenarnya? Apakah seorang perempuan yang bernama Kartieum ataukah Markonah? Ia bingung. Bahkan untuk sekadar mengetahui kelamin yang ia miliki. Ia tak tahu pasti apakah kelamin yang ia miliki itu jantan atau betina.. Seakan pola pikirnya terbatas dan buntu sosok itu pun akhirnya membebaskan diri dari pemikirannya. Seiring dengan kebebasannya, sosok itu pun kemudian menghilang entah kemana. Baik di benak penulisnya, pun di benak pembacanya. Tak ada like apalagi komentar.

Entah bagaimana maksudnya. Bisa saja mungkin bentuk protes atas status di Fb  tersebut. Tampaknya lelaki yang bernama aslinya bukan Markodin itu menjawabnya, tentu saja jawaban ini pun tak populis. Bahkan terkesan apaan gitu, mirip seperti lebay dan bloon.

— Sebenarnya rambutku tak segondrong apa yang dituduhkan, apalagi sampai seperti lutung. Kalau bikin pernyataan apalagi untuk disampaikan ke publik jangan asal kecrot. Mending kalau sampai viral, ini malah semakin redup melempem. Apa kamu tak pernah  lihat jika aku sering pulang untuk dicukur?

Tiga bulan mengasingkan diri di tengah hutan Dawolong, memakan pucuk lantoro, surage, loa, wuni, tekokak, lajagoa, tawohwol dan buah tepus. Semula memang terasa asing dan kesat di lidah, tapi setelah seminggu kemudian rasanya biasa-biasa saja. Bahkan hal tak terduga pun datang terasa. Tubuh serasa bugar perkasa bak bujangan tingting. Karenanya tak perlu heran jika kemudian aku tak hendak pulang kembali ke negeri penuh dongeng ini.

Begini ya, kawan. Kepergianku dengan bertelanjang ini bukan semata karena muak melihat kepura-puraan, polesan lipstick dan topeng-topeng berkeliaran. Tidak. Bukan soal itu, bahkan sama sekali tak kaitannya. Aku tak muak pada mereka karena mereka bagian dari kita juga. Bahkan jika tanpa itu mana mungkin dunia ini asyik. Kepergianku yang ‘gila’ ini, di mana jalan bertelanjang tanpa celdam maupun perban -kendati borok bernanah bercucuran, bisul di hidung dan kurap di selangkangan. Bukan pula suatu pengukuhan –apalagi sampai berkata demi menfokuskan diri terhadap Sang Khaliq. Tidak. Bukan kepongahan macam itu. Bukan. Sebab sejatinya manusia hidup harus seperti ikan di lautan. Kendati arus buih terasa asin kita tak perlu ikut asin. Tetap tawakal mengimbangi arus maupun gelombang yang seakan mengkaparkan.

Satu hal yang membuat keremajaanku timbul karena hutan yang aku jajaki ini masih perawan. Betapa tidak, sebab di sini akar-akar masih mencengkeram kuat mempertahankan pendirian pohonnya. Begitu pun hal sekeliling, baik dari sudut pandang maupun lekak-lekuk, tak ada yang namanya plastik. Daun-daun menghijau, kendati ada pun yang berjatuhan bukanlah sampah plastik seperti di pelataran kita saat ini yang terus bertebaran tiap hari. Yang gugur di hutan ini telah melewati proses yang matang, ia pergi meninggalkan jasa, yakni menghasilkan humus, tanah gembur untuk  diwariskan pada generasi selanjutnya. Gitu. Jadi awas ya jika ada lagi yang menjulukiku sebagai lutung. Benar-benar tak nyambung tuh. Sungguh!

(bersambung ke Halaman ke Bag.2)

Keranda Yang Membelot

 Cerpen Otang K.Baddy

Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu.  Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap  disikat, dan telah berhasil  dibelotkan dari tujuan semestinya.

Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
          Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
       Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan.  Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya.  Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni  –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
       Semenatara Sumaring,  telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui  Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
       (Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)