Arsip Tag: Muhammad Lutfi

Puisi Muhammad Lutfi

Ku…..Da…..

Kuda…..
Ayo melesat
Melaju bagai mesiu
Terus maju seperti waktu,

Kuda…..
Belok ke kanan
Meloncati awan-awan,
Menyapa kawan-kawan,

Kuda…….
Belok ke kiri
Tak takut mati
Membela NKRI,

Kuda….
Kudaku….
Kudaku Kuda Semberani…
Paling berani di muka bumi……

Terjang musuh-musuh
Menjaga perbatasan, menghalau serangan
Kita kuat kita siap
Ayo!
Surakarta, 1 Maret 2017

 

 

Emansipasi Waktu

Dibalik tirai yang mengancam kemelut hari esok
Fajar tetap berotasi menghiasi bumi
Dengan sawah, hutan, dan samudra.
Ikan-ikan menjadi tembok kokoh di pagar Nusantara
Dengan bumbu masak yang menyemaikan bau bawang
Ada sosok wanita yang menjadi ibu, menjadi istri, dan menjadi pekerja
Buku menjadi sahabat karib di rongga waktu dapur dan sofa
Tetapi perjuangan sebagai seorang anak manusia
Seorang wanita, seorang mahluk Tuhan
Tetap berlanjut menuju keadilan bersama cita-cita luhur
Dalam kehidupan berbangsa, masyarakat, dan bernegara.

Kita melihat seorang pemimpin, seorang guru, dan dewi kasih
Dari sosok wanita yang lembut, gemulai untaian perkataan tubuh.
Dan selalu membuat lelaki tertegun sejenak, terkagum-kagum tanpa batas.

Surakarta, 29 April 2017

 

 

Muhammad Lutfi, lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997, Pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta ,  tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah.

E-mail : ajidika69@yahoo.com.

No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi.

Puisi Muhammad Lutfi

 

Api di Dunia Pendidikan

Pendidikan hanya memberi sebuah harapan palsu

Kepada anak-anak yang pergi jauh dari rumah

Dan kepada orang tua, bapak ibu yang bersusah payah mulutnya kering gemetaran

Mendoakan anaknya siang malam.

 

Sebuah kurikulum hanya akan meranggas moral dan akal sehat,

Kalau para pejabat mendikte memori-memori

Penuh hitungan matematika dan bahasa asing.

 

Bahasa kita tersingkirkan, diri kita akan menjadi terbodohi

Dan senantiasa mengacu pada nilai, nilai, dan nilai.

Sedangkan nilai tidak pernah melambangkan kepuasan.

Hanya akan mendidik nurani menjadi orang yang curang, culas, dan manja.

Menyetor uang ke meja dan laci kepala sekolah.

 

Kita adalah bangsa yang payah, yang pongah, dan ragu.

Hati kita bimbang melihat ruang dan aset papan tulis para pendidik.

 

Lebih baik kita menjadi pengkritik nafsu serakah

Yang dihuni oleh kebejatan dinas maupun sipil.

Jangan sampai, hanya demi uang, kemuliannmu sebagai pahlawan

Hilang begitu saja,

Seolah begitu tak mengenal arti.

 

Sedangkan zaman selalu merundung pilu.

Waktu yang berbobot membuat kita menjadi tanpa bobot.

Dan keadaan yang terkoyak seperti ini,

Diriku sendiripun sedih dan bimbang, bingung.

Terkoyak oleh penjajahan hati nurani,

Baik dalam negeri sendiri, maupun dari luar.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

Membongkar Kepalsuan

Dari balik jubahmu yang rapi, pecimu yang licin, dan suaramu yang fasih

Apakah benar kau tak pernah menyimpan dusta,

Tak pernah berkata khianat, atapun bertingkah serong.

 

Dari balik sikapmu yang diam, dudukmu yang sopan, dan gerakmu yang gemulai.

Apakah benar kau tak pernah mendurhakai, mencoba masa kenakalan,

Dan bersembunyi karena dikejar-kejar oleh ketidaktenangan.

Jangan bohong! Dirimu berkata lain,

Tapi masa lalu, adalah waktu yang berkata apa adanya.

Dirimu terbaca dan dibaca.

Olehku, olehnya, ataupun olehmu sendiri.

 

Kita bukan keturunan ningrat yang mewarisi harta, istri yang berlimpah,

Dan kenikmatan yang tidak terkikis sampai tujuh generasi.

Kita bukan anak seorang ulama yang paham agama,

Yang terjaga dari sebuah dosa karena kesucian.

Kita adalah orang yang pernah gagal, bersalah, dan mencuri.

Kita menyimpan derita, menanggung dosa yang kita pikul di pundak.

Karena apa?

Karena kita adalah manusia, yang jauh dari kata sempurna.

Yang selalu di penuhi oleh kelemahan.

Dipenuhi oleh ketidakmampuan,

Dan berbagai prasangka yang mencebloskan kita kedalam keterpurukan.

Makanan kita adalah ubi dan nasi, yang di tanam di tanah berkapur

Di belakang rumah masing-masing.

Tetapi kita tak merasa kalah, aku tak merasa sendiri.

Karena kita semua punya cerita dari warna hitam-putih.

Surakarta, 10 Maret 2017

 

 

Biodata

Nama saya Muhammad Lutfi. Saya bertempat tinggal di Desa Tanjungsari, RT.01/ RW.02, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah. E-mail saya ajidika69@yahoo.com. Saya lahir di Pati, tanggal 15 Oktober 1997. No.Hp: 085200135657. Fb: Muhammad Lutfi. Sekarang berstatus sebagai pelajar di Fakultas Ilmu Budaya, Prodi Sastra Indonesia, Universitas Negeri Sebelas Maret, Surakarta.