Arsip Tag: Sejarah

Asta Tinggi, Membaca Sumenep Tempo Dulu

Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas).

Setiap daerah tentu punya tempat sejarah yang menjadi kebanggaan tersendiri, untuk ditawarkan sebagai menu primadona dalam kemasan wisata. Misalnya wisata religi yang kaitannya tak lepas dari sejarah keagamaan atau penyebaran agama sebelumnya.  Provinsi Jawa Timur merupakan salah satu Provinsi di Indonesia pendapatannya dihasilkan oleh wisata religi, seperti wisata wali lima yakni, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Derajad dan SunanBonang, selain itu Asta Tinggi salah satu wisata religi yang ada di Kabupaten Sumenep yang banyak dikunjungi oleh turis Nusantara maupun dari Mancanegara.

Asta Tinggi letaknya di ujung timur pulau Madura itu adalah sebuah tempat pemakaman raja-raja Sumenep. Bahkan oleh Badan Pengembangan Pariwisata Daerah (Baparda) Sumenep, Asta Tinggi dimasukkan dalam “Tri Tunggal” yang mempunyai kaitan erat baik segi kulultural maupun historis setelah dua tempat lainnya seperti Masjid Jamik dan Keraton Sumenep. Ketiga tempat yang menarik itulah paling banyak dikunjungi wisatawan, baik asing maupun domestik. Juga, dari ketiga obyek itu pula kita bisa meneropong secara jelas Sumenep tempo dulu.

Riwayat daerah yang kesohor penghasil garam itu memang cukup unik, dimana penduduknya berawal dari percampuran keturunan berbagai suku bangsa. Selain dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga berbaur (menikah) dengan orang-orang Cina, Arab dan Bali. Masuknya orang Jawa bermula sebagai perantau yang menjadi nelayan di laut, menurut catatan sejarah, itu terjadi sekitar abad ke-8 Masehi. Semula perahu mereka banyak mendarat di pantai barat Madura, menelusuri Kamal, Bangkalan, Sampang dan sekitarnya. Lama-kelamaan mereka menyebar hingga sampailah mereka di pantai timur, kawasan sumenep.

Sumenep dipimpin Adipati Aria Winaraja, setelah diutus raja Singhasari, Kertanegara pada tahun 1269. Tepatnya pada 31 Oktober 1269, sekaligus merupakan tonggak sejarah pertama berdirinya pemerintahan di Sumenep, dan tanggal tersebut telah dijadikan Hari Jadinya Kabupaten Sumenep. Dalam pada itu, tiba-tiba serdadu Tar Tar dari Cina mengadakan ekspansi ke Jawa, tetapi berhasil ditaklukan Raden Widjaya, yang kemudian menjadi raja Majapahit pertama. Selain yang pulang ke negerinya, tak sedikit pula serdadu Cina yang terdampar di Madura.

Hasil gambar untuk keraton sumenep maduraKraton Sumenep, merupakan warisan budaya Sumenep dari masa lampau, yang masih ada hingga saat ini dan telah berkembang menjadi sebuah Museum yang bisa bebas

Perkembangan kemudian terjadilan percampuran kekerabatan. Para serdadu asing bermata sipit itu menyunting para gadis Sumenep, hingga membuahkan keturunan Madura-Cina. Percampuran selanjutnya terjadi pada sekitar abad 14, yakni percampuran orang Sumenep dan Arab. Pada saat itu agama Islam masuk ke Madura, penyebarannya oleh Sunan Giri dan Sunan Padusan yang keturunan Arab. Karena banyak orang Madura termasuk Sumenep yang kawin dengan orang-orang Arab, penyebaran Islam itu tak begitu sulit, hingga rara-raja di Madura pun berhasil dipengaruhi.

Dan ketika orang-orang dari Kerajaan Bali –yang dipimpin oleh Kebo Ijo, menyerang Madura, ternyata dapat dipatahkan oleh Pangeran Lor dan Pangeran Wetan. Dengan membakar dan menghancurkan perahu milik pasukan itu di Pelabuhan Dungkek, mereka –orang-orang Bali– tidak bisa pulang ke negerinya. Mereka menyelamatkan diri ke Desa Pinggirpapas dan Kebun Dadap, Kecamatan Dungkek.

Sampai sekarang walau mereka berasimilasi dengan penduduk setempat, tapi masih tetap mempertahankan adat-istiadat budaya Bali –seperti upacara keagamaan yang disebut Nyadar. Upacara yang merupakan tanda terimakasih kepada Tuhan menurut kepercayaannya dengan penemuan pemimpin orang Bali, yaitu Anggosuto. Orang inilah yang pertama kali menemukan bagaimana cara membuat garam. Maka, sejak itulah orang-orang Bali yang berada di Pinggirpapas dapat hidup dari bertani garam. Dan ternyata produksi garam di Madura sempat memenuhi kebutuhan garam dunia.

Dalam perkembangan sejarahnya, Sumenep memang telah menjadi suku bangsa yang homogen. Ia pun berkembang berbeda sama sekali dengan suku bangsa yang menjadi sumbernya. Kalaupun kini masih ada pengaruh dari sumber keturunannya, maka hal itu hanya tampak dalam bentuk jasmaniahnya saja. Sejak awal sejarahnya, Sumenep menunjukkan kemampuan tinggi untuk menyesuaikan segala apa yang masuk dari luar dengan apa yang diperlukan sendiri.

Sekalipun berhasil menyesuaikan kebudayaan Arab, Cina, Jawa dan Bali dengan kepentingannya sendiri, pengaruh itu tidak dapat dihilangkan. Maka tak heran hingga kini kesenian hadrah, gambus, zamrah yang bersumber dari kebudayaan Arab itu terdapat sampai di pelosok desa dan sudah menjadi kebudayaan Sumenep. Demikian pula pengaruh Cina pada arsitek bangunan keraton, mesjid dan bangunan-bangunan tua yang ada di Sumenep.

 

Masih terawat
Peninggalan orang-orang penting dalam sejarah Sumenep itu sampai sekarang masih terawat dengan baik, termasuk bekas Kerajaan/Kadipaten Sumenep, lengkap dengan bangunan-bangunan aslinya. Tahun 1762, dilakukan pemugaran yang dilakukan Panembahan Sumala yang bergelar Aria Natakusuma I, adipati Sumenep ke-31 (1762-1811). Ia mengangkat arsitek Cina bernama Ping Ong Eh sebagai staf ahli. Karena itu tidak heran jika bangunan-bangunan keraton sumenep mempunyai corak budaya Islam dan Cina, selain budaya Eropa.

Begitu pun dengan peninggalan lain seperti Majid Jamik Sumenep. Masjid yang mampu menampung jamaah tak kurang dari 10.000 orang, ini memang penuh keagungan budaya. Sepintas, kalau kita ada di depan masjid, akan mengira bangunan kelenteng (tempat beribadah orang-orang Tionghoa). Kenapa? Sebab, bentuk bangunan yang kerap dilongok wisatawan dan dibangun tahun 1763 pada masa pemerintahan Panembahan Sumala ini, menyiratkan goresan seni arsitektur Islam-Cina. Dan wajar saja, karena bangunan ini diarsiteki oleh arsitek Cina, yakni Ping Ong Eh itu.

Asta Tinggi
Rasanya tak begitu lengkap menelusuri Tanah Putri Koneng ini jika tidak berkunjung ke Asta Tinggi, kompleks makam raja-raja Sumenep dan keluarganya. Dalam bahasa Madura, asta berarti tanah dan tinggi berarti tinggi(atas). Kompleks makam tua yang berada di puncak sebuah bukit, sekitar 2 km dari Kota Sumenep ini dibangun pada tahun 1700. Mencerminkan perpaduan budaya Jawa, Islam, Cina dan Eropa Barat Daya (Portugis). Pintu gerbang pemakaman, misalnya, jelas menunjukkan budaya Eropa. Sebagai ciri khasnya, ada mangkok-mangkok yang mirip piala sebagi hiasan puncak pintu gerbang. Tembok tinggi dan megah yang melingkari pemakaman sekitar 2 kilometer persegi, jelas menunjukkan guratan seniman Cina. Sementara, hampir di semua bangunan inti (cungkup-cungkup) direkadaya budayawan Sumenep Islam.

Hasil gambar untuk asta tinggi sumenep dilihat dari sampin

Suasana di dalam tembok, tampak dari luar mengesankan tempat peristirahatan masa silam, karena terdapat beberapa bangunan dan kubah yang anggun menjulang tinggi. Namun, setelah melongok ke dalam kita dapat menyimak ribuan nisan berjajar rapi, dan menandakan tempat ini sebagai peristirahatan terakhir. Makam di sini diatur sesuai dengan kedudukan dan jabatan yang dimakamkan. Kompleks ini teramat megah dibanding lainnya, karena dihiasi beberapa gerbang dengan arsitektur yang khas.

Dalam kompleks tersebut terdapat tiga kubah. Kubah pertama berisi makam Pangeran Pulang Jiwa (1626-1644), Pangeran Anggaradipa serta beberapa kerabat lainnya termasuk makam yang belum dikenal. Kubah kedua berisi makam Pangeran Jimat (1731-1744), Pangeran Wiranegara, Ratu Ari, dan sebagainya. Sedang kubah terakhir berisi makam Tumenggung Tirtanegara (1750-1762), Raden Ayu Tirtanegara, Raden Aria Panjeneh dan delapan makam lainnya.

Kubah-kubah tersebut bentuknya memang masih sederhana, seperti rumah-rumah biasa. Lain dengan kubah di area utara, yang berisi makam Panembahan Sumala Asirudin (1762-1811), Sultan Abdurahman Pakunataningrat (1811-1854), Panembahan Mochamad Saleh atau Panembahan Natakusuma II (1854-1879), Pakunataningrat II (1879-1901), dan R.A. Prataningkusuma. Bentuk kubah cukup unik, demikian pula gerbangnya yang megah. Pesarean Asta Tinggi yang persisnya berada di Desa Kebon Agung itu sampai sekarang masih dianggap keramat dan banyak diziarahi orang dari berbagai daerah di tanah air, terutama sekitar Idul Fitri dan bulan Maulud. (beberapa sumber)

Kisah Pendiri Penerbit Erlangga Marulam Hutauruk

SOPO – Ia seorang guru, kemudian menjadi pengusaha, mendirikan penerbit Erlangga. Airlangga atau sering pula ditulis Erlangga, adalah pendiri Kerajaan Kahuripan, yang memerintah 1009-1042 dengan gelar abhiseka Sri Maharaja Rakai Halu Sri Dharmawangsa Airlangga Anantawikramottunggadewa. Airlangga berarti “Air yang melompat.” Erlangga lahir tahun 990. Ayahnya bernama Udayana, raja Kerajaan Bedahulu dari Wangsa Warmadewa. Ibunya bernama Mahendradatta, seorang putri Wangsa Isyana dari Kerajaan Medang.


                                             Logo Erlangga.

Sebagai seorang raja, dia memerintahkan Mpu Kanwa untuk mengubah Kakawin Arjunawiwaha yang menggambarkan keberhasilannya dalam peperangan. Nama Erlangga sampai saat ini masih terkenal dalam berbagai cerita rakyat, dan sering diabadikan di berbagai tempat di Indonesia. Dari cerita di atas, penerbit Erlangga kerap kali dianggap didirikan orang Jawa Timur, padahal pendiri penerbit Erlangga adalah orang Batak. Pendirinya sendiri terinspirasi dari kisah seorang raja ini, membuat nama penerbitnya Erlangga.

Penerbit yang sudah lebih dari 60 Tahun melayani pembacanya ini didirikan oleh Marulam Hutauruk. Marulam adalah seorang putra Batak kelahiran Sipoholon, Tapanuli Utara, hasil didikan zending gereja. Dirinya seusai studi di Tarutung, kemudian menjadi guru di Semarang, puncaknya menjadi Kepala Sekolah. Awalnya, sebagai guru Marulam tak mau hanya berpangku tangan, lalu membuat stensilan untuk bahan ajar anak didiknya. Lama-lama berkembang berniat menulis buku sendiri, sebagai bahan ajar.

Masa itu masa penjajahan Belanda, dia merasakan kesulitan yang sangat, isi buku-buku yang tersedia nirnasionalisme, semuanya memuji kolonial Belanda. Selain itu, dia melihat banyak muridnya yang tak bisa belajar dengan baik karena minimnya buku ajar berbahasa Indonesia. Buku pelajaran dalam bahasa Indonesia yang waktu itu sangat minim dan sulit diperoleh, yanga da malah buku-buku berbahasa Belanda. Untuk mengatasi kelangkaan buku tersebut, dirinya berinisiatif sendiri membuat bahan ajar sendiri, kemudian hari mengajak kawan-kawannya sesama guru untuk menulis, mandiri. Tujuannya, untuk menggantikan buku-buku pelajaran berbahasa Belanda.

Berlahan, peminatnya makin banyak, dia mulai membuat brandnya. Maka, jadilah nama penerbit Erlangga. Awal didirikan Erlangga berkantor di sebuah rumah di Semarang, bersama teman-temanya Marulam berhasil menulis beberapa buku. Antara lain buku pelajaran Ilmu Alam, karya Widagdo, Ilmu Kimia, karya Ir.Polling dan Ragam Bahasa Indonesia, dan karya bukunya sendiri. Buku-buku itu semua diterbitkan dengan memakai nama Penerbit Erlangga. Karena itu, dia bertekat mendirikan penerbit dengan dikelola profesional. Sejujurnya, buku-buku Erlangga di awalnya tak terlalu menarik, tak seperti produknya sekarang yang mencetak dengan kertas terbaik. Melihat perkembangan tersebut, Marulam pada Tanggal 30 April 1952 menghadap Notaris, di Semarang untuk melegalitas penerbitnya menjadi penerbit berbadan hukum.

Sejak itu, sembari pelan-pelan dia terus menumbuhkembangkan penerbit Erlangga, penerbit yang banyak menaruh perhatian pada buku pelajaran sekolah. “Fokus penerbitan itu sudah muncul sejak awal berdirinya.” Gayung bersambut, ternyata pelan-pelan penerbit Erlangga mulai dikenal masyarakat. Walau dia seorang guru berdarah Batak, namun naluri penciuman bisnis tajam, dia prediksi bahwa kemajuan penerbitan akan makin masif ke depannya. Nyatanya penerbitan makin melaju dan menaik. Memang, saat itu penerbit masih menumpang percetakan, Erlangga tak langsung memiliki mesin cetak sendiri. Takdir baik berpihak kepadanya, kariernya pun menaik menjadi seorang kepala sekolah SMA Negeri 1 di Semarang, jadilah penerbit makin berkembang.

Sembari memimpin sekolah dirinya terus mengarang buku Pelajaran sejarah yang diterbitkan oleh Kedaulatan Rakyat, Yogya. Marulam ahli dalam sejarah, iya itu tadi, termasuk mendalami sosok Raja Erlangga. Akhirnya, jiwa bisnis itu makin kuat, penerbit Erlangga pun bergerak di bidang pengadaan buku di sekolah-sekolah, dan fokus menerbitkan buku-buku bahan ajar. Tapi, dalam perkembangannya, Erlangga kemudian merambah ke buku-buku umum. Buku-buku terbitannya sekarang merambah juga ke buku kesehatan, makanan, kecantikan, mode, novel, hingga biografi. Sedangkan buku-buku bacaan untuk kebutuhan anak-anak, mereka terbitkan di bawah bendera Erlangga for Kids.

Seiring perkembangannya, penerbit Erlangga kemudian mengimbit, pindah ke Jakarta dan berkantor di Jalan Kramat Raya 162, Jakarta Pusat (sekarang Kantor Pusat PT Pegadaian [Persero]). Dari sana pindah ke Jalan H. Baping No. 100, ‎Ciracas‎, Jakarta Timur. Sekarang Erlangga dipimpin generasi ketiga, cucu Marulam. Penerbit ini, sejak kehadirannya terus berbenah mengembangkan penerbitan buku-buku lainnya. Selain itu, Erlangga kerap juga jor-joran melontarkan slogan yang memotivasi masyarakat suka membaca, misalnya; “Buku adalah jendela dunia.”

Slogan tersebut mengingatkan kita, betapa pentingnya membaca untuk memperkaya khazanah, cakrawala diri terhadap ilmu dan pengetahuan. Bisa disebut, salah satu kekuatan penerbitan Erlangga kekonsistennya menyediakan buku-buku yang bermutu, baik dari segi isi dan produk fisik buku, juga kapabel dari penulis-penulisnya. Keunggulan inilah yang membuatnya eksis, seperti satu devisi lain penerbitan Erlangga Esis.

Selain pengusaha, Marulam juga penulis buku handal. Karya-karyanya adalah:

– Pelarian yang tidak punya apa-apa menjadi maharaja (kisah Erlangga), Erlangga, Tahun 1988.
– Menuju terwujudnya suatu masyarakat adil dan makmur di Republik Indonesia tahun 2000-an, Erlangga, Tahun 1987.
– Sejarah Ringkas Tapanuli: Suku Batak, Erlangga, Tahun 1987.
– Garis Besar Ilmu Politik Pelita Keempat 1984-1989, Erlangga, Tahun 1985.
– Gelora Nasionalisme Indonesia, Erlangga, Tahun 1984.
– Peraturan Hak Cipta Nasional, Erlangga, Tahun 1982.
– Kunci Lagak Ragam Bahasa Indonesia, Erlangga, Tahun 1979.
– Azas-azas Ilmu Negara, Erlangga, Tahun 1978 (berbagai sumber/int)

Mengenal Bromo, Sejarah dan Obyek Wisata

Gunung Bromo (dari bahasa Sanskerta: Brahma, salah seorang Dewa Utama dalam agama Hindu) atau dalam bahasa Tengger dieja “Brama”, adalah sebuah gunung berapi aktif di Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini memiliki ketinggian 2.329 meter di atas permukaan laut dan berada dalam empat wilayah kabupaten, yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang, dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo terkenal sebagai objek wisata utama di Jawa Timur. Sebagai sebuah obyek wisata, Bromo menjadi menarik karena statusnya sebagai gunung berapi yang masih aktif. Gunung Bromo termasuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Bentuk tubuh Gunung Bromo bertautan antara lembah dan ngarai dengan kaldera atau lautan pasir seluas sekitar 10 kilometer persegi.

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Sejarah letusan

Selama abad 20 dan abad 21, Gunung Bromo telah meletus sebanyak beberapa kali, dengan interval waktu yang teratur, yaitu 30 tahun. Letusan terbesar terjadi 1974, sedangkan letusan terakhir terjadi pada 2015-sekarang.

Sejarah letusan Bromo: 2015-2016, 2011, 2010, 2004, 2001, 1995, 1984, 1983, 1980, 1972, 1956, 1955, 1950, 1948, 1940, 1939, 1935, 1930, 1929, 1928, 1922, 1921, 1915, 1916, 1910, 1909, 1907, 1908, 1907, 1906, 1907, 1896, 1893, 1890, 1888, 1886, 1887, 1886, 1885, 1886, 1885, 1877, 1867, 1868, 1866, 1865, 1865, 1860, 1859, 1858, 1858, 1857, 1856, 1844, 1843, 1843, 1835, 1830, 1830, 1829, 1825, 1822, 1823, 1820, 1815, 1804, 1775

 

Bromo sebagai gunung suci

Bagi penduduk sekitar Gunung Bromo, suku Tengger, Gunung Bromo / Gunung Brahma dipercaya sebagai gunung suci. Setahun sekali masyarakat Tengger mengadakan upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini bertempat di sebuah pura yang berada di bawah kaki Gunung Bromo dan dilanjutkan ke puncak Bromo. Upacara diadakan pada tengah malam hingga dini hari setiap bulan purnama sekitar tanggal 14 atau 15 di bulan Kasodo (kesepuluh) menurut penanggalan Jawa.

 

Rute

Perjalanan melalui pintu barat dari arah pasuruan yaitu masuk dari desa Tosari untuk menuju ke pusat objek wisata ( lautan pasir )terbilang berat karena medan yang harus ditempuh tak bisa dilalui oleh kendaraan roda 4 biasa ini dikarenakan jalan turunan dari penanjakan kearah lautan pasir sangatlah curam, kecuali kita menyewa jip yang disediakan oleh pengelola wisata, jadi wisatawan banyak yang berjalan kaki untuk menuju ke pusat lokasi. Namun apabila kita melalui pintu utara dari arah sebelum masuk probolinggo yaitu pada daerah Tongas, kita akan menuju desa cemoro lawang sebelum turun menuju lautan pasir maka tidaklah terlalu berat dikarenakan turunan dari lerengnya tidaklah terlalu curam sehingga sepeda motor pun dapat melaluinya. Kebanyakan para wisatawan yang ingin mudah mencapai lautan pasir melewati jalur ini. Namun bila anda ingin menyaksikan sunrise yang sering ditampilkan di foto – foto, yang banyak difoto dari puncak penanjakan maka anda lebih praktis melewati jalur pintu barat.

Namun bila anda mempunyai jiwa petualang maka anda dapat mencoba jalur perjalanan yang jarang dilalui wisatawan. Yaitu melalui kota Malang anda masuk melalui kota kecil tumpang kemudian masuk kota pronojiwo lalu akan melalui cagar alam yang sangat indah dari sini anda akan menjumpai pertigaan jalan di mana kearah selatan akan memasuki ranu pane ( kearah gunung semeru ) dan kearah utara anda memasuki lautan pasir bromo yang berada di punggung gunung bromo sebelah selatan. Pertigaan tersebut bernama Jemplang. Perjalanan diawali dengan menuruni bukit yang kemudian disambut dengan padang rumput yang lama kelamaan berganti menjadi lautan pasir. Jalan ini akan mengitari gunung bromo melewati lautan pasir selama kurang lebih 3 jam. Jalur ini sebenarnya tidak terlalu curam dan dapat dilalui sepeda motor, namun memerlukan jiwa petualang karena jalurnya yang masih jarang dilewati dan tidak ada satupun persinggahan maupun rumah penduduk. Kita akan benar- benar disuguhkan dengan perjalanan yang sangat menantang. Namun anda akan diganjar dengan rahasia Bromo yang lain, yang sangat jarang dilihat wisatawan, yaitu padang ruput sabana dan bunga yang sangat luas berada dibalik Gunung Bromo. Sungguh pemandangan yang berkebalikan pada sisi Utaranya yang gersang dan berdebu. Namun perlu diingat, sebaiknya jangan melalui jalur ini pada malam hari dan atau dalam cuaca yang berkabut. Jalur tidak akan terlihat dalam kondidi seperti ini.

Berkas:Mtbromo.jpg

Kompleks pegunungan di Kaldera Tengger saat matahari terbit. Gunung Bromo adalah kedua dari kiri, kawah lebar, berasap

 

Lautan pasir adalah andalan wisata dari gunung Bromo, di alam pegunungan yang sejuk, kita dapat melihat padang pasir dan rerumputan yang luas. Sedangkan yang paling ditunggu dari gunung bromo adalah sightview ketika matahari terbit dan terbenam karena memang akan kelihatan jelas sekali dan sangat indah. Walaupun perjalanan ke Bromo sangat berdebu, tetapi tidak terasa, karena keindahan yang disuguhkan benar-benar luar biasa.

Berlibur menuju bromo dapat dibilang praktis bila anda menyukai tipe traveller dan melalui jalur pintu utara. Anda dapat melakukan kunjungan dalam jangka waktu 12 jam saja. tentunya bila anda memulainya dari kota Surabaya, Malang, Jember dan sekitarnya. Perjalanan dapat dimulai dari jam 12 malam sehingga anda akan sampai sekitar pukul 2 – 3 pagi. Di mana anda dapat beristirahat dahulu sebelum melihat sunrise. Penjual makanan dan minuman di areal lautan pasir biasanya sudah buka menjelang pukul 3 pagi, sehingga anda sudah bisa bersiap – siap untuk melakukan pendakian melewati anak tangga puncak bromo yang terkenal itu. nikmatilah pemandangan sampai jam 9 pagi dan anda pun dapat kembali sampai di kota keberangkatan anda sekitar 12 siang. Sebagai catatan, apabila anda melakukan perjalanan diareal lautan pasir ditengah kegelapan malam, sebagai patokan menuju areal parkir sekitar Pura anda dapat melihat patok dari beton yang sengaja diberikan sebagai penunjuk menuju areal pura. Dan apabila anda tersesat jangan panik dan meneruskan perjalanan ( apalagi ditengah kabut tebal ), tunggulah karena biasanya mulai jam 2 – 3 pagi beberapa penunggang kuda sewaan melintas diarea lautan pasir.

(Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Goa Jepang, Kisah Romusha dan Tentara Jepang yang Minta Maaf

Pangandaran, SPC – Benteng pertahanan Jepang masa Perang Dunia II yang berada di kawasan Konservasi Cagar Alam Pangandaran selesai dibangun selama 3,5 bulan pada dekade 1940. Namun begitu, penggunaan benteng tersebut tidak lama, karena seluruh tentara Jepang dipaksa harus menyerah kepada Sekutu setelah Kota Nagasaki dan Hiroshima dibom atom.

 Salah seorang pemandu wisata menunjukan bagian dalam Goa Jepang. Asepd Nurdin/SPC

“Menurut informasi yang saya terima goa jepang tidak lama digunakan karena tentara Jepang ditarik  dan kembali ke negaranya setelah menyerah kepada sekutu karena Kota nagasaki dan Hiroshima di Bom Atom,” ungkap Nuryanto, Pemandu Wisata Cagar Alam Pangandaran belum lama ini.

Seiring berjalannya waktu, Kawasan Cagar Alam Pangandaran dijadikan sebagai kawasan konservasi dan kawasan wisata sehingga keberadaan goa jepang dijadikan salah satu lokasi wisata sejarah.

“Karena Goa Jepang berada di kawasan konservasi Cagar Alam Pangandaran, akhirnya dimanfaatkan oleh warga lokal Pangandaran dijadikan tempat wisata sejarah,” tutur Nuryanto, seperti diberitakan SP.Com

Banyak manfaat yang didapatkan dengan adanya Goa Jepang tersebut, warga Pangandaran bisa mengetahui sejarah keberadaan Jepang di Pangandaran. Untuk mendapatkan informasi tentang sejarah goa Jepang para Pemandu mengumpulkan data-data dan mendatangi saksi hidup.

“Saksi hidupnya sekarang sudah mulai berkurang paling tinggal beberapa orang dan sekarang sejarah Goa Jepang harus digali selengkap-lengkapnya,” tuturnya.

Para Pemandu juga pernah kedatangan wisatawan yang berasal dari Jepang dan pernah bertugas menjadi tentara di Pangandaran. “Kita sempat ketemu sama orang jepang yang dulunya pernah menjadi tentara bertugas di Goa Jepang,” kenangnya.

Dirinya mengaku sempat menggali informasi dari tentara jepang tersebut tetapi informasi yang didapatkan tidak banyak. “Orang Jepang hanya bilang minta maaf kepada masyarakat Pangandaran yang sudah menjadi Romusha, hanya bilang seperti itu,” ungkapnya.

Saat ini Keberadaan Goa Jepang sudah mulai banyak dikunjungi wisatawan yang datang ke Cagar Alam Pangandaran.  Para Pemandu dan Pemerhati sejarah di Pangandaran sangat berharap perhatian dari Pemerintah.

“Supaya goa jepang terus terjaga keberadaannya kita sangat berharap Pemerintah bisa melakukan yang terbaik untuk Goa Jepang,” pungkasnya.

Editor: Andi Nurroni/Sp.Com

Unik, Begini Suasana Dalam Kereta Banjar-Pangandaran Waktu Itu

Peserta ajang Napak Tilas Jalur Kereta Banjar-Cijulang menyusuri Terowongan Juliana di Desa Pamotan, Kecamatan Kalipucang beberapa waktu lalu.

Trisilo Hartono (52) masih mengingat betul suasana kereta Banjar-Pangandaran yang ia naiki beberapa kali pada tahun 1978-1979. Tri ingat benar, harga tiket dari Banjar ke Pangandaran, ketika itu sebesar Rp 125 untuk dewasa dan Rp 100 untuk anak-anak.

Hingga kini, Tri mengaku masih menyimpan potongan-potongan tiket yang ia pungut di sekitar peron tersebut. Tri sendiri menyebut, ia yang saat itu masih murid SMP tidak membayar karena memiliki kartu subsidi keluarga Perusahaan Jawatan Kereta Api/PJKA (kini PT KAI).

“Saat itu saya ingin tahu Pangandaran. Saya pergi sendiri,” kata warga Jalan Padjajaran, Kota Bandung ini kepada SP.Com ketika mengikuti napak tilas jalur kereta Banjar-Cijulang beberapa waktu lalu.

Kereta dari Banjar ke Pangadaran, Tri melukiskan, ketika itu menggunakan satu lokomotif dan tiga gerbong berwarna hijau. Satu gerbong paling belakang, kata Tri, adalah gerbong barang yang diubah menjadi angkutan penumpang.

Di dalam kereta, Tri menggambarkan, penumpang duduk di dipan kayu menyamping. Ia mengingat, ada tiga dipan memanjang, masing-masing di kiri, kanan dan di tengah. Penumpang yang duduk di bangku tengah, kata dia, bisa sembarang menghadap, entah ke kiri atau ke kanan.

Tri mengingat, ketika itu, penumpang dari arah Banjar sebagian membawa barang belanjaan, seperti mi instan. Jika berangkat subuh dari Banjar, kata dia, ada sejumlah nelayan yang hendak melaut di Pangandaran. Menurut Tri, mereka membawa kecrik atau heurap, alat tangkap jaring tradisional.

“Pedagang asongan ada, tapi enggak banyak dan mereka sangat ramah. Kalau di stasiun, subuh-subuh mereka jualannya pakai lilin atau lampu sentir,” kata Tri yang juga bergiat di Yayasan Kereta Anak Bangsa, lembaga yang mewadahi para penggemar kereta api.

Beberapa hal mengesankan yang tak pernah ia lupa, ia menceritakan, ketika itu, selepas terowongan Wilhelmina di Kalipucang, kereta bisa dihentikan di sembarang tempat. Saat itu, ia bahkan melihat penumpang membawa batang-batang pohon bambu dan menaikannya ke atas gerbong.

“Pas musim liburan, saya juga pernah dari Pangandaran ke arah Banjar duduk di atas gerbong, karena saat itu penuh sekali,’ ujar pria 52 tahun ini.

Tri mengaku merasa beruntung pernah merasakan naik kereta ke Pangandaran. Karena tak di sangka, jalur berpemandangan indah itu ditutup tak lama kemudian. Rute Pangandaran-Cijulang ditutup pada 1979 dan Jalur Banjar-Pangandaran menyusul dihentikan pada 3 Februari 1981.

Mendengar rencana reaktivasi jalur Banjar-Cijulang ini, Tri sangat senang dan tak sabar kembali merasakan naik kereta ke Pangandaran. Ia berharap, rencana tersebut tak sebatas wacana, tapi benar-benar terealisasi.

Rekan Tri, Intrias Herlistiarto dari Indonesian Railway Preservation Society (IRPS) Bandung, juga mengaku sangat antusias mendengar rencana reaktivasi jalur yang dianggapnya legendaris ini. Menurut Tri, reaktivasi jalur Banjar-Pangadaran atau dulu disebut jalur Ban-Ci, sangat menjanjikan, mengingat tingginya potensi ekonomi dan pariwisata di daerah Pangandaran.

“Banyak teman-teman saya orang Belanda yang tertarik datang ke Pangandaran. Mereka mengaku akan sangat suka kalau bisa naik kereta,” ujar Intrias kepada Andi Nuroni dari SP.Com.

Kereta Banjar-Cijulang, kata dia, bisa menjadi jalur wisata. Wisatawan dari arah barat, menurut Intrias, bisa singgah dulu ke Pangandaran sebelum melanjutkan ke Jogja atau Solo.

Turut menghadiri kegiatan, Kepala Daerah Operasi II Bandung PT KAI Saridal membenarkan, saat ini Pemerintah Pusat tengah merencanakan reaktivasi seluruh jalur kereta non-aktif, termasuk jalur Banjar-Cijulang.

“Kemarin pertamuan dengan Bu Menteri BUMN, dia berharap sebelum 2019 (jalur-jalur itu) sudah bisa digunakan,” kata Saridal.

Ia melaporkan, proses studi kelayakan atau feasibility study (FS) jalur Banjar-Cijulang sudah diselesaikan dan akan masuk pada tahap detil rancangan teknis atau detail engineering design (DED).

Untuk menyiapkan pengaktifan ulang atau reaktivasi, menurut Saridal, saat ini pihaknya tengah melakukan pendataan aset. Ia menyayangkan, kini, sebagian aset tanah PT KAI di jalur Pangandaran-Cijulang dikuasai warga.

Selain tanah, menurut Saridal, aset lain, seperti rel dan baja jembatan, juga sebagian besar telah hilang. Dan jikapun reaktivasi akan dilakukan, menurut dia, konstruksi jembatan lama, seperti Jembatan Cikacepit, tidak akan bisa digunakan lagi karena telah lapuk.

Editor: Andi Nurroni/SP.Com

Situs Sejarah Kereta di Pangandaran Diharap Jadi Daya Tarik Wisata

Diskusi Forum Warga yang diselenggarakan Rumah Plankton mengangkat tema sejarah kereta Banjar-Cijulang, Minggu (18/6/2017). Foto: Heri Nurdiansyah.

SwaraPangandaran.Com – Sejumlah situs sejarah kereta api yang tersebar di wilayah Kabupaten Pangandaran merupakan daya tarik wisata. Sayang, potensi tersebut belum dimanfaatkan pemerintah setempat.
Lanjutkan membaca Situs Sejarah Kereta di Pangandaran Diharap Jadi Daya Tarik Wisata

Mengenal Alat Musik Nafiri Dari Riau

 Nafiri merupakan alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Riau di pulau Sumatera yang bentuknya mirip dengan terompet. Masyarakat melayu di Riau sendiri tidak hanya mengembangkan alat musik seperti nafiri tetapi juga alat-alat musik seperti : canang, tetawak, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab, beduk, gong, seruling, kecapi, biola dan akordeon.

Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya. Kita dapat melihat permainan alat musik ini bersama dengan pertunjukkan makyong yang merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional yang saat ini masih dimainkan dan diwariskan di provinsi Riau. Selain sebagai alat musik, nafiri juga digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana, dan berita tentang kematian.

Sejarah

Asal-usul alat musik tersebut belum begitu jelas. Jika melihat perjalanan sejarah provinsi Riau, sejak dahulu sudah ditempati oleh orang-orang Melayu pada masa kerajaan Sriwijaya. Orang Melayu tersebut menempati berbagai macam tempat di selat malaka. Pembauran yang terjadi antara masyarakat melayu dengan suku bangsa Padang, Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar dan Batak menyebabkan munculnya berbagai macam budaya termasuk di dalamnya alat-alat musik. Akan tetapi, ada suatu pendapat bahwa alat musik ini berasal dari India karena mirip dengan alat musik untuk memainkan ular. Selain itu ada juga pendapat bahwa alat ini berasal dari daerah Timur Tengah karena adanya kemiripan nama yaitu naifr.

Pada zaman kerajaan-kerajaan, nafiri merupakan salah satu alat yang penting untuk digunakan pada acara penobatan raja selain sebagai alat musik di istana. Pada kerajaan melayu dulu alat pusaka Nobat seperti nafiri, gendang, sirih esar, dan cogan merupakan lambang negara atau yang biasa disebut dengan regelia kerajaan yang dijadikan sebagai kekuatan spiritual dan kehormatan kerajaan bersama dengan adat istiadat. Tanpa adanya alat-alat tersebut penobatan seorang raja tidak dapat disahkan.

Ada kepercayaan pada zaman dahulu jika kedua kekuatan spiritual tersebut rusak maka akan hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa tersebut. Bagi Kerajaan Kerajaan Melayu di rantau itu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain. Raja atau sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke negara atau daerah lain, mencari perlindungan. Tetapi, jika Regelia Kerajaan tidak dirampas dan tidak direbut, selagi Regelia sakti dan keramat itu masih dipegang oleh rajanya, maka kedaulatan negeri itu masih tegak. Sultannya tetap punya kedaulatan, dan dia bisa mendirikan kerajaan di mana saja, dan dijadikan raja di mana saja.

Karena alat-alat yang dianggap memiliki kesaktian itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regelia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seseorang yang memiliki kekuasaan jauh di atas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri. Biasanya orang tersebut merupakan penasihat raja.

Di Kedah nafiri bersama dengan alat-alat musik nobat lainnya disimpan di dalam sebuah tempat yang bernama Balai Nobat. Balai Nobat sendiri merupakan bangunan yang khas dengan arsitektur Islam. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kubah di atasnya. Bangunan ini telah seringkali direnovasi terutama pada zaman pemerintahan Sultan kedah yang ke-25 yaitu Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah yang telah menduduki takhta mulai tahun 1854 hingga 1879. Nobat berasal dari Kata Persia ‘Naubat” yang berarti sembilan instrumen.

Nobat merupakan orkestra musik kerajaan yang digunakan terutama untuk penobatan raja, bangsawan serta penyambutan tamu istimewa. Para pemainnya disebut dengan Orang Nobat. Nobat juga dimainkan bersama dengan perayaan-perayaan suci lainnya seperti kematian. Ada sebuah kepercayaan bahwa nobat berasal tradisi India yang ditularkan oleh para pedagang yang saat itu singgah di selat Malaka.

Pada zaman kerajaan dulu, nafiri digunakan sebagai alat untuk menyatakan peperangan terhadap kerajaan lain. Selain itu juga, nafiri digunakan untuk memberitakan tentang kematian raja, diangkatnya raja. Alat ini juga digunakan untuk mengumpulkan rakyat, agar mereka segera datang ke alun-alun istana untuk mendengarkan berita atau pengumuman dari rakyat mereka. Oleh karena itu, alat ini dijadikan sebagai barang pusaka kerajaan.

Di Malaysia kita juga akan menemukan alat musik yang disebut dengan nafiri walaupun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Di negara tersebut alat musik ini dapat kita jumpai untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan juga upacara adat. Kita dapat melihat alat ini pada orkestra nobat di Malaysia. Alat musik ini juga digunakan untuk penobatan gelar kebangsawanan.

Salah satu orang yang pernah mendapatkan gelar kehormatan Adat di Riau adalah sultan Hamengku Buwono X. Ketika penobatannya berlangsung suara Nafiri bersama dengan Alat musik tradisional lainnya mengiringi acara tersebut di depan sidang Majelis Perapatan Adat Melayu. Alat-alat tersebut digunakan sebagai penanda diangkatnya seseorang sebagai bangsawan. Saat ini fungsi nafiri menjadi lebih berkurang karena hanya digunakan pada acara-acara kerajaan atau perayaan-perayaan yang dilakukan oleh masyarakat melayu.

Menurut kepercayaan orang Melayu Riau, ketika memainkan alat musik ini para pemainnya dirasuki oleh para dewa, mambang, dan peri. Sehingga seolah-olah mereka menyampaikan pesan akan terjadinya bahaya atau kejadian penting lainnya. Oleh karena itu, sebelum ditiup alat musik ini perlu dipusung yaitu diasapi di atas pedupaan. Nafiri ditiup dengan aliran udara yang tidak terputus selama dua atau tiga jam. Pemain Nafiri harus orang yang memiliki napas panjang, sehat badannya, dan memiliki teknik khusus sehingga tidak putus tiupannya. Nafiri ditiup hanya dengan tangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang bagian bawahnya.

Fungsi dan kegunaan
  1. Pengiring tarian tradisional, tari Inai, tari Jinugroho dan tari Olang.
  2. Sebagai alat musik yang utama di dalam musik robat yang merupakan musik yang dimainkan di lingkungan masyarakat.
  3. Sebagai melodi yang digunakan untuk menentukan gerakan-gerakan silat.
  4. Untuk penobatan raja-raja ketika Riau masih berbentuk kerajaan-kerajaan serta bangsawan.
  5. Tanda terhadap terjadinya peperangan, bencana, dan kematian.
  6. Alat yang digunakan sebagai penanda spiritual untuk memanggil dewa, roh, atau arwah nenek moyang.
Cara membuat Nafiri

Terbuat dari kayu yang berukuran 25 sampai 45 centimeter. Antara batang dengan dan tempat tiupnya diberi batas yang terbuat dari tempurung kelapa. Nafiri menggunakan semacam lidah yang terbelah dua terbuat dari daun kelapa yang muda atau ruas bambu yang sudah kering. Lidah tersebutlah yang disebut dengan vibrator yang akan mengeluarkan suara atau bunyi-bunyian. Lubang jari ada tiga buah yang besarnya kira-kira sebesar biji jagung untuk mengatur tinggi rendahnya nada. Pada bagian pangkalnya diberi sambungan berbentuk seperti bujur telur yang terpotong dan berongga untuk membuat volume yang dikeluarkan lebih besar. Musik yang dikeluarkan terdengar seperti meronta-ronta daripada melodi yang jelas untuk didengar.

Sepotong kayu yang telah dikerat menurut ukuran yang dikehendaki ditoreh besar dipangkalnya sehingga bentuknya mirip dengan telur yang sudah dipotong bagian ujungnya. Kemudian diberi bebatang, proses tersebut yang disebut dengan balan atau bakal nafiri. Kemudian balan tersebut diperhalus dengan menggunakan pisau raut dan digesek untuk dihaluskan dengan daun trap atau kelopak bunga sukon yang hanya ditemukan didaerah sumatera. Kemudian dilubangi dengan menggunakan gurdi kecil dan pahat, hal tersebut akan membuat nafiri tersebut berongga dengan tebal kulitnya kurang lebih setengah centimeter. Pada batang nafiri dibuat lubang-lubang jari dengan menggunakan besi yang dipanaskan. Cara memainkan dan membuat Nafiri diturunkan secara terus menerus dari generasi ke generasi oleh masyarakat Melayu Riau.

sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mengenal Sejarah Meriam

Meriam atau kanon (atau “Lela” dalam Bahasa Melayu) adalah sejenis artileri, yang umumnya berukuran besar dan berbentuk tabung, yang menggunakan bubuk mesiu atau bahan pendorong lainnya untuk menembakkan proyektil. Meriam memiliki bermacam-macam ukuran kaliber, jangkauan, sudut tembak, dan daya tembak. Lebih dari satu jenis meriam umumnya digunakan dalam medan pertempuran. Lanjutkan membaca Mengenal Sejarah Meriam