Oleh Otang K.Baddy
Mana kopi, mana? Duh betapa candu ini begitu lekat, hingga tanpa dengannya jiwa ini seakan sekarat. Rokok, mana rokok? Tanpamu kehidupan ini seakan dingin!
Entahlah, saat menulis ini saya benar-benar ngantuk. Padahal saya seharusnya jangan ngantuk, apalagi jika sampai tertidur. Mungkin selain perut saya terlalu banyak isi juga karena terlalu banyak minum kopi yang terlalu manis. Harapan utuk melek sampai dini hari sepertinya bakal kandas terjegal diraja kantuk.
Masalahnya saya ini bukan pekerja keras, selain kerjanya harus tak terlalu banyak tidur, terlebih jika malam hari. Pun seharusnya jangan terlalu banyak makan, terlebih saat-saat waktunya tak tidur. Kenapa harus demikian, karena jika saya banyak tidur –apalagi sampai lebih dari enam jam hasilnya bakal puyeng.
Apa tidak merusak kesehatan? Demikian mungkin Anda bertanya. Jawabnya, entahlah, dalam sesi ini saya seakan tak memikirkan apakah saya ini sehat atau tidak. Yang penting tubuh terasa ringan, pikiran serasa terang dan tenang. Namun bukan berarti karena rasa terang atau rasa tenang itu kemudian saya harus bernyanyi riang, bertralala-trilili, bersiul-siul seperti kutilang. Tidak. Melainkan malah harus selalu berhati-hati, sebab dalam ketenangan itu nyatanya malah banyak ancaman. Benda-benda yang semula dikira mati, kaku membisu itu seketika menjadi hidup. Riap daun, gerimis, suara serangga, desir angin dlsb termasuk juga kentut menjadi daya pukau tersendiri yang mesti disikapi secara arif. Sebab kalau tidak ia akan jadi prasangka yang mengambang, samar rupa maupun rasa. Kalau tak menyejukan kadang harmoni itu bisa saja menyakitkan yang berujung pada kematian. Terlebih matinya hati dimana ia sebagai sopir dalam mengarungi kehidupan ini.
Apakah itu sebuah ilusi?
Saya tak bisa menjawab ya atau pun tidak sebab semua yang terjadi dan saya alami itu kadang seperti mimpi. Seperti mimpi yang jadi kenyataan. Ketika saat itu saya mau ngopi, bagaimana pun proses dan caranya saya bisa merasakan nikmatnya kopi. Ketika seorang tampak ramah, ia memberiku seulas senyum. Ketika orang-orang tampak suka hati ini merasa lega.
Ya, seperti mimpi yang jadi nyata. Kendati saya bukan ahli tafsir soal mimpi tapi dapat menarik kesimpulan dari yang telah saya baca dari pengalaman yang telah terjadi. Jadi bukan menafsirkan dulu, melainkan membaca jejak sebelumnya. Orang bijak janganlah melupakan sejarah, kelam maupun terang kisah masa lalu adalah ilmu yang mesti dihayati. Ambil yang baik dan campakan buruknya. Namun bukan berarti harus seutuhnya meniru seperti zaman tersebut di mana menyiratkan pelajaran kepada kita, melainkan cerdas-cerdaslah mengerjapkan mata dan pandangan. Jika masa lalu orang-orang menggosok gigi pakai sabut kelapa, daun ilalang atau serbuk batu bata, kini tak perlu. Begitu pun seandainya dulu konon manusia berpakaian dengan kulit kayu, kini juga tak harus. Lagi pula kulit kayu apa yang pantasnya kini bisa dijadikan pakaian.
Ada yang perlu digarisbawahi di celoteh ngawur ini. Yakni soal mimpi, mimpi di sini pengertiannya mutlak mimpi saat tidur. Bukan mimpi/impian yang artinya sebuah harapan. Mimpi dikejar-kejar ular, dikejar hewan lainnya macam sapi atau babi, pertanda apakah itu. Sekali lagi saya bukanlah ahli tafsir, terlebih tafsir mimpi. Namun semula menyangka saat mimpi didatangi seekor ular akan bertemu ancaman mematikan. Tapi maaf, ini hanya dalam versi mimpi saya, terlebih dalam mimpi itu ular yang menjumpai saya tampaknya gemulai dan jinak. Kata orang jika seorang lelaki yang mimpi tersebut dalam kehidupan nyatanya tengah dikejar seorang wanita.
Diuber wanita? Oih..
Saya mulai mengingat-ingat itu. Kendati kesannya tak perkasa saya ini memang lelaki. Dan pernah mimpi diikuti ular –bukan dikejar. Lantas mencocokannya dengan kehidupan sehari-hari saat itu. Saat baru merebaknya penggunaan telpon seluler, seketika saya pun ikut tergila dengan barang yang bak sakti tersebut. Entah kenapa saat itu banyak telpon nyasar, mungkin dari mereka yang sekadar melacak nomor. Maka tersangkutlah saya dengan seorang wanita. Ya, sekedar gombal-gombal gitulah, tapi ia seperti tergila dan bahkan ingin sekali bertemu dengan saya. Wuih….. Tapi untunglah dari rentetan peristiswa meningkatnya perceraian rumahtangga akibat korban penyalahgunaan gadget tersebut saya tak ikut terlibat. Demikianlah kesimpulan mimpi dikejar ular dalam versi saya.
Bagaimana jika mimpi dikejar hewan lainnya? Saya belum mengalami selain hanya mimpi diseruduk sapi dan diikuti monyet. Biasanya ada orang yang iri dan maunya hendak mengenyahkan kita dari kehidupan ini. Sebelumnya saya tak pernah percaya kalau cuma ‘katanya’. Apalagi saya bukan ahli tafsir mimpi, namun ya seperti apa yang telah saya ceritakan di atas. Saya ingat-ingat ada permasalahan apa dalam kehidupan sehari-hari. Selidik punya selidik ternyata sebab akibat dari sengketa masalah perbatasan tanah. Dari batas pagarnya yang kerap melebar dan nyerobot ia tampak mau memiliki tanah itu. Lantas soal monyet yang kerap mengikuti atau hendak mencakar, ya hampir sama dengan mimpi diseruduk sapi. Namun jika yang tampak monyetnya setengah manusia dan berujud hitam itu berasal dari mahluk genderuwo, yang kerap disuruh-suruh oleh majikannya. Tentu masalahnya tak jauh dengan yang disebut iri dengki dan mengharap kekayaan tak wajar. Mereka bersekutu dengan mahluk halus sebagai balatentara yang dipelihara demi keserakahan duniawi. Dari ekonomi, karir maupun pembangunan yang dirancang kita, ia tak suka dengan kemajuan orang lain. Makanya, jangan heran jika siang mereka seperti manusia dan malam menggentayang seperti binatang buas yang mencari mangsa.
Dalam hidup ini kadang banyak sekali penyamaran dan kesannya seperti terbalik. Yang hitam dikemas putih, sebaliknya yang putih kadang sengaja dibungkusnya dengan yang hitam. Biasanya yang putih (yang asli) tak mau kentara. Intinya kebenaran, kejujuran kerap kali bersembunyi dan tidak menggembor-gemborkan diri. Semua biar kita sebagai mahluk yang berbudi mau berpikir.
Solusi yang terbilang gampang-gampang susah untuk menangkal hal buruk macam gambaran mimpi tadi tiada lain jangan terlalu banyak tidur. Setidaknya sejak waktu Asar sampai tengah malam lebih sedikit. Sebab pengaruh buruk itu kerap nyebarnya di saat-saat seperti itu. Biasanya jika akan datang pengaruh buruk tersebut perbawanya ngantuk berat. Apalagi jika sebelumnya terlalu banyak makan lemak. Kesimpulannya, tentu saja selain ucap perilaku yang baik kita harus rajin meronda. Meronda berarti terjaga, menjaga lingkungan dari pengaruh jahat yang hendak merongrong. baik di lingkungan luar maupun dalam diri ini. Meronda di sini bisa juga diartikan berdzikir, membaca ayat-ayatmu yang tertulis di kertas semesta. Dengan rajin meronda, ibaratnya setelah Hp dicharger segala pengoperasiannya akan terasa cling!
Wualah, kok jadi ngawur ya. Tapi tak apa lah judulnya pun kan ada imajinasi liarnya, Jadi tak terikat dengan topik tertentu. karenanya jika kamu tak suka dengan celoteh ini segera beranjak dari konten ini. Atau jika terasa puyeng mendingnya ngopi saja. Aduh jadi kepikiran mau ngopi.
“Ngopi, Mang? Ayo..!”
“Tidak ah, nanti tak bisa tidur!”
“Ah, moso iya?”
“Iya, Kang.”
Kok bisa gitu, ya?
Aneh, kalau saya setelah minum kopi tetap saja ngantuk. Memang saat meminumnya tidak karena air kopi itu hangat. Masuk dan melintas tenggorokan, “bray”, sebelum kemudian meredam isi di lambung. Cairan itu mendingin, maka ngantuklah.
“Paling susah jika terbangun tengah malam sulit tidur lagi. Malam terasa panjang, namun jelang pagi atau waktu subuh kantuk itu menyerang. Tidur sejenak sebelum kemudian pagi bangun, duh puyengnya. Bahkan puyengna tak juga hilang sampai malam berikutnya.”
Bersebrangan. Ngopi jadi tak enak, terlebih menurutnya ngopi merupakan tindakan yang royal dan buang duit. Begitu pun merokok, di samping boros anggaran juga akan cepat membunuhmu. Karena itu aku tak suka kopi, apalagi rokok, sebab kedua-duanya merupakan pembunuh!
Kalau begitu terserah kamu mau apa, jika ngantuk tidurlah. Sebab seperti yang telah saya ceritakan tadi minum ngopi –sekalipun kopi hitam, tetap saja tak bisa menjamin sampai tengah malam melaksanakan ronda. Tetap saja kewalahan dan terkapar tak berdaya. Tak tahu peristiwa apa yang terjadi dalam detik, menit, atau jam-jam berikutnya..
Aduh, ngantuk berat nih. padahal sebelumnya saya hendak meneruskan cerita tentang ketiduran sejak sore hari dan malamnya terjadi seperti huru-hara. Dalam keadaan siuman saya mendengar suara sorak-serai. Ternyata telah terjadi kebakaran di rumah tetangga. Di lain sesi, ketika siuman saya mendengar teriakan histeris istri saya dan setelah diketahui anak sulung saya muntah darah. Yang jadi pertanyaan kenapa saya yang tidur di kamar tak diketahui. Orang-orang malah mencari saya ke tempat jauh seraya nelpon-nelpon yang katanya Hp saya tak aktif karena sengaja dimatikan.
Kecolongan lagi, coy! Padahal telah saya perhatikan dan cemas sebelumnya ketika ia tidurnya bak sembunyi dalam gowok. Kenapa kamar itu tak dipasang lampu, jadi gelap gulita. Bagaimana kalau si kegelapan itu menjegal. Ya, seperti pada pohon beringin yang hijau rindang di tepi jalan itu. Kesannya gelap, lembab. Terlebih pohon itu memayungi sumur di bawahnya. Di tikungan lagi adanya. Kendati saat purnama, karena kerindangan itu tetap saja gelap. Karenanya tak heran jika imajinasi ini mencipta sesuatu di balik gelap itu. Ada sosok yang entah berupa apa, begitu seram dan bulu kuduk merinding. Ya, karena imajinasinya kuat maka tumbuh di hati, hingga yang terbayang itu jadilah nyata. Nyata gelap. Terlebih hati yang gelap menebak yang gelap.
Ngopi dulu, coy!
Gitu, ngerti juga kau. Pemilik pabrik pengolahan kayu itu akhirnya memasang lampu di batang pohon beringin tersebut. Kan kalau terang hati ini juga jadi terang, tak ada hantu atau makhluk halus di sana. Ngerti juga ya kamu. Pasti seneng ngopi, ya. Tentu satu selera, kopi hitam yang kadang bisa membuat lambung ini perih. Tapi kendati perih kamu tak akan cengeng karena dibalik rasa sakit itu setidaknya tak cepat ngantuk..
Oya, karena lambung ini terasa perih, tunggu saya akan obati dengan buah pisang rajasiem. Pasti perihnya hilang. Tunggu, ya…nanti dilanjut lagi…
***
Ya, menang semua tak terlepas dari masalah ngopi. Ngopi malam minggu di Pos Ronda lingkungan keRT-an. Oh iya, dirasa-rasa dunia seperti kembali ke zaman dulu, ya? Ada pos ronda lagi. Ada penilaian mengenai prestasi atas kekompakan warga dan kebaikan bangunan gardunya. Lantas diberi nilai, siapa yang menang itu juara. pak RT yang Posnya jadi juara tersenyum, sementara nyengir kuda bagi yang nilainya buruk. Padahal enak katanya, bagi pencinta bola tak ada alasan lagi untuk malas keluar rumah, soalnya di pos juga ada tivinya. Ya cuma seminggu sekali kok..moso gk dateng..
Tapi saya kurang serius nonton bola, apalagi jika tim yang didukung mainnya tak konsen, terlebih jika gawangnya sudah kebobolan 1 atau 2 gol. Satu gol tak semangat apalagi jika kekalahannya sampai 4-0, 5-0 dan seterusnya. Bikin gemes lah.
Tapi untung saja ngeronda malam minggu ada yang nraktir kopi dan rokok. Enak lah. Biarlah yang lain nonton bola atau melihat tayangan lainnya. Sebagian main gapleh. Bagus lah, demikian pikiran saya. Ya itu karena ada kopi lah. Ngomong ngalor ngidul, tentang masa kini dan masa lalu. Pokoknya cocoklah!
Karenanya saat ibu saya butuh dironda malam itu, saya sampai tega meninggalkannya karena tergila mau ngopi di pos ronda. Segelas kopi dan dua batang rokok tandas sudah. Saya tersentak dan bergegas ketika pukul satu dini hari sms dari istriku mengabarkan ibu tiada. Eh, ternyata saat itu belum mutlak. Cuma kesadarannya telah hilang. Mungkin kalau kata isyilah Mas Parman yang aslinya telah tiada.
Yang asli dari istilah sedulur papat kelima pancer. Pancernya telah pulang. Yang bergerak-gerak bak pikun itu katanya yang terbuat dari empat anasir, empat cahaya, yakni dari tanah, api, air dan angin. Mereka merupakan energi, ibaratnya sebuah mesin yang tanpa operator karena operatornya telah pergi memenuhi panggilan Illahi. Minggu siang ibu belum juga sadar, ia seperti lupa pada dunia dan lupa siapa yang berada di dekatnya. Matanya biasa berkedip-kedip, ia seperti tak merasakan sakit. hanya saja mesin itu tak ada pengemudinya. Jasad itu terus melemah, hingga sampai hari Senin pagi ia dikebumikan menyusul orang-orang terdahulu.
Malam setelah kepergiannya kembali saya ngopi, bahkan ngopinya agak unik, yakni depan keranda..