Arsip Tag: M. Rosyid HW

[Cerpen] Pelukis Gunung Semeru

 oleh: M. Rosyid HW

Lukisan yang tergantung di dinding ruang tamu itu tetaplah mempesona walau sudah kutatap setiap harinya. Semacam ada aura magis yang menyeruak, mencengkeram tatapan siapapun yang melihatnya. Segunduk gunung yang membiru sangatlah gagah sebagai algojo penjaga alam disekitarnya. Hijaunya persawahan dengan gemericik sungai yang mengalir laksana prajurit-prajurit penghias alam yang bestari. Sepotong mentari mengintip dari balik punggung gunung yang begitu kekarnya. Ah, lukisan yang sangat sempurna, tak jemu-jemu aku mengaguminya.

Keindahan lukisan tersebut kata mas Bedjo adalah pemandangan di belakang rumahnya. Persis di belakang rumahnya, di lereng Gunung Semeru. Karena itulah saat dia menawariku pekerjaan untuk membantunya di rumahnya, aku tak perlu pikir panjang-panjang untuk mengiyakannya. Dan kini, aku memang benar-benar melihatnya, lukisan karya Tuhan yang terbentang di bumi-Nya dan lukisan mas Bedjo yang tergantung di dinding ruang tamu rumahnya.

Sebagai orang kampung yang tak tahu estetika lukisan, aku memang benar-benar mengagumi karya-karya mas Bedjo. Lukisannya yang ratusan itu telah melanglangbuana dalam pameran-pameran yang tak terhitung jumlahnya. Yang lebih saya kagumi, dia punya jadwal khusus untuk melukis. Persis sekitar pukul lima pagi hingga pukul sepuluh pagi dan pukul tiga sore hingga pukul tujuh malam. Katanya, kemunculan mentari dan semburat mega merah di ufuk barat akan menambah energinya untuk melukis. Itu sudah dikatakannya berkali-kali, tanpa energi matahari yang terus bergerak aku mungkin tak mampu melukis sehebat ini. Seperti tumbuhan saja mas Bedjo ini, yang membutuhkan cahaya untuk berfotosintesis, candaku. Di jam-jam tertentu tersebut dia akan menghabiskan waktunya di sebuah ruangan di pojok rumahnya. Kamar itu terletak di samping rak-rak buku di ruang tamu, juga di samping lukisan gunungnya yang maha hebat itu. Kamar itu terkesan sangat mistis. Tak ada seorangpun yang pernah memasukinya kecuali mas Bedjo. Bahkan aku, tak diperbolehkannya untuk membersihkan dan menyapunya. “Biar aku sendiri yang membersihkannya Mak,” katanya suatu ketika. Saat pagi-pagi dia memesan kopi, dia juga tak memperbolehkanku masuk. “Taruh di depan pintu aja Mak!”Ah, pelukis memang punya dunia sendiri yang tak kupahami.

***

Hangat mentari menyusuri lekuk-lekuk wajahku yang berkerut. Di umur yang baru setengah abad ini badanku sudah lapuk dan tanganku tak sekuat dulu ketika memegang sapu lidi. Ah, aku iri melihat begitu gagahnya gunung Semeru yang bertahun-tahun tak pernah kusut dan lapuk. Walaupun terkadang-kadang meletus, tapi aku yakin Semeru tak sakit, dia hanya batuk-batuk dan sakit tenggorokan. Sepagi ini, dapat dipastikan mas Bedjo masih mendekam di kamar lukisnya. Aku juga tak mau terburu-buru memasak di dapur, udara segar di luar rumah dan daun-daun yang berguguran lebih menarik minatku.

Tiba-tiba, sebuah truk melintas melewati jalan depan rumah. Menderu-deru karena tak kuat menaiki tanjakan. Di belakang deknya, tetes demi setetes air mengucur. Sepertinya truk itu mengangkut pasir, batinku. Aku heran, kenapa ada truk sepagi ini, lagipula arahnya ke atas bukan ke bawah seperti truk-truk yang lain yang mengangkut pasir dari lereng gunung. Mungkin salah satu tukang angkut pasir atau sekop atau cangkul tertinggal di lereng, aku membuyarkan keherananku.

“Den, tadi ada truk membawa pasir menuju ke lereng. Biasanya turun ke bawah, kok truk ini naik ke atas,” laporku ke mas Bedjo.

“Mungkin, ia meninggalkan sesuatu di atas,” papar Mas Bedjo kalem, terkesan cuek.

“Mak, nanti aku dibuatkan teh hangat ya, aku tunggu di kamar. Seperti biasanya, gulanya jangan banyak-banyak dan taruh di depan pintu saja.”

Tak seperti biasanya, Mas Bedjo sarapan pagi cepat sekali dan langsung menuju kamarnya. Pikirannya hanya mengarah bahwa pekerjaannya menumpuk dan imajinasinya sedang membara.

Lewat tengah hari, saat aku sedang mengepel lantai ruang tamu, sebuah truk melintas dan lagi-lagi menaiki bukit. Menjelang mentari menghilang, sebuah truk melintas lagi. Aku semakin heran. Saat makan malam, aku mengutarakan keherananku kepada Mas Bedjo, dia menjawab sekenanya.

Hari makin hari, truk-truk yang menderu-deru semakin banyak. Bahkan tidak hanya truk, seingatku ada dua mobil yang melintas. Satu berwajah colt dan berkaki pick up, satu lagi berwajah kidjang dan berkaki pick up pula. Aku juga tak tahu apa saja barang-barang yang diangkutnya. Hari itu, hari ke tujuh semenjak kedatangan truk pertama, saat mega-mega oranye mewarnai awan di atas gunung semeru, sebuah mobil fortuner warna putih tertatih-tatih menaiki lereng yang terjal.

***

Kopi yang dibuatkan Mak Eni masih mengepul hangat saat kuselesaikan sebuah lukisan yang akan dipamerkan bulan depan. Kilau secercah titik mentari yang menerpa serpihan lereng Semeru, membuat gunung itu terlihat begitu mempesona. Pemandangan itu terekam dalam memoriku dan kini telah berpindah ke dalam kanvas. Nafasku menghela lega ketika lukisan itu telah selesai dengan sempurna. Ah, akhir-akhir ini jadwal pameranku begitu padat.

Sebagai seorang pelukis gunung, pelukis gunung Semeru tepatnya, aku harus mampu mencari sudut pandang yang beragam, taburan cahaya yang berbeda, dan sebuah tempat yang strategis untuk melukis Semeru. Maka, aku membangun sebuah rumah di lereng ini. Kemudian aku membuat kamar khusus yang kupergunakan untuk bekerja. Dikamar itu aku bergelut dengan kaleng cat aneka warna yang tumpah ke mana-mana. Harum semerbak perpaduan antara air cat dan goresan kanvas lah yang membuatku sangat betah berlama-lama di kamar ini. Di ujung kamar ada sebuah kaca yang sangat lebar, kira-kira seukuran tiga kali tiga meter. Melalui kaca tersebut aku mampu memandang gunung Semeru tanpa terhalang suatu apapun, apapun itu. Tinggal menunggu matahari dan alam berputar maka nampaklah Semeru dengan ragam pesonanya. Terekamlah keindahan gunung itu ke dalam memoriku kemudian kutuangkan dalam coretan di kanvas-kanvas putih. Lama kelamaan orang-orang menyebutku pelukis gunung semeru. Dengan kamar lukisku ini beserta kaca lebar yang mengarah ke Semeru, aku memantapkan hati menjadi pelukis untuk menyalurkan hobi dan mengais rezeki.

Hingga pada suatu pagi, Mak Eni memberitahuku tentang adanya sebuah truk yang menaiki lereng. Aku mencium gelagat tidak enak yang memasuki relung-relung hatiku. Pasti akan terjadi sesuatu dengan Semeru ini. Hari makin hari kata Mak Eni truk yang melintas semakin banyak, aku tak tahu dan aku tak peduli karena aku hanya fokus dan mengisolasi diri di kamar lukisku. Lukisan telah mengasyikkanku dengan bergelut bersama kanvas, kuas, cat yang berwarna warni dan sekepul kopi hangat.

***

Hari itu, mendung sedang bergelayut di lereng-lereng yang rimbun dengan kehijauan. Kegagahan Semeru tertutupi oleh kabut-kabut pagi yang belum mencair oleh sinar matahari. Saat sapu lidiku belum membersihkan seluruh daun yang berserakan, iringan mobil-mobil melewatiku. Ada sekitar delapan mobil. Kata tetangga sekitar rumah, hari ini sebuah pabrik air minum akan diresmikan oleh bupati. “Ah, pabrik minum? Mengapa harus ada pabrik di tengah rimbunan pohon-pohon ini? Mengapa harus ada pabrik di lereng gunung?”

Saat aku beralih untuk membersihkan ruang tamu, aku kaget. Lukisan Gunung Semeru yang tergantung sudah tidak ada di tempat. Mungkin mas Bedjo telah memindahkannya pikirku. Kuingat-ingat kembali, lukisan ini masih ada kemarin sore. Aku kembali terheran saat Mas Bedjo tak membuka kamar lukisnya saat aku mengetuknya berkali-kali berharap dia akan menyantap masakan yang telah kuhidangkan. Tak biasanya dia seperti ini, paling-paling dia akan menyahut “Taruh di depan pintu aja Mak”, “Ya sebentar lagi Mak, masih tinggal sedikit”atau langsung keluar memenuhi penggalianku. Kucoba membuka knop pintu berkali-kali. Terkunci dari dalam. Dia tetap tak menyahut.

Ketika malam menjelang dan hawa dingin pegunungan mulai menusuk, aku kembali mengetuk kamar lukisnya. Dia tetap tak menyahut, aku mulai curiga. Pasti terjadi sesuatu dengan mas Bedjo. Terngiang-ngiang di telingaku saat mas Bedjo melarangku untuk memasuki kamar itu walau dalam keadaan apapun. Tapi, hatiku memberontak. Dengan tubuhku rentaku, kodobrak kamar itu dan berhasil. Gelap menyelubung, bau cat air menyeruak. Kunyalakan lampu, barulah aku mulai tahu seluruh isi kamar ini setelah bertahun-tahun aku bekerja disini. Ini galeri lukis mas Bedjo, batinku. Pandanganku mencari-cari, kutemukan dua lukisan berjajar di atas sebuah kayu. Satu lukisan yang biasa kulihat di ruang tamu, satunya lukisan baru dengan cat yang masih basah. Terlukis jelas disana, sebuah menara dan asap yang membumbung menutupi gunung Semeru. Aku memandang lurus ke depan, kaca-kaca pecah berantakan. Terpampang gunung Semeru yang tak lagi gagah karena tertutupi menara dan asap pabrik. Seonggok tubuh kutemukan tergeletak di belakang kedua lukisan itu. Pergelangan tangannya tergores dan masih mengucurkan darah merah. Sebuah kertas ada ditangannya; keindahan Semeru telah mati, pelukisnya akan menyusul keindahan itu. Lewat retakan dan pecahan kaca, kulihat Semeru masih membisu menyaksikan pelukisnya, mungkin juga membeku atau bersedih, aku tak tahu. Besok, aku tak mempunyai majikan lagi.(*)

 

*M. Rosyid HW

Pegiat sastra di Komunitas Lilin lantai

Tulisan-tulisannya beterbaran di koran nasional dan lokal

Cerpen terakhirnya “Cabai di Belakang Rumah” terbit di Koran Madura 15 Juli 2016

No. HP                        :  085608554809

[Cerpen] Demi Cinta Laila

Oleh: M. Rosyid HW

Ini semacam keras kepala yang berbatu-batu. Seperti tekad yang mengalir dalam urat nadi, atau cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Kata pujangga, ini perjuangan cinta. Kalau tidak, mana mungkin aku berada di tempat ini. Meneguhkan diri dan memantapkan sendi-sendi hati.

Bulan sedang pada masa jaya-jayanya, bercahaya lembut di malam yang membiru. Baru kali ini kulihat bulan bersinar sedemikian cantiknya. Sungai Brantas mengalir begitu anggun, tenang di permukaan, bergejolak di dasar. Tak terlihat siapapun sefajar ini di bantaran sungai ini, hanya seonggok lampu yang bekerjap-kerjap di kejauhan. Gelap gulita menyelimuti sekelilingku, hanya deru alir sungai yang bergelora dan sangat berwibawa. Mengerdilkan nyaliku yang sudah kuberanikan semenjak berangkat dari rumah. Perlahan-lahan kumasukkan ujung kakiku ke dalam sungai terbesar di ujung timur jawa ini. Batas air merambat dari lutut, paha, perut hingga mencapai dada bidangku. Hawa dingin menjalari tubuhku, mengalir begitu mencekam. Bibirku bergetar, bulu kudukku berdiri, aku menggigil. Riak-riak air bergelombang menerjang seluruh inci badan. Angin selatan berselancar di permukaan sungai, menerpa wajah telanjangku. Badanku bergetar hebat, hebat sekali. Aku hela nafas dalam-dalam, mencoba mengalirkan hawa panas dan menetralisir dingin yang menekan erat. Gigilku berkurang, tapi dingin tetap mencekam. Bermandikan cahaya bulan, kurendam tubuhku dalam deras air sungai. Untung bulan bercahaya begitu indah, menemani kesunyian malam ini.

Kalau bukan karena Laila, gadis jawa itu, aku tak mungkin merendam diri di malam sedingin ini, di sungai Brantas pula. Malam ini adalah malam ke lima belas dari empat puluh hari yang harus kulalui dengan raga yang basah oleh air dan cahaya bulan. Separuh jalan telah hampir ku lalui. Walau tulang-tulangku bergeletukan, senyum simpul merona dari bibirku.

Aku tak mengerti, mengapa aku bisa senekad ini. Laila dengan rambutnya yang tergerai-gerai dilambai angin membuat hatiku tak karuan. Seandainya saja aku mampu mempersuntingnya untuk menjadi istriku, hidupku yang pas-pasan akan berubah bahagia.

Seandainya aku pintar merangkai kata-kata layaknya penyair. Pasti, Laila akan terbuai oleh gombal-gombal cinta yang kulontarkan dalam puisiku. Setiap hari akan kukirimi dia sepucuk mawar merah lengkap dengan sajak yang mendayu-dayu penentram kalbu. Kemudian, dia akan menerimaku sebagai pelabuhan hatinya. Namun aku hanyalah penambang pasir di pinggiran sungai Brantas yang sedikit beruntung. Ya beruntung, karena mampu melihat dan mengenal bidadari yang turun dari langit, secantik Laila. Sayangnya, wajahku tak ganteng pula layaknya aktor-aktor film. Hingga akhirnya, tekadku berakhir dengan malam yang panjang tanpa mengatupkan mata sedikitpun dan dingin yang merasuk ke tulang-tulang.

Adalah Ki Joyoboyo yang memberikanku petuah ijazah untuk memenangkan hati Laila. Saat itu, malam Jum’at kliwon aku mendatangi rumahnya di pinggiran Sungai Brantas. Seminggu setelah aku bertemu Laila, tujuh hari setelah renungan yang berkecamuk dalam hati. Pohon beringin di depan rumah dukun ini menambah kesan sakti plus mistis yang sudah melekat dalam namanya. Aku datang mengendap-endap, tak berani banyak bersuara.

“Perempuan mana yang kau suka?” Tanya Ki Joyoboyo bahkan sebelum aku mengutarakan maksudku.

“Laila Ki, anak pakSutiyo, janda satu anak Ki.”

Setelah itu, dia mengeluarkan sebuah kertas dan menuliskan huruf-huruf arab diatasnya. Hurufnya panjang berderet-deret, berdesak-desakan dalam kertas yang sempit. Aku tak tahu isinya, lampu di kamar itu terlalu remang untuk mampu menjangkau deret hurufnya. Mungkin, itu arab pegon, bahasa jawa yang ditulis dalam huruf arab, batinku. Saat lafadz-lafadz itu sudah lengkap, dia memasukkannya dalam segelas air kemudian merapal mantra-mantra dengan memejamkan mata. Tinta-tinta dalam kertas melarut dalam air hingga air jernih itu berubah menjadi kehitam-hitaman. Aroma dupa bergelegak masuk ke dalam hidungku. Aku menciut, bulu kudukku meremang.

“Minumlah nak, minum dengan menyebut nama Tuhanmu.” Air dalam gelas kutenggak sampek habis, menyisakan kertas di dasar gelas.

“Jika kau ingin Laila bertekuk dalam pelukmu, kau harus melakukan hal yang kupinta ini. Berendamlah di Sungai Brantas sebelum fajar menjelang, berbalut cahaya bulan. Selama empat puluh hari tak boleh putus-putus. Sambil berendam bacalah ayat ini sebanyak seribu kali sampai shubuh tiba. Jika itu sudah kau lakukan, maka Sungai Brantas akan memberikanmu kekuatan untuk menaklukkan hati si Laila. Kau akan menjadi gagah di matanya, segagah aliran sungai” ujar Ki Joyoboyo sambil memberikan sepucuk kertas bertuliskan arab di depanku.

“Makasih banyak Ki,” aku menyalaminya sambil menyelipkan beberapa lembar uang ratusan ribu dalam genggamannya. Malam itu, aku pulang dengan senyum yang mengembang dan bersiul-siul gembira. Impianku untuk memperistri Laila sedikit lagi akan terwujud.

***

Siang sedang buram hari ini. Awan pekat bergulung-gulung menghitam menutup sorot cahaya mentari. Gelap menggelayut bumi, segelap hatiku saat ini. Sudah berhari-hari aku tak bertemu dengan sorot ayu wajah Laila. Biasanya, sesiang ini, dia akan menggowes sepedanya untuk menjemput anaknya pulang sekolah. Saat dia melintas di atas jembatan bambu yang membentang di atas sungai Brantas, aku akan melirik sosoknya dengan sepanggul pasir basah di bahuku. Maka, hatiku akan membuncah, semangatku akan bergelora, seakan seluruh pasir di sungai itu akan kukeruk habis dan kupersembahkan untuk Laila. Namun, sudah seminggu ini batang hidungnya tak terlihat.

Sebagai seorang penambang pasir, menyelam sungai adalah keseharianku. Berangkat semenjak mentari mulai terlihat dan berhenti ketika ia menyembunyikan cahayanya di balik mega. Seonggok bambu berbentuk kerucut yang dilapisi seng menemaniku menyusur kedalaman arus sungai. Aku mampu menyelam selama hampir lima menit kemudian muncul dengan segepok pasir basah, mutiara Sungai Brantas yang sudah terkenal kualitasnya seantero negeri. Setelah seminggu, pasir akan terkumpul dan dijemput truk-truk yang merapat untuk mengangkutnya.

Hari ini, aku beristirahat lebih cepat. Dengan baju yang basah kuyup, kupandangi lekat-lekat sungai terbesar di Jawa Timur ini. Sungai yang tak pernah kering, terus menerus mengalir, menjadi sumber penghidupanku semenjak aku lahir. Sungai yang bersumber di lereng gunung Arjuno ini melintasi beberapa kabupaten dan bermuara di ujung pantai utara jawa. Tiba-tiba aku teringat Laila dan pertama kali aku bertemu dengannya.

Senja itu angin bertiup sepoi-sepoi, aku baru saja selesai dengan angkatan pasir terakhir. Nafasku terengah-engah, tenagaku terkuras habis. Dibalik rindang pohon nangka, aku melepas lelah. Hingga seorang perempuan duduk selemparan pandang di sampingku. Duduk bertekuk lutut, memandang lepas Sungai Brantas dan melempar kerikil-kerikil ke arus yang deras. Semacam ada kabut bergelayut dalam hatinya. Rambutnya tergerai-gerai tersapu angin selatan.

“Kau lihat perempuan itu? Siapa namanya Man?” tanyaku kepada teman sesama penambang Pasir.

“Itu Laila, anak Pak Sutiyo. Sebulan lalu pulang, setelah ditinggal mati suaminya.”

Kupandangi Laila lekat-lekat, semacam ada rasa kekaguman tumbuh dalam dada. Semenjak saat itulah aku sering memimpikannya dan selalu menunggunya melintas di jembatan bambu yang berdiri gagah di atas Sungai Brantas.

***

Saat kutengok jendela di samping dipanku, fajar telah menghilang semenjak sang mentari menampakkan batang hidungnya. Malam telah menunaikan hajatnya, berganti kuning menyala-nyala di ufuk timur disertai ciut-ciut burung-burung. Fajar telah digantikan lembaran pagi. Bersamaan dengan wajahku yang tertimpa percik sinar mentari, kantuk yang melekat di kantung mataku mulai memudar. Rasa lega dan bahagia menyesaki kalbuku, malam-malam berat telah berhasil kulalui. Empat puluh malam tanpa memejamkan mata, bertahan dalam kedinginan dan jutaan mantra telah kupanjatkan.

Cuaca yang cerah, secerah gemuruh dalam dada. Hari ini akan kuselesaikan keras kepala yang membatu-batu, tekad yang mengalir dalam urat nadi, dan cita-cita yang sudah mengakar berabad-abad dalam hati. Dengan menggenggam tulisan ayat pemberian Ki Joyoboyo dan mewarisi kegagahan Sungai Brantas, aku siap untuk menjemput cinta Laila.

 

*M. Rosyid HW , Pegiat sastra di Komunitas Lilin Lantai

Tulisan-tulisannya pernah dimuat di koran nasional dan lokal