Oleh Pone Syam
(Tidak Ada Jarak Diantara Kita)
Aku hanya bisa memandanginya dengan mata nanar. Mulutku kaku untuk menyapa bahkan untuk sekedar menyebut namanya saja. Aku menelan air liur kepedihan membasahi hatiku yang terluka. Menyesal? Benarkan kata itu berlaku untukku?
Rahmatia, begitu orang memanggilnya. Dia gadis desa dengan segudang mimpi. Kecerdasannya mampu mengantarkannya pada cita-cita tertingginya namun tingkat kecerdasan itu tidak mampu beradaptasi dengan cinta pertamanya. Otaknya seperti lumpuh jika harus berdebat dengan realita kehidupan yang diselimuti manisnya cinta dan indahnya kebersamaan.
Atas nama cinta akupun merampas semua miliknya. Hidup dengan hartanya dan juga tubuhnya.
“Aku mencintaimu, ingin hidup selamanya denganmu. Jangan pernah berfikir tinggalkanku,” kalimat mengiba diiringi adegan berlutut dengan tetesan air mata palsu mampu untuk merobohkan pertahanannya.
Semua miliknya adalah milikku tanpa sadar bahwa aku lelaki biasa dengan segudang kebanggaan. Aku butuh pengakuan. Lalu aku membuatnya tak mampu hidup tanpaku.
Segudang cita-cita yang dia bawa dari kampung untuk diwujudkan di kota kini hancur lebur. Dunianya runtuh bahkan aku bisa yakin bahwa dia tidak akan pernah bangkit dan berakhir di rumah sakit jiwa.
Kecerdasannya tidak mampu mengimbangi logikanya. Dia seperti orang gila, berjalan tanpa arah dan tujuan, kakinya melangkah tanpa alas kaki. Membuat darah bercucuran ketika menginjak beling atau meringis perih sebab panasnya aspal.
“Ifal…ifal..ifal...” begitu mulutnya nyerocos menyebut namaku. Akupun bangga ketika semua orang seperti berdecak kagum dengan kehebatanku.
Lelaki biasa, tidak tampan dari golongan orang miskin. Bagaimana lagi aku membuktikan kehebatanku selain membuat orang mencintaiku terlihat tak mampu hidup tanpaku.
Kemudian aku kembali padanya. Aku tahu bahwa dia masih sangat terluka namun cinta yang tulus dan amat besar untukku mengalahkan segalanya. Dia kembali menjadi Rahmatia milikku seutuhnya. Memanjakanku dengan barang mahal yang tidak pernah mampu diberikan orang tuaku.
Uang memang segalanya bagiku dan hidup dari uang Rahmatia membuatku terpandang. Benar kata orang, meski kayu lapuk dan mati jika diselimuti berlian maka akan nampak indah, begitupun denganku terlihat begitu berkharisma hingga aku sadar bahwa di muka bumi ini bukan hanya aku yang menggilai uang, ada banyak diluar sana dan salah satunya adalah Susanti.
Aku jatuh cinta pada Susanti, seniorku di sekolah dulu dan kini bertemu dengannya. Statusnya sebagai janda kembang dengan harta berlimpah hasil gono gini dari pernikahannya dengan mantan anggota legislatif.
Logikakupun lumpuh ketika berhadapan dengan cinta. Semua harta pemberan Rahmata aku gunakan untuk membahagiakan Susanti hingga Rahmatia seperti orang gila mengejar ingin membunuh susanti.
“Pilih aku atau dia?” pertanyaan Susanti membuatku menentukan sikap dibawah terik mentari di jalan raya dan tentu saja aku memilih susanti dan membalap motorku meninggalkan Rahmatia yang menjerit menangis bahkan ikut mengejarku dengan motor yang dikendarainya namun nasibnya naas, dia menerobos lampu merah dan tertahan oleh polisi lalu lintas, dari kaca spion aku bisa melihat bagaimana dia berusaha lepas dan ingin mengejarku.
Tak ada rasa bersalah bahkan ketika dia menelfon dan mengirimkan pesan tentang keberadaannya di kantor polisi. Aku dan Susanti malah tertawa dan bersyukur dengan keadaannya. Itu kali terakhir aku melihat Rahmatia dan aku melanjutkan hidupku dengan bahagia bersama Susanti.
Semua tidak berjalan indah sesuai inginku. Harta susanti ludes dengan gaya hidup kami. Susanyi menuntutku untuk menghasilkan uang banyak tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Terlintas dibenakku untuk memanfaatkan Rahmatia tetapi tak ada yang tahu keberadaannya. Rumah miliknya telah dijual dan tak ada jejak untuk bisa mencarinya.
Lalu aku dan susanti menjalani hidup bak neraka hingga seseorang menawarkan surga dunia dengan pekerjaan mudah. Cukup menjadi kurir barang haram, aku dan susanti kembali hidup mewah tetapi itu tidak berlangsung lama, Susanti tertangkap sedangkan aku… Berakhir disini, menyusun skenario hidupku sendiri.
Penjara sangat menyeramkan bagiku sebab itu aku memilih untuk pura-pura gila agar terlepas dari jeratan hukum.
-….-
Rahmatia berbalik kemudian tersenyum kearahku. Aku ingin menjerit seperti ketika dia aku tinggalkan tetapi itu akan membuatnya menyadari kebohonganku.
Rahmatia menarikku untuk duduk dibawah pohon tepat di halaman rumah sakit jiwa tempatku diobati.
“Kau tidak usah membohongiku,” katanya memulai percakapan namun aku tidak ingin mwnghentikan sikapku, bersiul dan bermain seperti orang gila sesungguhnya.
“Aku sudah mengisi kelengkapan berkasmu, aku sudah disumpah. Tidak akan berbohong meski untuk orang yang aku cintai,” kata-kata Rahmatia membuatku tertegun dan melupakan bahwa aku sedang berakting menjadi orang gila.
“Jalani ifal.. Di depan masih terbuka lebar masa depan lebih baik,” katanya lirih dengan mata berkaca.
“Tidak untukku Rahmatia,” desahku.
“Aku bisa memberimu kehidupan seperti yang kau inginkan,” ucapnya lagi lalu beranjak dari duduknya.
“Aku tidak berhak untuk kau cintai,” kalimatku menghentikan langkahnya. “Aku tidak pantas untuk kau tunggu,” kataku lagi tertunduk dan terisak. Rahmatia berbalik dan tersenyum.
“Aku tahu itu, sayangnya cinta tak kenal logika,” jawabnya lalu berbalik meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Dicintai seperti itu membuatku siap menghadapi kejamnya jeruji besi.[]
Pone Syam, lahir 19 November 1988 di Kota Makasar. Perempuan yang punya rnama lengkap Rahmayunawati Syam, lulus dari SMU Negeri 1 Tamalate, saat ini tengah memfokuskan diri dalam menulis prosa. Sementara –katanya, sebelum berharap ada penerbit yang tertarik karya-karya tersebut ia simpan di blog pribadinya