Arsip Tag: Ferry Fansuri

Puisi Ferry Fansuri

Ulurkan Tanganmu

Mengapa tidak abadi seketika
Segala rasa cinta
Kesejukan yang menyertai cerita kita

Mengapa tidak abadi seketika
Hati tempat berlabuh
Tali yang mengikat janji-janji

Jangan pernah usai kita inginkan
Namun pil pahit yang harus kita telan
Inilah puisi jalan kita kasih
Segala prahara mendera
Segenap dusta menyerta

Tiba saatnya prahara membiru warnanya
Namun kita harus tetap waspada

Ulurkan tanganmu kasih, tetaplah ulurkan
Agar kita senantiasa dapat bergandangen
Berjalan bersama menuju satu tujuan
Sebuah jalan terang

 

Jalan di Tengah Samudera

Cakrawala yang kita tuju
Nyatanya masih jauh
Namun percayalah kepada angin
Yang senantiasa menuntun

Maka jagalah perahu ini
Jangan sampai pecah di tengah samudera
Dan tegakkan tonggak layar

Mengapa harus berkecil hati?
Sedangkan rembulan dan mentari
Masih tetap setia mengirimkan cahaya
Meskipun harus melewati jalan yang tak mudah
Di sela-sela mendung dan mega

Mestinya kita selalu terjaga
Menahan ombak dengan kekuatan jiwa raya
Mengingat kita harus bertahan
Maka jangan terhenti di tengah cerita
Jika disini masih ada jalan
Untuk menuju keabadian

 

Yang Terindah

Yang terindah kuberikan untukmu
Terlahir dalam dekapan jiwaku

Yang mencari….

Tertatihku coba berdiri
Terhempas ku disana menantimu
Mendambakan kau yang terindah
Persembahan dariku tercipta dalam

Alunan langkahku yang terhenti
Menatap jejakku sendiri
Tertinggal ku disana menantimu

Mendambakan dirimu
Semua yang tersisa
Hanya persembahanku yang terakhir

Kau yang terindah
Jangan biarkan diriku
Terhempas keraguan

 

Cinta

Cinta serupa dengan laut
Selalu ia terikat pada arus
Setiap kali ombaknya bertarung
Seperti tutur kata dalam hatimu

Sebelum mendapat bibir yang mengucapkannya
Angin datang dari jiwa
Air berpusar dan gelombang naik
Memukul hati kita yang telanjang

Dan menyelimutinya dengan kegelapan
Sebab keinginan begitu kuat
Untuk menangkap cahaya

Maka kesunyian pun pecah
Dan yang tersembunyi menjelma
Kau disampingku
Aku disampingmu
Kata-kata adalah jembatan
Waktu adalah jembatan
Tapi yang mempertemukan
Adalah kalbu yang saling memandang

 

Tak lekang oleh waktu

Telah lama kutunggu
Hadirmu disini
Namun hanya ruang semu
Yang nampak padaku
Meski sulit haarus kudapatkan

Sambutlah tangan ini terima janjiku
Rasakan cinta yang tulus
Lewat aliran darahmu
Menyatu seiring dalam kasih

Mari kita jaga sebentuk cinta putih yang telah terbina
Sepenuhnya terimalah pengertian adanya dua beda menyatu
Masilah panjang, jalan hidup merki ditempuh
Semoga tak lekang oleh waktu

Surabaya, Desember 2016
Yang tersisa dari yang terkasih


Biodata Penulis :

Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

 

[Cerpen]: Perempuan Jadi-jadian itu mati dibawah kasur

oleh: Ferry Fansuri

Kamar itu letaknya dilantai dua hotel murahan itu, ukuran tidaklah terlalu besar. Single bed room berhadapan layar lcd televisi saluran channel digital satelit, lampu sedikit remang-remang kekuningan. Sirikit telah lama berada di kamar itu tapi tak tahu tanggal dan bulan berapa sekarang, tak tahu kapan masuk dalam ruangan itu. Ia hanya terdiam terpaku disana, terkadang mendengar suara kebisingan lalu lintas Pattaya diluar jendela kamarnya.

Di waktu malam Sirikit tidak bisa tidur, matanya terus melek tak bisa dipejamkan sama sekali. Suara-suara itu itu terus mengganggu dari luar dan kamar sebelah, ia tidak bisa menutup telinga. Menusuk ke gendang telinga bagai tawon berseliweran kesana kemari bahkan membuat mata merah pedih.

Sirikit merasa sendirian tanpa teman, tidak ada yang memperhatikan tapi ia tidak bisa pulang. Ada sesuatu yang menahannya disana, tubuhnya seperti kaku tak bisa bergerak sama sekali.

Saat pintu kamar itu terbuka, seorang cleaning service tampak membawa kain pel, sapu dan bak berisi air. Suara Sirikit ingin berteriak tapi pita suara seperti tercekik tak mengeluarkan kata sekatapun. Cleaning service tetap melakukan aktivitasnya, memberesin selimut, menata bantal dan menyapu kotoran dilantai.Tak ketinggalan menggosok bekas kotoran-kotoran manusia melekat di toilet.

“Dasar penyewa tengik, buang hajat tak disiram” gerutu cleaning service terlihat gemulai dan jari lentik tapi terlihat ia adalah seorang pria. Dan ia tidak melihat Sirikit sama sekali disana atau tidak tampak.

Bau apek dan menyengat membuat hidung cleaning service mengendus-endus mencari asal bau. Tapi tak ia temukan, akhirnya ia menyemprot wangi-wangian ke seluruh ruangan.

“Jangan pergi, tolong aku” Sirikit memohon dengan sangat tapi kata-kata tersendak dengan ludah di tenggorokannya. Saat terakhir cleaning service menutup pintu, malam itu Sirikit kembali sendiri disana. Berteman sepi dan berselimut keheningan hingga menjelang esok

 

*********

 

Hari berganti hari, senja merayap ke malam.Sirikit hanya bisa diam dan didalam otaknya terus berputar mencari jalan keluar dari tempat sial ini. Tapi sia-sia, semua syarafnya tidak bisa ia kendalikan sama sekali. Sirikit tak bisa menggerakkan jari-jari tangan ataupun kakinya, semua lumpuh tapi inderanya masih berfungsi. Telinga dan mata masih normal, bisa mendengarkan dan bola mata bisa bergerak ke kanan-kiri seperti mencari sesuatu.

Sirikit memang tidak berdaya tapi dalam ruangan itu tapi bisa merasakan dan melihat semua peristiwa yang terjadi. Pagi itu ada sepasang berlain jenis, pria separuh baya kira beumur 50 an postur tambun, kepala sedikit beruban dan botak meranggas terlihat mengkilap. Datang bersamaan wanita berumur 30-an terlihat cantik dengan setelan kemeja bluse dan rok terusan.

“Khun(pak) kenapa Som dibawa kesini? Katanya kita akan hotel berbintang kok malah hotel murahan begini” sungutnya si wanita

“Nong(dik) jangan marah, disini lebih aman. Kalau dihotel berbintang itu nanti istriku tahu. Mata-matanya dimana-mana nong, disini saja kita juga bisa gituan” kekeh pria tambun hingga perut yang bergelambir naik turun. Sambil mencolek dagu wanita ini, pria merayu untuk meredakan kesewotannya.

“Ah khun nakal” berusaha beringsut menjauh jual mahal, sang pria semakin menggebu-gebu mendekap dan sang wanita tidak menolak.

“Khun kapan mau menceraikan istri, katanya janji menikah aku secepatnya”

“Sabar nong, pasti aku ceraikan tapi masih waktu yang pas tapi sekarang terpenting senang-senang dulu”

Pria ini langsung menindih tubuh asoy semok itu dan mencium bertubi-tubi melampiaskan syahwatnya. Pekikan dan legungan sang wanita membuat Sirikit mual karena telinga tidak bisa disumbat sama sekali. Sirikit merasakan gumulan dan desahan mereka ada diatas tubuhnya.

Mata dan telinga menyaksikan adegan demi adegan tersaji apik dimata Sirikit, sepertinya dipaksa menyaksikan tiap peristiwa yang terjadi di kamar itu.

Terkadang ini bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia telah mati atau menjadi arwah penasaran menghantui kamar itu? Tapi tak tahu jawaban, seberapa berat Sirikit mengingat terus terasa ada palu godam menghantam kepalanya. Sirikit merasa masih hidup, napas bisa ia rasakan dalam hembusan hidungnya. Pori-pori kulit juga merasakan dingin dan panas, gendang telinga bisa mendengarkan jelas bahkan detak jantungnya sendiri terasa dekat. Tapi mengapa tiap orang yang datang dikamar 313 itu tak melihatnya sama sekali.

Seperti juga pada suatu malam ada seorang pemuda datang, raut muka masam dan perawakan ceking yang semalam memandang sebuah foto. Matanya tampak sembab oleh linangan airmata, sesekali ia memukul dadanya, menampar wajahnya atau menjambak-jambak rambutnya sendiri.

“Nongsa, kenapa kau begitu jahat kepadaku? Kau lari dengan begundal itu…hah…kenapa Nongsa?” matanya melototi foto itu. Ia remas dan terus dibuang di ujung kamar tapi kemudian diambil lagi, dicium foto gadis manis berambut sebahu.

“Maafin aku Nongsa, tadi aku aku menyakiti kamu?” kata-kata memelas dan mulai tertawa sendiri kehilangan akal. Pemuda tak pernah keluar dari kamar itu, bergelut dengan kesedihan dan keputusasaan. Menenggak bir, menelan extacy atau menyuntikan beberapa morfin dilengan kanannya. Merusak dirinya sendiri dan menyesali kebodohan tak bisa mendapatkan gadis idamannya.

Selepas teler memasukan morfin ke dalam urat nadi, pemuda ini tergeletak di ranjang. Berhalusinasi bahwa ia terbang tinggi ke langit ke tujuh, Sirikit tak bisa berbuat apa-apa hanya melihat nasib pemuda ini. Keesok hari pemuda ini ditemukan overdosis tapi nyawa sempat tertolong di rumah sakit.

Sunyi kembali, Sirikit sendirian lagi. Sebenarnya orang-orang datang lalu lalang masuk ke kamar itu membuat dirinya sedikit terhibur. Banyak kelakuan unik dan agak konyol,  membuat Sirikit senyum-senyum sendiri.

Macam ada sepasang muda-mudi yang janjian untuk ketemu dikamar itu, sebelumnya belum pernah ketemu hanya bersua di medsos facebook. Si cewek menjanjikan akan memberikan tubuhnya, sang cowok mengiyakan bagaikan anjing yang ketemu tulang, menggonggong. Setengah telanjang dari tahap foreplay sampai menjelang intercourse, tiba-tiba..

“Stop, aku tidak mau melakukannya kalau kau tak pakai pengaman” cewek menghentikan gerilya si cowok untuk mengerayanginya.

“Sana cari dulu, baru aku mau” usir cewek itu dan cowok itu mengangguk iya keluar dari kamar

Berselang beberapa menit, cowok itu datang membawa kondom kebahagiaan buat pujaan tercintanya. Tapi yang ia dapati kamar kosong melompong, dompet, Iphone dan kunci matic raib bersama sang cewek kabur.

Mulut Sirikit mau tertawa terpingkal-pingkal, pita suaranya tak mau diajak kompromi tak suara sama sekali.

Banyak cerita dan peristiwa-peristiwa Sirikit saksikan tapi mereka tidak bisa melihat dia. Ia merasa nyata hadir di kamar itu, tapi tidak semua mengacukan Sirikit. Sempat ada duo suami istri bule ostrali backpacker menyewa kamar itu, saat mereka datang ke kamar sang istri mencium bau tak sedap. Terus mencari-cari asal bau tersebut, saat melongok ke bawah ranjang, mata bule itu memandangku tapi ia seperti tidak melihat aku.

“Tolong miss, help me” Sirikit mencoba berkomunikasi dengannya tapi sia-sia. Bule ostrali itu memanggil pemilik hotel murahan tersebut untuk komplain bahwa ada bau yang menyengat sekali. Sang owner dengan santai mengatakan semua bisa ditangani, bos memanggil anak buahnya untuk menyemprot pewangi lavender. Bau aneh menghilang, duo backpacker melepas lelah diatas ranjang.

Sirikit hanya menghela napas dalam kesendirian, kamar itu gelap kembali hanya sinar matahari kecil menerobos. Beberapa hari kamar 313 tidak ada yang menyewa, Sirikit tidak melihat pintu itu dibuka. Terasa lama sekali tidak orang masuk, apakah sedang ada renovasi atau low season turis ddi Pattaya lagi menurun.

Sempat sekilas pintu itu terbuka, Sirikit melihat bos hotel bercakap-cakap dengan pria berseragam, bersepatu boot, berkacamata hitam dan bertopi brigadir. Ada wajah pucat basi dari bos ketika pria itu menjelaskan sesuatu,..ah aku tak tah apa yang dibicarakan mereka. Sebelum pintu itu ditutup, sekelebatan sebuah pita yellow line melintang depan pintu kamar itu.

 

***********

Chiangrai Times. Polisi Thailand menahan 2 remaja terkait kasus pembunuhan terhadap seorang lady boy. Mayat korban dibunuh dan disembunyikan dibalik ranjang hotel Pattaya agar tidak ketahui. Berawal dari pertemuan korban di Facebook, mereka bertemu dikamar 313 hotel itu. Korban dicekik setelah menolak berhubungan intim, mayat membusuk selama 3 atau 4 hari tersimpan rapi dibalik tempat tidur tertumpuk kasur, baru ketahui jasad tersebut saat sepasang muda-mudi chek in mencium bau busuk dan meminta staff hotel untuk disemprotkan pengharum ruangan. Tanpa disadari, mereka telah tidur diatas mayat itu. (neo)

Pematang Siantar, Maret 2017

 

Biodata Penulis :
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Cerpen “pria dengan rasa jeruk” masuk antologi cerpen senja perahu litera (2017). Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional. Dalam waktu dekat menyiapkan buku antalogi cerpen dan puisi tunggal.
ferry_fansuri@yahoo.com
HP. 0818509233
Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 60181

 

Puisi Ferry Fansuri

Lama tanpaMu

Dalam sujudku ku mengingatMu

Terkadang hambamu ini lupa akan diriMu

Tapi sungguh dalam lubuk ini ada Kamu

Bergumul napsu kerumunan dunia

Berselimut selubung ilusi

Aku lama tanpaMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

Badai Dejavu

Gemuruh badai itu

Datang menerpaku

Menggerototi tulang

Merayapi sela-sela jiwa ini

 

Ombak itu menggulung

Menderu-deru

Menghantam tepian kalbu

Berdiam tak bergerak

 

Layaknya dejavu

Berulang bergilir

Mencabik-cabikku

Tapi disini aku tetap tegak

Tuk mengingatMu

 

Surabaya, Maret 2017

 

 

Rapuh

Kulihat seorang ayah renta tua

Duduk ditepian kasur termenung

Menyeka luka dikakinya

Tertunduk meratapi nasib

 

Kupandangi wanita yang kusebut Mama

Tergeletak lemah stroke menyerang

Tangan kiri terkulai tak berdaya

Teronggok dalam kursi rodanya

 

Kusaksikan pemuda itu pergi

Meradang meninggalkan luka

Tak kembali mengejar amarah

Kebencian itu ada di sorot matanya

 

Ah rumah ini begitu besar tapi kosong

Dan aku sendiri terkulai lelah

Memandang waktu terus tergerus habis

Tapi dalam doaku untukMu

Kau kuatkan jiwaku yang rapuh ini

 

Surabaya, April 2017

 

Bara Api Es

Subuh itu di kamar kos

Terbangun gundah

Ada detak berkecamuk di ulu hati ini

Kulinting batang rokok

Kuteguk arak itu

Kuhisap bong sabu

Kubiarkan melayang tanpa arah

Tapi tak semua itu menenangkanku

 

Langkahku terseok

Pundak terasa berat

Memikul dosa itu

Ingin kutusuk jantung kotor ini

Sayup-sayup alunan Alif…Lam..Min

Menghentikanku tuk bergejolak

 

PesanMu menyejukkanku

Bara Api itu menjadi es

Surabaya, April 2017

 

Labirin Rahim

Kerlingan mata sendu

Bibir merah merekah

Lenggok pinggul menggoda

Dua pualam itu menantang

 

Jeratan berahi selalu datang

Legungan berkeliaran diotak

Dentuman syahwat meletup

Menyebar urat nadi ini

 

Setiap kali kumasuki labirin rahim

Saat itu juga jatuh tertunduk

Sujud minta ampun padaMu

 

Surabaya, April 2017

 

Biodata Penulis :
> Ferry Fansuri kelahiran Surabaya adalah travel writer, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional
ferry_fansuri@yahoo.comHP. 0818509233 Alamat Simogunung Barat Tol 3 no.1B Surabaya 6018

[Cerpen] Bocah Penyihir dan Perempuan Bertatokan Kesedihan

oleh: Ferry Fansuri

Pagi itu di Akwan Ibom seorang bocah mengais sampah untuk menyambung hidupnya. Bocah sekecil itu bertelanjang mengaduk-aduk sisa-sisa makanan diujung jalan itu. Tubuhnya yang kurus kerontang dengan perut buncit penuh cacing, sekujur punggungnya penuh luka akan siksaan masyarakat Uyo-Nigeria Selatan. Mereka menyebut bocah itu pembawa sial, kerasukan atau lebih tepat penyihir menyebarkan teluh jahat.

Badannya hitam legam bermata sayu merah itu mengunyah dan mengerat daging busuk yang telah dikerubungi lalat-lalat kotor. Ia tak tahu apakah itu bersih atau menyehatkan buatnya, hanya insting layaknya binatang untuk menghapus lapar dan dahaga. Bocah ini tak punya pilihan, dilahirkan tapi tak inginkan dan dibuang oleh orang tuanya. Dianggap bukan bayi normal, lahir dengan abnormal cacat.

Tidak ada baju sehelai ditubuh bocah ini, terik matahari dan hujan tak dihiraukan sama sekali. Kaki-kaki kecil itu hanya berbalut kulit tanpa alas menjejakkan bumi bercampur lumpur. Ia tak tahu siapa bapak ibunya, lahir menangis sekarang berkeliaran dipasar itu tak dihiraukan sama sekali.

Sekitarnya ada yang peduli tapi takut untuk dekat bocah ini, cap penyihir akan membawa kesengsaraan dan kepedihan. Mereka hanya bisa membuang sisa-sisa makanan dan dilempar ke hadapan bocah itu. Tangannya meraih tak berpikir lama memasukkan kedalam mulut, air liur menetes disela-sela bibirnya.

Tak mempunyai tempat tinggal dan malam harinya  ia tertidur diujung pasar itu, paginya ia bangun tak ada rengekan anak kepada ibunya atau gelayutan manja seorang ayah. Bocah ini hanya duduk termenung terkadang mengigil kedinginan menahan kantuknya sambil mengucek-ngucek matanya penuh dengan kotoran belek. Mengaruk-garuk kepala yang penuh luka bercampur kutu dalam rambutnya

Biarpun anak sekecil itu tapi Tuhan masih sayang dia, tubuhnya terlihat ringkih ada kekuatan dalam tubuhnya menolak untuk mati. Tetap hidup seperti menantang orang-orang yang memandang atau mencaci makinya. Kalimat kotor yang disampaikan ke bocah ini tak dimengerti olehnya.

“Kau pembawa api ditanganmu, kau anah haram jadah..cuiih!” hujatan dan cibiran berbalut ludah diarahkan kepadanya.

Tapi ia tetap diam dan tak mengerti apa yang mereka perbuat pada dirinya dan apa salahnya kepada mereka.

Terkadang suatu malam yang sunyi, bocah ini duduk sendiri memandang bintang di langit. Dalam benaknya mengapa aku dilahirkan jika tidak diakui, bahkan ia tak tahu namanya sendiri dan tak sempat mengulum tetek ibunya sendiri. Tak bisa merasa kesenangan anak kecil sepertinya lainnya, bermain bola atau saling berkejaran mengejar matahari terbenam.

Hal yang ia bisa lakukan hanyalah bagaimana melawan rasa lapar dan haus yang berada di dalam perutnya. Cacing-cacing dalam perutnya terus berontak dan minta jatah pada tuannya yang masih kecil ini. Ia hanya tahu bertahan hidup, memungut makanan yang ditinggalkan pemiliknya dan minum air sisa dari botol yang terceceran di ujung jalan itu.

Suatu ketika bocah ini berusaha mendekati kerumunan anak seusianya yang sedang bermain bola. Sifat kekanak-kanaknya itu membuat mendekati mereka untuk ikut bermain, saat bola yang diperebutkan mental kearahnya dan kaki kecil tak kuasa menendangnya mengenali salah satu anak tersebut.

Sesaat itu terhenti keriuhan disana, mereka memandang bocah ini dengan tajam seakan sangat membencinya.

“Penyihir cilik…penyihir cilik…pergi kau! Tubuhnya tak diundang disini” teriak salah satu anak disana. Mereka kompak menghujat bocah ini, melempari ia dengan batu dan mengenai kepala. Lemparan-lemparan itu membuat kening mengucur darah, tidak kepala bahkan sekujur tubuh tapi bocah ini tak pernah sekalipun menangis. Orang sekelilingan hanya diam dan tidak berbuat apapun karena hanya mengiyakan perbuatan anak-anak mereka.

Malam ini bocah penyihir ini berselimut dingin dengan sekujur tubuh penuh luka tapi ajaib luka cepat mengering. Masyarakat Uyo mengira bocah sial itu menjadi bangkai mati dan lenyap kesialan di negeri itu. Tapi paginya anak ini tetap hidup dan mengais-gais sampah dekat pasar itu lagi dan mengerat daging busuk kembali. Tuhan memang sayang sama anak satu ini, ada rencana lain buatnya.

Sudah ratusan anak menjadi korban tuduhan penyihir yang menyisahkan pedih jika melihatnya. Tuduhan tidak masuk akal untuk anak kelainan fisik, indigo atau terlihat aneh tidak seperti anak umumnya. Sekte gereja orthodox setempat mengklaim anak-anak ini kerasukan setan dan harus diusir, penguasa tidak berbuat apapun karena kemiskinan menguasai semua lini kehidupan Akwan Ibom.

Malam itu seperti malam lainnya, bocah ini duduk sendirian memandang langit matanya dan disampingnya ada seekor anak anjing yang tengil kotor disampingnya. Tanganya mengelus-mengelus kepala anjing ini

“Kau kesepian juga, akupun demikian” ujarnya biarpun anjing tak tahu apa yang dikatakan dan hanya menjulur-julurkan lidah.

“Andai dunia ini kiamat dan tak ada satuppun orang hidup. Maukah kau jadi temanku”

“Orang-orang membenciku, apa kau juga membenciku?”

“Guuuk…guukkk” timpal anjing tapi tak tahu apakah jawaban iya atau tidak sambil mengibas-gibaskan ekornya.

Percakapan bocah ini dan anjing jadi penghias mimpi malam ini yang dingin menusuk tulang

 

**************

Berita tentang bocah penyihir ini menjadi viral di medsos dan didengar kantor berita lokal dan luar. Mereka berduyun-duyun turun ke Akram Ibom untuk mendokumentasikan bocah ini, semua awak kamera menyorotnya jepretan kilat kamera bersambungan menyilaukan mata. Pewarta ini diingatkan masyarakat setempat agar meliput dari kejauhan, polisi juga memasang garis pembatas agar tidak terlalu mendekat kuatir ada jurnalis asing menyentuh bocah ini menular dan membuat citra negeri jelek dimata dunia luar.

Tapi bocah ini tak terlalu peduli akan media yang datang, semua aktivitas diiikuti terus dari ia bangun, berak, kencing sampai ngupil semua tak luput dari sorotan mata kamera media. Esoknya koran pagi terbit sore lokal muncul foto-foto bocah ini, tivi-tivi asing mengulas jadi headline “Bocah Penyihir Akram Ibom” bahkan dilakukan penelitian para peneliti sampai talkshow.

Berita bocah ini menaikkan rating televisi dan oplah koran, ini membuat para pembaca dari luar negeri berdatangan. Turis-turis berduyun-duyun ke Uyo melihat bocah ajaib, datangnya wisatawan ini membawa berkah masyarakat sekitar. Geliat ekonomi mulai naik, devisa uang dollar masuk. Banyak masyarakat sekitar membuka warung dadakan, suvenir dibuar, kaos disablon atau gantungan kunci dibuat.

Selama ini kemiskinan jadi momok sekarang tidak lagi berkat bocah ini, bocah sial ini membawa peruntungan tapi masyarakat Uyo tetap mengganggap hanya sebagai binatang yang ditonton menghasilkan uang bagi mereka

Layak hewandi kebun binatang, turis-turis itu melihat dari kejauhan dengan penjagaan polisi ketat. Bocah ini tak peduli, ia tampak duduk diatas tanah yang kotor berlumpur. Banyak makanan dan minuman dilemparkan ke bocah ini, layaknya monyet mencari pisangnya bocah ini memungutnya. Tepuk riuh kerumanan bergelegar mirip suporter bola saat tim kesayangan menceploskan gol ke gawang lawan.

Berminggu-minggu sampai berbulan pertunjukukan bocah penyihir ini digelar bahkan dikarciskan. Ekonomi penduduk setempat beranjak dari taraf rendah ke menengah atas, para istri bisa membeli perhiasan gelang atau kalung emas yang bisa dipamerkan atau para bapak bisa membeli motor dan para anak memakai baju bagus. Semua itu karena pertunjukkan konyol bocah itu, memang ironis pemandangan tersebut.

Mata sayu bocah ini suatu saat menangkap hal menarik dalam kerumunan itu, sepasang mata itu tampak indah. Mata kiri dengan bola mata biru sedangkan sebelah kanan perpupil hijau. Tapi ada pancaran kesedihan, tapi seperti ada tetes mata mengalir dibawah kelopak mata….ah bocah ini hanya melihat sekilas. Bocah melanjutkan aktivitasnya mengejar dan bermain dengan sabahat anjingnya.

Setelah berbulan-bulan para turis dan awak media luar meliput fenomena ini terjadi kebosanan. Redaktur media menarik crew untuk meliput headline lainnya yang lebih bombastis, turis juga bosan tidak ada yang dilihat dari Uyo selain bocah ini. Sedikit demi sedikit pengunjung berkurang, warung-warung tutup bertumbangan, masyarakat sekitar kehilangan pekerjaan mata pencaharian. Para ibu menggadaikan perhiasan, motor para laki-laki ditarik dealer karena menunggak angsuran. Pada akhirnya kemiskinan kembali ke Akram Ibom, ke awal sekali lagi.

Kejadian ini membuat kemarahan, orang-orang disana menyalahkan bocah penyihir itu kembali.

“Ini gara-gara bocah laknat, kita miskin lagi”

“Pembawa sial !”

“Tukang sihir !”

“Kita bunuh saja !”

“Cincang !”

“Bakar hidup-hidup!”

Semua caci maki dan hinaan sahut menyahut, malam itu mereka membuat rencana busuk

 

******************

Kesunyingan tampak pagi hari itu, deru debu berkibar terkena angin. Kota itu tampak sepi tapi diujung gang tersebut bermunculan wajah-wajah penuh ketegangan dan kebencian, hawa membunuh tersirat disana. Tidak hanya laki, perempuan dan anak kecil di tangan memegang golok, pisau, rantai ataupun balok kayu. Tampak beringas terlihat seperti dari mata mereka memerah.

“Bunuh anak itu!”

“Habisi !”

“Potong-potong, kasih daging buat makanan anjing!1”

Teriakan-teriakan itu membahana di seantero kota, mereka mencari anak itu tapi kebetulan tak tampak batang hidungnya. Mereka terus mencari dan mencari dengan tujuan menghabisi sang pembawa sial kota mereka. Amarah memucak diubun-ubun dan iblis sudah merasuki mereka tapi tak ketemukan buat pelampisannya.

Terlihat bocah itu bermain dengan anjing tengiknya dipinggiran kali kota ini, kerumunan nan beringas langsung merangsek

“Itu dia, gayang! “

“Jangan sampai hilang”

“Bunuh!

Bocah tak tak tahu kenapa orang-orang ini berlari-lari kearahnya dengan membawa beda-benda tumpul itu. Maka terjadi pembantaian sore hari itu, berbagai pukulan, tendangan, sayatan pisau dan sodokan balok kayu menghantam bocah ini. Setelah puas, mereka menginjak-injak ini di atas tanah. Tubuh itu bersimbah darah tergeletak disamping anjingnya yang lebih dulu dicincang.

Merasa bocah ini telah menghembuskan napas terakhir, jasad dibuang di tumpukan sampah berharap membusuk dan dikerat anjing liar.

Tapi mereka begitu kaget, bahwa esok bocah ini masih berdiri tegak mengais sampah kembali. Betapa geram masyarakat Uyo bahwa buruan tidak mati seperti binatang.

Hajar lagi!

Hidup kembali

Hantam sanan sini!

Tegak berdiri

Itu terjadi berulang-ulang hingga pembantaian ke-13 mereka membiarkan bocah ini di tengah lampangan hingga malam. Kali ini mereka percaya bahwa setan dalam tubuh bocah sudah lenyap dan mereka kembali ke rumah mereka masing-masing. Dan tak sadar ada mata yang memperhatikan pambantaian mereka yang miris.

Tengah malam yang dingin jasad bocah tergeletak sendiri, ada seekor anjing mendekati mencoba menjilat-jilat muka. Tak dikira mata bocah ini perlahan membuka, anjing sepertinya kaget hingga lari terkaing-kaing. Bocah ini merangkak dari kematiannya lagi.

“Aku sudah lelah, kenapa tak kau matikan aku saja” wajahnya tengadah keatas langit penuh dengan bintang.

“Aku tak tahu apa salahku ? kenapa mereka memukuliku?

“Andai kau tahu jawabannya?”

Pekat malam itu ada langkah kecil mendekati ia, langkah itu berhenti didepannya.

“Kau ..kau seperti tidak asing bagiku. Mata itu..mata itu begitu indah”

Seorang perempuan mendekati bocah ini, seluruh badannya berkulit putih berajah tato dan rambut putih pirang bak emas berkilau di gelapnya malam itu.

Perempuan ini menyodorkan botol aqua ke mulut bocah sambil berjongkok

“Kau begitu cantik, matamu berbinar”

Mata itu layaknya pelangi, memancarkan harapan dan kesedihan. Kulihat airmata itu meleleh dari matamu tapi itu bukan airmata itu sebuah tato airmata. Kenapa kau tato matamu? Apakah kau membenci kebahagian? Kenapa kau menolongku tidak seperti lainnya menghujatku? …ah aku tak tahu jawabannya.

Kau ulurkan tangamu, kau selimuti aku dengan selimut dan kau gendong aku. Begitu hangat.

Kau ajak aku pergi dari kota sialan ini, pergi jauh dari kota ini. Mereka pasti senang bahwa aku sudah tidak ada, menghilang tanpa bekas dan tidak memberikan kesialan lagi kota ini.

Dalam dekapanmu kurasakan degup jantungmu, lama tak kurasakan ini.

Karena setelah ini dan esok kau kupanggil MAMA.

 

Surabaya, Februari 2017

 

Negeri Pasir Seribu Suluk

  Catatan perjalanan Ferry Fansuri

Jejakku sekarang menuju kota Pasir Pengaraian, tak banyak tahu tentang kota satu ini. Kota seribu suluk wilayah Riau propinsi Rokan Hulu. Start dari jalan Arengka sekitar jam 8 pagi menuju terminal bus Panam. Tapi sebelumnya dapat info bahwa transportasi ke pasir pengaraian harus dilalui angkutan L300, ini minibus sejuta umat khusus di pulau Andalas.

 

Pas dipinggir jalan celingak-cilinguk sampai membopong tas carrier merah buluk menunggu ojek samperin, masih jam 8 pagi kulihat jam tanganku. Memang di kota Pekanbaru masih opang (ojek pangkalan) tapi unik jika kita berdiri aja di pinggir jalan pasti ada kereta(motor) pasti samperin nawarin ojek. Setengah jam nunggu tak kunjung muncul si ojek dadakan. Pas kebetulan tempat berdiri berdekatan dengan pool Riau Taxi en pas juga ada 1 ekor taxi keluar, daripada lama-lama nunggu ku stop tuh taxi.

 

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966a8820253ae8&attid=0.5&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ9AG6prnUd-D_hR4ixVDKjKWqdGn0z9654rcI3cznbUQ6e_HHWGwm_70Dm_plj13S2Lzr8imTUwz5DfujUsXGhnf3MIkRaj9X9FSQy7oSqlZCAJcY45-OtMdlS_od4cqUZJd9ah-oc6n9ukWmABbSUJhAjT5EyvjNZzs5zrWsDHS3CZvd2Q0lmPUgjXdcuH0BT0VYVkF_uOPumuV_--0hU7JzWf-0ZR8ra6LigSFkTVxK1hsNC0tLh0n9CQk34q7pLMAVKJzUTHXpWJWemVYXq2gTFRXj6BJTYTyyrTQT2XrcqUDbWicwGiI6cUVPUp5cBYmRZpyYYgIZ3gPf9pnIxkwRH81wZKLC8Ut1d62NBcy_PCZcqIwHC2Qk631YaFJ7_du0jC55sutYXIGZPV8bR7ZE2SBBKQNxzg0H0Pm5BqEe6vgnRz_DR9rIKvydyky_B3Cq8w3GQZd-kEurKMkb8YWQr9uVKHcPBWcX9y-YjCeSKccqzSHzpyF77f_-iiWV0655YJ2vIgnq3DOxooobl7ZJco1_7dlcF5-v0n09RMRo_ibU52BzfXPmm7DZ1PVSMOMHfjxiaseWQwKJfbDOzqkYpYDKuOEaIB_mFyaOlEr7o27az8WDWnYyE

Memang taxi agak mahal sekitar 60 ribu itupun ditentukan argometer, kalo ojek bias nego 40 ribu. Cuman 15 menit aja nyampai di simpang empat Panam jalan H.Soebrantas, disini terminal bayangan L300. Keluar dari Taxi, sudah diserbu calo yang mencoba mengais rejeki pagi hari. Berderet minibus Mitsubishi menunggu tujuan Bukittinggi, Padang, Bangkinang atau kota diperbatasan Riau dan Sumatera Barat melalui jalan kelok 9 yang terkenal itu.

Sebenarnya banyak alternatif transport ke pasir pangaraian seperti ke kota lainnya macam travel “Tapi untuk ke pasir belum ada yang resmi bang untuk travel, kita bisa jemput juga” ujar Daniel, salah satu calo terminal bayangan. Pemberangkatan cuman 2 jadwal pagi dan sore, ini dikarenakan kuantitas menuju pasir tidak sebanyak kota lainnya. Wajar karena Pasir dibilang kota perlintasan menuju Medan, sering dilalui Bus antar propinsi macam ALS.

Jam mendekati 9 pagi, L300 start dari simpang empat Panam dengan jarak 180 km atau 4 jam perjalanan. Melewati kota terbesar Bangkinang sebagai rute menuju pasir pangaraian, disini juga si sopir jemput bola angkut penumpang. Tarif normal L300 ini 30 ribu tapi pas kena calo 50 ribu, bagi-bagi rejeki deh pagi-pagi ceritanya. Kalo mau cepat naik pesawat, tapi mahal guys. Tak banyak tahu bahwa kota Pasir Pengaraian ada bandara namanya Tuanku Tambusai, pakai pesawat kecil baling-baling bambu 12 seat bisanya Susi Air menyediakan penerbangan pagi. Siap-siap sedia 280 ribu sekali terbang dari bandara Sultan Syarif Qasim, itupun dalam sepekan hanya 1 kali penerbangan. Kalo ente jurangan sawit bolehlah, naik pesawat pulang pergi.

 

Sepanjang perjalanan menuju pasir, kanan-kiri banyak budidaya kelapa sawit dan memang daerah Riau terkenal akan sawitnya. Tak aneh Indofood Group juga punya berhektar-hektar lahan sawit di bumi melayu ini. Jalanan juga dibilang naik-turun sedikit terjal, setelah 2 jam diombang-ambing per keras L300 berhenti di Rumah makan H.Nurman Ardai daerah Saran Kabun terkenal dengan Pesantren Darussalam-nya. Sejenak istirahat melepas lelah atau menunggu penumpang lainnya makan, seperti kebanyakan angkutan dimana aja pasti ada tempat ngetem. Rumah makan Padang ini juga dijadikan tempat ngetem L300, ini hubungan simbiosis mutualis antara pemilik rumah makan dan sopir. Owner diuntungkan datangnya pembeli dengan kompensasi menyediakan makanan gratis buat sang sopir.

Tepat jam 12 siang kita go again , melewati dua daerah ramai Tandun dan Ujungbatu sebelum tiba di pasir. Akhirnya jam 2 siang tiba memasuki kota, sesuai planku untuk diturunkan di Islamic Center Masjid. Karena browsing-broswing, Islamic center salah satu icon wisata Pasir Pengaraian. Terletak di jantung kota depan kantor pemerintahan bersebelahan lapangan Dataran Tinggi Rantau Baih dan hotel Sapadia.

 

Tapi eits ane kagak nginap di Sapadia, karena backpacker budget jadi nyari alternatif. Sebelumnya sudah nanya ke mbah google tentang hotel di Pasir Pengarian, memang ada beberapa tapi pas cek lokasi ternyata tidak ada. Berjalan menyusuri jalan Tuanku Tambusai berharap kelihatan penginapan, harapan dikabulkan pas ada. Penginapan Andisna Motor yang dibundling bengkel jadi tempat beristirahat sementara, memang bukan hotel bintang 3 tapi cukuplah. Cuman 200 ribu dalam TV channel berbayar en kipas angin, tapi kamar mandi luar. Taruh tas sebentar en mandi, istirahat sejenak melepas penat. Ada yang rekomendasi nginap di Ujung Batu, kota sebelum Pasir Pengaraian. Lebih murah dan beragam, lebih ramai bahkan ada rumah sakit Awal Bros.

 

Menjelang maghrib waktunya jelajah kota Pasir Pengaraian, kotanya sih tidak begitu ramai karena perlintasan. Ciri khas kota-kota kecil di Riau, uniknya ada betor (becak motor) yang biasanya ada di Medan sekitarnya berseliweran. Tujuan utama ke Islamic Center, icon Pasir Pengaraian terlihat megah. Disini dibuat satu kompleks dengan menara 99, jadi dipusatkan pendidikan dan agama Islam. Setelah mencicipi karpet masjid untuk Ashar, kesempatan berkeliling kompleks Islamic Center.

 

Menyusuri lorong-lorong yang mengitari masjid terasa sejuk. Penampakan sekilas seperti Taj Mahal di India terdapat kolam ditengah diapit 4 menara. Uniknya lagi tempat masuk jamaah wanita dan pria diberi tanda berbeda. Seperti untuk jamaah pria, pintu diatas terdapat tulisan Abu Bakar As Shidiq-Khalifah pertama sedangkan Pintu jamaah wanita bertuliskan Siti Khadijah-istri Nabi Muhammad.Jadi nggak salah masuk ruangan sholatnya, ane juga pas bingung banyak pintu mana yang buat jamaah pria. Biar nggak malu salah masuk, tiap pintu Islamic Center sesuai ruangannya masing-masing.

 

Setelah lelah mengelilingi masjid, dilanjutkan diluar masjid. Bagian depan Islamic Center ini ada tugu Ratik Togak. Ini termasuk salah icon terkenal kota Pasir Pengaraian, sebuah tugu perlambangan ekstensi Islam di sini, lima tonggak melambang 5 rukun Islam tersambung dengan tasbih. Memang Islam di Pasir sangat kuat, sebutan seribu suluk(tempat ngaji) disematkan. Selain pondasi religi, kota ini konon kaya hasil buminya macam emas. Dulu sungai Rokan Kanan atau Batang Buluh mengandung emas, banyak masyarakat sekitar melakukan tambang dengan teknik pengaraian(ayakan). Pasir disungai diayak sampai menghasilkan butir emas, itu asal nama Pasir Pengaraian diambil.

Kali ini ane cuman wisata kota aja untuk salam kenal dulu, sebenarnya Pasir pengaraian banyak wisata tempat yang wajib dikunjungi seperti obyek wisata air panas Hapanasan, Pawan, air terjun Aek Martua dan Danau Cipogas . Kalo tak suka main air bisa jelajah alam Taman Nasional Bukit Suligi dan Goa Huta Sikafir. Banyak obyek-obyek tersembunyi yang masih perawan perlu dijelajahi. Next Trip Next Rute. fey []

 

Biodata penulis:
Ferry Fansuri adalah penulis, fotografer dan entreprenur lulusan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs. Eks redaktur tabloid Ototrend Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance untuk berbagai media Nasional

Pesona Melayu di Istana Matahari

Oleh: Ferry Fansuri

Saat landing di Bandara Sultan Syarif Kasim II International Airpot, teringatku akan sejarah kesultanan Siak Indra Pura. Sosok Pahlawan Nasional dan  Riau yang melawan penjajah Belanda disahkan BJ Habibie pada 1998. Jejak history ada di istana Siak dan pusat kerajaan cikal bakal kot Pekanbaru yang terletak di kabupaten Siak. Menuju kesana bisa memakai mobil atau travel kesana, menempuh 202 km dengan perjalanan 2 jam 30 menit arus normal. Ketika kulewati jembatan megah Tengku Agung Sultanah Latifah diambil dari nama permasuri Sultan Syarif Kasim II, pertanda ucapan selamata datang dari Siak Indrapura telah dekat

        
Jembatan Tengku Agung Sultanah Latifah

Setibaku di Istana Siak yang menghadap sungai Siak ini, terlintas gaya bangunan panduan Melayu, Arab dan Eropa sama dengan arsiktektur Istana Maimun yang ada Medan. Istana Siak ini juga disebut Istana Matahari atau Asserayah Hasyimiah konon membutuhkan 3 tahun dalam pembangunannya (1889-1893). Dirancang arsiktektur Jerman pada masa Sultan Syarif Hasyim Abdul Jalil Syaifuddin atau Sultan Siak XI.

Gerbang kebesaran kesultanan Siak

Begitu megah dan mewah Istana Siak, memasuki gerbang hingga pintu utama terlihat kebesaran kesultanan Siak dijamannya. Pada bagian utama dalamnya kita dapati balairung tempat pertemuan para tamu, dibangun dengan 2 lantai. Istana Siak yang berada jalan Sultan Syarif Kasim ini mempunyai 6 pilar menopang dan dicat warna kuning gading.

Didalamnya terdiri dari 4 bangunan utama terdiri dari Istana  Siak, Lima, Padjang dan Baroe. Jika kita memasuki ruangan utama, terlihat ruang tunggu untuk tamu-tamu kerajaan dibagi menjadi 2 bagian untuk laki-laki dan perempuan.

https://mail-attachment.googleusercontent.com/attachment/u/0/?view=att&th=15966b343fac5103&attid=0.15&disp=inline&safe=1&zw&saddbat=ANGjdJ8WuOnwkSkx3DKnf615sV4TfguGmKAIT9opfW7MYRsQO8zWm3zYni6VaWqwg2aAo7ObdomnZ6Eg1HEMIm-pev6p9eEExqNk0va-D_2gI9hOaBZcCciRuMuha9F5hJS_sEEsbrSuM61IHgAdP1Fb_MsjBy1JM1zfYqwu3NaeSLgxHTiwRh2f8w4b23e4AomwqM0abQdoAaHVlMSUfuDHVudjIrNBiYYigT4OBtLacjVBXUMBub_dhpXts9QSDhW6sIqettMkB-xsQ49A8Sriw6ma8MwCZ4QD2w0-wAjH8Oo0rwuHkE6cFqfvV9nXExkLcCd56rMxt3sCb4HRg3pjCCFtJJaE4dxZVWojRqt1Lnxc-yiebeQFw8FWLFD4KNABxxhpNPyUE0GPJIOnACSyOmJaHe9ZQXa_1DI-4heyC0yjyehJ5gBmhsCYi7_WaaykEGMvHNk46uCJTWQSFLskpZ6Wo0QBydepiGWyLE2rw4ItOpO6PmNh8hAKie1pSscAp6j3civixcZTc1dxBQgnac2SgZNcsKUyBzT1uDZ2xw1rIW7vedYbKJrdIilzfsNELysNJ5hnwuU5ELkUKCW4-XkUj12UlAnEqiJADoGHy-BMAZ_RUSKLNnzIuQ4

Foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri

 

Saat memasuki dalam Istana Siak, kita seperti diajak nostalgia akan sejarah didalamnya. Aku jumpai foto-foto Sultan Kasim II dengan sang permaisuri, dan juga foto proklamator Republik ini Soekarno. Mungkin tak banyak tahu bahwa Sultan Kasim II ini begitu cinta tanah air ini dan getol melawan penjajah Belanda bahkan rela menyerahkan 13 juta Gulden setara 1,074 trilyun rupiah dijamanya kepada Soekarno sebagai mahar untuk bergabung dengan Indonesia. “Biarpun Soekarno belum pernah berkunjung disini” jelas salah satu staff “kuncen” istana Siak ini. Siak jadi kerajaan kedua yang memastikan bergabung dengan Indonesia setelah Jogja.

  Situs cagar Budaya Gudang Mesiu

Berkeliling dalam selayar istana Siak begitu banyak ornamen dan peninggalan dari kesultanan Siak. Paling unik koleksi meriam dari abad 18, saat kuperhatikan ada sebuah meriam paling besar daripada lainnya. Dikenal sebagai meriam buntung berdiameter 21 cm, ada cerita unik dibaliknya. Kondisi meriam masih sangat baik tapi jika diperhatikan terbelah menjadi dua bagian. Meriam buntung sempat jadi incaran pencuri untuk dijual ke kolektor, tahun 1960 konon pernah dicuri dan dipotong untuk dibawa moncong saja ke Singapura tapi sial kapal yang mengangkut moncong meriam itu tenggelam di teluk Salak. Ajaibnya kembali lagi ke pasangannya.

  Gramafon buatan Jerman
Tatanan dan arsiktektur modern begitu kental didalamnya, ini tak lepas didikan sang ayah Sultan Siak X1 kepada sultan Syarif Kasim II. Ini bisa terlihat dari peninggalan Gramafon buatan Jerman atau lebih dikenal Komet ini. Sang Sultan begitu tergila-gila sama Beethoven komponis musik klasik, sang Sultan bisa menikmati sorenya dengan mendengarkan simponi kelimada dan sembilan milik Beethoven dari piringan hitam. Menikmati sampai akhir hayat sampai mangkat tahun 1968 tanpa keturunan dan begitu juga berakhir garis keturunan kesultanan Siak dan takdirnya melebur dengan Indonesia.

  
Kelenteng Hock Siu Kiong

Istana Siak terletak di pinggiran sungai Siak yang strategis, sempat jadi rebutan kolonias Belanda dan kesultanan Johor. Kusempatkan berjalan disekitar istana Siak, banyak bangunan bertingkat 2 bercatkan merah dan terlihat dari indentitas ini Pecinan Siak atau lebih dikenal kawasan Merah. Hampir 200 tahun lebih komunitas Cina pendatang di Siak, ini ditandai berdirinya kelenteng Hock Siu Kiong bersebelahan dengan Masjid Syahabuddin. Selain keleteng ini, ada juga gereja yang dibangun tahun 1936 dan sekarang dikelola HKBP. Sultan Siak XII memang sejak lama menghormati keanekaragaman agama di wilayahnya, ini terbukti jejak-jejak kerukunan dimasa lampau dan ini sepertinya berbanding terbalik dengan suasana intregasi nasional yang saling kecam di media sosial saat ini.

 


Biodata Penulis :
 
Ferry Fansuri kelahiran Surabaya, 23 Maret 1980 adalah penulis, fotografer dan entreprenur luluasan Fakultas Sastra jurusan Ilmu Sejarah Universitas Airlangga (UNAIR) Surabaya. Pernah bergabung dalam teater Gapus-Unair dan ikut dalam pendirian majalah kampus Situs dan cerpen pertamanya “Roman Picisan” (2000) termuat. Mantan redaktur tabloid Ototrend (2001-2013) Jawa Pos Group. Sekarang menulis freelance dan tulisannya tersebar di berbagai media Nasional

[Cerpen] Bangkai Pesawat Yang Menimpa Kami

Oleh Ferry Fansuri

Lama tak kulihat Kamidi atau kadang dipanggil si Kami, dia tampak berbeda setelah 5 tahun yang ditinggal istri dan anaknya. Istrinya meninggal bersama jabang bayinya, setelah itu Kamidi pergi dari kampung ini. Konon dia menjadi TKW di negara tetangga Malaysia atau menyepi di ujung Sumatra. Tapi sekarang dia kembali ke kampung dengan janggut panjang dan tubuh yang kurus kering, matanya sayu sama seperti kulihat dia dulu. Hampa kosong tanpa harapan

Dia kembali ke rumahnya dulu, sebuah rumah yang lumayan besar tapi sekarang tak terawat. Dulu keluarga Kamidi cukup terpandang dikampung ini, semenjak dia pergi semua hilang. Saat sore kulihat dia, membangun sebuah ruangan kecil suluk (surau) menghadap barat dari kayu.

Tiap kali kujumpai, Kamidi hanya berdiam didalam ruangan kayu itu. Bertafakur dan bersujud, melantunkan doa-doa buat yang Kuasa. Mulai pagi sampai sore bahkan menjelang malam tak beranjak dari suluk itu. Rumahnya sendiri tak terawat, cat terkelupas oleh debu dan hujan. Listrik pun tidak menerangi lagi karena bertahun-tahun diputus pusat karena menunggak lama bertahun-tahun. Sepertinya si Kami juga tidak perduli akan hal tersebut, tiap malam hanya lampu templok kecil yang menerangi bilik suluk kecilnya itu.

Si Kami juga tidak melakukan pekerjaan apapun selain di suluknya itu, sesekali dia ke sumur belakang rumahnya untuk membersihkan diri. Memang terlihat manual karena pompa air tidak lagi dialiri listrik sama sekali dan juga air pam sudah tidak mengalir, Si Kami harus mengambil air secara mengangsuh memakai timba dengan kerekan tua penuh dengan karat.

Untuk makan sehari-hari, Si Kami juga seperti tidak terlalu perduli. Pernah kulihat sekali-kali dia memungut ranting dahan kering hutan dekat kampung ini. Dibawalah ranting tersebut dengan dipanggul diatas punggung yang kurus kering kerontang itu. Setibanya dirumahnya, Si Kami membuat tungku dari batu dan api dari bahan ranting itu. Diatas diletakkan panci yang terlihat tak karuan bentuknya mungkin bekas didalam rumahnya dulu. Air mendidih didalamnya dan si Kami mencelupkan mie instan. Setelah jadi, mie instan itu dilahap langsung dari pancinya dan tanpa melihat kanan kirinya. Darimana pula uang yang peroleh karena selama ini dia tidak bekerja sama sekali, mungkin dari tabungan saat merantau dulu. Kamidi seperti terasing didalam kampungnya sendiri.

**********************************

“Bang, nih kasih ke Kamidi” tiba-tiba sore itu Karni istriku menyodorkan bungkusan ke aku. Kubuka bungkusan itu, ikan selais asap dalam rantang yang menggugah selera. “ Ini buat si Kami dik?”sahutku. “Iya bang, sesekali ajak ngobrol dia sambil anter nih makanan. Khan dulu dia teman abang dari kecil” jawab istriku. Memang Kamidi adalah teman akrab dari kecil, tapi setelah musibah itu dia terasa berbeda dan hidupnya sepi.

Sambil kujinjing bungkusan tersebut, melangkah aku ke rumah Kamidi. Kulihat dia sedang duduk diberanda pekarangannya sambil membersihkan ranting-ranting yang biasa diambil dari hutan. Kehadiranku cuman dipandangnya dengan mata sayu itu “Hei No, tumben kesini” sambut Kamidi. “Ah nggak juga Di, ini ada titipan istriku buat kamu” sambil kusodorkan bungkusan tersebut “Tak usah repotlah sampai bawa makanan segala” nyinyirnya. Kuletakkan pantatku pada beranda pekarangan di sampingnya, Kamidi hanya meminggirkan bungkusan sambil meneruskan pekerjaannya.

“Kabarmu bagaimana Di?” aku membuka omongan lebih dulu untuk basa-basi. “Oh baik, seperti kau lihat” sahutnya tanpa menoleh. Ku tengok  sekeliling rumah ini, begitu kotor tak terawat tapi si Kamidi ini betah juga..ah..Apa pedulinya dia..lha wong ini rumahnya sendiri.

“Betah juga kau disini Di?” tanyaku kembali “Yah ini khan rumahku ya pasti betahlah” sahutnya  kembali. Kulihat kaki dan tangannya yang kurus terbalut kulit itu cekatan mempisahkan ranting-ranting kering untuk dibuat bahan tungku apinya. “Sudah lama seperti kita tak ketemu dan bicara Di” buka omongan lagi “Iya 5 tahun lebih sepertinya” jawabnya lirih.

Ada pertanyaan-pertanyaan didalam hati ini yang ingin aku tanyakan ke Kamidi tapi tertahan. Dan akhirnya “Kamu nggak mau nikah lagi Di?” tanyaku dengan nada sedikit rendah. Kamidi sepertinya terdiam sejenak dan tidak melanjutkan pekerjaannya kembali. Sepertinya terganggu akan ucapanku tadi, terus dia bergeser ke sebelahku sambil memandangku nyinyir.

“Ketahui No, semua itu semu yang ada kehidupan ini dan tidak ada abadi” sergapnya “Harta, Wanita dan Anak hanyalah ilusi dan titipan sementara. Pernah aku miliki tapi tidak abadi” tambahnya “Jadi apa yang aku lakukan saat ini hanya menunggu kuasa-Nya untuk memanggil pulang. Cuman ini yang bisa aku lakukan, menunggu ajal sambil memuja Nya” akhir katanya.

Aku hanya terdiam mendengar ucapannya, tak sedikitpun bergerak dan membantah perkataan. Mataku hanya melihat Kamidi perlahan sekelebat masuk ke suluk-nya kembali.

 

*******************************

 

Suatu masa kulihat Kamidi berjalan tenang di titian jembatan, memakai kain putih diselempang pada bahunya. Wajahnya terlihat berseri-seri, seperti saatnya telah tiba di “Hari Penghakiman”. Kamidi terlihat tersenyum nyinyir ke arah seperti dialah yang benar dan menang. Dengan gagahnya dia melangkah melewati titian jembatan, semua orang terlihat mengatri tapi Kamidi melenggang tanpa halangan.

Titian jembatan itu mengarah ke dua pintu yang tampak di jaga dua makhluk bertubuh besar bercahaya. Kamidi memandang sinis kepada orang-orang yang mengantri seperti mau mengucapkan selamat tinggal sambil melambaikan tangan tanda kemenangan.

Pintu ke kiri menuju neraka dan sebelah kanan Surga seperti plang penunjuk jalan tertera, dengan pedenya Kamidi berbelok ke pintu sebelah kanan. Tapi tiba-tiba “Hei manusia bernama Kamidi,engkau berhenti!!. Apa tujuan ke pintu surga ini?” hardik malaikat penjaga pintu. “Tentunya saja tempatku di Surga, kemana lagi kalau tidak disini” betapa nyakin dia.

“Tempatmu bukan disini, tapi di Neraka” jawab malaikat penjaga surga . Betapa kaget Kamidi mendengar ucapan malaikat penjaga. “Pergi kau Kamidi !” ditendang tubuh kurus si Kamidi sekali gerakan. Melesatlah Kamidi dengan sekejab jatuh dipintu Neraka.

Sekejap Kamidi tampak meronta-ronta dipegangi malaikat penjaga neraka “Apa salahku, di dunia aku memuja Tuhanku. Aku tidak terima!!” teriaknya sampai menggema. “Lepaskan hei kau malaikat jijik, kau tak layak memegang tanganku yang suci” tapi malaikat berwujud besar bercahaya itu terbelak matanya yang memancarkan api.

“Aku mau ketemu Tuhanku, ini tak adil” “Tak seharusnya seperti ini, siang malam aku memuja Mu dan melantunkan ayat-ayat suci untuk Mu tapi apa yang aku terima saat ini..Tidak!!” teriaknya sekali lagi dengan menggelora.

“Diam kau Kamidi !!!, tempatmu bukan di surga tapi neraka” hardik salah satu Malaikat yang memiliki sayap lebar selebar ufuk timur tiba-tiba muncul.

“Aku mau ketemu Tuhanku, aku mau protes. Kenapa aku diperlakukan seperti ini? Tidak Adil” serunya. “Diam kau Kamidi, tak layak kau ketemu Tuhanku. Kau hanya manusia rendahan yang hanya mementingkan diri sendiri” hardik si malaikat ini.

Dilemparkan sebuah buku dari tangan kiri si malaikat, jatuh didepannya. “Lihatlah buku timbanganmu, tak ada gunanya kau di masa hidupmu” tambahnya

“Apa salahku? Sisa hidupku abadikan untuk memuja Tuhanku, menghapal ayat-ayat suci dari Nabi Mu luar kepala. Kepalaku menghitam karena sujud tiap tengah malam dan tanganku tak henti bertasbih akan namaMu” rinci si Kamidi.

“ Apa? Tuhanku tak perlu pujamu Kamidi. Tuhanku tidak mabuk akan rayuan sujudmu. Lihatlah engkau hanya beribadah karena kau takut masuk neraka bukan? dan apa hanya sujud dan dzikir perintah TuhanMU” seru si malaikat.

“Tapi..Tapi..” Kamidi belepotan tak bisa menyanggah. “Lihatlah dirimu hidup dalam kesendirian dan miskin.Bagaimana mau beramal jika kau hanya ibadah saja? Tak bekerja dan menjadi miskin. Mau membantu sekitarnya pun tidak bisa” “Hidupmu bukan untuk kamu saja tapi buat orang lain, kamu diciptakan bukan kesia-sia saja” “TuhanMu menyuruh kamu untuk beristri dan beranak pinak untuk meneruskan kehidupan manusia di dunia” “Kamu egois Kamidi, takut jika nanti istri dan anakmu diambil lagi, pengecut !!! tidak bisa terima kenyataan” “Kamu takut untuk berusaha lagi, takut kehilangan, takut tidak bisa mencukupi anak dan istrimu lagi. Itulah kamu rela tidak berkeluarga lagi” teriak malaikat itu sekali lagi.”Pergi kau ke Neraka!!”

Sadarlah Kamidi apa yang telah ia perbuat selama ini dan apa yang diridha Tuhan-Nya. Terasa tubuhnya panas seperti terkena jilatan api neraka dan menggigil kedinginan.

 

*******************************

 

Terbangun aku dari tidur, sebelahku Karni sedang memeluk si kecil. Diluar hujan deras sekali, petir menyambar beberapa kali dengan kilatan maha dashyat. Mimpiku tadi terasa aneh, mungkin aku terlalu memikirkan ucapan Kamidi beberapa hari yang lalu. Kulihat wajah istriku dan anakku yang masih kecil, betapa teduhnya mereka. Kuselimut mereka dengan tenang dan kulanjutkan tidurku.

Pagi harinya panas matahari menyeruak dari bilik jendelaku, ku tengok Karni dan si kecil tidak ada. Mungkin di belakang memandikan si kecil, tiba-tiba suara ketukan pintu seperti digendor dari luar. Brakk..Brak..Brakk “No..Darno..buka pintu cepat ini Darmiji” suara dari luar. Darmiji? Tumben pagi-pagi tetangga sebelah mengedor pintu rumah.

Kubuka pintu rumah, “No, ada kejadian di rumahnya si Kamidi teman engkau” serunya “Hah, si Kami itu kenapa ?” terheran-heran. Ditariklah tanganku tergesa-gesa kearah rumah Kamidi. Terlihat banyak warga kampungku berkerumunan di depan perkarangan rumah Kamidi. Membelah kerumunan warga, kulihat rumah si Kami hancur berantakan seperti diterjang angin puting beliung. Parahnya suluk yang biasa didiami oleh Kamidi hancur berkeping-keping, aku bergidik ngeri saat kulihat dalam reruntuhan tersebut banjir menggenang bersimbah darah.

Kepala Kamidi tertimpa sebongkah besar terbuat dari besi, aku perhatikan seksama ternyata sebuah turbin pesawat dengan tulisan Boeing. Dari mana benda itu, sampai bisa jatuh di kampung ini dan mengenai rumah Kamidi. Baru kusadari bahwa itu serpihan kecelakan bangkai pesawat yang sempat meledak saat mengudara tadi pagi dan beritanya ada diseluruh saluran televisi[]

 

Kisaran, Desember 2016