Arsip Tag: Cerbung

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (3)

–sambungan dari Bag-2

Lagi-lagi terjadi simpar-siur, apakah ini cerbung ataukah  cerita mini seri.  Tak ada yang tahu pasti. Namun harap maklum karena tulisan  ini timbul dan terjadi di sebuah dusun sunyi di masa lalu. Di mana anak-anak perawan dan bujang konon belum mengenal lipstick dan gincu. Tapi bukan berarti karena tak tahu mana kulit mana isi lantas berlipstick  menggunakan tai ayam atau berbedak pakai abu. Tidak.  Mereka pun tetap berlagu. Kidung kasmaran, kidungnya parahyangan yang merdu. Saat malam terang bulan, mereka bermain di tanah lapang. Sementara rumah-rumah bilik diterangi pelita kelapa atau lentera. Begitu indah dikenang. Yang jelita, yang rupawan di masanya, suka-cita dan ceria warga di zamannya.

Namun suasana yang kerap membuai itu tiba-tiba lenyap tatkala malam-malam tanpa bulan, tanpa bintang, juga bilik-bilik tanpa lentera dan lampu kelapa.  Suasana ceria itu tersulap aroma mistis, bayangan horor berkembang dan kental di benak-benak mereka.

Masalahnya, kalau tak batu terguling pada malam-malam tertetu,  pasti yang didengar suara tangis.

Tangis itu seorang lelaki teraniaya. Tangis kesakitan yang melenguh panjang. Tangis kesedihan sekaligus kesaksian. Tangis yang tak sudi difitnah sebagai penghianat pada bangsa, negara dan agama. “Tidak. Aku bukan penghianat. Aku tidak berbuat macam-macam. Aku hanya sebagai rakyat biasa!”  Barangkali begitulah yang hendak diutarakan dalam suatu sidang. Namun di sini tak ada sidang, keputusan terlalu cepat dibuat. Tanpa penyelidikan atau penyidikkan. Zaman memang tengah darurat.

Lelaki tertuduh itu bernama Kaswian. Disaksikan para anggota keluarga dan khalayak para pengungsi dan beberapa anggota pejuang di bukit itu. Bukit Kiarapayung. Suatu tempat yang terbilang aman untuk mengungsi jika terjadi konsfrontasi. Jadi tak mungkin ada peluru nyasar karena di sana-sini banyak pohon pelindung  –termasuk pohon kiarapayung yang teduh, dan juga goa-goa.  Kaswian, dalam hukumannya harus menggali kubur sendiri, tak diperbolehkan barang seorang pun untuk membantu. Lelaki itu terus mencangkuli tanah, mengangkatnya dengan sekop, kadang meratakan sisinya dengan tembilang .

“Biar semua tahu, begitulah cara penghianat mengawali detik-detik perjalanan hukumannya,” ujar seorang lelaki berpengaruh . Seorang yang dipercaya dari pihak pejuang sebagai ketua dalam  acara yang menggetirkan itu. Para hadirin, hanya meringis menyaksikannya. Tak mampu berbuat apa-apa selain menonton.

Setelah selesai menggali tanah di kemiringan bukit itu,  Kaswian disuruh berdiri membelakangi lobang tanah galian itu. Lalu seorang petugas mengambilkan tali khusus, yang di tengahnya telah dibuat kolongan, pas untuk dimasukan ke kepala terhukum.  Setelah kolongan itu dipasang di leher, tali itu ditarik dari dua arah berlawanan. Bak suatu lomba tarik tambang.

“Lihatlah semuanya….inilah ganjaran bagi seorang mata-mata..!”  kata lelaki yang memimpin itu, dengan komando berikutnya; “Satu….dua….tiga…tariiik….!”

Orang-orang hanya meringis. Kalau diperbolehkan banyak yang mau menangis. Namun di sini tak boleh menangis. Buat apa menangisi seorang penghianat. Menangis berarti akan kena hukuman yang sama, mau tak mau – suka tak suka, harus siap dijerat leher setelah sebelumnya menggali kubur sendiri. Namun menangis boleh saja asal memenuhi syarat, yakni harus berjanji dan bersumpah seyakin-yakinnya. Tangis di sini bukan tangis kasihan melihat korban. Tapi harus menangis sejujurnya bahwa tak akan sudi sedikit pun untuk jadi penghianat seperti Kaswian. Dan itu pun  harus minta izin terlebih dulu pada yang punya kuasa di situ. Yakni para pejuang yang punya misi memurnikan negara ini menjadi bangsa madani. Isi perizinan itu, diantaranya harus berani berjuang melawan antek-antek penjajah yang saat itu memegang tampuk kekuasaan. Salah satu kesepakatan itu, paling tidak jangan menjadi penghianat dengan menjadi mata-mata seperti yang dituduhkan pada Kaswian.

Kaswian, lelaki itu. lidahnya menjulur keluar. Matanya mendelik, melotot terbalik.  Perut dan otot-ototnya mengencang, kadang pula bergumpal-gumpal, melendung-lendung  seperti balon mau meletus. Sekira nyawanya akan hilang, tali dari dua sisi itu diulur kembali.

“Bukan suatu hukuman namanya  jika  ia dibunuh terlalu cepat, biarlah dia merasakan siksa dan penyesalan atas perbuatannya sendiri,” begitu sang pembicara berujar. Sang tertuduh segera memburu nafasnya yang hampir hilang. Seraya berkata berat terpatah-patah; “bunuhlah aku..bunuhlah aku, biar lebih puas..”

“Haha…lihatlah dia telah menyadari perbuatannya. Dia telah menyadari dan tampak begitu sudi atas ganjarannya!”

Dan hukuman pun dilanjutkan dengan cepat. Leher lelaki itu dijerat kuat hingga tubuhnya terjengkang dan masuk kubur galiannya. Tanpa dimandikan, karena sang pengianat haram untuk dimandikan –apalagi disolatkan. Entah masih bernafas atau tidak, tubuh lelaki itu segera ditimbun dengan tanah. Tanah yang merah di bukit itu, tanah pengungsian di jaman bergolak. Konflik horizontal antara orang dalam dan luar. Yang pada intinya tak ada bedanya orang luar dan dalam , bagi rakyat tetap saja rakyat. Rakyat satu negeri, satu pulau, satu kecamatan, satu desa, satu lembur dan satu sumur –bahkan satu kasur.

Seperti apa yang dilakukan Kaswian, hanyalah sebagai rakyat biasa. Namun dari segi ekonomi terbilang berada.  Artinya, walau berada di pengungsian ia masih bisa pergi ke pasar. Sekedar beli makanan dan tembakau.  Pasar itu letaknya di dekat kecamatan, dekat dengan markas tentara. Dituduh penghianat, alasannya karena ia pulang membawa makanan kaleng. Yakin, itu dia beli dari pasar. Namun namanya juga jaman darurat, jaman bergolak. Mungkin saja yang namanya iri-dengki di pengusian itu ada. Mungkin ada yang melapor pada orang luar, orang luar itu  –yang menurut versi penguasa dinamai gerombolan pengacau.  Lelaki itu dituduh sebagai mata-mata dari penguasa, yang diberi imbalan makanan kaleng berisikan olahan daging. Gerombol yang menamakan dirinya pejuang kebenaran, makanan kaleng itu bukan makanan bangsa dirinya. Makanan itu makanan orang asing, begitu katanya. Maka, Kaswian, lelaki itu yang jadi korban. Ia terhukum. Terjerat. Terjengkang. Diduga lelaki itu saat dikubur masih bernafas. Jadinya, lelaki itu terkubur hidup-hidup. Di sebuah bukit, di dekat pohon kiarapayung, yang memang kerindangan pohon itu mirip payung.

**

Sampai negeri itu berubah. Sampai gerombolan pejuang kebenaran itu habis ditumpas, suara tangis di bukit itu masih sering didengar. Tangis seorang lelaki yang teraniaya. Tangis kesakitan. Tangis yang melenguh panjang. Tangis kesedihan yang tak berkesudahan. Tangis kesaksian  bahwa dirinya bukan penghianat. Tangis penasaran dari zaman yang pernah bergolak.

Para warga di dekat bukit itu sudah maklum akan tangis itu.  Yang biasa terdengar antara waktu magrib dan isya, pukul sembilan, tengah malam dan menjelang subuh. Semua  menduga tangis itu muncul atas kematian Kaswian yang tak wajar, sehingga melonggarkan kesempatan setan atau demit bukit kiara payung untuk mengoyah iman manusia. Karenanya tangisan itu pun kadang muncul beragam, sesekali terdengar seperti tangis perempuan yang berakhir  dengan tawa meringkik.

 

Namun yang lebih mencengangkan saat berikutnya ada suara gemuruh dari bukit itu.      Braakk….bruuk….! guluduugg…borotokkk….gorobass….prraaaaakk…..!

 

Gemuruh yang terdengar  itu suara batu-batu terguling. Mungkin sebesar kerbau atau sebesar truk lebih. Membetur sesama batu yang terlindas dan melabrak rerumpunan bambu. Braakk..! Bruuk…!     Guluduuk…guluduuk…! bletok..karabyaak…!, begitulah. Bukan satu batu, tapi banyak batu. Setelah gulingan batu itu sampai di lembah dan hampir menghantam rumah warga, kejadian serupa kembali menyusul. Bahkan saat berikutnya petaka itu datang lagi.

“Ah, ini benar-benar terlalu!” ujar seorang warga seakan menyesali keadaan. Begitupun yang lainnya, mengeluh, berpikiran sama yang ujungnya menyudutkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bah Madro. Lelaki bertubuh tambun itu yang selalu iseng mengganggu orang.

Betapa tidak, jika malam ada pejalan kaki yang lewat di jalan berbatu, di lembah sana, kalau tak melempar pasti menggulingkan batu-batu itu. Ulah itu sering dilakukannya, terutama saat-saat mondok di saung huma dekat kiarapayung itu. Barangkali keisengannya menakuti orang, agar dia dianggap demit bukit itu. Demit yang zaman sebelumnya kerap terdengar suara tangis lelaki teraniaya, tangis perempuan yang sebelum kemudian tertawa meringkik. Arwah penasaran berujud amarah dengan mengguling-gulingkan batu dari bukit pohon kiara. Mungkin terinspirasi dari itulah  Bah Madro senang bertingkah,  dan baginya seakan menjadi hiburan tersendiri.

Tapi kenapa mesti mengguling-gulingkan batu besar? Sebab dengan demikian, kesannya bukan horor lagi. Melainkan sebuah teror bencana yang mematikan.

“Ini sungguh membahayakan!”  desis warga lain di sekitar lembah.

Dan bukan satu dua orang yang mengutuk ulah Bah Madro saat itu. Namun mereka tak ada yang berani mengambil tindakan, mungkin karena kejadiannya selalu tengah malam. Rasa malas mereka semakin menjadi tatkala kantuk berat selalu menyerang.

Sebenarnya, gemuruh itu bukan wujud nyata suatu bencana. Kendati diacuhkan pun tak akan menjadi persoalan. Untuk mengatasinya  cukup dengan do’a atau keyakinan yang kuat. Sebab, manuver itu hanyalah ilusi belaka. Suatu ulah yang tercipta untuk menggoyah hati yang mendengarnya. Buktinya, di waktu siang jejak-jejak itu tak ada. Tak sedikit pun ada bongkahan batu, tak juga tampak bekas benturan atau rerumpunan bambu yang rebah. Tak ada sama sekali. Tak ada.

Yang ada cuma kisah masa lalu. Di jalan desa penghubung dusun itu dan dusun lainnya. Para anak bujang tiap menjelang larut malam selalu lewat, sekitar lima atau kadang sepuluh orang. Bernyanyi riang penuh guyonan, baik hendak atau pulang dari dusun tetangga tatkala mengintip bilik-bilik di pondok perawan. Mereka bukan sekali dua kali mendapat perlakuan iseng Bah Madro, yang tengah tunggu kebun di bagian atas bukit itu.

Sering ada lemparan, ya karena namanya juga iseng lemparan itu pun  tak dikenakan. Benda yang dilemparkan itu tak cuma batu, kadang ubi, jagung bakar, kedodong atau degan. Memang saat pertama ada rasa takut, namun kejadian berikutnya kalau tak digubris kadang pula senang jika lemparan itu berupa makanan.

“Hahah…! Hahaha…hahahah..!” Bah Madro kerap tertawa manakala usai melakukan isengnya. Suaranya begitu besar dan menggelegar. Mungkin dibuat sengaja agar disangka demit Kiarapayung, yang menurut dongeng sepuh terkesan angker.

Namun keangkeran itu ternyata cuma resep meredam anak agar tak cengeng. Juga upaya melestarikan alam agar sumber mata air tak kering, dan pohon kiara itu tak ditebang oleh tangan-tangan jahil. Namun tak menutup kemungkinan, yang namanya makluk halus itu ada. Begitulah, barangkali Bah Madro merasa terinspirasi sebagai demit bukit Kiarapayung.

Bah Madro suka iseng, telah dilihat sendiri oleh Sarno –seorang cucunya yang pernah ikut mondok di kebun lelaki itu pada musim panen jagung. Benar, ladang jagung itu tak jauh dari rimba kiara. Di tempat itu banyak lutung, monyet, dan juga babi hutan. Pada musim itu Bah Madro merasa kewalahan. Selain bantu menjaga serangan binatang itu, juga hitung-hitung menikmati bakar jagung yang hijau segar.

Malam itu cahya bulan benderang, anak-anak bujang terdengar riang di jalan desa di lembah sana.

“Nanti saat pulangnya..” Bah Madro terkekeh menahan kegelian niatnya. Ia menunjuk sebuah batu besar, diperlihatkan pada cucunya yang berusia tujuh tahun itu. Anak itu pun ikut-ikutan menahan geli, dan tak sabar ingin menyaksikan bagaimana kisah seru yang dilakukan kakeknya.

Dan tak begitu lama, saat yang dinanti itu datang. Bahkan kesannya lebih awal dari biasanya. Kepulangan mereka dirasa cukup cepat. Yang biasanya kunjungan itu memakan waktu sedikitnya dua jam, ini sekira limabelas menit. Namun keheranan itu seketika lenyap tatkala ditemui suatu alasan. Mungkin saja ada gangguan, misalnya para perawan itu tak berangkat ke pondok karena sorenya terjadi hujan gerimis.

“Mari..kakek, bantu!” lelaki itu menyeret cucunya. Mengambil linggis, mendongkelnya. Begitu berat, namun berusaha sekuat tenaga hingga otot-otot lelaki itu tampak mengencang. Dan batu besar itu mulai terguling…gorobass…gorobass…dak..duk..brak..brek…prak…! Menggelinding ke lembah, ke jalan itu,, ke para anak bujang itu.

 

Aneh!?

Seperti ada keganjilan di sana. Biasanya usai aksi itu bakal terdengar suara langkah atau sorak-serai para anak bujang. Entah suara takut atau suara pura-pura takut, misal saling mempercepat langkahnya. Sebab, mereka sudah tahu yang menggulingkan batu itu bukan demit bukit Kiarapayung, tapi Bah Madro. Ini benar-benar di luar dugaan. Apakah yang lewat kawanan tadi itu bukan aslinya para pemuda kampung? Lantas siapa ya?, begitulah  Sarno sempat heran.

**

Bah Madro, demit Kiarapayung, atau ilusi yang tak bertanggung-jawab, entah siapa sebenarnya yang menggulingkan batu malam-malam saat orang lelap. Malam-malam berikutnya menjadi tak jelas, simpang-siur. Mungkin karena kesiur angin, atau karena warga terlalu segan dengan pohon kiara yang kerap menunjukkan keperkasaan di benaknya. Bahkan, mungkin penguasa saat itu pun terinspirasi untuk menjadikan kiarapayung sebagai lambang partainya.

Dengan koloni rotan alas dan bambu, bermacam kedaka, binatang buas seperti ular cobra, macan belang atau tutul. Keluarga monyet atau lutung , para bajing, juga bermacam burung  seperti elang, gagak, kangkareng, ciung, ketilang, jalak, dsb, termasuk pipit pun lengkap di situ.    Kiarapayung laksana sebuah kerajaan rimba yang perkasa.

Sosoknya  yang menjulang menggapai langit itu kerap dijadikan barometer para nelayan pencari ikan,  misal apakah pelayarannya tak terlalu jauh menyasar atau tidak. Jika pohon itu masih terlihat, berarti perambahan laut masih dalam status wajar. Barangkali dari kepercayaan yang diakui warga itulah, Kiarapayung tetap menebar manuvernya. Yang jadi korban, tentu dusun terdekatlah. Dengan menuduh Bah Madro sebagai kambing hitamnya?

Bagaimana tidak. Batu-batu terguling, kadang disusul tawa terbahak. Kadang terdengar alunan seruling kidung kasmaran. Juga suara-suara wanita cekikikan, yang sebelumnya lolongan anjing sebagai penghantar suasana seram mencekam. Namun berita itu cuma isyu, kadang tak jelas alias simpang siur.  Sebab, saat terjadi batu terguling  –atau lemparan-lemparan iseng  — seperti batu-kerikil, ubi jalar, singkong, pisang, pepaya, jagung, kedongdong atau daugan, kadangkala di ladang itu Bah Madro tak mondok.

**

Selama hamir  40 hari setelah kematian tragis itu, warga dusun tak ada yang berani keluar rumah. Terutama jika hari berganti malam, begitu magrib datang, tua-muda semua masuk ke biliknya. Karena rasa takut yang menyungkup di benak-benak mereka, untuk sekedar buang hajat atau kencing pun tak merasa sungkan walau cuma ditadah di ember. Biarlah, besok saja air dan hajat itu dibuang, begitu pikir mereka. Tak peduli bau pesing dan bau haluan botrok menyergap di rumah bilik mereka.

Begitu pun langgar-langgar mendadak sepi, tak ada solat berjamaah. Tak ada bacaan solawat nabi dan pepujian anak-anak mengaji. Aktivitas itu seakan berhenti tiba-tiba. Anehnya tak ada wejangan atau penyuluhan dari tokoh agama atau pemerintah setempat. Semua seolah terhipnotis dengan keadaan.  Lampu lentera, pelita kelapa atau cempor tak ada satu pun yang dinyalakan. Dusun itu sepi mencekam. Malam-malam gelap bagai kuburan.

Bayangan horor itu memang terus menyergap pikiran mereka. Terutama setelah melihat kematian Bah Ado yang mengenaskan. Lelaki itu memang telah mati terbunuh. Namun entah siapa pembunuh itu, sungguh sangat misterius. Sepertinya pembunuh itu bukan manusia, sebab luka di bagian belakang kepala itu bukan bekas senjata tajam seperti golok atau sejenisnya. Luka yang menganga itu bekas tancapan kuku tajam yang meruncing. Orang menduga, karena lukanya bekas kuku harimau, yang membunuhnya itu pasti harimau atau siluman harimau. Namun entahlah.

Yang jelas di pagi buta geger. Istri mendiang tak tahan dengan keadaan, tangisnya meledak dan meraung-raung seraya mendekap seorang yang tak berdaya. Darah segar tercecer di dekat pintu masuk dan sampai ke tengah rumah. Bahkan tak sedikit yang muncrat ke bilik.

Tersiar kabar yang membunuh lelaki itu adalah seorang wanita. Tanda-tanda yang mengarah ke situ memang ada. Beberapa saat sebelum kejadian itu, beberapa warga yang terlintasi jalan setapak di depan rumahnya mendengar suara wanita seperti tengah cekcok dengan Bah Madro.

Bahkan seorang bercerita, ketika malamnya lelaki itu nganjang ke rumahnya. Entah kenapa sang korban seperti gelisah. Apalagi setelah di luar ada suara seorang wanita seakan memanggil-manggil nama lelaki itu.

“Tunggu sebentar,” kata Bah Madro yang saat itu tengah menikmati kopi. Walau tampak sungkan ia segera permisi ke pribumi hendak memenuhi panggilan itu, yang diduga tuan rumah adalah istrinya Bah Madro.

“Ditunggu sejak tadi, kok,” terdengar percakapan oleh tuan rumah. Selanjutnya tak tahu karena keduanya semakin menjauh. Ya, mungkin itu tadi, para tetangga yang jalannya terlewati.

Bah Madro seakan cekcok dengan seorang wanita. Namun percekcokkan itu berubah menjadi teriak kesakitan seorang lelaki yang disusul suara tawa meringkik seorang perempuan.

“Hihihi…Hihihi…!” Begitulah. Ada yang menduga, wanita itu istrinya Bah Madro. Mungkin istrinya  yang lain dari bukit kiara payung. (*)

[Cerbung) Di Balik Mata Yang Buram (2)

Sambungan dari Bag-1

Karena itu hati-hatilah. Mata dan kuping harus difungsilkan secara jujur. Mengingat panca indera manusia multiguna, salah kendali bisa berakibat fatal. Jangan dibiarkan benak itu sampai melenggang dan menggentayang. Seperti dalam kisah ini, seketika tercipta dan terdengar suara yang sebelumnya dibayangkan. Ya tentang suara dari yang punya bulu halus, corak belang dan yang berekor panjang itu toh. Suara yang terdengar mendengkur, mengaum dan juga menggeram. Mungkin karena kepercayaan yang kuat itulah yang membuat otak terasuk.

Ya seperti cerita tentang rumah kosong dekat langgar itu. Kan jadi membawa ingatan pada mulut sebuah goa di tepi hutan. Maka tak pelak aroma horor pun kerap meneror, baik sebelum atau sesudah keluar langgar. Ya, seperti yang dialami Kodir belakangan ini.

“Allahu Akbar!” Ia setengah meloncat dan berjingkat dari langgar, tatkala pulang usai menunaikan solat isya sendirian. Gara-garanya ia terlambat berjamaah akibat keenakan nonton bola di tv. Di benaknya, dari balik kaca rumah yang gelap itu sepasang mata merah menyala mengancam. Betapa tidak, sebab sebagai jemaah langgar ia tahu betul karakter siempunya rumah itu yang punya watak kasar. Dan wajarlah jika kerap menghantui dirinya, juga para tetangga sekitar langgar.
**

Semua yang terjadi itu sebenarnya gara-gara Ki Tamim, seorang lelaki tua di lingkungan ke-RT-an itu. Seharusnya ia bisa menjaga lidahnya dalam bertutur, bukan malah sebaliknya. Omongnya yang seperti bijak, tak tahunya telah menggentayangkan arwahnya Kardian, seorang tetangga yang telah lama meninggal.

“Meninggal tak bersih tentu tak sampai ke Maha Suci, karena kesucian mana sudi menerima yang kotor. Maka ia akan menggentayang di antara langit dan bumi. Jiwa yang gelap akan tersesat ke jalan yang lebih hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang gelap dan seram,” Begitulah dari lidah pertamanya pernah tercetus, dan orang-orang mencernanya sepenuh jiwa, sampai pada akhirnya menyergap jiwa-jiwa mereka yang kerdil.

Goa dan rumah kosong, dalam kisah ini terkait erat. Namun sebenarnya itu bukan goa, tapi semacam lobang dangkal pada sebuah tebing di lembah kebun kelapa. Di tempat inilah diduga ia sengaja sembunyi untuk sekedar menghingdar dari pandangan orang atau pun para tetangga.

Lobang berukuran sekira 1,5×2 meter itu cukup leluasa untuknya berbaring terlentang, tengkurap atau meringkuk. Toh tak sampai 24 jam, ia hanya mebutuhkan waktu tak lebih dari 13 jam dalam waktu siang. Masuk menjelang pagi, di remang senja ia keluar. Kalau tak singgah ke kebun (yang berjarak sekira 10 meter dari lobang itu) untuk sekedar duduk menatap malam, ia akan langsung pulang. Dengan kehidupan malamnya yang terlatih, dalam waktu yang singkat pun telah mampu masuk rumahnya yang gelap.

Namun kendati kerap sembunyi dan mengisolasikan diri, tetap saja tercium. Tak karena rumahnya dekat langgar, tapi tatkala saban hari menghuni goa dekat kebunnya itu pun sudah banyak yang tahu. Berbatuk yang tertahankan itu kesannya menggeram, wangi rokok linting yang kerap menguar. Baik berasal dari lobang goa atau pun dari dalam rumahnya yang selalu gelap, siapa lagi yang berulah kalau bukan ia sempunya?

Ia lelaki gelap. Wajar jika orang mengatakan itu. Karena jika suka yang terang kenapa setiap siang ia mau membenamkan diri di sebuah lobang gelap. Juga, kenapa ketika malam-malam dalam rumahnya selama itu tak pernah menyalakan lampu. Padahal listrik ia punya, bahkan lampu di langgar itu pun listriknya dari dia. Seolah dengan lampu 5 watt di bagian depan rumahnya merasa lebih dari cukup. Itu pun penyala-pematiannya terpaksa dengan cara, yakni diputar orang langgar sesaat sebelum waktu magrib dan jelang pagi.

“Kalau dipikir, sungguh kasihan nasibnya sampai malang begitu,” ujar Ki Tamim di hadapan para tetangga, yang pagi itu sengaja berkerumun di depan rumahnya, yang juga tak jauh dengan rumah seorang tergunjing itu. Lelaki yang melansia dan jadi ki merebot di langgar itu, seolah tak bosan menceritakan nasib kematian tetangganya selama itu.

“Tapi biarlah, semua itu terjadi atas karmanya sendiri,” lanjut Ki Tamim. Semua yang mendengar berdecak miris, terutama para ibu-ibu. Nyali mereka tampak ciut dan gigil. Terbayang, wujud seram itu akan terus menghantuinya, terutama jika saat hari berganti malam..

Lelaki itu memang telah terfitnah!
**

Sebenarnya isyu itu sudah lama lenyap terkubur waktu. Suasana telah adem-ayem. Namun setelah hampir setahun terlupakan, tiba-tiba kisah serupa muncul lagi, bahkan yang ini ceritanya lebih parah. Semuanya terjadi karena jiwa-jiwa dan pikiran mereka yang lemah dan dangkal.

Sepatutnya yang mesti betanggungjawab adalah Ki Tamim, sebagai orang tertua di lingkungan itu. Kata-katanya yang seolah kebenaran dan bijak, bahkan dalam hal mimpinya yang riwan, malah bak sengaja menebar teror mistis.

“Ia memang lelaki gelap!”

Begitulah berkali ia katakan, bahkan sejak seminggu kepergiannya.

Mungkin kesyuudzonannya timbul dari ulah-ulah Kardian sebelumnya yang agak nakal dan pelit. Nakalnya, ia kerap menyambar gula-kopi dan rokok di tempat hajatan tetangga dengan tangan secepat kilat melebihi tukang sulap.. Pelitnya, nah, inilah sumber utama yang diduga melemparkannya pada kegelapan. Saat berjamaah magrib di langgar itu lampu gelap (karena layanan itu dengan lampu tunggal tanpa stop-kontak), seorang jemaah keluar dari syaf dan meloncat ke rumah Kardian untuk sekedar nekan saklar. Kardian yang pelit dengan teganya membatalkan shalat dan mengejar orang itu dengan hardikan, “Dasar kurang ajar kamu..Kodir, beraninya masuk rumah orang! Ataukah kamu mau maling,hah!?” tuding lelaki itu dengan mata menyala.

Dan kericuhan pun terjadi di langgar itu. Saking ricuh dan lampu tak sampai dinyalakan, jamaah shalat magrib pun bubar. Bahkan saat itu tak ada shalat magrib. Alasannya ya karena kegelapan dari lampu Kardian itu.

“Itu sebenarnya menunjukkan jati dirinya yang memang benar-benar gelap!” seakan mantap Ki Tamim kala itu berkata.

***

Kepergian Kardian telah sampai setahun.

Setelah punya mimpi –riwan, Ki Tamim kembali berkata-kata yang seolah bijak.

“Kegelapan itu terjadi karena dosa dalam hidup.” berhenti sejenak, lalu matanya menyapu reaksi orang-orang di hadapannya. “Arwah seperti Kardian akan terus menggentayang, melayang di antara langit dan bumi. Setelah mengalami derita yang panjang, ia akan terbanting ke jalur yang hina dan terkutuk. Yakni ke wujud yang seram dan gelap,”

Yang mendengar terhipnotis.Terlebih setelah orangtua itu menjelaskan pengalamannya semalam. Dalam keadaan setengah tidur dan terjaga, katanya, tiba-tiba tanganya meraba sosok tubuh mendengkur yang terbaring di sampingnya. Dengkur siapa, ia kenal betul suaranya. Dan ketika mata terbuka sesosok hitam terperanjat dan meloncat lewat jendela yang memang benar terbuka atau mungkin lupa menutupnya.

“Ia pasti langsung masuk lewat pintu belakang rumahnya, yakin saya mendengar suara pintu berderit,” kata Ki Tamim. Semula, sebagian menyangka yang masuk rumah itu Lumah—istrinya Kardian, yang sejak setahun tinggal bersama anak perempuannya di lain RT. Hanya saja, dalam waktu tak tentu ia kadang masuk rumah untuk sekedar menyapu ruang atau ngambil barang yang tertinggal bekas kunjungan siang.

Namun tiba-tiba pikiran mereka berpaling dari kejujuran, hingga tega melayangkan ke hal terbodoh sekalipun. Ilusi yang kian terpupuk itu semakin subur dan berkembang, bahkan menjadi suatu yang nyata-nyata di benak-benak mereka.

Baik di kebun kelapa tepi hutan atau di dekat rumahnya, tak luput selalu menebar suasana seram. Penghuni lobang dan rumah gelap itu, matanya menyala liar, seakan menacatat gerak-gerik orang di luar. Bagi jiwa yang terasuk, telah meluangkan energi negatif untuk terus menggoda kelabilan iman. Tak terkecuali Ki Tamim sebagai perpanjangan tangannya yang dianggap mereka lelaki pencetus kebijakan.

“Benar-benar kematian yang tak sempurna, kasihan dia padahal telah bergelar haji,” masih kata Ki Tamim dalam suatu kerumunan.

“Ya, arwahnya benar-benar gelap. Padahal kuburnya telah beberapa kali disirami air do’a, toh tak mampu mensucikan pendirianya demi menghadap sang khaliq. Ini malah tersangkut pada unsur kebendaan, dan terpaksa harus menjadi makhluk dengan wujud yang seram,” sambung Kodir seperti hotbah. Ia telah terpengaruh oleh dongeng-dongeng lelaki tua itu. Sikap pemuda 37 taunan ini tak pelak seakan mengukuhkan jiwa dan pandangan orang di lingkungan ke-RT-an itu, bahwa arwah Kardian sebenarnya masih akan terus gentayangan sampai hari kiamat.

Hampir setahun setengah, setelah kematian lelaki itu. Tak sepatutnya fitnah kubur itu terus menyebar dan jadi bahan gunjingan. Anehnya, orang sekampung tak satu pun yang mengatakan bahwa itu hanyalah fitnah kubur yang harus dibuang jauh-jauh. Semua seakan percaya, jasad lelaki itu tak diterima oleh bumi. Ruhnya yang kotor dan gelap, telah memilih jasad harimau sebagai penerus hidupnya. Nauzubillahimindzalik.

Selanjutnya

[Cerbung] Di Balik Mata Yang Buram (1)

Oleh: Otang K.Baddy

Orang kampung tak mau peduli lagi terhadap Markonah. Begitu pula pada Kartieum. Mereka menganggap kedua nama perempuan itu tak ada bedanya. Sama-sama kurang waras atau gila. Namun kemudian ceritanya agak lain, terlebih pada perempuan yang tiba-tiba kasak-kusuk ke sana kemari itu.
“Bulu apa di atas pusar ini bulu apa?” Wanita itu kebingungan. Ia tak habis pikir, “Bulu apa ini, wahai ini bulu apa?” katanya pada orang-orang. Kenapa ia bertanya-tanya karena ia bingung mengingat bulu itu sebelumnya tak ada. Mulanya orang-orang tak terpengaruh, namun setelah Kartieum mengulangi pertanyaan yang sama seraya memperlihatkan bagian pusarnya mereka bereaksi. Bahkan yang semula jauh mulai mendekat seraya memelototkan matanya hingga hingga liar. Sepintas bulu itu seperti rambut yang kerap tumbuh di kepala, tapi jika diteliti dengan seksama bulu itu seperti bulu babi hutan. Tapi ada juga yang mengatakan bulu itu lebih mirip dengan bulu domba.
“Coba tolong, bulu apa ini?” Kartieum memelas minta kepastian ketika salah seorang lelaki tua terus memelotkan matanya lekat-lekat. “Ayo, bulu apa ini?”

Tapi lelaki tua itu tak bisa memberi jawaban, bahkan saking puyengnya ia pun nyaris pingsan seketika. Begitupun yang lainnya. mereka kebanyakan bingung. Betapa tidak, bukankah untuk pembuktian harus diteliti lebih jeli atau setidaknya melibatkan pakar bulu-buluan. Sementara untuk meneliti langsung itu mereka rasa teramat canggung. Sekadar menutupi kelemahannya di antara mereka ada yang bilang bahwa bulu yang berada di atas pusar itu mungkin merupakan kiriman dari tukang santet. Mendengar kata santet, wanita itu segera pergi, seolah ia tak sudi. Dan ia tetap bertanya-tanya pada setiap orang yang ditemuinya.
“Akang-akang, Aceuk-aceuk,  bulu apa ini hai bulu apa?” wanita itu menudingkan telunjuknya di bawah dada.
Sama seperti sebelumnya, orang-orang tak langsung terpengaruh, bahkan ketika wanita itu memperlihatkan bagian pusarnya. Orang-orang hanya melihat sesaat sebelum kemudian memalingkan muka. Di balik kegeliannya setelah melihat bagian pusar batinnya berujar: “Dasar orang gila!” Namun di sisi lain batinnya mengatakan, “Wow, pemandangan yang eksotis !”
Seraya berjalan. Wanita itu terus bertanya-tanya sambil berteriak. “Bulu apa ini bulu apa, kok tega-teganya tumbuh di pusar saya?”
Wanita itu benar-benar kebingungan. Kadang ia merintih seperti menangis.  Benar-benar tak habis pikir. Kalau memang benar itu bulu babi hutan kenapa bisa tumbuh di atas pusarnya. Namun seberapapun bukti, kendati timbul di bagian lain tubuhnya tetap saja tak masuk akal. Babi hutan bukan, kok apa bisa bulu itu tumbuh bercokol di kulitnya yang bukan babi. Bukan babi hutan. Ia manusia tulen kok. Begitu pun jika bulu itu mirip bulu domba, tetap saja ia geleng kepala. Domba bukan, ah masa iya bulunya bisa tumbuh di perutnya?
“Wahai semua, bulu apa ini bulu apa? Bulu kasar di atas pusar, bulu lembut di kulit perut?”

Wanita itu bergeming.
Di benaknya mencoba mengingat-ingat tentang peristiwa semalam.
Wanita itu bermimpi di tengah pasar ada seorang wanita seperti gila. Wanita itu bertanya-tanya tentang bulu yang tiba-tiba bercokol di pusar. “Bulu apa ini bulu apa?” demikianlah katanya. Meski agak malu ia sempat melirik apa yang ditunjukkan wanita itu pada pusarnya. Sepertinya bulu itu bulunya Markodin, lelaki yang tiba-tiba jadi lutung setelah beberapa tahun mengasingkan diri di hutan. Namun perlu dicatat, kata lutung di sini hanyalah sekadar julukan atau hinaan atas bulu-bulu di tubuhnya yang tak mengenal istilah cukur. Lelaki itu adalah suaminya sendiri yang pernah main serong dengan Markonah, janda penjual kue surabi. Tapi ia tetap heran, jika benar itu bulunya Markodin manusia lutung, kenapa saat ini bisa tumbuh di bagian pusarnya? Apakah pertanda ia telah kualat dan terkena kutukan akibat sebelumnya pernah berhubungan badan?
Perempuan itu akhirnya mematung sendiri.di tengah pasar. Seolah berusaha hendak memulihkan keadaannya yang ia rasa ganjil.

Terhenyak. Siapa diriku ini sebenarnya? Apakah seorang perempuan yang bernama Kartieum ataukah Markonah? Ia bingung. Bahkan untuk sekadar mengetahui kelamin yang ia miliki. Ia tak tahu pasti apakah kelamin yang ia miliki itu jantan atau betina.. Seakan pola pikirnya terbatas dan buntu sosok itu pun akhirnya membebaskan diri dari pemikirannya. Seiring dengan kebebasannya, sosok itu pun kemudian menghilang entah kemana. Baik di benak penulisnya, pun di benak pembacanya. Tak ada like apalagi komentar.

Entah bagaimana maksudnya. Bisa saja mungkin bentuk protes atas status di Fb  tersebut. Tampaknya lelaki yang bernama aslinya bukan Markodin itu menjawabnya, tentu saja jawaban ini pun tak populis. Bahkan terkesan apaan gitu, mirip seperti lebay dan bloon.

— Sebenarnya rambutku tak segondrong apa yang dituduhkan, apalagi sampai seperti lutung. Kalau bikin pernyataan apalagi untuk disampaikan ke publik jangan asal kecrot. Mending kalau sampai viral, ini malah semakin redup melempem. Apa kamu tak pernah  lihat jika aku sering pulang untuk dicukur?

Tiga bulan mengasingkan diri di tengah hutan Dawolong, memakan pucuk lantoro, surage, loa, wuni, tekokak, lajagoa, tawohwol dan buah tepus. Semula memang terasa asing dan kesat di lidah, tapi setelah seminggu kemudian rasanya biasa-biasa saja. Bahkan hal tak terduga pun datang terasa. Tubuh serasa bugar perkasa bak bujangan tingting. Karenanya tak perlu heran jika kemudian aku tak hendak pulang kembali ke negeri penuh dongeng ini.

Begini ya, kawan. Kepergianku dengan bertelanjang ini bukan semata karena muak melihat kepura-puraan, polesan lipstick dan topeng-topeng berkeliaran. Tidak. Bukan soal itu, bahkan sama sekali tak kaitannya. Aku tak muak pada mereka karena mereka bagian dari kita juga. Bahkan jika tanpa itu mana mungkin dunia ini asyik. Kepergianku yang ‘gila’ ini, di mana jalan bertelanjang tanpa celdam maupun perban -kendati borok bernanah bercucuran, bisul di hidung dan kurap di selangkangan. Bukan pula suatu pengukuhan –apalagi sampai berkata demi menfokuskan diri terhadap Sang Khaliq. Tidak. Bukan kepongahan macam itu. Bukan. Sebab sejatinya manusia hidup harus seperti ikan di lautan. Kendati arus buih terasa asin kita tak perlu ikut asin. Tetap tawakal mengimbangi arus maupun gelombang yang seakan mengkaparkan.

Satu hal yang membuat keremajaanku timbul karena hutan yang aku jajaki ini masih perawan. Betapa tidak, sebab di sini akar-akar masih mencengkeram kuat mempertahankan pendirian pohonnya. Begitu pun hal sekeliling, baik dari sudut pandang maupun lekak-lekuk, tak ada yang namanya plastik. Daun-daun menghijau, kendati ada pun yang berjatuhan bukanlah sampah plastik seperti di pelataran kita saat ini yang terus bertebaran tiap hari. Yang gugur di hutan ini telah melewati proses yang matang, ia pergi meninggalkan jasa, yakni menghasilkan humus, tanah gembur untuk  diwariskan pada generasi selanjutnya. Gitu. Jadi awas ya jika ada lagi yang menjulukiku sebagai lutung. Benar-benar tak nyambung tuh. Sungguh!

(bersambung ke Halaman ke Bag.2)

Menjahit Beda (Bag. 2)

Sambungan dari Bag-1
 

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Keluarga Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali. Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya, istri dari kakak laki-laki Agatha.

Lanjutkan membaca Menjahit Beda (Bag. 2)

Menjahit Beda (Bag. 1)

Cerbung : Nanda Dyani Amilla

“Menjadi kekasihmu seperti menanak luka dan menyiramnya dengan cuka,” katamu di suatu sore. Kala itu, kita sedang menikmati pesanan es krim di sebuah café langganan kita—double truffle dan mint chocolate chip untukmu, vanilla chip dan cheesecake untukku. Kita duduk di salah satu meja kecil yang menempel di dinding. Sore ini kau tampak begitu cantik, dengan dress pink fuschia dengan sweater warna senada. Rambut panjangmu tergerai indah, dengan bandana putih di atasnya.

Aku menyendok es krim ke mulut, “Tapi kau selalu punya penawarnya, kan?” sahutku.

“Tidak selalu. Terkadang tembok itu membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu melewatinya,” kudengar suara pesimis dari nada suaramu. Aku membetulkan letak dudukku, mencoba menangkap sesuatu dari tirai matamu. Ada sekelebat takut di sana, juga secercah lelah menghiasinya.

“Kau ingin menyerah?” tanyaku kemudian. Gadis dengan lesung pipi yang sejak dua tahun lalu menjadi kekasihku itu menggeleng.

“Lalu kenapa membahas hal ini lagi? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan menjahit beda? Kau tidak ingin mengingkari omonganmu sendiri, kan?” tegasku lagi.

“Tidak, Satya. Belakangan ini aku hanya terlalu banyak berpikir, apakah tengadah tanganmu dan lipatan tanganku bisa bersatu?” suaranya mulai bergetar. Gadis itu mengaduk-aduk sisa es krimnya. Sudah tak berniat lagi untuk menghabiskan. Barangkali selera makannya juga sudah menguap entah kemana.

“Jika dua tahun ini baik-baik saja, mengapa sore ini kau begitu gelisah, Agatha?” tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan tatapanku. Meyakinkannya bahwa segalanya bisa dijalani sama-sama. Agatha menatapku, masih sama tatapannya seperti pertama kali kami berkenalan. Bertemu dalam sebuah pekerjaan adalah hal biasa. Tetapi selalu kepikiran hingga malam menjelang adalah bagian dari rencana Tuhan. Begitu pikirku kala itu.

Kami dekat dan semakin akrab tatkala aku tahu bahwa dia juga seorang penulis. Tulisannya melalangbuana di berbagai media dan aku mengetahuinya karena aku pecandu aksara. Aku suka membaca. Dan sudah jatuh cinta dengan buku sejak zaman batu. Agatha tertawa jika aku mengatakan hal itu. Dia bilang aku adalah tipe laki-laki unik. Terunik yang pernah ditemuinya selama 22 tahun hidupnya.

Kami sering membahas hal-hal seputar dunia kepenulisan. Tentang novel-novel keluaran terbaru, tentang Afi Nihaya Faradisa yang begitu kontroversial dengan tulisannya, atau tentang impian Agatha menelurkan sebuah novel terbarunya. Aku bukan hanya menjadi pendengar yang baik untuk tulisan-tulisannya, terkadang aku juga senang memberi kritik dan saran untuk kemajuan tulisannya. Dan Agatha selalu menerima itu dengan senang hati.

Lamunanku buyar ketika kudengar suara adzan maghrib berkumandang. Agatha menatapku, “Mau kutemani ke masjid?” dia tersenyum manis sekali. Aku membalas senyumnya dan bangkit dari dudukku. Membayar bill dan langsung menuju masjid terdekat dari café ini. Beginilah, keyakinan kami berbeda, namun cinta kami sama. Agatha selalu suka menemaniku pergi ke masjid jika kami sedang berada di luar rumah bersama. Atau jika kami sedang melakukan pekerjaan berdua.

“Kau tidak mau masuk denganku?” aku menggodanya.

Agatha meninju bahuku, “Mungkin lain kali. Sampaikan salamku pada Tuhanmu, ya,” dia tersenyum, membalas gurauanku.

Aku berbalik dan menuju tempat berwudhu. Sementara Agatha menungguku di atas sepeda motor. Kami berbeda, namun rasa kami sama. Sehingga apapun yang terjadi, kami akan melewatinya bersama-sama. Meski beberapa pasang mata di tempat kerja memandang sinis, meski beberapa keluarga Agatha menatap tak suka, terlebih ayahandanya. Tapi aku selalu berkata pada Agatha bahwa apa-apa yang telah ditulis Tuhan di Mahfudz-Nya, tidak akan bisa dihancurkan manusia. Siapapun dia.

Aku yakin Agatha tak terlalu paham dengan ucapanku, tapi aku tahu bahwa dia adalah gadis yang cerdas. Dia pasti bisa mengartikan maksudku. Kini, dua tahun sudah kami berjuang walau kesakitan. Dua tahun sudah kami menjahit beda agar menjadi sama. Dan dua tahun pula, kami sibuk berdoa dengan bahasa masing-masing. Aku masih tetap mencumbu Al-Quran, dan Agatha masih tetap mencumbu Al-Kitab. Aku masih sibuk berdoa dengan menengadahkan tangan, Agatha masih asik berdoa dengan melipat tangan. Aku masih sibuk dengan butiran tasbih, Agatha pun sibuk dengan kalung salibnya.

Segalanya kami jalani dengan cara yang berbeda, namun demi tujuan dan perasaan yang sama. Pernah suatu waktu, Agatha menanyakan keadilan Tuhan padanya. Saat kutemui ia pulang dari gereja seusai misa pagi.

“Mengapa aku harus jatuh cinta pada lelaki muslim yang sangat mencintai Tuhannya?” itu pertanyaan kesekian yang Agatha lontarkan padaku.

“Mengapa kau suka bertanya hal yang aku tidak tahu jawabannya?” aku mencoba bergurau.

“Kau tahu, terkadang aku merasa tersiksa. Mengapa Tuhan membuat kita saling jatuh cinta, jika pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama? Mengapa Tuhan sisipkan luka saat kita berdua sedang jatuh cinta? Mengapa pula Tuhan membuat perbedaan, jika pada akhirnya yang beda ingin disatukan?” Agatha mulai berceracau.

Begitulah perempuan. Dia selalu berusaha mengungkapkan hal-hal yang menjadi ketakutannya pada kekasihnya. Dia selalu berusaha mengais jawaban untuk segala kekalutannya. Dia selalu mencoba mencari jalan agar keinginannya dikabulkan. Tapi mengertilah, Sayang, selalu ada hal yang hanya Tuhan yang tahu jawaban tepatnya.

“Bukankah hidup umat manusia memang selalu penuh dengan perbedaan? Mengapa dipermasalahkan, jika beberapa orang bilang bahwa perbedaan itu indah. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mengapa sekarang kau seolah-olah sedang menghakimi Tuhan, Agatha?” tanyaku.

“Kau tahu, apa yang pastor katakan saat misa pagi tadi?” Agatha menatapku tajam.

“Apa?” aku menjawabnya tenang.

“Dia bilang, jika salah satu dari kami mencintai yang beda agama, itu sama saja dengan sengaja kami menyakiti hati Tuhan,” Agatha menarik napas dalam, kemudian menunduk.

Aku juga diam. Tidak mau berdebat dengannya terlalu dalam. Kau adalah Protestan yang taat, aku tahu itu. Namun, aku juga amat sangat mencintai Rabb-ku. Aku mencintai Rasul-ku. Untuk hal-hal macam ini, aku tidak berani mencecarmu terlalu jauh. Keyakinan kita masih sama-sama kuat. Tidak ada yang ingin terbantahkan. Tidak ada yang bersedia mengalah.

“Pastor bilang begitu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu,” Agatha bersuara lagi. Kali ini, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Oh, sungguh aku tidak bisa ditatap seperti itu. Sedalam itukah sayang perempuan ini padaku? Dan tak bisa dipungkiri, aku pun telah sayang padanya sejak hari-hari lalu. Meski selalu ada luka, namun bersamanya selalu saja aku bahagia.

Aku keluar dari masjid dan menghampiri Agatha yang sedang asik dengan handphone-nya. Kulihat dia tidak menyadari kedatanganku. Aku menjawil telinganya. Dia kaget dan memelototiku, “Jangan jahil deh…” sungutnya lucu.

Aku mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Kami tiba dalam waktu 20 menit. Sebelum dia masuk ke dalam rumah, aku iseng menarik setangkai mawar putih yang ada di pot kecil berwarna emas di samping gerbang. Lalu kusodorkan pada Agatha.

Dia melotot dan kembali dengan kebiasaannya; marah-marah, “Ih, itukan bunga kesayangan mama!” Aku cuma bisa nyengir, “Will you marry me?” kataku kemudian. Agatha tampak salah tingkah. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dia menggaruk tengkuknya. Detik berikutnya, aku sudah terbahak. Wajah Agatha merah padam. Dia malu, dan itu terlihat sangat lucu. Aku masih sibuk dengan gelakku. Dia meninju bahuku kuat.

“Aktingmu jelek!” sungutnya.

“Ini hanya latihan, siapa tahu suatu hari nanti aku akan mengatakan itu padamu,” jawabku tersenyum.

“Memangnya kau berani?” tantangnya.

“Kenapa tidak? Aku ini Romeo masa kini, yang akan selalu memperjuangkan cintanya. Apalagi kenyataannya, kekasihku lebih cantik dari Juliet,” aku menggodanya lagi.

Agatha mencibir, “Coba saja kalau berani, malam ini kau sudah merusak bunga kesayangan mama. Jika besok kau kemari, habislah kau kena pelototannya,” Agatha menakut-nakutiku.

“Ahh, calon mertuaku tidak akan sejahat itu, Sayang…” aku terbahak. Agatha kembali tersenyum lebar. Tidak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki muslim yang doyan guyon ini.

Kami berpisah ketika kupastikan Agatha sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun mulai menstater motorku dan membawanya pulang ke rumah. Aku rebah setelah lima belas menit bertarung dengan dingin dan debu jalanan. Kulirik arlojiku, pukul 11 malam. Pikiranku melayang dan hinggap di percakapan depan gerbang beberapa waktu lalu. Jujur, aku adalah lelaki yang berhak memilih. Dan aku sangat ingin memilih Agatha untuk menjadi pasangan hidupku. Tapi, apakah Tuhan akan merestui? Jika perbedaan yang mengikat kami sangatlah kuat?

Bip bip..

Pesan blackberry messanger dari Agatha masuk ke hapeku.

Papa ingin bertemu kamu besok.

Aku terlonjak dari rebahku. Kaget. Tidak percaya dengan apa yang kubaca.

Ini sudah malam, Agatha. Leluconmu tidak lucu, ah… balasku dengan emoji kesal.

Kulihat Agatha sedang mengetik lagi : “Aku tidak sedang bercanda. Datanglah pukul 10 pagi. Malam ini, aku telah menceritakan semuanya pada Papa. Termasuk tentang pilihanku hidup bersamamu. Papa menungguku di ruang keluarga tadi, dan bertanya tentang seberapa serius kamu padaku. Untuk itu, datanglah besok. Yakinkan Papa…”

Aku menelan ludah membacanya. Kulirik arloji lagi, hanya tinggal menghitung jam, aku akan bertemu pagi. Mengapa secepat ini? Ah, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Luka dan ketakutan Agatha akan terjawab esok pagi. Tapi, aku bahkan belum menyiapkan amunisi apapun untuk bertemu ayahnya besok. Bagaimana pun, aku harus menemuinya dengan dua kemungkinan: ditolak atau menolak. Bersama atau berpisah. Tapi, bagaimana jika aku beralasan saja? Haruskah kutemui ayahnya? Atau menghindar saja? Bukankah ini terlalu mendadak? Tiba-tiba, kepalaku berdenyut. Haruskah aku menyerah?

bersambung ke (Bag-2)

 

 

(Penulis novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017)

[Cerbung] Seperti Laut – Bag.II Tamat

Oleh: Daruz Armedian           (sambungan dari sebelumnya)

 

Tak lama, ia sudah berada di dekatku.

Tak lama, aku sudah berbenah diri.

“Maaf, membuatmu menunggu, Kak.” katanya sambil siap-siap duduk.

“Nggak apa-apa, kok.”

Ia duduk di sampingku. Dekat. Dekat sekali.

“Sebenarnya ada apa, sih, Kak?” tanyanya dengan bersamaan kerlingan matanya yang teduh.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sya. Haruskah terus-menerus murung?”

Ia diam sebentar. “Em, habisnya, masalah yang kualami begitu berat.”

“Begini, Sya. Kamu harus ngomong yang sejujur-jujurnya masalah kemarin itu. Sudah satu bulanan, loh, kamu murung kayak gitu. Nggak enak dilihat orang. Begini. Pada waktu kamu bertengkar, adu mulut dengan seorang lelaki yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia, dan siapamu, mungkin pacarmu, aku mendengarkan seluruhnya.”

“Terus?”

“Ya, aku ingin tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh, maksudku kamu jelaskan padaku yang gamblang. Segamblangnya.”

Ia menghela napas. Menghirup udara segar di tepi laut yang biru.

“Seperti ini, Kak. Dia itu pacarku. Tapi tak pernah ngertiin aku.”

“Kok, cuma segitu?”

“Belum selesai, Kak.”

“Oh, belum selesai, toh.” Aku tertawa.

“Aku benci, benci, benci. Kenapa, sih. Ke bandara aja minta ditemenin. Dia nggak nyadar kalau aku sedang sibuk dan, dan katanya itu sangat penting. Dia nggak mementingkanku. Nggak nganggap kalau tugas-tugas kuliahku nggak penting.”

Aku diam. Sibuk mendengarkan.

“Lalu dia malah membawa cewek lain untuk nemeninnya. Kan, aku yang cemburu. Masalahnya aku bukan nggak mau nemeninnya ke sana. Tapi aku sibuk. Sibuk banget.”

“Terus?”

“Ternyata cewek itu tidak hanya dijadikan temen, tapi malah nginep di hotel bersama. Itu apa-apaan coba? Terus foto-foto lalu diupload di Facebook. Foto-foto mesra. Aku sebagai pacarnya wajarlah cemburu.”

“Sudah, sudah cukup. Cukup sampai di situ saja kamu jelasinnya. Sekarang, aku mau tanya. Kamu masih sakit hati?”

“Ya, jelas dong, Kak.”

“Masih mau murung lagi?”

Ia tidak menjawab. Cukup mengerucutkan bibir saja.

“Em, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya setelah ini?”

“Kok, Kakak nanya melulu?”

“Loh, kan katamu aku mau jadi sarjana psikologi…”

“Ya, nggak tahu. Mungkin masih mau murung.”

“Hahahaha,”

“Kok, ketawa?”

Aku tidak menjawab. Aku memandangi laut. Laut yang biru. Laut yang luas. Laut yang seperti tak punya tepi jika dilihat dari sini. Sejenak ada diam menyelimuti. Lantas, ia bicara lagi.

“Aku iri kamu, Kak.”

“Kenapa?”

“Aku tak pernah melihat kamu punya masalah. Hidupmu tentram. Damai-damai saja. Aku benar-benar iri.”

Aku menghela napas. “Begini, Sya. Sebenarnya, aku juga punya banyak masalah. Tapi kuselesaikan dengan tenang. Tidak diam atau bahkan berusaha lari dari masalah itu. Dan sebenarnya pula, masalah itu dari diri kita sendiri. Kamu, misalnya. Seandainya tidak pacaran. Mungkin saja tidak akan punya masalah yang seperti ini. Benar, bukan?”

Ia mengangguk.

“Nah, jika kita terlanjur membuat masalah, tentu hakikatnya disuruh untuk menyelesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau aku, kembali jatuh cinta pada Allah. Ini bukan sok alim atau apa. Yang jelas aku lakukan itu dan berhasil. Sebab, hanya cinta kepadaNyalah kita bisa damai. Hati kita akan tentram. Kemudian, perlahan-lahan masalah itu akan selesai.”

Ia diam. Merenung.

“Apalagi masalahnya adalah hati. Perasaan. Kamu perlu tahu, kalau mencintai orang pastinya ada luka di dalam. Yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja. Patah hati dan sebagainya. Obatnya apa? Cara menyelesaikannya bagaimana? Ya, seperti itu tadi. Jatuh cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah. Sebab, aku yakin, Dia tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan membuatmu patah hati.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang masih getir.

“Sebagai contoh, laut. Laut terlanjur membuat masalah. Ia membiarkan panas matahari mengurangi stok airnya. Ia tak berani mencegahnya. Masalah, kan? Itu sudah terlanjur. Tapi, ia tidak diam. ia terus berdoa kepada penciptanya agar airnya kembali. Dengan doa itu, skenario Sang Pencipta yang tak pernah ia duga, mengembalikan air itu kepadanya lewat sungai-sungai.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang tidak lagi getir, tapi bahagia. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Ia seperti mendapat pencerahan. Kemudian angkat bicara sekarang.

“Oh, jadi ini alasan kakak terus menerus duduk memandang laut?”

“Bukan hanya itu, aku nyari inspirasi buat tulisanku tau’!”

“Benar juga, ya.”

Ia terdiam lama setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya terdengar helaan napas dan sesekali desau angin dari laut. Aku memandang jauh. Ia memandang jauh mengikutiku. Walaupun sebenarnya kita duduk berdekatan.

“Kita harus sering-sering jatuh cinta pada Allah. Pencipta kita. Kalau tidak, ya, mustahil kita akan menyelesaikan masalah.”

“Selama ini, aku rasa semakin jauh dari Allah.” Gumamnya. Aku suka kata-katanya. Ia jujur sekali. Termasuk aku juga yang jauh dari Allah.

“Hem, kalau sudah seperti ini, sholat, yuk. Sudah magrib.”

“Yuk!”

 

**

 

Alesia sudah tidak lagi keluar malam-malam seperti biasanya pada saat punya pacar. Ia makin sibuk dengan kuliahnya. Dan aku suka hal yang seperti itu. Masa muda memang haruslah rajin belajar. Sebelum tubuh renta.

Kini Alesia setiap kali keluar dari kosnya, juga selalu memakai kerudung. Pemberianku kemarin. Eh, dulu. Dulu sekali sebelum ia menjadi mahasiswa. Pada saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ternyata ia masih menyimpannya. Tentu saja bukan hanya semakin cantik tapi juga hal itu dapat menutup auratnya. Hari-harinya sudah mulai ceria kembali. Aku ikut bahagia. Entah kenapa, seperti saat-saat ia bersedih dulu, aku selalu tak mengerti alasanku kenapa bisa seperti itu. Dan pada saat menyapaku, ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya dengan senyuman yang meneduhkanku, sekarang bertambah mententramkan hatiku.

“Bagaimana, Sya? Sudah tidak sumpek lagi?” tanyaku suatu hari.

“Sudah nggak, Kak. Hatiku sudah plong sekarang. Memang benar katamu, Kak. Kalau semua permasalahan di dunia ini obatnya jatuh cinta pada Allah.”

Aku tersenyum. Berhasil.

“Kamu semakin cantik kalau memakai kerudung, Sya.”

Ia tersipu. Memang perempuan sering tersipu apabila mendengar puji-pujian tentang dirinya.

Begitulah perubahan drastis Alesia.

**

 

Kembali aku duduk di pinggir laut. Kali ini tidak ada perjanjian sama siapa pun. Sama sekali tidak ada perjanjian. Aku hanya ingin bersantai-santai setelah lelah mengerjakan novelku tentang kisah yang belum pernah ada yang tahu. Kisah hidupku dan ce i en te a. Kau tentu bertanya-tanya tentang siapa cinta itu. Atau sebagian ada yang menebak-nebak kalau yang aku maksud adalah Alesia.

“Kak!” suara dari belakang mengagetkanku. Sambil menyentuh pundakku secara tiba-tiba, ia juga tertawa. Suara itu sudah tidak asing bagiku. Alesia.

“Ngaget-ngagetin aja.” Kulihat wajahnya berseri-seri. Pasti ada kabar baik yang menghampirinya. “Padahal aku nggak ngasih tahu kalau aku ke sini, loh.”

“Emangnya harus ngasih tahu dulu baru aku ke sini? Ini kan tempatku menenangkan diri seperti dulu.”

“Tempatmu?”

“Tempat kita.” Tempat kita, katanya. Aku semakin tak mengerti.

“Jangan merenung mulu, ntar kesambet.” Katanya. Giginya yang gingsul itu kelihatan semakin manis.

“Ah, nggak, kok. Aku merenung-merenung amat. Lagipula, apa yang aku renungkan?”

“Ya, entahlah. Kan selain psikolog, kamu juga menulis. Pasti kebanyaklan merenung. Hati-hati kalau merenung.”

“Eh, tunggu dulu. Kelihatannya kamu bahagia banget hari ini. Ada apa?”

“Ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Kak.”

“Loh, masa’, sih?”

“Iya, beneran.” Ia terlalu bahagia, sampai tertunda-tunda mau menjelaskan padaku sedang ada apa. Ia masih ketawa-ketiwi.

“Sya, ada apa? Jelasin, dong.”

Ia baru duduk di sampingku setelah agak lama memandangi laut.

“Kak, aku jatuh cinta lagi.”

“Eh, sama siapa? Cepet amat.”

“Sama seseoranglah, Kak. Hehehe.” Ia main-main dengan kata-katanya.

“Maksudku, nama orangnya. Nggak asik kalau gitu, ah.”

“Cie, kakak ngambek.”

“Ngomong-ngomong, sakit hatinya sudah selesai belum. Kok, cepet banget jatuh cinta lagi pada seseorang.” aku merapikan kancing lengan bajuku.

“Udah, dong.”

“Takutnya sakit hati lagi, murung lagi, aku juga ikut sedih, loh. Udah dua kali kamu putus cinta kemudian sakit hati. Terus, lama lagi sakit hatinya. Walaupun yang pertama tidak lama seperti yang kedua, tetap saja kamu sakit hati, kan.”

“Insyaallah, nggak, Kak. Masalahnya saat ini berbeda. Beda banget. Orang yang aku maksud itu mau menikahiku.”

“Beneran?”

“Iya. Aku tidak bohong. Ini buktinya.” Ia mengeluarkan secarik kertas undangan. Aku baca pelan-pelan. ia benar-benar akan menikah bulan depan.

“Alhamdulillah,” gumamku. “Akhirnya kamu akan menjalani hubungan yang halal, Sya.” Ia mengangguk-ngangguk. Tentu saja masih sambil tersenyum.

Aku lanjutkan membacanya. Sampai pada nama lelaki yang akan menikahinya, aku mengerutkan kening. “Handim?” tanyaku yang sebenarnya tidak kutujukan pada Alesia.

“Handim. Iya, Handim. Masa’ kamu lupa, sih, Kak?” tanyanya.

“Iya, aku inget, kok.” Aku bernostalgia. Handim adalah kawan apaling cerdas yang pernah satu kelas denganku. Tapi, belum sempat ia lulus, sudah pidah dulu ke Singapura. Mengikuti ayahnya yang berkarir di sana. Selain cerdas, ia juga menjabat sebagai ketua osis. Ia cocok sekali dengan Alesia yang sekarang. Alesia yang berusaha keras ingin menjadi perempuan sholihah. Alesia yang adik kelasnya dulu. Alesia yang akan berusaha keras membahagiakan Handim nanti tentunya.

Aku tidak habis pikir kenapa Handim cepat lulus kuliah di Singapura, sebab itu tadi, ia anak yang cerdas. Beda denganku yang mengerjakan skripsi, satu bulan lebih belum kelar.

“Sekarang Handim di mana?”

“Sudah pulang ke Indonesia. Sekarang sudah menetap kembali ke rumah yang dulu. Ayahnya berbisnis di Indonesia lagi.”

“Oh, jadi begitu…” aku mengangguk mafhum.

“Hem, ini undangan untuk kamu, Kak.” Katanya yang lagi-lagi dilanjutkan memandangi laut. Semenjak kukenalkan kalau memandang laut yang lama membuat hati jadi tentram, ia sering memandangi perairan berwarna biru itu.

“Oke-oke. Jangan lupa aku jadi tamu istimewanya. Hahaha,” candaku yang garing.

“Itu harus. Eh, Kak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji sama temen.”

“Yup, hati-hati. Lalu, semoga pernikahanmu dengan Handim nantinya barokah. Dan sekaligus hubungan yang diridloi Allah.”

Sekali lagi, ia tersenyum. Senyum yang semakin manis. Semakin manis…

 

Kupandangi laut. Walaupun warnanya masih biru seperti dulu, rasa-rasanya ada yang berbeda. Tidak lagi meneduhkan. Tidak lagi menyejukkan. Ketika Alesia beranjak pergi, kupandangi kerudungnya yang berwarna ungu, pemberianku dulu. Ada lagi yang berbeda. Tak seperti biasanya. Ketika ia bahagia, justru sekarang aku yang resah. Aku yang sedih. Di hatiku semacam ada air mata yang maha luas seperti laut.

Tiba-tiba saja aku tak berminat menyelesaikan novelku tentang aku dan cinta itu.

Alesia tidak pernah tahu kalau aku mencintainya. Sejak dahulu. Sejak sebelum ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.***

 

Bantul, 1 Desember 2014

 

*Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Alumni MA Islamiyyah Sunnatunnur ini sekarang tinggal di Bantul, Yogya. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

email: armediandaruz@gmail.com

 

[Cerbung] Seperti Laut — Bag. I

Cerbung:  Daruz Armedian

Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.

Di sini, pertengkaran dimulai. Aku yang bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri. Pertengkaran itu dari dua insan. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang sedang membaca buku, sepertiku.

“Sya, ini salah kamu! Mengapa kamu tak menepati janji ke bandara kemarin pagi?!” teriak lelaki itu. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tidak tahu yang sejelasnya dia siapa. Barangkali mungkin pacar Alesia.

“Ha? Salah aku? sebagai laki-laki, harusnya kamu tahu. Harusnya kamu tuh, nyadar kalau aku memang benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Kan sudah aku sms!” bantah Alesia, perempuan yang identitasnya sebagai temanku. Bukan hanya itu, teman dekat. Bahkan dekat sekali.

“Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Jika aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku!”

“Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?” suara Alesia meninggi.

“Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si lelaki terpotong.

“Kamu seorang lelaki tak bisa menjaga hubungan. Aku sudah tahu segalanya. Jangan lagi mengelak. Aku sudah tahu kalau kamu selingkuh. Kamu—“

“Bodoh! Itu salah kamu. Harusnya kamu yang nyadar kalau aku juga butuh seseorang waktu itu.—“

Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.

“Kamu laki-laki cemen!”

“Apa katamu?” kata si laki-laki

“Kamu laki-laki cemen! Habisnya tidak pernah ngerti perasaan perempuan!”

Plak!

Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Alesia perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.

Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding di balik kamar kos Alesia. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.

Alesia menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.

Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.

Laptop kumatikan. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.

“Lelaki bajingan!” teriak Alesia yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi.

“Beraninya sama perempuan!” lanjut Alesia. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu. Judes.

“Kamu perempuan munafik! Kita putus!” suara itu menggetarkan. “Tak ada lagi hubungan di antara kita.”

Aku terus menyimak dan menyimak. Semakin kupincingkan telinga. Pada saat itulah…

“Oke, kamu, kamu, jangan per—“

“Jangan banyak omong!”

Prang!

Suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah lelaki yang di dalam kamar kos Alesia itu pergi. Setelah gelas pecah, kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.

Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat lelaki itu pergi setelah hujan agak reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Dengan langkah cepat menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos.  Orangnya sepadan denganku. Hanya saja dengan jaket tebalnya itulah yang membuat terlihat lebih gagah.

Seperginya lelaki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Alesia. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi nanti dulu setelah ia tenang dari masalahnya. Dari tangisnya.

Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Ah, ada-ada saja di dunia ini.

Alesia adalah tetanggaku. Ketika hendak kuliah di Jogja, ia dipasrahkan orang tuanya padaku. Mereka kenal betul denganku. Sebab rumahku dekat sekali dengan rumah mereka. Sedangkan Alesia sendiri, bukan hanya kenal betul denganku, tapi ia seperti adik.  Sungguh, ketika pelajaran apa pun, ia sering minta bantuan denganku. Ia bukan sekelas denganku, dulu. Tapi adik kelas di sekolahan yang sama. Sehingga, kadang-kadang aku dan dia sering berangkat bersama berboncengan.

Di sini, sebagai mahasiswa yang senior darinya, akulah yang harus menjaganya. Itu tujuan awal. Tapi, seiring dia mulai dewasa, dan sekaligus sudah bisa mandiri, aku juga harus mengerti. Setiap orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing. Meskipun begitu, aku masih selalu menjaganya. Walau tidak seperti dulu. Sebab orang tuanya telah berpesan seperti itu.

Yang membuatku masih dekat dengannya ada beberapa alasan. Pertama-tama, ia ngekos di samping kosku. Sampai sekarang masih di sini. Karena masih sering minta bantuan masalah kuliahnya. Kedua, ia sering pulang. Setiap bulan pasti pulang ke rumah. Maka dari itu, aku juga sering nitip sedikit uang agar diberikan pada orang tuaku. Begitulah kedekatanku dengannya. Harusya ada beberapa lagi, tapi hal tersebut tidak terlalu penting buat cerita pendek ini.

Aku duduk kembali. Suara sesenggukan Alesia sudah berhenti. Aku mulai beranjak menuju kamarnya. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.

“Sya,” panggilku pelan. Pelan sekali.

Alesia mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara. Tentu dengan isyarat mata juga.

Aku membuka pintu. Bau harum semerbak menusuk hidung. Memang seperti inilah tempat tinggal perempuan. Yang masih gadis, maksudku. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Buka. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.

“Kak,” ia angkat bicara. “Saat ini aku pengen sendiri dulu.” Terusnya pelan. Seperti panggilku tadi.

Aku menyadari itu. Sebagai mahasiswa psikologi yang hampir wisuda, aku memang harus seperti itu.

Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Alesia kembali berbicara. “Maaf, Kak.”

“Ya, Sya. Tenangkan dulu hatimu. Aku juga mau nerusin ngerjain skripsiku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.

**

Satu bulan berlalu.

Alesia masih seperti dulu. Tiap harinya dilalui dengan kelabu. Selalu murung. Setiap kali aku mendekatinya, ia bicara agar aku jangan mendekatinya. Ia masih ingin sendiri. Selalu begitu. Maka, kalau seperti ini terus. Akulah yang terluka. Entah apa sebab pastinya, aku tak tahu sekaligus tak mengerti.

Di pantai ini, langit sore cerah sekali. Biru-biru kemerahan. Atau merah-merah kebiruan. Aku rasa sama saja. Suasana seperti inilah yang kumau. Yang kutunggu. Apalagi sesekali ada sekawanan burung melintas, matahari yang condong ke barat seperti ingin menyelami laut dan memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Semakin menambah jadi sempurna.

Di sini, aku menunggu seseorang. Sebagai pembaca yang baik pada cerita ini, tentulah kau tidak perlu menebak-nebak siapa orang itu. Pasti akan aku beri tahu. Aku menunggu Alesia. Seseorang yang cantik dan tidak lupa menarik. Dan ini sudah menjadi perjanjian, dia akan menemuiku sore ini.

Bersambung….