–sambungan dari Bag-2
Lagi-lagi terjadi simpar-siur, apakah ini cerbung ataukah cerita mini seri. Tak ada yang tahu pasti. Namun harap maklum karena tulisan ini timbul dan terjadi di sebuah dusun sunyi di masa lalu. Di mana anak-anak perawan dan bujang konon belum mengenal lipstick dan gincu. Tapi bukan berarti karena tak tahu mana kulit mana isi lantas berlipstick menggunakan tai ayam atau berbedak pakai abu. Tidak. Mereka pun tetap berlagu. Kidung kasmaran, kidungnya parahyangan yang merdu. Saat malam terang bulan, mereka bermain di tanah lapang. Sementara rumah-rumah bilik diterangi pelita kelapa atau lentera. Begitu indah dikenang. Yang jelita, yang rupawan di masanya, suka-cita dan ceria warga di zamannya.
Namun suasana yang kerap membuai itu tiba-tiba lenyap tatkala malam-malam tanpa bulan, tanpa bintang, juga bilik-bilik tanpa lentera dan lampu kelapa. Suasana ceria itu tersulap aroma mistis, bayangan horor berkembang dan kental di benak-benak mereka.
Masalahnya, kalau tak batu terguling pada malam-malam tertetu, pasti yang didengar suara tangis.
Tangis itu seorang lelaki teraniaya. Tangis kesakitan yang melenguh panjang. Tangis kesedihan sekaligus kesaksian. Tangis yang tak sudi difitnah sebagai penghianat pada bangsa, negara dan agama. “Tidak. Aku bukan penghianat. Aku tidak berbuat macam-macam. Aku hanya sebagai rakyat biasa!” Barangkali begitulah yang hendak diutarakan dalam suatu sidang. Namun di sini tak ada sidang, keputusan terlalu cepat dibuat. Tanpa penyelidikan atau penyidikkan. Zaman memang tengah darurat.
Lelaki tertuduh itu bernama Kaswian. Disaksikan para anggota keluarga dan khalayak para pengungsi dan beberapa anggota pejuang di bukit itu. Bukit Kiarapayung. Suatu tempat yang terbilang aman untuk mengungsi jika terjadi konsfrontasi. Jadi tak mungkin ada peluru nyasar karena di sana-sini banyak pohon pelindung –termasuk pohon kiarapayung yang teduh, dan juga goa-goa. Kaswian, dalam hukumannya harus menggali kubur sendiri, tak diperbolehkan barang seorang pun untuk membantu. Lelaki itu terus mencangkuli tanah, mengangkatnya dengan sekop, kadang meratakan sisinya dengan tembilang .
“Biar semua tahu, begitulah cara penghianat mengawali detik-detik perjalanan hukumannya,” ujar seorang lelaki berpengaruh . Seorang yang dipercaya dari pihak pejuang sebagai ketua dalam acara yang menggetirkan itu. Para hadirin, hanya meringis menyaksikannya. Tak mampu berbuat apa-apa selain menonton.
Setelah selesai menggali tanah di kemiringan bukit itu, Kaswian disuruh berdiri membelakangi lobang tanah galian itu. Lalu seorang petugas mengambilkan tali khusus, yang di tengahnya telah dibuat kolongan, pas untuk dimasukan ke kepala terhukum. Setelah kolongan itu dipasang di leher, tali itu ditarik dari dua arah berlawanan. Bak suatu lomba tarik tambang.
“Lihatlah semuanya….inilah ganjaran bagi seorang mata-mata..!” kata lelaki yang memimpin itu, dengan komando berikutnya; “Satu….dua….tiga…tariiik….!”
Orang-orang hanya meringis. Kalau diperbolehkan banyak yang mau menangis. Namun di sini tak boleh menangis. Buat apa menangisi seorang penghianat. Menangis berarti akan kena hukuman yang sama, mau tak mau – suka tak suka, harus siap dijerat leher setelah sebelumnya menggali kubur sendiri. Namun menangis boleh saja asal memenuhi syarat, yakni harus berjanji dan bersumpah seyakin-yakinnya. Tangis di sini bukan tangis kasihan melihat korban. Tapi harus menangis sejujurnya bahwa tak akan sudi sedikit pun untuk jadi penghianat seperti Kaswian. Dan itu pun harus minta izin terlebih dulu pada yang punya kuasa di situ. Yakni para pejuang yang punya misi memurnikan negara ini menjadi bangsa madani. Isi perizinan itu, diantaranya harus berani berjuang melawan antek-antek penjajah yang saat itu memegang tampuk kekuasaan. Salah satu kesepakatan itu, paling tidak jangan menjadi penghianat dengan menjadi mata-mata seperti yang dituduhkan pada Kaswian.
Kaswian, lelaki itu. lidahnya menjulur keluar. Matanya mendelik, melotot terbalik. Perut dan otot-ototnya mengencang, kadang pula bergumpal-gumpal, melendung-lendung seperti balon mau meletus. Sekira nyawanya akan hilang, tali dari dua sisi itu diulur kembali.
“Bukan suatu hukuman namanya jika ia dibunuh terlalu cepat, biarlah dia merasakan siksa dan penyesalan atas perbuatannya sendiri,” begitu sang pembicara berujar. Sang tertuduh segera memburu nafasnya yang hampir hilang. Seraya berkata berat terpatah-patah; “bunuhlah aku..bunuhlah aku, biar lebih puas..”
“Haha…lihatlah dia telah menyadari perbuatannya. Dia telah menyadari dan tampak begitu sudi atas ganjarannya!”
Dan hukuman pun dilanjutkan dengan cepat. Leher lelaki itu dijerat kuat hingga tubuhnya terjengkang dan masuk kubur galiannya. Tanpa dimandikan, karena sang pengianat haram untuk dimandikan –apalagi disolatkan. Entah masih bernafas atau tidak, tubuh lelaki itu segera ditimbun dengan tanah. Tanah yang merah di bukit itu, tanah pengungsian di jaman bergolak. Konflik horizontal antara orang dalam dan luar. Yang pada intinya tak ada bedanya orang luar dan dalam , bagi rakyat tetap saja rakyat. Rakyat satu negeri, satu pulau, satu kecamatan, satu desa, satu lembur dan satu sumur –bahkan satu kasur.
Seperti apa yang dilakukan Kaswian, hanyalah sebagai rakyat biasa. Namun dari segi ekonomi terbilang berada. Artinya, walau berada di pengungsian ia masih bisa pergi ke pasar. Sekedar beli makanan dan tembakau. Pasar itu letaknya di dekat kecamatan, dekat dengan markas tentara. Dituduh penghianat, alasannya karena ia pulang membawa makanan kaleng. Yakin, itu dia beli dari pasar. Namun namanya juga jaman darurat, jaman bergolak. Mungkin saja yang namanya iri-dengki di pengusian itu ada. Mungkin ada yang melapor pada orang luar, orang luar itu –yang menurut versi penguasa dinamai gerombolan pengacau. Lelaki itu dituduh sebagai mata-mata dari penguasa, yang diberi imbalan makanan kaleng berisikan olahan daging. Gerombol yang menamakan dirinya pejuang kebenaran, makanan kaleng itu bukan makanan bangsa dirinya. Makanan itu makanan orang asing, begitu katanya. Maka, Kaswian, lelaki itu yang jadi korban. Ia terhukum. Terjerat. Terjengkang. Diduga lelaki itu saat dikubur masih bernafas. Jadinya, lelaki itu terkubur hidup-hidup. Di sebuah bukit, di dekat pohon kiarapayung, yang memang kerindangan pohon itu mirip payung.
**
Sampai negeri itu berubah. Sampai gerombolan pejuang kebenaran itu habis ditumpas, suara tangis di bukit itu masih sering didengar. Tangis seorang lelaki yang teraniaya. Tangis kesakitan. Tangis yang melenguh panjang. Tangis kesedihan yang tak berkesudahan. Tangis kesaksian bahwa dirinya bukan penghianat. Tangis penasaran dari zaman yang pernah bergolak.
Para warga di dekat bukit itu sudah maklum akan tangis itu. Yang biasa terdengar antara waktu magrib dan isya, pukul sembilan, tengah malam dan menjelang subuh. Semua menduga tangis itu muncul atas kematian Kaswian yang tak wajar, sehingga melonggarkan kesempatan setan atau demit bukit kiara payung untuk mengoyah iman manusia. Karenanya tangisan itu pun kadang muncul beragam, sesekali terdengar seperti tangis perempuan yang berakhir dengan tawa meringkik.
Namun yang lebih mencengangkan saat berikutnya ada suara gemuruh dari bukit itu. Braakk….bruuk….! guluduugg…borotokkk….gorobass….prraaaaakk…..!
Gemuruh yang terdengar itu suara batu-batu terguling. Mungkin sebesar kerbau atau sebesar truk lebih. Membetur sesama batu yang terlindas dan melabrak rerumpunan bambu. Braakk..! Bruuk…! Guluduuk…guluduuk…! bletok..karabyaak…!, begitulah. Bukan satu batu, tapi banyak batu. Setelah gulingan batu itu sampai di lembah dan hampir menghantam rumah warga, kejadian serupa kembali menyusul. Bahkan saat berikutnya petaka itu datang lagi.
“Ah, ini benar-benar terlalu!” ujar seorang warga seakan menyesali keadaan. Begitupun yang lainnya, mengeluh, berpikiran sama yang ujungnya menyudutkan seseorang. Siapa lagi kalau bukan Bah Madro. Lelaki bertubuh tambun itu yang selalu iseng mengganggu orang.
Betapa tidak, jika malam ada pejalan kaki yang lewat di jalan berbatu, di lembah sana, kalau tak melempar pasti menggulingkan batu-batu itu. Ulah itu sering dilakukannya, terutama saat-saat mondok di saung huma dekat kiarapayung itu. Barangkali keisengannya menakuti orang, agar dia dianggap demit bukit itu. Demit yang zaman sebelumnya kerap terdengar suara tangis lelaki teraniaya, tangis perempuan yang sebelum kemudian tertawa meringkik. Arwah penasaran berujud amarah dengan mengguling-gulingkan batu dari bukit pohon kiara. Mungkin terinspirasi dari itulah Bah Madro senang bertingkah, dan baginya seakan menjadi hiburan tersendiri.
Tapi kenapa mesti mengguling-gulingkan batu besar? Sebab dengan demikian, kesannya bukan horor lagi. Melainkan sebuah teror bencana yang mematikan.
“Ini sungguh membahayakan!” desis warga lain di sekitar lembah.
Dan bukan satu dua orang yang mengutuk ulah Bah Madro saat itu. Namun mereka tak ada yang berani mengambil tindakan, mungkin karena kejadiannya selalu tengah malam. Rasa malas mereka semakin menjadi tatkala kantuk berat selalu menyerang.
Sebenarnya, gemuruh itu bukan wujud nyata suatu bencana. Kendati diacuhkan pun tak akan menjadi persoalan. Untuk mengatasinya cukup dengan do’a atau keyakinan yang kuat. Sebab, manuver itu hanyalah ilusi belaka. Suatu ulah yang tercipta untuk menggoyah hati yang mendengarnya. Buktinya, di waktu siang jejak-jejak itu tak ada. Tak sedikit pun ada bongkahan batu, tak juga tampak bekas benturan atau rerumpunan bambu yang rebah. Tak ada sama sekali. Tak ada.
Yang ada cuma kisah masa lalu. Di jalan desa penghubung dusun itu dan dusun lainnya. Para anak bujang tiap menjelang larut malam selalu lewat, sekitar lima atau kadang sepuluh orang. Bernyanyi riang penuh guyonan, baik hendak atau pulang dari dusun tetangga tatkala mengintip bilik-bilik di pondok perawan. Mereka bukan sekali dua kali mendapat perlakuan iseng Bah Madro, yang tengah tunggu kebun di bagian atas bukit itu.
Sering ada lemparan, ya karena namanya juga iseng lemparan itu pun tak dikenakan. Benda yang dilemparkan itu tak cuma batu, kadang ubi, jagung bakar, kedodong atau degan. Memang saat pertama ada rasa takut, namun kejadian berikutnya kalau tak digubris kadang pula senang jika lemparan itu berupa makanan.
“Hahah…! Hahaha…hahahah..!” Bah Madro kerap tertawa manakala usai melakukan isengnya. Suaranya begitu besar dan menggelegar. Mungkin dibuat sengaja agar disangka demit Kiarapayung, yang menurut dongeng sepuh terkesan angker.
Namun keangkeran itu ternyata cuma resep meredam anak agar tak cengeng. Juga upaya melestarikan alam agar sumber mata air tak kering, dan pohon kiara itu tak ditebang oleh tangan-tangan jahil. Namun tak menutup kemungkinan, yang namanya makluk halus itu ada. Begitulah, barangkali Bah Madro merasa terinspirasi sebagai demit bukit Kiarapayung.
Bah Madro suka iseng, telah dilihat sendiri oleh Sarno –seorang cucunya yang pernah ikut mondok di kebun lelaki itu pada musim panen jagung. Benar, ladang jagung itu tak jauh dari rimba kiara. Di tempat itu banyak lutung, monyet, dan juga babi hutan. Pada musim itu Bah Madro merasa kewalahan. Selain bantu menjaga serangan binatang itu, juga hitung-hitung menikmati bakar jagung yang hijau segar.
Malam itu cahya bulan benderang, anak-anak bujang terdengar riang di jalan desa di lembah sana.
“Nanti saat pulangnya..” Bah Madro terkekeh menahan kegelian niatnya. Ia menunjuk sebuah batu besar, diperlihatkan pada cucunya yang berusia tujuh tahun itu. Anak itu pun ikut-ikutan menahan geli, dan tak sabar ingin menyaksikan bagaimana kisah seru yang dilakukan kakeknya.
Dan tak begitu lama, saat yang dinanti itu datang. Bahkan kesannya lebih awal dari biasanya. Kepulangan mereka dirasa cukup cepat. Yang biasanya kunjungan itu memakan waktu sedikitnya dua jam, ini sekira limabelas menit. Namun keheranan itu seketika lenyap tatkala ditemui suatu alasan. Mungkin saja ada gangguan, misalnya para perawan itu tak berangkat ke pondok karena sorenya terjadi hujan gerimis.
“Mari..kakek, bantu!” lelaki itu menyeret cucunya. Mengambil linggis, mendongkelnya. Begitu berat, namun berusaha sekuat tenaga hingga otot-otot lelaki itu tampak mengencang. Dan batu besar itu mulai terguling…gorobass…gorobass…dak..duk..brak..brek…prak…! Menggelinding ke lembah, ke jalan itu,, ke para anak bujang itu.
…
Aneh!?
Seperti ada keganjilan di sana. Biasanya usai aksi itu bakal terdengar suara langkah atau sorak-serai para anak bujang. Entah suara takut atau suara pura-pura takut, misal saling mempercepat langkahnya. Sebab, mereka sudah tahu yang menggulingkan batu itu bukan demit bukit Kiarapayung, tapi Bah Madro. Ini benar-benar di luar dugaan. Apakah yang lewat kawanan tadi itu bukan aslinya para pemuda kampung? Lantas siapa ya?, begitulah Sarno sempat heran.
**
Bah Madro, demit Kiarapayung, atau ilusi yang tak bertanggung-jawab, entah siapa sebenarnya yang menggulingkan batu malam-malam saat orang lelap. Malam-malam berikutnya menjadi tak jelas, simpang-siur. Mungkin karena kesiur angin, atau karena warga terlalu segan dengan pohon kiara yang kerap menunjukkan keperkasaan di benaknya. Bahkan, mungkin penguasa saat itu pun terinspirasi untuk menjadikan kiarapayung sebagai lambang partainya.
Dengan koloni rotan alas dan bambu, bermacam kedaka, binatang buas seperti ular cobra, macan belang atau tutul. Keluarga monyet atau lutung , para bajing, juga bermacam burung seperti elang, gagak, kangkareng, ciung, ketilang, jalak, dsb, termasuk pipit pun lengkap di situ. Kiarapayung laksana sebuah kerajaan rimba yang perkasa.
Sosoknya yang menjulang menggapai langit itu kerap dijadikan barometer para nelayan pencari ikan, misal apakah pelayarannya tak terlalu jauh menyasar atau tidak. Jika pohon itu masih terlihat, berarti perambahan laut masih dalam status wajar. Barangkali dari kepercayaan yang diakui warga itulah, Kiarapayung tetap menebar manuvernya. Yang jadi korban, tentu dusun terdekatlah. Dengan menuduh Bah Madro sebagai kambing hitamnya?
Bagaimana tidak. Batu-batu terguling, kadang disusul tawa terbahak. Kadang terdengar alunan seruling kidung kasmaran. Juga suara-suara wanita cekikikan, yang sebelumnya lolongan anjing sebagai penghantar suasana seram mencekam. Namun berita itu cuma isyu, kadang tak jelas alias simpang siur. Sebab, saat terjadi batu terguling –atau lemparan-lemparan iseng — seperti batu-kerikil, ubi jalar, singkong, pisang, pepaya, jagung, kedongdong atau daugan, kadangkala di ladang itu Bah Madro tak mondok.
**
Selama hamir 40 hari setelah kematian tragis itu, warga dusun tak ada yang berani keluar rumah. Terutama jika hari berganti malam, begitu magrib datang, tua-muda semua masuk ke biliknya. Karena rasa takut yang menyungkup di benak-benak mereka, untuk sekedar buang hajat atau kencing pun tak merasa sungkan walau cuma ditadah di ember. Biarlah, besok saja air dan hajat itu dibuang, begitu pikir mereka. Tak peduli bau pesing dan bau haluan botrok menyergap di rumah bilik mereka.
Begitu pun langgar-langgar mendadak sepi, tak ada solat berjamaah. Tak ada bacaan solawat nabi dan pepujian anak-anak mengaji. Aktivitas itu seakan berhenti tiba-tiba. Anehnya tak ada wejangan atau penyuluhan dari tokoh agama atau pemerintah setempat. Semua seolah terhipnotis dengan keadaan. Lampu lentera, pelita kelapa atau cempor tak ada satu pun yang dinyalakan. Dusun itu sepi mencekam. Malam-malam gelap bagai kuburan.
Bayangan horor itu memang terus menyergap pikiran mereka. Terutama setelah melihat kematian Bah Ado yang mengenaskan. Lelaki itu memang telah mati terbunuh. Namun entah siapa pembunuh itu, sungguh sangat misterius. Sepertinya pembunuh itu bukan manusia, sebab luka di bagian belakang kepala itu bukan bekas senjata tajam seperti golok atau sejenisnya. Luka yang menganga itu bekas tancapan kuku tajam yang meruncing. Orang menduga, karena lukanya bekas kuku harimau, yang membunuhnya itu pasti harimau atau siluman harimau. Namun entahlah.
Yang jelas di pagi buta geger. Istri mendiang tak tahan dengan keadaan, tangisnya meledak dan meraung-raung seraya mendekap seorang yang tak berdaya. Darah segar tercecer di dekat pintu masuk dan sampai ke tengah rumah. Bahkan tak sedikit yang muncrat ke bilik.
Tersiar kabar yang membunuh lelaki itu adalah seorang wanita. Tanda-tanda yang mengarah ke situ memang ada. Beberapa saat sebelum kejadian itu, beberapa warga yang terlintasi jalan setapak di depan rumahnya mendengar suara wanita seperti tengah cekcok dengan Bah Madro.
Bahkan seorang bercerita, ketika malamnya lelaki itu nganjang ke rumahnya. Entah kenapa sang korban seperti gelisah. Apalagi setelah di luar ada suara seorang wanita seakan memanggil-manggil nama lelaki itu.
“Tunggu sebentar,” kata Bah Madro yang saat itu tengah menikmati kopi. Walau tampak sungkan ia segera permisi ke pribumi hendak memenuhi panggilan itu, yang diduga tuan rumah adalah istrinya Bah Madro.
“Ditunggu sejak tadi, kok,” terdengar percakapan oleh tuan rumah. Selanjutnya tak tahu karena keduanya semakin menjauh. Ya, mungkin itu tadi, para tetangga yang jalannya terlewati.
Bah Madro seakan cekcok dengan seorang wanita. Namun percekcokkan itu berubah menjadi teriak kesakitan seorang lelaki yang disusul suara tawa meringkik seorang perempuan.
“Hihihi…Hihihi…!” Begitulah. Ada yang menduga, wanita itu istrinya Bah Madro. Mungkin istrinya yang lain dari bukit kiara payung. (*)

