Kakek Penjual Cendol

by Iwangendut

Setiap berbisnis, apapun bentuknya P Place (Tempat) akan menjadi faktor utama keberhasilan bisnis tersebut.
Tidak sembarang tempat bisa dipakai untuk lokasi berbisnis, berdagang.  Harus benar benar tempat yang strategis yang dipilih. Apalagi untuk para pebisnis dari China…ada hitungannya. Hoki,…apa tempatnya mempunyai HOKI.
Harus dilakukan survey terlebih dahulu….
Bahkan berani membayar berapapun ” tempat itu”
jika diyakini ….”NANTI” akan.memberikan keuntungan secara materi….

Standby ditempat yang strategis
Stay ditempat yang mudah dijangkau
Berada dikawasan “segi tiga emas”..menunggu customer datang.

Lain sekali bedanya. Bak bumi dengan langit….

Kakek Penjual Cendol sederhana itu mempunyai latar belakang yang berbeda.

Meskipun sudah tua, ia tetap berjualan cendol keliling.

Ia tidak mau menyusahkan anak anaknya, apalagi orang lain. Ia merasa masih mampu berjualan, maka itulah yang dilakukannya.

Sebenarnya lebih enak berjualan disuatu tempat tertentu (Place) Lokasi yang bagus…Anaknya bersedia menyewakan Kios untuk nya.

Tapi kakek tua itu mempunyai pandangan dan pemikiran berbeda. Walaupun berjualan cendol kelilingan dengan hasil tidak seberapa…namun ia dengan tekun dan iklas dan bahagia menjalani.

Di sisa usianya ia akan tetap berjualan keliling karena dengan keyakinan ALLAH menurunkan rezeki dimana saja. Oleh karena itu ia akan dengan yakin ” menjemput ” rezeki itu.

Rutinitas itu ia anggap sebagai kewajiban ikhtiar baginya..

Seperti beburungan dan makhluk lainnya yang telah dijamin rezekinya sama Allah
…tetap berburu menjemput rezeki….dimanapun tempat ..berada?

Place yang tepat adalah keniscayaan.

Puisi puisi Arif Tunjung Pradana

Perpisahan

namamu begitu manja saat letupan suara memayungi rintik hujan; mengenang kepergian. barangkali kematian adalah pengingat, bahwa umur tidak harus usai dengan semestinya. kemudian angin memecah serangkaian perjanjian yang tak pernah berhenti;  hilang dan timbul secara tiba-tiba disertai air,  hembusan, dan pilu yang menyetujui adanya perpisahan.

 

Hujan

Hujan adalah ruang pesan tanpa kata dari  langit. Tulus dan ikhlas menyusuri setiap pasang anak mata yang kehilangan induknya. Ia tak kenal dengan hitungan waktu mundur yang kian mendesak,

namun ia paham bahwa ada pilu yang harus segera diselamatkan.

 

Puisiku

Puisiku menggertak, menuntut

atas orang-orang yang pernah hidup

dalam rahimnya.

 

Sinar Mata

Matamu berpendar menghitung mundur sang waktu. Ketika sepi dan hujan saling bertautan di beranda rumah.Sinarmu lirih diatas lorong waktu yang semakin menepi. Apakah kau akan kehabisan sinar, saat jari-jariku akan menggenggam hangatmu?

 

Selepas Hujan

selepas hujan reda ia menanggalkan mantel yang mengikat menggigil sepanjang suara gemuruh terus mengalir melewati sela-sela urat nadi. jalanan yang berlumpur membayangkan pertemuan dengan tapak derap langkah yang selalu meninggalkan jejak saat ia mulai memasuki hutan. tiba-tiba ia membakar denyut nadinya sendiri dengan kobaran hujan yang terus mendera rasa ketakutan dengan begitu nyaring. matanya terpejam setelah hujan tak satu pun menyentuh pipinya.

“Berikan aku tetes hujan untuk malam ini saja, agar aku bisa menyamar”. Ucapnya lirih dengan luka dalam.

“Baiklah,  tunggu sebentar”.

 

Mengapa Jari-jari Jendela Terus Terbuka?

kemudian ia begitu usang dan menghibur ketika lonceng mulai berbunyi dalam kekekalan malam yang semakin memanjang. ruangan yang sangat gaib dan hampa dicerca penuh rahasia, bergoyang-goyang tanpa menyebut nama anak kecil yang bertemu saat hujan terus menembus rongga dada yang menganga. kutanyakan “mengapa jari-jari jendela itu terus terbuka?” “agar aku bisa masuk tanpa permisi ataupun agar kau sadar bahwa hujan sudah sejak lama berubah” jawab siapa.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi Iwangendut

Iwan Setiawan atau lebih dikenal Iwangendut

 
 
 
 

SENJA UNTUKMU

Ra, seperak kemilau pantaimu
Angin dan ombak
Ditingkah ceritaan beburungan
Menandai sebentar lagi
Senja akan turun
Bola merah bersiap di kaki cakrawala
Udara menyejuk, langit berubah warna

Ra,
Ku ingin kau selalu ingat
Bahwa di setiap senja
Ada cerita antara
Aku dan Kamu

 

 

RINDUKU

Ra,
Senja di sini
Mengingatkan ku pada mu
Rindu mengental dalam
Lewat senja ku cari wajah mu
Karena ku yakin
Di mana pun kau berada
Senja adalah tempat terindah
menguntai benang merah ikatan asmara

Walau jarak
Memisahkan kita

 

 

SENJA UNTUKNYA

Lelaki itu berdiri seperti siluet berlatar belakang senja muram di kaki cakrawala.
Tubuhnya ramping , dengan geriap rambut liar diusik angin pantai mendesir liar.
Tatapannya saga dan kosong. Memandang batas terjauh, mengulik senja misteri.

Sekian lama , ia berdiri mematung,
menyesap matahari istirah tanpa berpaling
Udara dingin, langit turun tirainya.

Ia tetap mematung, menanti bulan muda.

##

Lelaki telah berkaca di temaram malam
di telannya sisa rembulan disudut jalan sana
Hilanglah seri nya tinggal gulita
Lelaki bergeming diraupnya gemintang
melenyapkan saksi
menderas malam di ujung penantiaan

 

Iwangendut adalah nama populer dari Iwan Setiawan, selain menulis puisi ia pun semangat  pula dalam menulis prosa seperti cerpen, cerbung silat, baik itu kisah klasik maupun modern. Selain itu sebelumnya si Bapa muda ganteng perkasa ini sering pula main teater yang merangkap penulis naskah dan juga sutradaranya. Saat ini berdomisili di Kota Bekasi, Jawa Barat

Ambiguitas Politik Baliho

Opini

Oleh Asep Salahudin
Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Barat

 

Tentu saja bagi calon bupati, walikota, gubernur atau anggota dewan ada banyak cara untuk mempromosikan dirinya agar dikenal khalayak. Salah satunya lewat baliho. Maka menjelang musim pilkada (pemilihan kepala daerah) sepanjang jalan dan di ruang publik kita temukan baliho dan spanduk itu.

Bahkan tempo hari saya ke luar daerah, teryata jalan ke kuburan pun, masih sempat dikepung wajah-wajah calon kepala daerah. Tentu mereka paham jenazah tidak mungkin masuk ke TPS, tapi minimal harapannya para pengantarnya sepulang dari kuburan masih terpatri dalam ingatan mereka tentang poto poto itu.

Sejauh mata memandang, sejauh itu pula kita melihat banyak wajah yang memimpikan sekali tampuk kekuasaan dan memohon belas kasihan suara massa. Kebanyakan dari bahasa tubuh dengan sorot mata yang khas nampak sekali keinginan kuat untuk merebut dan bagi petahana mempertahankan kursi kekuasaan atau terwariskan kepada istrinya. Apalagi ditambah kata-kata yang kebanyakan nyaris tidak kreatif, klise, dan bombastis. Karena biasanya yang pintar bikin kata-kata adalah para penyair sayang kebanyakan dari mereka tidak punya buncahan libido memburu kursi bahkan cenderung memunggungi kekuasaan. Dalam konteks ini tidak berlaku sama sekali Sabda Nabi yang meneguhkan bahwa kekuasaan jangan diberikan kepada mereka yang memintanya sebab dipastikan akan berkhianat. Mungkin sabda Nabi dan petuah moral semacam itu hanya cukup sebatas mimbar Jumat atau khutbah di Gereja.

Di banyak baliho tidak sedikit gambar itu disandingkan dengan ketua umum partainya dan atau tokoh yang dipandang punya kharisma untuk mempengaruhi pikiran rakyat. Ini bukan hanya persoalan absennya kepercayaan diri tapi semacam siasat “ngalap berkah” kepada sosok yang punya “kekuatan” dan bisa menghidupkan mesin partai. Ternyata “keberkahan” tidak saja berlaku di dunia tarekat tapi justru di semesta yang paling profan: politik. Cium mencium tangan bukan saja saya temukan ketika murid/ikhwan bertemu dengan mursyidnya namun juga saat kader partai berjumpa dengan ketua partainya. “Tawasul” itu yang sangat konkret dan kita tidak pernah menyebutnya perilaku bidah malah terjadi ketika seseorang ingin dipertemukan dengan sosok-sosok yang dianggap the king makers dalam penentuan kekuasaan.

Mendatangi pesantren

Ternyata tidak cukup sebatas itu. Untuk meraih suara sebanyak-banyaknya (keinginannya satu putaran), dikunjunginya para tokoh masyarakat baik tokoh adat, ketua perserikatan, suhu paguyuban, ketua kopertais/kopertis, penyanyi terkenal, dai kondang, preman pasar, jeger terminal, atau siapa pun juga. Tentu tidak mungkin sowan sambil tidak membawa apa-apa. Ada sesuatu yang harus dibawa sebagai “oleh-oleh” yang dapat menjadi daya pengingat dan hubungan itu terus permanen sampai ke bilik suara.

Tidak terkecuali para kyai di pesantren. Mereka dianggap sosok yang punya pengaruh besar terhadap santri dan jaringan alumninya yang tersebar di banyak tempat. Bukan hanya NKRI yang harga mati namun juga pesantren dan kyainya harga mati yang niscaya disinggahi dalam setiap ritual pilkada. Apalagi dalam sejarah politik Nusantara, kyai adalah figur yang punya kemampuan menjembatani kepentingan vertikal kekuasaan dengan persoalan horizontal kemasyarakatan. Kyai tidak saja menjadi konsultan keagamaan masyarakat setempat tapi juga “penerjemah” fasih persoalan sosial, kebudayaan termasuk politik warga. Kepada kyai dimintakan pendapat mulai dari masa depan karir politik sampai urusan jodoh dan doa agar harmoni ketika mengambil pilihan untuk poligami.

Maka dahulu sosok kyai sangat ditakuti kaum kolonial karena dianggap dan terbukti mampu menggerakkan masyarakat sekitar untuk melakukan perlawanan kepada mereka dengan solid dan padu. Salah satu kelebihan (sekaligus kekurangan) para kyai melakukan semua tindakan politiknya itu dengan menggunakan tema-tema keagamaan. Sebut saja misalnya jihad fi sabilillah, demi tegaknya syariat islam, amar makruf nahyil munkar, terselurkannya aspirasi umat Islam. Dan kata Ibnu Kkaldun, sosiolog kelahiran Andalusia, tidak ada yang paling mampu memobilisasi massa kecuali dengan mengerahkan sentimen keagamaan bahkan tidak sedikit orang rela mempertaruhkan nyawanya atasnama keyakinan agamanya.

Kalau ada orang menyimpulkan bahwa dunia pesantran lekat dengan urusan akhirat dan kyai hanya melulu berbicara ibadah, bukan hanya keliru namun menunjukkan secara telanjang kepandirannya. Inilah yang dahulu dibilang almarhum Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pesantren sebagai sub kultur. Pesantren sebagai agen kebudayaan. Di tangan kyai –meminjam istilah van Peursen– yang mistik dan teknik dipadupadankan.

Sebuah usaha

Tentu tidak ada yang salah dengan kunjungan langsung atau lewat baliho itu. Namanya saja usaha. Dan atau niatkan saja sebagai bentuk silaturahmi dari calon pemimpin dengan warganya. Persoalan kelak setelah terpilih warga tidak lagi disapa, ini hal lain. Di negara kita, politik seringkali dimaknai sebagai urusan lima tahunan bukan persoalan harian. Maka jangan heran kalau demokrais yang dirayakan baru sebatas elektoral-prosedural, belum menyentuh sisi substansialnya. Yang terakhir inilah yang salah.

Demokrasi sebatas sejauhmana kita menggunakan hak pilih. Selesai kartu suara itu dimasukkan, maka politik berhenti di kotak suara. Terkunci di sana. Nyaris selama kekuasaan berjalan sepanjang lima tahun tidak ada kontrol dan akuntabilitas memadai dari yang terpilih dan warga nampaknya juga adem ayem dengan kepala daerah dan anggota dewan pilihannya. Coba simak, misalnya, tidak sedikit janji-janji Gubenrur Jawa Barat misalnya saat kampanye yang belum ditunaikan, tapi kepala daerah itu tidak merasa terbebani dengan seluruh janjinya itu apalagi juga segenap warga tidak ada yang mempertanyakannya. Warga nyaris menjadi pihak yang pasif dan segala urusan yang menyangkut dirinya ridak pernah dikaitkan dengan kebijakan pemerintah. Saya belum pernah melihat warga di Jawa Barat selama kepemimpinan Ahmad Heryawan berbondong-bondong ke Gedung Sate meminta pertanggungjawaban janji-janji politiknya yang tidak direalisasikan. Malah anehnya tempo hari warga lebih bersemangat datang ke Jakarta mendemo Gubernur DKI padahal punya hak pilih juga tidak kecuali sekadar termakan isu sentimen keagamaan yang dimainkan kelompok tertentu secara tidak bertanggungjawab dan dikemas konsultan politik yang berpikiran pendek.

Atau mungkin janji dalam konteks politik di negara berkembang seperti kita adalah sesuatu yang sejak dalam pikiran tidak harus ditunaikan. Janji adalah ucapan verbal sebagai gula-gula untuk memikat massa dan sema sekali tidak ada hubungan simboliknya dengan upaya merealisasikannya. Janji menjadi semacam komunikasi yang tidak mengandung pesan apa-apa kecuali sekadar dusta. Keterampilan menyuarakan kebohongan seolah kebenaran.

(sumber: Akun Fb Asep Salahudin, Media Indonesia/opini – Kamis 04 Januari 2018)

[Cerpen] Si Bayangan

Oleh: Iwangendut

Kecepatannya tidak dapat dilihat oleh mata telanjang lagi. Oleh karena itu, ia lebih dikenal sebagai si Bayangan. Sosoknya tinggi langsing. Wajahnya cukup tampan bagi ukuran landak.

Kostum yang dipakai serba hitam, yang membuatnya semakin samar dilihat.

Matanya kemerahan bening bersorot tajam. Hidung mungil tinggi, dengan mulut yang terkatup rapat. Ia adalah landak yang sedikit bicara, banyak kerja.

Mempunyai kecepatan gerak, melebihi kecepatan suara. Tubuhnya kuat. Ia juga mampu terbang.

Didunia landak Negeri Fantasi ia adalah salah seorang pahlawan super. Yang selalu membela keadilan dan menumpas kejahatan.

Ya, seperti kejadian di Mall malam itu….

Mall begitu padat pada hari Sabtu. Cyrcum Mall adalah mall terbesar di dunia landak di Negeri Nun Jauh. Lampu benderang disetiap sudut mall. Suara musik berdentum tanpa henti.

Landak landak berlalu lalang, hilir mudik, ada yang berbelanja ataupun hanya berjalan jalan mengisi malam panjang di akhir minggu.

Disebuah sudut Restoran Cepat Saji yang ramai pula. Satu meja lebar dengan 4 kursi di tempati oleh Keluarga Profesor Smart Setiawan. Malam ini adalah pesta ulang tahun Puteri Sulungnya Lintang. 5 November 2030. Genap 16 tahun.

Lintang adalah landak yang cantik menawan. Wajahnya halus dihiasi mata biru kehijauan yang besar, hidung mungil mancung, dan bibir merah nan mungil.

Tampak bahagia malam ini.

Didepannya semangkuk es krim Mocca tinggal setengah. Disampingnya adalah adiknya Canna berbeda dengan kakaknya. Walaupun berwajah cantik, namun kecantikan tersamarkan dengan kaca mata lebahnya yang cukup besar. Menyembunyikan keindahan matanya. Dan sikapnya sangat serius. Berbeda juga dengan Lintang, yang berwatak santai.

 

Canna sedang menikmati semangkuk es krim Vanilla. Mama Deity tampak cemerlang dengan dandananya yang sempurna, disampingnya Papa Smart yang asyik dengan Semangkuk Sup Makaroni Ayam. Sudah lama sekali, keluarga ini bisa berkumpul seperti ini kembali.

Karena kesibukan yang tiada henti dari Papa Smart.Yang telah berhasil dengan penemuannya yang spetakuler. Enzim Super Sonic nya yang mampu merubah landak biasa menjadi landak super. Dan Bayangan adalah landak hasil eksperimennya.

Malam semakin cemerlang, suasa pesta pribadi sangat memuaskan.

Namun tiba tiba….

Kejadiannya begitu cepat. Landak berpakain hitam panjang yang melintas disamping meja Profesor Smart, meloncat sigap ke arah Lintang. Sambil menodongkan pistol berperedam ke kening Lintang.

Kejadiannya cepat sekali….hitungan detik…Mama Deity belum sempat berteriak…karena Dengan isyarat yang jelas..kalau terjadi keributan.

……….

Si penjahat berpakaian hitam itu tidak akan segan segan membunuh Lintang.  Sedang Canna berhasil dipeluk dan dilindungi Papa Smart.

Dan pengunjung restoran yang lain tidak berani melakukan tindakan gegabah. Ternyata disudut sudut restoran itu, telah dijaga oleh kawanan penodong itu.

Dengan todongan pistol dikening, Lintang diseret mendekati Papa Smart.

Salah satu kawanan penodong, memisahkan Papa Smart dengan Canna. Kemudian bergegas  mengikuti penodong pertama menuju lorong pintu keluar Mall. Papa Smart dan Lintang di culik oleh kawanan penodong itu.

Setelah tidak terlihat keduanya, Mama Deity berteriak histeris sambil memeluk Canna.

“Penculikkkkk…..,” teriaknya membuat heboh restoran dan Mall….setelah berteriak Mama Deity menjadi shock dan pingsan.

Bersamaan datangnya keamanan Mall yang muncul terlambat.

Pesta ulang tahun yang berakhir petaka..

**

Di semua media televisi, di media sosial, penculikan Prof Smart dan anaknya menjadi topik dan perbincangan. Hingga berita itu sampai kepada si Bayangan.

Ia sedang minum kopi di Coffe Shop Robusta, sangat terkejut. Buru buru disesap habis kopinya, di bayar dan melesatlah ia ke Restoran tempat kejadian mencari informasi..

Beruntung lah ia telah disiapkan suatu alat seperti chip mikro yang dimasukan didalam jam tangan oleh Prof Smart. Alat itu selain untuk memantau keadaan vital tubuhnya, juga bisa mengetahui posisi keberadaannya. Demikian juga sebaliknya bisa menjadi sinyal keberadaan Prof Smart.

Dengan diam-diam sambil melakukan pekerjaannya untuk membuat Enzim Super Sonic, Prof Smart berhasil mengirim kode SOS pertolongan kepada si Bayangan.

Jam tangannya bergetar dan layar kecilnya menampilkan pesan …SOS…dan posisi dimana Prof Smart disekap.

Setelah dengan cermat dipahami pesan itu….melesatlah Si Bayangan ke angkasa…melalui jalur udara..ia akan menyelamatkan Prof Smart dan anak nya Lintang.

*

Di tempat penyekapan. Lintang dan Papa Smart ditempatkan terpisah. Lintang diluar laboratorium di jaga 3 landak yang berpakaian hitam dengan senapan mesin ditangan..siap siaga.

Papa Smart ditemani Boss Penculik Mr X yang dengan serius memperhatikan Prof bekerja.

Dari meja tempat Laptop yang digunakan menghitung formula. Dan bolak balik ke meja lebar tempat mencampur formula. Diatas meja penuh gelas gelas dan tabung tabung kaca..berisi cairan beraneka warna hasil eksperimen.

Kelihatannya Prof Smart bekerja serius dan bersungguh sungguh. Padahal ia hanya mengulur waktu menunggu penyelamatan oleh Si Bayangan. Untung saja Mr X bisa dikelabuhinya.

*

Ada bayangan berkelebat tiba, dua landak penjaga dipintu gerbang gudang penyekapan, terbanting pingsan. Dan disitu telah berdiri landak tampan tinggi langsing dengan gagahnya. Si Bayangan.

Kembali melesat kedalam..membuat kegaduhan kecil sebagai pancingan. Suara gaduhnya terdengar sampai dalam.

” Bram…coba kau lihat ada apa itu,!” Max si Landak berbadan besar, memerintah landak kecil kurus Bram, melihat situasi.

Bram dengan berindap indap keluar ruangan. Diangkat senapannya lurus siap siaga. Mengintip hati hati…

Di lihatnya bayangan hitam berkelebat..dilepaskan tembakan…

” Te tet..teretet..tet..tet,” tembakan menggema menghantam dinding gudang.

Meleset…luput dari sasaran.

Bersiap melepaskan tembakan berikutnya, Bram merasa bayangan berkelebat ke arahnya….dan dirasakan pukulan tangan yang besar menghantam rahangnya.

Kemudian disusul..pukulan samping tangan menghantam telak tengkuknya.

Hasilnya Bram pingsan dengan sukses.

Suara tembakan membuat Max dan satu kawannya menghambur kedepan..melepaskan Lintang dari pengawasan.

Lintang berlari bersembunyi, ditempat yang aman. Menunggu perkembangan situasi. Namun dari tempat sembunyinya, ia bisa melihat apapun yang akan terjadi di depan.

*

Kembali ke Si Bayangan….

Max dan Pedro berindap hati hati kedepan. Syaraf mereka menegang…syuutt…sebuah bayangan berkelebat menendang pantat Pedro. Yang langsung tersungkur mencium lantai. Senapannya terpental memuntahkan peluru tidak beraturan kesegala arah. Berdecing, memantul terkena tiang besi dan sebagian terbenam didinding tembok yang terkena.

” Auu…! Tret….tret..tet..tet,”!! Senapan Max menyalak, mengejar bayangan hitam yang begitu cepat bergerak. Dimuntahkan semua pelurunya..meleset dan berpantulan balik…salah.satunya pelurui itu mendesing menghantam bahu kanan Pedro.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, nasib si Pedro.

Max ternyata sudah kehabisan peluru. Dengan kesal, dibuang senapannya.

Max, berdiri ditengah ruangan, berkacak pinggang. Teriaknya menantang.

” Hai…kunyuk…jangan hanya berputar putar saja. Pengecut…,” makinya kesal.

Srett…..

Si Bayangan berdiri tenang, mulutnya terkatup rapat. Menunggu Max bertindak.

“Hah…landak degil rupanya, kau. Nih..terima pukulanku, Bet..bet…hiaaat,” tiga pukulan dan tendangan beruntun dilepaskan.

Tanpa menggunakan kekuatan supernya, Bayangan meladeni serangan Max dengan tenang.

Pukulan dan tendangan ditangkis dengan manis oleh Bayangan.

Jual beli pukulan dan tendangan dilepaskan silih berganti. Beberapa kali pukulan dan tendangan Bayangan menghantam Max. Wajah dan badannya sudah bengkak memar. Darah mengalir dari ujung mata dan bibirnya.

” Puaah…! Srett….!” sebuah belati berkilat tergenggam di tangan kanan Max. Sapuanya berdesing di udara..menusuk dan membabat kearah tubuh Bayangan.

Dengan lincah, dan trengginas dielakan dan dimentahkan serangan belati Max.

Max berkelahi sambil menyumpah serapah, setiap kali serangannya dipatahkan, dan dirinya malah mendapat pukulan dan tendangan Bayangan bertubi tubi.

Hingga suatu saat..ketika Bayangan meloncat sigap sambil meluncurkan pukulan kiri kanan, hook..upper cut…swingg…bergantian datang bagai badai…dan Hiaat….

Telak tendangan kaki kanannya menghantam dada “…huakkk…,” darah segar meloncat dari mulut Max disusul pukulan uppercut..telak menghajar dagu Max…Max terjajar ..terhuyung…jatuh menabrak dinding.

Bayangan melakukan aksinya tanpa suara. Tatapan matanya juga tidak berubah. Tetap tenang.

Cool…very cool,” batin Lintang yang dengan jelas melihat perkelahian itu.

” Ha…ha…ha…jangan mendekat. Kalau tidak akan kubunuh Profesor…,” ancam Mr X sambil menyandra Profesor dengan todongan di kepala yang muncul didepan gudang.

Lintang terkejut..dan ketakutan.

Bayangan melihat sekilas ke arah Lintang. Memberi isyarat untuk tenang. Bayangan dengan tatapan tajam, mengawasi gerakan Mr X…mencari celah kosong ..untuk..

” Wuut,….!!!” dengan kecepatan penuh Bayangan bergerak…tanpa ayal lagi…

” Brakk…..;!!..tubuh tambun Mr X terpental, segera diangka dan dipantek ke dinding..baju tersangkut di belati Max…tergantung gantung pingsan.

Dan sekali lagi berkelebat, tubuh Prof Smart dan Lintang sudah dibawa terbang..

***

Pesta.

” Happy birthday…happy biryhday…happy birthday to you..Lintang,” suara nyanyian selamat ulang tahun menggema dan tepuk tangan suka cita , bergemuruh diruang pesta.

Semua terlihat bahagia. Demikian juga Lintang. Dengan wajah cantiknya yang cerah..dan mata beningnya mengerling ke arah Bayangan yang berdiri disudut.

Diberikan senyuman yang paling manis kepada Bayangan.Dengan penuh cinta dan damba.

Bayangan hanya ,” Hmmmmmm,”!! []

  • Selamat ulang tahun anak ku tercinta…ini cerita untuk mu sebagai hadiah ulang tahunmu.
  • Selamat ulang tahun yang ke 13
  • Semoga jadi anak yang pintar dan sholehah.

______________________________________________

Iwan Setiawan, lebih dikenal Iwangendut, mungkin karena tubuhnya yang benar-benar gendut. Waktu mudanya selain pemain teater juga penulis naskah dan kadang juga jadi sutradaranya. Lelaki yang pernah menimba ilmu di STIE Jagakarsa Jakarta di tengah kesibukannya mengelola Koperasi Mitra Sejahtera kini jiwanya tergugah kembali untuk menekuni dunia kreatif yang sempat tertunda. Terlebih,  dalam sesi terkini ia selain menulis cerpen dan puisi, ia lebih mendalami cerita silat seperti “Jari Sakti Menusuk Matahri” salah satu karya populernya yang telah terpublish di Wattpad

 

Teteh Penjual Kopi

 
 Oleh: Iwangendut

Bicara tentang keberhasilan suatu produk sebagai komoditi (dagangan) tergantung banyak faktor. Secara ilmu marketing, keberhasilan penjualan produk bisa karena, penetapan P4 yang tepat. Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat)  dan Promotion (promosi). Juga bisa mempertimbangkan analisa SWOT. Strenghts (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Oppurtunities ( Peluang ) dan Treats (Ancaman). Meramu secara tepat Strategi Pemasaran.

Ahhh…..begitu kompleksnya turunan dari permasalahan diatas. Kita pasti yakin bahwa

Teteh penjual kopi…tidak akan memakai semua tetek bengek diatas.

Ia hanya berjualan dan berjualan saja. Menjual produk yang menurut pemikirannya , orang membutuhkan produk tersebut. Belanja dari Toko besar, dijual kembali dengan mengambil keuntungan sekedarnya. Sewajarnya.

Setiap pcs dagangan yang laku disyukuri. Setiap keuntungan disyukuri dan diterimanya. Dengan senang hati dan tawakal.

Syukur dan narimo ini lah..yang bisa menjungkir balikan semua teori diatas. Teori yang disandarkan pada keberhasilan secara materi, kebendaan

Materialisme saja.

Tapi yang menjadi pembeda adalah kemampuan menerima keuntungan yang tidak seberapa, dengan syukur dan “nerimo” sehingga untung yang “kecil” menurut kacamata kita itu, sebenarnya mempunyai “Kekuatan besar”, added value, ..yang namanya berkah.

Tidak memikirkan quantitatif (jumlah), namun mementingkan Qualitas (mutu).

Dengan syukur semua berkah mengikuti dengan sendirinya.

Sehingga setiap penjualan yang terjadi, otomatis memberikan kekuatan berkah…

Dan apabila dilihat secara hasil akhir…

Walaupun hasilnya sedikit akan Terlihat Banyak Karena Fadillah Berkah Tersebut.

Teteh Penjual Kopi menyadarkan semua lakunya kepada pemilik berkah yaitu Allah Yang Maha Kaya.

Ide Ngawur Sekadar Memecah Kebekuan Dalam Latihan Nulis Fiksi

Oleh Otang K.Baddy

Karena tak mampu baca karakter, cukup saja kamu berlebay, merengek, pura-pura tergila padaku, sebelum kemudian menjebakku di perempatan jalan Rongewu. Satu tempat, arena kebal jiwa fiktif buatanmu. Oke, oke, Rustamah. Permainan kartu lusuh atau catur yang tengah kita mainkan. Bermain secara liar maupun beradab terserah mana suka. Yang penting imajinasimu bisa liar.

Oke, oke Rustamah –aslinya mungkin bisa saja Karwati, Kartamsah atau tak mustahil Kaswijan. Mau wanita sange atau lelaki pratpretprot yang muruput  –abaikan dulu soal kejujuran, karena kejujuran kadang tercetak pada poster atau baliho para politisi yang kerap terpasang tepi jalan raya, tempat strategis atau di kalender dan kaos. Ya, kadang terkesan menggelitik pokoknya. Betapa tidak, bedak dan gincu di muka yang mereka reka tak pelak dari 50% resfondes dapat terpedaya. Apalagi jika ditambah senyum santun bersahaja. Wow selain agamis kesannya menunjunjung budaya para leluhur yang bersahaja dan madani.

Baiklah, sekarang aku mulai berangkat dengan muka badak. Mungkin karena terlalu larut membayangkan wajahmu, jenis kelaminmu, jengjang leher dan dengus napasmu saat beradu nanti, kepalaku sempat terbanting di pintu bus. Dakk! Demikianlah sampai mulutku cerawak. Untungnya para penumpang tak ada yang tahu saat kutu-kutu dari batok kepalaku berloncatan ke kepala mereka. Beberapa lembar uban tersangkut di engsel bus. Biarkanlah suasana ngawur dan liar. Dimana satu penokohan aku yang terjerat oleh Rustamah, tokoh yang dibuatnya sendiri.

Namun aku berharap. Semoga kau benar Rustamah, bukan Kartoji atau Kaswijan yang sengaja bikin akun palsu dengan nama wanita cantik elegan. Soal daki, jarang gosok gigi, penyuka sambal terasi dan jengkol, tak berjilbab, tak ngerti budaya arab dan eksim di atas lutut, tak perlu dipermasalahkan. Begitupun soal kebiasaan sering kentut bak suara angsa atau suara motor butut di kamar mandi yang sering kamu curahkan sebagai bentuk penyimpangan jangan jadi pikiran Lagu silung atau nuansa humor itulah malah yang membuat akang senang. Yang penting nyai bener suka pada Akang yang sudah 5 tahun menduda.

 

Pelatihan Menulis Buku Bekasi Raya

Foto Prawiro Sudirjo.

 

PELATIHAN SAGUSABU BEKASI

Media Guru Indonesia sejak didirikan pada momen Hardiknas Mei 2016 terus berkontribusi dalam pembudayaan literasi. Beragam kampanye guru menulis telah dilakukan saat roadshow di berbagai kota dalam bentuk seminar, pelatihan, maupun penerbitan buku atau majalah.

Melalui gerakan Satu Guru Satu Buku (Sagusabu), MediaGuru siap membantu para guru yang ingin menjadi penulis buku.

Saat ini di Indonesia telah lahir ribuan guru penulis baru. Data penulis bisa dilihat di: penulis.mediaguru.id. Daftar buku dipublikasikan di: sagusabu.mediaguru.id

Pelatihan Sagusabu diselenggarakan dengan pola IN – ON Service Learning (total durasi 32 jam). Setelah 2 kali tatap muka (IN), peserta melakukan praktik menulis (ON) dengan pembimbingan dan pendampingan secara online melalui grup WhatsApp dan grup Facebook khusus

Materi pelatihan dikemas dalam 6 modul, sebagai berikut:

Pertemuan ke-1:
(1) Pengetahuan dasar dunia buku
(2) Kiat menembus penerbit
(3) Metode-metode menulis buku

Pertemuan ke-2:
(4) Bahasa penulisan buku
(5) Publikasi dan penerbitan buku
(6) Kiat pemasaran buku

JADWAL KEGIATAN:
IN 1: Sabtu, 28 April 2018, pukul 08.00 – 15.00 WIB
IN 2: Ahad, 29 April 2018, pukul 08.00 – 15.00 WIB
Tempat: Aula SMA Al Muslim, Jl. Raya Setu Kp. Bahagia, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.

NARASUMBER:
1. Mohammad Ihsan, Pemimpin Umum MediaGuru, CEO Gurusiana.
2. Eko Prasetyo, Pemred MediaGuru, mantan editor Jawa Pos, penulis 63 buku.

PENDAFTARAN
– Pendaftaran via online: bekasi.mediaguru.id
– Pendaftaran terakhir Kamis, 26 April 2018, pukul 21.00 WIB
(Catatan: Form registrasi online sewaktu-waktu bisa ditutup jika kuota peserta terpenuhi)
– Investasi: Rp 250.000,-
Dana ditransfer ke rekening:
BJB KCP JATI ASIH, AC. 0018669641100, AN. ARY MUGIASIH
Bukti transfer dikonfirmasi via WA: Siti Mugi Rahayu (085711689960).
– Fasilitas: modul, sertifikat, makan siang
– Kontak panitia: Prawiro Sudirjo 081398989282 atau Yuliana 085210081611

KUOTA TERBATAS. SEGERA DAFTAR.

PESERTA RESMI ADALAH PENDAFTAR YANG SUDAH MELAKUKAN KETIGA TAHAPAN REGISTRASI DAN MENDAPAT BALASAN KONFIRMASI DARI PANITIA.

———————————————————————————-
A. Tata Cara Pengisian Formulir Online :
1. Isi Nama Lengkap beserta gelar. Gunakan huruf kapital/balok.
PENTING !!! Pastikan penulisan sesuai ketentuan dan tidak ada kesalahan ketik, karena digunakan sebagai data sertifikat.
2. Isi Instansi / Unit Kerja Anda. Gunakan huruf kapital/balok.
3. Isi alamat rumah atau kantor. Gunakan huruf kapital/balok.
4. Isi daerah (kota/kabupaten) Anda. Gunakan huruf kapital/balok.
5. Isi nomor HP yang digunakan sebagai kode unik transfer dan bisa dihubungi sewaktu-waktu jika ada info tambahan.
PENTING !!! Isikan sesuai petunjuk dengan menambahkan tanda (‘) di awal. Contoh : ‘08123456789
6. Isi nominal transfer sesuai ketentuan: 250 ribu + 3 digit akhir nomor HP.
contoh : nomor HP yg dimiliki 08123456789, maka nominal transfer adalah 250.000 + 789 = 250.789
7. Isi alamat email aktif yang sering dipantau, untuk keperluan surat menyurat.
8. Klik Submit/Kirim sekali saja, tunggu hingga muncul halaman konfirmasi keberhasilan registrasi online.
PENTING !! Jangan klik beberapa kali, karena bisa terkirim data double. Pastikan koneksi internet lancar 🙂
9. Selamat, anda telah berhasil melakukan proses isian formulir registrasi online, lanjutkan ke tahap TRANSFER.

B. Tata Cara Transfer :
1. Sudah mengisi formulir online dan mengisikan nominal transfer dengan ketentuan.
PENTING !!! Kode akhir nomor HP digunakan sebagai penanda, wajib dilakukan agar bisa divalidasi oleh panitia.
2. Lakukan transfer sejumlah nominal yang telah dituliskan pada poin 1 ke rekening panitia: BJB KCP JATI ASIH, AC. 0018669641100, AN. ARY MUGIASIH.
3. Dokumentasikan (scan/foto/screenshot) bukti transfer Anda.
4. Lakukan konfirmasi pembayaran ke Siti Mugi Rahayu (085711689960) via WA, dengan ketentuan :
~ Via WA : Lampirkan bukti transfer sekaligus keterangan
“Nama#Daerah#NomorHP#SAGUSABUBekasi”.
Contoh : Hisyam#Surabaya#085649106490#SAGUSABUBekasi
5. Tunggu balasan konfirmasi sebagai bukti/tiket sementara yang bisa ditunjukkan saat registrasi ulang di hari-H.

Puisi Siti Nurlaela

Keratabasa

Agaknya lagamu ini sedikit angkuh

Suruh aku terjatuh

Pakai tongkat sihir

Jabatanmu yang amatir

Kadang ku merebak kaku

Sebab kau injak sepatuku

atau dengan ucapan naas untukku

“ Aku suka padamu “

Tapi aku menjadi pemasang paku

Supaya kau sedikit menjauh dariku

Wakyu itu berbaju merah jambu

Sekarang putih abu

Sial….

Ku semakin terpikat olehmu

Tunanetra

Semesta ini sama

Gelap, Kelam seperti malam

Ku tak tau di mana tinggal

Dan kapan gigiku menanggal

Semuanya sama

Tidak ada hari

Tidak ada hiasan warna – warni

Kecuali Satu

Hanya Satu

Tentang diri dan rasa ini

Diriku melihat tapi merasa

Dirimu melihat tapi tak merasa

 

Bayang yang Bercermin

 

Aku tak ingin iri

Pada bayang merekat

Diatas daksa yang terikat

Dawat dawat

Subuh ini aku terbangun

Ada panggup yang meriap

Menuntunku kearah raib

Aku telusuri terus

Hingga ke ujung cungkup

Tapi namaku semakin pupus

Mengeropos di makan rayap

Jadi sehablur tembereng

Yang meneluh

Tapi sore ini

Aku ingin menengokmu

Dengan setumpuk bunga

Juga sejumput

Uraian kata

Dalam cermin

( 2017 )

Siti Nurlaela dari Sukabumi , pelajar di Ponpes Al Ittihad Cianjur , Saat ini tengah belajar menulis bersama anak anak katapuri dan pernah mengikuti organisasi jurnalistik serta OSIS IP4A

Puisi Muhammad Alamsyah

HUJANLAH MEMAHAMI RINDU

Tuhan
Akulah lumpur hitam itu
Meramu hidup dalam laknat menggores waktu
Tamak bertuan musyrik, terjebak  hudup yang semu

Inilah jiwa ingkar mendustakan janji peribadatan
Berjalan di atas keakuan keangkuhan
Bintanglah penunjuk jalan keresahan
Pertigaan putaran jam kesah dalam penyesalan

Hujanlah memahami rindu
Menepis bayang pada cahaya tuhanku
Pada-Mu diriku berlabuh
Atas nama hamba di senyapnya subuh

Inilah sukma menjumpa pada Kau Maha
Kawal roh menyulam nur sampai batas usia
Pada sujud memohon ampun
Kelabu luluh dzikir tobat beruntun

Aku bersanding pasrah
Pada-Mu Allah Azzawajallah
Tuntunan langkah mengarah
Takdir mengalun ibah

Pangkep, 12  November 2017

 

BETAPA KEJINYA DUNIA

Telah aku warisi sanksi Adam
Terjerembap menghumai bumi
Tak mungkin aku lari wahai sang takdir
Bukankah hidup dan mati bahkan kebangkitanku pun di sini?
Namun sungguh
Demi masa melingkupi laju angin
Betapa kejinya dunia
Menjebak jiwa berayun-ayun dalam lembah neraka

O……. kehidupan
Persingkatlah waktu  memburu malam
Ketika aku larut dalam janji-janji Tuhan
Biarkan sunyi menapaki roh yang suci
Mengiringi syahadatku menjumpai hakiki

Maros, 05 Desember 2017

DIMANA KAU WAHAI ORANG GILA

Tragis
Hilang mantera suci para nabi berabad –abad adab
Tuhan dijadikan boneka
Disembah di meja judi  pangsa kuasa
Tiada lagi jalan pulang
Gelap , sesat tak bertepi
Dunia ini sudah sakit
Dimana kau wahai orang gila ?
Antarkan aku pulang
Tunjukkan rumahku
Menyusu dalam rahim ibuku
Bermain ketuban tanpa polusi duniawi

Pangkep, 2017

KIBLAT PADA SAFIRNYA LANGIT KE EMPAT

Bukan keresahan tapi kesenyapan yang lena
Kerahasiaan tersimpan pada keabadian jiwa-jiwa nabi
Kekosongan difahami arwah tercabuti islam

Telah aku temukan jalan menuju kiblat
Cahaya murni antara ungu dan saga pada safirnya langit ke empat
Membentang di batas-batas subuh menggauli tubuh para sufi
Aku menapakinya dengan langkah-langkah tafakur
Seirama decak tasbih mengukur jejak, jarak arasy dan bumi mati

Makassar, 7 Desember 2017

 

 

BIODATA PENULIS

Muhammad Alamsyah. lahir di Maros, 17 September 1985. Nama pena sosial media : Alamsyahdewa alam. Aktif menulis puisi, cerpen dan esai. Aktif dalam berbagai kegiatan seni- budaya. Lelaki yang akrab di sapa Alam, bergabung dalam beberapa komunitas seni sastra maya maupun nyata, dan bebagai komunitas seni rupa di Sulawesi Selatan. Karya sastranya telah banyak terbit di berbagai media cetak dan media online. Kecintaanya terhadap seni sastra tidak membuat bakatnya dalam seni rupa ( lukis) terlupakan. Giat cipta lukisan -lukisan eksperimental yang abstrak natural. WA : 085230739973 / No Rek BCA: 8735001236 atas nama Muhammad Alamsyah. semestaalan@gmail.com

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai