LITER PAGI
Tak sanggup menahan embun yang berlalu
memaksaku menantang terik matahari
dengan wajah pucat
melawan jeritan lapar yang terasa semakin menyengat
lelah aku sangat lelah
Gemetar tangan dan kaki semakin kencang
melewati gang kecoak di bawah got-got panjang
namun tetap saja hasil kepingan logam itu masih tak dapat aku tukar dengan seliter beras dengan harga yang semakin deras
mengeluh, bosan dengan harga yang tak terbatas
lalu kucoba mendaki gunung barang kali ada bekas-bekas semalam yang bisa mengganjal perut kita
namun yang ku temui bukan itu, melainkan singa yang sedang mencabik – cabik tulang tanpa kasihan.
aku tak tau keadaanku begitupun dengan keluargaku yang masih menunggu liter-liter itu.
RINDU MAMAK
Rindu di ujung senja
Mamak, senja itu kembali menusukku
dengan ujung pedangnya yang gelap
mamak, senja itu kembali menyambukku
dengan kulit tangannya yang terkupas
seperti yang mamak lakukan waktu aku kecil dulu
menyeretku, mamandikanku, menyiapkanku
untuk bergegas di lamur senja itu.
terlepas dua gema adalah waktumu
menjemputku
merayuku, menggendongku
dan raungan yang kau tahan
hanya untuk duduk dan makan bersama anakmu.
Mamak, anakmu rindu akan itu.
TIRAKATMU – TIRAKATKU
Lantaran awan memutih
hujan berlalu tak pamit
menyumpahkan rindu kematian
mengabdi keabadian
entahlah, yang kurasa bukanlah hakikatnya
melainkan hikmah dari kehendakmu Yaa-Rab
atau mungkin ini adalah
pahatan doa mamak
yang masih engkau sapa selama ini
mampu membuatku ada
walaupun sebenarnya sudah tiada.
tirakatmu dan tirakatku
adalah janji tuhan yang dipersiapkan untukku.
AKU TAU ITU
Waktu itu.
Yaah.. sampai saat ini aku masih terus bertanya tentang waktu itu
waktu dimana tiga sukma yang hilang tertangisi.
saat itu aku masih kecil dan keluguannya yang sangat tampak dimata mereka
entah dengan kakak dan ibu yang mestinya juga harus bisu, meratap dan melugu
hanya mengasa dan berharap lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama kembali menyatuh di puskesmas itu.
kami tak pernah menyalahkan siapa dan siapa, sebab kami sadar berharap bukan menunggu, meminta bukan pula membeli.
karna kami adalah orang tiada yang cuma mengemis belas kasih tuhan, entah dari posisi mana datangnya, dari gumpalan darah kita sendiri atau malah dari orang lain yang sama sekali kita tak mengnalinya.
harapan semakin beku
sementara detik, menit dan jam mengalir saja di tong sampah
seakan tak ada seorangpun yang rela berkorban mencairi asa dan mengalirkan hingga ke tubuh yang terbaring diranjang sepon hitam itu, kecuali bibik yang juga menangisinya, dengan kerelaan, keiklasan dan ketulusan yang sampai melelapkan dirinya.
aku tau itu
lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama hanya tampak dua,
ketiga daging dan darah lainnya entah melesat kemana
jangankan bertaruh untuk adapun meraka terpaksa
aku tau itu
matanya yang dusta
lelahnya yang pura
suaranya yang nyampah
dan rugi nya yang tanpak nyata
aku tau itu.
AKU INGIN SURGAMU
Dengarlah desahan anakmu
tinggalkan malam-malam itu, malam yang kerap melukaimu
sebab aku tak rela jika pekatnya sampai menyentuh mu apalagi lirih nya menyelimuti tubuhmu
ibu urungkanlah niatmu
untuk bangun malam menyiapkan ramuan yang akan ibu jual di pagi hari nanti
sudahlah ibu kumohon berhenti jualan
sekian lama ibu harus membanting tulang demi menafkahi anak-anak ibu, dan mengabulkan apa yang di inginkannya
apapun ibu lakukan itu
walau terkadang fisik tak mampu menuruti kemauan jiwanya yang sudah menua
aku tau itu ibu
karna ibu tak ingin anak ibu merasa kekurangan apalagi sampai kelaparan
tapi itu dulu ibu, itu dulu.
di waktu anakmu masih kecil dan sekarang siklus telah beralih
lihatlah anakmu ibu
pandanglah anakmu
anakmu sudah besar
anakmu sudah bisa hidup mandiri
dan bahkan anakmu sudah siap bekerja untuk ibu.
ibu, izinkanlah anakmu untuk menepati janji-janjinya
janji pada ibu dan juga pada beliau (mamak) yang sudah tiada
ini kawajibanku ibu
dan tangga untuk menggapai surgamu
ibu, aku masih ingat pesan beliau di desah nafas terahirnya,
anakku kalau mamak sudah tiada
jangan nakal ya nak
jangan main terlalu jauh
jangan sampai ibumu bersedih karenamu dan bantulah ibumu dalam setiap kesibukannya
sebab dibalik kesibukan itu
ibumu senantiasa menyimpan mutiara yang setiap hari nya ia kumpulkan untuk masa depanmu kelak
karna beliau tak ada alasan untuk hidup kecuali untuk membahagiakan, membing-bing dan mengarahkan mu ke jalan yang benar nak, ke jalan yang di ridhoinya.
ketika ibumu di dapur sedang memasak siapkanlah kayu yang di butuhkannya
jangan biarkan ibumu yang mengambil dan menebas nya sendiri
karena mamak sudah tak lagi bisa melakukannya nak
dan ketika ibumu di ladang sedang menyabit rumput untuk peliharaan yang ia pelihara hanya untukmu
bawalah hasil sabitan itu nak
jangan sampai ibumu sendiri yang memikulnya
di karenakan mamak sudah tak lagi di samping kalian
itulah pesan beliau ibu.
desahan itu masih tertera dengan jelas di hati dan di telinga anakmu
jadi kumohon berhentilah jualan demi kesehatan ibu.

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016).
No.085232343060
083853208689