Arsip Tag: Moh.Romli

Puisi Moh.Romli

CHANDA

 

Chanda, Garis di bibir itu terhampar kisah lalu

serupa gerakan gelombang sore yang di iringiri sepoi bayu

dan lagu camar yang mulai bisu mengantukkan diriku.

 

Chanda, kau curi waktu sore itu

kau buat tuli telingaku

kau buat lalai kaki dan tanganku

hingga setiap gemahan

aku lupa harus menari dan bernyanyi

 

begitupun dibawah sadarku

senjatamu bagai tombak penghisap darah hamzah dulu

kau telah buatku lupa

dimana aku harus tunduk pada kebenaran.

 

Chanda, kau serupa hujan yang jatuh di tengah-tengah musim kemarau

walau tak mampu menyuburkan tanaman di halaman rumahku

namun aku merasakan kesejukan dalam hatiku

meski ku harus buang jauh.

 

MATAMU SUNNA

Pada angin timur

aku bertanya tentang matamu yang lupa

Pada senja lamur

aku bertanya tentang wajah bersalin rupa

 

Apa karena semua telah di murka?

 

Rindu, rindu, rindu, jadi luka

lalu bagaimana dengan kedamain yang pernah kita sapa

apa takkan menyapa?

 

aku hanya termangu

andai saja aku bisa seperti bayi

yang damai dengan ibu jarinya sendiri

mungkin aku telah lupa, matamu yang berduri.

 

AKU INGIN

Aku ingin menjadi penyakit rindu

yang takkan pernah ku rindui

 

aku ingin mejadi pengukir waktu

yang takkan pernah ku waktui

 

aku ingin menjadi pengarang lagu

yang takkan pernah ku lagui.

 

namun aku tak pernah ingin menjadi seperti kamu

yang terus menyakiti.

 

SAUDARA KU

Sungguh tak seperti yang aku cipta

benih yang telah lama kita tanam

kucoba pupuki dengan mainannya sendiri

namun tawa begitu dalam sembunyi di pekat malam

hingga kini telah berbuah duri, Duri cengkrama malam

 

Saudaraku, kalian saudaraku!

tak ku pahami faktornya

pupuk atau benar racun kuberi

tak kubiarkan duri itu tumbuh hingga padat

nantinya pasti menusuk kaki kita sendiri

 

barangkali kita harus mengutuknya

dalam dzikir kita yang sama

hingga nanti, Kembali berbuahi rindu.

KARJE MADURE

Musim kemarau adalah lagu diantara siang dan malam

dimana tontonan jadi tuntunan

dogma suci jadi cacian

kemaksiatan, kebenaran

tanamkan kemurkaan

pada generasi yang di korbankan

tuli, buta, sampai setiap nikmat disiakan

jadi semakin jadi, jadi semakin jadi

setiap karsanya racun mengalir kencang

hingga bermacam jenis ekor menjadi sasaran

menebus dosa dari hasil curian.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep. Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060

083853208689

Puisi Moh.Romli

UNTUK YANG DISANA, HT
Untukmu yang disana.
masihkah dirimu hafal dengan wajahku
wajah yang selalu kau harap rebah di hatimu, lima abad yang lalu

diantara bentangan rindu yang tak bertepi
diantara jarak-jarak yang tak berujung
aku masih mengenang seribu tanya di sini

tentang langit yang lugu
membuatku bisu
dan segalanya untukmu.

masih mengingatmu di sini
masih menggenggam cintamu yang lalu
yang pernah terpahat di hatimu, hanya untukku.

masihkah kau genggam erat rasa itu?
rasa yang pernah kau janjikan pada senja hingga membuatnya tenggelam

rasa yang kau sematkan kan pada petang hingga membuatnya terang

disini aku masih bertanya tentang itu
tentang tiga istana yang akan kita harungi berdua.

 

KABAR DARI DESA

Di ujung seketsa gelora bengis
di uluran jari mentari sengit
ku lihat sosok seorang perempuan tua layat

dari pecahan cermin-cermin bening yang terpang-pang di mata
sangat terlihat jelas
bahwa perempuan itu sudah meningal

seperti kabar yang kudapat sebelumnya
membekas lengkung di hamparan pasir kelabu yang basah
yang menjadi tumpuan amarah temannya, tempat dimana ia mengaduh.

semoga saja perempuan tua itu korban dari takdir tuhannya
bukan dari takdir amarahnya sendiri.

 

MALAM MUTIARA KITA

Maret sampai juli.
malam mutiara kita adalah malam minggu, senin dan kamis.

kita relakan tetes peluh deras mengalir

kita relakan jari-jari kita terus menari kekal sampai di penghujung

dan kita relakan mata kita berdarah-darah

demi sang raja yang datang berbondong menyapa kita di malam-malam itu
pastilah kita lupa letih, desah dan urat-urat yang berbisik.

kita jadi jongos
kita jadi budek
kita jadi bodoh
semata tak ingin mengecewakannya.

 

HARAPAN KITA

Kali ini suara rintik hujan malah lebih sedih dari lagu yang biasa kita dengarkan kawan

dari pagi sampai tengah pengharapan tetap sama tak ada yang beda
semoga saja tak sampai di penghujung nya

menghitung kotak per kotak, ekor per ekor, dan bahkan batang per batangpun kita layani meski cukup melelahkan dan membosankan

kita harus sabar dan iklas kawan
layaknya secarik kertas dan pena yang berada di atas meja
pencatat sejarah kita.

 

KABAR PAGI

Engkaukah itu, embun yang hinggap di keningku pagi hari
meluap berasa asin yang pernah aku cicipi, engkaukah itu.

engkaukah itu, pembius, perangsang otot-otot kaku sehabis mati, engkaukah itu.

jika ia, maka jiwa-jiwaku kekal di siang dan malam-malam yang beku.

ku kabarkan pada mentari
ku kabarkan pada hujan
ku kabarkan pada angin

bersiaplah, aku menangtangmu
dan kau kan rebah di saku untuk ku tumbal.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya MIMPI YANG TERTUNDA. (2016)

No. 085232343060
083853208689

Puisi Moh.Romli

JEDA WAKTU

Mungkin harus ku mulai dari sini sebelumnya
sebelum semua usai
sebelum semuanya terberai
diantara lelah, luka, dan gerimis yang siap menampar

Kau tau itu bukan?
bukan merupakan sesuatu yang ku inginkan
juga bukan merupakan sesuatu yang tak ku harapkan
namun memang seharusnya di lepaskan
dua pencalang hidup di rusuhnya gelombang.

Kawan, tetaplah berlayar
jangan terpengaruh akan gaduh topan
apalagi sampai mencium bau karang

menarilah dan terus menyanyi
walau dalam lagu yang amat pedih kita nikmati
demi pesta di ujung jeda waktu nanti
buatlah ia tunduk dan mati.

KU TEBUS KAMPUNGKU

Langit jangan menangis karenaku
sebab jiwa tak punya wadah
jika untuk menampung air matamu

jangan cegat
takkan mampu kau bentangi arah
sudah ku bilang takdirmu tak senada hasratku

jangan paksa
jika kau tak ingin patah tubuhmu
kau laksana iblis penggrogot hati.
kalah, jika aku merasa mati.

SENJA LAMONGAN

Kejam malam menyekap
ding-ding kaca melamur
wajah langit masih sendu

tatap lubang nyembur kesap
mata semakin gelap
sementara tubuh tak kelar di isap
juga kulit kaki jadi putih kerut
bak hamba layat.

Aku menuju kampung halaman
tubuh terjungkal diantara siang dan malam
entah kapan embun akan melupakan malam
entah kapan alam akan bersalin rupa

ku coba tanya asap yang lupa untuk setia pada kopinya
hembus bayu dan jari mentarilah jawabanya.

 

AENG PASESER

Tak seperti yang ku duga
asin dan tawar masih lekat terasa
namun sentuhannya tak ada yang beda
aku masih merasa seperti dulu kala
ketika manja, nakal, dan tubuh nan ter-elus mesra

aku menangis, tak tau bagaimana orang dimanja
aku nakal, tak tau bagaimana orang peduli
dan aku geram, tak tau bagaimana orang di sayang
yang aku tau,
asin dan tawar adalah air kita yang masih damai.
 

LAGU AGUSTUS

Deru ombak malam
menitip duka angin topan
penghuni paseser terkabar
terkapar di pulau-pulau mengasingkan

pencalang, biduk, diam
pasrah pada asap putih gelombang
jungkal-jungkil gelora semakin geram
menumpuk rindu dari paseser hingga pulau sebrang
akankah semua terbenahkan?..

tak ada yang mampu menahan tangis di bulan agustus
sampai janur-janur menangis
mengiring langkah para pahlawan yang mulai hilang perlahan
sampai setiap lambayan harus di relakan
angin timur tak karuan.

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya. MENGHITUNG LUKA DAN RINDU SEPANJANG JALAN JAKARTA – SUMENEP. (2016)

No. 085232343060, 083853208689

Puisi Moh.Romli

SIAPA SEBENARNYA DIRIMU

Di alunan kidung malam

wajahmu tak enggan menyapa

di setiap petikan gitar hitam selalu menari dan menari

 

siapa sebenarnya dirimu?

selalu menampar hati dalam sunyi

selalu menabur garam dalam luka

dan selalu paksa hati untuk berhenti melangkah.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

kau yang kerap membuatku melayang ke arah yang tak kutuju

kau gemar menuntunku ke jalan yang buntu

dan kau juga yang membuatku lumpuh.

 

Siapa sebenarnya dirimu?

apakah kau hanya sebatas rasa kecewa yang memalu

yang hinggap di imajinasi hingga akhir hayatku.

 

atau mungkin hanya angin malam yang membisikkan rindu

yang membuatku tak henti melempar dadu.

 

MENYEDUH RINDU

Di ujung senja, perahu sebrang pulau utara

sekedar mencari dan melampiaskan rindu manja selera

sesampainya di pulau itu, tampak hamparan altar putih yang memanjang dengan tongkat besi berwarna hijau , disitu perahuku tertambat

memanja mata dengan warna-warni tumbal untuk gelar pesta malam nanti

lalu ku coba untuk menyeduh rindu sendiri, dengan buah api bersimbolis rindu yang sudah siap saji

tinggallah aku memilih, untuk mengambil sebagian tumbal dan kujadikan selera rindu yang merekah di lentik jarimu, ibu.

sempatlah kucipta, walau sebenarnya tak beraroma kasih sayang darimu.

 

PENA

Tiada henti pena membuatku tersenyum dan menangis

dalam suka dia selalu tertawa seakan dia juga merasa apa yang aku rasa

 

begitu juga dalam tangis, dia tak pernah enggan menangis, malah dia seakan lebih sedih dariku

 

pena, engkaulah teman sejati

setia dalam suka maupun duka

 

engkau pencatat sejarah diantara terbitnya mentari hingga sungset senja

 

hanya engkau yang tak pernah bosan mendengar keluh

walaupun kau harus menumpahkan darahmu untukku

 

pena, hanya engkau setia mati di tanganku.

maaf kan aku

jika hidupku terus menyiksamu hingga nanti kau mati.

 

CINTAKU PADAMU

Untuk, Hoy.

Cintaku padamu serupa tetes embun yang jatuh di pangkuan keladi

selalu saja kau hiraukan

meski pada hakekatnya senantiasa membutuhkan

 

cintaku padamu serupa angin topan nan geram

yang dimana ketika nelayan menangis, menjerit ketakutan

tak sadar, bahwasanya itu rekahan gerbang hidir pembawa risalah

 

cintaku padamu serupa gigimu sendiri nikmat tuhan

lupa dan menangis seketika di ingatkan.

 

MALAM MINGGU

Entah dengan malam minggu

seperti semua bisu

seperti semua batu

 

tak ada lagu

tak ada malu

tak ada ragu

tak ada deru

 

semua jadi lugu

jadi tumbu

jadi beku

jadi rindu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya KITAB RINDU. (2016)

No. 085232343060

        083853208689

Tetap Ku Rindu – Puisi Moh.Romli

KENAPA?

Untuk Shinta.
Mencari rerindang malam

bersemayam dalam sunyi

adalah pilihan kita kala  itu

 

namun kenapa kita masih enggan bertanya

pada lagu-lagu dedahan, dan tarian dedaunan yang juga bersemayam di jembatan tua itu

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa, menitipkan janji suci kita pada ikan-ikan berloncatan yang juga sempat kegirangan lantaran gurauan kita

 

kenapa Shinta?.

kenapa kita lupa pesan riak-riak air ditepian batu itu

 

kenapa?.

kenapa kita lupa, atas rindu yang sempat kita cicipi berdua

 

dan kenapa kita juga lupa untuk kembali ke muasal rerindu jembatan tua.

 

TETAP KU RINDU

Mamakku perkasa

kurindu dirimu di hamparan karang-karang yang menusuk mata

 

kurindu dirimu di serbuan angin gaduh yang mencekam jiwa

 

kurindu dirimu di cercah-cercah cawan yang menjelma tawa

 

Kurindu dirimu.

meniti pasir basah di ujung gelora yang murka

tak kenal lelah dari ujung desa utara hingga di ujung desa selatan beringin tua

 

kau lelaki yang kekar

kau lelaki yang tegar

dan kau jua lelaki yang berhati mulia

rela menjadi budak

hanya tak ingin membuat anakmu kecewa.

 

NOSTALGIA

Untuk Sunna.

 

C G

Am Em

F C Am G.

Kunci itu menjelma semua tentang kita

disini, di kota kejauhan aku menyanyikan lagunya

dengan lirik adanya serupa wajah kita dulu

 

disini, di tengah hujan deras aku harus menimangnya

dengan raungan tangis dihati yang merana

 

disini, di heningnya malam aku kembali terhanyut di wajahmu yang semu, yang senantiasa menjanjikan damai dalam setiap takdirku.

 

Masih terhampar dengan jelas rasa yang tak sempat kita seduh di matamu yang indah

 

masih tumbuh dengan subur

walau ladang di hatiku sudah penuh dengan batu

 

dan masih berbuah lebat, walau rusuhnya topan terus menerjang.

disini, aku masih mengenangmu untuk kulupakan. SUNNA.

 

LUKA DI UJUNG RINDU

Padahal janjimu tak pernah rebah di saku

namun kenapa kau masih saja tampak begitu anggun di mataku

 

selalu merayu, mengayu, mengharu dan selalu meminta untuk meramaikan malammu dengan lelahku.

 

seperempat malam waktunya dimana aku harus mulai beranjak

dengan berjuta harapan di esok hari dapat memikul buah benang-benang kaca yang sudah ku rangkai sedemikian rupa

 

namun tadir berkata lain malam itu

harus berpulang dengan tangan hampa

dan membawa berjuta luka.

masih lelahku.

 

 

TAKDIRMU LAKNAT

 

Samping warung depan mesjid gang kecil jalan keluar dari sarangnya

keramain dan sunyi sepertiga malam waktu jalan siasatnya

mengundang nada desah

sehalus dan semerdu desau sunyi saat sendiri

nyaris tak ku pahami

kau tanpak cerdik bermain

minnyak di atas air

memarkan hati yang damai

memagut mata menanar

hingga hasratpun

mampu menyamar

Hemm..

hati-hati gadis merang

jika tubuhmu tak ingin terbakar

kau iblis serupa bidadari

aku tau itu..

mendekatlah dan lihatlah

pedangku masih terhunus dengan tajam jika hanya untuk menembus tubuhmu

jangan menangis

jangan sampai kecewa

karna pasti aku melampauimu.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995. Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

 

Puisi Moh. Romli

TOPENG SUCI

Intan,
Kumohon Jangan menyentuhku kali ini
jika tak ingin ku lumat bibir merahmu
hingga berdarah-darah
mengalir jadi telaga di tubuhku

hingga hutan-hutan kembali subur
berbuah lebat bebani dahannya

hingga hewan-hewan gemuk
juga singa-singa girang dengannya

sebabnya darahmu melebur
maka topeng suci ini akan hancur
dan imanku akan terguyur.

JELANG WAKTU

Aku bukan lagi bulu di matamu
yang setiap saat dapat melindungi matamu dari debu
aku juga bukan lagi kuku di ujung jarimu
yang sejeatinya masih kau butuhkan setiap waktu

tapi aku hanyalah bekas kulit yang menimpel di tubuhmu
yang terlepas dari darah dagingmu
dan itu tak lagi kau butuhkan dalam hidupmu
bahkan tiadapun takkan pernah merasa kehilangan
apalagi sampai kesakitan

buang saja diriku
jika sudah tak berkarisma lagi di tubuhmu
aku tak pernah berharap apa darimu

aku hanya ingin memberi apa yang mampu aku beri
sebab cinta tak mempunyai apa yang ingin aku dapatkan,
tapi cinta mempunyai apa yang aku mampu berikan.

GADIS ASING

Dibalik gantungan sampah maknai
setiap lubang berasap tak sempati
samping etalase tak sengaja dapati
bibir merah manis menjadi

pesonanya yang tak henti
anggun ulurkan lentik jari berduri
dantang mengusik ketenangan hati
entah siapa dan darimana tak pasti

namun cantikmu takkan abadi
kecuali kecantikan yang dari hati
kau tak lebih dari sampah dalam buih negri
nyaris terbawa mati.

 

PAGI YANG MALU

Bagaimana mungkin ini terjadi
pagi tercipta dari pecahan kaca yang tuhan ciptakan untuk membakar diriku sendiri

sepertinya pagi sudah enggan bercumbu denganku
atau mungkin dia cemburu dengan dinginnya malam yang terus mendekapku

hingga akhirnya geram, dan melemparku di wajah mentari yang bengis

dan memaksaku menyapa ribuan orang di pasar dengan wajah malu.
sebab batu-batu di tepian kolam itu belum aku benahi.

KARENA TUAN

Ketika jalur kehidupan mulai menyempit
mengimpit setiap air kehidupan senantiasa mengungkap jujur

merah memerah
Kaca berkaca
menjelma sebuah noktah

tubuh yang lelap
semakin melenyap
geming dalam penat
pada angkuhnya kota tetap bertuan

dasi melilit tanpak menjilat

dan kami adalah korban
tuan yang melamban
hanya demi umpan
yang mapan.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya PASAR ASMARA (2016).
No.085232343060
083853208689

Puisi Moh.Romli

PENJARA RUPIAH

gigih motorku melawan angin gaduh
riuh pohon mengancamku kala itu
ranting-ranting patah tebanting kepusar jalan
juga daun-daun berhamburan serupa debu.

hasrat menampar dengan bengis, mendorongku semakin kencang berlari
mengejar target diantara nyawa-nyawa perantau yang gigih
namun takdir berkata lain kala itu

hujan telah menguyur gesah-gesah tadi
hingga pada akhirnya aku lupa jalan kebenaran
nyaris saja tuhan murka padaku.

 

MALAM SUNYI

Malam itu rembulan menatapku
sisik-sisik sunyi diam bisu
menjadi penonton wayang
dua pendekar yang sedang jihad

pernak pernik tanpak jauh menatap
namun setianya mampu bertaruh
meski di selimuti dinginnya malam
sehening kalimaya india

bulan, mengapa dirimu senyum menatapku?
melangkah keluar kedalam yang sibuk menukar recehan itu.

 

TENTANG KITA DI MUSIM SEMI

Sebatang kayu kaki kita
batu bulat dan tali warna biru penimang nya
dan takdir kita adalah benang yang berujung besi malu

tentu kau ingat itu bukan?
biduk karet yang terbakar lunak akibat ter-elus besi-besi panjang memerah di ujungnya
kain membasah kotor berlumut tanah adalah pembentuknya
kita rakit di tengah samudra.

tentu kau ingat itu bukan?
tempat dimana kita hidup
dan tertidur pulas di pangkuannya
sambil memegang benang di tangan sampai di jari kaki
hingga gema suci buyarkan mimpi.

 

AKU MALU

Aku malu padamu
mengapa kau begitu tampak pendiam
sudah kubilang lepaskan suara hatimu
dan tebaskan egomu
buatlah aku sedikit lumpuh
sekiranya aku tak mampu
lagi mencekam mu
aku malu.

 

 

LAGU YANG BISU

Kisah seorang remaja
terkesut sembunyi bisu

kedua tangan menari
menggeluti masalalu

mestinya kau tak ragu
dengan apa yang ku tau

karna kau mampu
dan tak perlu kau menjaminkan perawanmu
jika hanya untuk sekedar penawar malu,

sebab tanpa kau tau
perawanmu telah banyak menghabiskan waktuku.

 

PUTRI KHAYALAN

Hay Gadis kecil
jangan tampakkan senyummu
jika tak mau beradu

merahnya takkan mampu
melahap yang sudah berdebu

mustahil semuanya akan berlalu

jika senyummu
masih saja mencubit hatiku.

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya KISAH SEORANG REMAJA YANG MENCARI TAKDIR NYA (2016)
No. 085232343060
083853208689

Puisi Puisi Moh.Romli

LITER PAGI

Tak sanggup menahan embun yang berlalu

memaksaku menantang terik matahari

dengan wajah pucat

melawan jeritan lapar yang terasa semakin menyengat

 

lelah aku sangat lelah

Gemetar tangan dan kaki semakin kencang

melewati gang kecoak di bawah got-got panjang

namun tetap saja hasil kepingan logam itu masih tak dapat aku tukar dengan seliter beras dengan harga yang semakin deras

 

mengeluh, bosan dengan harga yang tak terbatas

lalu kucoba mendaki gunung barang kali ada bekas-bekas semalam yang bisa mengganjal perut kita

 

namun yang ku temui bukan itu, melainkan singa yang sedang mencabik – cabik tulang tanpa kasihan.

aku tak tau keadaanku begitupun dengan keluargaku yang masih menunggu liter-liter itu.

 

RINDU MAMAK

Rindu di ujung senja

Mamak, senja itu kembali menusukku

dengan ujung pedangnya yang gelap

 

mamak, senja itu kembali menyambukku

dengan kulit tangannya yang terkupas

seperti yang mamak lakukan waktu aku kecil dulu

 

menyeretku, mamandikanku, menyiapkanku

untuk bergegas di lamur senja itu.

 

terlepas dua gema adalah waktumu

menjemputku

merayuku, menggendongku

 

dan raungan yang kau tahan

hanya untuk duduk dan makan bersama anakmu.

 

Mamak, anakmu rindu akan itu.

 

TIRAKATMU – TIRAKATKU

Lantaran awan memutih

hujan berlalu tak pamit

menyumpahkan rindu kematian

mengabdi keabadian

 

entahlah, yang kurasa bukanlah hakikatnya

melainkan hikmah dari kehendakmu Yaa-Rab

 

atau mungkin ini adalah

pahatan doa mamak

yang masih engkau sapa selama ini

 

mampu membuatku ada

walaupun sebenarnya sudah tiada.

 

tirakatmu dan tirakatku

adalah janji tuhan yang dipersiapkan untukku.

 

AKU TAU ITU

Waktu itu.

Yaah.. sampai saat ini aku masih terus bertanya tentang waktu itu

waktu dimana tiga sukma yang hilang tertangisi.

saat itu aku masih kecil dan keluguannya yang sangat tampak dimata mereka

 

entah dengan kakak dan ibu yang mestinya juga harus bisu, meratap dan melugu

hanya mengasa dan berharap lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama kembali menyatuh di puskesmas itu.

 

kami tak pernah menyalahkan siapa dan siapa, sebab kami sadar berharap bukan menunggu, meminta bukan pula membeli.

 

karna kami adalah orang tiada yang cuma mengemis belas kasih tuhan, entah dari posisi mana datangnya, dari gumpalan darah kita sendiri atau malah dari orang lain yang sama sekali kita tak mengnalinya.

 

harapan semakin beku

sementara detik, menit dan jam mengalir saja di tong sampah

seakan tak ada seorangpun yang rela berkorban mencairi asa dan mengalirkan hingga ke tubuh yang terbaring diranjang sepon hitam itu, kecuali bibik yang juga menangisinya, dengan kerelaan, keiklasan dan ketulusan yang sampai melelapkan dirinya.

aku tau itu

 

lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama hanya tampak dua,

ketiga daging dan darah lainnya entah melesat kemana

jangankan bertaruh untuk adapun meraka terpaksa

aku tau itu

 

matanya yang dusta

lelahnya yang pura

suaranya yang nyampah

dan rugi nya yang tanpak nyata

aku tau itu.

 

AKU INGIN SURGAMU

Dengarlah desahan anakmu

tinggalkan malam-malam itu, malam yang kerap melukaimu

sebab aku tak rela jika pekatnya sampai menyentuh mu apalagi lirih nya menyelimuti tubuhmu

ibu urungkanlah niatmu

untuk bangun malam menyiapkan ramuan yang akan ibu jual di pagi hari nanti

sudahlah ibu kumohon berhenti jualan

sekian lama ibu harus membanting tulang demi menafkahi anak-anak ibu, dan mengabulkan apa yang di inginkannya

apapun ibu lakukan itu

walau terkadang fisik tak mampu menuruti kemauan jiwanya yang sudah menua

aku tau itu ibu

karna ibu tak ingin anak ibu merasa kekurangan apalagi sampai kelaparan

tapi itu dulu ibu, itu dulu.

di waktu anakmu masih kecil dan sekarang siklus telah beralih

lihatlah anakmu ibu

pandanglah anakmu

anakmu sudah besar

anakmu sudah bisa hidup mandiri

dan bahkan anakmu sudah siap bekerja untuk ibu.

ibu, izinkanlah anakmu untuk menepati janji-janjinya

janji pada ibu dan juga pada beliau (mamak) yang sudah tiada

ini kawajibanku ibu

dan tangga untuk menggapai surgamu

ibu, aku masih ingat pesan beliau di desah nafas terahirnya,

anakku kalau mamak sudah tiada

jangan nakal ya nak

jangan main terlalu jauh

jangan sampai ibumu bersedih karenamu dan bantulah ibumu dalam setiap kesibukannya

sebab dibalik kesibukan itu

ibumu senantiasa menyimpan mutiara yang setiap hari nya ia kumpulkan untuk masa depanmu kelak

karna beliau tak ada alasan untuk hidup kecuali untuk membahagiakan, membing-bing dan mengarahkan mu ke jalan yang benar nak, ke jalan yang di ridhoinya.

ketika ibumu di dapur sedang memasak siapkanlah kayu yang di butuhkannya

jangan biarkan ibumu yang mengambil dan menebas nya sendiri

karena mamak sudah tak lagi bisa melakukannya nak

dan ketika ibumu di ladang sedang menyabit rumput  untuk peliharaan yang ia pelihara hanya untukmu

bawalah hasil sabitan itu nak

jangan sampai ibumu sendiri yang memikulnya

di karenakan mamak sudah tak lagi di samping kalian

itulah pesan beliau ibu.

desahan itu masih tertera dengan jelas di hati dan di telinga anakmu

jadi kumohon berhentilah jualan demi kesehatan ibu.

 

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016).

No.085232343060

083853208689

Puisi Moh.Romli

Doa di Pagi Hari

Mentari, jangan duakan kami
walau terkadang kami enggan menjawab salammu di pagi hari

di wajahmu kami hidup, sebelum dedaun ranggas mengering

di biasmu kami hinggap, menyimpan ribuan nyawa anak-anak kami yang kelaparan.
mentari, di matamu terdapat seketsa kehidupan kami, dimana burung-burung itu mulai bernyanyi
mentari, di langkahmu kami belari-lari, dimana dedomba merangkak menuju wajahmu yang menari.

 

Mengagumu

Karyamu membuatku ada dari sebelumnya yang ada
mendobrak dua gerbang yang semalam hilang kuncinya
hampir saja aku ini menjadi seekor burung dalam sangkar
yang setiap hari harus bernyanyi menghibur tuannya.
malam menjadi tak gairah
di meganya yang membentangi bebintang
mengunci di antara hati dan otak batu yang semakin padat
Ah ..
kurasa sudah takkan hidup lagi obor ini
andai saja tak ada kabar pagi
dari risalahmu yang kejam yang menerjang dua gerbang itu
mungkin saja ding-ding ini retak
dan takkan lagi mampu berlayar.

 

Matamu Telanjang Sunna

Hentikan,
rasa itu milikku yang kau sebunyikan dariku
hempaskan,
rasa itu yang semakin melilit jiwamu
lepaskan,
rasa itu yang sebenarnya tak pernah singgah di hatimu
jiwamu gersang
matamu telanjang
sementara rasa itu terus mencekam
dan aku masih disini, menafsir matamu telanjang
sebab rasa ini belum kita benahkan.

 

Salahmu Sendiri

Sepasang merpati itu kembali sembunyi
dengan cemas mendekap anak-anaknya yang sedang bersenda gurau di kamarnya
dia melarang anak-anaknya untuk bersuara kali ini
sepertinya dia sangat memahami apa yang akan terjadi
angin ngebut, awan kabut dan kilatannya yang semakin ribut.

 

entahlah, yang kuheran para dewa dan dewi disitu masih tenang menukar sunyi
seakan mereka sama sekali tak terusik kerusuhan itu
mereka tak peduli, melupakan takdir yang sudah di kehendaki
hingga percikan menyapa dan menari
mengguyur dan menyeret jejak kaki
membuyarkan mimpi para dewa dewi.

 

Telanjang Kawan

Telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
lepas dan umbarkan bulu-bulu itu kawan, jangan malu, jangan sungkan padaku, kita hanya berdua dikamar ini.
jangan biarkan kutu-kutu itu menjadi penghuni
apalagi sampai persada itu menjadi miliknya

 

telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
jika sekiranya kau tak mampu
menangislah dan rekahkan hatimu di dadaku
tak kubiarkan getah-getahnya mengalir begitu saja
sebab tangismu adalah darahku yang tumpah.

 

====================================================================

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016)

No.085232343060

083853208689