Arsip Tag: Sastrawan

A Room of One’s Own: Ayu Utami

Oleh: Dias Novita Wuri

Yang pertama akan menyambut kita bukanlah sang tuan rumah, melainkan sepasang anjing yang ribut menyalak dan mengendus-endus penasaran. Setelah itu baru muncul Ayu Utami, menyapa riang sambil berkata, “Kenalin, ini Kacung dan Lobo. Lobo agak galak, susah percaya orang asing. Maklum dulu pernah trauma. Kalau Kacung gobloknya setengah mati.” Kemudian secara berkesinambungan bermunculan peliharaannya yang lain, yaitu sembilan ekor kucing yang masing-masing bernama Ayah Ham, Semi, Mulan, Jenglot, Lolita, Tombola, Francesco, Rodriguez, dan Katam. Memang sulit memisahkan kehidupan di rumah itu dengan kehadiran sekian banyak binatang lucu di dalamnya.

Sejengkal dari pintu masuk utama rumah, kita akan langsung mendapati meja kerja Ayu Utami berikut rak buku sangat besar menjulang memenuhi dinging dan nyaris menyentuh langit-langit. Ada tangga logam bersandar pada rak tersebut, tentunya untuk membantu Ayu meraih buku-buku di bagian rak teratas. “Dulu pernah kena rayap, begitulah komentar Erik Prasetya, seorang fotografer kenamaan sekaligus suami Ayu Utami. Rak bukunya enggak boleh nempel dinding.” Ruangan kerjanya penuh artifak mereka berdua: sebuah piano tua, dua foto hasil jepretan Erik berukuran besar dipajang di dinding, patung kayu melayang dari langit-langit, kotak tisu berbentuk rol film, meja lain penuh buku, termasuk satu eksemplar majalah Bintang Home edisi akhir tahun lalu yang menampilkan Ayu Utami beserta rumahnya yang indah dan unik.

Rumah itu menimbulkan kesan desa—sangat teduh, lapang, berangin, ruang-ruang terbukanya dinaungi pohon-pohon bambu rimbun dan pohon-pohon lainnya yang senantiasa menggugurkan daun-daunnya. Kita tidak akan tahu bahwa saat itu tepat tengah hari bolong dan panasnya bukan main di luar sana. Bambu-bambu, pepohonan, dan suara nyanyian seekor burung Nuri Kepala Hitam Papua peliharaan Ayu dan Erik sungguh membuat kita lupa kita berada di Jakarta. Lebih jauhnya, begitu menginjakkan sebelah kaki di kediaman mereka, kita teringat “nuansa” magis yang kerap dihadirkan tulisan-tulisan fiksi Ayu Utami. Nuansa magis itu bertambah kuat oleh aroma dupa yang dari waktu ke waktu dinyalakan Ayu dan ditancapkannya di tanah pekarangannya.

Raknya berlimpah-ruah oleh bermacam buku; mulai dari karya-karyanya sendiri dalam berbagai bahasa (kita mengamati lamat-lamat dan menemukan tiga jilid Bilangan Fu edisi Belanda, Het Getal Fu, menyempil di tengah-tengah), berbagai karya fiksi, non-fiksi, filsafat, politik, sejarah, dan lainnya. Meja kerjanya terletak tepat di samping rak, membelakangi sebuah jendela, namun juga menghadap jendela lain yang membuka ke arah pekarangan tempat Ayu dan Erik menggantung kandang si burung nuri. Di meja itulah sehari-hari Ayu melakukan sihirnya—menulis. Mejanya lebar dan kokoh, terbuat dari kayu berwarna gelap. Sebuah laptop MacBook Air ukuran 11,6 inci bertengger di permukaannya. Menurut Ayu, ia sesungguhnya tak begitu betah menulis di ruang tertutup, tapi dari meja itu ia bisa melihat bulan di malam-malam tertentu.

Ketika sedang tidak ingin terkungkung dinding dan atap dan jika cuaca mendukung, Ayu akan memindahkan ruang kerjanya ke sebuah meja bekas meja menenun yang diletakkannya di sisi pekarangan, beberapa jengkal dari tebing resin tinggi yang digunakan Ayu dan Erik untuk latihan memanjat. Ia akan bekerja di sana seharian, dikelilingi sulur beringin, sambil mendengarkan suara-suara binatang dan angin dan terkadang suara dari masjid tetangga. Ia bekerja berpindah-pindah sesuai keinginan hatinya.

Namun di meja kerja di dalam ruangan itulah kita bisa menemukan ciri-ciri Ayu Utami. Terkadang ada satu pak kartu tarot tergeletak di sana. Cangkir kopi. Segelintir alat tulis. Buku-buku catatan. Alkitab yang sampulnya ditempeli foto masa kecil. Sebuah kotak musik ukuran mini yang dibeli Ayu di Venesia, yang kalau diputar akan memainkan gubahan Antonio Vivaldi, The Four Seasons, bagian pertama Spring. Ketika melihat meja itu tak berpenghuni, kita tetap bisa dengan mudah membayangkan Ayu duduk bekerja di sana, mengenakan celana panjang dan kaus oblong yang silir.

Bagaimana rutinitas menulisnya? Ayu Utami biasa bangun pagi-pagi sekali lalu mulai menulis sejak pukul enam pagi. Apabila sedang tidak terlalu intens mengerjakan suatu tulisan, sebelum menulis ia akan terlebih dahulu menggiling biji kopi (sekalian melatih otot tangan), dan menyeduhnya. Ia senang menulis di pagi hari sambil sarapan muesli atau granola, dan nyemil pisang, sukun, dan cempedak goreng bikinan Erik di sore hari. Di pagi hari Ayu biasanya menulis sampai pukul sepuluh. Setelah itu ia akan pergi berkendara ke Komunitas Salihara atau Teater Utan Kayu, atau ke kantor penerbit, atau mengurus berbagai keperluan lainnya di luar rumah, sebelum akhirnya pulang dan melanjutkan menulis di malam hari sebelum tidur. (Kamar tidurnya sendiri lapang tanpa begitu banyak perabotan, lengkap dengan tempat tidur berkelambu, daun pintunya dicat warna kuning terang.)

Ia merupakan penulis yang mampu bekerja dengan relatif cepat. Satu buku dikerjakan selama rata-rata delapan bulan. Rekor tercepatnya adalah dua minggu untuk buku Soegija Seratus Persen Indonesia, sudah lengkap dengan desain dan ilustrasi serta foto, sementara rekor terlamanya adalah empat setengah tahun untuk Bilangan Fu (namun kita tahu buku itu merupakan sesosok babon setebal 548 halaman dengan topik yang lumayan bikin garuk-garuk kepala). Ayu menerangkan bahwa ia melakukan riset sembari menulis, bukan sebelumnya. Itu juga yang diajarkannya kepada murid-muridnya di kelas menulis.

Hingga hari ini, Ayu Utami telah menghasilkan hampir dua lusin buku fiksi, nonfiksi, esai, buku biografi populer, juga telah menulis banyak sekali cerpen di berbagai media massa dan bunga rampai. Karya-karyanya juga telah diterjemahkan dan terbit di berbagai negara, menyihir banyak orang sejak tahun sembilan puluhan.

Dan sihirnya dimulai di sana, di meja itu./jakartabeat.net

Dias Novita Wuri

Penulis kelahiran Jakarta, 11 November. Ia menyelesaikan kuliah di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UI jurusan Sastra Rusia. Telah beberapa kali cerpennya diterbitkan Koran Tempo dan terpilih sebagai Emerging Writers di Ubud WRF pada 2014. Pernah bekerja sebagai asisten program di Komunitas Salihara.  Awal 2016 bergabung dalam keredaksian Jakartabeat sebagai redaktur sastra.

 Last modified on: 9 Agustus 2017

Abdullah Harahap, Penulis Novel Horor/Misteri Legendaris Indonesia

Abdullah Harahap, merupakan penulis novel misteri (horor) Indonesia terbaik. Novel-novel horornya memiliki gaya yang menarik dan khas, hingga terkadang kontroversial karena dibumbui dengan hal-hal berbau seksual. Tidak banyak penulis Indonesia yang memilih kisah-kisah horor, dan terbukti AH mampu bertahan di jalur tersebut. Ia lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan pada 17 Juli 1943. Sebelum menulis novel horor misteri, ia juga menulis novel roman percintaan, namun namanya melambung berkat novel horor yang dikarangnya.

Awal karier
Abdullah Harahap mengawali karier semenjak masih duduk di bangku SMA di kota Medan dengan menulis sejumlah cerita pendek serta puisi yang dimuat oleh media cetak setempat. Tahun 1963, ia pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi di IKIP (kini UPI) sambil meneruskan aktivitas menulis cerpen yang sempat membanjiri sejumlah media cetak baik yang terbit di Bandung, Yogya, Surabaya, Medan, dan paling terutama Jakarta (yang oleh Abdullah Harahap dianggap sebagai kota yang membesarkan namanya sebagai penulis).

Di tengah perjalanan kuliahnya, AH menekuni profesi sebagai jurnalis di SK Mingguan GAYA dan GALA (cikal bakal SK Harian Galamedia), lalu kemudian menjadi perwakilan tetap untuk wilayah Jawa Barat dari Majalah Selecta Grup (Selecta, Detektif & Romantika, Senang, Stop, Nova). Perjalanan karier sebagai wartawan yang ditekuni AH selama seperempat abad lebih (1965-1995) menambah luas wawasan serta pengetahuan AH sebagai penulis novel. Karena sebagai wartawan, AH bukan hanya sekadar meliput berita sesuai tanggung jawab yang diembannya, akan tetapi juga memanfaatkan setiap kesempatan yang ada untuk melakukan riset ke tempat-tempat tertentu yang dia inginkan untuk bahan novelnya.

Riset yang dilakukan oleh Abdullah Harahap ini saya rasa menjadi sebuah keungulan kengerian yang diciptakan di novel-novel horor/misterynya. Jadi horornya tidak melulu hantu penasaran yang sembarangan membunuh orang orang. Ada latar belakang budaya, dendam kesumat, bahkan seringnya sex sebagai latar belakang kemunculan iblis iblis yang menebar teror.

Abdullah Harahap mendatangi lalu bertukar pikiran dengan tokoh masyarakat setempat, terutama yang kehidupan sehari-harinya berhubungan dengan alam mistis, baik itu dari aliran putih maupun aliran hitam, tanpa melibatkan diri di dalamnya. Ilmu-ilmu mana kemudian (sesuai kebutuhan), dikembangkan sendiri oleh AH di depan mesin tik atau komputer sesuai dengan imajinasi AH yang ia kehendaki. Tercatat keseluruhan buku sudah diterbitkan dari imajinasinya itu berjumlah sekitar 60 judul (Drama), 75 judul (Misteri) dan 15 judul Pulpen (Kumpulan cerita pendek). Sebagian di antaranya telah diangkat ke layar lebar dan yang terbanyak ke layar kaca (TPI, SCTV, RCTI, dan Indosiar), baik dalam bentuk sinetron seri maupun FTV.

Berhenti Menulis

Abdullah Harahap berhenti menulis sekitar tahun 1990-an. Beberapa penerbit yang biasa menerbitkan buku-bukunya tutup. Novel-novel Abdullah Harahap seringkali dianggap picisan dan murahan, karena selalu bercerita tentang horor, dibalut dengan adegan sex. Tetapi, Abdullah Harahap tidak peduli. Yang penting ia bisa berkarya. Walaupun dianggap picisan, novel-novelnya selalu habis terjual. Bahkan banyak yang diangkat ke layar kaca dan layar perak.

Abdullah Harahap berhenti menulis karena ia adalah seorang yang penakut juga. Tetapi, ketakutannya itu sangat bermanfaat dalam proses pengerjaan novel horornya. Ia berkata, kalau kita tidak takut saat menulis bagian seramnya, maka itu bearti novel tersebut gagal. Kalau sang pengarang saja tidak takut, apalagi yang membacanya?

Akibat terlalu banyak menulis novel horor, Abdullah Harahap menjadi seorang yang sangat penakut. Dan hasil novelnya juga tidak maksimal, dan penerbitnya pun tutup. Maka ia segera berhenti menulis, dan beralih menjadi penulis skenario untuk layar lebar dan layar kaca. Ia pun hanya sesekali menulis novel, yaitu Misteri Boneka Cinta (dimuat bersambung di Sk Galamedia Bandung), Misteri Janda Hitam (Harian Jawa Pos Surabaya), dan Misteri Sebuah Peti Mati (Harian Surabaya Post), yang kini sudah diterbitkan dalam format buku saku oleh Paradoks).

Penerbit Paradoks

Tahun 2010, novel-novel lama dan baru Abdullah Harahap diterbitkan ulang oleh Penerbit Paradoks ( imprint Gramedia ). Paradoks ini awalnya dibentuk untuk menerbitkan ulang novel-novel horor Abdullah Harahap, sebelum akhirnya dibuka untuk penulis yang lain. Paradoks adalah sebuah penerbit khusus buku-buku misteri dan horor.

Bibliografi

( Seandainya Judul buku Abdullah Harahap ini belum lengkap. Tolong dilengkapi di komentar )

  • Misteri Perawan Kubur
  • Misteri Sebuah Peti Mati 1
  • Misteri Sebuah Peti Mati 2
  • Misteri Lemari Antik
  • Manusia Serigala
  • Misteri Rumah Diatas Bukit
  • Manekin
  • Penunggu Jenazah
  • Misteri Kalung Setan
  • Sumpah Berdarah
  • Babi Ngepet
  • Dosa Turunan
  • Suara dari Alam Gaib
  • Bisikan Arwah
  • Pemuja Setan
  • Sumpah Leluhur
  • Penjelmaan Berdarah
  • Penghuni Hutan Parigi
  • Misteri Penari Topeng
  • Dendam Berkarat dalam Kubur
  • Penunggu Dari Kegelapan
  • Lukisan Berlumur Darah
  • Wajah-wajah Setan
  • Mahkluk Pemakan Bangkai
  • Kembalinya Seorang Terkutuk
  • Dalam Cengkeraman Iblis
  • Dendam di Balik Kubur
  • Roh dari Masa Lampau
  • Penjaga Kubur
  • Penghuni-penghuni Rumah Tua
  • Dendam Roh Jejaden
  • Pengemban Kutuk
  • Bercinta dengan Syaitan
  • Penghisap Darah
  • Pewaris Iblis
  • Sepasang Mata Iblis
  • Panggilan dari Neraka
  • Misteri pintu Gaib
  • Misteri Anjing Hutan
  • Arwah yang Datang Menuntut Balas
  • Perawan Sembahan Setan
  • Tumbal Kalung Setan
  • Pemuja Setan
  • Manusia Penuntut Balas
  • Senggama Kubur
  • Misteri Alam Gaib
  • Jeritan Dari Pintu Kubur
  • Arwah Yang Tersia-Sia
  • Misteri Putri Peneluh

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Mengenal Soni Farid Maulana, Sastrawan Kelahiran Tasikmalaya

Soni Farid Maulana (lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat, 19 Februari 1962; umur 55 tahun) adalah sastrawan berkebangsaan Indonesia. Namanya mulai dikenal melalui karya-karyanya yang dipublikasikan di berbagai media massa, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Sunda. Namanya tercatat dalam dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003). Soni merupakan penerima Anugerah Jurnalistik Zulharmans PWI Pusat, periode 1999 -2000.

Soni Farid Maulana (foto internet)

 

Latar belakang

Soni Farid Maulana menyelesaikan pendidikannya di Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung jurusan teater tahun 1985. Aktif menulis puisi sejak tahun 1976, dipublikasikan di berbagai media massa cetak terbitan daerah dan ibu kota. Sejumlah puisi yang ditulisnya sudah dibukukan dalam sejumlah antologi puisi tunggal dan bersama penyair lain. Karya sajaknya, Tusuk Gigi (1987) oleh musikus Harry Roesli, direpresentasikan ke dalam pertunjukan Opera Tusuk Gigi (1996) di Bandung. Beberapa sajaknya diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda oleh Prof. Dr. A. Teeuw dan Linda Voute. Selain itu, sajaknya diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jerman oleh Dr. Berthold Damshauser.

Sebagai penyair, Soni berkali-kali diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) untuk membacakan sejumlah puisi yang ditulisnya di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta antara lain dalam forum Puisi Indonesia 1987, dan Cakrawala Sastra Indonesia 2005. Pada tahun 1990 mengikuti South East Asian Writers Conference di Queezon City, Filipina. Pada 1999 mengikuti Festival de Winternachten di Den Haag, Belanda. Pada 2002 mengikuti Festival Puisi Internasional Indonesia di Bandung, dan International Literary Biennale Living Together 2005 di Bandung. Pada November-Desember 2013 baca puisi dan ceramah sastra Indonesia di INALCO, Paris atas undangan Prof. Dr. Etienne NAVEAU. Pada April 2014, dia tampil baca puisi di Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, atas undangan Prof. Dr. SN Dato Kemala dari komunitas sastrawan Nusantara Melayu Raya (Numera). Saat ini dia aktif di Rumah Baca Ilalang.

Bibliografi

  • Karya tunggal
  1. Variasi Parijs van Java (PT. Kiblat Buku Utama, 2004)
  2. Secangkir Teh (PT. Grasindo, 2005)
  3. Sehampar Kabut (Ultimus, 2006)
  4. Angsana (Ultimus, 2007)
  5. Opera Malam (PT. Kiblat Buku Utama, 2008)
  6. Pemetik Bintang (PT Kiblat Buku Utama, 2008)
  7. Peneguk Sunyi (PT Kiblat Buku Utama, 2009)
  8. Mengukir Sisa Hujan (Ultimus, 2010)
  9. Disekap Hujan (Kelir, 2011)
  10. Telapak Air (KSLS, 2013)
  11. Arus Pagi (Rumah Baca Ilalang, 2015)
  12.  Sisa Senja *KKK, 2015),
  13. Kisah Suatu Pagi (KKK 2017) 
  14. Sehabis Hujan (KKK, 2017)
  • Karya Bersama
  1. Tonggak IV (PT Gramedia, 1987)
  2. Winternachten (Stichting de Winternachten, Den Haag, 1999)
  3. Angkatan 2000 (PT. Gramedia, 2001)
  4. Dari Fansuri Ke Handayani (Horison, 2001)
  5. Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Buku Kompas, 2001)
  6. Hijau Kelon & Puisi 2002 (Penerbit Buku Kompas, 2002)
  7. Horison Sastra Indonesia (Horison, 2002)
  8. Puisi Tak Pernah Pergi Penerbit Buku Kompas, 2003)
  9. Nafas Gunung (Dewan Kesenian Jakarta, 2004)
  10. Living Together (Kalam, 2005)
  11. Antologia de Poéticas (PT Gramedia, 2009)
  12. Negeri Abal-Abal (Kosakatakita, 2013)
  13. Teras Belakang (KSLS, 2014)
  14. Negeri Langit (Kosakatakita, 2014)
  15. Setebas Malam (Rumah baca Ilalang, 2015)
  • Karya berbahasa Sunda
  1. Kalakay Méga (Cetakan 3, 2007, CV Geger Sunten)
  2. Angin Galunggung (CV. Geger Sunten, 2012)
  3. Saratus Sajak Sunda (CV Geger Sunten 1992)
  4. Sajak Sunda Indonesia Emas (CV. Geger Sunten, 1995)
  5. Antologi Puisi Sajak Sunda (PT. Kiblat Buku Utama, 2007)
  • Esai
  1. Pintas Puisi Indonesia (Jilid 1, PT. Grafindo, 2004, dan Jilid 2, 2007)
  2. Apresiasi dan Proses Kreatif Menulis Puisi (PT. Nuansa Cendekia, 2012)
  3. Menulis Puisi Sebuah Pengalaman (KSLS, 2013)
  • Cerpen
  1. Orang Malam (Q-Press, 2005)
  2. Empat Dayang Sumbi (Komunitas Sastra Lingkar Sastra Selatan, 2011)

Penghargaan

  • Karyanya, Sehampar Kabut dan Angsana meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2005-2006 dan 2006-2007
  • Karyanya, Telapak Air meraih Hadiah Sastra Lima Besar Khatulistiwa Literary Award untuk periode 2012 -2013.
  • Sajak Tina Sapatu Jeung Baju Sakola Barudak meraih Hadiah Sastra LBSS (1999)
  • Esai yang ditulisnya Taufiq Ismail, Penyair Yang Peka Terhadap Sejarah, meraih Anugerah Jurnalistik Zulharmans dari PWI Pusat, Jakarta (1999).
  • Hadiah Puisi Juniarso Ridwan lewat puisi Sunda yang ditulis dan dipublikasikannya di majalah Sunda, Manglé.
  • Pada bulan Desember 2010 mendapat Anugerah Budaya 2010 dari Gubernur Jawa Barat untuk bidang penulisan karya sastra.
  • Namanya dicatat Ajip Rosidi dalam entri Enslikopedi Budaya Sunda (PT. Pustaka Jaya, 2000) dan Apa Siapa Orang Sunda (Kiblat Buku Utama, 2003)

Sonian

Apa itu sonian? Penyair Soni Farid Maulana menjelaskan, bahwa sonian adalah puisi sepanjang empat baris yang dikreasi dengan pola 6-5-4-3 suku kata perlarik. Semakin bawah seorang penyair menulis sonian, maka semakin sulit, karena kata-kata yang dibutuhkan semakin sedikit jumlahnya.

“Hal ini dimaksudkan, agar puisi yang ditulis dalam bentuk ini tidak pecah, melainkan kian fokus pada pengalaman batin macam apa yang ingin diekpresikan. Jika diibaratkan dengan mata panah yang terbalik, maka jelas sudah, bahwa kian bawah kian runcing adanya. Walau demikian, meski nyaris sama pendeknya dengan haiku, sonian bukan haiku yang ditulis dengan pola 5-7-5 suku kata perlariknya, yang dikreasi oleh penyair Jepang kenamaan pada zamannya, Bāsho,” tutur Soni seperti pernah diberitakan PRLM (21 Februari, 2015 lalu).

Dibukanya grup penulisan puisi genre sonian di Jejaring Sosial Facebook pada 21 Januari 2015 lalu oleh penyair bertubuh atleris ini, telah mendapat perhatian yang meluas. Media nasional seperti HU Kompas, pada Sabtu (21/02/2015) telah turut memberitakan gerakan penulisan puisi yang dikreasnya.(okb/berbagai sumber)

Baca: Puisi Soni Farid Maulana

Amir Hamzah, Sastrawan Angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional

Amir Hamzah portrait edit.jpg
Amir Hamzah (28 Februari 1911 – 20 Maret 1946)

Tengkoe Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengkoe Amir Hamzah Pangeran Indra Poetera, atau lebih dikenal hanya dengan nama pena Amir Hamzah (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, Hindia Belanda, 28 Februari 1911 – meninggal di Kwala Begumit, Binjai, Langkat, Indonesia, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Poedjangga Baroe dan Pahlawan Nasional Indonesia. Lahir dari keluarga bangsawan Melayu Kesultanan Langkat di Sumatera Utara, ia dididik di Sumatera dan Jawa. Saat berguru di SMA di Surakarta sekitar 1930, pemuda Amir terlibat dengan gerakan nasionalis dan jatuh cinta dengan seorang teman sekolahnya, Ilik Soendari. Bahkan setelah Amir melanjutkan studinya di sekolah hukum di Batavia (sekarang Jakarta) keduanya tetap dekat, hanya berpisah pada tahun 1937 ketika Amir dipanggil kembali ke Sumatera untuk menikahi putri sultan dan mengambil tanggung jawab di lingkungan keraton.

Meskipun tidak bahagia dengan pernikahannya, dia memenuhi tugas kekeratonannya. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tahun 1945, ia menjabat sebagai wakil pemerintah di Langkat. Namun siapa nyana, pada tahun pertama negara Indonesia yang baru lahir, ia meninggal dalam peristiwa konflik sosial berdarah di Sumatera yang disulut oleh faksi dari Partai Komunis Indonesia dan dimakamkan di sebuah kuburan massal.

Amir mulai menulis puisi saat masih remaja: meskipun karya-karyanya tidak bertanggal, yang paling awal diperkirakan telah ditulis ketika ia pertama kali melakukan perjalanan ke Jawa. Menggambarkan pengaruh dari budaya Melayu aslinya, Islam, Kekristenan, dan Sastra Timur, Amir menulis 50 puisi, 18 buah puisi prosa, dan berbagai karya lainnya, termasuk beberapa terjemahan. Pada tahun 1932 ia turut mendirikan majalah sastra Poedjangga Baroe. Setelah kembali ke Sumatera, ia berhenti menulis. Sebagian besar puisi-puisinya diterbitkan dalam dua koleksi, Njanji Soenji (EYD: “Nyanyi Sunyi”, 1937) dan Boeah Rindoe (EYD: “Buah Rindu”, 1941), awalnya dalam Poedjangga Baroe, kemudian sebagai buku yang diterbitkan.

Puisi-puisi Amir sarat dengan tema cinta dan agama, dan puisinya sering mencerminkan konflik batin yang mendalam. Diksi pilihannya yang menggunakan kata-kata bahasa Melayu dan bahasa Jawa dan memperluas struktur tradisional, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk ritme dan metrum, serta simbolisme yang berhubungan dengan istilah-istilah tertentu. Karya-karya awalnya berhubungan dengan rasa rindu dan cinta, baik erotis dan ideal, sedangkan karya-karyanya selanjutnya mempunyai makna yang lebih religius. Dari dua koleksinya, Nyanyi Sunyi umumnya dianggap lebih maju. Untuk puisi-puisinya, Amir telah disebut sebagai “Raja Penyair Zaman Poedjangga Baroe” (EYD:”Raja Penyair Zaman Pujangga Baru”) dan satu-satunya penyair Indonesia berkelas internasional dari era pra-Revolusi Nasional Indonesia.( Sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)