Arsip Tag: Budaya

Inalillahi… Tokoh Silat Pangandaran Meninggal Usai Ikut Karnaval Budaya

Info dari wartapriangan.com – Pangandaran> Kabar duka dan mengejutkan datang dari Pangandaran, Jawa Barat. Abah Usup, salah satu tokoh silat warga Desa/Kecamatan Cijulang meninggal dunia sesaat setelah mengisi acara penyambutan iring-iringan Karnaval Budaya dalam rangka Milangkala ke 5 Kabupaten Pangandaran Sabtu (21/10/2017) sekitar pukul 12.30 WIB.

Menurut Ketua IPSI Kabupaten Pangandaran Hendar Suhendar, Almarhum adalah Ketua Paguron Silat Panglipur di Cijulang, dan sangat familiar bagi masyarakat Pangandaran karena sering mengisi sejumlah acara budaya.

Dari informasi yang diterima Warta Priangan, almarhum meninggal dunia mendadak setelah beberapa jam mengisi acara menyambut iring-iringan karnaval saat sedang duduk di Taman Sunset Pangandaran.

Semula dikira hanya pingsan saat duduk di taman, langsung dibawa ke Puskesmas Pangandaran, namun begitu sampai di Puskesmas sudah meninggal.

Setelah diketahui meninggal, jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk dikebumikan.

Banyak pihak menduga-duga terkait penyebab kematian korban. Dari serangan jantung, dehidrasi, dan kelelahan.(Iwan Mulyadi/WP)

Sosok Abah Usup dimata Ketua IPSI Pangandaran

Meninggalnya Maestro Pencak Silat Kabupaten Pangandaran Abah Usup, usai menampilkan prosesi penyambutan Bupati dan Wakil Bupati Pangandaran di Karnaval Budaya, pada Sabtu (21/10/2017) siang tadi, meninggalkan duka mendalam bagi masyarakat Pangandaran.

 

Begitu halnya, duka yang sama dirasakan Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Pangandaran, Hendar Suhendar.

“Abah usup bagi saya merupakan tokoh dan pejuang pencak silat yang tanpa pamrih,”ujar Hendar, kepada Warta Priangan.

Dirinya mengaku, kenal dengan Almarhum sejak tahun 1993, saat pertama kali datang untuk bekerja di Ciamis hingga ke Pangandaran.

“Sampai akhir hayatnya Almarhum tetap konsisten mengajar silat kepada siapapun. Bagi saya almarhum merupakan ikon Jawara Pakidulan,”pungkasnya. (Iwan Mulyadi/WP)

Iwan Mulyadi, mengawali karier sebagai jurnalis sejak 1988, antusias terhadap filssafat, media buku dan seni –terutama seni visual , seperti lukisan, patung, instalasi, desain dan fotografi

Sastra Tanpa Lembaran Rupiah

Gerai Indonesia di Pameran Buku Frankfurt 2016, Jerman/Foto dw.com.

Sejak menjadi tamu kehormatan di Pameran Buku Frankfurt 2015 silam, Indonesia rajin mempromosikan sastra nasional di luar negeri. Upaya itu disokong oleh Litri, dana penerjemahan pemerintah, yang ironisnya minim dana.

“Suara kita perlu disampaikan,” kata Direktur Litri, Anton Kurnia, dalam sebuah wawancara. Sebab itu “penerjemahan sastra kita penting untuk memperkenalkan karya kita kepada dunia.”

Kesempatan tersebut muncul di arena Pameran Buku Internasional Frankfurt, Jerman. Sejak menjadi tamu kehormatan tahun silam, Indonesia mulai dilirik penerbit asing sebagai lahan menggali cerita. Terutama kehadiran penulis muda seperti Lakshmi Pamuntjak, Leila S. Chudori atau Eka Kurniawan yang tidak jengah bersinggungan dengan isu-isu sensitif bisa memperkuat daya pikat sastra nusantara.

Tapi berbeda dengan tahun lalu yang riuh, kali ini Indonesia tampil sederhana di Frankfurt Book Fair. Selain gerai nasional yang didesain modern menyerupai sawah terasering oleh duo Avianti Armand dan Andro Kaliandi, Indonesia cuma memiliki sebuah tenda kecil sebagai tempat pertunjukan.

Lewat lembaga penerjamahan itu, nantinya penerbit asing bisa meminta dukungan dana penerjemahan untuk karya-karya yang telah dibeli hak terbitnya. Insiatif tersebut diusung oleh Komite Buku Nasional sebagai bagian dari program promosi.

Terkendala Birokrasi

Tapi sebagaimana lazimnya, dana menjadi kendala terbesar mempromosikan sastra Indonesia di dunia. Rumitnya birokrasi di level pemerintah membuat promosi budaya lewat aksara itu sering terhambat.

Anton Kurnia misalnya mengklaim Litri kehilangan lebih dari 50% anggaran yang sudah dijanjikan tahun lalu. Hasilnya “penerjemahan buku yang bisa kami danai menjadi berkurang,” tutur Anton. Dari 200 judul buku, Litri cuma mampu mendanai lima penerjemahan.

“Persoalannya ada pada teknis birokratis,” kata Anton. Meski pemerintah berpandangan sama soal promosi sastra, “mereka belum bisa melepaskan diri dari aturan-aturan” yang mengikat tersebut, tambh direktur Litri itu.

Keberadaan Litri dinilai penting oleh banyak pihak. Pasalnya “menerjemahkan 200 halaman ke dalam bahasa Inggris menelan biaya sangat besar. Sementara kita tidak tahu bukunya laku apa tidak,” kata Sari Meutia, Direktur Utama Mizan Group.

“Kita sangat membutuhkan penerjemahan sastra. Jadi setelah diterjemahkan ke bahasa Inggris misalnya, penerbit asing bisa lebih mudah mempelajarinya dan mengapresiasi karya tersebut,” kata Siti Gretiani, Direktur Utama Gramedia. Dari sekitar 2000 judul yang diterbitkan rumah cetak terbesar Indonesia itu, tidak sampai 10% yang diadaptasi ke dalam bahasa asing. (Dikutif dari dw.com)

Bikin Geger, Menteri Susi Dayung Kano Meriahkan Hajat Laut

Aksi Menteri Susi mendayung kano di Perairan Teluk Pangandaran saat Perayaan Syukuran Nelayan, Kamis (21/9). NS/SPC.

Pangandaran,SPC – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti muncul tiba-tiba di Perairan Teluk Pangandaran dengan mendayung kano saat ajang Syukuran Nelayan (Hajat Laut), Kamis (21/9). Aksi kejutan sang Menteri tersebut sontak mencuri perhatian ribuan warga dan wisatawan.

Menteri Susi mengayuh kano mendekati acara perayaan Syukuran Nelayan saat Bupati Pangandaran bersama jajaran pejabat setempat sedang melakukan prosesi tabur bunga untuk mengenang nelayan yang meninggal di laut. Tidak ada yang mengetahui darimana awalnya Menteri Susi bermain kano.

Tiba-tiba saja, Ia melambaikan tangan menyapa ribuan warga dan teman baiknya Bupati Pangandaran H Jeje Wiradinata dari tengah laut. Jaraknya sekitar 200 meter dari pantai. Setelah menyapa warga, Susi lantas melanjutkan petualangannya ke tengah laut.

Dikawal sejumlah pria berbadan tegap, Susi terlihat menikmati bermain kano, meskipun kondisi ombak tidak begitu bersahabat karena sedang musim angin timur. Beberapa nelayan mencoba mendekat menggunakan perahu untuk sekedar menyapanya.

“Ibu apa kabar, kita lagi panen ikan layur,” tutur Rudi Santoso (37), salah seorang warga Pangandaran.

Sautan warga tersebut langsung disapa Susi dengan senyuman dan lambaian tangan. “Oh lagi panen ikan yah, bagus,” teriaknya ramah.

Menteri nyentrik itu kemudian berpamitan dan terus mendayung ke tengah laut. Beberapa pengawalnya mengikuti di belakang dan memberi kode kepada warga yang naik perahu untuk tidak mendekat.

Editor: Andi Nurroni

Karnaval Seni Tradisional Meriahkan Syukuran Nelayan di Pangandaran

Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval di belakangnya/foto:Iwan Mulyadi/WP

Pangandaran/WP- Ratusan nelayan, warga dan wisatawan beramai ramai berbaur menghadiri prosesi budaya Syukuran Nelayan yang dipusatkan di Pantai Timur Pangandaran, Kamis (21/9) pagi.

Kegiatan yang bertujuan untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan berkah serta keselamatan kepada para nelayan ini dihadiri oleh ribuan warga yang berbaur dengan wisatawan.

Kegiatan ini dihadiri Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari, Anggota DPRD Jawa Barat H Ijah Hartini, para anggota Dewan DPRD Kabupaten Pangandaran dan undangan lainnya.

Prosesi ini diawali dengan pelaksanaan karnaval yang mengambil rute dari depan Kantor Desa Pangandaran, menyusuri Jalan Kidang Pananjung dan akan berakhir di lokasi Syukuran nelayan di komplek Pasar Ikan Pantai Timur Pangandaran.

Dalam Kesempatan tersebut Bupati Jeje Wiradinata dan Wakil Bupati Adang Hadari memimpin karnaval dengan menaiki kereta hias, diikuti peserta karnaval lain dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional yang ada di Kabupaten Pangandaran. (Iwan Mulyadi/Warta Priangan)

Tortor, Ternyata Kental Dengan Nuansa Mistis

TortorBagi orang Batak, Tot-tor adalah tarian yang disajikan dengan musik gondang. Meskipun Tortor hanya sebuah tarian, namun makna yang terkandung lebih dari itu. Dari gerakan-gerakan yang dilakukan panortor (si penari), Tortor adalah cara berkomunikasi yang dilakukan orang Batak dengan kekuasaan di luar nalar.

Zaman dulu tortor merupakan sarana utama untuk melaksanakan upacara ritual keagamaan bagi suku Batak. Selain itu, tari Tortor juga dimainkan dalam acara menyambut gembira seperti sehabis panen, perkawinan, yang waktu itu masih bernafaskan mistik.Biasanya, sebelum acara dilakukan, tuan rumah atau hasuhutan melakukan acara khusus yang dinamakan ‘Tua ni Gondang’. Dalam pelaksanaan tarian itu, salah seorang dari hasuhutan akan meminta kepada penabuh gondang dengan kata-kata yang sopan dan santun atau yang biasa disebut amang pardoal pargonci.Bukti bahwa tortor itu bernuansa mistis, terlihat dalam kata-kata pengantar berikut ini:

– Alu-aluhon ma jolo tu omputta Debata Mulajadi Nabolon, na Jumadihon nasa adong, na jumadihon manisia dohot sude isi ni portibion.

– Alu-aluhon ma muse tu sumangot ni omputta sijolo-jolo tubu, sumangot ni omputta paisada, omputta paidua, sahat tu papituhon.

– Alu-aluhon ma jolo tu sahala ni angka amanta raja na liat na lolo.

Setiap selesai satu permintaan selalu diselingi dengan pukulan gondang dengan ritme tertentu dalam beberapa saat. Setelah permintaan tersebut dilaksanakan dengan baik, maka barisan keluarga suhut yang telah siap manortor (menari) mengatur susunan tempat berdirinya untuk memulai menari.

Jenis permintaan jenis lagu yang akan dibunyikan adalah permohonan kepada dewa dan  ro-roh leluhur agar keluarga suhutan yang mengadakan acara diberi keselamatan kesejahteraan, kebahagiaan, dan rezeki yang berlimpah ruah.

Selain itu dalam tarian tortor, sang penari juga wajib memakai Ulos (kin khas Batak) dan mempergunakan alat musik gondang. Saat menari tortor juga ada pantangan yang tidak dilakukan seperti tangan panortor tidak boleh melewati batas setinggi bahu ke atas, bila itu dilakukan berarti dia sudah menantang siapa pun dalam bidang ilmu perdukunan, atau adu pencak silat, atau adu tenaga batin dan lain lain.

Tortor digunakan sebagai sarana penyampaian batin baik kepada roh-roh leluhur dan maupun kepada orang yang dihormati (tamu-tamu) dan disampaikan dalam bentuk tarian yang menunjukkan rasa hormat. (sumber utama: Sopo Batak/int)

Mengenal Alat Musik Nafiri Dari Riau

 Nafiri merupakan alat musik tradisional yang berasal dari provinsi Riau di pulau Sumatera yang bentuknya mirip dengan terompet. Masyarakat melayu di Riau sendiri tidak hanya mengembangkan alat musik seperti nafiri tetapi juga alat-alat musik seperti : canang, tetawak, lengkara, kompang, gambus, marwas, gendang, rebana, serunai, rebab, beduk, gong, seruling, kecapi, biola dan akordeon.

Alat-alat musik di atas menghasilkan irama dan melodi tersendiri yang berbeda dengan alat musik lainnya. Kita dapat melihat permainan alat musik ini bersama dengan pertunjukkan makyong yang merupakan sebuah bentuk kesenian tradisional yang saat ini masih dimainkan dan diwariskan di provinsi Riau. Selain sebagai alat musik, nafiri juga digunakan sebagai alat komunikasi masyarakat melayu. Terutama untuk memberitahukan tentang adanya bencana, dan berita tentang kematian.

Sejarah

Asal-usul alat musik tersebut belum begitu jelas. Jika melihat perjalanan sejarah provinsi Riau, sejak dahulu sudah ditempati oleh orang-orang Melayu pada masa kerajaan Sriwijaya. Orang Melayu tersebut menempati berbagai macam tempat di selat malaka. Pembauran yang terjadi antara masyarakat melayu dengan suku bangsa Padang, Jawa, Minangkabau, Bugis, Banjar dan Batak menyebabkan munculnya berbagai macam budaya termasuk di dalamnya alat-alat musik. Akan tetapi, ada suatu pendapat bahwa alat musik ini berasal dari India karena mirip dengan alat musik untuk memainkan ular. Selain itu ada juga pendapat bahwa alat ini berasal dari daerah Timur Tengah karena adanya kemiripan nama yaitu naifr.

Pada zaman kerajaan-kerajaan, nafiri merupakan salah satu alat yang penting untuk digunakan pada acara penobatan raja selain sebagai alat musik di istana. Pada kerajaan melayu dulu alat pusaka Nobat seperti nafiri, gendang, sirih esar, dan cogan merupakan lambang negara atau yang biasa disebut dengan regelia kerajaan yang dijadikan sebagai kekuatan spiritual dan kehormatan kerajaan bersama dengan adat istiadat. Tanpa adanya alat-alat tersebut penobatan seorang raja tidak dapat disahkan.

Ada kepercayaan pada zaman dahulu jika kedua kekuatan spiritual tersebut rusak maka akan hancur dan runtuhlah harkat dan harga diri bangsa tersebut. Bagi Kerajaan Kerajaan Melayu di rantau itu, sebuah kerajaan boleh saja ditaklukan, direbut, dan dikuasai oleh pihak lain. Raja atau sultannya bisa saja terusir dan melarikan diri ke negara atau daerah lain, mencari perlindungan. Tetapi, jika Regelia Kerajaan tidak dirampas dan tidak direbut, selagi Regelia sakti dan keramat itu masih dipegang oleh rajanya, maka kedaulatan negeri itu masih tegak. Sultannya tetap punya kedaulatan, dan dia bisa mendirikan kerajaan di mana saja, dan dijadikan raja di mana saja.

Karena alat-alat yang dianggap memiliki kesaktian itu, belum ditaklukkan. Karena itulah, siapapun yang memegang dan diberi tugas menjaga Regelia itu, adalah seorang yang kuat dan perkasa. Seseorang yang memiliki kekuasaan jauh di atas kekuasaan lain, termasuk sultannya sendiri. Biasanya orang tersebut merupakan penasihat raja.

Di Kedah nafiri bersama dengan alat-alat musik nobat lainnya disimpan di dalam sebuah tempat yang bernama Balai Nobat. Balai Nobat sendiri merupakan bangunan yang khas dengan arsitektur Islam. Hal tersebut dapat dilihat dengan adanya kubah di atasnya. Bangunan ini telah seringkali direnovasi terutama pada zaman pemerintahan Sultan kedah yang ke-25 yaitu Sultan Ahmad Tajuddin Mukarram Shah yang telah menduduki takhta mulai tahun 1854 hingga 1879. Nobat berasal dari Kata Persia ‘Naubat” yang berarti sembilan instrumen.

Nobat merupakan orkestra musik kerajaan yang digunakan terutama untuk penobatan raja, bangsawan serta penyambutan tamu istimewa. Para pemainnya disebut dengan Orang Nobat. Nobat juga dimainkan bersama dengan perayaan-perayaan suci lainnya seperti kematian. Ada sebuah kepercayaan bahwa nobat berasal tradisi India yang ditularkan oleh para pedagang yang saat itu singgah di selat Malaka.

Pada zaman kerajaan dulu, nafiri digunakan sebagai alat untuk menyatakan peperangan terhadap kerajaan lain. Selain itu juga, nafiri digunakan untuk memberitakan tentang kematian raja, diangkatnya raja. Alat ini juga digunakan untuk mengumpulkan rakyat, agar mereka segera datang ke alun-alun istana untuk mendengarkan berita atau pengumuman dari rakyat mereka. Oleh karena itu, alat ini dijadikan sebagai barang pusaka kerajaan.

Di Malaysia kita juga akan menemukan alat musik yang disebut dengan nafiri walaupun dengan bentuk yang sedikit berbeda. Di negara tersebut alat musik ini dapat kita jumpai untuk mengiringi lagu-lagu daerah dan juga upacara adat. Kita dapat melihat alat ini pada orkestra nobat di Malaysia. Alat musik ini juga digunakan untuk penobatan gelar kebangsawanan.

Salah satu orang yang pernah mendapatkan gelar kehormatan Adat di Riau adalah sultan Hamengku Buwono X. Ketika penobatannya berlangsung suara Nafiri bersama dengan Alat musik tradisional lainnya mengiringi acara tersebut di depan sidang Majelis Perapatan Adat Melayu. Alat-alat tersebut digunakan sebagai penanda diangkatnya seseorang sebagai bangsawan. Saat ini fungsi nafiri menjadi lebih berkurang karena hanya digunakan pada acara-acara kerajaan atau perayaan-perayaan yang dilakukan oleh masyarakat melayu.

Menurut kepercayaan orang Melayu Riau, ketika memainkan alat musik ini para pemainnya dirasuki oleh para dewa, mambang, dan peri. Sehingga seolah-olah mereka menyampaikan pesan akan terjadinya bahaya atau kejadian penting lainnya. Oleh karena itu, sebelum ditiup alat musik ini perlu dipusung yaitu diasapi di atas pedupaan. Nafiri ditiup dengan aliran udara yang tidak terputus selama dua atau tiga jam. Pemain Nafiri harus orang yang memiliki napas panjang, sehat badannya, dan memiliki teknik khusus sehingga tidak putus tiupannya. Nafiri ditiup hanya dengan tangan tangan kanan sedangkan tangan kirinya memegang bagian bawahnya.

Fungsi dan kegunaan
  1. Pengiring tarian tradisional, tari Inai, tari Jinugroho dan tari Olang.
  2. Sebagai alat musik yang utama di dalam musik robat yang merupakan musik yang dimainkan di lingkungan masyarakat.
  3. Sebagai melodi yang digunakan untuk menentukan gerakan-gerakan silat.
  4. Untuk penobatan raja-raja ketika Riau masih berbentuk kerajaan-kerajaan serta bangsawan.
  5. Tanda terhadap terjadinya peperangan, bencana, dan kematian.
  6. Alat yang digunakan sebagai penanda spiritual untuk memanggil dewa, roh, atau arwah nenek moyang.
Cara membuat Nafiri

Terbuat dari kayu yang berukuran 25 sampai 45 centimeter. Antara batang dengan dan tempat tiupnya diberi batas yang terbuat dari tempurung kelapa. Nafiri menggunakan semacam lidah yang terbelah dua terbuat dari daun kelapa yang muda atau ruas bambu yang sudah kering. Lidah tersebutlah yang disebut dengan vibrator yang akan mengeluarkan suara atau bunyi-bunyian. Lubang jari ada tiga buah yang besarnya kira-kira sebesar biji jagung untuk mengatur tinggi rendahnya nada. Pada bagian pangkalnya diberi sambungan berbentuk seperti bujur telur yang terpotong dan berongga untuk membuat volume yang dikeluarkan lebih besar. Musik yang dikeluarkan terdengar seperti meronta-ronta daripada melodi yang jelas untuk didengar.

Sepotong kayu yang telah dikerat menurut ukuran yang dikehendaki ditoreh besar dipangkalnya sehingga bentuknya mirip dengan telur yang sudah dipotong bagian ujungnya. Kemudian diberi bebatang, proses tersebut yang disebut dengan balan atau bakal nafiri. Kemudian balan tersebut diperhalus dengan menggunakan pisau raut dan digesek untuk dihaluskan dengan daun trap atau kelopak bunga sukon yang hanya ditemukan didaerah sumatera. Kemudian dilubangi dengan menggunakan gurdi kecil dan pahat, hal tersebut akan membuat nafiri tersebut berongga dengan tebal kulitnya kurang lebih setengah centimeter. Pada batang nafiri dibuat lubang-lubang jari dengan menggunakan besi yang dipanaskan. Cara memainkan dan membuat Nafiri diturunkan secara terus menerus dari generasi ke generasi oleh masyarakat Melayu Riau.

sumber: Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas