Oleh : Nanda Dyani Amilla
Kemarau panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada, hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa menghantam keras dadanya.
~
Bik Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah pergi, malamnya lupa kembali.
Bik Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga. Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.
.
Bukan Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal serumah dengan Bik Jah dan keluarga.
.
Sementara anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel sendiri.
“Mau kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu. Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban anaknya.
“Itu kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
* * *
Bik Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang dengan kabar menjijikkan.
“Aku sudah menikah lagi.”
Sepenggal kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya, kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima orang anak.
Bik Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi. Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah sakit.
–
Seminggu sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini. Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.
‘
Cobaan tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3 SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya. Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata ‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu mau minum susu?” tanyanya.
Bik Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah, Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang, ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit. Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara tangis Marni meraung di udara.[]

(Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir di FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)



