Arsip Tag: Nanda Dyani Amilla

[Cerpen] Membunuh Ibu

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Kemarau panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada, hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa menghantam keras dadanya.

~
Bik Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah pergi, malamnya lupa kembali.
Bik Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga. Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.

.
Bukan Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal serumah dengan Bik Jah dan keluarga.

.
Sementara anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel sendiri.
“Mau kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu. Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban anaknya.
“Itu kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
* * *
Bik Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang dengan kabar menjijikkan.
“Aku sudah menikah lagi.”
Sepenggal kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya, kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima orang anak.
Bik Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi. Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah sakit.


Seminggu sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini. Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.


Cobaan tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3 SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya. Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata ‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu mau minum susu?” tanyanya.
Bik Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah, Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang, ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit. Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara tangis Marni meraung di udara.[]

 

 

 

(Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir di FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

Lelaki Penjual Kenangan

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Membaca kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.

Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu. Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.

Singkatnya, aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan menangis sendirian.

Dan kamu…
Kamu masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu. Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil dengan perasaan besarnya di sini.

Setiap hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas menyebutkan namanya.

Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita dan menertawakan apa saja.

Tiga tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan teman-teman.

Perlahan, aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati. Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku. Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata semenyakitkan ini.

Hingga enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.

Aku merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku? Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.

Aku melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu malu itu.

Sekarang aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak pernah berbalas itu.
Hingga pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku dan kesibukanmu.

Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan “pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk mendapatkannya?

Lupakan! Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik. Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.

Tapi aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia, akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab. Kita pergi nonton film, menikmati milk shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu cukup menukar luka-luka lama yang ada.

Sepulang mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu. Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau menyayangiku.

Kau seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku. Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.

Sekarang, mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar, tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.

Dengarlah…
Dengan ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa luka. Tanpa duka[]

Teruntuk pria,
yang sering memanggilku Milla
teruslah berbahagia

(Penulis adalah peracik kata yang hobi ketawa. Penikmat kopi tanpa roti. Pejuang rindu tanpa temu. Mari mampir ke blog pribadinya : nandadyaniamilla.blogspot.com , siapa tahu jatuh hati.)

 

 

 

[Cerpen] Merayakan Luka

Oleh: Nanda Dyani Amilla
Ketika diksiku tak lagi mampu membuatmu yakin bahwa rumahku masih cukup hangat untuk kau tinggali. Ketika ujarku tak lagi bisa menahan langkahmu untuk tidak beranjak pergi. Ketika harapku pun tak lagi bisa menghentikan keputusanmu untuk lari dan menyendiri. Ketika itu pula, aku meragukan rasa yang pernah kita jaga bersama. Apakah memang sebesar itu? Atau waktu memang telah lelah untuk memaklumi semua keegoisan kita?

Aku tidak pernah ingin berada di posisi ini. Bahkan untuk membayangkannya saja aku enggan. Meski sakit, aku selalu mampu membujuk hatiku untuk tetap mempertahankanmu. Menjalani semuanya sekalipun kau berbuat salah. Aku berusaha menelan semua kecewa agar tak pernah kita berpisah. Aku berusaha meminimalisir luka, memaafkan agar kita tetap bahagia. Aku tahu kau pun turut melakukan hal yang sama. Namun, apakah kali ini kita benar-benar menyerah?
Kau memaksaku untuk melupa. Kau memaksaku untuk berjalan sendiri. Kau memaksaku untuk pergi. Meski aku tidak ingin, aku kembali melakukannya untukmu. Dan kali ini, sakitnya melebihi batas mampuku. Haruskah kita berakhir dengan cara seperti ini? Haruskah kau mengusirku dengan paksa dari hatimu? Ataukah kau telah menemukan seseorang yang baru?
Aku berusaha untuk tidak menangis ketika menuliskan ini. Sebab aku tahu, kau juga tidak akan menangis ketika membacanya nanti. Untuk sekadar kau tahu, perasaanku masih bertahan di tempat semula. Tidak akan pernah bergeser sedikitpun dari sana. Tak akan pernah berubah meski ada seseorang yang menawarkan bahagia. Kau perlu tahu, mencintaimu tidak pernah benar-benar sederhana. Aku mencintaimu dengan segala upaya terbaik yang kupunya. Aku memperlakukanmu dengan sangat istimewa. Meski sesekali kau merasa akulah penyebab segala luka.
Maaf, jika selama mencintaiku kau begitu kelelahan. Maaf, jika selama bersamaku aku begitu menyebalkan. Aku hanya sedang berusaha mencintaimu dengan baik, meski di matamu segala usahaku tak pernah terasa penuh. Hari ini, aku kembali mengais-ais ingatan tentangmu. Tentang perjalanan kita melewati purnama-purnama. Tentang sedih bahagia yang kita cipta bersama.
Senja beberapa waktu lalu, kita masih menghabiskan waktu bersama. Duduk di taman berdua. Dan bercerita tentang apa saja. Aku masih bisa menatap wajah teduhmu dari jarak sedekat itu. Juga merasakan tawa bahagiamu yang memenuhi gendang telinga. Kita bicara tentang masa depan. Tentang hal-hal yang ingin kita capai bersama. Tentang impian yang ingin diwujudkan berdua.
Barangkali kita lupa, bahwa kita pernah melewati masa-masa paling sulit. Lebih sulit daripada saat ini. Tapi kecewaku adalah mendapati kenyataan bahwa dengan mudahnya kau menyerah. Begitu mudahnya kau melupakan segala. Kau lupa bahwa akulah perempuan yang rela menerima semua kekuranganmu. Akulah perempuan yang menangis ketika rindu kamu. Dan akulah perempuan yang selalu berdoa untuk kebahagiaanmu. Kau lupa menghitung berapa banyak airmata yang pernah tumpah atas namamu. Kau lupa menghitung berapa banyak sakit yang dipertaruhkannya bersamamu. Kau lupa menghitung berapa banyak cinta yang dijauhinya demi kamu.
Tidak. Aku tidak perlu menjelaskan seberapa banyak buih perasaan yang kupunya untukmu. Aku paham, kau mengerti jika soal ini. Kau hanya tidak paham, bagaimana cara menyelamatkan hatimu dari rasa marah. Sekuat apapun kini aku berusaha, kau tidak akan merubah prinsip itu.
Pergilah, jika rumahku kini tak lagi menghangatkanmu. Pergilah, jika kurangku terasa memberatkanmu. Pergilah, jika bahagiamu bukan lagi terletak padaku. Jangan khawatir, aku sudah bersahabat dengan luka sejak lama. Aku hanya harus terbiasa dengan dunia yang tanpamu. Aku hanya harus terbiasa saat membuka mata dan tidak lagi menemukanmu pada tempat yang sama. Bukankah setiap pertemuan memang akan bermuara pada kata pisah? Bukankah bahagia juga bisa berganti menjadi labirin luka?
Kembalilah, jika di kemudian hari kau tidak menemukan bahagia pada hati lain. Kembalilah, jika suatu hari nanti kau kembali merindu kisah kebersamaan kita. Sejatinya, kau tidak pernah menempati ruang benci di dalam hatiku. Untuk saat ini, bantulah aku untuk bisa menerima keadaan. Bantulah aku untuk menyembuhkan hati. Dengan cara pergi dan jangan menoleh lagi. Setidaknya sampai aku bisa melupakan rasa sakit ini. Setidaknya sampai perasaanku mati di kemudian hari.[]

untuk seseorang
yang kerapkali kubuat patah hatinya

 

( Nanda Dyani Amilla yang mengaku bernama fena Gadis Hujan, Perempuan pluviophile yang juga menulis novel berjudul “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)

Menjahit Beda (Bag. 2)

Sambungan dari Bag-1
 

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Keluarga Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali. Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya, istri dari kakak laki-laki Agatha.

Lanjutkan membaca Menjahit Beda (Bag. 2)

Menjahit Beda (Bag. 1)

Cerbung : Nanda Dyani Amilla

“Menjadi kekasihmu seperti menanak luka dan menyiramnya dengan cuka,” katamu di suatu sore. Kala itu, kita sedang menikmati pesanan es krim di sebuah café langganan kita—double truffle dan mint chocolate chip untukmu, vanilla chip dan cheesecake untukku. Kita duduk di salah satu meja kecil yang menempel di dinding. Sore ini kau tampak begitu cantik, dengan dress pink fuschia dengan sweater warna senada. Rambut panjangmu tergerai indah, dengan bandana putih di atasnya.

Aku menyendok es krim ke mulut, “Tapi kau selalu punya penawarnya, kan?” sahutku.

“Tidak selalu. Terkadang tembok itu membuatku berpikir bahwa aku tidak akan mampu melewatinya,” kudengar suara pesimis dari nada suaramu. Aku membetulkan letak dudukku, mencoba menangkap sesuatu dari tirai matamu. Ada sekelebat takut di sana, juga secercah lelah menghiasinya.

“Kau ingin menyerah?” tanyaku kemudian. Gadis dengan lesung pipi yang sejak dua tahun lalu menjadi kekasihku itu menggeleng.

“Lalu kenapa membahas hal ini lagi? Bukankah kita sudah sama-sama sepakat bahwa kita akan menjahit beda? Kau tidak ingin mengingkari omonganmu sendiri, kan?” tegasku lagi.

“Tidak, Satya. Belakangan ini aku hanya terlalu banyak berpikir, apakah tengadah tanganmu dan lipatan tanganku bisa bersatu?” suaranya mulai bergetar. Gadis itu mengaduk-aduk sisa es krimnya. Sudah tak berniat lagi untuk menghabiskan. Barangkali selera makannya juga sudah menguap entah kemana.

“Jika dua tahun ini baik-baik saja, mengapa sore ini kau begitu gelisah, Agatha?” tanyaku kemudian. Aku mencoba menenangkannya dengan tatapanku. Meyakinkannya bahwa segalanya bisa dijalani sama-sama. Agatha menatapku, masih sama tatapannya seperti pertama kali kami berkenalan. Bertemu dalam sebuah pekerjaan adalah hal biasa. Tetapi selalu kepikiran hingga malam menjelang adalah bagian dari rencana Tuhan. Begitu pikirku kala itu.

Kami dekat dan semakin akrab tatkala aku tahu bahwa dia juga seorang penulis. Tulisannya melalangbuana di berbagai media dan aku mengetahuinya karena aku pecandu aksara. Aku suka membaca. Dan sudah jatuh cinta dengan buku sejak zaman batu. Agatha tertawa jika aku mengatakan hal itu. Dia bilang aku adalah tipe laki-laki unik. Terunik yang pernah ditemuinya selama 22 tahun hidupnya.

Kami sering membahas hal-hal seputar dunia kepenulisan. Tentang novel-novel keluaran terbaru, tentang Afi Nihaya Faradisa yang begitu kontroversial dengan tulisannya, atau tentang impian Agatha menelurkan sebuah novel terbarunya. Aku bukan hanya menjadi pendengar yang baik untuk tulisan-tulisannya, terkadang aku juga senang memberi kritik dan saran untuk kemajuan tulisannya. Dan Agatha selalu menerima itu dengan senang hati.

Lamunanku buyar ketika kudengar suara adzan maghrib berkumandang. Agatha menatapku, “Mau kutemani ke masjid?” dia tersenyum manis sekali. Aku membalas senyumnya dan bangkit dari dudukku. Membayar bill dan langsung menuju masjid terdekat dari café ini. Beginilah, keyakinan kami berbeda, namun cinta kami sama. Agatha selalu suka menemaniku pergi ke masjid jika kami sedang berada di luar rumah bersama. Atau jika kami sedang melakukan pekerjaan berdua.

“Kau tidak mau masuk denganku?” aku menggodanya.

Agatha meninju bahuku, “Mungkin lain kali. Sampaikan salamku pada Tuhanmu, ya,” dia tersenyum, membalas gurauanku.

Aku berbalik dan menuju tempat berwudhu. Sementara Agatha menungguku di atas sepeda motor. Kami berbeda, namun rasa kami sama. Sehingga apapun yang terjadi, kami akan melewatinya bersama-sama. Meski beberapa pasang mata di tempat kerja memandang sinis, meski beberapa keluarga Agatha menatap tak suka, terlebih ayahandanya. Tapi aku selalu berkata pada Agatha bahwa apa-apa yang telah ditulis Tuhan di Mahfudz-Nya, tidak akan bisa dihancurkan manusia. Siapapun dia.

Aku yakin Agatha tak terlalu paham dengan ucapanku, tapi aku tahu bahwa dia adalah gadis yang cerdas. Dia pasti bisa mengartikan maksudku. Kini, dua tahun sudah kami berjuang walau kesakitan. Dua tahun sudah kami menjahit beda agar menjadi sama. Dan dua tahun pula, kami sibuk berdoa dengan bahasa masing-masing. Aku masih tetap mencumbu Al-Quran, dan Agatha masih tetap mencumbu Al-Kitab. Aku masih sibuk berdoa dengan menengadahkan tangan, Agatha masih asik berdoa dengan melipat tangan. Aku masih sibuk dengan butiran tasbih, Agatha pun sibuk dengan kalung salibnya.

Segalanya kami jalani dengan cara yang berbeda, namun demi tujuan dan perasaan yang sama. Pernah suatu waktu, Agatha menanyakan keadilan Tuhan padanya. Saat kutemui ia pulang dari gereja seusai misa pagi.

“Mengapa aku harus jatuh cinta pada lelaki muslim yang sangat mencintai Tuhannya?” itu pertanyaan kesekian yang Agatha lontarkan padaku.

“Mengapa kau suka bertanya hal yang aku tidak tahu jawabannya?” aku mencoba bergurau.

“Kau tahu, terkadang aku merasa tersiksa. Mengapa Tuhan membuat kita saling jatuh cinta, jika pada akhirnya kita tidak akan bisa bersama? Mengapa Tuhan sisipkan luka saat kita berdua sedang jatuh cinta? Mengapa pula Tuhan membuat perbedaan, jika pada akhirnya yang beda ingin disatukan?” Agatha mulai berceracau.

Begitulah perempuan. Dia selalu berusaha mengungkapkan hal-hal yang menjadi ketakutannya pada kekasihnya. Dia selalu berusaha mengais jawaban untuk segala kekalutannya. Dia selalu mencoba mencari jalan agar keinginannya dikabulkan. Tapi mengertilah, Sayang, selalu ada hal yang hanya Tuhan yang tahu jawaban tepatnya.

“Bukankah hidup umat manusia memang selalu penuh dengan perbedaan? Mengapa dipermasalahkan, jika beberapa orang bilang bahwa perbedaan itu indah. Tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Mengapa sekarang kau seolah-olah sedang menghakimi Tuhan, Agatha?” tanyaku.

“Kau tahu, apa yang pastor katakan saat misa pagi tadi?” Agatha menatapku tajam.

“Apa?” aku menjawabnya tenang.

“Dia bilang, jika salah satu dari kami mencintai yang beda agama, itu sama saja dengan sengaja kami menyakiti hati Tuhan,” Agatha menarik napas dalam, kemudian menunduk.

Aku juga diam. Tidak mau berdebat dengannya terlalu dalam. Kau adalah Protestan yang taat, aku tahu itu. Namun, aku juga amat sangat mencintai Rabb-ku. Aku mencintai Rasul-ku. Untuk hal-hal macam ini, aku tidak berani mencecarmu terlalu jauh. Keyakinan kita masih sama-sama kuat. Tidak ada yang ingin terbantahkan. Tidak ada yang bersedia mengalah.

“Pastor bilang begitu. Tapi dia tidak tahu, bahwa aku sangat mencintaimu,” Agatha bersuara lagi. Kali ini, dia menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.

Oh, sungguh aku tidak bisa ditatap seperti itu. Sedalam itukah sayang perempuan ini padaku? Dan tak bisa dipungkiri, aku pun telah sayang padanya sejak hari-hari lalu. Meski selalu ada luka, namun bersamanya selalu saja aku bahagia.

Aku keluar dari masjid dan menghampiri Agatha yang sedang asik dengan handphone-nya. Kulihat dia tidak menyadari kedatanganku. Aku menjawil telinganya. Dia kaget dan memelototiku, “Jangan jahil deh…” sungutnya lucu.

Aku mengantar Agatha kembali ke rumahnya. Kami tiba dalam waktu 20 menit. Sebelum dia masuk ke dalam rumah, aku iseng menarik setangkai mawar putih yang ada di pot kecil berwarna emas di samping gerbang. Lalu kusodorkan pada Agatha.

Dia melotot dan kembali dengan kebiasaannya; marah-marah, “Ih, itukan bunga kesayangan mama!” Aku cuma bisa nyengir, “Will you marry me?” kataku kemudian. Agatha tampak salah tingkah. Aku menatapnya dengan senyum simpul. Dia menggaruk tengkuknya. Detik berikutnya, aku sudah terbahak. Wajah Agatha merah padam. Dia malu, dan itu terlihat sangat lucu. Aku masih sibuk dengan gelakku. Dia meninju bahuku kuat.

“Aktingmu jelek!” sungutnya.

“Ini hanya latihan, siapa tahu suatu hari nanti aku akan mengatakan itu padamu,” jawabku tersenyum.

“Memangnya kau berani?” tantangnya.

“Kenapa tidak? Aku ini Romeo masa kini, yang akan selalu memperjuangkan cintanya. Apalagi kenyataannya, kekasihku lebih cantik dari Juliet,” aku menggodanya lagi.

Agatha mencibir, “Coba saja kalau berani, malam ini kau sudah merusak bunga kesayangan mama. Jika besok kau kemari, habislah kau kena pelototannya,” Agatha menakut-nakutiku.

“Ahh, calon mertuaku tidak akan sejahat itu, Sayang…” aku terbahak. Agatha kembali tersenyum lebar. Tidak habis pikir mengapa ia bisa jatuh cinta pada lelaki muslim yang doyan guyon ini.

Kami berpisah ketika kupastikan Agatha sudah masuk ke dalam rumah. Aku pun mulai menstater motorku dan membawanya pulang ke rumah. Aku rebah setelah lima belas menit bertarung dengan dingin dan debu jalanan. Kulirik arlojiku, pukul 11 malam. Pikiranku melayang dan hinggap di percakapan depan gerbang beberapa waktu lalu. Jujur, aku adalah lelaki yang berhak memilih. Dan aku sangat ingin memilih Agatha untuk menjadi pasangan hidupku. Tapi, apakah Tuhan akan merestui? Jika perbedaan yang mengikat kami sangatlah kuat?

Bip bip..

Pesan blackberry messanger dari Agatha masuk ke hapeku.

Papa ingin bertemu kamu besok.

Aku terlonjak dari rebahku. Kaget. Tidak percaya dengan apa yang kubaca.

Ini sudah malam, Agatha. Leluconmu tidak lucu, ah… balasku dengan emoji kesal.

Kulihat Agatha sedang mengetik lagi : “Aku tidak sedang bercanda. Datanglah pukul 10 pagi. Malam ini, aku telah menceritakan semuanya pada Papa. Termasuk tentang pilihanku hidup bersamamu. Papa menungguku di ruang keluarga tadi, dan bertanya tentang seberapa serius kamu padaku. Untuk itu, datanglah besok. Yakinkan Papa…”

Aku menelan ludah membacanya. Kulirik arloji lagi, hanya tinggal menghitung jam, aku akan bertemu pagi. Mengapa secepat ini? Ah, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Luka dan ketakutan Agatha akan terjawab esok pagi. Tapi, aku bahkan belum menyiapkan amunisi apapun untuk bertemu ayahnya besok. Bagaimana pun, aku harus menemuinya dengan dua kemungkinan: ditolak atau menolak. Bersama atau berpisah. Tapi, bagaimana jika aku beralasan saja? Haruskah kutemui ayahnya? Atau menghindar saja? Bukankah ini terlalu mendadak? Tiba-tiba, kepalaku berdenyut. Haruskah aku menyerah?

bersambung ke (Bag-2)

 

 

(Penulis novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017)

Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Selalu ada yang tak bisa kujelaskan ketika aku melihat dirimu. Terlalu banyak cinta yang berlompatan dan menyusup masuk ke dalam hati, bahkan sebelum aku mengizinkannya untuk masuk dan menepi. Juga segudang rindu yang kau biaskan lewat tatapan matamu, semakin membuat aku kewalahan mewaraskan diri. Ya, bahkan lebih dari yang kau pahami, bahwa kau telah kujatuhcintai jauh sebelum kau mulai menyadari. Bahwa segala rasaku, muaranya adalah kamu. Lanjutkan membaca Hari-Hari Bersama dan Membersamaimu

[Cerpen] Kisah Hujan dan Summer

Oleh : Nanda Dyani Amilla

 

Januari hampir habis. Hujan tidak pernah datang lagi meski hanya sekadar rintik. Dia memilih bersembunyi dalam mendung yang kelabu. Entahlah apa sebabnya, aku sendiri kadang-kadang sangat merindukan hujan, meski kini aku tidak bisa terang-terangan mencintainya. Bian, laki-laki berambut cokelat yang mempunyai alasan kuat mengapa aku begitu mencintai hujan. Dia senang mengajakku menari di bawah hujan. Merentangkan tangan lebar-lebar dan membiarkan tetes hujan membasuh wajah secara perlahan. Bian bilang, hujan adalah kebahagiaannya. Hujan adalah kecintaannya setelah aku.

Aku lebih suka menamai Bian dengan sebutan hujan. Sejak kali pertama dia mengenalkanku pada ribuan tetes air langit itu. Di bawah senja, di sebuah halte pinggiran kota. Kala itu, Bian memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Sambil tersenyum, dia banyak bercerita tentang kecintaannya pada hujan. Katanya, hujan adalah teman terbaik dalam mengingat sesuatu. Hujan adalah momen terbaik untuk mengadu pada sang pencipta raga.

Berbulan-bulan lamanya, aku semakin akrab pada hujan. Aku bahagia jika hujan datang. Aku bahagia jika hujan berkunjung. Hidupku seolah terpenuhi oleh hujan. Aku tidak butuh yang selain hujan. Hujan bisa menenangkan gundahku, bisa meminimalisir lukaku, dan bisa menjadi penyebab tawaku. Hujan adalah segala, meski banyak orang menyumpahserapahinya.

Hingga suatu ketika, hujan tidak pernah datang lagi. Hujanku tengah sibuk dengan aktivitasnya. Panggilanku diabaikan, pesanku dibiarkan. Hujan tak lagi ingin menemuiku meski aku sangat ingin bertemu dengannya. Hujan bilang, semuanya sudah berakhir. Masa-masa sejuk dan dingin itu sudah sirna. Sebentar lagi summer akan datang.

Aku mengatakan padanya bahwa aku hanya mencintai hujan. Aku tidak butuh summer. Aku hanya ingin menari di bawah hujan. Aku juga hanya ingin berdoa banyak-banyak saat derasnya hujan. Lantas, apa yang bisa aku lakukan jika hujan tak ada dan summer tiba?

Hujan datang tepat di malam aku menangisinya. Dia mengetuk kaca jendela kamarku, berbisik bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tapi bagaimana bisa, sedangkan kini lukaku bertaburkan namanya. Berdarah-darah hingga aku tak berdaya. Aku tidak menyukai summer. Aku tidak ingin summer ada. Tapi hujan seolah mengejekku, bilang bahwa aku terlalu arogan menyikapi semuanya. Kesukaan adalah hal yang tumbuh dari kebiasaan. Hujan bilang, kesukaanku padanya pun tumbuh bersebab kebiasaan. Maka dari itu, kehadiran summer kelak, mungkin saja juga menjadi kecintaanku. Tapi, aku enggan mendengarkan celoteh hujan. Aku menutup telingaku dengan bantal besar. Lalu menangis sesenggukan, semerdu lagu cinta kesukaan kami berdua.

Aku tidur dengan airmata yang berserakan di pipi. Hujan benar-benar telah pergi. Pagi ini, summer untuk pertama kalinya, menyapaku dengan hangat. Cahayanya menerpa wajahku lembut. Kehangatannya memberikan kesan positif di hati, not bad, aku membatin. Hari-hari berikutnya, summer lah yang menemaniku. Aku menemukan sosoknya ketika memungut daun jatuh di depan toko kue itu. Dia melambaikan tangan dan mengajak berkenalan. Sore itu, aku tahu bahwa ia bernama Biru.

Biru sangat berbeda dengan hujan. Dia menyukai Mars. Dia menyukai senja. Juga menyukai cokelat panas. Dia tidak suka hujan. Katanya, hujan itu hal terburuk yang pernah ada. Jika saja aku tak mengenalnya sebagai kekasih baruku, tentu aku akan marah besar padanya. Berani benar mengatai hujanku adalah hal terburuk. Hujan itu adalah yang terbaik. Hujan adalah saat terbaik untuk memanjatkan doa. Meminta banyak-banyak pada Tuhan agar dihadiahkan banyak berkah. Lantas, mengapa Biru tak menyukainya?

“Bagaimana kalau kita menari di bawah hujan. Sekali saja.” Pintaku kala itu.

Biru menggeleng, “Aku tak suka hujan, Mia. Hujan membuat tubuhku flu. Lebih baik kau ke sini, dengarkan aku bercerita tentang Mars. Planet merah dengan banyak cinta. Kau mau mendengarnya?”

Aku terdiam, berkedip dua kali, namun menurut. “Kau tahu kenapa aku suka Mars?” Biru bertanya. Aku menggeleng, menatapnya menunggu jawaban. “Karena di Mars tidak ada hujan,” katanya tajam. Aku melirik Biru dalam. Mengapa dia menekan kata hujan di kalimatnya? Sebegitu bencinyakah ia pada hujan? Atau dia tahu alasan mengapa aku kini sangat mencintai hujan? “Dan tidak akan ada hujan di langit senja!” lirihnya. Aku terdiam.

Hari-hari berikutnya, kunamai dia dengan sebutan summer. Dia benar-benar summer untuk hatiku yang dingin. Dia suka bercanda dan melontarkan banyak jokes, namun aku terus saja menyisir kenangan bersama hujan. Mengais-ais masa lalu dengan ketidakpastian. Apa kabar hujanku? Kapan dia akan datang lagi? Aku rindu bermain di bawah rintiknya. Tertawa-tawa melepaskan segala beban yang terasa. Aku bahagia bersama summer, tentu saja. Namun aku lebih bahagia jika bersama hujan.

Kabar hujan datang ketika malam itu kuputuskan meneleponnya. Hujan memberi kabar beserta guntur yang bersahut-sahutan. Menyambar gendang telingaku tanpa ampun. Minggu depan, hujanku akan menikah. Aku tergugu. Apa yang akan aku katakan selanjutnya? Sambungan telepon masih tersambung. Apakah mengatakan selamat adalah yang terbaik? Atau mematikan sambungan telepon dengan alasan jaringan yang kurang bersahabat?

Malam itu, kuputuskan untuk tertawa dalam airmata. Kami bercanda seperti biasa. Namun hatiku terluka karenanya. Dia menyebutkan bahwa gadis itu cantik luar biasa. Bahkan aku tak sudi membayangkannya. Bagaimana mungkin aku membayangkan gadis yang sudah merebut hujan dariku? Hujan tetap tak menyadari bahwa aku begitu mencintainya. Usai bertelepon, airmataku luruh satu-satu. Hingga akhirnya menderas dan membuat bantalku basah.

Musim hujan benar-benar sudah berlalu. Masa-masa membahagiakan sudah usai. Tak ada lagi yang tersisa selain duka lebam yang dicongkelnya dengan geram. Panah yang ditancapkan hujan terlalu dalam hingga melukai hatiku. Sejak malam itu, aku berusaha menerima summer. Mencintai summer apa adanya. Mencintai cerita summer tentang Mars yang penuh cinta. Dan sejak malam itu pula, aku berhenti mencintai hujan. Berhenti menangisi tentangnya. Berhenti mengharapkan kedatangannya. Meski kerapkali, hatiku tetap setia menyusuri kenangan.

 

 Biodata Penulis :

Mahasiswi FKIP UMSU, Semester 6, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia. Penulis puluhan antologi cerpen dan puisi. Novel perdananya berjudul “Kejebak Friendzone” akan segera terbit dalam naungan Novela, Bentang Pustaka. Sapa ia di email : dyani.nanda@gmail.com atau intip galerinya di instagram : gadishujan_

[Cerpen] Lantai Lima

Cerpen

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meletakkan tas punggungku di atas kursi panjang itu. Saat ini aku tengah berada di lantai lima gedung B Fakultas Keguruan. Jam perkuliahan baru saja selesai 10 menit lalu, teman-teman sudah menghambur menuruni anak tangga. Aku tak buru-buru sore ini, kulirik jam yang melingkar di pergelangan tanganku, masih pukul 17.45 WIB. Masih ada sedikit waktu utuk melakukan hobiku sebelum waktu merangkak menuju maghrib.

Aku mengambil kamera dan mulai memotret beberapa objek dari atas gedung ini. Ya, aku memang mahasiswa Fakutas Keguruan, namun tidak dapat dipungkiri bahwa aku terlalu mencintai fotografi. Lagi pula, dari hobi ini aku juga bisa mendapatkan uang. Setelah memotret beberapa objek yang kurasa cukup bagus, tanpa sengaja kameraku menangkap sosok perempuan berdiri di sudut lantai lima gedung Fakultas Hukum.

Gedung Fakultas Keguruan memang berhadap-hadapan dengan gedung Fakultas Hukum, sehingga aku bisa melihat perempuan itu dengan jelas dari atas sini. Aku memperhatikannya, ini sudah keempat kalinya aku melihat perempuan itu berdiam diri menatap ke bawah dengan tatapan sendu. Perempuan itu selalu hadir menjelang petang, mungkin dia juga mahasiswa yang mendapat jam perkuliahan sore sepertiku.

Terkadang, jika isengku kambuh, aku suka memotretnya beberapa kali. Wajahnya terbilang cantik, dengan rambut panjang sebahu yang lurus, juga sweater pink fuschia yang selalu dikenakannya. Pada mulanya, aku heran mengapa perempuan itu selalu berdiri sendiri di sudut lantai lima gedung hukum. Tidak seperti perempuan kebanyakan yang suka beramai-ramai dan mengobrol jika jam perkuliahan sudah selesai.

Yang perempuan itu lakukan hanya berdiri menatap ke bawah dan membiarkan angin meneriapkan anak rambutnya.  Aku masih memotretnya dengan berbagai angle. Wajahnya sedikit pucat dengan bibir yang sedikit membiru. Entahlah barangkali perempuan itu kedinginan. Cuaca sore ini memang dingin dan mendung nampaknya sudah menyelimuti sebagian awan.

Aku kembali melirik jam di pergelangan tanganku, sepuluh menit lagi maghrib tiba. Aku bergegas memasukkan kamera ke dalam tas. Kiranya cukuplah hobi memotret sore ini sebagai pelepas penat setelah seharian menyantap menu perkuliahan yang membuat kram otak.  Aku mengalihkan pandang ke gedung hukum kembali, berniat memandang sekali lagi perempuan dengan mata sendu itu sebelum aku beranjak menuju masjid kampus. Tapi nihil, perempuan itu sudah tak ada lagi di sana. Barangkali dia sudah pergi lebih dulu ketika aku sedang membereskan kamera tadi. Aku menghela napas, kemudian beranjak menuruni anak tangga.

Hari berikutnya masih sama. Aku kembali menemukan perempuan bersweater pink fuschia itu. Di tempat yang sama pula, dengan tatapan sendu yang selalu ia bawa. Jam kuliahku sudah habis. Maghrib juga hampir menjelang. Anehnya, saat jam masuk kuliah tadi, aku tidak melihatnya di sudut gedung hukum itu. Entahlah, bahkan kemunculannya belakangan ini begitu aku nantikan. Sampai-sampai setiap aku keluar kelas, aku selalu mengalihkan pandang ke seberang gedung. Berharap perempuan itu ada di sana.

Lagi-lagi, aku hanya menemukannya di sepotong senja menuju maghrib. Dia masih sama seperti kemarin, menggunakan sweater dengan rambut tergerainya. Begitu manis tatkala angin senja menerpa rambutnya. Aku yang tengah penasaran dengan sosok perempuan itu akhirnya memberanikan diri berkunjung ke gedung hukum tersebut. Kebetulan aku memiliki kenalan di sana. Aku bisa berbasa-basi dan akhirnya menanyakan siapa perempuan yang kerap berdiri di sudut lantai lima itu.

“Perempuan cantik dengan sweater pink?” Rendi menggaruk tengkuknya bingung.

“Iya. Apa kau mengenalnya? Sepertinya dia anak semester akhir juga seperti kita,” jelasku. Berharap Rendi mengenal perempuan itu.

“Kebetulan kelasku juga tidak terlalu jauh dari kelas sudut di lantai lima ini, Dam. Dan aku mengenal beberapa gadis di sana. Tapi aku tidak pernah melihat gadis dengan ciri-ciri yang kau sebutkan tadi,” Rendi merasa jawabannya sudah benar.

Bagaimana mungkin Rendi tak mengenali perempuan itu? Bukankah perempuan itu kerapkali berdiri menikmati senja di sudut lantai lima ini? Aku berpikir keras bagaimana caranya agar bisa berkenalan dengan gadis itu. Aku ingin sekadar mengenalnya dan berbasa-basi menunjukkan hobiku memotretnya. Mungkin kami bisa mengobrol dan menjadi teman baik, pikirku.

Esoknya, aku yang masih penasaran dengan sosok perempuan itu, akhirnya memberanikan diri bertanya kepada salah satu cleaning service yang ada di lantai lima itu. Sore ini, perempuan itu tidak muncul. Beberapa kelas di lantai ini kebetulan kosong. Aku berpikir dia adalah bagian dari kelas yang tidak sedang masuk sore ini. Sosoknya begitu membuatku penasaran. Aku hanya ingin tahu alasannya menyukai berdiri lama-lama di sudut lantai lima menjelang maghrib.

“Hmm.. maksud Mas Adam, perempuan dengan rambut panjang sebahu yang mengenakan sweater pink?” Tanya Mang Asep memastikan.

“Iya, Mang. Saya kerapkali melihatnya dari lantai lima gedung FKIP. Saya melihatnya jelas sekali, bahkan ada beberapa yang saya potret. Saya hanya ingin tahu namanya. Ingin berkenalan. Sebentar, biar saya tunjukkan fotonya,” aku mengeluarkan kameraku. Kali ini aku membawanya agar bisa menunjukkannya pada Mang Asep.

Seketika kulihat wajah Mang Asep pucat pasi. Dia menatapku sekilas dengan tatapan menggigil. Berulang kali menatap foto itu dan menelan ludah. “Kenapa Mas Adam mencari tahu perempuan ini? Untuk apa, Mas?” Tanya Mang Asep lagi.

Aku sumringah, senang rasanya Mang Asep akhirnya mengenali gadis ini. “Jadi, Mang Asep tahu? Boleh saya tahu namanya, Mang? Besok saya akan menemuinya. Atau boleh saya tahu dia anak semester berapa? Ruang kelasnya yang mana?” tanyaku begitu antusias.

Mang Asep mengusap wajahnya yang berkeringat.. “Mas Adam lebih baik pulang sekarang. Sudah malam, saya juga mau beres-beres untuk kembali ke kontrakan,” Mang Asep menepuk pundakku dua kali.

“Loh, tunggu sebentar, Mang. Jawab pertanyaan saya dulu. Bukankah Mang Asep mengenali perempuan itu? Saya hanya ingin berkenalan kok, Mang. Tidak akan berbuat macam-macam,” terangku jujur.

Mang Asep mengajakku duduk di bangku panjang itu. “Mas Adam sebaiknya melupakan gadis itu,” kata-kata Mang Asep membuat dahiku berkerut. Memangnya kenapa, pikirku. Aku menatap Mang Asep serius. Aku tidak terlalu suka mendengar jawabannya.

“Gadis yang Mas Adam cari itu tidak ada,” katanya sekali lagi.

“Tidak ada bagaimana, Mang? Jelas-jelas Mang Asep melihat fotonya tadi, kan? Dan mengenali gadis itu,” aku berusaha memaksa Mang Asep.

“Mas Adam benar-benar tidak tahu dengan cerita itu?”

“Cerita apa?” tanyaku semakin bingung.

Mang Asep memasang raut muka serius. Tangannya sekali lagi mengusap dahi yang berkeringat. “Baiklah kalau Mas Adam membutuhkan jawabannya sekarang,” Mang Asep menarik napas dan mulai bercerita.

“Lima tahun yang lalu, ada tragedi berdarah di lantai lima ini, Mas. Seorang mahasiswi tingkat akhir, bunuh diri dengan cara melompat dari lantai lima gedung ini. Penyebab kematiannya tidak ada yang bisa memastikan. Sebab saat itu semua orang sedang sibuk melaksanakan sholat maghrib di masjid kampus. Diperkirakan dia melakukan bunuh diri itu sekitar jam 6 sore, Mas. Pihak kampus sempat melarikannya ke rumah sakit, namun sayang nyawanya tidak dapat diselamatkan. Gadis itu berambut sebahu, cantik, dan mengenakan sweater berwarna pink. Saya tahu sebab saat itu saya juga sempat membopongnya ke dalam mobil ambulans. Gadis itu adalah gadis yang ada di kamera Mas Adam tadi,” kalimat Mang Asep membuatku tersentak.

“Ma.. Maksud Mang Asep, gadis itu sudah…..”

“Iya, Mas. Gadis itu sudah meninggal dunia,” jawab Mang Asep.

Seketika itu juga bulu kudukku berdiri. Tak dinyana bahwa apa yang selama ini kupotret ternyata bukan manusia. Keringat dingin membanjiri dahiku. Aku benar-benar shock dengan yang baru saja kudengar. Bayangan gadis dengan mata sendu itu berkelebat hebat di kepalaku. Wajah pucatnya, rambut sebahunya, bibir birunya, dan tatapan sendunya, semuanya merasuki kepalaku. Mendadak kepalaku pusing. Badanku terasa lemas sekali. Seketika itu juga, mataku berkunang-kunang. Aku pingsan.

 

 

 

Profil Penulis :

Nanda Amilla demikian di akun Fb-nya kerap juga menggunakan nama fena Gadis Hujan. Penulis berparas cantik yang memang sangat mencintai hujan ini dan memiliki nama lengkap Nanda Dyani Amilla. Lahir di Medan, 16 Oktober 1996. Saat ini tercatat sebagai Mahasiswi aktif di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Semester 6. Domisili di Medan-Sumatera Utara.

Penulis sedang sibuk mempromosikan novel perdananya yang berjudul Kejebak Friendzone (Bentang Pustaka, 2017). Penulis juga aktif menulis puisi, cerpen, dan opini di berbagai media cetak dan media online. Penulis dapat dihubungi di beberapa akun sosial medianya :

  • Surel : dyani.nanda@gmai.com
  • FB : Nanda Amilla
  • IG : gadishujan_
  • Blog : nandadyaniamilla.blogspot.co.id
  • No HP : 0821 6315 5917

Kisah Malaikat dan Gadis Pemanah Cinta

  Cerpen : Nanda Dyani Amilla

“Ini tugasmu berikutnya, Ren. Lakukan dengan cepat dan bijak,” ucap Dewa Oxi sambil memberikannya prasasti kecil berisi data singkat seseorang.
Nama : Abigail Ocaria
Umur : 23 tahun
Lokasi : Persimpangan Jalan Amerius Blok A.
Ren menghela napas pelan. Ya, sudah menjadi tugasnya mencabut nyawa seseorang di Atlantik Galaxy ini. Dewa Oxi sudah sangat mempercayainya melebihi petugas pencabut nyawa yang lain. Bahkan ratting-nya mengalahkan Xaveriza yang hanya pernah melakukan satu kesalahan saat menjalankan tugasnya. Sementara ia, namanya masih nihil untuk satu kesalahan pun. Ren pun menjadi kebanggaan Dewa Oxi di Galaxy ini. Bahkan Dewa Oxi berjanji akan mengangkatnya menjadi tangan kanannya kelak jika semua tugas yang diberikannya bisa Ren lakukan dengan cepat dan tanpa cela.
Ren membungkukkan setengah badan, memberi hormat seraya meminta izin untuk segera melakukan tugasnya. Dewa Oxi tersenyum tipis dan mengizinkan Ren pergi. Ren menghilang bersamaan dengan munculnya asap tipis di pelataran Dewa Oxi. Dan muncul dengan kilat di persimpangan Jalan Amerius. Ren melihat seorang wanita berambut pirang sedang asyik bermain gadget paling canggih di Galaxy ini. Dia memikirkan cara bagaimana agar kematian tak menyakiti gadis itu.

Di ujung jalan sana, Ren melihat sebuah truk besar melaju dengan kecepatan cukup tinggi. Dengan segera ide itu datang. Ren berkonsentrasi mengulik pikiran sang supir dan membuat truk itu oleng. Tepat saat wanita berambut pirang itu berada di tepi jalan, Ren mengarahkan truk itu ke arahnya. Untuk beberapa detik, suara berdebam dan teriakan histeris terdengar di sekitar area itu. Kerumunan orang mulai mendekati wanita malang itu. Ren hanya melakukan tugasnya, “Lakukan dengan cepat dan bijak” begitu pesan Dewa Oxi. Galaxy ini terlalu mengerikan untuk sekadar main-main dalam mencabut nyawa seseorang. Dewa Oxi tidak menyukai itu.

Suara tepuk tangan seseorang mengagetkannya. Ren melihat Cupidista tersenyum padanya. Ah, gadis itu lagi, pikirnya. “Begitukah caramu melakukan tugasmu, Malaikat?” Cupidista bergurau. “Mau apa kau di sini?” Tanya Ren seraya membersihkan sarung tangan hitam yang selalu dikenakannya saat bertugas. “Mau melihatmu dari dekat saat kau menjalankan tugasmu. Yang tadi itu… cukup mengerikan, ya,” Cupidista memicingkan sebelah matanya. “Aku hanya melakukan perintah,” kata Ren singkat. Ren berjalan dan duduk di bangku besi seberang jalan.

“Yah… terkadang untuk mendapatkan popularitas, kita harus mengorbankan sesuatu. Bukan begitu?” Cupidista menyikutnya. Gadis itu sudah duduk manis di sebelah Ren. Ren tidak menjawab, hanya memperhatikan rambut panjang hitam Cupidista yang tergerai diterpa angin sore. Jingganya senja menerpa sedikit wajahnya, gadis itu kelihatan sangat cantik. Ren buru-buru menghapus pikiran gilanya. Bagaimana mungkin dia mencintai si pemanah cinta yang centilnya melebihi gadis manapun di Galaxy itu?

“Kau tidak bertugas?” Tanya Ren. “Pemanah cinta tidak pernah bertugas di saat senja begini,” jawab Cupidista tersenyum. “Lagipula aku ini perempuan, bagaimana mungkin perempuan bekerja hingga petang? Dewi Lovezia tidak akan setega itu padaku,” katanya tertawa. “Kau kebanggaan Dewi Lovezia, bukan?” Ren menatapnya. Gadis itu terdiam, lantas balas menatap Ren.

“Kenapa?” tanyanya kemudian. “Terkadang, aku merasa.. menjadi kebanggaan seseorang tidak selamanya menyenangkan. Apa kau merasakan hal yang sama?” Ren menyilangkan tangan di dada, menunggu jawaban. Cupidista menarik napas pelan, “Entahlah. Sejauh ini, aku merasakan semuanya baik-baik saja. Apa ada sesuatu?” dia balik bertanya. Ren menggeleng, “Tidak ada, hanya saja aku merasa menjadi kebanggaan seseorang berarti mengikuti segala kemauannya, tidak ingin membuatnya kecewa, dan seolah-olah seperti berjanji akan membahagiakannya. Bukan begitu, Dista?”

Kali ini dia mengangguk, “Kurasa kau sedang lelah, Ren. Apa Dewa Oxi memberikan tugas berat padamu? Siapa yang selanjutnya akan kau bunuh?” Cupidista bertanya lugu. Senja itu, untuk pertama kalinya, Ren enggan menjawab pertanyaan gadis pemanah cinta itu. Mereka menikmati senja hingga habis dimakan malam. Menikmati semilir angin yang menerbangkan anak rambut. Untuk kemudian, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

* * *

Nama : Ren Andromeda
Umur : 21 tahun
Lokasi : Atap gedung Violet, 22.30 malam.
Panah untuk : Cupidista

Cupidista tercengang melihat prasasti yang diberikan Dewi Lovezia padanya. “Ini saatnya, Dista,” Dewi Lovezia tersenyum. Dia merasa menjadi Cinderella untuk beberapa detik, sudut matanya basah. Bagaimana mungkin Dewi Lovezia mengabulkan keinginan yang tak pernah terucapkan itu? Ini ajaib, batin Cupidista senang. Malam ini, dia akan menemui Ren di atap gedung Violet, pukul 22.30 malam. “Terima kasih, Dewi Lovezia. Aku sangat bahagia,” bisiknya seraya memeluk Dewi Lovezia.

Malam bergerak cepat. Di tempat yang berbeda, Ren menghela napas berat sesaat setelah menerima pesan dari Cupidista. Gadis itu ingin ia menemuinya malam ini di atap gedung Violet. Ren merasa ia tak harus pergi, sebab tugas Dewa Oxi sangat mengganggu pikirannya. Tapi bagaimana mungkin ia menolak ajakan gadis centil itu? Sebab sejak pertama kali mereka bertemu, gadis itu telah berhasil mencuri hatinya. Ya, Ren menyukai gadis itu. Meski ia tak pernah berani mengungkapkannya.

Ren akhirnya menghilang dan tiba dengan segera di atap gedung pencakar langit itu. Ternyata Cupidista telah tiba lebih dulu. Gadis itu tersenyum padanya, “Akhirnya kau datang juga. Kau telat dua menit, Ren!” katanya manja. Ren hanya memperhatikan gadis itu berceloteh. “Kenapa kau menyuruhku menemuimu malam ini?” Ren bertanya dingin. Cupidista menyerahkan prasasti pemberian Dewi Lovezia, “Ini tugasku selanjutnya. Untuk tugas yang satu ini, aku tidak akan memanahmu seperti apa yang kulakukan pada manusia-manusia kebanyakan. Aku ingin meminta persetujuanmu langsung. Apa kau bersedia mencintaiku, Ren?” Cupidista tersenyum, matanya berkaca-kaca.

Ren gamang. Disatu sisi, hatinya ingin sekali menjawab iya. Namun di sisi yang lain, hatinya menolak. Esok adalah tugas terberat yang diberikan Dewa Oxi padanya. Tugas pertama yang dirasanya amat tak mungkin untuk ia lakukan : mencabut nyawa Cupidista. Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang begitu dicintainya? Bagaimana mungkin dia akan mencabut nyawa gadis yang bahkan malam ini meminta jawabannya? Dan bagaimana mungkin dia menolak tugas dari Dewa Oxi? Tiba-tiba kepala Ren berdenyut. Dia berada di antara dua pilihan yang sulit.

“Ren…” tegur Cupidista. “Apa kau baik-baik saja?” Cupidista menyentuh kulit wajah Ren. Ren menepisnya, “Lupakan tugasmu ini, Dista!” Ren menolak. Cupidista terkejut mendengar jawaban Ren. “Tapi kenapa? Apa kau mencintai gadis lain?” Cupidista menatap Ren dalam, meminta jawaban. Dadanya bergemuruh, ada air yang hendak berlompatan dari kelopak matanya. “Dista… seandainya kau mengerti…” Ren tersungkur ke lantai. Ia menutupi wajahnya. “Katakan.. apa yang sedang kau sembunyikan dariku, Ren?” Cupidista memohon.

“Dewa Oxi memerintahkanku untuk mencabut nyawamu besok. Bagaimana bisa aku melakukannya pada orang yang paling kucintai, Dista,” Ren menangis. Hatinya bimbang menentukan apa yang akan dilakukannya. Cupidista terdiam. Benarkah apa yang baru saja didengarnya? Takdir memang selalu mengejutkan. Di saat Dewi Lovezia mengabulkan cintanya, Dewa Oxi malah telah menentukan kematiannya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah ruah, meski tanpa suara.

“Lakukanlah, Ren. Lakukanlah demi Dewa Oxi,” kalimat Cupidista membuat Ren tersentak. “Hey, jangan menangis! Kau adalah kebanggaan Dewa Oxi, bagaimana mungkin kau mengecewakannya? Lakukanlah, Ren. Lakukanlah esok. Aku tidak akan membencimu meski aku harus menggagalkan tugasku malam ini.” Cupidista mencoba tertawa. “Tersenyumlah, Ren. Aku pamit dulu.” Cupidista menghilang, meninggalkan Ren seorang diri di atap gedung itu. Dia hanya tidak ingin Ren melihat air matanya bertambah deras.

* * *

Nama : Cupidista
Umur : 20 tahun
Lokasi : Obelia Garden

Ren membuang prasasti itu ke dalam sungai di tepi jalan. Keputusannya sudah bulat. Untuk pertama kalinya, ia telah melahap semua amarah Dewa Oxi. Ren berjalan menuju Obelia Garden, dia yakin Cupidista ada di sana. Benar saja, dia melihat gadis itu duduk menghadap utara, membiarkan semilir angin memainkan rambut panjangnya. Gadis itu menggunakan jubah pink fuschia kesukaannya. Juga menggunakan bandana putih favoritnya.

Dengan perlahan, Ren mendekati gadis itu. “Boleh aku duduk di sini?” suara Ren mengejutkan Cupidista. Gadis pemanah cinta itu tampak terkejut. Dia mempersilakan meski dengan wajah yang sedikit canggung. “Apa kematianku sudah dekat?” Tanya Cupidista membuka percakapan. Ren meliriknya sekilas. “Apa kau bisa memberitahuku sedikit bagaimana caramu mencabut nyawaku? Apa itu akan terasa sakit?” gadis itu terus berkicau. “Apa kau akan mencabut nyawaku detik ini juga?”

Ren menyentuh wajah Cupidista lembut. Gadis itu terkesiap. “Bisakah kau menghentikan ucapan gilamu itu? Aku ke sini bukan untuk itu,” tegas Ren menatap dalam mata cokelat itu. “Lantas? Untuk apa?” Cupidista balas menatapnya dingin. “Aku ke sini untuk memberitahumu bahwa sekarang aku adalah manusia biasa. Aku bukan lagi Ren si Malaikat seperti yang dulu sering kau sebut. Dan aku ke sini, untuk menjawab pertanyaanmu tadi malam. Apa masih ada kesempatan?” Tanya Ren.

Cupidista membuka mulutnya setengah, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kau bercanda?” Cupidista mencari jawaban di dalam mata Ren. Ren tersenyum dan menggeleng, “Pagi tadi aku menolak perintah Dewa Oxi. Dia marah besar dan mencabut kekuatan serta kedudukanku sebagai petugas pencabut nyawa. Itu bukan masalah besar, Dista. Yang jadi masalah adalah jika aku kehilangan kesempatan mencintaimu. Hey, aku sudah menunggu bertahun-tahun lamanya hanya untuk mendengar kau mengucapkan permintaan seperti malam tadi,” Ren mulai kesal.

Cupidista tertawa keras. Ia sampai memegangi perutnya. “Jadi, kau melakukan semuanya demi aku?” Cupidista terharu. Ren mengangguk, lantas menggenggam jemari Cupidista erat. “Ya, aku bersedia mencintaimu asal dengan satu syarat,” ucap Ren. “Syarat apa?” Tanya Cupidista penasaran. “Kau tidak boleh genit pada siapapun. Sebab kini aku hanya manusia biasa yang tidak bisa mengawasimu dengan kekuatanku!” kata Ren lucu. Cupidista melirik manja. Dia tersenyum sambil melihat kupu-kupu beterbangan di langit taman itu. Bukan hanya di taman itu, kupu-kupu pun turut terbang di dalam perutnya. Berkejaran, sampai lupa bahwa ia sudah melayang.

 

Profil Penulis :

 

 

Nanda Dyani Amilla, Penulis yang senang mengabadikan kenangan lewat tuisan, jepretan, dan hujan-hujanan. Pecinta kopi, puisi, dan narasi. Pembenci semangka, serangga, dan kecoa. Sering wara-wiri di FB : Nanda Amilla dan instagram : gadishujan_

[Cerpen] Perempuan Yang Menjahit Mata Anaknya

Oleh: Nanda Dyani Amilla

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Tiba-tiba aku mendengar Ibu mengucapkan sesuatu, seperti nyanyian menyayat hati yang menyentuh gendang telingaku. Suara merdu Ibu membawa ingatanku pada kejadian beberapa bulan lalu. Saat untuk pertama kalinya aku benar-benar membenci ayah.

“Perempuan jalang! Sudah miskin tak tahu diri pula! Bisa-bisanya kau merayu Ajid untuk memberi dua batang ubi itu! Dimana harga dirimu?!” suara ayah menggelegar dari ruang depan. Aku mengintip dari celah pintu kamar yang terbuka. Ibu menangis. Air matanya membasahi wajah. Menjelaskan berkali-kali meski ayah tak mau mendengar.

“Dia yang memberiku ini, Yah. Bagaimana mungkin ayah menuduhku seperti itu?” suara ibu terdengar dari balik isak tangisnya. Tapi ayah tidak peduli, terus mencaci maki Ibu seakan perempuan itu hina sekali.

“Aku tahu bahwa dia masih menyukaimu! Aku tahu kalau kau ada main dengan laki-laki itu!” tuduh ayah sinis. Kudengar Ibu beristighfar berulang kali. Ayah mendorong Ibu hingga tersungkur ke lantai. Aku segera muncul dan memeluk Ibu. Ayah membanting apa saja yang ada di dekatnya. Aku ingin bilang bahwa Paman Ajid-lah yang berbaik hati memberi ubi itu. Tapi aku takut jika ayah semakin marah dan menyakiti kami berdua.

Wajahnya merah padam. Aku paham sekali bahwa ayah marah. Ayahku yang tempramen dan tidak bisa mengontrol emosi. Suka menyakiti jika amarah tengah memenuhi kepala. Lihat, pincangnya kaki Ibu juga bersebab ulah ayah. Luka di kepala Ibu pun adalah karena ayah. Ayah terlalu sering menyakiti Ibu. Dan aku sangat tidak menyukai perbuatannya.

Malamnya, tidak ada ayah di meja makan. Ibu mengunyah nasi dengan mata sembab. Aku menyentuh tangan Ibu, menatapnya dengan wajah muram. “Ayahmu adalah lelaki baik, Naina. Dia baik sekali,” suara Ibu memecah keheningan. Aku menggeleng kuat-kuat, tidak setuju dengan kalimat Ibu. Ayah itu jahat. Ayah bukan lelaki baik. Ayah suka menyakiti Ibu. Dan aku membenci itu.

Ibu mengusap rambutku lembut. Bercerita banyak bahwa ayah adalah lelaki paling baik yang pernah ditemuinya. Ibu bilang kalau aku tak boleh sedikit pun membenci ayah. Ibu bilang kalau aku harus selalu menghormati ayah. Dan Ibu bilang, aku harus menyayanginya. Aku menggeleng lagi. Aku tidak akan menyayangi ayah. Ayah jahat pada Ibu. Ayah tidak menyayangi Ibu. Bagaimana mungkin aku menyayangi lelaki yang selalu menyakiti Ibu?

Hari-hari selanjutnya, rumah seperti wadah pertumpahan darah. Mataku terus dimanjakan ayah dengan kekerasan yang dilakukannya pada Ibu. Telingaku disuapinya dengan teriakan kasar dan jeritan Ibu. Bahkan tak jarang aku pun turut menjadi korban kemurkaan ayah. Pernah suatu malam, lelapku terbangun karena suara ayah. Aku menyeret kakiku menuju asal suara itu.

Kulihat di halaman belakang rumah, ayah sudah siap menghabisi Ibu. Ia memegang kasar tangan Ibu yang diletakkan di atas bangku kayu. Ibu meronta dan mencoba melepaskan genggaman ayah pada pergelangan tangannya, namun sia-sia. Pisau besar yang biasa digunakan ayah untuk menyembelih ayam akhirnya menjawab semua pertanyaan besar dalam hatiku tentang apalagi yang akan dilakukan ayah terhadap Ibu.

Pisau besar itu dengan sekali hentakan, memotong dua jemari tangan Ibu. Aku menelan ludah saat kulihat darah segar mengucur dari tangan Ibu. Setetes air mataku jatuh. Badanku menggigil. Seketika itu pula tubuhku gemetar hebat. Oh Tuhan, apa yang baru saja dilakukan ayah? Aku melangkah menjauhi pintu dapur, masuk menuju kamarku.

Kudengar suara jeritan pilu dari mulut Ibu. Aku tak lagi mendengar suara ayah, barangkali lelaki jahanam itu pergi setelah memotong dua ruas jari ibuku. Langkah kakiku menuju kamar Ibu, selang beberapa menit tak lagi kudengar suara apapun. Hanya sesenggukan tangis Ibu yang terdengar menyakiti hatiku. Kubawakan kotak P3K sambil berurai air mata. Ibu menatapku begitu dingin. Tak ada kata terucap dari bibirnya. Wajahnya pucat seperti seseorang yang hendak menemu kematian.

Aku membalut jemari berdarah Ibu. Ibu tidak merintih, hanya suara tertahan yang kudengar dari mulutnya. Sakit di hati ibu jelas lebih banyak daripada sakit di jemarinya saat ini. “Aku akan membunuh ayah!” tiba-tiba suara itu keluar dari mulutku. Ibu menggeleng, matanya kembali berair. “Aku tidak bisa membiarkan dia membunuh Ibu pelan-pelan, Bu. Terlalu sering dia menyakiti Ibu. Sakit! Sakit mata dan hatiku tiap kali melihat lelaki itu menjahatimu!” bentakku pada Ibu.

Oh Tuhan, dosakah aku telah membentak Ibuku sendiri? Aku hanya tak sanggup melihat lebih banyak laki luka di tubuh Ibu. Pun luka-luka lain di hatinya. “Lihat, Bu. Lihat! Lihat kakimu, Bu. Lihat telingamu! Lihat wajahmu! Dan sekarang lihat jemarimu! Mau sampai berapa banyak lagi cacat di tubuhmu hingga kau percaya bahwa sebenarnya dia ingin membunuhmu, Bu!” teriakku di depan Ibu. Aku terisak panjang. Hatiku benar-benar sakit melihat keadaan Ibu.

Untuk kemudian, aku tersadar. Jika Ibu tidak bisa menghentikan perbuatan ayah, maka akulah yang harus berhenti melihat ini semua. Aku sungguh tidak sanggup lagi melihat semua perbuatan ayah pada Ibu. Aku mengorek laci meja Ibu. Mencari sesuatu yang dapat menghentikan semua kegilaan ini. Ibu terus menangis di pinggir tempat tidur. Setelah mendapatkan apa yang aku cari, aku mendekati Ibu.

“Jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Kumohon…” pintaku dengan penuh keyakinan.

Ibu menggeleng lemah. Air matanya tidak berhenti. Aku tahu Ibu akan sulit melakukannya. Aku tahu ini adalah permintaan gila. Tapi aku akan lebih gila bila terus-terusan melihat ayah menyakiti Ibu. Kuusap lembut tangannya, kupeluk ia dengan hangat.

“Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah mataku. Aku tidak ingin melihatmu terluka lagi. Aku tidak sanggup melihatmu dengan kondisi begini. Kumohon jahitlah, Bu. Jahitlah sekarang juga,” aku serahkan jarum dan benang paling kuat ke tangan Ibu.

Ibu menerima dengan tangisan yang semakin kencang. Aku mengusap tangannya, “Jangan menangis, Bu. Percayalah, aku akan lebih bahagia jika kau menjahit mataku dan menyelamatkanku dari kekejaman ayah padamu,” suaraku menyentuh gendang telinga Ibu. Malam itu, Ibu menjahit mataku dengan lihai. Tak ada sakit yang kurasa sedikitpun. Aku seperti melayang dan ingin mati saja. Menyudahi segala kekejaman yang ada di dunia. Membuktikan pada ayah bahwa aku bisa lebih kejam dari dirinya.

Darah di mataku pun mengering keesokan paginya. Bersama mayat Ibu yang membeku di samping tubuhku. Ya, Ibuku telah meninggal dunia. Dia mati dalam rasa sakit di hati dan tubuhnya. “Dia lelaki baik, Naina. Dia satu-satunya lelaki yang mau menikahiku meskipun tahu aku sedang mengandung janin dari lelaki lain.” Astaga! Jadi itulah sebab mengapa ayah sering murka kepada Ibu. Karena ia merasa telah menolong Ibu, jadi ia merasa bebas memperlakukan apa saja terhadap Ibu. Dan aku? Aku bukan anak kandungnya. Cerita Ibu saat menjahit mataku benar-benar pilu. Kali ini, bukan hati Ibu saja yang sakit, melainkan hatiku.

Aku meraba tangan Ibu, jemarinya sudah tak utuh. Aku meraba wajah Ibu, kulit pipinya tak semulus dulu. Aku meraba telinga Ibu, yang kini hanya tinggal satu. Aku ingin menangis. Ingin merasakan air mata yang jatuh di pipi. Namun, itu tidak bisa kulakukan. Benar-benar tidak bisa kulakukan. Sebab Ibu telah menjahit mataku. Tiba-tiba kudengar suara jeritan tangis ayah memelukku. Kudengar teriakan histerisnya melihat mayat Ibu. Kudengar tangis meraungnya menyentuh mataku. Untuk pertama kalinya, ayahku menangis. Bukan, dia bukan ayahku. Dia bukan lelaki baik bagiku. Dia bukan keluargaku. Dia… dia adalah pembunuh ibuku!

 

 

 

 Nanda Dyani Amilla, Penulis Novel Kejebak Friendzone, Bentang Pustaka, 2017