Arsip Tag: Ahmad Radhitya Alam

Puisi Ahmad Radhitya Alam

RUANG TANYA

Janjimu semanis madu
Mengambil hati yang tertipu
Bayang nanar bak sembilu
Merombak tatanan baru

Demikuasa, kau lakukan segala
Menindas yang jelata
Lorong gelap kepahitan
Tak perlulah sedu sedan

Luka menganga
Membawa derita
Ruang-ruangtanya
Terbuka

Ruang Imaji, 2017

 

OH ALAMKU, OH NEGERIKU

Oh alamku
Oh negeriku
Kemanakah elokmu
Yang dulu membuat kami merindu

Kemanakah pohonku
Yang dulu hijau indah
Kemana lagi rawaku
Yang jernih memantulkan cahya cerah

Pohon ditebang
Tanah menjadi gersang
Rawa dialih fungsi
Di mana-mana banyak polusi

Oh alamku
Oh negeriku
Aku tak tahu lagi dimana akan bertemu
Dengan alamku yang seperti dulu

Efek rumah kaca menerpa
Alamku tak lagi mau menyapa
Salah siapa ?
Aku, kita, mereka, atausemua

Gubuk Sastra, 2017

 

ANASTASIA

Irama suara menggema
Nada-nada melagu
Nyala suara
Berpadu

Melodi
Indah tak berperi
Memberi kehangatan jiwa
Melepas, meluruh rasa dalam tawa

Blitar, 02 Maret 2016

 

FRAGMEN RINDU

Rindu kami seteguh besi
Menunggu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Padapalung hati terujung
Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

 

KEBOHONGAN

Duniadipenuhi dengan kebohongan
Senyum kebohongan
Tawa kedustaan
Atau juga tangisan buaya kenistaan
Ketika hati bingung menghadapi asa semu
Ketika mawar yang dulunya mekar menja dilayu
Aku hanya meminta petunjuk kepadamu
Tuhan

Blitar, 2015

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar 2Maret2001. SiswaSMAN1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat diFLP Blitar, Awalita, vdanTeater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di beberapa media.
AlamatFacebook :Ahmad Radhitya Alam/facebook.com/mask.vendeta.5
NomorHP :085706022133
Email :ahmadradhityaalam@gmail.com

Puisi Ahmad Radhitya Alam

BAYANG IMAJI SEMU

Pupus sudah harapan semu
Raga rapuh mengeropos waktu
Nyala suara telah padam
Karam pada bara dalam sekam

Telah berapa jiwa ku jumpa
Memberi bayang warna yang sama
Kelabu semu tak indah di mata
Hanya menabur kilauan sephia, rona nista

Semu membaur di keheningan malam
Mengusik jiwa yang tenang
Lorong emosi terpendam
luapkan imaji rasa dendam
Sepi menyelimuti jiwa sunyi
luruh menjadi katalis perih hati

Blitar, 5 November 2016

 

MUNAFIK

Menutupi tabir gelap yang kau pilih
Sikapmu hilang redam dalam sekam
menyimpan rahasia nan mendalam
Mata, hati, telinga
masihkah mereka bekerja
sedangkan hati,
sudah lama mati
lama sudah mati

Aku hilang kepecayaan
hilang sudah kepercayaan

Janji-janji telah kau ingkari
dan aku pun selalu kau bohongi
kepercayaan yang kuberikan
sudah jelas kau sia-siakan

kini, aku pun tak lagi bias mengerti
jiwaku menyanyikan orkes sakit hati

Kata-katamu menusuk berkecamuk
menembus tembus palung hati terdalam
mengoyak kepercayaan dengan guratan nestapa
rona derita menyulubungi tubuh redam yang muram

Blitar, 26 Mei 2016

 

AKSARA JIWA

Menyingkap tabir waktu
bayangan darimu sebuah angan
membaur jiwa-jiwa yang tenang
sebuah tatapan, pandang

Nyala suara jiwa tak beraksara
tersirat darimu sebuah makna
yang terasa dalam hati
nian tak ku mengerti

Bunga-bunga merekahkan kelopak
mewangi pada setiap sudut sisi
Tersampailah harap sang rindu
Meski terbatas dimensi waktu
Baru ku tahu, bahwa itu
adalah seuntai
aksara
cinta

Blitar, 22 Maret 2016

 

MUSAFIR DI UJUNG SENJA

Menggulung senja
Pada huluan langit jingga
Deru-deru ombak samudera
Mengiring rona matari berkelana

Langit semakin menghitam
Mengelabuhi puspa cahya pesona
Langkah-langkah menapak tanah persada
Remuk redam tubuh sayu menuju temaram

Musafir di ujung senja
Mengitari rotasi jagat raya
Tapak kaki bergerak bersama
Beratap cakrawala, memecah samudera

Blitar, 15 Oktober 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA

Berkas-berkas cahya menyinari langit yang legam
lentera malam tampak cerah maksimum
hilang sudah rona ekspresi muram
yang tampak hanyalah senyum

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk ceria
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

 

  Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com

Kembara Mimpi – Puisi Ahmad Radhitya Alam

KEMBARA MIMPI
adalah mimpi
harapan yang harus dicapai
mendaki getirnya puncak tantangan
sambil menerjang karang yang melintang
sedangkan cobaan-cobaan masih terbentang
berpeluh cacian dan umpatan yang tak bertuan

telah berapa usaha kucoba
kurapal ritus-ritus doa
untuk menggapai harapan asa

dan angan bukan lagi remah-remah, menjelma
pengharapan mimpi yang nyata
di huluan capai yang sunyi
‘kan ku kembarai mimpi
sambil menunggang badai

peluh-peluh membaur
bersama angin yang menghempas, keras
menjual pasrah, membeli rela
di mana mimpi akan ku renda

Blitar, 23 Desember 2016

PEMUJA RAHASIA

Untukmu yang ku rindu
Untukmu yang selalu ada dalam mimpiku

Tahukah engkau
apa yang ada dalam rasaku
dalam diam aku menatapmu
dalam redam senyummu membuatku terpaku

Kau tetap ada dalam jiwa
Kau bagai separuh nyawa

Andai aku tak dapat memilikimu
Biarkan aku mengagumimu
Ijinkan aku mencintaimu
Mendekapmu dalam palung hatiku

Aku adalah pemuja rahasia
Yang selalu ada untuk menyapa

Ruang Imaji, 2016

PELANGI CAKRAWALA
Mataku terpejam
Aku termangu, dan diam
Menerawang jauh ke masa silam
Menembus lorong-lorong dimensi yang redam

Aku sendiri,
berdiri menyendiri

Kutatap pada embun pagi yang merona
hangatkan dahaga pesona
pelangi cakrawala
luruhkan
nestapa

Dan kuharap, itu semua
bukanlah fatamorgana
biasan belaka

Blitar, 4 April 2016

FRAGMEN RINDU
Rinduku seteguh besi
Menunggumu di gelap sunyi
Luka elegi menggunung
Pada palung hati terujung

Semburat cerita luka
Segunung tinggi derita
Hancur jiwa musnah
Menunggu tanpa arah

Blitar, 7 April 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA
Berkas-berkas cahaya menyinari langit yang tampak legam
lentera malam tampak cerah di peron sebuah stasiun
hilang sudah derita nestapa, rona ekspresi muram
saat gerbong-gerbong kereta datang berduyun
tak ada lagi bara yang membakar jiwa
yang tampak hanyalah tawa bahagia

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk gembira
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

MUARA RINDU
Malam tak lagi purnama
Hilang gemintang yang dahulu menyala
Sepi sunyi tanpa suara,
Hilang sudah rasa

Merajut satu persatu harap
Berterbangan rindu tak bersayap
Berkumpul membelenggu malam
Yang kian waktu semakin kelam
Lorong imaji angan yang sembilu
Mendayung tanya pada muara rindu

Mengayuh harap pada mimpi
rindu yang api

Blitar, 24 April 2016

BUNGKAM
Kami menolak diam
Walau mulut dibungkam
Mata, hati, telinga ditikam
Terhimpit di bawah tilam

Suaraku mungkin tedengar tajam
Bergerak terus menyusuri kelam
Mencari arah keluar
Daripada semak belukar

Aku mungkin bisa diracun di udara
Aku bisa tenggelam di lautan
Atau ditikam di pinggir jalan
Tapi suaraku akan tetap bergema

Gema suara di udara
Menelisik ribuan berita
Begerak menempuh keadilan
Karena kebenaran akan terus hidup, walau dilenyapkan

Aku dibungkam
Aku ditikam
Hilang dari alam
Tapi suaraku takkan pernah padam
Blitar, 7 Januari 2016

________________________________________________

 

Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, Harian Amanah, Read Zone, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com