Melodi-melodi rerupa
Ambang sepi mati di pangkuan. Termenuk di samping seekor kucing kurus di dekat perapian. Mendengar dongeng-dongeng perempuan tua di kursi goyang.
Puisi yang malang
Tak sempat hidup, mati terjepit nafsu-nafsu hewan di pangkal tenggorokan. Kemudian dinyanyikan lagu-lagu kematian. Memainkan melodi-melodi yang mengenaskan, menyakitkan.
Sepi mati di dekat perapian. Di pangkuan.
Kediri, 26/05/2017 15:38
Aku dan sekawanan sepi
Aku berkawan dengan sekawanan sepi.
Yang datang bertamu kala sembilu mengoyak dinding-dinding hati
Aku tak ingin mengiyakan, namun alam terlanjur mengijinkan
Lalu mau dikata apa?
Bait-bait syairnya terlalu menyanjungku, menghiburku
Dengan melodi-melodi yang candu; syahdu
Ini derita,
Ia nyanyikan nyanyian-nyanyian luka
Kulayani sepi dengan alunan-alunan pelipur lara
Untuknya, tentangnya, dan atas namanya
Kediri, 16/05/2017
Kota
Sedan-sedan yang mengerang di kemacetan.
Klakson-klakson dibunyikan; mengadu keburukan dan kelumpuhan.
Soal hiatus-hiatus kebencian dan kabar-kabar soal pemerintahan.
Komentar-komentar ditudingkan.
Polemik-polemik diperdebatkan meluas, melupakan akar masalahnya.
Ah, bujan negeriku kini sangatlah lucu.
Pedagang asongan, penjual koran, kuli bangunan
Tenaga sipil, resepsionis, guru besar, penjual kaos
Ahli tata negara, kritikus, penjual bakmi,
Mengoceh di koran-koran dan sosial media
Ini kotaku, sayang. Yang jatuh cinta pada sensasi
Kegaduhan, dan kepopuleran
Tapi isi kotaku ramah tamah
Lihatlah! Menurutmu?
Kediri, 26/05/2017 20:08
Malam bercahaya
Adakah kota yang lebih padam?
Dari bohlam-bohlam lampu taman yang menyilaukan? Dari sorot-sorot lampu mobil yang pecah dalam pandangan?
Dari ketransparanan sayatan-sayatan penyimpangan di dinding-dinding dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar nakal.
Soal cabul, dan graviti-graviti yang tak senonoh.
O bujan, ini kota yang terlalu berwarna, hingga larut.
Menyamahi sinar-sinar chandra kala malam tlah tiba.
Merah, hijau, kuning, biru menyala di lampu-lampu ruko-ruko semi permanent, pinggir-pinggir jalan dan motel-motel yang menjamur di ibukota.
O bujan, kuceritakan tentang sebuah kota yang besar, dihuni para pembesar, orang kecilpun bercakap besar.
Kediri, 27/05/2017 10:35
BIODATA
Isa Asmaul Khusna, lahir di Kediri 12 Maret 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Tadris Bahasa Indonesia IAIN Tulungagung. Menulis cerpen dan puisi di isaasna.blogspot.com. Menyukai puisi-puisi Rendra. Dapat dihubungi di akun FB: Isa Asmaul Khusna, email: Isaasna@gmail.com atau WA: 0895334085559 bertempat di Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung