Arsip Tag: Puisi

Puisi Muhammad Fajar Andi

MENUNGGU KEPASTIAN CINTA

Aku masih berharap cinta datang
Kuyakin cinta akan datang
Untuk menemaniku yang kesepian
Yang kuinginkan cinta sejati

Aku rasakan bahagia penuh harapan
Aku mencari cinta tulus
Langkahku penuh cinta
Bahagia pasti kudapatkan

Kubisa temukan waita yang kuinginkan
Menunggu kepastian cinta
Yang buatku bahagia jalani hidup bersama
Aku pasti dapatkan cinta

Keyakinanku pada Allah sangat kuat
Aku percaya diri cinta sejati
Karena Allah aku jalani hidup
penuh cahaya yang terang

Pandaan, Pasuruan, Jawa Timur 15 Desember 2017

Fajar Andi Suharja atau Muhammad Fajar Andi   kerap disapa Andi,  Pernah belajar di SLB Pandaan Kab. Pasuruan. Saat ini tinggal  Jl raya Ahmad Yani no 5 RT 2 RW 7 Petungwulung, lingkungan petungasri depan kantor kecamatan Pandaan Pasuruan-Jawa Timur.  WA: 089678244486

Puisi Arif Tunjung Pradana

Puan

Perempuan itu berlarian dengan kata-katanya sendiri; memanjang kepada mata mawar yang telah menua. Tubuhnya mengeras dan tersapu suara menggema yang entah dari siapa. Gerimis mengancam matanya yang berkaca-kaca dan terpercik tajam ke empat penjuru mata angin.

Tiba-tiba ia merasa asing dalam waktu yang hening; dengan derai di sekelilingnya.

 

Taman Kala

Di sebuah taman gaunmu terkubur rapi dengan pertengkaran saat cahaya bulan menari-nari tepat di atas senyuman wajahmu. Bercak warna yang begitu ringan kemudian memerah lekat dengan rahang-rahang belati yang tersentak dan mencatut urat nadimu dalam pandangan tajam. Menghabiskan malam-malam yang mencekik kewarasan begitu juga akan kehormatan. Ambisi adalah sampah dan kotoran yang menyematkan rangkaian bunga dalam dada kemudian mengakar dipikiran. Aku adalah kebodohan; tak pernah usai mengancam setiap senyuman.

 

Menumbuhkembangkan Kenangan

Kita telah berhasil menumbuhkan kenangan yang membanggakan sekaligus menyakitkan. Bahkan derap langkah tumpukan nama-nama baru dalam berkas-berkas tua itu masih tertata rapi dalam ingatan. Bayangan harapan, ambisi, dan kekekalan kerap memandangi tubuh-tubuh kita yang takluk akan kenyamanan dengan perlahan.

 

Ambisi

Kematian mengawali cerita tentang ambisi, kehormatan,  dan dendam yang tak pernah usai. Teka-teki kehidupan selalu berpaling kepada adab yang purba. Bercak darah menyayat pandangan yang perlahan memutih. Perhelatan perihal ambisi adalah keteduhan hati. Pertikaian akan kehormatan adalah kerusuhan jiwa. Dan,  dendam yang tak pernah usai adalah tagihan-tagihan yang menumbuh-kembangkan perasaan.

 

Ranjana

Sebulan terakhir Ranjana melewati jalan kecil dengan kaki telanjang; penuh denyut nadi para pemeran. Setumpuk berkas berisi rencana-rencana kecil menatap mata kita. Nyaman mengkristal dan membaur ke segala penjuru sudut senyuman dalam detak detik waktu. Lelah mulai menghukum beberapa prasangka bersalah ketika suara-suara menyusur menjelma bayang-bayang angka. Barangkali rindu adalah penjara yang pandai menghitung mundur angka-angka itu dan menghancurkan kenyamanan yang telah menua. Hanya nafas kita yang mampu menyelesaikannya; menjadi harapan dan halaman rapi yang disusun dalam kotak memori dalam hati. Genangan sungguh akan menjadi kenangan dan perihal ketegangan biarlah menjadikan kita kebanggaan.

Melingkari Wajahmu

anak kecil berlarian di sekujur lingkar wajahmu, bernyanyi-nyanyi di kaki langit kemudian menyulam senyum dengan denting hujan di balik lengkung alismu.

ia menggertakan tubuhnya ke dalam rumah yang mematang dirajam waktu. dadanya menganga dengan segala teduh yang menengadah.

sempurna abadi dalam kantung matamu dengan dentuman memejam.

 

Beranda Rumah Tua

/1/

Kenangan menggenang di beranda rumah tua itu, menggenapi peristiwa-peristiwa yang tak pernah terbayang dalam pelukan, hentakan, ataupun lengking ingatan. Hujan menembus sela-sela kelopak bibirmu dengan murka, menunggu detakan nama yang mulai mengabur.

/2/

Bekas kopi tak lagi terlihat dalam permukaan bibir cangkir yang tersaji di atas meja tua. Ia sudah meletup berkali-kali semenjak hujan dan sepi menghantam ruang tamu dalam rumah tua itu. Ia pun mengepung lingkar matahari yang menanggalkan sinarnya pagi ini.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi-Puisi Isa Asmaul Khusna

Melodi-melodi rerupa

Ambang sepi mati di pangkuan. Termenuk di samping seekor kucing kurus di dekat perapian. Mendengar dongeng-dongeng perempuan tua di kursi goyang.

Puisi yang malang

Tak sempat hidup, mati terjepit nafsu-nafsu hewan di pangkal tenggorokan. Kemudian dinyanyikan lagu-lagu kematian. Memainkan melodi-melodi yang mengenaskan, menyakitkan.

Sepi mati di dekat perapian. Di pangkuan.

Kediri, 26/05/2017 15:38

 

Aku dan sekawanan sepi

Aku berkawan dengan sekawanan sepi.

Yang datang bertamu kala sembilu mengoyak dinding-dinding hati

Aku tak ingin mengiyakan, namun alam terlanjur mengijinkan

Lalu mau dikata apa?

Bait-bait syairnya terlalu menyanjungku, menghiburku

Dengan melodi-melodi yang candu; syahdu

 

Ini derita,

Ia nyanyikan nyanyian-nyanyian luka

Kulayani sepi dengan alunan-alunan pelipur lara

Untuknya, tentangnya, dan atas namanya

Kediri, 16/05/2017

 

Kota

Sedan-sedan yang mengerang di kemacetan.

Klakson-klakson dibunyikan; mengadu keburukan dan kelumpuhan.

Soal hiatus-hiatus kebencian dan kabar-kabar soal pemerintahan.

Komentar-komentar ditudingkan.

Polemik-polemik diperdebatkan meluas, melupakan akar masalahnya.

Ah, bujan negeriku kini sangatlah lucu.

 

Pedagang asongan, penjual koran, kuli bangunan

Tenaga sipil, resepsionis, guru besar,  penjual kaos

Ahli tata negara, kritikus, penjual bakmi,

Mengoceh di koran-koran dan sosial media

Ini kotaku, sayang. Yang jatuh cinta pada sensasi

Kegaduhan, dan  kepopuleran

Tapi isi kotaku ramah tamah

Lihatlah! Menurutmu?

Kediri, 26/05/2017 20:08

 

Malam bercahaya

Adakah kota yang lebih padam?

Dari bohlam-bohlam lampu taman yang menyilaukan? Dari sorot-sorot lampu mobil yang pecah dalam pandangan?

Dari  ketransparanan sayatan-sayatan penyimpangan di dinding-dinding dengan tulisan-tulisan dan gambar-gambar nakal.

Soal cabul, dan graviti-graviti yang tak senonoh.

O bujan, ini kota yang terlalu berwarna, hingga larut.

Menyamahi sinar-sinar chandra kala malam tlah tiba.

Merah, hijau, kuning, biru menyala di lampu-lampu ruko-ruko semi permanent, pinggir-pinggir jalan dan motel-motel yang menjamur di ibukota.

O bujan, kuceritakan tentang sebuah kota yang besar, dihuni para pembesar, orang kecilpun bercakap besar.

Kediri, 27/05/2017 10:35

 

BIODATA

Isa Asmaul Khusna, lahir di Kediri 12 Maret 1999. Saat ini menempuh pendidikan di Tadris Bahasa Indonesia IAIN Tulungagung. Menulis cerpen dan puisi di isaasna.blogspot.com. Menyukai puisi-puisi Rendra. Dapat dihubungi di akun FB: Isa Asmaul Khusna,  email: Isaasna@gmail.com atau WA: 0895334085559 bertempat di Ma’had Al-Jami’ah IAIN Tulungagung

Puisi: Ari Vidianto

 Angin Asmara

 Buih-buih dalam rayuan

Membara entah kemana

Tak terlalu mudah di mengerti

Angin yang bersiul bergoyang

menerpa alam raya

Melamunku pun tak ada guna

Karena pohon telah tergoda

Angin asmara kah itu

Mencoba menyatu di hatiku 

Lumbir, 7 Maret 2016

 

Cipta Cinta 

Debaran-debaran asmara

Mengalir mengalun mengisi

Relung jiwa

Lembut sentuhanmu bungaku

Membuat gemuruh di dada

Berdegup kencang

Anganku melayang terbang

Sayap-sayap asmara

Menari indah menciptakan cinta 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Ciri Cinta 

Matamu melirik penuh taktik

Gerak gerikmu mengusik

Hati ini semakin tergelitik

Pandanganmu makin tajam

Semakin keras menghujam

Ciri cinta telah nyata

Kusambut kau dalam buaian

asmara 

Lumbir, 8 Maret 2016

 

Malam

Malam

Penuh gelap dan misteri alam

Tebarkan kesunyian tersepi

Melewati sisi kelamnya hari

Malam

Tak bertabur bintang dan bulan

Keheningan pun makin mencekam

Penuh dengan bisikan rintihan

Malam

Waktumu penuh kehampaan

Aktifitas para pemilik jiwa

Terhenti sejenak dalam peraduan

Lumbir, 12 April 2016

 

Belahan Jiwa 

Hanya kamu belahan jiwa

Gemulai tawamu renyah menyapa

Di senyummu tersimpan rindu

Rindu sayang yang telah layu

Karena terkikis oleh waktu

Wajah cantik dirimu itu

Hilangkan memori luka hati

Luka hati yang kutinggal pergi

Belahan jiwa dekaplah selalu

Jiwa cinta yang meranum sendu

         Lumbir, 12 April 2016

Penulis : Ari Vidianto,lahir di Banyumas, 27 Januari 1984. Bekerja sebagai Guru di SD Negeri 2 Lumbir.Bukunya yang sudah terbit yaitu Ibu Maafkan Aku ( Pustaka Kata, 2015 ) & Wajah-Wajah Penuh Cinta ( Pustaka Kata, 2016 ). 17 buku Antologi  dan banyak karya yang dimuat di Media Massa seperti di Majalah Sang Guru, Ancas,SatelitPost, Tabloid Gaul, Readzone.com, Buanakata.com,Sultrakini.Com, Riaurealita.Com,Duta Masyarakat, Solopos, Radar Mojokerto, Kedaulatan Rakyat dll . No Hp 085726348627, Facebook Ari Vidianto & Penulis Lumbir, email : ari.vidianto@gmail.com

Puisi: Arif Tunjung Pradana

Asu Sarjana Baru

Burung-burung kecil beterbangan mengelilingi kepala seorang sarjana baru yang mengendap-ngendap dalam selangkangan kurikulum baru dan bergabung dengan gerombolan pengangguran baru. Otaknya yang compang-camping mencair diaduk dalam cangkir didihan kopi, disentakkan dengan pembaruan-pembaruan negeri, dan dicabik oleh asu-asu berdasi.

Sarjana baru tentunya sudah tau, asu-asu itu memiliki sejuta siasat untuk mencabik-cabik isi kantongnya sebelum ia diterima kerja di sana. Hidup memang asu!

 

 

Baju Kematian Ibu

” Ibu, malam ini kematian akan menjemputku. Mungkin pukul 12 lebih 5. Apakah ada baju baru untuk kukenakan malam ini? ”

Ibu bergegas menjahit baju bolong milik Karjo untuk merayakan kematiannya malam ini.

” Biarkan kematian menjemputmu dengan khidmat Karjo. Ibu akan menunggumu. ”

Barangkali Karjo tau maksud Tuhan mempertemukannya dengan Ibu sebelum merayakan kematian.

Perlahan Karjo abadi dengan baju jahitan Ibu.

 

 

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.

Puisi Ratna Ning

Uphoria Sisingaan

Gendang ditabuh gamelan bertalu
Senja pada sebuah euphoria
Kau tlah patahkan gelak
Dari niat dari tekad
Irama rancak
Menyongsong beban
Di pundakmu kau bukanlah tuan-tuan
Tapi hamba yang menjungjung tinggi titah
Mengarak sebuah prasasti janji
Hingga mencapai destinasi

Lalu pertarungan bukanlah serupa kepalan tinju
Tapi bersatunya sebuah gerakan pencak dalam irama bersahabat
Tak terbacakah Tuan?
Lihatlah si bocah kecil tertawa, meliukkan kedua tangannya ke udara
Wajahnya merona jingga, tersipuh sorot lembayung yang merangkak senja
Dia si kecil yang diarak para abdi
Bersatu dalam sebuah tandu
Digotong serempak, bergoyang dan bergerak dalam keseragaman laku
Langkahnya meski maju dan terkadang mundur
Tapi tak ada keraguan saat menapak
Yakin, Pasti
Hingga tiba ke pusat sebuah euphoria
Lalu ketika tandu-tandu itu menjejak
Para hamba tersenyum…Bangga

“Nak! Kami tlah memberimu kenangan indah hari ini
Yang akan terus membekas hingga wajah kami pudar dari album-album terlindas masa”

***

Kepergian

Kau tlah katakan tentang jejak
Yang membekas usai gerimis
Dan bukan saja kita cerita tentang rindu yang ranggas
Ketika kepergian merampas siang dan malam kita
Lalu engkau akan berhenti sesaat
Menatap rembulan dalam mata bocah-bocah tercinta
Kemudian senyap di ruang tamu, di meja makan
Di jeda kita bersenda
Perbincangan tentang mimpi-mimpi yang coba kau nakwilkan
Ahh, aku akan menantimu tanpa syarat
Dalam notasi-notasi sunyi, syimponi akan tetap berkumandang

Untuk Sebuah Catatan Usang
Seperti juga Engkau,
Akupun belajar mengeja jejak
Lewat hujan,
Dan airmataku sembunyi dalam curahnya
Seperti juga Engkau
Akupun belajar mengurai kata
Yang berserak dan tak sempat terbaca
Seperti juga Engkau Tuan,
Akupun belajar pada riak air
Yang tenang mengkamuflase gejolak
Tapi ketika aku belajar menyempurnakan catatan
Lewat sekumpulan Fatwa, Nakwil dan Titahnya
Aku tak seperti Engkau, Tuan
Karena menuju jalan Rabbaniku
Itulah rangkuman dan sinopsis
dalam ensiklopedi Akbar ini
***

Di Lorong Pangsapuri, Perempuan itu

Aku kenal ia..
Perempuan yang membisu rangkuli jejak hidup
Sudahlah banyak cerita sia-sia
Dari sekian purnama ia tinggalkan rumah rapuhnya pada ranah kecil yang tlah kehilangan rindu buat ia pulang
Aku kenal ia
Pada keterasingan
Dari keterbuangan aku hingga ranggas di negeri berantah
Aku kenal ia
Seorang perempuan yang dongakkan dagu menjalani kerancuan nasib
Hidup yang menyerah di kubangg gelap
Atau seperti kunang-kunang yang melayang kitari malam, tanpa cahaya.
Aku kenang ia, kini
Perempuan yang sembunyikan pedihnya
Yang meredamkan suara isaknya
Yang membuka topeng rapuhnya, suatu malam di lorong pangsapuri kumal

***
Batu Sembilan, 2014

 

Biodata:
Ratna Ning lahir di Subang tabggal 19 september. Mulai menulis sejak tahaun 1994. Tyulisan pertamanya di muat di media massa remaja populer Kawanku th. 1994. Aktif jadi freeancer sampai tahun 2005. Sepat vakum karena sibuk bekerja, pada tahun 2013 kembali aktif menulis. Buku-bukunya terbit secara antologi dan indie. Ratna Nng sekarang mengasuh rubrik sastra dan budaya di website Subang.

Baca juga Cerpen Ratna Ning

Puisi: M Ivan Aulia Rokhman

Ilusi Langit Api

Ilusi mengutuk neraka
Mimpi-mimpi tak percaya
Binasalah liang lahat pada kiamatmu
Terpapan sebuah nama
Dalam kumpulan kertas
Bakar sia-sia
Sampai menjelang matimu
Dan terpapan sepenah jiwamu

Ajaib waktumu
Sedangkan disana sangat teduh
Jika membawa peluru api
Hujan api menyangga mulutmu
Sungguh parah yang tak ditentukan
Selaras belenggu setan membidikmu
Bukan lagi di dunia
Namun lebihkan di akhiratmu

Surabaya, 18 Juli 2017

Membayangkan Sosial Media

Lintas sosial media di otakmu
Sebelah mana yang ditampilkan
Maklum jika terpasang foto mesum
Maklum jika membaca kata buruk
Maklum jika membaca dibentrok habis
Setelah terkepung belahan jiwamu
Segenap dirimu akan melusuh

Deringkan belenggu pada padi merah
Membesuk lalai dengan sendirinya
Setelah itu akan diusapkan samudra jiwamu
Seakan-akan alunan musik terpaku hampa
Begitu pula rindu dan kenangan akan lepas sebulan lagi
Tangan meleleh hingga tanpa sadar
Habislah sudah riwayatmu

Surabaya, 18 Juli 2017

Siapakah Dirimu?

Belum seberapa kenal
Menunggu sekian tahun yang berjumpa
Seperti puisi diarungi jiwamu
Seluk beluk di belah namamu
Seperti mengusang dening keangkuhanmu
Kemudian terisah tangis

Namamu siapa?
Asal darimana dirimu?
Setelah lama-lama tersiar pada nadi-nadi jiwamu
Terlumpuh orang tanpa dikenal
Kenapa sampaikan satu suara
Tanpa lirik apapun seberapa jauh ku kenang

Surabaya, 18 Juli 2017

Penjabat Terlibat Koruptor

Koruptor merebah dimana-mana
Tersanjung uang di hangus
Melipat jarak di antara lebah-lebah penjabat
Libatkan hampa kepada serdadu merah
Menutup mata langsung diadili
Baca pikiran masa lalu

Yang tersimpan peristiwa begitu tak lazim
Seperti biasa tak mampu diampuni dosa
Bukan lagi doa yang dipanjatkan
Hanya menggema sayup-sayup terlentang jari
Sakit tiada alasan lagi
Bahwa hidup di dunia hanya sementara

Surabaya, 18 Juli 2017

Belenggu Gadis Manja

:Agustha Ningrum

Selepas setahun
Tinggalkan segala pertemanan
Kini meninggalkan segala kepunahan
Sama seperti selimut bayang-bayang malam
Elegi gadis manja meninggalkan api merebah
Sebelum mengayomi suami
Lupa dengan kami

Belenggu tanpa sebab
Tak lekang dimana-mana
Hadirkan segala yang disembunyikan
Mengeming nada-nada keperihanmu
Semua tak lagi bertemu

Surabaya, 18 Juli 2017

Video Viral

Video semata-mata terkenal
Seolah-olah dikenal karena dinilai sosok setia
Inilah di viral ke berbagai sosial media
Mengiring orang dilihat pada video tersebut
Dijaga oleh jaksa agung
Bila terhangus sia-sia
Hukum dunia dan akhirat akan ditimbang

Surabaya, 18 Juli 2017

BIODATA PENULIS

M Ivan Aulia Rokhman, Lahir di Jember, 21 April 1996. Mahasiswa Universitas Dr Soetomo. Karyanya dimuat di koran lokal dan Nasional. Beberapa puisinya juga dimuat dalam antologi Bukan Kita (2017), My Teacher (2017), Syair dalam Nada (2017). Bergiat di FLP Surabaya, dan Komunitas Serat Panika. Seorang Penulis ditengah Berkebutuhan Khusus.

Telepon/WA : 083830696435
Email : rokhmansyahdika@gmail.com”>rokhmansyahdika@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

Puisi: Eddy Pranata PNP

SEJARAH KECIL ‘WEISKU DAN NUEIKU’

sekecil apa pun ‘weisku memendam rasa benci pada nueiku’
sebesar apa pun nueiku’ menaruh harapan pada ‘weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim
dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati
‘weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga

 

(entah sejak kapan, diam-diam ‘weisku jatuh hati
pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam
dengan menimang kunang-kunang)

 

terkadang nueiku’ seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas– terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku’ kian menua dalam ruang kian sunyi
(ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas
apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)
ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati ‘weisku
april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan
seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek ‘weisku
seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga ‘weisku dengan sangat hati-hati
: “bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!”
hati ‘weisku pualam, nueiku’ penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad
dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, ‘weisku, irislah!

(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu
di rambut di atas telinga kananmu
padahal telah ia kecup keningmu
ia seret juga masa lalumu yang lama membeku
ke taman kota yang jauh)
nueiku’ bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku’ lebur!
kepada nueiku’ selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput
piuh keringat sajakmu sekarang jua!
Cirebah, 26 April sd  8  Mei 2016

KETIKA SENJA MENGAPUNG

ketika senja mengapuñg dan airmatamu pecah juga, mungkin aku tengah berlatih musikalisasi dan baca puisi untuk pertunjukan sosial anak zaman yang getir: gersuas– malam lusa di kampungku yang jauh dan senyap tetapi bukankah engkau tengah berpesta dengan ratusan temanmu, mestinya engkau paham bahwa keberpihakanku pada keserbakekurangan orang lain  selalu saja menghanyutkanku, merobek-robek serat hatiku sekecil apa pun, sesederhana apa pun aku ingin mengulurkan tangan puisiku, o, tangan puisiku, chin!

Cilacap, 23 Juli 2015

 

SEPERTI DANGDUT

engkau terlalu manis untukku, chin

aku sangat tidak tahu malu menyatakan perasaanku

walau sambil bercanda dan lalu berlari

seperti dangdut; kau orang kaya, aku orang tak punya

dan dirimu tergelak-gelak

entah karena senang atau mungkin hanya menganggap lucu saja

entahlah, yang jelas; dirimu memang terlalu manis, chin!

Cilacap, 22 Juli 2015

 

Eddy Pranata, Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah.

Puisi Vito Prasetyo

Muzdalifah

Wajah malam terbakar
tak ada senyum rembulan
bulan gemintang menahan malu
langit pun mengirim kebodohan
kemanakah jiwa-jiwa bersih berpaling?
Ataukah Tuhan telah bersembunyi dari hadapan kita?
dan kita tetap saja hidup dengan diri sendiri
tak pernah mendengar sesuatu yang tersembunyi
ditertawai angin yang menebar dingin
sementara hamparan pasir membawa panas
sungguh, kita sangat kecil
sungguh, kita adalah hina
ucapkanlah takbir dengan lantang
agar tanah ini tidak mengeringkan
jiwa dan raga kita
– dan sujudlah di atas tanah itu
: Tanah Muzdalifah

Malang – 2017

Munajat Jiwaku

Aku berlari pada lipatan air
menggulung jelagah hitam
Tapi napas seakan merintih, lirih
pada lorong sempit menyampaikan pesan
sesaat lagi jiwa tiba di penghentian akhir

Bayangan putih membawa sebuah isyarat
ada malam terlewatkan
ada siang terhempaskan
Setiap saat ada aroma dosa kutaburkan
lewat langkah
lewat kenaifan pikiran
lewat kemungkaran tangan
lewat kedangkalan nalarku
Masih adakah tersisa
untuk jiwaku yang tersesat?

Dalam sepinya malam
hanya kefakiran doaku bisa kupanjatkan
pintu munajat tak pernah terkunci
Disitu kutumpahkan tangisan jiwaku
aku hanya setitik kecil
pada hamparan dunia ini
– yang tak punya apa-apa
Selain hanya bisa berpasrah
pada pemilik jiwa

Malang – 2017

 

Jalan Barzah

keluh lidah terbakar sekam
mengarungi perjalanan menuju barzah
jasad kering meninggalkan tulang belulang
ketika nalar bertanya, dimana diriku
tetapi sesungguhnya itu jiwa
karena (dia) telah mati
meninggalkan wujud raga hina
dan mulut terkatup tanpa doa
tak sanggup berteriak lantang
selain melihat diri tanpa selembar pakaian
berlari liar, telanjang tanpa nafsu

(2017)

Hujjah

Angin jiwa senantiasa bergejolak
hidup berjalan bersama pikiran manusia
dan berteriak tentang kebenaran
hingga kadang melupakan
Rabb-lah pemilik kebenaran

sunnah Rasul S.A.W pun jadi pertentangan
katanya bid’ah, karena bukan ajaran Rasul S.A.W
hingga pikiran orang seakan lebih suci

sesungguhnya kita tak pernah
melihat kebenaran dengan mata hati
selain dengan kasat jiwa dan pikiran
apakah karena hujjah telah mengingkari kita?

(2017)

 

Di Pertapaan Tasawuf

(1)
tujuan keraguan itu adalah ketiadaan
pergilah dari keraguan sedikitpun
buanglah keraguan, semuanya
benamkan diri pada kebenaran
karena itulah keindahan
bukan hidup dunia
bukalah mata hati
sedalam-dalamnya
hingga jiwa terkelupas
disitu ada sifat-sifat-Nya

(2)
Aku menggigil dingin
Aku puasa, aku lapar
pakaianku hanya muraqqa’ah tua
jasadku terasa begitu hina
Saat nafsu sudah membekap kesucian jiwa
sementara aku mengingkari kekotoran jiwa

Matahari pun hampir terbenam
mataku hanya sepenggal dusta
selalu berlari dari pikiran
Kusentuh air, membasuh wajah
disitu tampak
bening wajah Kitab al-Hikam, penuh nur

(3)
Aku hidup dalam masa silam
dalam ujian kesulitan
tapi, hidup semakin tumbuh
mengikis kecelaan manusia-ku
rasa sombong pun mencuri kesempatan
Masa telah mengukir
tercatat pada kitab-kitab bersih
mataku pun terantuk
membacanya, menuntun pikiran dangkal
lalu sebuah nama terlintas
penuh ma’rifat
begitu lekat nama itu
seakan terkunci pada batas nalarku
Kini pertapaannya musnah
tinggal puing dan bebatuan
sajakku pun tak sanggup menghidupkannya

(2017)

 

  Biodata:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar (Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya

Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar) – Mingguan Utusan Malaysia (Kualalumpur) – Harian Online Malang Voice (Malang) – Majalah SIMALABA (Versi Digital)

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi  “Biarkanlah Langit Berbicara”  (2016 – 2017)  &

Buku Kumpulan Puisi  “Sajak Kematian”  (2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

Puisi Arif Tunjung Pradana

Jati Cempurung Ki Ageng Donoloyo

Aku tertinggal menetap pada pertengkaran saudara yang membabi buta. Berseteru atas dasar batas wilayah dan beberapa pohon jati besar; tinggi menjulang di sisi utara Kedhung Ombo. Suara-suara meneriaki penuh siasat, bambu uluh menyembunyikan dua induk jati, menanam perkataan abdi dalem yang menyindirnya; untuk pulang.

 

Saka Majapahit Sunan Giri

Sunan Giri menyusuri sisi selatan Bengawan Solo melaksanakan tugas sebagai penegak ajaran. Sinden Ki Donosari mengantarkan jati melewati tepian dengan tembang mocopat. Hutan dan gunung memenuhi perjalan dan pikiran dengan nama-nama baru.

 

Waduk Mungkur

Perpindahan adalah hal yang menyebalkan, membuatku melupakan kenyamanan dan menumbuhkan kenangan yang menyakitkan. Kubangan berlebur dengan lebih dari sejuta harapan pada tiang-tiang dan ruang-ruang sesak dalam dada. Genangan dan gusaran sejarah menjadi lubang yang beradu di tanah perantauan; seberang jalan.

 

Tri Darma Said

Hidup atau mati dalam pertempuran membuatku segera bertindak mengenali bahagia dan duka yang berkerabat erat, saling mengancam juga membenamkan. Semayam adalah rumah paling nyaman setelah pelukan darah tanah kelahiran.

 

Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.