Arsip Tag: Gusti Trisno

[Cerpen] Sifat Kembali Uang

Oleh: Gusti Trisno

Seulas senyum tersungging tatkala aku melihat lima lembar uang bergambar Soekarno-Hatta. Aku tak pernah tahu, apakah ini jalan rezeki-Nya atau ini hanya sebuah ujian dari-Nya. Bagaimana tidak, sedari kemarin keluarga merasa kesulitan dalam mencari uang. Ibu yang hanya pedagang ikan kecil di pasar, sedang mengalami krisis moneter karena cuaca laut yang tidak mendukung untuk jualan ikan.

Seperti telah diketahui, seorang nelayan dan pedagang ikan, nasibnya bergantung pada cuaca buruk. Jika cuaca tidak mendukung, pasti para nelayan tak berani melaut, hal ini mengakibatkan pedagang ikan kesulitan mencari barang dagangannya, kalaupun ada, pasti harganya sangat mahal.

“Ada apa Nak? Kok sepertinya wajahmu gelisah?” tanya Ibu memperhatikanku.

“Ah tidak, Bu. Oya, apakah ada yang bisa Rizki bantu lagi, Bu.” jawabku mengelak.

“Sudah tidak ada lagi, kok. Rizki tidur saja dulu, ini masih jam dua pagi lho.” kata Ibu mengingatkanku.

”Iya, Bu. Paham, baiklah Rizki pamit ya!” pamitku seraya mencium tangan Ibu.

Kulangkahkan kaki dengan pelan, jam dua pagi menjadi waktu yang baik bagi para pedagang di Pasar Panarukan untuk menggelar dagangannya termasuk Ibu. Aku sering membantunya membawa barang dagangannya dari rumah yang hanya berjarak duaratus meter. Namun baru pertama kali, aku menemukan uang di perjalanan menuju pasar. Ah daripada aku bingung memikirkan uang itu, lebih baik aku melaksanakan qiyamul lail, demikianlah batinku menimbang.

***

Adzan Subuh belum berkumandang. Aku pun memutuskan untuk tidur sejenak. Dan anehnya kejadian dini hari tadi terbawa dalam mimpi. Dimana terdapat seorang Ibu yang menangis karena kehilangan uangnya, padahal ia begitu membutuhkan uang tersebut.

Kejadian dalam mimpi tersebut membuatku mengutip beberapa kata-kata para ahli tentang tafsir mimpi. Di mana sebagian dari mereka beranggapan, jika mimpi adalah bunga tidur. Atau mimpi adalah tafsir atas kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.

Dengan rasa bingung tiada tara, aku pun memutuskan untuk menyegerakan sholat Subuh. Begitu pun dengan menyelesaikan beberapa surah-surah pendek. Namun, tetap saja kegelisahaan atas uang tersebut masih membekas dalam pikiran. Bahkan, sampai kubawa di sekolah.

Nina. Teman sebangku memperhatikan tingkah lakuku yang lumayan aneh hari itu. Selain itu, dia juga menceritakan jika ayahnya kehilangan uang lengkap dengan dompetnya. Mengingat kejadiaan itu, aku jadi teringat akan uang yang ditemukan.

Dengan penasaran segera kuberondong Nina dengan beberapa pertanyaan. Dan beberapa menit kemudian, ia mendapat SMS jika uang ayahnya telah ditemukan.

Jadi. Bukan ayah Nina yang kehilangan uang, lalu siapa?

Kejadian aneh berikutnya adalah tatkala keluar dari gerbang sekolah, di mana ada seorang ibu-ibu persis dengan ibu yang ada dalam mimpi. Dia pun menyatakan jika uangnya hilang?

Apakah dia?
Aku tak berani langsung memberi kesimpulan.
Bukankah terlalu dini untuk kesimpulan mengingat sebuah mimpi belumlah pasti.

Tapi yang paling aneh perempuan itu terus membuntutiku sepanjang perjalanan dari sekolah ke rumah. Motivasinya apa?

Dan sesampainya aku di rumah, Ibu bercerita dengan perasaan sedih. Mengingat teman seperjuangannya berjualan ikan kehilangan banyak uang. Anehnya, sebelumnya teman Ibu itu menemukan uang banyak di jalan, lalu mencampurkan uang tersebut dengan uang hasil dagangannya.

Sejurus kemudian aku berpikir, apakah mungkin uang yang kutemukan adalah uang balik? Uang yang akan kembali ke pemiliknya dengan tambahan uang yang kita miliki?

Dengan penuh penasaran segera aku mengecek kantong dan benar juga uang yang kutemukan itu raib lengkap dengan uangku yang hanya memiliki nominal dua puluh ribu. Pun, terdapat tulisan tangan yang tak beraturan: DASAR PELAJAR NGGAK PUNYA UANG.
Hah?
Aneh?
Jadi Ibu tadi itu siapa?
Pemilik uang balik itukah?
Atau?
Ah. Semuanya menjadi tanda-tanya dan aku tak berani menceritakannya pada Ibu[]

Gusti Trisno. Lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember dan Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo. Pemilik buku Ajari Aku, Bu(Kumpulan Puisi) ini dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.

 

Catatan redaksi: Cerpen ini merupakan tayangan ulang setelah sebelumnya tampil di buanakata.com yang expired

[Cerpen] Melati Kuning

Oleh: Gusti Trisno

Aku duduk di serambi masjid menunggu lalu-lalang para jamaah yang tak pernah henti berkomunikasi dengan-Nya di rumah-Nya yang begitu indah. Entah, mereka benar-benar sholat atau hanya mengagumi keadaan struktur bangunan yang memiliki emas 24 karat. Aku tak tahu dan tak ingin tahu.

Dari lalu-lalang beberapa pengunjung (atau jamaah sholat) aku seperti melihat sosok perempuan yang ada dalam masa laluku. Ah. Letih rasanya, jika membicarakan sosok perempuan itu. Pasalnya sudah bertahun-tahun, kutulis surat pun kulakukan. Tak sedikit pun ada balasan.

Dengan rasa penasaran kudekati perempuan yang memakai kerudung tak terlalu panjang itu. Ia pun langsung membalas dengan senyuman yang menggetarkan jiwa.

Ah. Wajahnya begitu indah. Lebih indah dari perempuanku di masa lalu. Aku terpesona sebentar, kemudian berusaha bertanya darimana asalnya.

“Aku dari Jember, Mas. Baru saja tiba di Situbondo untuk melihat masjid indah yang bagian pilar dan kubahnya itu terbuat dari 24 karat.” Jawabnya.

Sudah kupikir sebelumnya, jika masjid ini ramai karena kemegahannya. Bukan karena hal lainnya.

“Ooo…” hanya itu yang terlontar dari mulutku.

Tak sedikit pun ingin bertanya mengapa perempuan itu mirip dengan perempuanku di masa lalu. Bukankah bisa saja mereka adalah kembar seperti dalam sebuah sinetron picisan yang seolah menganut hukum,“Jika sepasang anak kembar  terpisah, pasti akan bertemu di masa depan dengan karakter bagai bumi dan langit.”

Ah. Ya. Memang dari tata cara senyum dan ucapannya mereka jelas berbeda. Tapi dari keanggunan tetaplah sama. Dan aku tak berani berkata jika mereka; kembar.

Ia segera meminta diri padaku yang begitu kaku. Begitupun dengan iring-iringan orang disebelahnya yang mungkin saja keluarga. Ah. Keluarga. Kapan rasanya aku bertemu dengan keluarga? Sedang diri hanya terasing di sini. Tak ada sanak kerabat sebagai tempat berbagi kisah.

“Maman…,” sapa seorang lelaki memakai peci putih.

Aku segera mendekatinya, lelaki itu kemudian memberiku beberapa lembar rupiah, lalu menyuruh membelikan beberapa bungkus nasi untuk marbot di masjid ini. Dengan sigap, aku langsung manut atas perintahnya. Tak ada sedikit pun rasa menolak ataupun yang lainnya.

Jelas saja. Penolakan berarti penghinaan yang berujung pada pemecatan. Kredebilitas sebagai marbot haruslah dipertahankan.

***

Malam tiba, situasi di masjid masih sama dengan siang. Malah pengunjung semakin bertambah. Dari wajah mereka terdapat banyak topeng, mulai dari topeng keikhlasan, sampai topeng maling. Sudah berapa kali masjid ini menjadi sasaran penjahat dibalik songkok berwarna putih-hitam yang ternyata seorang pencopet.

Mereka pun bukan cuma sekali-dua kali beraksi. Tapi berkali-kali. Dan malam ini, kuperhatikan ada seseorang yang berlagak mencurigakan, tampak bingung memandangkan wajahnya ke kiri-kanan.

Tanpa ba-bi-bu segera kumendekat. Kuberjalan memutar tubuhnya. Ia bertambah bingung dengan gerak-gerikku.

“Sudah dapat berapa mangsa?” tanyaku tanpa basa-basi.

“Apa maksudmu?” ia balik bertanya.

“Ah. Pencopet berpeci sepertimu tak usah berkelit. Ngaku saja!”

Keributan segera terbentuk. Ia tak juga mengaku. Satpam masjid segera mengamankannya. CCTV yang merekam kelakuan anehnya pun diputar. Tak ada rasa mengelak lagi. Ia pasti pencuri.

“Tidak, aku bukan pencuri,” elaknya, tak ingin dituduh.

Beberapa orang mendengar pernyataannya, bersiap memberi pukulan kepada lelaki itu.

“Aku ke sini untuk mencari melati berwarna kuning untuk istriku yang  sedang sakit dan hanya bisa sembuh dengan melati itu. Aku sudah berkeliling masjid.  Tapi, tak juga kutemukan. Padahal, dulunya masjid ini adalah rumahnya,” akunya, kemudian.

Hey, ini bukan zaman purba. Orang sakit itu dibawa ke dokter! Bukan malah mencari melati berwarna kuning! Kamu ini mengada-ada saja!” kata satpam bertambah geram.

“Siapa istrimu?” tanyaku.

Ia segera menyebut sebuah nama, seperti yang pembaca duga; perempuanku di masa lalu. Aku segera mengajak lelaki itu menuju belakang masjid. Di sana hiduplah melati kuning kesukaan perempuanku dulu yang kini menjadi istrinya. Ia pun langsung memetik beberapa bunga. Lalu berucap terima kasih.

Lelaki itu tersenyum senang. Sedang hatiku bertambah sakit akibat kabar yang baru saja kuterima. Sudah bertahun-tahun tak tahu kabarnya. Kini, ia hidup dengan laki-laki cengeng dalam novel picisan yang pernah kubaca.

Bak film yang diputar di kepala. Aku menjadi ingat kembali tentang masa lalu. Dulu, dulu sekali. Kami berdua sering main bersama, berkejaran mengejar layang-layang walaupun akibatnya kami kena marah orang tua. Orang tuanya yang termasuk kalangan priyayi di desa kemudian menjadi marah dan melarang kami untuk bermain bersama. Tapi, tentu sebagai bocah ingusan. Kami tak hilang akal. Pun, ada saja permainan-permainan yang bisa kami lakukan. Dan, yang paling tidak diketahui banyak orang adalah eksprimen menanam melati kuning. Memang terdengar aneh, tapi itu nyata.

Melati kuning itu merupakan persilangan antara bunga kemuning yang memiliki aroma bangkai dan bunga melati putih. Waktu itu, kami hanya menanam bijinya di dalam tanah yang sama. Dan, entah setelah sekian lama. Tumbuh melati berwarna kuning di belakang rumahku.

Berdasar alasan itu, kami menjadi semakin sering bersama. Pun, aku memiliki kesukaan baru, yakni: memberikan setangkai melati kuning pada telinganya yang berukuran sedang. Sungguh waktu itu, ia merasakan senang yang berlebih.

Dan, aku pun merasakan hal yang serupa. Kejadian tersebut kami ulang berhari-hari tanpa rasa bosan. Hingga kemudian, sesuatu terjadi pada keluargaku. Orang tua menjadi kolaps setelah ditinggal lari pelanggan tetapnya ke luar kota dengan membawa banyak hutang. Jauh dari itu, Ibu tiba-tiba sakit keras, mungkin terlalu banyak mikir. Ayah pontang-panting dengan keadaan yang seakan memuakkan itu. hingga akhirnya tanah kami menjadi anggunan ke bank untuk meminjam. Sayang, sengsara tak dapat dihindari. Uang dari bank berhasil didapat. Tapi, tak bisa menjamin nyawa Ibu untuk diperpanjang.

Ibu meninggal. Tepat ketika Ayah membawa segepok uang. Dan, saat itu. aku seperti melihat kegagalan kedua orang tua. Seharusnya Ayah langsung mengembalikan uang itu ke bank atau setidaknya menggunakannya sedikit untuk biaya pemakaman. Tapi, nyatanya Ayah melampiaskan kekesalan dengan menghambur-hambur.

Tak terhitung. Sejak kematian Ibu. Ayah bergonta-ganti pasangan. Isak-isak kenikmatan pun sering kudengar. Aku bukannya ikut menikmati, tapi merasa jijik luar biasa. Seandainya waktu itu aku cukup umur. Barang tentu aku menentang Ayah. Tapi, bukankah anak kecil tidak boleh menentang orang tua? Apalagi ada cap anak durhaka yang begitu mudahnya diucapkan!

Keadaan itu membuatku mengubah haluan. Aku tak boleh sama seperti Ibu juga Ayah. Sayangnya, di tengah butuh dukungan moril. Perempuan di masa laluku itu pergi dengan keluarganya. Dan, ternyata nasibnya hampir sama dengan keluarga kami; kena hutang dan rumah sebagai jaminan.

Waktu itu, aku sungguh tidak bisa menahan rasa haru. Entah mengapa, ingin rasanya aku bertanya pada Tuhan. Apakah Ia telah pergi? Membiarkan segala sepi dan sedih menghampiri hamba-Nya yang tak tahu diri!

Oh! Sudahlah! Toh aku sudah move on! Apalagi sejak kejadian itu, Ayah juga meninggal. Sekalipun batinnya sudah lama meninggal akibat frustasi terhadap hutang yang tak bisa dibayar juga kematian Ibu.

Dan, aku yang tak bisa berbuat apa-apa hanya bisa memelas kasih pada orang sekeliling. Beruntung, tanahku dan tanah perempuan di masa lalu itu dijadikan tanah wakaf. Masjid berkilau emas pun dibangun. Menjadi masjid yang paling megah di Situbondo atau mungkin Jawa Timur.

Dari bekas rumah itu, hanya satu yang bisa kuselamatkan; bunga melati kuning. Sekalipun, kini suaminya meminta bunga tersebut!

Ah. Mengapa perangai lelaki cengeng yang mendapatkan perempuan penyuka melati kuning itu? Mengapa tidak aku saja? Itukah yang namanya jodoh?Entahlah!

***

Setelah membantu lelaki itu, aku kembali disuruh ke luar masjid untuk membeli beberapa bungkus nasi. Jalanan lengang menyambutku, tak ada sedikit pun kemacetan yang sering terjadi. Suara angin dan jangkrik beradu kencang menambah rasa nyilu yang tiba-tiba datang.

Di depanku ada seseorang yang baru saja mendapat peristiwa kecelakaan. Dan betapa terkejutnya aku, jika yang kecelakaan itu adalah suami perempuanku itu.

“Mas, tolong bawakan melati kuning itu pada istriku. Dia harus bisa disembuhkan. Rasanya aku seperti bertemu kematian.” Ucapnya, lalu mengembuskan napas terakhirnya.

Aku pun segera melakukan perintahnya. Uang yang seharusnya digunakan untuk membeli nasi malah dibuat untuk pergi ke rumah yang alamatnya telah disodorkan padaku. Dan sekitar satu jam kemudian, aku telah tiba di Desa Dadapan Bondowoso. Desa yang jauh lebih tenang dari keramaian Kota Situbondo.

Rumah bercat putih dan tembok tak terlalu tinggi, langsung menjadi sasaranku. Dan perempuan itu telah menunggu dengan rasa lelah yang tiada tara di bilik kamar sederhana.

“Suamiku, tolong buatkan jus dari melati yang kaubawa itu.” katanya, tanpa sedikit pun melihat wajahku.

Aku pun segera melakukan apa yang diperintahkannya. Dan beberapa menit kemudian, jus aneh itu langsung diminumnya.

“Terima kasih suamiku, aku sekarang sudah baikan. Aku sayang kamu. Tapi sungguh, pemuda bernama Maman lebih kusayang.” Katanya, manja. Sambil mengecup keningku. [!]

 

Gusti Trisno. Aktif menulis cerpen, puisi, novel, dan resensi. Penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo ini lahir di Situbondo pada tanggal 26 Desember 1994. Saat ini, ia menjadi mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Jember. Ia pernah menjadi juara 2 Penulisan Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur 2016. Tulisannya dalam bentuk cerpen dan essay telah dimuat di beberapa media. Ia bisa dihubungi di Facebook: Gusti Trisno, E-mail: gusti.trisno@gmail.com atau telepon: 085330199752.

Jelmaan Kepompong

Cerpen: Gusti Trisno

Kamu tidak akan pernah tahu, persahabatan mereka tumbuh mulai dari lagu Kepompong-nya Sindetosca dijadikan OST sebuah sinetron remaja. Persahabatan mereka begitu cukup dekat, awalnya mereka terdiri dari tiga orang yakni Della, Ardo, dan Romi. Dan kamu pun berusaha menjadi salah satu di antara mereka. Mencoba masuk dan tiba-tiba ditolak tanpa alasan yang tidak kamu mengerti. Namun, anehnya mereka malah menerima anggota baru bernama Rizi yang baru saja masuk dalam sekolah mereka. Dan kebetulan sekelas di kelas XII.

Baiklah, kamu mungkin tak memahami siapa Rizi itu. Kamu perlu mengetahuinya terlebih dahulu, sebelum mengambil kesimpulan pada pemuda itu. Rizi adalah seorang anak pindahan yang berasal dari Jember, selain itu ternyata ia adalah anak dari kepala sekolah, tempat di mana Della, Ardo, dan Romi belajar. Kehadiran Rizi pun memperkuat citra geng mereka se-antero SMA Baluran Situbondo.

Nyaris setiap hari mereka bercanda tawa, juga menyimak pelajaran dari guru, keempat sahabat itu sudah layaknya saudara. Tak ada satu pun yang membuat jarak antara mereka. Awalnya Della, Ardo, dan Romi berteman dengan Rizi karena mereka menilai jika anak kepala sekolah itu butuh teman agar mudah bersosialasi di tengah kejamnya SMA Baluran, namun ternyata kedekatan itu membuat mereka merasa memiliki anggota baru yang senasip dan sepenanggungan.

Sinetron remaja kesukaanmu tiba-tiba berhenti tayang, bukan karena rating-nya yang buruk. Tapi sinetron tersebut merasa bahwa sudah saatnya diakhiri, daripada ceritanya dibuat bertambah panjang karena ratingnya bagus. Pasti hal tersebut tak baik bagi penonton. Kamu pasti setuju bukan? Tapi tidak dengan keesmpat sahabat itu, mereka merenggut kesal, sebab lagu Sindetosca di setiap sore tak lagi mereka dengar bersama.

“Aku malas kalo kayak gini!” Ardo berdengus kesal, sambil memperbaiki kacamata yang bermata minus enam itu.

“Kita harus protes ke stasiun televisi yang menayangkannya!” Della memberi saran.

Kamu terdiam, bingung mencerna perkataan dua orang remaja itu.

“Ah, awalnya aku juga sebal. Mengapa sinetron itu dihentikan? Tapi, bukankah justru membuat kita fokus terhadap ujian nasional di depan mata!” Rizi mulai bersuara.

Romi, lelaki yang gemuk diantara Ardo dan Rizi hanya semakin buas dalam memakan kue yang disediakan ibu dari Della.

Kamu merasa bahwa mereka sudah tak sejalan. Dan benar saja, tiba-tiba salah satu dari mereka beropini.

“Mari kita satukan mimpi yang satu. Yakni menjadi pejuang untuk negeri!”

Kamu terbingung? Pejuang untuk negeri? Pekerjaan apa itu, begitu yang ada dalam pikirmu. Kamu pun mencari tahu, apakah yang dimaksud adalah TNI/Polri. Dan benar perkiraanmu, keempat sahabat itu mencoba menantang mimpi yang sama.

Kamu mungkin terkejut, bagaimana mungkin mereka bisa memiliki satu mimpi yang sama. Bukankah dalam kepala-kepala anak manusia meskipun otaknya beratnya sama tapi pikiran dan keencerannya jelas berbeda. Tapi, tidak dengan mereka. Kamu pun melihatnya jika mereka memiliki kesungguhan dalam mewujudkan mimpinya:

Ardo, yang memiliki minus enam tiba-tiba melakukan tindakan untuk mengurangi minus ke pengobatan alternatif.

Romi memperketat makanan yang masuk dalam tubuhnya.

Sementara Rizi dan Della yang merupakan anak berada diantara mereka hanya cukup menjalani latihan bersama.

Ya? Latihan bersama? Kamu kemudian melihat mereka, melakukan sit-up, push-up, lari-lari kecil, dan sederet aktivitas fisik lainnya. Akhirnya, sampai suatu ketika mereka memiliki badan yang lumayan bagus untuk mengikuti seleksi.

“Mengapa Ardo daftar jadi polisi?” seorang guru kemudian bertanya pada anak didiknya itu, apalagi jika melihat otak Ardo yang begitu cemerlang. Pasti sukses menjadi sarjana.

“Mencoba, Bu. mimpi harus terwujud bersama De Kepompong!”

Bu Guru itu hanya tersenyum menanggapi pernyataan Ardo, kamu pun begitu. Tapi, tidak dengan Rizi. Ia tiba-tiba menarik diri terhadap ketiga sahabatnya, hingga suatu ketika kamu mengetahui alasan itu.

Cinta.

“Bagaimana mungkin kau mencintaiku?” tanya Della tak percaya.

“Haruskah cinta butuh alasan!”

Ardo dan Rizal bingung terhadap pernyataan Rizi yang sungguh tak diduga mereka.

“Tapi kita sahabat, dan tak mungkin bersatu. Jika boleh memilih aku menyukai Ardo. Dan tak mungkin kita bersama. Karena kita bersahabat.”

Rizi seperti ditimba godam. Kamu pun merasa tertimba longsor yang begitu menenggelemkan tubuh. Dan persahabatan yang kemudian menjadi cinta itu runtuh. Bahkan sampai mereka lulus dan menemui mimpi-mimpinya.

Kamu jangan kembali bingung, mimpi mereka kini tak lagi sama. Hanya Ardo yang mengentaskan mimpi di Polri. Sedang, yang lainnya berbeda. Bahkan, lebih tragisnya salah satu dari mereka yakni Romi meninggal dunia. Kamu mungkin bisa berpikir? Setelah, perseteruan itu Romi kembali kepada kebiasaan lama. Ia terus makan tanpa ada yang memerhatikan, makanya obesitas. Sedangkan Rizi dan Della kembali berkoalisi di suatu perguruan tinggi ternama, hingga benih-benih cinta antara mereka tumbuh, lalu koalisi itu berakhir di penghulu.

Kamu mungkin membayangkan bagaimana jika mereka bertemu dalam suatu reuni. Ya, hal itu memang terjadi.

“Ini siapa Rizi? Istrimu?”

“Ya, Della. Teman kita, sekarang menjadi istriku?”

“Mana Romi?”

Semua bingung. Kamu juga ingin bicara, tapi tak diizinkan oleh orang yang menciptamu dalam tulisan ini. Kemudian mereka pun mencari tahu kepada guru di sekolah yang juga datang di acara itu.

“Romi meninggal, beberapa tahun yang lalu karena obesitas!”

Mereka menyesal seketika, mengapa karena permasalahan sepele membuat tali silaturahmi merenggang!

            Jember, 08-11-16 5:22 lewat beberapa detik.

 


 

Gusti Trisno. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Kelahiran Situbondo, 26 Desember 1994. Karya penggiat Komunitas Penulis Muda Situbondo yang pernah menjadi Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen dalam Pekan Seni Mahasiswa Jawa Timur ini dimuat di beberapa media. Kumpulan tulisannya bisa dibaca di: http://www.gustitrisno.blogspot.com.