SEJARAH KECIL ‘WEISKU DAN NUEIKU’
sekecil apa pun ‘weisku memendam rasa benci pada nueiku’
sebesar apa pun nueiku’ menaruh harapan pada ‘weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim
dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati
‘weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga
(entah sejak kapan, diam-diam ‘weisku jatuh hati
pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam
dengan menimang kunang-kunang)
terkadang nueiku’ seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas– terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku’ kian menua dalam ruang kian sunyi
(ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas
apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)
ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati ‘weisku
april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan
seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek ‘weisku
seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga ‘weisku dengan sangat hati-hati
: “bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!”
hati ‘weisku pualam, nueiku’ penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad
dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, ‘weisku, irislah!
(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu
di rambut di atas telinga kananmu
padahal telah ia kecup keningmu
ia seret juga masa lalumu yang lama membeku
ke taman kota yang jauh)
nueiku’ bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku’ lebur!
kepada nueiku’ selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput
piuh keringat sajakmu sekarang jua!
Cirebah, 26 April sd 8 Mei 2016
KETIKA SENJA MENGAPUNG
ketika senja mengapuñg dan airmatamu pecah juga, mungkin aku tengah berlatih musikalisasi dan baca puisi untuk pertunjukan sosial anak zaman yang getir: gersuas– malam lusa di kampungku yang jauh dan senyap tetapi bukankah engkau tengah berpesta dengan ratusan temanmu, mestinya engkau paham bahwa keberpihakanku pada keserbakekurangan orang lain selalu saja menghanyutkanku, merobek-robek serat hatiku sekecil apa pun, sesederhana apa pun aku ingin mengulurkan tangan puisiku, o, tangan puisiku, chin!
Cilacap, 23 Juli 2015
SEPERTI DANGDUT
engkau terlalu manis untukku, chin
aku sangat tidak tahu malu menyatakan perasaanku
walau sambil bercanda dan lalu berlari
seperti dangdut; kau orang kaya, aku orang tak punya
dan dirimu tergelak-gelak
entah karena senang atau mungkin hanya menganggap lucu saja
entahlah, yang jelas; dirimu memang terlalu manis, chin!
Cilacap, 22 Juli 2015
Eddy Pranata, Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah.
