Arsip Tag: Eddy Pranata PNP

Puisi: Eddy Pranata PNP

SEJARAH KECIL ‘WEISKU DAN NUEIKU’

sekecil apa pun ‘weisku memendam rasa benci pada nueiku’
sebesar apa pun nueiku’ menaruh harapan pada ‘weisku
matahari dan bulan menjadi saksi
dalam segala perubahan musim
dan orang-orang pergi menyeret sunyi dengan pedih hati
‘weisku, hanya engkau yang paham pada malam yang turun perlahan
dengan kunang-kunang melintas-lintas di atas taman bunga

 

(entah sejak kapan, diam-diam ‘weisku jatuh hati
pada lelaki yang selalu berjalan sepanjang malam
dengan menimang kunang-kunang)

 

terkadang nueiku’ seperti melihat seorang dalam rasa sakit
melintas– terhuyung seraya memegang dadanya yang rapuh
dan panas-dingin yang tak kunjung sembuh
: apakah ia maut? nueiku’ kian menua dalam ruang kian sunyi
(ia terlanjur menabur keringatnya di laut yang maha luas
apakah ia benar-benar bisa lepas dari kepungan ombak?)
ia memejamkan mata: ia lihat langit jingga
ia lihat seseorang tersaruk-saruk
menuju ruang hati ‘weisku
april demam: nueiku’ belajar bagaimana menelan pahitnya
kehidupan agar mei manis di tenggorokan
nyaman sepanjang bulan
seberapa sering engkau susah tidur?
nueiku’lah imsonianis kambuhan yang selalu ingin menemanimu
kesendirianmu dan kesunyianmu
dalam larik-larik sajak pendek ‘weisku
seseorang yang selalu menyusuri jalan paling sunyi
berbisik di telinga ‘weisku dengan sangat hati-hati
: “bahkan keringat yang mengucur dari tubuhmu
tidak akan mampu memperbaiki masa depanmu
andai engkau tidak pernah membasuh tubuhmu dengan
embun di atas dedaunan sebelum cahaya pagi!”
hati ‘weisku pualam, nueiku’ penjaganya
agar tak retak hingga berabad-abad
dalam hujan menderas
ia temukan jasad rindumu serupa pisau
berkilat tajam
hendak mengiris hati-jiwamu?
ou, ‘weisku, irislah!

(maaf bila ia lupa menyematkan anggrek ungu
di rambut di atas telinga kananmu
padahal telah ia kecup keningmu
ia seret juga masa lalumu yang lama membeku
ke taman kota yang jauh)
nueiku’ bertekuk-lutut; hatinya remuk
perempuan bergamis-berhijab hitam menatapnya dengan mata teduh
lalu tidak acuh dan sibuk membersihkan musala dan halamannya
lalu melangkah pelan ke barat laut
ribuan sayap malaikat mengurung tubuhnya yang menyala
dan kemilau; nueiku’ lebur!
kepada nueiku’ selalu aku tekankan dengan kata-kata yang keras
: jangan buang-buang usiamu hanya berkelakar dengan nasib
piuhlah keringat, kayuhlah sampan berlumut
sebelum karang melipat ombak, sebelum maut menjemput
piuh keringat sajakmu sekarang jua!
Cirebah, 26 April sd  8  Mei 2016

KETIKA SENJA MENGAPUNG

ketika senja mengapuñg dan airmatamu pecah juga, mungkin aku tengah berlatih musikalisasi dan baca puisi untuk pertunjukan sosial anak zaman yang getir: gersuas– malam lusa di kampungku yang jauh dan senyap tetapi bukankah engkau tengah berpesta dengan ratusan temanmu, mestinya engkau paham bahwa keberpihakanku pada keserbakekurangan orang lain  selalu saja menghanyutkanku, merobek-robek serat hatiku sekecil apa pun, sesederhana apa pun aku ingin mengulurkan tangan puisiku, o, tangan puisiku, chin!

Cilacap, 23 Juli 2015

 

SEPERTI DANGDUT

engkau terlalu manis untukku, chin

aku sangat tidak tahu malu menyatakan perasaanku

walau sambil bercanda dan lalu berlari

seperti dangdut; kau orang kaya, aku orang tak punya

dan dirimu tergelak-gelak

entah karena senang atau mungkin hanya menganggap lucu saja

entahlah, yang jelas; dirimu memang terlalu manis, chin!

Cilacap, 22 Juli 2015

 

Eddy Pranata, Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah.

Puisi Eddy Pranata PNP

PERNAHKAH TELAPAK KAKIMU DINGIN DAN JANTUNG BEDEBAR

pernahkah telapak kakimu dingin dan jantung berdebar, seperti kualami ketika pertama aku jatuh cinta? di usiamu yang sudah setua sekarang, apakah mungkin hal itu terjadi, sebenarnya hal ini tidak perlu aku pertanyakan kepadamu, tapi, hal itu tidaklah salah tentunya; cinta bisa datang kapan saja dalam suasana yang tidak terduga, dan dirimu boleh bernyanyi-nyanyi, menari-nari, juga menulis puisi karena jatuh cinta, o, cinta!

Cilacap, 02 Juli 2015 

MENGEMAS LUKA-CAHAYA

selalu; dirimu mendengar detak-detik jarum jam dinding, apakah sering perih dan ngilu

kecewa pada malam yang turun perlahan?

chin, beberapa hari lagi padang kujelang

bandara minangkabau kujejak

kita pergi ke telukbayur, ke bukit lampu, ke pantai bungus

atau ke indarung rumah yunizar nassyam

mengemas luka-cahayaku

atau bila dirimu ingin mandi-mandi di laut, aku akan menjelma karang

karang tempat dirimu berlindung dari hempasan ombak

lalu sorenya, chin, kita makan sate padang dan minum es durian patimura ya?

Cilacap, 01 Juli 2015 

SEGELAS AIRMATA

ia selalu menawarkan kepadamu segelas airmatanya untuk kauminum

nyaris pada setiap pertemuan yang selalu tidak direncanakan

bisa jadi di pesisir laut, di ruang tunggu bandara, di peron stasiun atau bahkan di sebuah kafe

dan engkau akan meminum airmatanya dengan begitu tenang

lalu beberapa saat kau dan ia saling peluk, kemudian berpisah lagi

dan entah kapan bertemu lagi.

Cilacap, 01 Juli 2015 

 

SKETSA PUISI

berapa macam penyakit yang kauderita

engkau selalu menutupinya dengan tersenyum

izinkan, aku mengantarmu bila ke dokter

aku mau kau berobat dan bila harus dirujuk ke rumah sakit

aku akan menungguimu sambil terus membuat sketsa puisi

o, sketsa puisi!

Cilacap, 30 Juni 2015 

 

RUANG INI TERLALU GADUH

ruang ini terlalu gaduh, bagaimana mungkin aku melukis bayang wajahmu

yang bergemuruh, wajah mulai menua tapi matamu masih menyala

dan parau suaramu memanggil-manggil namaku

: “edelweis, edelweis! bunga hutan yang tumbuh di dadaku

mersik di kedalaman jiwaku!”

Cilacap, 30 Juni 2015

 

 

BIODATA:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat.  Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla  Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos,  Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

 

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.

Handphone: 082322062966

 

Puisi Eddy Pranata PNP

SAJAK MALAM

berkali-kali menarik nafas dalam-dalam
menahan ngilu detak jarum jam
serupa irama langkah makhluk yang aku rindukan
: sajak malam!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

KAUBUKALAH JENDELA

kaubukalah jendela sunyimu, suatu siang
udara panas menyerbu kamarmu yang berantakan
cemburumu pada sajak-laut bergemeretap
: hidup harus berkeringat, bisikku di telingamu
seperti debu, suara isakmu berlompatan dari jendela
hidup harus selalu tersenyum, bisikku lagi.

Cilacap, 29 Juni 2015

 

SUARAMU YANG SERAK

suaramu yang serak kukira bangun tidur
mengabarkan mimpimu: mengemas hatiku setulusnya, sepenuhnya!

Cilacap, 29 Juni 2015

 

TUBUH SENYAP KEKASIHKU

rasa kehilangan yang mengekal; menetesnya darah puisiku
pada jalan panjang masalalu yang absurd
pada amis pelabuhan, karang-karang runcing
padang getir, bukit dan lembah berkabut
aku kemas segalanya untukmu, tubuh senyap kekasihku, o, puisi!

Cilacap, 28 Juni 2015

 

KENIKMATAN DALAM LAPAR

kenikmatan dalam lapar adalah menjejak alam bawah sadar dengan perlahan
ada keindahan yang asing serupa senja dan matahari yang menurun
di batas laut, dan kau duduk di sampingku, melukis sketsa diriku berlatar laut senja.

Cilacap, 27 Juni 2015

 

APAKAH DIRIMU SUKA LAUT

aku ingin mengundangmu makan malam di rumahku, bung puisi
kekasihku masak diksi yang dipetik sepanjang jalan berdebu
goreng estetika, rendang daging-ambigu
bakar kata-kata dari laut
semur jamur-lumut ilham
jus kepahitan hidup
segelas airmata, dan keringat yang mengucur dari leherku
dirimu datang tepat waktu ya bung?
banyak cerita yang akan bisa kaudengarkan dariku
dan aku juga ingin mendengar cerita darimu
apakah dirimu, bung puisi, akan mati?
seperti diriku, apakah dirimu suka laut?

Cilacap, 26 Juni 2015

 

DARI WAKTU KE WAKTU

dari waktu ke waktu kenangan menggenang di kamar ini, rumah ini
bagaimana setiap malam engkau mengecup keningku
engkau menyiapkan segala sesuatu sebelum keberangkatanku
bahkan tak jarang engkaulah yang menyisir rambut dan merapikan bajuku
dan banyak hal unik dan tulus lainnya kau lakukan kepadaku, chin
: genangan di kamar ini sering merendam gigilku, lalu melambungkanku
aku melayang ke mana saja
sampai aku lelah dan tertidur dengan sejuta mimpi
dengan sejuta mimpi!

Cilacap, 26 Juni 2015

 

MENCINTAI KABUT

mencintai kabut yang turun di penghujung malam
dalam sujudku; angin pelan seperti isak tertahan
dan jemari tanganMu mengelus rambutku yang beruban
kelopak mataku basah merindukanMu.

Cirebah, 24 Juni 2015

 

 

Biodata:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.

Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
Handphone: 082322062966