Arsip Tag: Percikan

Kedekatan Dan Kehilangan

Oleh Meisya Zahida
Seperti engkau aku juga tak paham, pagi yang gelisah, atau derap batin sesak dengan kata-kata. Mengejar yang jauh dan mengacuhkan yang dekat, serupa luas rerumputan setinggi mata kaki, hilang begitu saja saat ilalang membelukar sebatas dada. Kau masih bertanya arti kedekatan, juga mengapa harus ada kehilangan.

Kebersamaan memang sering diumpamakan, untuk mengukur nilai rasa yang membenih karenanya. Layaknya cinta, kadang tertakar dalam jeda begitu lama, bahkan terbagi di menit tak terduga. Di sinilah Tuhan menyematkan tali kinasih, merekatkan jiwa yang berbeda dalam satu dermaga. Membawa kapal kehidupan berlayar di tengah lautan, melewati pasang surut gelombang, mengendalikan laju mata angin bahkan membendung berbagai aral yang merintang meski dengan tangisan.

Masihkah kau menistakan hakikat penyempurna yang dianugerahkan untuk kita, ibarat mata, hati mampu melihat, mendengar, bahkan lebih peka menerjemah apa yang tersembunyi dan yang sering terdustai. Saat rasamu goncang, kadar setiamu diuji untuk hal yang kusebut pengkhianatan aku dapat membedakan, apakah dirimu masih dalam dekapan atau tengah memberontak untuk perburuan yang tak layak diagungkan.

Bukan hakku menahanmu untuk tetap tinggal, jika di suatu masa kau lebih rela menggugurkan bunga-bunga yang tertanam dengan paksa. Bukan juga tak peduli atau tak menjaganya dengan hati-hati. Aku pun harus menyadari dalam setiap ikatan yang kita teguhkan dengan janji, Tuhan juga pasti menempatkan batasan sejauh mana aku harus mengabdi dan kapan kepercayaan itu direnggut kembali.

Karenanya, aku tak lagi ingin bertanya. Apakah cinta masih bersemi di dada atau telah purna karena hadirnya orang ketiga? Engkau pun pasti ingat bagaimana kau mengenaliku pertama kali, dan tujuan apa mempersuntingku sebagai istri. Kau dan aku dua kewajiban yang tak kan terhindar dari pertanggung jawaban.

Aku bebaskan dirimu dengan segenap hasrat yang kau nilai layak, tak usah berpura-pura memaniskan luka dengan empedu yang kaubawa, karena memoriku tak kan pernah bisa menghapus apa yang sudah kau lakukan. Seperti wanita kebanyakan, “Aku memang memaafkan tapi, tidak akan mungkin melupakan.”

Inilah yang kunamai kehilangan, berdekatan untuk waktu yang tiba-tiba ditinggalkan. Bagai tamu datang bertandang kemudian, berpamitan meneruskan perjalanan setelah menikmati peristirahatan. Masihkah kau ragu pada sebuah kepastian? Bila maut kunjungan terakhir kan memanggilmu tanpa kau undang. Dan, kita akan mengerti kepergian yang sebenarnya.

Madura, 05102016

 

Meisya Zahida Lahir di sumenep-jawa timur. Tanggal 29 Desember. Menulis adalah cara paling indah menuangkan isi hati, mengungkapkan perih juga emosi. Jangan pernah ada kata berhenti, sebab berhenti adalah kekalahan. Sebelum kau meraih mimpi. Bisa dihubungi di akun Facebook Meisya zahida.

Selalu Diuji dan Diuji

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

Pasca saya mengalami kecelakaan, tetangga ibu saya yang merasa penasaran sampai bertanya perihal ujian yang menimpa kami. Dia menilai kami keluarga yang religius, suami istri dan anak-anak soleh-soleh, tapi mengapa diberi ujian yang begitu berat? Begitu tanyanya.

Aih, malu betul dinilai orang sebagai orang soleh, padahal kami masih belajar terus dan berusaha untuk berada di jalan Allah, belum tentu penilaian Allah dan manusia sama. Namun ibu saya menjawab bahwa orang soleh itu justru malah lebih berat ujiannya. Dengan serta merta si tetangga mengatakan, ”oh, kalau begitu mah, nggak mau ah saya jadi orang soleh, nanti ujiannya berat.”

Lho kok?

Pikirannya bisa begitu? Bukankah kita semua bakal pulang ke kampung akhirat? Rugi kalau kita tidak bersungguh-sungguh dengan Allah kalau hanya sekedar takut dengan ujian di dunia, mending dapat ujian saat masih di dunia daripada nanti di akhirat.

Siapa nyana di waktu berikutnya sang tetangga ibu saya ini justru mendapat musibah yang tak terperi, anaknya yang sudah remaja dibunuh temannya sendiri sesaat setelah berbuka puasa. Motifnya apa tak pernah diketahui karena kasusnya tak pernah diusut tuntas. Ujian apalagi yang lebih berat daripada kehilangan anak? Padahal sang ibu bertekad tidak mau jadi orang soleh karena khawatir mendapat ujian, tapi nyatanya dia dapat juga ujian. Ternyata mau orang soleh, mau orang tidak soleh tetap sajaTuhan memberi ujian, mau orang kafir atau pun orang beriman sama-sama diuji.

Jadi pilih mana? Pilih jadi orang tidak soleh yang diuji atau jadi orang soleh yang diuji? Nilainya tentu berbeda di sisi Allah, bagi orang beriman ujian yang didapat di dunia dan diterima dengan ridloinsya Allah bisa meringankan hukuman di akhirat, namun ujian yang diterima oleh orang tidak beriman apalagi kalau dia tidak ridlo apakah ada nilainya juga?

Tetanggaibusayaituselamaberbulan-bulanseperti orang stress, bicarasendiri, tidakmaumakanberhari-hari, berteriak histeris saat kembali menyadari anaknya sudah tak ada dan bahkan sampai tidur di makam anaknya.

Saya tidak bisa menyalahkan beliau karena ditinggal mati oleh anak memang sebuah ujian yang luarbiasa berat. Saya  sendiri mengalaminya, dan saya sempat khawatir saya akan menjadi gila. Bayangkan, di saat air susu saya masih deras-derasnya mengalir, di saat sabun mandinya masih tersedia banyak, di saat minyak telonnya masih penuh, Tuhan mengambilnya dari pelukan saya. Bagaimana rasanya? Luar biasa sakit, luar biasa sedih.

Satu-satunya tempat yang membuat saya tenang adalah mengadu pada Allah.Saya punya Allah dan berpegang pada tali Allah, namun tetap saja air mata saya tak mampu terbendung, tetap saja ada perasaan tak rela, tetap saja saya seperti menggugat Allah, bagaimana dengan ibu yang sengaja tidak mau berpegang padatali Allah? Tentu perasaannya lebih berat lagi. Dan menjadi gila itu adalah sesuatu yang mungkin.

Mungkin kadar ujian kita memang berbeda-beda, seperti yang saya alami, sepertinyaTuhan memberi saya ujian secara bertahap, mungkinTuhan menganggap saya sudah naik kelas hingga diberi ujian yang lebih beratlagi. Wallahualam.

Jadimaupilihmana? Jadi orang yang beriman dan diuji atau tidak beriman namun tetap diuji?

Menyelamatkan Jejak di Kehidupan yang Singkat

Oleh: Nasrul M. Rizal

Banyak orang yang terlahir ke dunia ini, namun hanya segelintir saja yang dikenal oleh kebanyakan orang. Apakah kalian termasuk yang terkenal? Namun bagaimana jika sudah meninggal, masihkah dikenal? Boleh jadi lenyap begitu saja, dicerna oleh bumi, hilang di ingatan. Tapi ada satu cara supaya nama kita bisa abadi walau kita mati. Ya, menciptakan karya. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Itulah yang saya maksudkan dengan jejak. Menyematkan jejak melalui karya tulis.

Keinginan menulis buku lahir dari teman saya. Sebelum perpisahan (SMA) dia menulis sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Hal itu yang menjerumuskan saya untuk datang ke toko buku, ingin membeli bukunya. Dikarenakan baru pertama kali datang ke toko buku yang super komplit –karena di Garut tidak ada toko buku besar– saya ngiler melihat ribuan buku yang berjajar rapih. Saya mencari buku karya teman saya di setiap sudut toko. Sayangnya tidak saya temukan walau sebiji. Kepalang tanggung sudah di toko buku, saya memutuskan membeli beberapa buku. Kala itu buku Tere Liye (yang kemudian menjadi penulis favorite saya)

Sepulangnya dari toko buku saya menelepon teman saya. Dia tertawa bahak, lalu berkata, “Den, buku itu udah ditarik dari toko dan sudah gak dicetak lagi. Itukan buku tahun 2012 dan sekarang 2013, kalau pun ada juga, paling bekas atau dimakan rayap di gudang.”

Hmm.. saya merenung, buku Tere Liye yang saya beli bahkan diterbitkan tahun 2008 tapi sekarang (2013) masih ada, sedangkan buku teman saya sudah hilang di pasaran. Sebegitu ketat kah persaingan di dunia perbukuan?

Kata demi kata saya baca, lembar demi lembar saya cerna. Tidak terasa buku setebal 360 halaman bisa selesai dibaca dalam hitungan hari saja. Saya baru sadar ternyatadaya pikat novel sangat luar biasa. Andaikan buku kuliah yang dibaca, setidaknya perlu satu tahun untuk melahapnya. Berkat buku 360 halaman itu, keinginan saya untuk menulis bertambah. Ternyata apa yang dikatakan kebanyakan orang itu benar; penulis hebat ialah mereka yang mampu memberi inspirasi. Dan langkah pertama seorang penulis hebat adalah menulis. Kapan ya kira-kira saya bisa mulai menulis?

Di penghujung tahun 2014, saat reuni SMA, teman saya –perempuan- memaksa untuk menulis sebuah cerita yang pernah kami alami, di mana saya dan dia menjadi tokoh utamanya. Ia pula menjerumuskan saya datang ke toko buku, sehingga perlahan tapi pasti mencintai dunia literasi. Dengan berbagai pertimbangan, saya pun memutuskan untuk menulis cerita tersebut. Dan ini menjadi debut pertama saya berkecimpung di dunia tulis-menulis.

Tidak mudah untuk mempertemukan kata, mengawinkan kalimat, melahirkan paragraf. Walaupun saya masih ingat betul setiap kejadiannya, tetap saja tidak mudah untuk merangkainya dalam barisan kata. Baru beberapa kata ditulis, saya terdiam, lalu menghapusnya lagi, mengganti dengan yang baru, setelah diganti malah saya menyesal telah menggantinya. Ratusan hari saya habiskan untuk menulis cerita tersebut, berusaha menjadikannya sebagai buku. Frustasi senantiasa menghantui. Godaan untuk berhenti kian merajai. Saya membuktikan, menulis tidak semudah mencorat-coret kertas tak karuan.

Setelah satu tahun berjuang untuk menulis, akhirnya saya bisa merampungkannya.Sebuah buku lahir dengan judul ‘Ilusi Hati’. Saya menjadikan buku tersebut sebagai kado ulang tahunn teman perempuan saya. Bersama dengan buku itu, saya berjanji pada dia; “suatu saat dia akan membaca buku di mana penulisnya ialah saya, diterbitkan oleh penerbit ternama”. Tidak, ‘Ilusi hati’ tidak diterbitakan penerbit, hanya diprint lalu diberi cover seadanya di tempat fotocopy.

Keinginan membaca buku karya sendiri, saya tulis juga di kertas folio, walau “terpaksa”. Ada dosen yang memberi tugas nyeleneh. Kami disuruh untuk menulis keinginan, harapan, mimpi, impian, cita-cita ataupun yang sejenis, baik jangka pendek maupun panjang pada kertas folio –padahal mata kuliah kewirausahaan. Dari ratusan impiansaya, beberapa diantaranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis; menjadi penulis, membaca buku karya sendiri, menulis buku best seller, menulis buku dengan berbagai genre, menulis buku fiski dan non-fiksi, dikenal banyak orang karena prestasi, dan melaharikan karya yang bermanfaat.

Tak lama setelah saya merampungkan tugas coretan “mimpi” tersebut, ada lomba cerpen dari salah satu penerbit indie. Lebih dari 800 naskah cerpen mewarnai daftar peserta, mungkin karena temanya bebas. Meniru gaya menulis Tere Liye dan menjadikan pengalaman pribadi sebagai ide dasar cerita. Lahirlah cerpen berjudul “Untukmu yang Aku Benci” yang kemudian tercantum dalam buku kumcer ‘My Destiny’. Awal tahun 2016, saya bisa membaca buku di mana salah satu penulisnya ialah saya. Selain itu, masih di bulan yang sama, artikel saya yang berjudul “Melawan Korupsi Dengan Terasi” (Temuan Rakyat Terintegrasi) menjadi 50 artikel terbaik –dipilih dari ratusan artikel lainnya– yang diposting di laman resmi Madrasah Anti Korupsidan berkesempatan menjadi juara. Berdasarkan banyaknya read, likeandshare serta kualitas artikel, artikel saya dinobatkan sebagai juara favorite. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya ialah peserta yang ikut dalam lomba ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda; mahasiswa S1, S2, Guru, Dosen, dan kalangan lainnya.

Saat ini saya bisa membaca buku yang di dalamnya terpatri karya saya. Tidak mudah untuk menyematkan karya tersebut. Meskipun pada percobaan pertama, cerpen saya langsung dibukukan, ternyata tidak diikuti oleh cerpen-cerpen berikutnya. Ada puluhan cerpen yang ditolak mentah-mentah. Sedih, kesal, dan frustasi mengerubungi. Di saat frustasi membayangi, rupanya kegagalan terus menghampiri. Setiap bulannnya saya mengikuti lomba, dan setiap bulan pula kegagalan mewarnai. Tapi salah jika kalian berfikir saya akan menyerah. Karena, walaupun mudah, menyerah hanya akan menghancurkan apa yang telah saya bangun dengan tertatih. Saya intropeksi diri, mengevaluasi karya-karya yang telah dibuat. Membaca lebih banyak buku. Belajar dan terus belajar, memungut ilmu darimana pun, kapan pun dan dari siapapun. Sekarang saya memetik hasilnya. Walaupun saya belum bisa menembus penerbit mayor dan belum melahirkan buku tunggal, setidaknya saya melangkah di jalan yang mengarah ke sana.

Hidup ini singkat, maka tinggalkanlah jejak. Menulis kini menjadi hoby sekaligus mendatangkan rezeki. Selain tulisan fiksi (Cerpen) saya pun sering menulis non-fiksi (esai, artikel, KTI). Dari kedua jenis tulisan tersebut pundi-pundi mengalir. Namun, hal ini bukan tujuan utama saya menulis. Lebih dari itu, saya  menulis karena ingin orang-orang berdamai dengan masa lalu, menjadikannya pelajaran, menatap masa depan tanpa membenci bayangan (masa lalu), tidak pernah kehilangan harapan, menyederhanakan masalah lewat untaian kata, memberi solusi, motivasi serta inspirasi. Atau yang paling rendahnya ialah bisa menghibur saat lara.

Satu impian terbesar saya di dunia tulis-menulis ialah menulis novel bergenre sejarah -tentang ekonomi. Karena saya sadar, daya pikat novel lebih tinggi daripada buku pelajaran. Hitungan hari saja novel setebal ratusan halaman bisa selesai dibaca. Tapi butuh ratusan hari untuk membaca buku pelajaran yang tebalnya tidak lebih dari setengah novel. Dari hal itu saya berkeinginan menyuguhkan materi ajar (ekonomi) dengan tehnik penceritaan sebuah novel. Semoga naskah itu bisa rampung sebelum saya wisuda. Aamiin.

Ide adalah harta yang paling berharga. Darinya lahir berbagai karya. Ide menulis yang paling murah ialah pengalaman. Biarkan orang lain tahu bagaimana pengalamanmu, selama ada manfaat yang bisa dipetik oleh mereka. Terima-kasih J

Teruslah melangkah walau tak mudah. Teruslah berjuang meski banyak yang menghadang. Teruslah bangkit kendati sangat sulit.

Bandung, Agustus 2016.

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media, baik online maupun cetak. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com