Arsip Tag: Devian Amilla

Putri yang Bersujud

 Cerpen : Devian Amilla

Pagi ini aku terjaga dari tidurku karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari kamar Mbak Anzani. Kulirik jam weker yang berada tepat di samping ranjangku. Ah, masih jam 03.00 pagi. Aku pun melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk.

“Assalamualaikum, Dek. Bangun yuk, shalat tahajud.”, suara Mbak Anzani terdengar lembut. Aku menggeliat. Kubiarkan suara Mbak Anzani yang terus berusaha membangunkanku. Aku masih ngantuk, lagian badanku masih pegal karena harus lembur di kantor semalaman. “Mbak Anzani ngeselin banget, sih. Baru juga mau tidur udah disuruh bangun.” Aku ngomel sambil terus memejamkan mata.

Aku adalah anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga besar Papi dan Mami. Yap! Papi dan Mami adalah anak tunggal dari Oma dan Opa yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya raya. Dan aku adalah anak tunggalnya Papi dan Mami. Jadilah aku bak seorang putri raja di keluarga ini. Mbak Anzani adalah anak panti asuhan yang di asuh Mami dan Papi sejak umurku 8 tahun. Waktu itu aku sibuk minta diberikan seorang kakak perempuan. Jadilah Mami dan Papi mengunjungi panti asuhan Pelita dan mengangkat Mbak Anzani menjadi kakak perempuanku.

Aku dan Mbak Anzani bagaikan langit dan bumi. Aku yang suka sekali dengan barang-barang mewah dan branded sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai barang-barang yang sederhana bahkan menurutku terkesan murah. “Allah tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan, Dek.” Itu kata-kata yang selalu diucapkan Mbak Anzani jika aku memberikannya hadiah tas atau sepatu mahal. Ya, Mbak Anzani memang muslimah sejati. Lihat saja jilbabnya selalu menjulur menutupi dada. Beda sekali dengan aku yang masih enggan mengenakan jilbab keluar rumah dan mewarnai rambutku dengan warna hijau dan coklat.

Usiaku dan Mbak Anzani hanya terpaut 3 tahun. Saat ini usiaku 22 tahun dan Mbak Anzani 25 tahun. Papi memintaku untuk menjadi salah satu manager di perusahaannya. Sedangkan Mbak Anzani lebih memilih menjadi seorang guru di salah satu Yayasan milik keluarga besar kami. Aku menyukai jenis musik Rock, sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai lagu-lagu nasyid dan berbau islami. Seringkali aku di tegur Mbak Anzani karena menyetel lagu Linkin Park dengan volume full saat Mbak Anzani dan teman-temannya sedang membahas tentang Palestina di ruang tamu.

“Dek, bisa dikecilkan sedikit nggak volume lagunya? Mbak dan teman-teman yang lain jadi kurang fokus, nih.”, katanya sambil menunjukkan sederet gigi mungilnya. Aku nyengir dan langsung mematikan lagu yang tadi kuputar.

“Bukan Mbak suruh matikan, sayang. Kamu masih bisa mendengarkan lagu kesukaanmu kok, tapi ya jangan kencang-kencang.”, kepala Mbak Anzani menyembul lagi dari balik pintu kamarku.

“Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga udah muak dengerin lagunya.”, aku balas dengan cengiran kuda.

Mbak Anzani tersenyum sambil berlalu. Kudengar sebelum ia menutup pintu kamarku, ia berkata, “Mendingan kamu dengerin lagu-lagu islami deh, Dek. Hati kamu pasti lebih adem dan nggak cepat muak.” Aku tersenyum. Ini yang kusuka dari Mbak Anzani, meskipun aku belum bisa menjadi muslimah yang sejati seperti dia, tapi Mbak Anzani tidak pernah menghakimiku seperti orang lain. Ia selalu punya cara sendiri untuk menasehatiku.

***

“Mbaaaaaaakkk!”, aku masuk kerumah sambil berlari memanggil Mbak Anzani.

“Ya Allah, Dek. Kalau masuk rumah itu ngucapin salam. Bukan teriak-teriak begitu.” Mbak Anzani menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Mbak, tahu nggak? Di kantor ada karyawan baru, ganteeeengggg banget! Wajahnya itu loh Mbak, bercahaya gitu, kayaknya dia rajin shalat deh kayak Mbak Anzani.” Aku mengabaikan teguran Mbak Anzani dan terus bercerita.

“Tatapan matanya teduh banget, Mbak. Tapi Zira heran deh Mbak, dia nggak pernah mau lama-lama ngeliat perempuan. Sombong banget kan, Mbak?,” ucapku setengah kesal. Karena tadi ketika di kantor, aku berusaha ngobrol sama lelaki itu tapi dianya malah kebanyakan nunduk. Kan sebel!

“Itu bukan sombong, Dek. Itu namanya dia menjaga pandangannya. Bagus dong, berarti dia sangat mengahargai perempuan.”, ujar Mbak Anzani.

“Memangnya laki-laki baik menurut islam itu harus laki-laki yang menjaga pandangannya ya, Mbak?”

“Ya iyalah, sayaaang! Gimana dia mau menjaga hati kamu kalau pandangannya saja sulit ia jaga.”, ucap Mbak Anzani sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan Mbak Anzani.

“Mbak, apa laki-laki seperti dia nggak boleh dekat-dekat dengan perempuan seperti Zira?”, tanyaku dengan tatapan sendu. Mbak Anzani mengernyitkan dahinya. Ia menangkap rona sendu di wajahku.

“Memangnya dia laki-laki yang seperti apa, Dek? Kok bisa-bisanya kamu ngomong begitu?”

“Dia rajin shalat, Mbak. Shalat sunah saja dia tak pernah tinggal, apalagi shalat wajib. Terus dia juga rajin puasa, tiap hari Zira liat pas jam istirahat selalu baca Al-Quran, setiap Jum’at Zira lihat dia membagi-bagikan nasi kotak ke pak Satpam dan tukang becak yang mangkal dekat kantor, Mbak.”

“Terus alasannya dia nggak mau ‘dekat-dekat’ dengan Zira apa dong?”, tanya Mbak Anzani dengan menekankan kata ‘dekat-dekat’ kepadaku. Eh! Aku jadi salah tingkah sendiri. Mbak Anzani menangkap rona merah yang terpampang jelas di wajah chubbyku.

“Eh, ituuu… Anu Mbak, cuma nanya doang kok.”, aku tunduk menahan malu.

Mbak Anzani memelukku. Diusapnya rambutku yang lurus dan berwarna hijau coklat itu.

“Dek, selalu ingat ya.. Laki-laki baik untuk perempuan baik. Begitu juga sebaliknya. Jika kita mendambakan laki-laki yang baik perangainya, shaleh, dan lembut hatinya, kita juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menyambut laki-laki seperti itu. Tingkatkan kualitas diri kita, perbaiki apa yang masih kurang dalam diri kita.”  Aku menangis dalam pelukan Mbak Anzani. Aku sadar selama ini aku masih jauh dari Allah. Padahal selalu ada Mbak Anzani yang siap untuk menuntunku jika aku mau berubah. Air mataku menetes lagi.

***

Pukul 03.00 pagi. Aku berjalan ke kamar Mbak Anzani. Niatku untuk membangunkan Mbak Anzani shalat tahajud. Tapi ternyata Mbak Anzani sudah bangun dan sudah siap-siap untuk shalat tahajud. Mbak Anzani bengong melihat rambutku yang sudah berwarna hitam. Ya, setelah mendengar nasihat Mbak Anzani tadi sore, aku memutuskan untuk mengembalikan warna rambutku seperti semula.

“Mbak! Aku mau shalat tahajud bareng, boleh?”, tanyaku sambil memakai mukena.

Mbak Anzani masih bengong. Wajarlah Mbak Anzani sampai bengong gitu, soalnya sejak kejadian aku ngga pernah mau dibangunin untuk shalat tahajud, Mbak Anzani akhirnya nyerah bangunin aku.

“Boleh nggak, Mbak?”, Kuulangi lagi pertanyaanku dengan wajah agak kesal karena daritadi Mbak Anzani hanya bengong. Mbak Anzani gelagapan menjawab pertanyaanku. Ia langsung memelukku dan mengucapkan syukur. Aduh, Mbak Anzani lebay, deh.

Setelah selesai shalat tahajud, aku meminta lagu-lagu nasyid dan lagu-lagu islami milik Mbak Anzani.

“Mbak nggak salah denger nih?”, ucapnya tak percaya.

“Iya, Mbak. Apa perlu Zira ulangi berkali-kali.” aku memasang wajah kesal. Mbak Anzani masih saja kubuat syok dengan perubahanku.

“Terus lagu-lagumu yang penyanyinya serem-serem itu dikemanain, Dek?”, tanyanya polos.

“Tukeran sama, Mbak lah. Aku masukin di laptop ya.”, godaku pada Mbak Anzani.

Mbak Anzani langsung menyambar laptopnya dan berulang kali mengucapkan kalimat istighfar. Aku tertawa dengan keras melihat reaksi Mbak Anzani yang super lebay itu.

“Huss! Muslimah itu nggak boleh ketawa kenceng-kenceng, Dek!”, tegur Mbak Anzani. Aku spontan menutup mulutku. Namanya juga kelepasan, Mbak. Batinku.

***

Bel di depan pintu rumah terus menerus berbunyi. Aku tahu siapa yang datang kalau sudah begini. Kubiarkan saja Mbak Anzani yang membukanya. Itu pasti Papi dan Mami. Mereka baru saja pulang dari luar negeri karena urusan perusahaan.

“Assalamualaikum, dear.”, ucap Papi dan Mami. Mami langsung memeluk Mbak Anzani.

“Waalaikumsalam, Mi.”, Mbak Anzani mencium tangan Mami dan Papi.

“Mana adikmu, dear?”, tanya Mami. Matanya menyapu sekeliling rumah berharap mendapatkanku di salah satu pojok ruangan.

“Lagi dandan, Mi. Kan mau berangkat ke kantor.”, ucap Mbak Anzani. Sebenarnya daritadi aku sudah selesai. Tapi aku masih malu untuk turun ke ruang keluarga. Aku takut di tertawakan sama Mami, Papi dan Mbak Anzani.

“Ziraaaa! My sweetheart!”, teriak Papi dari tangga bawah. Aku buru-buru turun. Ah, bodoh amat sama penilaian Mami dan Papi. Kata Mbak Anzani kan kalau niat baik nggak boleh ditunda-ditunda.

Aku menuruni anak tangga dengan anggun. “Assalamualaikum, Mi, Pi.”

Mami dan Papi saling tatap. Mbak Anzani hanya tersenyum. Ternyata Mbak Anzani sudah menduga bahwa aku akan segera berhijab. Yap! Pagi itu aku sukses membuat Mami dan Papi bengong dan tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari aku. Hanya Mbak Anzani yang bisa mengeluarkan suara. Itu pun dengan dibumbui air matanya yang menetes berkali-kali, “Masya Allah, kamu lebih cantik dengan hijab, Dek.”

“Mbak, aku ingin hijrah. Bantu aku untuk tetap istiqamah, ya.” ucapku pelan di telinganya. Mbak Anzani kembali menitikkan air mata.

Sejak hari itu, aku mulai mengenakan jilbab kemanapun aku pergi. Karena memang sudah kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya kan? Kubakar semua pakaian-pakaianku dulu yang kekurangan bahan itu. Tidak ada lagi pakaian you can see dan rok mini yang mejeng di lemari pakaianku. Sekarang lemari pakaianku pun terisi dengan baju tunik dan gamis dengan warna-warna lembut dan pastinya dengan berbagai macam jenis pasmina. Semua lagu-lagu rock kesayanganku juga sudah kuhapus dan kuganti dengan lagu-lagu nasyid yang sekarang malah lebih kucintai, bahkan aku mendownload ceramah-ceramah islami yang selalu menenangkan hati. Aku dan Mbak Anzani pun sering mengikuti kegiatan pengajian setiap hari Minggu dan Mbak Anzani membantuku untuk memahami isi Al-Quran.

***

“Mi, Pi, Mbak, minggu depan kita umrah bareng, ya.”, kataku dengan penuh antusias.

“Zira udah nyiapin semuanya, kok. Kita tinggal berangkat aja.”, tambahku lagi.

Mbak Anzani paling antusias mendengar perkataanku. Mami dan Papi memasang wajah berpikir. Pasti nyari alasan, nih.

“Pokoknya harus bisa! Dunia doang yang dikejar? Tabungan untuk akhiratnya kapan? Memangnya Papi sama Mami nggak mau kita ngumpul bareng lagi di surga?”, kataku sambil memeluk Mami dan Papi. Kalau sudah begini mereka langsung luluh dan menitikkan air mata.

***

Sehari sebelum keberangkatan kami untuk menjalankan umrah. Aku masuk rumah sakit dan harus memerlukan operasi yang lumayan besar di wajahku. Saat itu aku ingat sekali, aku melihat gadis berjilbab berusia tujuh belas tahun sedang dipaksa menanggalkan pakaiannya oleh preman-preman di ujung jalan. Aku yang kebetulan sedang melintas di daerah tersebut spontan membantu. Tapi apalah dikata, mereka kaget dengan kehadiranku saat itu. Mereka juga langsung menarikku dan menarik jilbabku. Kulihat mata mereka merah dan bau alkohol yang keluar dari mulutnya sangat membuatku mual. Aku berusaha menyuruh adik itu pergi, tapi dia juga sudah kehabisan tenaga mempertahankan apa yang memang seharusnya dipertahankan perempuan.

Segerombolan preman ini makin kalap karena kami sama-sama bertahan. Jilbab yang kukenakan sudah tak karuan bentuknya. Kulihat di sudut sana adik itu sudah berlumuran darah. Ia mendapatkan tusukan di perut dan di pundaknya. Berkali-kali. Aku menjerit sekuat tenaga meminta tolong. Aku tak henti menyebut asma Allah dan memohon pertolongannya.

Allah mendengar permohonanku. Tiba-tiba terdengar sirene polisi dari kejauhan. Mereka panik dan  meninggalkanku begitu saja. Tapi salah satu dari mereka kembali dan menghujamkan belati tepat ke jantungku berkali-kali. Setelah itu ia menyiramkan cairan ke wajahku yang kuyakini saat itu adalah air keras. Aku menjerit sekali lagi. Aku sudah tak bisa merasakan sakitnya lagi, yang kulakukan hanya menyebut nama Allah. Setelah itu semua gelap.

***

Kulihat Mbak Anzani menangis disudut ruangan. Ia tak henti memanjatkan doa untukku. Kucoba untuk membuka mataku semakin lebar. Kupanggil lirih Mbak Anzani. Mbak Anzani langsung memegang tanganku sambil mengucapkan syukur karena aku akhirnya bangun dari koma selama dua bulan.

“Mbak, bagaimana keadaan adik itu?”, tanyaku dengan terbata-bata.

“Dia sudah tenang, Dek. Dia sudah bersama Allah.”, jawab Mbak Anzani sambil menangis. Aku ikut menangis. Kulihat ada Mami dan Papi yang ikut menangis melihat kami. Eh, siapa lelaki itu? Bukannya dia karyawan baru di kantor? Seakan mengerti tatapan bingungku, Papi menjelaskan bahwa Alwi lah yang mengantarkanku dan adik itu ke rumah sakit dan berpura-pura menghidupkan sirene polisi dari handphonenya. Oh, jadi nama karyawan baru itu Alwi, batinku.

“Terimakasih sudah menolongku, Mas.”, ucapku lemah.

Ternyata Alwi sudah lama memperhatikanku. Hanya saja ia takut untuk lebih mengenalku karena belum muhrim katanya. Aku tersenyum. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia melamarku saat itu juga. Ia ingin aku menjadi istrinya.

“Apakah kau mau menjadi istriku?”, tanya Alwi dengan lembut padaku.

“Kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu, Mas?,” aku balik bertanya.

“Karena perangai baikmu, karena hatimu yang lembut dan karena kamu seorang muslimah sejati.”, jawabnya mantap sambil melirik Mbak Anzani.

Air mataku jatuh. Mbak Anzani masih terus menggenggam tanganku. Ia ikut menangis. Mami dan Papi pun menangis. Oh, Allah… Ini sungguh luar biasa indah. Aku menganggukkan kepalaku pertanda bahwa aku mau di peristri olehnya. Alwi mengucapkan hamdallah berkali-kali.

Aku meminta Mbak Anzani membantuku untuk shalat tahajud. Ya, aku belum bisa shalat seperti biasanya. Jadi aku hanya bisa shalat dengan duduk. Entah kenapa aku begitu merindukan Allah. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Dalam sujud panjangku, aku menangis. Memohon ampun atas segala perbuatanku selama ini, atas kelalaianku menjalani kewajibanku sebagai seorang muslimah. Tiba-tiba aku merasakan diriku sehat, bugar seperti sedia kala. Aku merasakan hatiku tentram tanpa beban. Aku melihat cahaya yang terang sekali dan ada suara anak-anak mengaji dari sana. Kuikuti suara itu dan aku melangkah dengan pasti ke cahaya tersebut sambil tersenyum.

***

Mbak Anzani memelukku dengan isak tangis yang halus. Ia tahu bahwa seorang muslimah sejati tidak boleh meratapi kepergian saudaranya. Alwi di sudut ruangan juga hanya menitikkan air mata sekali dua kali. Begitu juga Mami dan Papi. Setelah itu mereka langsung memanjatkan doa untuk kepergianku.

“Zira adalah seorang putri dalam keluarga kami. Dan tetap akan menjadi putri kecil kami yang manis.”, ucap Mami dengan suara yang parau.

“Ia memang seorang putri, Bu. Putri yang selalu bersujud padaNya.”, tambah Alwi dengan menitikkan air matanya terakhir kali.

        Devian Amilla

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media  lokal maupun luar daerah.)

[Cerpen] “Kisah Gracie”

Oleh : Devian Amilla

Aku gemar sekali melihat darah segar yang mengalir deras dari tubuh seseorang. Aku juga selalu excited ketika melihat seseorang sedang bertarung dengan kematian. Aku tergila-gila dengan darah yang kental dan anyir. Mungkin banyak yang bilang nyawa haruslah dibayar dengan nyawa. Tapi bagiku, bully yang harus dibayar dengan nyawa.
Aku sudah cukup lelah bertahan selama 13 tahun di bully oleh teman-temanku hanya karena aku berbeda. Aku yang sejak kecil tak pandai bergaul selalu mendapat diskriminasi dari orang-orang sekitarku. Tak terkecuali dari orangtuaku dan ketiga kakakku. Mereka bilang seharusnya aku tak perlu lahir karena membuat malu keluarga tidak bisa bergaul dan terlalu bodoh menempatkan diri dengan orang-orang baru. Ketiga kakakku sangat cantik, mereka sangat lihai dalam bergaul, mereka juga pintar berdandan. Bagi mereka aku hanya gadis kecil berkacamata yang tidak bisa apa-apa.
Aku mulai bersahabat dengan pisau dan benda-benda tajam lainnya saat aku merasa direndahkan sebagai perempuan. Saat usiaku 14 tahun, aku hampir kehilangan kesucianku. Teman sekelasku yang merencanakan semua ini. Aku dikepung oleh lima orang laki-laki ketika pulang dari bimbingan belajar dekat sekolahku. Aku diseret ke ujung jalanan yang sepi dan jarang dilewati kendaraan. Posisiku saat itu benar-benar terdesak. Mereka memaksaku untuk menanggalkan pakaian. Aku memberontak dan melihat salah satu dari mereka memegang pisau. Aku berhasil merebut pisau itu dari tangannya.
Kuacungkan pisau itu ke arah mereka, tapi mereka mengira bahwa aku hanya mengancam. Mereka malah menghinaku dan merendahkanku. Aku yang selama ini sudah muak dengan segala jenis bully langsung kalap menyayat leher salah satu dari mereka. Saat itu aku merasakan sisi lain dari diriku. Aku merasakan ada semangat yang selama ini hilang ketika aku melihat darah yang mengucur dari leher anak laki-laki tersebut. Teman-temannya yang lain mencoba kabur, namun aku lebih cepat dari mereka. Aku habisi mereka satu per satu dengan pisau yang ada di tanganku.
Kelima anak laki-laki itu sekarang terkapar dengan bersimbah darah. Aku belum merasa puas, kutikam dada mereka satu per satu berkali-kali. Aku tidak peduli bagaimana rupaku sekarang, aku merasa sangat senang. Ini pengalamanku yang paling menyenangkan. Setelah puas menghabisi mereka, kutinggalkan begitu saja tubuh mereka. Biarkan saja tubuhnya dimakan anjing liar yang berkeliaran di jalan ini.
Saat ini aku tercatat sebagai siswi kelas 3 di SMA Favorit di kotaku. Aku sedang sibuk-sibuknya belajar dan ‘bermain’ dengan mereka yang sibuk menghinaku. Aku berkali-kali ditegur dan di beri surat peringatan karena terus bercerita tentang pembunuhan. Semua anak-anak disekolahku jadi takut untuk berteman denganku. Padahal aku sangat senang melihat wajah-wajah ketakutan mereka saat aku menceritakan betapa serunya melihat darah yang mengalir deras dari tubuh seseorang.
“Gracie! Kerjakan soal ini di depan kelas.”, ucap pak Edward sambil menatapku tajam karena daritadi aku tidak memperhatikannya.
Aku maju ke depan kelas. Aku mencoba mengerjakan soal itu, tapi aku tidak bisa. Bagaimana mungkin aku bisa mengerjakannya, mendengarkan ia menjelaskannnya saja tidak.
“Kau sudah di tingkat akhir, kenapa kau tidak pernah serius belajar! Mau jadi apa kau setelah lulus nanti? Tukang sampah?!”, bentakan pak Edward menimbulkan suara tawa dari teman-teman kelasku.
Aku hanya bisa tertunduk. Dalam hati aku mengutuk perkataan pak Edward. Teman-teman sibuk menyorakiku dengan kata-kata yang sangat menyakitkan hati. Aku memang sudah terkenal dengan sebutan siswa yang paling bodoh sejak SD sampai sekarang. Tapi apakah menjadi bodoh itu dosa? Apakah bodoh itu termasuk salah satu dosa besar dan hina? Kenapa mereka memperlakukan aku seperti dosa besar yang haram untuk di dekati?
Pak Edward mempersilahkanku untuk duduk kembali setelah ia puas mempermalukanku di depan teman-teman. Aku kembali ke bangku dengan rasa marah yang membuncah. Pak Edward melanjutkan pelajarannya. Aku pun melanjutkan lamunanku. Aku malas untuk mendengarkan segala rumus fisika yang keluar dari mulutnya. Tapi, sial. Lagi-lagi pak Edward memergokiku melamun.
“Kau sedang akting menjadi hantu apa dengan gaya melamun seperti itu?”, teriak pak Edward dari depan kelas. Suasana kelas langsung pecah dengan suara tawa.
“Kau yang akan menjadi hantu. Bukan aku!”
“Kau bilang apa? Berani sekali kau memanggilku dengan sebutan “kau”!”, Pak Edward berjalan ke arahku. Melayangkan tamparan ke wajahku.
“KAU YANG AKAN MENJADI HANTU! BUKAN AKU!”.
Aku berteriak tepat di depan wajahnya, lalu bergegas meninggalkan kelas.
Napasku memburu. Aku berlari ke arah gudang sekolah dengan suara menggema di kepalaku. Suara itu menyuruhku untuk membunuh Pak Edward. Jadi, akan kubunuh lelaki tua itu dengan caraku.
***
Bel pulang sekolah sudah terdengar. Aku buru-buru menemui lelaki tua itu. Aku sudah mengatur rencanaku dengan matang. Kulihat lelaki tua itu berjalan ke arah kantor, sebelum ia sampai kesana aku harus mencegahnya. Aku berlari ke arahnya secepat mungkin.
“Pak Edward! Pak Edward!”, aku berusaha memanggilnya.
Lelaki tua itu memalingkan wajahnya. Ia tersenyum penuh kemenangan saat melihatku berlari ke arahnya. Ia mungkin berpikir aku akan minta maaf atas perbuatanku tadi. Ya, aku memang akan meminta maaf dengan caraku.
“Aku ingin minta maaf, Pak.”, ucapku dengan nada sesedih mungkin agar ia yakin.
“Aku menyesali perbuatanku.”, tambahku dengan suara bergetar menahan tangis.
“Akhirnya kau mengakui kesalahanmu! Aku akan memaafkanmu dengan satu syarat.”
“Apa itu, Pak?”, aku sudah mewanti-wanti permintaannya yang bisa saja menggagalkan rencanaku untuk membunuhnya.
“Bantu aku membersihkan ruangan laboraturium sekolah kita nanti sore. Bagaimana?”
“Baik Pak, dengan senang hati.”, aku tersenyum dan pamit dari hadapannya.
Ternyata si lelaki tua itu malah mempermudah rencanaku untuk menghabisi nyawanya. Aku jadi tidak sabar menunggu sore nanti.

 

***
“Gracie! What are you doing for me?!”, teriak Pak Edward ketika mendapati dirinya telah terikat di sebuah meja panjang.
“C’mon honey! Don’t worried like that. Oke?”, ucapku sambil mengeluarkan pisau, palu, gunting dan gergaji dari dalam tasku.
“Apa yang akan kau lakukan padaku, Gracie?”, suara lelaki tua itu melemah. Ia pias ketika melihat aku mengeluarkan “alat-alat kecantikanku”.
Aku mengelus wajahnya yang sudah hampir keriput dengan pisau. Kusayat kulit wajahnya beberapa kali. Ia menjerit kesakitan.
“Lanjutkan teriakanmu bapak tua! Seperti kau meneriakiku di kelas.”
“Apa salahku padamu?”, tanyanya sambil menangis.
“Salahmu karena kau telah bermain-main denganku. Salahmu telah merendahkanku di depan teman-temanku!”, teriakku frustasi.
Aku pun menyayat dan mengoyak-ngoyak tubuhnya dengan pisau kesayanganku. Ia terus menjerit kesakitan sambil mengeluarkan kalimat, Somebody, Help me! Please, help me! Aku semakin membabi buta menghabis nyawanya. Usai sudah kesabaranku selama ini.
Aku menancapkan pisau tepat ke jantungnya lalu mengoyak-ngoyak dan menarik jantungnya keluar. Belum puas sampai disitu, aku mengambil gergaji dan memotong-motong tangan dan kakinya menjadi beberapa bagian. Lalu aku membelah perutnya, mengeluarkan semua isinya. Kuambil gunting dan kupotong rambut lelaki tua ini sampai habis. Setelah itu kuhantamkan palu ke kepalanya yang sudah botak. Otaknya berceceran diatas meja. Aku tersenyum puas. Aku berjalan meninggalkan ruangan laboraturium sambil bergumam, “Bukannya sudah kukatakan? Kau yang akan menjadi hantu.”[]

 

Devian Amilla

 

Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah

 

 

 

Baca karya Devian Amilla LAINNYA

Untuk Seseorang Setelah Aku

Cerpen : Devian Amilla

Bagaimana? Berdebar kencangkah jantungmu saat melihat matanya? Begitu sulitkah kau memalingkan wajahmu dari senyumnya? Ya, aku juga dulu merasakan hal yang sama denganmu. Aku selalu sulit mengalihkan pandanganku ketika melihat lengkungan senyum manis yang tercipta dari bibirnya. Jantungku pun berdetak lebih cepat dari biasanya ketika melihatnya menatap mataku.

Untuk seseorang setelah aku, bolehkah aku meminta tolong? Aku titipkan lelaki yang kini telah menjadi lelakimu. Dia memang sudah dewasa, tapi dia tetap si bungsu yang manja. Dia tidak akan segan untuk tidur di pangkuanmu, juga tidak akan malu untuk menggenggam tanganmu di hadapan teman-temannya. Dia akan rela datang kerumahmu meskipun kau tidak membukakan pintu untuknya. Karena dulu, aku pernah melakukan hal jahat itu padanya ketika kami sedang bertengkar. Kau, wanita yang sekarang dipilihnya untuk melangkah bersama, jangan biarkan dia merasakan hal menyakitkan yang dulu sempat aku berikan padanya.

Aku pernah dalam keadaan sangat mencintainya. Bahkan saat kutahu dia sekarang telah menjadi milikmu; aku masih sangat mencintainya. Keputusanku untuk mengakhiri hubungan dengannya bukan tanpa alasan. Dia, lelaki yang bahunya sempat menjadi sandaran paling kokoh untuk menyembunyikan tangis, lelaki yang memiliki sejuta cara untuk membuatku tersenyum bahkan tertawa dalam amarah. Lelaki yang pelukannya sehangat mentari pagi. Dia; lelaki yang sekarang telah menjadi lelakimu dan akan tetap menjadi milikmu.

Untuk seseorang; setelah aku. Bolehkah aku meminta tolong lagi padamu? Aku mengenalnya jauh sebelum kau bisa tersenyum bahagia  melihat senyumnya sekarang. Aku mengenalnya bukan baru kemarin sore. Aku mengenalnya jauh sebelum kau datang ke kehidupannya. Jadi, izinkanlah aku mengatakan beberapa hal penting untukmu.

Lelakimu tidak suka kopi, dia lebih menyukai teh. Jadi, jika nanti dia berkunjung kerumahmu, tolong jangan sediakan kopi untuknya. Dia tidak akan mengatakannya padamu, tapi dia akan tetap meminumnya untuk menghargaimu. Bukankah dia akan senang jika kau membuatkan teh kesukaannya?  Dia juga tak suka jika melihat wanitanya memakai blazer atau cardigan, dia lebih menyukai wanitanya memakai kemeja atau kaos. Dia tipe lelaki yang menyukai hal-hal sederhana. Begitupun dalam hal berpakaian. Jadi, jika nanti kalian hendak bepergian, kenakanlah pakaian yang ia sukai agar ia tak bisa melepaskan pandangannya darimu.

Oh ya, lelakimu juga sangat tergila-gila dengan makanan yang pedas. Jika nanti kau diminta untuk membuatkan masakan untuknya, tidak ada salahnya untuk menaikkan kadar pedas sesuai seleranya. Satu bocoran lagi, dia sangat menyukai nasi goreng. Jika kau tidak bisa membuat nasi goreng, ada baiknya kau mulai belajar dari sekarang. Dia akan semakin mencintaimu jika tahu kau pandai memasak.

Aku tidak tahu kau lebih sempurna dari aku atau tidak. Tapi aku sangat berharap, kehadiranmu di hidupnya bisa membuat dia lebih bahagia. Cintai dia seperti kau mencintai dirimu. Peluk erat tubuhnya ketika dia lelah. Jadilah sosok wanita yang kuat, lelakimu butuh disemangati bukan hanya dicintai.

Untuk seseorang; setelah aku. Jika nanti suatu saat kalian bertengkar, jangan menjalankan aksi diam seribu bahasa. Dia tidak akan mengerti maksud aksi diammu. Dia tidak ahli dalam membujuk wanita. Jadi, jika nanti kalian bertengkar tidak ada salahnya jika kau mengalah. Katakan semua yang ada dalam isi hatimu kepadanya. Keluarkan semua keluhan-keluhanmu. Dia akan dengan senang hati mendengarkannya. Dan kau  tahu pasti, dia akan meminta maaf padamu berkali-kali setelah mendegar semua keluhanmu tentangnya.

Aku hampir lupa, ketika bersamaku dulu dia sering mengeluh bahwa tangannya sering kesemutan. Jika sampai sekarang dia masih sering mengeluhkan tentang itu, ingatkan dia untuk membeli obatnya. Dia bukan pengingat yang baik, dia seringkali melupakan hal-hal kecil. Sudah menjadi tugasmu sebagai wanitanya untuk mengingatkan dia menjaga kesehatannya. Ingatkan dia untuk membawa air mineral kemana pun, ingatkan dia untuk meminum air putih yang banyak agar penyakitnya tak kambuh lagi.

Berbahagialah dengannya, walau terkadang hatiku masih tak sanggup untuk melihatnya bersamamu. Tapi jika dia bahagia denganmu, aku sepenuh hati rela. Jangan sesekali membahas sesuatu yang tak disukainya. Dia bisa berubah menjadi orang yang paling menyebalkan di dunia. Tapi, semenyebalkan apapun dirinya, kau pasti tetap bisa mencintai dirinya. Sama seperti aku. Aku masih tetap mencintai dirinya meskipun dia telah melupakan aku.

Untukmu; wanita yang sekarang mendampinginya. Bolehkah aku meminta satu hal? Maukah kau berjanji untukku? Permintaanku tidak sulit, aku yakin kau bisa mengabulkannya. Begini, kau tahu bahwa sampai detik ini juga aku masih sangat mencintainya. Aku tidak bisa lagi menjadi alasannya tersenyum. Aku mohon padamu, jangan sakiti hatinya. Jangan permainkan perasaannya. Jika memang kau tidak sanggup berjalan beriringan dengannya, jangan berikan dia harapan seolah kau mampu bertahan. Aku berharap dan terus berharap, kau menjadi wanita terakhir yang bisa mendampinginya dalam suka maupun duka. Dalam lapang dan sulitnya.

Sekali lagi, berbahagialah dengannya. Bahagiakan dia seperti aku membahagiakannya. Kelak, kau juga akan merasakan menjadi perempuan paling beruntung bisa mendapatkan cintanya. Aku memang tidak pernah bertatap muka denganmu, tapi aku yakin kau bisa kupercaya untuk hal membahagiakannya.

Untuk seseorang; setelah aku. Jangan kecewakan rasa percayaku padamu.

Dari wanita yang pernah menjadi wanita lelakimu…

Beranda rumahku, 28 Mei 2017

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

Aku (bukan) Monster

Oleh : Devian Amilla

“Maaf, bu. Tidak boleh ada monster di tempat ini.” Kata pemilik yayasan tersebut kepada Ibu. Pemilik yayasan tersebut menoleh ke arahku dengan tatapan ngeri. Ibu tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Sambil berlalu kudengar Ibu seperti berbisik kepada dirinya sendiri, “Anakku bukan monster.” Kuikuti langkah kaki Ibu yang semakin cepat. Kutarik ujung bajunya untuk menyuruhnya berhenti. Ibu menoleh kearahku sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ia berusaha menutupi rasa marahnya.

“Ada apa, sayang? Fahri capek, ya? Kita cari satu sekolah lagi sebelum pulang, ya.”

Aku menggelengkan kepala. Ini sudah berjalan seminggu, tapi tak satupun sekolah mau menerimaku sebagai muridnya. Ibu bersikeras menyekolahkanku di sekolah umum, ia tak mau aku dianggap berbeda. Apalagi dianggap sebagai ‘monster’.

“Fahri mau pulang, Bu.” dengan terbata-bata kuutarakan niatku pada ibu. Ibu menggelengkan kepala dengan tegas. Ibu menarik tangankku untuk tetap berjalan. Aku tidak mau. Aku bersikeras berdiri dan tidak mau bergerak.

“Fahri, apa yang kamu lakukan? Ayo bergegas, sebentar lagi hari mulai gelap.”

“Fahri mau pulang sekarang!”

“Tidak! Kita tidak akan pulang sebelum nama kamu ada di salah satu sekolah di kota ini.” Kurasakan suara ibu bergetar.

“FAHRI MAU PULAAAANGGG!!!” Aku berteriak. Aku tidak lagi menghiraukan sekitarku. Aku menangis sejadi-jadinya. Kulihat Ibu panik dan berusaha menenangkanku. Aku mengambil batu yang berada di sekitarku, melemparkannya ke segala arah. Orang-orang yang berada di jalan sempurna melihatku dengan tatapan ngeri, seperti melihat monster yang lepas dari peradabannya. Ya, beginilah aku. Aku bisa sangat berbahaya jika kemauanku tidak terpenuhi. Aku bahkan sulit mengontrol emosiku.

Sejak lahir aku divonis dokter mengidap Down Syndrome. Aku memang berbeda dengan anak-anak lain seusiaku. Saat ini aku berusia 8 tahun. tapi bentuk fisikku tak seperti teman-temanku. Kepalaku lebih kecil dari kepala anak normal lainnya, ukuran hidungku kecil dan datar, itulah yang sering kali membuatku sulit bernapas. Ukuran mulutku juga kecil, menguncup dan punya lidah yang tebal, dan mengakibatkan lidahku sering menjulur keluar. Bentuk mataku miring dan tidak memiliki lipatan kelopak mata. Kulitku kering, leherku juga pendek, tangan dan jari-jari kakiku pun pendek. Pertumbuhan gigiku juga terbilang lambat dan tumbuh tidak beraturan. Sekarang, kalian paham kenapa Ibu pemilik yayasan tadi mengataiku ‘monster’ kan?

Aku tidak pernah menginginkan terlahir seperti ini, begitu pun Ibuku. Mungkin, Ibu memimpikan anak laki-laki yang tampan dengan bola mata yang indah dan senyum yang mempesona. Tapi kenyataannya, Ibu melahirkan seorang anak laki-laki yang mengidap Down Syndrome. Begitulah hidup, kadang manusia hanya bisa berencana dan berangan-angan, selebihnya Tuhan lah yang berkuasa atas segalanya.

Tetapi aku bersyukur mempunyai Ibu yang hebat. Ibuku tidak pernah malu dengan kondisiku. Ibu memperlakukanku layaknya anak normal. Meskipun seringkali aku membuat Ibu malu di depan banyak orang. Pernah suatu ketika Ibu mengajakku ke Supermarket untuk membeli keperluan bulanan. Ketika hendak masuk, Ibu berpesan, “Fahri jangan sentuh apapun ya, Nak. Kalau Fahri menginginkan sesuatu, minta pada Ibu untuk mengambilkannya.” Aku mengangguk. Ibu menarik napas lega, lalu menuntunku berjalan disampingnya.

Ketika Ibu sibuk memilih barang, kulihat seorang gadis kecil dengan bola mata berwana biru, rambutnya di kepang dua, dan tangannya sedang memegang ice cream. Mata kami beradu, saling tatap. Tiba-tiba saja gadis kecil itu menjerit dan menangis histeris. Aku sama sekali tidak mengerti, aku tidak mendekatinya apalagi menyentuhnya. Tapi gadis kecil itu menangis seperti baru melihat hantu. Sontak seluruh pengunjung berlari kearah kami. Gadis itu terus menangis sambil mengucapkan kata-kata yang tidak kumengerti.

“He’s monsters! He’s monsters!”

“There is a monsters!”

Ibu mendengar teriakan gadis kecil itu dan langsung berlari kearahku, lalu membawaku keluar dari kerumunan orang-orang. Sejak kejadian itu, Ibu tidak pernah lagi mengajakku ke Supermarket. Sama halnya dengan yang terjadi baru saja, sudah entah berapa sekolah yang kami kunjungi, tetapi tak satupun sekolah mau menerimaku. Mereka mengaggapku monster yang berbahaya.

Akhirnya, Ibu mengalah. Ibu membawaku pulang. Selama perjalanan pulang, Ibu tidak mengajakku bicara seperti biasa. Mungkin Ibu masih marah padaku. Akibat ulahku yang melempari batu ke segala arah tadi, tanpa sengaja mengenai kepala seorang kakek yang berdiri tidak jauh dariku. Ibu terpaksa harus membayar biaya pengobatannya meskipun beliau menolaknya.

Sampai dirumah, ibu langsung menyuruhku masuk kamar. Ibu tidak mau bermain denganku seperti biasa. Ibu masih marah. Kulihat kalender di meja kamarku, hari ini adalah hari ulang tahun Ibu. Aku tersenyum, aku mengambil celengan ayam dari lemari. Kupecahkan celengan yang terbuat dari tanah liat itu, lalu kukutip uang yang berserakan di lantai dan kumasukkan ke dalam kantung plastik. Aku akan membelikan Ibu kue ulang tahun. Aku pun keluar rumah tanpa sepengatahuan Ibu.

Aku sudah berada di toko kue. Aku memberikan uang yang ada di dalam kantung plastik itu kepada petugas. Ia menanyakan padaku hendak membeli kue apa? Aku menunjuk kue tart yang dilumuri coklat dan bertuliskan “Happy Birthday” kepada petugas. Sebelum mengambil kue tart tersebut, petugas menghitung uang yang kubawa. Ternyata, setelah menghitung jumlah uang yang kubawa, uangku tidak mencukupi untuk membeli kue tersebut. Aku marah. Bilang bahwa petugas sengaja tidak memberiku kue itu. Aku mulai beringas. Aku berteriak-teriak agar petugas itu mau memberikanku kue tart.

Ketika aku membuat keributan, pemilik toko kue keluar dari ruangannya.

“Ada apa ini?”, dengan nada kesal ia bertanya pada pegawainya.

“Begini Pak, anak ini ingin membeli kue tart, tetapi uang yang ia bawa tidak cukup. Ia mengamuk dan memaksa kami untuk memberikannya.”

Pemilik toko itu terdiam, ia memperhatikanku, melihatku dengan tatapan yang berbeda. Ada rasa kasih sayang dari tatapannya. Pemilik toko tersebut langsung mengambil kue tart itu dan memberikannya untukku. Aku tersenyum, berulang kali mengucapkan terima kasih. Ia mengelus kepalaku.

“Sekarang, pulanglah. Berikan kue ini pada Ibumu.”

Aku mengernyitkan dahi. Darimana ia tahu kalau aku ingin memberikan kue ini untuk Ibu. Seperti mengerti kebingunganku, ia menjawabnya.

“Sudah pasti kue ini untuk Ibumu, anak tampan. Itu terlihat sekali dari matamu.”, sambil tertawa ia mengusap lembut kepalaku.

“Maukah, Bapak membantuku menulis surat untuk Ibu? Aku ingin sekali Ibu membaca tulisanku.”

Dengan senyum yang tulus, pemilik toko itu mengangguk.

***

Aku pulang ke rumah dengan selamat, diantar oleh bapak pemilik toko kue itu. Beliau tahu alamat rumahku dari gelang yang selalu kupakai kemana-mana. Ibu menulis alamat rumah kami di gelang tersebut, untuk berjaga-jaga jika aku keluar rumah tanpa sepengetahuan Ibu seperti sekarang. Begitu sampai di depan rumah, ibu langsung memarahiku. Ibu panik ketika tidak mendapati aku di kamar. Ibu mengucapkan terima kasih kepada pemilik toko itu dan langsung menarikku masuk ke dalam rumah.

Ibu mengambil dengan kasar kotak kue dari tanganku dan mencampakkannya ke atas meja. Ibu menyeretku ke arah gudang belakang, mendorongku dan mengunciku di dalam gudang yang pengap itu. Aku marah, berusaha bilang kalau kue tart itu untuk Ibu. Ibu jahat. Ibu tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku memukul-mukul pintu, minta dikeluarkan dari gudang. Tapi Ibu tidak mau mendengarkanku. Aku kehabisan tenaga, mulai sulit bernapas. Pukulanku di pintu pun semakin melemah. Dan aku mulai memejamkan mataku, berharap mendapatkan kekuatan.

Ibu yang sedang emosi mulai sadar dengan apa yang ia lakukan padaku. Ia membuka isi kotak kue tart tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat kue tart yang sudah tak berbentuk lagi. Ada sepucuk surat di dalamnya. Dengan tangan bergetar dan air mata yang berjatuhan ia membaca isi surat itu.

Selamat ulang tahun, Ibuku terhebat.

Maafkan aku jika selama ini aku hanya menjadi beban untukmu

Maafkan aku karena sudah terlalu banyak air mata yang kau jatuhkan untukku

Maafkan aku karena belum bisa menjadi anak laki-laki kebanggaanmu

Mulai hari ini, aku berjanji akan menjadi anak laki-laki seperti yang selalu Ibu ceritakan sebelum tidur.

Sekali lagi, selamat ulang tahun wanita yang paling kucintai dan kuinginkan kebahagiannya…

Ingatlah selalu, Bu. Aku bukan monster seperti yang mereka katakan.

Aku FAHRI, Anak laki-laki kesayangan Ibu.

Aku bukan monster, Bu.

Aku bukan monster!

Aku bukan monster!

 

   Air mata ibu tidak bisa berhenti setelah membaca baris terakhir dari surat itu. Ibu langsung berlari ke arah gudang, Ketika Ibu membuka pintu gudang dan mendapati aku yang sudah terbaring tak bernyawa, Ibu histeris dan menangis sejadi-jadinya sambil bergumam, “Fahri bukan monster, sayang. Maafkan Ibu.” Aku tersenyum melihat ibu dan kubisikkan di telinganya, “Selamat ulang tahun, Bu.”

 

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah)

Melepas Pelukan Hujan

Karya : Devian Amilla

Aku memiliki seorang kekasih. Seseorang yang selalu ada untukku. Seorang lelaki berlesung pipi dengan bola mata yang bulat dan bulu mata yang lentik. Seorang lelaki yang perfeksionis. Meski begitu, kekasihku adalah seorang yang setia. Ia selalu ada saat aku membutuhkannya. Ia ada saat aku butuh seseorang untuk melampiaskan amarahku. Tersenyum hangat, tak menatapku kaku. Ia pun tak segan meminjamkan dadanya yang bidang untuk menyembunyikan tangisku dibalik pelukan kokohnya. Hujan, begitu ia kupanggil.

Hujan tak menyukai sesuatu yang berlebihan. Tapi Hujan menyukai hal-hal yang sempurna. Mulai dari penampilan hingga pekerjaan. Hujanku selalu tampil keren, aku suka meskipun terkadang aku tidak bisa menjadi sekeren Hujan. Beberapa bulan lalu, Hujan mengajakku pergi ke acara pernikahan teman kantornya. Aku senang karena aku bisa bertemu dan berkenalan dengan teman-temannya. Hujanku terlihat tampan dengan kemeja maron dan celana keper hitam yang semakin membuatnya terlihat sempurna.

“Apa kau tidak bisa mengganti pakaianmu? Kita akan ke pernikahan teman kantorku, loh.” Hujan menatapku dengan tatapan aneh. Aku melirik pakaian yang kukenakan. Apakah ada yang salah dengan pakaianku? Ini adalah pakaian terbaikku, tapi kenapa Hujan menyuruhku mengganti pakaianku?

“Ini pakaian terbaikku. Apakah pakaian yang kukenakan tidak cocok dipakai untuk ke acara pernikahan teman kantormu?” Aku mencoba mengendalikan intonasi suaraku.

“Pakaian yang kau kenakan tidak matching dengan pakaianku. Tapi ya sudahlah, kalau kau tidak mau menggantinya. Ayo, kita pergi sekarang. Jangan membuang waktuku untuk hal-hal seperti ini. Nanti kita terlambat sampai disana.” Hujan berjalan meninggalkanku yang sempurna berdiri mematung. Mataku panas. Kuikuti Hujan masuk ke dalam mobil. Aku mencoba menenangkan hatiku sendiri.

Di penghujung Desember 2015, karir Hujan meningkat. Hujan naik jabatan dan mengharuskan Hujan untuk pindah tugas keluar kota. Bukannya aku tidak senang mendengar kabar ini. Tapi itu berarti aku harus terpisah jarak ratusan kilometer dengan Hujan. Aku membenci bulan Desember ini lebih dari Desember-desember tahun sebelumnya, tahun ini Hujan akan pergi sangat lama sampai waktu yang tidak bisa ditentukan.

Sebelum Hujan pergi, ia membuatkanku akun Skype. Katanya, agar ia bisa melihat wajahku setiap malam sebelum tidur. Aku hanya diam.

“Janji?”

“Iya, aku janji.” Hujan tersenyum, mengecup keningku dan menarikku kedalam pelukannya.

Setelah hari ini, Hujan tak akan sama lagi. Hujan mengecupku perlahan di depan bandara kota kami. Bulan Desember adalah musim penghujan. Kali ini hujan deras mengantarkan kepergiannya meninggalkan kota kami. Hujan deras diluar bandara sederas air mataku yang tak juga mau berhenti meski telah diseka puluhan kali. Ia memelukku erat, berjanji akan selalu memberi kabar. Hujan berjanji akan selalu meluangkan waktunya untukku, melakukan video call setiap minggu. Ya, Hujan berjanji.

Juli 2016. Sudah tujuh bulan berlalu. Sudah belasan minggu tidak lagi kami lewati dengan melempar senyum lewat video call. Sibuk katanya. Bahkan membalas pesanku pun Hujan tak sempat lagi. Padahal Hujan telah berjanji. Aku coba memahaminya tapi rasa sedih dan kecewaku lebih besar. Aku merindukan Hujan. Bahkan Hujan tak tahu kapan bisa kembali ke kota kami. Ketika kutanya kabarnya, Hujan marah. Hujan memintaku untuk tidak mengganggunya. Pekerjaan kantor dan teman-teman barunya disana lebih menarik baginya sekarang.

Aku kesepian. Sampai pada akhirnya aku menemukan Summer. Summer lelaki yang menyenangkan. Summer rekan kerjaku. Summer membenci hujan, bukan Hujan tapi hujan. Apalagi jika hujan di pagi hari. Mengganggu aktivitas, katanya. Aku tidak sependapat dengannya. Kubilang bahwa hujan itu menyenangkan jika kita tahu cara menghadapinya.

Malam itu, aku menangis. Aku sangat merindukan Hujan. Hujanku. Aku mencoba menghubungi Hujan. Tapi Hujan tidak bisa dihubungi. Lalu aku mencoba menghubungi Summer. Aku butuh teman curhat. Summer mendengarkan ceritaku. Summer pendengar yang baik. Setelah aku selesai bercerita, hanya satu yang Summer katakan.

“Kau punya duniamu sendiri, jangan menangis lagi.” Aku tersenyum. Malam ini aku memang menangis, tapi hatiku tersenyum. Terima kasih Summer, batinku.

Setelah malam itu, aku memutuskan pergi dari Hujan. Aku mencintainya, maka kubiarkan ia bahagia dengan apa yang ia cintai. Biarlah aku mencari bahagiaku sendiri. Tanpa Hujan. Kukirim pesan bahwa aku telah melepasnya, bahwa ia sekarang bebas. Tidak perlu lagi menyisihkan waktunya yang berharga itu untuk memberiku kabar. Hujan marah. Seharusnya aku yang marah, tapi ia lebih marah dariku.

Ia mendengar kedekatanku dengan Summer. Ia bilang aku tidak memahaminya. Ia menuduhku tidak setia, ia bilang aku membohonginya selama ini. Aku menangis. Tidakkah ia menyadari bahwa jika ada orang yang paling berhak kecewa atas semua ini, orang itu adalah aku?

Gemetar, kuketik dengan perlahan di layar ponsel bahwa aku lelah menjadi yang kedua setelah tugas-tugasnya, aku lelah menjadi orang kedua yang tahu setiap kali ia pergi dengan teman-temannya, aku lelah selalu ada untuknya sementara ia tak pernah ada saat aku butuh. Aku lelah ia selalu melanggar janji-janji kecil yang ia buat sendiri.

Hujan diam. Hujan tak membalas pesanku. Hujan pergi. Aku tak mau menahannya seperti dulu. Aku tak bisa. Aku tak mau. Sekarang  aku memiliki Summer. Sesuatu yang kusuka setelah Hujan pergi. Summer yang hangat. Bukan Hujan yang selalu membuat gigil. Summer yang ceria dan sederhana. Bukan Hujan yang dingin dan perfeksionis.

Maafkan aku, Hujan. Aku pergi.

 ====================================================

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

Alamat: Jl. Serayu 3 Dusun V, Medan-Sumatera Utara

No. Hp           : 0821 6736 7106

[Cerpen] Pria Pondok

Cerpen : Devian Amilla

Aku mengetuk-ngetukan pena di atas kertas yang sudah penuh dengan coretan-coretan tidak jelas. Aku mendengus beberapa kali tanda kesal karena pilhan yang diberikan Bunda. Aku dihadapkan pada dua pilihan yang hampir membuatku frustasi.

“Masuk pondok atau tidak usah sekolah.” ucap Bunda.

Aku yang saat itu sedang asyik mengotak-atik gitar kesayanganku langsung menoleh ke arah Bunda. Tidak ada angin, tidak ada hujan. Bunda menyerangku dengan pernyataan yang membuatku menolaknya mentah-mentah.

“Arkan nggak mau masuk pondok. Arkan mau sekolah di sekolah negeri seperti teman-teman yang lain.” bantahku.

“Kalau Arkan nggak mau masuk pondok, lebih baik Arkan bantu-bantu Bunda dirumah saja.”

“Arkan nggak mau, Bunda! Kalau masuk pondok, Arkan nggak bisa main sama teman-teman Arkan lagi.”

Bunda menatapku dan membelai kepalaku dengan lembut, “Kalau Arkan masuk pondok, nanti Bunda belikan sepeda baru.” Bunda terus merayuku agar menuruti keinginannya.

Selama ini aku adalah anak laki-laki Bunda yang penurut. Selalu mengiyakan apapun permintaan Bunda. Mulai dari mengikuti pengajian setiap malam, les Bahasa Arab setiap pulang sekolah dan pulang kerumah lima belas menit sebelum adzan maghrib berkumandang. Aku dan Bunda hanya tinggal berdua. Ayahku sudah pulang kepangkuan Allah saat aku berusia satu tahun. Ayah mengalami kecelakaan saat berangkat mencari nafkah untuk kami. Kecelakaan hebat yang membuatku kehilangan sosok ayah sejak kecil.

Sejak ayah pergi, Bundalah yang membesarkanku dan merawatku seorang diri. Pontang-panting memenuhi kebutuhanku. Tanpa pernah sedikit pun mengeluh. Aku sangat mencintai Bunda. Hanya dengan menuruti semua keinginannyalah aku merasa menjadi anak yang berguna. Tapi tidak dengan yang satu ini. Masuk pondok? Ah, tak pernah terlintas sedikit pun dipikiranku. Aku memimpikan diterima di sekolah yang bonafit, di sekolah yang keren dengan seabreg kegiatan ekstrakurikulernya. Bukan malah masuk pondok yang dipenuhi dengan orang-orang yang memakai sarung dan peci. Aku sungguh tidak mau, Bun.

Kudengar ketukan pintu dari luar kamarku. Itu pasti Bunda. Aku sengaja mogok makan dan tidak mau keluar kamar sebagai wujud penolakan pada Bunda bahwa aku benar-benar tidak ingin masuk pondok. Tapi, bukan Bunda namanya jika menyerah. Bunda terus mengetuk pintu kamarku, bilang bahwa semua yang Bunda lakukan itu demi kebaikanku. Aku tak percaya pada Bunda. Bunda jahat. Bunda tega mengirimku ke pondok yang jauh dari rumah dan jauh dari teman-temanku.

Hari mulai gelap, perutku mulai tidak bisa diajak berdamai. Sejak pagi tadi aku menolak untuk makan, sampai sekarang belum ada sebutir nasi masuk ke lambungku. Kuringankan langkahku menuju dapur. Betapa terkejutnya aku ketika keluar dari kamar. Kudapati Bunda sedang tertidur di depan pintu kamarku sambil memegang nampan berisi makanan untukku. Tak bisa kutahan air mataku. Sebegitu besarkah keinginanmu untuk menyuruhku masuk pondok, Bun? Saat itu juga kupeluk Bunda dan kukatakan dengan lembut di telinganya bahwa aku bersedia menuntut ilmu di pondok. Bunda terjaga dari tidurnya dan tersenyum melihatku yang sedang memeluknya.

“Arkan makanlah dulu, Nak.” ucap Bunda dengan lembut.

“Arkan mau masuk pondok, Bunda.”

Mendengar pernyataanku, Bunda tersenyum. Sembari memeluk dan memangkuku, Bunda menjawab, “Percayalah sayang, sudah saatnya kau belajar ilmu agama untuk bekalmu di kemudian hari, tidak bisa selamanya kau ada disini, suatu saat Bunda ingin kita berkumpul lagi bersama ayah. Ayahmu yang bercita-cita ingin melihatmu menjadi laki-laki shaleh yang taat pada agama, Nak.”

“Kalau Arkan masuk pondok, Bunda bagaimana?” tanyaku.

“Bunda tetap disini, sayang. Arkan bisa mengunjungi Bunda beberapa bulan sekali.” ucap Bunda.

Kuseka air hangat yang tersisa disudut mataku. Kuajak Bunda untuk menemaniku makan malam. Malam ini Bunda begitu sumringah. Bisa kurasakan aura kebahagiaan dari matanya. Ah, Bunda.. Aku sungguh minta maaf atas kelakuanku tadi pagi.

Keesokan harinya kami berangkat ke Pondok Pesantren Baitussalam. Letaknya sangat jauh dari rumah, memakan waktu hingga empat jam perjalanan. Tapi tak kulihat sedikit pun rasa lelah di wajah Bunda. Bunda begitu bersemangat mengantarkanku kesana. Senyumnya terus mengembang. Terlebih lagi ketika kami sudah tiba di pintu gerbang PonPes Baitussalam. Bunda langsung meminta izin pada satpam untuk masuk ke dalam pondok. Pak satpam berkumis tebal itu langsung mengantarkan kami ke ruang pendaftaran menemui Kyai Majid.

“Pak Kyai, saya minta izin untuk menitipkan anak saya, Arkan Irhamsyah untuk belajar di pondok pesantren ini.” ucap Bunda pada Kyai Majid.

Kami duduk dalam ruangan yang begitu tenang dan rapi. Bunda menguraikan maksud kedatangan kami. Aku diapit oleh mereka berdua. Aku pasrah saja dengan apa yang mereka katakan. Bunda menginginkan aku belajar agama di pondok pesantren. Walaupun sebenarnya hati kecilku berontak disuruh mondok di pesantren. Bukan aku tak suka belajar agama. Tapi aku tak suka dengan dunia kesantrian yang terbilang, ah, pokoknya aku tidak menyukainya.

Akhirnya setelah panjang lebar Bunda menceritakan maksud dan tujuan kami, Kyai Majid menerimaku menjadi salah satu santri di PonPes Baitussalam. Dan saat itu juga aku resmi tidak pulang kerumah untuk beberapa bulan ke depan. Aku menangis saat melepas kepulangan Bunda. Belum pernah aku berpisah sejauh ini dengan Bunda. Dengan lembut Bunda mengusap air mataku, “Anak Bunda nggak boleh cengeng, belajar yang bagus ya, Nak.” Kupeluk Bunda erat sekali. Ingin rasanya aku berada di pelukanmu saja, Bun.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Sampai akhirnya aku menyadari keberadaanku di pondok sudah berjalan enam bulan. Dan sudah enam bulan lamanya aku tidak bertemu dengan Bunda. Ketua asrama tidak mengizinkan kami keluar sembarangan. Kami juga tidak dibolehkan membawa alat komunikasi. Jadilah aku dan Bunda hanya bertukar kabar melalui surat. Hari-hariku di pondok disibukkan dengan menghapal kosakata arab yang menurutku cukup sulit. Ditambah dengan hapalan-hapalan yang lain. Apalagi memahami kalimat arab yang ada di kitab. Aduh Gusti, aku mati kutu. Omelan pak Kyai, hukuman dari ketua asrama dan hukuman-hukuman lain dari ustad sering aku alami. Kalau saja aku tidak ingat bagaimana senyum bahagia Bunda, mungkin aku sudah kabur di hari pertama menjadi santri.

Satu hari sebelum ujian semesterku selesai. Aku mendapat surat dari Bunda. Tapi kali ini berbeda, Kyai Majid yang langsung menemuiku untuk memberikan surat ini. Kyai mengajakku untuk masuk ke dalam ruangannya. Sambil menyerahkan surat tersebut. Kyai berpesan bahwa apapun isi dalam surat itu, aku harus ikhlas dan sabar. Aku semakin penasaran dengan isi surat Bunda kali ini. Aku minta izin pada Kyai untuk membaca surat itu. Betapa sakitnya perasaanku ketika mengetahui isi surat itu. Mataku panas. Kakiku gemetar. Seluruh isi ruangan ini terasa seperti berputar. Kukuatkan hati dan pikiranku agar tetap bisa berpikir jernih. Kulihat Kyai di depanku hanya bisa memandangku dengan tatapan iba. Hanya Kyai yang tahu alasanku masuk pondok hanya untuk membuat Bunda bahagia.

Aku keluar dari ruangan Kyai tanpa pamit. Aku berlari ke kamar dan memasukkan seluruh pakaianku ke dalam tas. Teman-teman sekamarku tak sempat bertanya. Aku bergegas lari keluar pondok. Aku ingin secepatnya sampai di rumah. Aku sempat tidak mendapatkan izin keluar dari ketua asrama, tapi Kyai Majid mengizinkanku. Siapa yang berani membantah Kyai?  Tidak ada.

Selama dalam perjalanan aku hanya bisa menangis. Memohon pada Allah agar aku diberi kesempatan untuk melihat wajah Bunda terakhir kali. Setelah empat jam perjalanan yang penuh air mata, akhirnya aku sampai di rumah. Kulihat bendera merah sudah terpasang di depan halaman rumahku. Aku berlari secepat mungkin, kulihat Bunda sudah cantik dalam balutan kain putih itu. Kupeluk dan kucium Bunda untuk terakhir kalinya. Aku tak bisa menahan air mataku untuk tidak jatuh. Bunda, maafkan aku jika terlihat cengeng di hadapanmu. Aku sudah tak peduli lagi dengan orang-orang yang menatap iba ke arahku. Jadilah aku sekarang yatim-piatu di usiaku yang masih sangat belia. Ah, sungguh aku tidak peduli. Aku hanya ingin memelukmu lebih lama.

Bangunlah, Bun. Aku ingin bercerita tentang kegiatanku di pondok. Aku ingin menunjukkan hapalan bahasa Arabku padamu. Aku janji, aku tidak akan menjadi santri yang sering di hukum lagi. Aku janji akan jadi santri yang baik seperti yang sering Bunda utarakan dalam surat Bunda. Kumohon, bangunlah Bunda.

Usahaku sia-sia. Bunda tidak akan pernah bisa membuka matanya kembali. Bunda sudah kembali kepangkuan Allah. Mungkin sekarang Bunda dan Ayah sedang melihatku dari surga. Kuhapus air mataku. Aku tidak mau terlihat jelek di hadapan Ayah dan Bunda. Kurapikan peci yang ada di kepalaku. Kuambil Al-Qur’an di dalam tas. Kubacakan ayat-ayat Allah disamping jenazah Bunda. Bunda, sampaikan salamku pada ayah. Katakan padanya aku akan menjadi anak laki-laki shaleh yang selalu ia impikan.


 

 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com

[Cerpen] Menikahi Matahari

Oleh : Devian Amilla

“Bagaimana mungkin kau hidup dengan seseorang yang tak pernah menganggap kau ada, Mira?” tanyanya padaku. Dia menatapku dengan tatapan tak percaya. Seperti biasa, aku hanya diam lalu berusaha untuk tersenyum di hadapannya.

“Mira, pernikahan itu membawa kebahagiaan bukan kesedihan.” Ucapnya sambil mengelap air mataku yang sejak tadi tak mau berhenti. Aku merasakan kekecewaan yang teramat dalam dari nada bicaranya. Pagi ini setelah pertengkaranku dengan Sultan, aku memutuskan untuk menenangkan hati dan pikiranku di apartement Bita.

“Apakah kau menyesal telah menikah dengannya?”. Sebenernya aku masih malas untuk membuka mulut. Tapi rasa-rasanya Bita telah salah paham atas kehadiranku pagi ini di apartementnya. “Jika kau tanya padaku apakah aku menyesal, jawabannya jelas ‘tidak’, meskipun sekarang aku masih gagal, tapi aku bangga hidup di atas keputusan yang kubuat sendiri.” Aku mencoba menarik sudut bibirku untuk menciptakan senyuman yang selama ini ia suka. Meskipun aku tau, aku gagal melakukannya kali ini.

“Maksudku, apa kau tidak ingin berhenti saja? Sebelum semuanya semakin menyakitkan, Mir.”

“Ini sudah sangat menyakitkan untukku, Bit. Tapi aku mencintainya. Sangat mencintainya.” Aku mengelap pipiku yang basah.

“Tapi dia tidak mencintaimu!”, ucap Bita ketus.

“Mana mungkin dia menikahiku jika dia tidak mencintaiku, Bita!”, aku menjawab ucapan Bita tidak kalah ketus. Aku rasa percuma berdebat dengan sahabatku yang satu ini. Bita tidak akan sependapat denganku. Ini bukan kunjunganku yang pertama ke apartementnya. Sudah tiga bulan usia pernikahanku, dan hampir tiga bulan juga aku bertandang ke apartementnya dengan keadaan seperti ini. Mata sembab, hati berantakan, pikiran kacau. Sudah entah berapa ribu kali nasihat yang keluar dari bibir mungilnya untukku. Tapi aku tak pernah mengindahkannya. Bita sahabatku sejak kecil, usianya 3 tahun lebih tua dariku. Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri. Sultan tahu pasti hal ini.

“Lepaskan Mataharimu, Mir. Dia terlalu panas untukmu. Lihatlah, tiga bulan pernikahan kalian, tak sekalipun dia mengusap air matamu ketika menangis. Padahal jelas-jelas dialah sebab kau menangis, dialah sebab mata cantikmu sembab seperti sekarang. Lihatlah, matamu sudah seperti pemain tinju yang menerima serangan telak di wajahnya.” Bita terus menggerutu.

“Kalau begitu, biarlah aku yang akan mengatur suhunya agar tak terlalu panas untukku, Bit.” Aku tersenyum tanpa menoleh ke arah Bita. Tuhan, rasanya sakit sekali ketika mengatakan ini. Tapi biarlah, biarlah aku yang merasakan semua ini. Aku mencintai Matahari, itu artinya aku harus tahan seberapa pun panas yang akan ia berikan untukku. Walaupun Bita benar. Selalu benar. Seharusnya aku melepaskan Matahari.

Malam itu aku diantar Bita pulang kerumah. Aku mengira Sultan belum pulang dari kantor. Karena jam masih menunjukkan pukul 20.00. Biasanya Sultan baru tiba dirumah pukul 02.00 pagi.  Tapi dugaanku salah. Sultan sudah pulang dan banyak sekali mobil parkir di halaman rumah kami. Aku panik. Sultan pasti marah sekali ketika tidak mendapatiku di rumah saat dia tiba tadi. Takut-takut aku melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah. Bita yang melihat aku begitu takut memutuskan untuk ikut masuk ke dalam mengantarkanku. Aku menolaknya tapi bukan Bita namanya kalau ia mau mendengarkanku. Bita menarik tanganku untuk segera masuk ke rumah karena diluar hujan sedang turun dengan derasnya.

Betapa terkejutnya aku melihat Sultan sedang pesta minuman keras dengan teman-teman wanitanya. Kucari penjelasan dari tatapan matanya. Tapi ia hanya menatapku dengan dingin. Bahkan tatapan dinginnya mengalahkan udara diluar. Bita yang saat itu menyadari aku sudah tak di hargai lagi sebagai seorang istri mulai berang.

“Sultan! Keluarkan teman-temanmu yang tidak tahu sopan santun ini dari rumah kalian!”, Bita kalap, ia melemparkan salah satu gelas yang berada tepat disampingnya ke lantai. Seluruh perhatian teman-temannya pun tertuju pada kami. Sultan menoleh, rahangnya mengeras. Dia berjalan kearahku dan Bita. Dia berbisik di telingaku, “Keluarkan temanmu yang seperti anjing liar ini dari rumah kita!”. Aku terkesiap. Bagaimana mungkin dia menyebut Bita “Anjing Liar”. Bukankah dia tahu Bita sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

Demi mendengar dirinya disebut “Anjing Liar” oleh Sultan, Bita refleks melayangkan tamparan telak di wajah tampan Sultan. Sultan mendesis. Menyeret paksa aku yang sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa, meninggalkan Bita yang berteriak memanggil namaku. Sultan menarik paksa rambutku yang seharusnya dibelainya dengan lembut, mencampakkan tubuhku kedalam kamar yang seharusnya dia peluk dengan hangat. Sultan mengunciku dari luar. Kepalaku sakit sekali. Semua terasa berputar. Mataku sudah tidak bisa melihat dengan jelas lagi. Kurasakan cairan mengalir dari atas kepalaku. Tiba-tiba semua terasa begitu gelap.

Keesokan paginya aku terbangun dengan kepala yang masih terasa sakit. Aku mencoba mengingat kejadian tadi malam. Oh, Tuhan. Bagaimana dengan Bita? Tidak seharusnya dia ikut mengantarku ke dalam. Kulihat pintu kamarku sudah terbuka. Aku bersyukur Sultan sudah melupakan kejadian tadi malam dan mau memperbaiki semuanya dengan membukakan pintu kamarku.

Kulihat ia sedang membuat roti panggang kesukaanku. Kupeluk Sultan dari belakang, kubisikkan bahwa aku minta maaf atas kejadian tadi malam, bilang kalau tak seharusnya aku membawa Bita kedalam rumah. Tak ada respon. Sultan tak merespon perkataanku. Tapi ia juga tak berusaha melepaskan pelukanku seperti biasanya. Aku tersenyum, ini suatu kemajuan. Mungkin Matahari-ku akan sehangat dulu lagi.

Sultan sarapan tepat di hadapanku. Dia membiarkan aku menikmati caranya makan. Hal yang selalu aku suka dan tak pernah lagi ia lakukan untukku selama tiga bulan pernikahan kami. Biasanya dia akan pergi menghindariku jika aku berada di dekatnya. Mungkin Matahari-ku akan kembali seperti dulu. Senyumku terus mengembang.

Kulihat Sultan sibuk membereskan berkas-berkas yang akan dibawanya ke kantor. Kutanyakan apakah aku perlu membuatkan bekal untuknya. Tak ada respon. Kutanyakan lagi apakah malam ini ia akan makan malam dirumah? Ia juga tak merespon. Aku mulai merasa diacuhkan. Tapi tidak apa, setidaknya Sultan tidak menyuruhku pergi seperti biasanya. Rasanya aku lelah sekali. Kutinggalkan Sultan yang sekarang melangkah ke arah kamarku.

Baru beberapa langkah kakiku menjauh darinya, kudengar Sultan berteriak memanggil namaku. Aku pias. Aku segera berbalik ke arahnya. Aku terperanjat melihat tubuhku yang sudah lemah tak berdaya dengan darah yang segar dibagian kepala, sebagian sudah mengering di lantai. Kulihat Sultan menangis, berusaha membangunkanku dengan menggerak-gerakkan tubuhku. Aku bingung. Aku berteriak memanggil Sultan. Sultan tidak mendengarkanku. Oh, Tuhan. Apa-apaan ini? Kenapa Sultan tidak mendengarku? Kenapa ia malah sibuk dengan teleponnya? Bisa-bisanya dia menelepon seseorang dalam keadaan seperti ini?

Belum habis kepanikanku, kulihat dokter dan beberapa perawat masuk ke kamarku dan memindahkan tubuhku yang sudah mulai pucat seperti mayat. Semua belalai-belalai panjang yang dibawa dokter dipasangkan ke tubuhku. Alat kejut jantung juga dikeluarkan. Satu. Dua. Tiga. Tak ada respon dari tubuhku. Ayolah, sekali lagi, batinku. Satu. Dua. Tiga. Hasilnya tetap sama. Tidak ada lagi respon dari tubuhku.

Kulihat Sultan memohon pada dokter untuk mengupayakan segala cara, kudengar ia menyebut-nyebut asetnya. Ia ingin menukar semua asetnya untuk membuat jantungku berdegup kembali. Tapi itu tak mungkin terjadi. Manusia hanya bisa berencana, Tuhanlah yang menentukan segala. Saat itulah aku sadar, duniaku dan dunia Sultan sudah berbeda. Itu mengapa dari pagi tadi ia tak merespon semua pertanyaanku. Kulirik sudut meja kamarku, ada bercak darah disitu. Aku baru ingat, ketika Sultan mencampakkan tubuhku, kepalaku membentur sudut meja tersebut.

Aku pun mulai menyadari sesuatu, Sultan, Matahari-ku yang dulu hangat juga sangat mencintaiku. Sangat takut kehilanganku. Lihatlah, dia tak henti-henti menciumiku, menyuruhku membuka mata, bilang bahwa ia akan menjadi Matahari-ku yang manis, yang selalu hangat. Bita salah. Bita tidak selalu benar. Sultan mencintaiku. Matahari-ku sungguh mencintaiku. Hanya saja ia tak tahu bagaimana cara memperlakukan orang yang ia cintai dengan baik. Mahal sekali yang harus kubayar untuk mengetahui Sultan mencintaiku atau tidak. Aku bahkan menukarnya dengan nyawaku. Tapi tak mengapa. Aku tak pernah menyesalinya sedikit pun. Bagiku, dengan menikahi Matahari, aku menemukan kebahagiaanku sendiri dan aku bangga dengan keputusan untuk menikahi Matahari tiga bulan yang lalu.


 

Devian Amilla adalah Alumni UMSU, Jurusan Matematika, 2016. Perempuan kelahiran 13 Desember 1994 ini sekarang tercatat sebagai Guru Matematika di salah satu sekolah swasta di Medan. Bisa dihubungi di FB : Devian Amilla atau email : princessadevian@gmail.com