Cerpen : Devian Amilla
Pagi ini aku terjaga dari tidurku karena mendengar lantunan ayat suci Al-Quran dari kamar Mbak Anzani. Kulirik jam weker yang berada tepat di samping ranjangku. Ah, masih jam 03.00 pagi. Aku pun melanjutkan tidurku. Tak lama kemudian, pintu kamarku diketuk.
“Assalamualaikum, Dek. Bangun yuk, shalat tahajud.”, suara Mbak Anzani terdengar lembut. Aku menggeliat. Kubiarkan suara Mbak Anzani yang terus berusaha membangunkanku. Aku masih ngantuk, lagian badanku masih pegal karena harus lembur di kantor semalaman. “Mbak Anzani ngeselin banget, sih. Baru juga mau tidur udah disuruh bangun.” Aku ngomel sambil terus memejamkan mata.
Aku adalah anak tunggal dan cucu satu-satunya dari keluarga besar Papi dan Mami. Yap! Papi dan Mami adalah anak tunggal dari Oma dan Opa yang terlahir dari keluarga pengusaha kaya raya. Dan aku adalah anak tunggalnya Papi dan Mami. Jadilah aku bak seorang putri raja di keluarga ini. Mbak Anzani adalah anak panti asuhan yang di asuh Mami dan Papi sejak umurku 8 tahun. Waktu itu aku sibuk minta diberikan seorang kakak perempuan. Jadilah Mami dan Papi mengunjungi panti asuhan Pelita dan mengangkat Mbak Anzani menjadi kakak perempuanku.
Aku dan Mbak Anzani bagaikan langit dan bumi. Aku yang suka sekali dengan barang-barang mewah dan branded sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai barang-barang yang sederhana bahkan menurutku terkesan murah. “Allah tidak menyukai hambanya yang berlebih-lebihan, Dek.” Itu kata-kata yang selalu diucapkan Mbak Anzani jika aku memberikannya hadiah tas atau sepatu mahal. Ya, Mbak Anzani memang muslimah sejati. Lihat saja jilbabnya selalu menjulur menutupi dada. Beda sekali dengan aku yang masih enggan mengenakan jilbab keluar rumah dan mewarnai rambutku dengan warna hijau dan coklat.
Usiaku dan Mbak Anzani hanya terpaut 3 tahun. Saat ini usiaku 22 tahun dan Mbak Anzani 25 tahun. Papi memintaku untuk menjadi salah satu manager di perusahaannya. Sedangkan Mbak Anzani lebih memilih menjadi seorang guru di salah satu Yayasan milik keluarga besar kami. Aku menyukai jenis musik Rock, sedangkan Mbak Anzani lebih menyukai lagu-lagu nasyid dan berbau islami. Seringkali aku di tegur Mbak Anzani karena menyetel lagu Linkin Park dengan volume full saat Mbak Anzani dan teman-temannya sedang membahas tentang Palestina di ruang tamu.
“Dek, bisa dikecilkan sedikit nggak volume lagunya? Mbak dan teman-teman yang lain jadi kurang fokus, nih.”, katanya sambil menunjukkan sederet gigi mungilnya. Aku nyengir dan langsung mematikan lagu yang tadi kuputar.
“Bukan Mbak suruh matikan, sayang. Kamu masih bisa mendengarkan lagu kesukaanmu kok, tapi ya jangan kencang-kencang.”, kepala Mbak Anzani menyembul lagi dari balik pintu kamarku.
“Nggak apa-apa kok, Mbak. Aku juga udah muak dengerin lagunya.”, aku balas dengan cengiran kuda.
Mbak Anzani tersenyum sambil berlalu. Kudengar sebelum ia menutup pintu kamarku, ia berkata, “Mendingan kamu dengerin lagu-lagu islami deh, Dek. Hati kamu pasti lebih adem dan nggak cepat muak.” Aku tersenyum. Ini yang kusuka dari Mbak Anzani, meskipun aku belum bisa menjadi muslimah yang sejati seperti dia, tapi Mbak Anzani tidak pernah menghakimiku seperti orang lain. Ia selalu punya cara sendiri untuk menasehatiku.
***
“Mbaaaaaaakkk!”, aku masuk kerumah sambil berlari memanggil Mbak Anzani.
“Ya Allah, Dek. Kalau masuk rumah itu ngucapin salam. Bukan teriak-teriak begitu.” Mbak Anzani menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mbak, tahu nggak? Di kantor ada karyawan baru, ganteeeengggg banget! Wajahnya itu loh Mbak, bercahaya gitu, kayaknya dia rajin shalat deh kayak Mbak Anzani.” Aku mengabaikan teguran Mbak Anzani dan terus bercerita.
“Tatapan matanya teduh banget, Mbak. Tapi Zira heran deh Mbak, dia nggak pernah mau lama-lama ngeliat perempuan. Sombong banget kan, Mbak?,” ucapku setengah kesal. Karena tadi ketika di kantor, aku berusaha ngobrol sama lelaki itu tapi dianya malah kebanyakan nunduk. Kan sebel!
“Itu bukan sombong, Dek. Itu namanya dia menjaga pandangannya. Bagus dong, berarti dia sangat mengahargai perempuan.”, ujar Mbak Anzani.
“Memangnya laki-laki baik menurut islam itu harus laki-laki yang menjaga pandangannya ya, Mbak?”
“Ya iyalah, sayaaang! Gimana dia mau menjaga hati kamu kalau pandangannya saja sulit ia jaga.”, ucap Mbak Anzani sambil tersenyum. Aku hanya manggut-manggut mendengarkan perkataan Mbak Anzani.
“Mbak, apa laki-laki seperti dia nggak boleh dekat-dekat dengan perempuan seperti Zira?”, tanyaku dengan tatapan sendu. Mbak Anzani mengernyitkan dahinya. Ia menangkap rona sendu di wajahku.
“Memangnya dia laki-laki yang seperti apa, Dek? Kok bisa-bisanya kamu ngomong begitu?”
“Dia rajin shalat, Mbak. Shalat sunah saja dia tak pernah tinggal, apalagi shalat wajib. Terus dia juga rajin puasa, tiap hari Zira liat pas jam istirahat selalu baca Al-Quran, setiap Jum’at Zira lihat dia membagi-bagikan nasi kotak ke pak Satpam dan tukang becak yang mangkal dekat kantor, Mbak.”
“Terus alasannya dia nggak mau ‘dekat-dekat’ dengan Zira apa dong?”, tanya Mbak Anzani dengan menekankan kata ‘dekat-dekat’ kepadaku. Eh! Aku jadi salah tingkah sendiri. Mbak Anzani menangkap rona merah yang terpampang jelas di wajah chubbyku.
“Eh, ituuu… Anu Mbak, cuma nanya doang kok.”, aku tunduk menahan malu.
Mbak Anzani memelukku. Diusapnya rambutku yang lurus dan berwarna hijau coklat itu.
“Dek, selalu ingat ya.. Laki-laki baik untuk perempuan baik. Begitu juga sebaliknya. Jika kita mendambakan laki-laki yang baik perangainya, shaleh, dan lembut hatinya, kita juga harus bisa mempersiapkan diri untuk menyambut laki-laki seperti itu. Tingkatkan kualitas diri kita, perbaiki apa yang masih kurang dalam diri kita.” Aku menangis dalam pelukan Mbak Anzani. Aku sadar selama ini aku masih jauh dari Allah. Padahal selalu ada Mbak Anzani yang siap untuk menuntunku jika aku mau berubah. Air mataku menetes lagi.
***
Pukul 03.00 pagi. Aku berjalan ke kamar Mbak Anzani. Niatku untuk membangunkan Mbak Anzani shalat tahajud. Tapi ternyata Mbak Anzani sudah bangun dan sudah siap-siap untuk shalat tahajud. Mbak Anzani bengong melihat rambutku yang sudah berwarna hitam. Ya, setelah mendengar nasihat Mbak Anzani tadi sore, aku memutuskan untuk mengembalikan warna rambutku seperti semula.
“Mbak! Aku mau shalat tahajud bareng, boleh?”, tanyaku sambil memakai mukena.
Mbak Anzani masih bengong. Wajarlah Mbak Anzani sampai bengong gitu, soalnya sejak kejadian aku ngga pernah mau dibangunin untuk shalat tahajud, Mbak Anzani akhirnya nyerah bangunin aku.
“Boleh nggak, Mbak?”, Kuulangi lagi pertanyaanku dengan wajah agak kesal karena daritadi Mbak Anzani hanya bengong. Mbak Anzani gelagapan menjawab pertanyaanku. Ia langsung memelukku dan mengucapkan syukur. Aduh, Mbak Anzani lebay, deh.
Setelah selesai shalat tahajud, aku meminta lagu-lagu nasyid dan lagu-lagu islami milik Mbak Anzani.
“Mbak nggak salah denger nih?”, ucapnya tak percaya.
“Iya, Mbak. Apa perlu Zira ulangi berkali-kali.” aku memasang wajah kesal. Mbak Anzani masih saja kubuat syok dengan perubahanku.
“Terus lagu-lagumu yang penyanyinya serem-serem itu dikemanain, Dek?”, tanyanya polos.
“Tukeran sama, Mbak lah. Aku masukin di laptop ya.”, godaku pada Mbak Anzani.
Mbak Anzani langsung menyambar laptopnya dan berulang kali mengucapkan kalimat istighfar. Aku tertawa dengan keras melihat reaksi Mbak Anzani yang super lebay itu.
“Huss! Muslimah itu nggak boleh ketawa kenceng-kenceng, Dek!”, tegur Mbak Anzani. Aku spontan menutup mulutku. Namanya juga kelepasan, Mbak. Batinku.
***
Bel di depan pintu rumah terus menerus berbunyi. Aku tahu siapa yang datang kalau sudah begini. Kubiarkan saja Mbak Anzani yang membukanya. Itu pasti Papi dan Mami. Mereka baru saja pulang dari luar negeri karena urusan perusahaan.
“Assalamualaikum, dear.”, ucap Papi dan Mami. Mami langsung memeluk Mbak Anzani.
“Waalaikumsalam, Mi.”, Mbak Anzani mencium tangan Mami dan Papi.
“Mana adikmu, dear?”, tanya Mami. Matanya menyapu sekeliling rumah berharap mendapatkanku di salah satu pojok ruangan.
“Lagi dandan, Mi. Kan mau berangkat ke kantor.”, ucap Mbak Anzani. Sebenarnya daritadi aku sudah selesai. Tapi aku masih malu untuk turun ke ruang keluarga. Aku takut di tertawakan sama Mami, Papi dan Mbak Anzani.
“Ziraaaa! My sweetheart!”, teriak Papi dari tangga bawah. Aku buru-buru turun. Ah, bodoh amat sama penilaian Mami dan Papi. Kata Mbak Anzani kan kalau niat baik nggak boleh ditunda-ditunda.
Aku menuruni anak tangga dengan anggun. “Assalamualaikum, Mi, Pi.”
Mami dan Papi saling tatap. Mbak Anzani hanya tersenyum. Ternyata Mbak Anzani sudah menduga bahwa aku akan segera berhijab. Yap! Pagi itu aku sukses membuat Mami dan Papi bengong dan tak melepaskan pandangannya barang sedetik pun dari aku. Hanya Mbak Anzani yang bisa mengeluarkan suara. Itu pun dengan dibumbui air matanya yang menetes berkali-kali, “Masya Allah, kamu lebih cantik dengan hijab, Dek.”
“Mbak, aku ingin hijrah. Bantu aku untuk tetap istiqamah, ya.” ucapku pelan di telinganya. Mbak Anzani kembali menitikkan air mata.
Sejak hari itu, aku mulai mengenakan jilbab kemanapun aku pergi. Karena memang sudah kewajiban seorang muslimah untuk menutup auratnya kan? Kubakar semua pakaian-pakaianku dulu yang kekurangan bahan itu. Tidak ada lagi pakaian you can see dan rok mini yang mejeng di lemari pakaianku. Sekarang lemari pakaianku pun terisi dengan baju tunik dan gamis dengan warna-warna lembut dan pastinya dengan berbagai macam jenis pasmina. Semua lagu-lagu rock kesayanganku juga sudah kuhapus dan kuganti dengan lagu-lagu nasyid yang sekarang malah lebih kucintai, bahkan aku mendownload ceramah-ceramah islami yang selalu menenangkan hati. Aku dan Mbak Anzani pun sering mengikuti kegiatan pengajian setiap hari Minggu dan Mbak Anzani membantuku untuk memahami isi Al-Quran.
***
“Mi, Pi, Mbak, minggu depan kita umrah bareng, ya.”, kataku dengan penuh antusias.
“Zira udah nyiapin semuanya, kok. Kita tinggal berangkat aja.”, tambahku lagi.
Mbak Anzani paling antusias mendengar perkataanku. Mami dan Papi memasang wajah berpikir. Pasti nyari alasan, nih.
“Pokoknya harus bisa! Dunia doang yang dikejar? Tabungan untuk akhiratnya kapan? Memangnya Papi sama Mami nggak mau kita ngumpul bareng lagi di surga?”, kataku sambil memeluk Mami dan Papi. Kalau sudah begini mereka langsung luluh dan menitikkan air mata.
***
Sehari sebelum keberangkatan kami untuk menjalankan umrah. Aku masuk rumah sakit dan harus memerlukan operasi yang lumayan besar di wajahku. Saat itu aku ingat sekali, aku melihat gadis berjilbab berusia tujuh belas tahun sedang dipaksa menanggalkan pakaiannya oleh preman-preman di ujung jalan. Aku yang kebetulan sedang melintas di daerah tersebut spontan membantu. Tapi apalah dikata, mereka kaget dengan kehadiranku saat itu. Mereka juga langsung menarikku dan menarik jilbabku. Kulihat mata mereka merah dan bau alkohol yang keluar dari mulutnya sangat membuatku mual. Aku berusaha menyuruh adik itu pergi, tapi dia juga sudah kehabisan tenaga mempertahankan apa yang memang seharusnya dipertahankan perempuan.
Segerombolan preman ini makin kalap karena kami sama-sama bertahan. Jilbab yang kukenakan sudah tak karuan bentuknya. Kulihat di sudut sana adik itu sudah berlumuran darah. Ia mendapatkan tusukan di perut dan di pundaknya. Berkali-kali. Aku menjerit sekuat tenaga meminta tolong. Aku tak henti menyebut asma Allah dan memohon pertolongannya.
Allah mendengar permohonanku. Tiba-tiba terdengar sirene polisi dari kejauhan. Mereka panik dan meninggalkanku begitu saja. Tapi salah satu dari mereka kembali dan menghujamkan belati tepat ke jantungku berkali-kali. Setelah itu ia menyiramkan cairan ke wajahku yang kuyakini saat itu adalah air keras. Aku menjerit sekali lagi. Aku sudah tak bisa merasakan sakitnya lagi, yang kulakukan hanya menyebut nama Allah. Setelah itu semua gelap.
***
Kulihat Mbak Anzani menangis disudut ruangan. Ia tak henti memanjatkan doa untukku. Kucoba untuk membuka mataku semakin lebar. Kupanggil lirih Mbak Anzani. Mbak Anzani langsung memegang tanganku sambil mengucapkan syukur karena aku akhirnya bangun dari koma selama dua bulan.
“Mbak, bagaimana keadaan adik itu?”, tanyaku dengan terbata-bata.
“Dia sudah tenang, Dek. Dia sudah bersama Allah.”, jawab Mbak Anzani sambil menangis. Aku ikut menangis. Kulihat ada Mami dan Papi yang ikut menangis melihat kami. Eh, siapa lelaki itu? Bukannya dia karyawan baru di kantor? Seakan mengerti tatapan bingungku, Papi menjelaskan bahwa Alwi lah yang mengantarkanku dan adik itu ke rumah sakit dan berpura-pura menghidupkan sirene polisi dari handphonenya. Oh, jadi nama karyawan baru itu Alwi, batinku.
“Terimakasih sudah menolongku, Mas.”, ucapku lemah.
Ternyata Alwi sudah lama memperhatikanku. Hanya saja ia takut untuk lebih mengenalku karena belum muhrim katanya. Aku tersenyum. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ia melamarku saat itu juga. Ia ingin aku menjadi istrinya.
“Apakah kau mau menjadi istriku?”, tanya Alwi dengan lembut padaku.
“Kenapa kau memilihku untuk menjadi istrimu, Mas?,” aku balik bertanya.
“Karena perangai baikmu, karena hatimu yang lembut dan karena kamu seorang muslimah sejati.”, jawabnya mantap sambil melirik Mbak Anzani.
Air mataku jatuh. Mbak Anzani masih terus menggenggam tanganku. Ia ikut menangis. Mami dan Papi pun menangis. Oh, Allah… Ini sungguh luar biasa indah. Aku menganggukkan kepalaku pertanda bahwa aku mau di peristri olehnya. Alwi mengucapkan hamdallah berkali-kali.
Aku meminta Mbak Anzani membantuku untuk shalat tahajud. Ya, aku belum bisa shalat seperti biasanya. Jadi aku hanya bisa shalat dengan duduk. Entah kenapa aku begitu merindukan Allah. Aku begitu ingin bertemu dengannya. Dalam sujud panjangku, aku menangis. Memohon ampun atas segala perbuatanku selama ini, atas kelalaianku menjalani kewajibanku sebagai seorang muslimah. Tiba-tiba aku merasakan diriku sehat, bugar seperti sedia kala. Aku merasakan hatiku tentram tanpa beban. Aku melihat cahaya yang terang sekali dan ada suara anak-anak mengaji dari sana. Kuikuti suara itu dan aku melangkah dengan pasti ke cahaya tersebut sambil tersenyum.
***
Mbak Anzani memelukku dengan isak tangis yang halus. Ia tahu bahwa seorang muslimah sejati tidak boleh meratapi kepergian saudaranya. Alwi di sudut ruangan juga hanya menitikkan air mata sekali dua kali. Begitu juga Mami dan Papi. Setelah itu mereka langsung memanjatkan doa untuk kepergianku.
“Zira adalah seorang putri dalam keluarga kami. Dan tetap akan menjadi putri kecil kami yang manis.”, ucap Mami dengan suara yang parau.
“Ia memang seorang putri, Bu. Putri yang selalu bersujud padaNya.”, tambah Alwi dengan menitikkan air matanya terakhir kali.

(Penulis adalah Alumni UMSU Jurusan Matematika, Beberapa karyanya seperti puisi, cerpen dan opini pernah dimuat di media lokal maupun luar daerah.)


