Muzdalifah
Wajah malam terbakar
tak ada senyum rembulan
bulan gemintang menahan malu
langit pun mengirim kebodohan
kemanakah jiwa-jiwa bersih berpaling?
Ataukah Tuhan telah bersembunyi dari hadapan kita?
dan kita tetap saja hidup dengan diri sendiri
tak pernah mendengar sesuatu yang tersembunyi
ditertawai angin yang menebar dingin
sementara hamparan pasir membawa panas
sungguh, kita sangat kecil
sungguh, kita adalah hina
ucapkanlah takbir dengan lantang
agar tanah ini tidak mengeringkan
jiwa dan raga kita
– dan sujudlah di atas tanah itu
: Tanah Muzdalifah
Malang – 2017
Munajat Jiwaku
Aku berlari pada lipatan air
menggulung jelagah hitam
Tapi napas seakan merintih, lirih
pada lorong sempit menyampaikan pesan
sesaat lagi jiwa tiba di penghentian akhir
Bayangan putih membawa sebuah isyarat
ada malam terlewatkan
ada siang terhempaskan
Setiap saat ada aroma dosa kutaburkan
lewat langkah
lewat kenaifan pikiran
lewat kemungkaran tangan
lewat kedangkalan nalarku
Masih adakah tersisa
untuk jiwaku yang tersesat?
Dalam sepinya malam
hanya kefakiran doaku bisa kupanjatkan
pintu munajat tak pernah terkunci
Disitu kutumpahkan tangisan jiwaku
aku hanya setitik kecil
pada hamparan dunia ini
– yang tak punya apa-apa
Selain hanya bisa berpasrah
pada pemilik jiwa
Malang – 2017
Jalan Barzah
keluh lidah terbakar sekam
mengarungi perjalanan menuju barzah
jasad kering meninggalkan tulang belulang
ketika nalar bertanya, dimana diriku
tetapi sesungguhnya itu jiwa
karena (dia) telah mati
meninggalkan wujud raga hina
dan mulut terkatup tanpa doa
tak sanggup berteriak lantang
selain melihat diri tanpa selembar pakaian
berlari liar, telanjang tanpa nafsu
(2017)
Hujjah
Angin jiwa senantiasa bergejolak
hidup berjalan bersama pikiran manusia
dan berteriak tentang kebenaran
hingga kadang melupakan
Rabb-lah pemilik kebenaran
sunnah Rasul S.A.W pun jadi pertentangan
katanya bid’ah, karena bukan ajaran Rasul S.A.W
hingga pikiran orang seakan lebih suci
sesungguhnya kita tak pernah
melihat kebenaran dengan mata hati
selain dengan kasat jiwa dan pikiran
apakah karena hujjah telah mengingkari kita?
(2017)
Di Pertapaan Tasawuf
(1)
tujuan keraguan itu adalah ketiadaan
pergilah dari keraguan sedikitpun
buanglah keraguan, semuanya
benamkan diri pada kebenaran
karena itulah keindahan
bukan hidup dunia
bukalah mata hati
sedalam-dalamnya
hingga jiwa terkelupas
disitu ada sifat-sifat-Nya
(2)
Aku menggigil dingin
Aku puasa, aku lapar
pakaianku hanya muraqqa’ah tua
jasadku terasa begitu hina
Saat nafsu sudah membekap kesucian jiwa
sementara aku mengingkari kekotoran jiwa
Matahari pun hampir terbenam
mataku hanya sepenggal dusta
selalu berlari dari pikiran
Kusentuh air, membasuh wajah
disitu tampak
bening wajah Kitab al-Hikam, penuh nur
(3)
Aku hidup dalam masa silam
dalam ujian kesulitan
tapi, hidup semakin tumbuh
mengikis kecelaan manusia-ku
rasa sombong pun mencuri kesempatan
Masa telah mengukir
tercatat pada kitab-kitab bersih
mataku pun terantuk
membacanya, menuntun pikiran dangkal
lalu sebuah nama terlintas
penuh ma’rifat
begitu lekat nama itu
seakan terkunci pada batas nalarku
Kini pertapaannya musnah
tinggal puing dan bebatuan
sajakku pun tak sanggup menghidupkannya
(2017)
Biodata:
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar (Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar
Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya
Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar) – Mingguan Utusan Malaysia (Kualalumpur) – Harian Online Malang Voice (Malang) – Majalah SIMALABA (Versi Digital)
Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016
Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)
E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com — HP: 081259075381 —

