Arsip Tag: Vito Prasetyo

Puisi Vito Prasetyo

Muzdalifah

Wajah malam terbakar
tak ada senyum rembulan
bulan gemintang menahan malu
langit pun mengirim kebodohan
kemanakah jiwa-jiwa bersih berpaling?
Ataukah Tuhan telah bersembunyi dari hadapan kita?
dan kita tetap saja hidup dengan diri sendiri
tak pernah mendengar sesuatu yang tersembunyi
ditertawai angin yang menebar dingin
sementara hamparan pasir membawa panas
sungguh, kita sangat kecil
sungguh, kita adalah hina
ucapkanlah takbir dengan lantang
agar tanah ini tidak mengeringkan
jiwa dan raga kita
– dan sujudlah di atas tanah itu
: Tanah Muzdalifah

Malang – 2017

Munajat Jiwaku

Aku berlari pada lipatan air
menggulung jelagah hitam
Tapi napas seakan merintih, lirih
pada lorong sempit menyampaikan pesan
sesaat lagi jiwa tiba di penghentian akhir

Bayangan putih membawa sebuah isyarat
ada malam terlewatkan
ada siang terhempaskan
Setiap saat ada aroma dosa kutaburkan
lewat langkah
lewat kenaifan pikiran
lewat kemungkaran tangan
lewat kedangkalan nalarku
Masih adakah tersisa
untuk jiwaku yang tersesat?

Dalam sepinya malam
hanya kefakiran doaku bisa kupanjatkan
pintu munajat tak pernah terkunci
Disitu kutumpahkan tangisan jiwaku
aku hanya setitik kecil
pada hamparan dunia ini
– yang tak punya apa-apa
Selain hanya bisa berpasrah
pada pemilik jiwa

Malang – 2017

 

Jalan Barzah

keluh lidah terbakar sekam
mengarungi perjalanan menuju barzah
jasad kering meninggalkan tulang belulang
ketika nalar bertanya, dimana diriku
tetapi sesungguhnya itu jiwa
karena (dia) telah mati
meninggalkan wujud raga hina
dan mulut terkatup tanpa doa
tak sanggup berteriak lantang
selain melihat diri tanpa selembar pakaian
berlari liar, telanjang tanpa nafsu

(2017)

Hujjah

Angin jiwa senantiasa bergejolak
hidup berjalan bersama pikiran manusia
dan berteriak tentang kebenaran
hingga kadang melupakan
Rabb-lah pemilik kebenaran

sunnah Rasul S.A.W pun jadi pertentangan
katanya bid’ah, karena bukan ajaran Rasul S.A.W
hingga pikiran orang seakan lebih suci

sesungguhnya kita tak pernah
melihat kebenaran dengan mata hati
selain dengan kasat jiwa dan pikiran
apakah karena hujjah telah mengingkari kita?

(2017)

 

Di Pertapaan Tasawuf

(1)
tujuan keraguan itu adalah ketiadaan
pergilah dari keraguan sedikitpun
buanglah keraguan, semuanya
benamkan diri pada kebenaran
karena itulah keindahan
bukan hidup dunia
bukalah mata hati
sedalam-dalamnya
hingga jiwa terkelupas
disitu ada sifat-sifat-Nya

(2)
Aku menggigil dingin
Aku puasa, aku lapar
pakaianku hanya muraqqa’ah tua
jasadku terasa begitu hina
Saat nafsu sudah membekap kesucian jiwa
sementara aku mengingkari kekotoran jiwa

Matahari pun hampir terbenam
mataku hanya sepenggal dusta
selalu berlari dari pikiran
Kusentuh air, membasuh wajah
disitu tampak
bening wajah Kitab al-Hikam, penuh nur

(3)
Aku hidup dalam masa silam
dalam ujian kesulitan
tapi, hidup semakin tumbuh
mengikis kecelaan manusia-ku
rasa sombong pun mencuri kesempatan
Masa telah mengukir
tercatat pada kitab-kitab bersih
mataku pun terantuk
membacanya, menuntun pikiran dangkal
lalu sebuah nama terlintas
penuh ma’rifat
begitu lekat nama itu
seakan terkunci pada batas nalarku
Kini pertapaannya musnah
tinggal puing dan bebatuan
sajakku pun tak sanggup menghidupkannya

(2017)

 

  Biodata:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar (Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983, dan peminat Budaya

Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar) – Mingguan Utusan Malaysia (Kualalumpur) – Harian Online Malang Voice (Malang) – Majalah SIMALABA (Versi Digital)

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi  “Biarkanlah Langit Berbicara”  (2016 – 2017)  &

Buku Kumpulan Puisi  “Sajak Kematian”  (2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

Puisi Puisi Vito Prasetyo

Burung-Burung pun Bersujud

Burung-burung itu
tak melekat buah pikirannya
terbang liar di kolong langit
sayapnya dikepakkan memotong ruang hampa
hanya naluri melekat di tubuhnya
kadang membelah ruang waktu
menembus batas-batas semu
kemudian hinggap di ranting pepohonan

Kicauannya merdu menyambut pagi
menciptakan syair indah tanpa musik
hingga membuat makhluk bumi terkesima
mengajarkan tentang sesuatu
yang bukan milik manusia
Kadang burung-burung itu
menjelajah seruas panjang siang
mungkin sampai puluhan kilometer
bahkan ratusan kilometer
tapi tak pernah ada keluh dan letih
tergambar dari raut wajahnya

Saat senja menghampiri penat siang
burung-burung itupun mencari peraduannya
seakan (mereka) terpanggil panggilan Ilahi
tanpa pernah menghitung pengabdiannya
dan seberapa banyak makanan
yang telah masuk kedalam perut (mereka)
karena penghujung senja itu
menjadi akhir perjalanan sehari
untuk menunggu hidup baru di esok hari
Mungkin dalam diam
ketika malam membasuh tubuh burung-burung itu
ada wujud syukur bersemayam
dalam dada mereka (burung-burung itu)
kepada Sang Ilahi

Malang – 2017

 

Coba Kita Renungkan

wahai engkau gemuruh pembawa maut
tidakkah ‘kau lihat tanahku, tempat berpijak
tak ada lagi pekik suara
karena ketakutan itu mencekam kami
pintu kami tertutup rapat
sedang anak kami menahan lapar
engkau berlari di sepanjang sepi
meninggalkan separuh zaman, – yang telah luka
sementara kami masih mendekap duka
pada titian hidup menanti sebuah kematian
– – –
sungguh kepasrahan ini telah menutup mata
pada tepian waktu, jiwa serasa begitu letih
kadang (dia) berkelana mencari dermaga
untuk menambatkan penat raganya
agar terkuak kembali catatan baru
– – –
tubuh-tubuh indah tak lagi berharga
tercabik dan teraniaya oleh pedang nista
merangkai langkah di semua persimpangan dusta
kini tak sanggup lagi memekik
tak akan luruh tanpa kebeningan doa
selain menunduk dan terus menunduk
merenungi dengan segala apa yang bukan milik mata
terkecuali memandang dengan mata bathin
hingga waktu menyelinap mensucikan diri kita
entah, sampai kapan…..
– – –

Malang – 2017

 

Episode Rindu

Aku telah mengupas hatimu
dengan separuh langkah hidupku
saat tertanam di ladang kerinduan

Ketika hampir senja,
kita menyusuri kenangan silam
pada tapak-tapak jalan penuh bunga

Bunga mawar pernah kutulis dalam mimpimu
engkau menciumnya tatkala hatimu gundah
dan aroma wangi merambah pada napasmu

Kini bunga itu layu
terpendam dalam gumpalan lara
telah kucoba untuk menanamnya kembali

Biarlah rindu terendam duka
dan air bahagia memercik di antara rimbun daunnya
kita bersihkan luka usang

Ladang itu masih menanti kerinduan kita
dan kicau burung di atasnya menanti sapamu
apakah mulutmu tersaput kebisuan?

Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya
waktu meninggalkan kehampaan ini
kutorehkan garis penaku dalam lembar mimpimu

Akhirnya kini terjawab sudah
engkau telah meninggalkan semua episode rindu
dan membakarnya dalam kebencian abadi

(Malang – 2017)

 

Kolong Neraka

Nyanyian duka tak berkumandang lagi
sayup-sayup, sejuta harap tenggelam
tenggelam dalam pelukan misteri hidup
napas pun menderu tanpa jalan
Langit tak lagi berteduh dalam keperkasaannya
panas merah-hitam menyatu pada jasad-jasad yang gagal
tak ada malam,
juga tak ada satu pun siang
semua lorong-lorong hidup menjadi gelap
bahkan semua kolong-kolong langit menjadi gulita
Manusia tak lagi sanggup memuliakan dirinya
hanya desis ketakutan meniti pada sebuah kolong
yang teramat panjang dan begitu lama

Malang – 2017

 

 

Layu

Lihatlah wajahmu pada cermin
begitu kusut dan layu
kulit-kulit wajahmu pun seakan gersang
Buanglah cinta itu
– yang melekat begitu dalam
janganlah engkau menikamnya
ke batas jiwamu
kepenatanmu telah berada di ujung nestapa
tuntaskanlah hidup
hingga engkau terlahir
pada duniamu yang baru

Malang – 2017

 

Biodata:
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar
Bergiat di penulisan sastra sejak 1983
Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniFiksi (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar)
Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016
Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com — HP: 081259075381 —

 

 

Puisi Vito Prasetyo

Mawar Rindu

Setangkup rindu berubah duka
warnanya semakin memudar
nyaris kusam
saat sukma bicara tentang harapan cinta
Mawar hanya bisa mengais rindu
dalam mimpi-mimpi malam
Di luar sana, di batas pelataran malam
gesekan sebuah biola mengalun
sayup-sayup irama itu seakan berlabuh di hatinya
mungkin masih ada yang tersisa dari kerapuhan hatinya
Sejumput angan, ingin rasanya
ia meramu buaian asmara
bergelayut pada setangkai rindu
karena mulai terpaku dalam nalurinya

 

Mawar, hampir tiap malam
engkau merebahkan sudut pandangmu
pada pepohonan di pelataran rumah
tetapi, masih saja pesona dedaunan itu diam membisu
tak mampu mengalirkan senandung rindu
untuk mengusir resah hati
Mungkin getar-getar perasaan itu telah terkoyak
hingga rerimbunan daun semakin menutupi sudut pandang
kala matamu ingin menatap rembulan di rimba langit
yang semestinya selalu tersenyum pada makhluk bumi

 

Dalam kesendirianmu, Mawar
ingin rasanya membunuh penantian rindu
yang senantiasa bergejolak dalam hatimu
Apakah karena makna hidup telah berubah arti
mungkin juga berubah wujud
atau duka-lara itu tersimpan terlalu dalam!?
Dan malam pun terus bergulir
menghembuskan penatnya sang waktu
seperti hari-hari kemarin, yang telah terlewati
hingga aku menulisnya dalam sajak hatimu
(2017)

 

Tentang Hatimu

janganlah engkau bicara dengan kasat matamu
tapi bicaralah dengan kasat jiwamu
karena disitu mengalir kemurnian hati
: dan disitu engkau selalu merindukan Tuhan

Malang – 2017

 

Tentang Jiwamu

Lihatlah jiwamu pada cermin
begitu kusut dan layu
kulit-kulit wajahmu pun tampak gersang
buanglah rasa cintamu itu
– yang melekat begitu dalam
Janganlah engkau menikamnya
ke batas jiwamu
hingga akhirnya engkau terlahir
pada duniamu yang baru

Malang – 2017

 

Tentang Kamu

Ingin aku cerita tentang mimpimu
melukis tentang bayangmu
tetapi mimpimu bisu
dan bayangmu diam
semua dirimu tak tersisa
Apakah makna hidup telah terbelenggu
dan mimpi itu, – dalam hidup dia mati
bayang itu kehilangan sadar
atau haruskah kurenungi sekali lagi
agar penantianku hilang
Saat kupu-kupu terbang melintas
ingin kupinjam sayapnya
untuk meraih kepingan mimpi
kusatukan dalam bejana waktu
agar mimpi dan bayangmu tak merepih duka
Kini, saat kusibak kenangan dalam jiwamu
hidupmu mengalir sejuk
bagai embun menusuk kalbuku
dan disitu senyummu menggetarkan jiwaku
separuh episode waktu telah terbuang
kita kais hidup baru, dalam detak baru
kita satukan semua cerita tentang dirimu
(Malang – 2017)

 

Dibawah Gerimis Rindu

pagi ini begitu berat
malam berlalu dan pergi tanpa menyisakan mimpi
keresahan masih saja melekat di pelupuk mata
langit pun kelabu berselimutkan mendung
getar di hati seakan menyimpan lara
mungkin tangis hujan akan menyiramnya
agar rindu ini tak semakin mengering

gerimis pun mulai berserakan
jatuh ke bumi dari hamparan awan
disitu, butir-butir bayangnya melekat
ingin kucumbu bayang itu
agar temaram rindu tak semakin menggumpal
segala resah pun ikut tercurah
tetapi penantianku bukan untuk seseorang
telah lama kubuang rasa itu

sungguh, aku merindukan gerimis ini
agar bunga-bunga di tamanku kembali bersemi
setelah semusim kulitnya tak berseri
terbakar kemarau dalam penantian panjang
hingga langit begitu letih
seakan ingin direbahkan dirinya bersama gerimis
menyiramkan semua kerinduan ke dalam hatiku
dan dedaunan meniriskan impiannya
ke dalam bejana waktu
sampai tiba waktunya musim berlalu
Malang – 2017

 

Biodata:

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Republika (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniKini.Id (Jakarta)

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-Wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Sajak Kematian” (2017)

 

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

 

Puisi Puisi: Vito Prasetyo

Buku Catatan Kita

Masa lalu…..
Puluhan tahun silam
seakan hidup ini milikmu
semua membelaimu
mengusapmu,
menimangmu,
dan menyayangimu
Begitu polos
penuh kasih sayang
Saat tangismu pecah
semua akan peduli padamu
Tak pernah ada bohong di wajahmu
tak pernah ada dusta di hatimu

Kini, masa itu telah berlalu
sering engkau menentang takdir
nasib seakan bisa terbeli
bohong dan dusta jadi bumbu hidup
segala nista terasa bagai hiasan dunia
terus memburu kenikmatan sesat
seakan tak pernah punah
tak pernah pupus diterjang badai
tak lapuk ditelan waktu
Aku datang sebagai sahabatmu
bukan malaikat yang mengingatkanmu
juga bukan perantara taubat
Diriku hanya hamba sahaja
masih penuh peluh di badan
dekil masih melekat di tubuhku
Mari kita uraikan waktu
mengenang masa kecil
saat hujan mengguyur tubuh kita
saat terik matahari memayungi tubuh kita
melepas tawa dan canda
seperti menggurat cakrawala di langit
menggaris lembayung di sudut pandang
dan membias dalam keceriaan kita

Roda hidup terus berputar
seperti matahari mengitari bumi
laksana bulan mengelilingi bumi
menyusuri semua lorong waktu
menuntaskan perjalanan hidup
Hingga tiba giliran kita
menutup buku catatan
saat penghujung waktu t’lah berakhir
– dan kadang hadir tanpa pesan

Malang – 2016

 

Bingkai Merenung

rindu ini seakan menjebakku
pada bingkai pigura ini wajahku pernah tersenyum
sekian lama ruang waktu kuarungi
jagad nusantara kujelajahi
kadang bintang gemintang turut mengiringi langkahku
aku tersanjung
terkadang kecewa menyelinap di antara goresan tintaku
itu semua membuat beban nafsu diriku
emosiku pun turut bicara
penaku mulai kehilangan nalar
ada sesuatu yang menyayat bathin
mungkin juga aku telah kehilangan perenungan diriapakah Tuhan mulai berpaling dariku

jiwa seakan mengarungin laut maha luas
disitu tangis seperti batu karang yang rapuh
ombak menerjang menelanjangi kulit tubuh
tetapi biarlah semua terbasuh
mungkin ada kesucian yang melebur kekotoran jiwa
hingga aku tetap terpaku pada bingkai itu—

(Tumapel – 2016)

 

Bidadari Langit Berpita Jingga

Saat sebuah tatapan terkesima langit
dan dari kaki-kaki langit
menjulur warna-warni pelangi
bercumbu garis lembayung
seakan menanti kehadiran bidadari
bidadari itu berpita jingga
membawa senandung merdu
memanjakan kicauan burung-burung
– yang bercengkrama di pucuk pepohonan
 

Pucuk pepohonan diam termenung
gemuruh angin datang menyibak rambutnya
tak ingin terlena menyambut datangnya bidadari
tatapannya penuh makna
seakan menerobos putihnya sinar
dan berkelana menggapai awan

 

Segenap langkah terhenti
di tepian telaga bertilam angin
meninggalkan sutera selimut malam
setelah melumat semua keindahan mimpi
Bidadari berpita jingga, di tengah kerinduan itu
menghujam batas pandang
dibaringkannya segenap penat
di antara garis lembayung dan kilau pelangi
membenamkan diri di telaga bisu
bermandikan bunga-bunga rindu
membasuh penat dan peluh tubuh
merekatkan kembali aroma baru
pada sekujur tubuh yang mempesona
mengundang kumbang berlalu-lalang
mencari serbuk-serbuk cinta
hingga tertanam di balik sekat resah
tanpa bisa memandang pesona bidadari
(makhluk indah turun dari langit)

 
Dalam tapaknya turun ke bumi
(dia) telah mencari bisikan hati
di atas bahu angin kemarau
tergenggam dalam kerapuhan tubuh
tertusuk rindu dengan jemari cintanya
Kini impiannya tertidur pulas
sebelum pesona malam hadir kembali
menggesek biola di tengah padang rumput
menyanyikan rindu kasmaran yang terpendam
ingin rasanya dia melepas kegelisahan sisa malam
dan berharap ada keteduhan air telaga
Sepasang merpati di kejauhan atap rumah
menyaksikan keresahan hatinya
seakan menerangkan tentang hidup
menuangkan dalam bejana waktu
mungkin esok masih tersisa kerinduan cinta

Malang – 2016

 

Biarkanlah Langit Berbicara                       

Aku melihat jiwamu
di mata langit
tertikam benang hitam
mengembara bersama mendung
suaramu merintih tersayat
entah apa yang menyiksamu
bidadari pun menatap dari kaki langit
berdiri di pangkuan pelangi
tanpa busana, nyaris telanjang
seakan ingin melumat semua birahi jiwamu
dan merobek sisa-sisa jasadmu

 
Sempat engkau berkata pada mereka
tapi mataku terlalu buta untuk memaknai itu
tanganmu ingin meraih benang hitam
benang itu menggulung
terjerat dan ditelan lidah pelangi
menyisakan napas-napasmu
bercengkrama di bahu angin
tergantung sesat di tubuh langit

 
Kalau saja aku punya sayap
ingin kuhantarkan padamu
memohon dengan segenap kekuatan bathin
saat Sang Ilahi masih iba
– dengan semua doa-doaku
agar jiwamu berkumpul bersama
anak-isterimu yang masih menunggu
membakar semua mimpi-mimpi kotor
menggantinya dengan menulis kata-kata suci
mungkin itu dinamakan ilham dari langit
tertulis pada kitab-kitab cinta di rumahmu

 
Sekali lagi kutatap tubuh langit
begitu dangkal nalarku membaca misteri itu
kadang kubaca aksara langit dengan sebuah kebohongan
mencoba menggapai jiwamu
entah dimana bisa kutemukan dirimu
karena takdir telah memvonis kasat mataku, dan
biarkanlah langit berbicara

(2016)

 

Biarkanlah Aksara Berbicara

Sudah lama tidur itu tanpa mimpi
kini angin berhembus menguak mimpi
menerangi akal lewat cahaya mentari
di tubuhnya ada segenggam senyum
selaksa keinginan pun menuangkan hasrat
dihembus angin dalam keranjang aksara
 

Dalam diam tidaklah harus terasa sunyi
semua kepalan tangan menyatukan keinginan
tak perlu lagi berjalan dengan langkah gontai
karena perang nalar hanyalah bias zaman
kadang (dia) berkelana pada ruas-ruas waktu
kadang menjelajah ke sudut-sudut kotor
hingga aksara itu menjadi sebuah kejernihan pikir
membuat semua malam jadi terkesima
– dan siapa pun serasa ingin memeluknya

 
Kalau saja boleh
aku ingin hidup pada dunia itu
meneruskan titah para penulis syair indah
mungkin, masih banyak mimpi “mereka” tersimpan
di balik pusara “mereka”, yang duduk membisu
tanpa peduli panas dan hujan
menerjang tanah-tanah penyimpan jasad “mereka”
– yang kadang berharap ada kiriman doa di atas tanah itu
atau mungkin kita hanya terbelenggu
dalam keindahan aksara peninggalan “mereka”
lewat susunan bait-bait pelipur makna
 

Zaman telah mengubah sejarah
walaupun pena terus memacu langkah
mencari batas-batas yang tak bertepi
dan aksara itu terus bicara
lewat orang-orang penulis syair
hingga dunia tak bisa lagi berpaling darinya

Malang – 2016

 

Bait-Bait Duka

Tak lagi kususun sebait kata
nalar ini seakan pergi
menembus gelapnya malam
 

Disitu, ada luka menganga
entah kapan akan kuobati
telah lama terkunci
– dan berselimut duka
 

Hari-hari berlalu
melangkah semakin jauh
meninggalkan keterpurukan nalarku
Haruskah bait-bait itu kubuang,
memenggalnya dengan pedang doa
atau dengan mensucikan diri?
Agar nalar ini tidak tersesat di persimpangan jalan
atau mungkin bait-bait itu telah terkunci
terbelenggu menyekat pikiran

 
Kini kuberharap untuk memulai lagi
menyusun aksara ke dalam bait-bait
penuh makna…
penuh harap…

Malang – 2016

 

 

Biodata:

 

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Bernama lengkap: VICTORIO PRASETYO W — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Jawa Pos Radar Malang (Malang) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantara News.co – Harian Buanakata.Com

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —