Arsip Tag: Redovan Jamil

Apa Hukumnya Menikah Bagi Kinata?

Cerpen: Redovan Jamil 

Ketika makan malam keluarga kecil itu. Tiba-tiba semua mata tertuju pada Kinata. Komat kamit mulutnya mengunyah nasi serta lauk, lalu sambil menundukkan kepala ia berucap, “Aku tidak ingin menikah. Batalkan saja pertunangan yang telah kita jalin bersama keluarga Duri!” Ibunya Kinata bingung atas apa yang dilontarkan anaknya. Hanya tinggal hitungan hari pesta itu akan segera diselenggarakan.

Kelopak mata jingga Kinata kini telah berat dengan bongkahan air yang ingin buncah. Setitik. Dua titik. Kemudian pecah dan mengalir deras membanjiri pipinya.

“Bapak dan ibu tidak bisa jadi panutan untukku. Keluarga ini tidak pernah akur. Siapa yang akan aku contoh? Apa untungnya sebuah pernikahan? Dan apa juga hukumnya menikah bagi seorang laki-laki?”, gerutu Kinata dalam hatinya yang  penuh pergolakan.

Peperangan hebat terjadi pada dirinya. Masa lalu atau masa depan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, terdengar kabar Kinata tertawa-tertawa sendiri sepanjang jalan di kotanya.

***
Mimpiku telah sirna,
Bersama petang tenggelam,
Kekosongan akan abadi,
Dalam gelap-gelap malam.
 

Lembabnya sisa air hujan semalam membasahi dedaunan di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Kinata. Kiri-kanan rumahnya ditumbuhi oleh pepohonan yang sengaja ditanam untuk menyejukkan kota. Program penanaman itu bertujuan untuk pengendalian ekosistem yang sudah mulai tidak stabil. Masyarakat yang tidak tahu benar akan hal itu menyetujui saja. Maka tumbuh suburlah beberapa pohon pelindung di sepanjang jalan di kota itu.

Terlihat Kinata tengah termenung sembari duduk di beranda rumah. Sarjana muda itu belum mendapatkan pekerjaan. Usai perayaan wisuda yang sudah beberapa bulan lalu, ia habiskan hari-harinya membantu orang tuanya bertani. Paginya ikut ibunya ke kebun untuk menyadap karet. Dan siangnya ia bekerja di sawah.

Sekarang adalah musim panen. Padi-padi telah menguning. Hamparan keindahan persawahan itu tersaji indah di depan mata. Bertumpak-tumpak sawah milik petani sudah siap untuk di panen. Terlihat Kinata tengah menyusuri pematang sawah sembari mengamati padinya siang itu. Wajah tersenyum dan hatinya berkata, “Sawah adalah taman kanak-kanakku, sebelum kehadiran lelaki asing itu. Apakah waktu bersedia berbalik haluan?”

Semua masa kecilnya itu sempurna hadir. Tidak sanggup ia menepis kenangan yang membuatnya rindu akan kedamaian itu. Di mana ia berlari sebisanya di dalam lumpur sawah. Memancing belut. Mengamati senyum ayah kandungnya yang penuh takjub pada kelihaiannya membuat pematang sawah.

“Anak bujangku yang pintar dan tangguh. Jagoan bapak yang nomor satu”,  ucapan ayah kandungnya sambil mengacungkan jempul ke udara. Kinata tersenyum penuh dengan rasa bangga. Anak kecil yang haus prestasi dan pujian dari orang yang dicintainya.

Kini Kinata telah beranjak dewasa. Orang asing selalu hadir di dalam keluarganya. Merenggut semua kebahagian yang dulu ada. Kinata sudah memvonis dalam dirinya bahwa lelaki itu adalah orang asing baginya. Selalu asing. Sampai detik ini.

“Kenapa IP kamu dari semester ke semester selalu menurun? Semester sebelumnya satu mata kuliah yang tidak tuntas. Untuk sekarang bertambah menjadi dua”, ibunya Kinata kesal sembari membaca lembaran nilai semesternya. Kinata hanya menundukkan kepala. Jika ibunya memarahi atas penurunan prestasinya, ia selalu mencoba tidak melawan. Walau di dalam hatinya banyak pernyataan-pernyataan pembelaan yang ingin ia lontarkan. Tentang keluh kesah yang menganjal di dalam dadanya. Tetapi kali ini ia hanya sanggup menahannya. Mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.

Tubuh Kinata terasa lemah dan tidak berdaya. Ia tidak ingin mengerjakan apa-apa. Kinata mengurung dirinya di kamar. Terdengar ibunya memanggil dan menyuruhnya ke kebun. Ia pura-pura tidak mendengarnya.

“Sarjana macam apa anakmu itu? Kerjanya hanya bermalasan saja. Disuruh kerja tidak mau. Lebih baik pergi saja dia dari rumah ini!”, terdengar sayup-sayup perbicangan lelaki asing itu dengan ibunya Kinata. Ibunya hanya diam. Tidak memihak siapapun. Lelaki asing itu terus memaki-maki Kinata. Menghujat semua kesalahan Kinata. Kinata hanya diam di dalam kamarnya.

‘Aku adalah orang asing, semenjak kedatangan lelaki asing itu di ramah ini. Aku adalah orang baru di rumah sendiri.’ Air bening telah mengalir di pipinya. Ia rindu akan ayah kandungnya. Orang yang menjadi jagoannya sekaligus teman bermain baginya. Orang asing itu tidak akan pernah sanggup menggantikan posisi ayah kandungnya. Sampai kapanpun.

***

“Apakah benar apa yang dibicarakan tetangga akhir-akhir ini Suharti. Tolong berikan penjelasan kepadaku?”, ayah kandung Kinata ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”, ibu menyergah ayah kandungnya Kinata.

“Berikanlah penjelasan yang pasti, Suharti! Saya tidak suka berbelit-belit.” Ayah Kinata mencoba mengendalikan emosinya. “Iya. Memang benar apa yang dilihat dan dibicarakan tetangga kita”, ibunya Kinata berucap tanpa ada penyesalan pada raut wajahnya.

Ayah Kinata hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka setega itu istrinya menghianati pernikahan mereka yang tidaklah seumuran jagung. Beraninya ibu Kinata membawa lelaki asing ke rumahnya. Ayah Kinata pergi beberapa hari dari rumah hanya untuk menjali tugas dinas dari sekolah. Selama itu wanita yang dari dulu ia cintai dan ia banggakan tega berselingkuh. Mengakui semua kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ayahnya Kinata sungguh kecewa. Hatinya tidak sanggup menerima kenyataan yang berdiri tegak di hadapannya.

Malam itu Kinata tidak ada di rumah. Ia tidak tahu pertengakaran hebat yang terjadi antara ibunya dengan ayah kandungnya.

“Ayah mana, Bu?”, dengan polosnya Kinata bertanya pada ibunya.

“Ayahmu sudah pergi semenjak tadi malam”, jawab ibunya datar. Mencoba untuk mengalihkan percakapan.

“Ayah dinas lagi, Bu?”, lanjut Kinata dengan penuh tanda tanya. Ia sudah menunggu kepulangan ayahnya beberapa hari ini.

“Ayahmu pergi selamanya. Mungkin tidak akan pulang lagi”.

Wajah Kinata merah padam.

Setelah ibunya mejelaskan semuanya. Semenjak itu Kinata benci dengan ibunya. Kinata sangat merasa kehilangan. Ia selalu menunggu ayahnya untuk kembali ke rumahnya. Tapi ayahnya tidak kunjung pulang. Hari-hari Kinata dipenuhi kesedihan dan kerinduan terhadap ayahnya.

***

Waktu makan malam, ibunya meminta waktu untuk membicarakan hal serius. Kinata hanya memasang wajah datar. Apapun yang ingin dibicarakan ibunya, baginya tidak penting. Kinata tidak begitu peduli lagi dengan ibunya, apalagi tentang masa depannya. Kini Kinata tidak memiliki semangat hidup. Rasanya ia ingin mencari ayahnya. Tapi ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Sampai saat ini Kinata tidak pernah lagi mendapat kabar dari ayahnya.

“Ibu ingin menikah lagi. Ibu harap kamu menyetujui rencana ini!” Beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang menghujam jantung Kinata. Kalimat yang dilontarkan ibunya bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang tanpa ada kata penolakan yang keluar dari mulut Kinata.

Kinata memandang wajah ibunya lamat-lamat untuk beberapa detik. Kinata dapat menafsirkan bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah sesuatu yang sungguhan. Kinata meletakkan sendok makannya dengan sembarangan dan meninggalkan bunyi yang keras. Berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Baginya kalimat yang disampaikan ibunya adalah sebuah kewajiban untuk sepakati.

Perasaan Kinata tidak karuan. Otaknya dipenuhi rasa benci terhadap ibunya. Setega itu ibunya menikah dengan orang lain dan menggantikan posisi ayahnya. Kinata mengurung diri di kamar dan tidak keluar-keluar.

***

“Siapa yang kamu bonceng kemarin siang? Ada tetangga yang bilang”, ibunya Kinata melontarkan pertanyaan kepada lelaki asing itu.

“Ooo…perempuan itu. Dia adalah teman lamaku, kebetulan bertemu tadi di pasar. Jadi aku mengantarnya pulang,” jawab lelaki asing itu seadanya sembarai memainkan cigaret.

“Sudah sering tetangga melihatmu bersama perempuan itu. Sekarang jujur saja”.

“Siapapun perempuan itu, memang bagaiman?”, dengan suara tinggi lelaki asing itu membentak ibunya Kinata.

“Apakah dia selingkuhanmu?”

“Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”. Persis dengan kalimat yang pernah dilontar ibu Kinata kepada ayah kandungnya. Air mata ibunya Kinata telah buncah dan menghujani pipinya. Semua telah terjadi. Kekecewaan telah terbalas kekecewaan. Tidak ada yang harus disalahkan, selain diri sendiri.[]

 

Biodata

Redovan Jamil, lahir Padang Benai pada 24 tahun yang lalu. Profesi  karyawan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia yang bertugas di Kepulauan Meranti, Riau. Ingin menebarkan virus cinta literasi kepada anak-anak marginal/ujung negeri. Berbagi apa punya, menuai apa yang disemai. Antologi puisinya juga pernah tergabung dalam Puisi Penyair Nusantara 6,5 Luka Pidie Jaya: 2016, Sajak Hujanku: 2016, dan Antologi Sajak-sajak Anak Negeri: Sajak Angin: 2017. Karya dan tulisannya juga pernah dimuat di media lokal dan nasional seperti Riau Post, Haluan Singgalang dan Rakyat Sumbar serta media online lainnya. Alamat Yayasan Fitrah Madani Meranti, jln. Siak no.70A Selatpanjang, pos 28753. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email redovanjamil1993@gmail.com, dan Facebook atas nama Redovan Jamil

SDN 12 Sokop Lokal Jauh Memperingati Hari Kartini dengan Berbagai Cabang Lomba

Catatan: Redovan Jamil

Antusias Para siswa SDN 12 Sokop Lokal Jauh, Riau mengikuti Lomba Memperingati Hari Kartini. Kondisi serta letak  geografis tidak menghalang mereka untuk kreatif (25/4/2017/ foto atas)

R.A Kartini tidak asing lagi di telinga kita yang selalu menilik sejarah. Seorang wanita tangguh yang berjasa atas kebangkitan emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi. Setiap jatuh tanggal 21 April alangkah bagusnya kita selaku bangsa Indonesia yang menghargai sejarah mengadakan kegiatan untuk memperingati “Hari Kartini” tersebut.

Di SDN 12 Sokop Lokal Jauh Hari Kartini diperingati dengan berbagai lomba. Cabang perlombaan terbagi atas Lomba Bercerita (pengalaman pribadi) teruntuk kelas 3 saja, Lomba Menulis Cerita (pengalaman pribadi) teruntuk kelas 2 dan 3, dan Lomba Membaca Cepat teruntuk kelas 1 sampai kelas 3.

 

Kelas 3 SDN 12 Sokop Lokal Jauh tampak antusias tengah mengikuti lomba menulis cerita
Kelas 3 SDN 12 Sokop Lokal Jauh, tampak antusias tengah mengikuti lomba menulis cerita

Lomba diadakan di SDN 12 Sokop Lokal Jauh dengan tingkatan perkelas. Lomba dilaksanakan pada hari Sabtu, (22/4). Kegiatan tersebut disambut dengan antusias oleh semua siswa. Bentuk antusias para siswa terbukti bahwa mereka datang ke sekolah lebih awal dari hari biasanya. Juga dapat dipandang sumringah di wajah para siswa, saat penyampaian peraturan lomba serta kategori penilaian di lapangan sekolah.

Lomba dimulai sejak pukul 08.30 hingga 12.00 Wib. Anak-anak mengikuti perlombaan antar kelas dengan sungguh-sungguh. Para siswa ingin mendapatkan juara dan juga hadiah jika menjadi yang terbaik pada setiap cabang lomba yang dijanjikan Bapak Redovan Jamil (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia) Dompet Dhuafa.


 
Salah satu anak peserta tengah mengikuti lomba baca cepat*

Lomba pun berjalan meriah walaupun dengan suasana sederhana. “Baru kali ini kami berlomba macam ini, Pak. Kami senang, besok adakan lagi ya, Pak”, ucap salah satu siswa kelas 3. Bapak Jamil menjawab dengan senyuman yang menyatakan, “iya”. Siswa yang produktif menulis di kelas 3 adalah anak kita Abu. Setiap pagi ia selalu menyetor tulisannya berupa puisi (tema yang berbeda) kepada Pak Jamil. Kemudian Bapak Jamil mengkoreksi puisi tersebut serta memberikan masukan serta motivasi agar selalu menulis.

Pada hari Selasa, (25/4) pemenang lomba memperingati “Hari Kartini” pun di diumumkan. Pagi hari itu semua siswa dikumpulkan di halaman sekolah. Semua siswa tidak sabaran untuk mendengarkan hasil perlombaan. Pengumuman langsung diambil alih oleh pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh Ibuk Riyati.

Jantung para siswa jelas dag dig dug. Ini sebuah lomba perdana bagi mereka, yang jelas sesuatu yang baru dan luar biasa. Akhir satu persatu siswa yang terbaik dipanggil ke dapan untuk menerima hadiah. Karya yang terbaik pada cabang Lomba Menulis Cerita (pengalaman pribadi) kelas 3 dipegang oleh anak kita Abu dengan 94 poin, dari kategori penilaian; Ejaan Yang Disempurnakan (EYD), keunikan cerita, dan pesan cerita.

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia, Redovan Jamil tampak tengah  memberikan hadiah secara simbolik kepda salah satu pemenang cabang lomba menulis cerita.

Pemegang terbaik untuk cabang Lomba Bercerita (pengalaman pribadi) diraih oleh anak kita Asip untuk tingkatan kelas 2 dengan poin 88.Kemudian pada cabang Membaca cepat peringkat pertama diraih oleh Sanjay tingkatan kelas 1 dengan poin 86. Kegiatan lomba memperingati Hari Kartini merupakan seuatu hal yang baru bagi para siswa SDN 12 Sokop Lokal Jauh.

Ini foto brsma dg pemenang lomba mas
Mereka, para pemenang lomba mas tampak suka cita saat melakukan poto bersama

Kegiatan ini diadakan bertujuan untuk mengajarkan sekaligus mengajak para siswa mencintai dunia literasi. “Kegiatan ini akan diagendakan menjadi program tahunan”, ujar Buk Riyati selaku pengelola.(Redovan Jamil)

Pelatihan Guru Tingkat Sekolah Dasar Se-Kecamatan Rangsang Pesisir

Catatan: Redovan Jamil

Pelatihan Guru Tahap 1 tingkat Sekolah Dasar dengan materi RPP dan PAIKEM se-Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau telah diselenggarakan 15-16 Maret 2017 lalu . Pelatihan dibawakan oleh trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Bapak Redovan Jamil. Pelatihan tersebut disambut antusias oleh Bapak Mazlan selaku kepala UPTD Kecamatan Rangsang Pesisir.

Peserta yang hadir mengikuti pelatihan sejumlah 31 orang guru yang terdiri dari 12 orang guru dampingan Dompet Dhuafa dari SDN 12 Sokop Lokal Jauh. Selebihnya Bapak/Ibu guru perwakilan dari 12 SD yang ada di Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Pada sesi sambutan sekaligus pembukaan kegiatan pelatihan, kepala UPTD menyampaikan kepada semua peserta yang hadir, “jangan lihat fisik dari sang trainer dari Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa dan jangan menganggap remeh. Tapi ambillah ilmu yang diberikan beliau. Orang yang dikirim oleh Dompet Dhuafa ke daerah kita adalah orang hebat. Maka dari itu jangan menyia-nyiakan kesempatan ini. Marilah kita menerima ilmu yang akan beliau sampaikan.” Setelah untaian kata motivasi yang di sampaikan Bapak Mazlan selaku Kepala UPTD dan kemudian beliau resmi membuka Pelatihan Guru Tahap 1 Se-Kecamatan Rangsang Pesisir.

 

Pelatihan dimulai dengan percikan kata motivasi penuh semangat yang dilontarkan oleh sang trainer Bapak Redovan Jamil. Memperkenalkan diri dengan cara yang unik, sehingga semua peserta yang ada di ruangan itu terkesima. Cara itu adalah sebuah teknik pembuka yang wajib dimiliki oleh seorang trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa.

Dihari pertama Bapak Redovan Jamil menyajikan pelatihan dengan materi RPP. Terutama sekali peserta dirangsang untuk berpikir apa itu RPP sebenarnya? Dan juga menyadarkan semua guru betapa pentingnya sebuah Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk menyukseskan proses pembelajaran di kelas.

Pada sesi awal peserta juga diajak menyaksikan video Nick Vujinic dengan kondisi tubuh yang cacat. Mengaitkan hasil tayangan video tersebut kepada materi pelatihan. “Bahwasannya orang cacat saja sanggup melaksanakan aktifitas keseharian layaknya manusia yang terlahir normal. Apalagi kita seorang guru yang terlahir dengan fisik yang tidak kurang sedikitpun. Saya yakin dan percaya, Insyaallah bapak/ibu guru hebat sanggup mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang biasa disebut RPP sebelum mengajar di kelas”, terang Bapak Redovan Jamil.

Semua guru mengangguk dengan wajah penuh tanda tanya. Juga tergambar wajah penuh dengan kekecewaan. Apakah kekecewaan kepada dirinya selaku guru? Atau kekecewaan yang lainnya. Semua itu menjadi rahasia masing-masing guru yang ikut pelatihan. Tidak berselang beberapa menit, Bapak Redovan Jamil selaku trainer Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia menginstruksikan kepada semua peserta pelatihan untuk menulis di kertas yang sudah dibagikan satu persatu, “apa yang akan dilakukan perubahan saat mengajar nanti di kelas?” Semua peserta mengikuti instruksi yang diberikan Bapak Jamil.

Pelatihan berjalan dengan lancar. Setelah Isoma peserta ditugaskan untuk membuat RPP secara berkelompok yang dipilih secara acak oleh sang trainer. Pada akhir sesi, perwakilan dari kelompok disuruh tampil mengajar selama 15 menit sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran yang dibuat.

Banyak ditemukan kekurangan dari kelengkapan sebuah RPP oleh Bapak Jamil selaku trainer. RPP yang dibuat oleh masing-masing kelompok belum masuk kategori standar Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Masih banyak yang harus dilengkapi agar mencukupi kelayakan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran agar guru bisa mengajar dengan sebaik mungkin.

Pelatihan hari pertama tersebut diakhiri dengan foto bersama dengan semua peserta pelatihan dan diikuti oleh Kepala UPTD Rangsang Pesisir (Bapak Mazlan).

Hari kedua pelatihan dengan materi PAIKEM (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan). Bapak/ibu guru selaku peserta masih antusias untuk mengikuti pelatihan lanjutan tersebut. Pelatihan dibuka dengan rangkain kata-kata motivasi untuk menggugah hati paling dalam para guru untuk keluar dari pola mengajar yang selama ini kurang tepat.

Mengajak para guru untuk bergerak bersama menata perbaikan sedikit demi sedikit dengan menerapkan metode PAIKEM. Tujuannya adalah agar terciptanya pembelajaran yang aktif serta menyenangkan yang dapat dirasakan oleh siswa. Dan juga terwujudnya capaian indikator pembelajaran yang sudah ditentukan.

Metode PAIKEM juga memiliki manfaat kepada seorang guru untuk mengajar dengan pola yang baru, berbeda dengan cara mengajar yang sebelumnya. Bisa terciptanya minimal 5 interaksi serta terwujudnya minimal melibatkan 3 indra siswa, yaitu melihat, mendengar dan mengucapkan. Maka siswa akan aktif dan pembelajaran tidak monoton.

Pada sesi terakhir, salah satu guru perwakilan kelompok bertugas tampil bagaimana mengajar menggunakan model pembelajaran. Model pembelajaran yang akan digunakan telah ditentukan oleh trainer Bapak Redovan Jamil. Walaupun perwakilan guru kesulitan menerapkan model pembelajaran itu, namun Bapak Jamil memandu guru tersebut untuk menyelesaikan tugasnya sebagai perwakilan kelompok.

Sang Trainer menutup materi Pelatihan Guru Tahap 1 dengan meminta komitmen guru agar menerapkan motedo PAIKEM saat mengajar nanti di kelas. Pelatihan guru hari kedua diakhiri dengan foto bersama.**

Guruku R. A Kartini

Oleh: Redovan Jamil

Penulis mengajak pembaca untuk sejenak mengingat betapa spesialnya tanggal 21 Februari di setiap tahunnya. Di mana setiap hari itu di seluruh Indonesia memperingati kebangkitan emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi. Semua itu tidak lepas dari sepekterjang seorang wanita tangguh yang lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan yang bernama R.A Kartini.

Lanjutkan membaca Guruku R. A Kartini

Cinta Dalam Diam

Cerpen: Redovan Jamil

Akhirnya Egy lulus dengan nilai memuaskan serta dapat masuk ke perguruan tinggi yang diinginkannya. Setelah ia berusaha sebisa mungkin untuk mencapai impiannya. Dulu Egy belajar giat agar dapat dilirik oleh lelaki yang dikagumi. Kedua orang tuanya sangat bangga dengan prestasi yang telah ditorehkannya. Anak yang berkulit sawo matang dengan tinggi lebih kurang 160. Tubuhnya termasuk kategori ideal seumurannya. Perempuan yang suka memakai jilbab di kesehariannya.
Wanita yang memiliki nama lengkap Peggy Anggraini itu telah mengenang masa selama di pesantren. Duduk manis di bawah pohon depan kelas 7.2. Mengamati lapangan tempat melaksanakan upacara bendera. Berlari dan bermain dengan teman sebaya. Sesuatu yang tidak bisa ia lupakan adalah saat pertama kali menatap mata sipit santri pujaan hatinya. Mereka bertabrakan karena terburu-buru ingin masuk kelas masing-masing.
Santri laki-laki itu adalah kakak kelasnya Egy di kala itu. Kelas lelaki misterius itu bersebelahan dengan kelasnya Egy. Egy duduk di kelas 7.2 dan lelaki itu duduk di kelas 8.1. Semenjak pertemuan tanpa sengaja pagi itu, Egy selalu terpikirkan pandangan tajamnya lelaki yang menusuk jauh ke dalam relung hatinya. Sepanjang pelajaran pagi itu ia tidak bisa fokus. Pikirannya melayang-layang dan penuh tanya. Siapakah lelaki yang menabraknya? Kenapa lelaki tersebut yang minta maaf terlebih dulu, padahal Egy tahu ia yang sebenarnya salah.
“Egy, mengapa kamu bermenung?” ucap, Bu guru.
“Iya..iya buk.” Egy menjawab penuh cemas.
“Apa yang iya, Gy?” Bu guru sedikit melotot.
Egy hanya menundukkan kepalanya. Ia tahu telah melakukan kesalahan; tidak bisa menyimak dan memperhatikan apa yang diterangkan oleh gurunya. Egy memaksakan otaknya membuang beribu tanda tanya tentang lelaki itu. Mencoba untuk hanyut ke dalam pelajaran pagi ini. Jadwal pagi itu adalah pelajaran Fiqih dengan guru yang bernama Bu Yetti. Ibu yang bertubuh bongsor dan berperawakan jawa. Banyak senior Egy mengatakan Ibu Yetti termasuk kepada guru yang pemarah. Maka pada saat Egy ditegur, ia hanya diam dan tidak ingin berdebat.
***
“Bangun…semua bangun lagi! Sekarang sudah pukul 04.00 WIB.”
Ibu asrama yang biasa dipanggil Umi Rosi mengetuk pintu kamar para santri. Mencoba membangunkan semua anak santrinya. Terdengar beberapa santri menyahut dari dalam kamar dengan suara sedikit parau. Setelah ibu asrama yakin semua santri telah bangun baru ia pergi menuju mushalla untuk menunaikan shalat subuh berjemaah. Egy pun sudah bangun. Segera ia mengganti baju tidurnya dengan pakaian yang layak digunakan untuk shalat. Mengambil serta memakai mukenah yang biasa terlipat rapi di atas meja. Mukenah putih dengan bordiran bunga berwarna merah saga di ujung tepinya. Egy terlihat anggun oleh mukenah yang membaluti tubuhnya.
Terdengar suara adzan berkumandang. Egy dengan sahabat karibnya yang bernama Sinta buru-buru untuk menuju Mushalla. Setelah semua santri memenuhi ruangan Mushalla, baik itu laki-laki maupun perempuan, shalat pun dimulai. Diimami oleh Ustad Jefri Al- Qhadri. Syahdu suara imam merindingkan bulu roma para santri. Seakan-akan diimami oleh imam besar di Mekah. Shalat subuh itu berjalan dengan khitmad. Setelah shalat subuh selesai, semua santri dianjurkan melakukan tadarus sampai pukul 05.45 WIB.
Sesampai di asrama Egy pun segera mengambil handuk. Menuju ke kamar mandi. Egy pun mandi lebih kurang sepuluh menit. Disaat mandi para santri berbicara tidak karuan. Karena di asrama memiliki bak mandi besar yang muat oleh sepuluh santri. Bak mandi itu dipakai oleh santri secara bersama.
Pada saat mandi, banyak santri yang suka bercanda. Seperti lempar-lemparan air. Sebagian juga ada yang membicarakan tentang keluh kesah selama belajar di pesantren. Tapi, saat mandi Egy menceritakan kejadian pagi kemarin kepada Sinta. Menjelaskan secara terperinci hingga Sinta merasa ada yang menakjubkan atas kejadian itu.
“Siapa nama lelaki itu, Gy?”
“Tidak tahu. Aku belum sempat kenalan.”
“Kenapa kamu tidak mengajaknya kenalan?
“Aku malu. Tidak sewajarnya aku begitu.”
Beberapa menit mereka saling bertatapan. Tergambar tanda tanya di wajahnya. Sinta ingin tahu siapa lelaki yang dimaksud oleh sahabatnya tersebut. Sinta mencoba menerka-nerka lelaki yang ciri-cirinya sesuai yang dibicarakan Egy. Tapi ia belum juga bisa menemukan siapa lelaki misterius itu.
***
Pada hari sabtu siang adalah waktunya Ekstrakulikuler. Ada yang masuk ke bidang tataboga, seni rupa, dan olahraga. Egy dan Sinta memilih bidang tataboga. Biasanya mereka selalu rajin untuk mengikuti Ekstrakulikuler. Bersemangat menyambut hari sabtu karena mereka memang hobi persoalan masak-memasak. Untuk sabtu kali ini Egy dan Sinta sudah berencana tidak mengikuti proses belajar memasak. Mereka sudah sepakat untuk mencari tahu lelaki yang mampu membuat tidur Egy tidak nyaman. Dihantui tatapan tajam lelaki itu yang penuh rasa saat pertemuan yang tidak disengaja. Seolah-olah wajah lelaki itu selalu mengikuti Egy ke manapun ia pergi. Tidak ingin beranjak dalam pikirannya.
“Kemana kita harus mencarinya, Gy?”
“Tidak tahu.”
“Bagaimana kita ke lapangan basket saja!”
Mereka kini berjalan menuju lapangan basket. Mencoba melirik ke kanan dan ke kiri. Mengamati semua santri laki-laki yang sedang bermain basket. Mendatangi kantin yang biasanya tempat makan para santri laki-laki. Mereka pura-pura membeli sesuatu di sana. Padahal hanya bermaksud mencari seorang laki-laki yang membuat mereka penasaran. Mereka tidak menemukan orang yang dicari. Mereka menyempatkan mencari ke tempat duduk di bawah pohon kelas 8.2. Di mana tempat itu pertama kali Egy dan lelaki itu tidak sengaja bertabrakan. Usaha mereka sia-sia. Wajah putus asa Egy tergambar jelas. Egy merasa tidak akan pernah bertemu lagi dengan lelaki itu. Angan-angannya untuk berkenalan secara dekat dengan lelaki itu telah sirna. Kini tidak ada lagi kesempatan Egy. Mereka memutuskan untuk segera kembali ke kelas tataboga.
Wajah kecewa mereka tergambar jelas. Tidak ada lagi semangat Egy untuk mencari siapa lelaki itu. Egy berjalan dengan gontai. Hanya memandang ke depan, seolah-olah sepi di antara keramaian aktifitas Ekstrakulikuler. Sesekali ia memandang ke arah lapangan takraw. Kemudian Egy memandang ke depan lagi. Di hatinya timbul penasaran akan siapa saja yang sedang bermain takraw. Dialihkan lagi pandangan ke arah lapangan takraw. Mengamati santri yang sedang bersorak-sorak memainkan bola takraw. Tanpa disengaja Egy mengenali wajah salah satu santri yang sedang bermain takraw itu. Sejenak ia berhenti mengayunkan kakinya. Lalu, Egy memastikan orang yang ia rasa kenal tersebut. Tiba-tiba Egy berteriak kencang.
“Sinta…itu lelaki yang menabrakku kemarin.”
“Yang Mana?”
“Itu santri lelaki yang berbaju putih dan bercelana merah.”
“Gantengnya…”
Kegembiraan Egy tidak bisa diungkapkan lagi. Egy melompat-lompat kegirangan. Jantungnya berdetak kencang. Tiba-tiba wajahnya memerah seperti udang kepanasan. Sinta jadi bingung melihat tingkah sahabatnya tersebut. Sungguh Sinta tidak menyangka betapa bahagianya sahabatnya tersebut. Mereka berdua sepakat untuk melihat santri laki-laki itu secara dekat. Mencoba sedikit berjalan mendekati lapangan takraw. Mengamati lelaki itu dari kejauhan.
***
Pada akhirnya Egy mengetahui nama santri laki-laki itu dari teman sekelasnya yang bernama Ainun. Suatu hari Egy melihat Ainun sedang bercakap-cakap dengan lelaki itu. Egy tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Sebenarnya Egy ingin langsung menemui lelaki itu untuk minta maaf atas kejadian beberapa waktu lalu. Tapi ia enggan untuk langsung bergabung dengan mereka. Egy mencoba menahan hasratnya untuk bertindak gegabah. Egy sabar menunggu mereka selesai bicara. Tidak lama kemudian lelaki itu pergi masuk kelas 8.1. Tinggalah Ainun berdiri terpaku. Dengan perasaan penuh tanya Egy memberanikan diri untuk menghampiri Ainun dan mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata santri laki-laki yang ia cari selama ini bernama Fauzan Mubaroh. Biasa dipanggil Fauzan. Ainun menjawab semua pertanyaan yang diajukan Egy. Ainun menjelaskan bahwasannya Fauzan adalah anak dari pamannya yang bernama Firdaus. Rumah Ainun di kampung tidak begitu jauh dari rumah Fauzan. Apabila Ainun perlu bantuan, ia tidak sungkan-sungkan untuk meminta bantuan kepada Fauzan. Karena Fauzan sudah menganggap Ainun adik kandungnya sendiri di tanah rantau ini. Sudah kewajiban Fauzan membantu dan melindungi adiknya dari bahaya apapun.
Semenjak Egy tahu nama lelaki yang dikaguminya tersebut. Egy selalu membuat puisi cinta setiap malam ia berangan-angan bisa lebih mengenal lelaki itu. Buku diary Egy kini telah penuh dengan puisi cinta. Apabila ia merindukan tatapan pesona Fauzan, maka ia akan mengungkapkan rasanya melalui sebuah puisi. Lebih kurang sudah ada tiga puluh puisi ditulis Egy. Kala siang hari Egy melihat Fauzan bercanda tawa dengan temannya, malamnya akan dituangkannya ke dalam sebuah puisi.
“Apa yang sedang kamu tulis, Gy?”
“Tidak ada. Cuma coretan saja.”
“Coba sini aku baca!”
Sinta membaca lembar demi lembar puisi ungkapan perasaan cinta Egy terhadap Fauzan. Sungguh menakjubkan kata-kata perumpamaan yang dipakai oleh Egy. Sinta saja terkesima oleh makna yang disampaikan puisi sahabatnya tersebut. Sinta telah mengetahui betapa Egy mengagumi dan menyukai Fauzan. Lelaki yang berkulit putih dengan tinggi lebih kurang 170 itu. Berhidung mancung dan berwajah sedikit opal. Fauzan memiliki bola mata yang indah. Bola matanya hitam dan sekelilingnya putih jernih. Seakan-akan Egy bisa berkaca-kaca di sana.
Setiap hari sabtu, pada jam ekstrakulikuler Egy selalu menyempatkan diri pergi melihat Fauzan yang sedang bermain takraw. Fauzan adalah salah satu santri yang sangat pandai bermain takraw. Hampir setiap pertandingan yang dihadapinya, ia selalu menang. Egy mendapat kabar bahwa Fauzan juga sudah pernah mewakili pesantren untuk lomba takraw tingkat kabupaten. Egy semakin mengagumi lelaki yang bertemu tidak sengaja itu. Egy berpikir bahwasannya pertemuanya dengan Fauzan adalah kehendak Tuhan. Egy selalu berdoa setiap shalat agar bisa berkenalan dengan Fauzan lebih dekat.
Tanpa disadari Egy berdiri terlalu dekat dengan lapangan takraw. Fauzan dan kawan-kawannya keasikan memainkan bola takraw. Tidak tahu kenapa, salah satu pemain tersebut salah mengatasi pukulan dari Fauzan. Sehingga bolanya memutar arah menuju Egy. Karena tanpa persiapan Egy tidak sanggup menghindari bola takraw tersebut. Bola takraw tepat mengenai kepalanya. Egy berteriak kesakitan. Bola takraw tersebut sangat keras mengenai kepalanya sehingga membuat ia pingsan di tepi lapangan tersebut. Segera Fauzan berlari menghampiri Egy yang telah roboh ke tanah. Langsung Fauzan serta kawan-kawannya memapah Egy ke UKS. Fauzan panik. Tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Sesampai di UKS Egy diperiksa oleh Ibu yang bertugas di sana.
Ibu UKS memberikan keterangan bahwa Egy tidak apa-apa. Memang benar benturan bola terhadap kepalanya keras. Tapi Insa Allah Egy akan segera siuman. Ia hanya butuh istirahat beberapa jam saja. Ibu UKS tersebut mencoba meyakinkan Fauzan. Fauzan memutuskan untuk menjaga dan menunggu Egy hingga tersadar dari pingsannya. Dipandanginya wajah santri perempuan itu penuh rasa prihatin. Fauzan mengingat-ingat atas kejadian beberapa waktu lalu. Timbullah rasa bersalahnya. Sudah dua kali ia mencelakakan Egy. Fauzan ingin meminta maaf mewakili kawan-kawan atas kejadian tersebut.
Lebih kurang sudah satu jam Egy pingsan. Tiba-tiba Egy terbangun. Terlihat jelas wajah lelahnya. Fauzan menawarkan air putih kepada Egy. Egy tidak menolak karena ia memang terasa haus. Dituntunnya gelas oleh Fauzan ke mulut Egy. Tanpa disengaja mereka bertatapan. Bagi Egy itu adalah tatapan penuh cinta. Ia merasa beruntung sekali bisa sedekat ini dengan lelaki yang mengisi lembaran demi lembaran dalam bait puisinya. Dipandanginya laki-laki yang membuatnya terkagum dengan kebaikan serta kelihaiannya bermain takraw.
“Besok kamu jangan terlalu dekat ke lapangan takraw. Berbahaya.”
“Istirahat yang cukup. Semoga cepat sembuh.”
“Maafkan aku yang sudah mencelakakan kamu.”
Egy hanya memandang dan mengamati bibir Fauzan komat-kamit memberikan perhatian dan ucapan maaf. Tidak ada satupun kata-kata yang keluar dari mulut Egy. Di dalam hatinya mengiyakan apa yang disampaikan oleh Fauzan. Tapi mulutnya kali ini tidak bisa bekerjasama dengan hatinya. Hatinya ingin berkata panjang lebar. Tapi mulutnya memilih untuk diam. Kemudian Fauzan mohon pamit untuk melanjutkan kelas berikutnya. Egy hanya menjawab dengan bahasa isyarat.
***
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, dan tahun pun telah beranjak pergi. Egy dan Fauzan semakin dekat. Fauzan selalu memberikan perhatian terhadap Egy agar terus giat belajar. Baik belajar menghafal hadist atau pun pelajaran yang lainya. Hari-hari Egy semakin berwarna. Pelangi sering melengkung indah di atas atap pesantren.
Sampai saat ini Egy dan Fauzan tidak pernah mengikrarkan janji cinta. Tapi mereka hanya berbagi cerita dikala resah. Saling memberi semangat satu sama lain. Memang pernah Egy meminta kejelasan hubungannya dengan Fauzan. Fauzan memberikan sebuah pemahaman bahwa rasa suka dan cinta tidak diwajibkan untuk sebuah ikrar cinta. Fauzan berharap suatu saat mereka dipertemukan dengan kehendak Tuhan. Untuk saat ini marilah kita kejar impian kita masing-masing. Mari kita mencintai Tuhan dan berdoa agar kita dipertemukan semesta.(*)

 


Redovan Jamil, lahir 10 Mei 1993, asal Sijunjung, Sumpur kudus. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Aktif dan menjadi pengurus di komunitas kepenulisan Daun Ranting. “Perihal menulis bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci,” demikianlah katanya.
Kontak person: 085265781291

Puisi Redovan Jamil

Bukit Tertinggalkan Kawan

Bukit barisan terlihat tandus dan gundul. Pertapaannya telah usang ditinggal pohon. Kini tak ada lagi kawan merangkul erat, menjaga raga yang menggigil, dan menjawab cerita.

Corak dulu hijau permadani, terhampar luas membentang di jagad Sumatera. Pinus terjajar rapi menjulang langit, menopang tanah di lereng bukit. Kuat, liat, dan erat.

Rerintik hujan basahi pertiwi. Berkepanjangan, menggenang kali, sawah, dan rumah warga. Pekik keluh atas murka Tuhan. Sejenak dingin, berbau, susah beraktifitas, dan rezki terhalang.

Got terdampar sampah, air enggan beranjak pergi, bau sampah dan urat kayu ngambang di udara. Pemerintah menyegrah berbenah, warga sadar akan celaka, dan Tuhan mengutuk akan serakah penebang liar.

Padang, 01 Agustus 2016

 

Sebuah Perjuangan Untuk Sarjana

Lorong penuh kesakralan. Menghujam seram dan debaran jantung. Gemetar kaki memasuki ruang dan tatapan para peminta dan sangarnya mata. Puluhan mahasiswa duduk termangu sembari menunggu. Tentengan kertas tebal berjilid. Peluh bercucuran, kening mengerut, wajah merah padam, dan perut ciut.

Impian digantungkan pada setitik coretan tanda pengesahan. Usaha tak terkirakan pikir. Harapan tak seindah tabir. Menguak, meruah, menganga dan terdampar di sisi yang usang.

Coretan diganti perbaikan. Ulang diulang lagi. Malam berlanjut dinihari. Pagi tak terasa menjemput, fajar murung dan diakhiri hujan.

Bermimpi; ACC menghampiri kertas bertinta biru.

Padang, 02 Agustus 2016

 

Petani Berpacu Hidup

Pagi menyongsong sang surya yang cemerlang. Kaki-kaki baja petani menapak di tanah kering kerontang. Menyusuri jalan setapak yang diselimuti tebalnya embun pagi. Dingin menusuk pori-pori yang termakan usia. Waktu berlalu, hidup menuntut lebih.

Matahari terik menerpa ubun-ubun. Menjalar ke organ dalam yang letih. Dehidrasi, keringat kuyup di baju, dan wajah merah padam. Kepingan rupiah di kumpulkan. Harap sesuap nasi. Padi di sawah bertengkar dengan hama. Tikus-tikus merampas milik yang tak terampas. Memporak-porandakan benih panen yang di tuai berbulan. Babi hutan menyerang dikala sang surya lelap. Burung-burung hinggap di tangkai padi. Berburu dan menompang hidup.

Berbulan-bulan petani menanam, menunggu waktu datang menjemput berkah.

Padang, 31 Juli 2016

 

Cadarnya Pesona

Mata di balik cadar putih. Tersisakan sedikit raga, namun menggoda. Dikaukah itu relung cinta. Buat bibir ini bisu, mata ini nyalang. Hati ini berbisik harap.

Esok pagi dikau berjalan menuju rumah syurga. Elok laku dikau peragakan, senyum dikau tebarkan, buat mimpiku sakin jadi. Diantara bait-bait doa yang kusegerakan.

Dan, senja datang sebelum bianglala tenggelam. Dikau bernyanyi bersama detak jantung. Menyimak tiap canda tawa, hingga rasa tak tertahan.

Padang, 30 Juli 2016

Jika Rindu Bertamu, Kusengajai Bertemu

Malam-malamku dibaluti rindu yang terbentang. Keluh desah suara tersendat. Bungkam asaku kini tertahan, dejavu, melankolis, menjadi satu. Tangan bergetar, mata sayup-sayup menatap fotomu di dinding kamar. Merubah harap jadi getaran rindu yang tak tertahan.

Hujan turun basahi rindu. Usaha untuk mengikis relung-relung hampa tiada tara. Pekik pintu hati tertetes rerintik bulir bening. Membawanya mengalir hingga muara. Menyatu dengan asinnya air laut, bertengkar dengan ombak yang menghempas dan menerpa ke tepian. Rinduku terombang-ambing dalam buliran hujan yang beriak.

Dan, jika rindu sejatinya bertamu. Aku sengai berjumpa pada senja di dermaga kayu usang.

Padang, 03 Agustus 2016

 

===================================================

 

Redovan Jamil, kelahiran Sijunjung, Sumpur kudus 10 Mei 1993. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Ikut dan menjadi pengurus di komunitas menulis (Komunitas Daun Ranting). Perihal menulis; bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci.