Arsip Tag: Achmad Fathoni

Puisi Achmad Fathoni

Kapan Terakhir Kita Bertemu

Kapan teakhir kita bertemu? Saat itu aku telah melepas bajuku

dan siap untuk dirimu. Tapi kapan itu? Aku lupa kapan itu?

Yang masih kuingat aku menyentuh tubuhmu yang halus

lalu jantungmu berdebar-debar, keras sekali suaranya

terdengar di telingaku dan aku pun berhenti menyentuhmu.

Aku mulai menjilati bajumu, dari ujung ke ujung

sampai aku menemukan gula yang terbaik. Dan tak ada tandingannya.

Kapan terakhir aku menemuimu? Apakah mungkin kita bertemu lagi?

Aku sedang memandangi fotomu saat itu, aku lupa menuliskan tanggalnya

di foto padahal biasanya aku selalu, tapi kapan kita akan bertemu kembali?

Sempatkah kau datang, membiarkanku menyentuh tubuhmu mendengar

degup jantungmu yang mendebar-debar itu, lalu aku menjilatimu mencari

yang asin bukan yang manis sebab yang manis sudah membuatku lupa

kapan kita terakhir bertemu.

 

Malang, 2016

 

Aku Sedang Mencari Air

Aku sedang mencari air, menungggu air, dimana air?

Apakah di gula; apakah di kopi; apakah terikat

dengan penjalasan tentang air; lalu bagaimana dengan air?

Apakah kau menyimpannya? Aku membutuhkan air;

menunggunya datang lalu ku tenggak dalam-dalam.

Bagaimana dengan penjelasannya? Apakah ada yang lain seperti air,

di kopi? Bagaimana air di kopi? Aku mencari air. Pisahkan air dari kopi,

pisahkan teh dari air, peras. Aku lupa bagaiamana menemukanmu

sedang menenggak air, di atas meja dengan kopi lalu air

apakah ada penjelasan untuk air? Aku hanya butuh air.

Laut, tawar, manis, sungai, apapun aku butuh air.

Malang, 2016

 

Sudah Siang, Mulai Mengantuk

Sudah siang, mulai mengantuk,

kantong mata sudah seperti panda.

Pandanya telah tidur, kapan aku tertidur.

Jangan disamakan dengan panda,

aku berbeda. Mengantuk, sudah larut siangnya.

Ia berjalan mengelilingiku

dan mendung masuk kedalam tubuhku

dan diam-diam pergi meninggalkanku.

Bagaimana dengan daun-daun?

Apakah ia tertidur atau mengantuk sepertiku?

Aku ingin menularkan padanya,

agar tertidur bersamaku, tidur bersamaku

lalu menidurinya dan meninggalkan kekasihku, dunia.

Malang, 2016

 

Di Kota Ini Kita Akan Bersama

Di kota ini kita akan bersama,

setelah akad nikah yang telah kita lalu bersama.

Di kota ini mari kita membuat cerita, ada kasih sayang,

petaka, bencana, lalu cinta, rejeki, keramaian, kesepian,

sunyi jangan lupa. Mari kita menuliskannya

agar cepat kita merasakan kota.

Di kota ini kita bersama

sudah lebih dari sepuluh menit kita bersama

di sini selebihnya terserah kau mau apakan kota ini.

Aku menunggu kabar baik saja darimu.

Buatlah kota sesukamu sesuai otakmu.

Kota-kota wahai kota, turutilah istriku,

biarkan dia mengubahmu, sesuai dengan otaknya

dan berdoa sajalah agar tidak kebalik otaknya.

Aku menunggu kabar darimu juga.

Malang, 2016

 

Seberapa Jauh akan Berjalan

Seberapa jauh akan berjalan,

sedangkan kaki sudah lemah dan kram.

Mungkin sebentar lagi akan linu-linu, patah.

Kaki sudah putung. Kapan tangan putung?

Sebelum berjalan kembali.

Kapan mata akan melihat kedepan,

kapan bisa melihat kebelakang atau ke samping tanpa melirik.

Orang-orang selalu bilang,

hati-hati dengan paru-paru nanti ada flek ada kotoran,

jangan merokok, banyak bahayanya. Nanti mati, itu pembunuhan.

Penjarakan saja rokoknya, biar puas keluarganya.

Biar tak menangis lagi, biar tak sedih lalu kuburnya tenang.

Bukan karena rokok, karena paru-paru yang sudah berkarak

mungkin karena rokok, bukan. Karena watak yang kusam,

atau nafasnya tak bersih. Kotor, najis perlu di basuh dulu nafasnya.

Malang, 2016

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)

Puisi Achmad Fathoni

Ada Senja yang Bermain-main di Otakku

ada senja yang bermain-main di otakku,
berwarna kelabu membantang
kearah yang tak berlabuh, anginnya pun riuh,
membuntuti burung-burung menuju ke selatan
untuk berlabuh. senja bermain-main
membentuk pendar cahaya di danau; laut; air
dan juga selembar rayuan yang telah lama kumu.
kapan akan turun senja, sudah banyak orang yang bertanya
dan menunggu, tapi wajahnya direnggut kesedihan.
lalu gerimis datang menjadi bingkai sebelum
larut sebelum malam datang membawa bintang
dan mendung tipis-tipis lalu menebal.
ada senja di otakku sedang melilit kata di mataku.
Malang, 2016

 

Sepi Membunuh

sepi menikam tubuh, belati telah siap di tancapkan
tetapi mati tak lagi pasti
ruang menjadi bunting lalu malahirkan sepi yang baru lagi,
beranak pinak mengembang seperti soda gembira
di warung sebelah rumah yang dijual dengan harga mati
lalu perut mual menunggu orang keluar dari toilet umum
yang dibandrol dua ribu rupiah dengan sepasang sandal
yang di lepas di di depan pintu. tapi sayangnya terlalu kotor
toliet tersebut, baunya seperti keringat anjing kampung
yang tak pernah dimandikan oleh pemiliknya
yang bekerja di toilet umum itu.
sepi menikan tubuh, menjadikan soda tak lagi gembira
dan tak ada ruang yang bunting lagi
dan dukun beranak tak ramai seperti sebelumnya.
sepi menikam tubuh menjadikan luka
yang tak sempat sembuh sampai lupa kapan bertemu subuh.

Malang, 2016

 

Nasib Sebatang Rokok

satu batang rokok telah habis,

tiga batang lainnya menunggu dihabiskan,

satu batang rokok harga seribu lima ratus

dengan bea cukai lebih dari tiga ratus

lalu dikali empat batang rokok menjadi enam

ribu tanpa uang kembali sebab membelinya

dengan uang pas. seribu lima ratus dapat sebatang

rokok lalu di nyalakan untuk menemukan asap,

mencari sebab kematian yang terdakwa adalah rokok.

apakah rokok akan dipenjara? apakah ada lapas rokok?

mungkin orang-orang sedang bercanda,

padahal tuhan maha memafkan,

kenapa harus menghakimi padahal benda mati.

Malang, 2016

 

Tiga Jam Berlalu Melewatkan Ruang

tiga jam sudah berlalu, melewatkan ruang

yang belum bertatap muka dengan waktu

serta matahari yang belum sempat menunjukan

waktu akan terbit. begitulah telunjuk jarimu

menyentuh keningku saat subuh menjelma kabut

dan dingin bersekongkol bersama embun

membelenggu tubuh ringkih seperti ini.

tiga jam sudah aku duduk menunggu

sebelum jarimu menyentuh keningku lagi

Malang, 2016

 

================================================================

 

ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi  hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.

No Hp : 085733841571

Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)