Arsip Tag: Daruz Armedian

[Cerbung] Seperti Laut – Bag.II Tamat

Oleh: Daruz Armedian           (sambungan dari sebelumnya)

 

Tak lama, ia sudah berada di dekatku.

Tak lama, aku sudah berbenah diri.

“Maaf, membuatmu menunggu, Kak.” katanya sambil siap-siap duduk.

“Nggak apa-apa, kok.”

Ia duduk di sampingku. Dekat. Dekat sekali.

“Sebenarnya ada apa, sih, Kak?” tanyanya dengan bersamaan kerlingan matanya yang teduh.

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu, Sya. Haruskah terus-menerus murung?”

Ia diam sebentar. “Em, habisnya, masalah yang kualami begitu berat.”

“Begini, Sya. Kamu harus ngomong yang sejujur-jujurnya masalah kemarin itu. Sudah satu bulanan, loh, kamu murung kayak gitu. Nggak enak dilihat orang. Begini. Pada waktu kamu bertengkar, adu mulut dengan seorang lelaki yang aku tak tahu siapa namanya, dari mana dia, dan siapamu, mungkin pacarmu, aku mendengarkan seluruhnya.”

“Terus?”

“Ya, aku ingin tahu saja apa yang terjadi sebenarnya. Eh, maksudku kamu jelaskan padaku yang gamblang. Segamblangnya.”

Ia menghela napas. Menghirup udara segar di tepi laut yang biru.

“Seperti ini, Kak. Dia itu pacarku. Tapi tak pernah ngertiin aku.”

“Kok, cuma segitu?”

“Belum selesai, Kak.”

“Oh, belum selesai, toh.” Aku tertawa.

“Aku benci, benci, benci. Kenapa, sih. Ke bandara aja minta ditemenin. Dia nggak nyadar kalau aku sedang sibuk dan, dan katanya itu sangat penting. Dia nggak mementingkanku. Nggak nganggap kalau tugas-tugas kuliahku nggak penting.”

Aku diam. Sibuk mendengarkan.

“Lalu dia malah membawa cewek lain untuk nemeninnya. Kan, aku yang cemburu. Masalahnya aku bukan nggak mau nemeninnya ke sana. Tapi aku sibuk. Sibuk banget.”

“Terus?”

“Ternyata cewek itu tidak hanya dijadikan temen, tapi malah nginep di hotel bersama. Itu apa-apaan coba? Terus foto-foto lalu diupload di Facebook. Foto-foto mesra. Aku sebagai pacarnya wajarlah cemburu.”

“Sudah, sudah cukup. Cukup sampai di situ saja kamu jelasinnya. Sekarang, aku mau tanya. Kamu masih sakit hati?”

“Ya, jelas dong, Kak.”

“Masih mau murung lagi?”

Ia tidak menjawab. Cukup mengerucutkan bibir saja.

“Em, lalu, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya setelah ini?”

“Kok, Kakak nanya melulu?”

“Loh, kan katamu aku mau jadi sarjana psikologi…”

“Ya, nggak tahu. Mungkin masih mau murung.”

“Hahahaha,”

“Kok, ketawa?”

Aku tidak menjawab. Aku memandangi laut. Laut yang biru. Laut yang luas. Laut yang seperti tak punya tepi jika dilihat dari sini. Sejenak ada diam menyelimuti. Lantas, ia bicara lagi.

“Aku iri kamu, Kak.”

“Kenapa?”

“Aku tak pernah melihat kamu punya masalah. Hidupmu tentram. Damai-damai saja. Aku benar-benar iri.”

Aku menghela napas. “Begini, Sya. Sebenarnya, aku juga punya banyak masalah. Tapi kuselesaikan dengan tenang. Tidak diam atau bahkan berusaha lari dari masalah itu. Dan sebenarnya pula, masalah itu dari diri kita sendiri. Kamu, misalnya. Seandainya tidak pacaran. Mungkin saja tidak akan punya masalah yang seperti ini. Benar, bukan?”

Ia mengangguk.

“Nah, jika kita terlanjur membuat masalah, tentu hakikatnya disuruh untuk menyelesaikan. Bagaimana cara menyelesaikannya? Kalau aku, kembali jatuh cinta pada Allah. Ini bukan sok alim atau apa. Yang jelas aku lakukan itu dan berhasil. Sebab, hanya cinta kepadaNyalah kita bisa damai. Hati kita akan tentram. Kemudian, perlahan-lahan masalah itu akan selesai.”

Ia diam. Merenung.

“Apalagi masalahnya adalah hati. Perasaan. Kamu perlu tahu, kalau mencintai orang pastinya ada luka di dalam. Yang sewaktu-waktu bisa muncul kapan saja. Patah hati dan sebagainya. Obatnya apa? Cara menyelesaikannya bagaimana? Ya, seperti itu tadi. Jatuh cinta kepada Allah. Cinta kepada Allah. Sebab, aku yakin, Dia tidak akan mengecewakanmu. Tidak akan membuatmu patah hati.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang masih getir.

“Sebagai contoh, laut. Laut terlanjur membuat masalah. Ia membiarkan panas matahari mengurangi stok airnya. Ia tak berani mencegahnya. Masalah, kan? Itu sudah terlanjur. Tapi, ia tidak diam. ia terus berdoa kepada penciptanya agar airnya kembali. Dengan doa itu, skenario Sang Pencipta yang tak pernah ia duga, mengembalikan air itu kepadanya lewat sungai-sungai.”

Ia mengerlingkan mata. Mengerutkan dahi. Kemudian tersenyum. Senyum yang tidak lagi getir, tapi bahagia. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba hinggap di kepalanya. Ia seperti mendapat pencerahan. Kemudian angkat bicara sekarang.

“Oh, jadi ini alasan kakak terus menerus duduk memandang laut?”

“Bukan hanya itu, aku nyari inspirasi buat tulisanku tau’!”

“Benar juga, ya.”

Ia terdiam lama setelah mengucapkan kata-kata itu. Hanya terdengar helaan napas dan sesekali desau angin dari laut. Aku memandang jauh. Ia memandang jauh mengikutiku. Walaupun sebenarnya kita duduk berdekatan.

“Kita harus sering-sering jatuh cinta pada Allah. Pencipta kita. Kalau tidak, ya, mustahil kita akan menyelesaikan masalah.”

“Selama ini, aku rasa semakin jauh dari Allah.” Gumamnya. Aku suka kata-katanya. Ia jujur sekali. Termasuk aku juga yang jauh dari Allah.

“Hem, kalau sudah seperti ini, sholat, yuk. Sudah magrib.”

“Yuk!”

 

**

 

Alesia sudah tidak lagi keluar malam-malam seperti biasanya pada saat punya pacar. Ia makin sibuk dengan kuliahnya. Dan aku suka hal yang seperti itu. Masa muda memang haruslah rajin belajar. Sebelum tubuh renta.

Kini Alesia setiap kali keluar dari kosnya, juga selalu memakai kerudung. Pemberianku kemarin. Eh, dulu. Dulu sekali sebelum ia menjadi mahasiswa. Pada saat ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Ternyata ia masih menyimpannya. Tentu saja bukan hanya semakin cantik tapi juga hal itu dapat menutup auratnya. Hari-harinya sudah mulai ceria kembali. Aku ikut bahagia. Entah kenapa, seperti saat-saat ia bersedih dulu, aku selalu tak mengerti alasanku kenapa bisa seperti itu. Dan pada saat menyapaku, ada yang berbeda dari biasanya. Biasanya dengan senyuman yang meneduhkanku, sekarang bertambah mententramkan hatiku.

“Bagaimana, Sya? Sudah tidak sumpek lagi?” tanyaku suatu hari.

“Sudah nggak, Kak. Hatiku sudah plong sekarang. Memang benar katamu, Kak. Kalau semua permasalahan di dunia ini obatnya jatuh cinta pada Allah.”

Aku tersenyum. Berhasil.

“Kamu semakin cantik kalau memakai kerudung, Sya.”

Ia tersipu. Memang perempuan sering tersipu apabila mendengar puji-pujian tentang dirinya.

Begitulah perubahan drastis Alesia.

**

 

Kembali aku duduk di pinggir laut. Kali ini tidak ada perjanjian sama siapa pun. Sama sekali tidak ada perjanjian. Aku hanya ingin bersantai-santai setelah lelah mengerjakan novelku tentang kisah yang belum pernah ada yang tahu. Kisah hidupku dan ce i en te a. Kau tentu bertanya-tanya tentang siapa cinta itu. Atau sebagian ada yang menebak-nebak kalau yang aku maksud adalah Alesia.

“Kak!” suara dari belakang mengagetkanku. Sambil menyentuh pundakku secara tiba-tiba, ia juga tertawa. Suara itu sudah tidak asing bagiku. Alesia.

“Ngaget-ngagetin aja.” Kulihat wajahnya berseri-seri. Pasti ada kabar baik yang menghampirinya. “Padahal aku nggak ngasih tahu kalau aku ke sini, loh.”

“Emangnya harus ngasih tahu dulu baru aku ke sini? Ini kan tempatku menenangkan diri seperti dulu.”

“Tempatmu?”

“Tempat kita.” Tempat kita, katanya. Aku semakin tak mengerti.

“Jangan merenung mulu, ntar kesambet.” Katanya. Giginya yang gingsul itu kelihatan semakin manis.

“Ah, nggak, kok. Aku merenung-merenung amat. Lagipula, apa yang aku renungkan?”

“Ya, entahlah. Kan selain psikolog, kamu juga menulis. Pasti kebanyaklan merenung. Hati-hati kalau merenung.”

“Eh, tunggu dulu. Kelihatannya kamu bahagia banget hari ini. Ada apa?”

“Ini pertanyaan yang aku tunggu-tunggu, Kak.”

“Loh, masa’, sih?”

“Iya, beneran.” Ia terlalu bahagia, sampai tertunda-tunda mau menjelaskan padaku sedang ada apa. Ia masih ketawa-ketiwi.

“Sya, ada apa? Jelasin, dong.”

Ia baru duduk di sampingku setelah agak lama memandangi laut.

“Kak, aku jatuh cinta lagi.”

“Eh, sama siapa? Cepet amat.”

“Sama seseoranglah, Kak. Hehehe.” Ia main-main dengan kata-katanya.

“Maksudku, nama orangnya. Nggak asik kalau gitu, ah.”

“Cie, kakak ngambek.”

“Ngomong-ngomong, sakit hatinya sudah selesai belum. Kok, cepet banget jatuh cinta lagi pada seseorang.” aku merapikan kancing lengan bajuku.

“Udah, dong.”

“Takutnya sakit hati lagi, murung lagi, aku juga ikut sedih, loh. Udah dua kali kamu putus cinta kemudian sakit hati. Terus, lama lagi sakit hatinya. Walaupun yang pertama tidak lama seperti yang kedua, tetap saja kamu sakit hati, kan.”

“Insyaallah, nggak, Kak. Masalahnya saat ini berbeda. Beda banget. Orang yang aku maksud itu mau menikahiku.”

“Beneran?”

“Iya. Aku tidak bohong. Ini buktinya.” Ia mengeluarkan secarik kertas undangan. Aku baca pelan-pelan. ia benar-benar akan menikah bulan depan.

“Alhamdulillah,” gumamku. “Akhirnya kamu akan menjalani hubungan yang halal, Sya.” Ia mengangguk-ngangguk. Tentu saja masih sambil tersenyum.

Aku lanjutkan membacanya. Sampai pada nama lelaki yang akan menikahinya, aku mengerutkan kening. “Handim?” tanyaku yang sebenarnya tidak kutujukan pada Alesia.

“Handim. Iya, Handim. Masa’ kamu lupa, sih, Kak?” tanyanya.

“Iya, aku inget, kok.” Aku bernostalgia. Handim adalah kawan apaling cerdas yang pernah satu kelas denganku. Tapi, belum sempat ia lulus, sudah pidah dulu ke Singapura. Mengikuti ayahnya yang berkarir di sana. Selain cerdas, ia juga menjabat sebagai ketua osis. Ia cocok sekali dengan Alesia yang sekarang. Alesia yang berusaha keras ingin menjadi perempuan sholihah. Alesia yang adik kelasnya dulu. Alesia yang akan berusaha keras membahagiakan Handim nanti tentunya.

Aku tidak habis pikir kenapa Handim cepat lulus kuliah di Singapura, sebab itu tadi, ia anak yang cerdas. Beda denganku yang mengerjakan skripsi, satu bulan lebih belum kelar.

“Sekarang Handim di mana?”

“Sudah pulang ke Indonesia. Sekarang sudah menetap kembali ke rumah yang dulu. Ayahnya berbisnis di Indonesia lagi.”

“Oh, jadi begitu…” aku mengangguk mafhum.

“Hem, ini undangan untuk kamu, Kak.” Katanya yang lagi-lagi dilanjutkan memandangi laut. Semenjak kukenalkan kalau memandang laut yang lama membuat hati jadi tentram, ia sering memandangi perairan berwarna biru itu.

“Oke-oke. Jangan lupa aku jadi tamu istimewanya. Hahaha,” candaku yang garing.

“Itu harus. Eh, Kak. Aku tak bisa lama-lama di sini. Aku ada janji sama temen.”

“Yup, hati-hati. Lalu, semoga pernikahanmu dengan Handim nantinya barokah. Dan sekaligus hubungan yang diridloi Allah.”

Sekali lagi, ia tersenyum. Senyum yang semakin manis. Semakin manis…

 

Kupandangi laut. Walaupun warnanya masih biru seperti dulu, rasa-rasanya ada yang berbeda. Tidak lagi meneduhkan. Tidak lagi menyejukkan. Ketika Alesia beranjak pergi, kupandangi kerudungnya yang berwarna ungu, pemberianku dulu. Ada lagi yang berbeda. Tak seperti biasanya. Ketika ia bahagia, justru sekarang aku yang resah. Aku yang sedih. Di hatiku semacam ada air mata yang maha luas seperti laut.

Tiba-tiba saja aku tak berminat menyelesaikan novelku tentang aku dan cinta itu.

Alesia tidak pernah tahu kalau aku mencintainya. Sejak dahulu. Sejak sebelum ia jatuh cinta untuk yang pertama kalinya.***

 

Bantul, 1 Desember 2014

 

*Daruz Armedian, lahir di Tuban, Jawa Timur. Alumni MA Islamiyyah Sunnatunnur ini sekarang tinggal di Bantul, Yogya. Bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

email: armediandaruz@gmail.com

 

[Cerbung] Seperti Laut — Bag. I

Cerbung:  Daruz Armedian

Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.

Di sini, pertengkaran dimulai. Aku yang bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri. Pertengkaran itu dari dua insan. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang sedang membaca buku, sepertiku.

“Sya, ini salah kamu! Mengapa kamu tak menepati janji ke bandara kemarin pagi?!” teriak lelaki itu. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tidak tahu yang sejelasnya dia siapa. Barangkali mungkin pacar Alesia.

“Ha? Salah aku? sebagai laki-laki, harusnya kamu tahu. Harusnya kamu tuh, nyadar kalau aku memang benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Kan sudah aku sms!” bantah Alesia, perempuan yang identitasnya sebagai temanku. Bukan hanya itu, teman dekat. Bahkan dekat sekali.

“Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Jika aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku!”

“Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?” suara Alesia meninggi.

“Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si lelaki terpotong.

“Kamu seorang lelaki tak bisa menjaga hubungan. Aku sudah tahu segalanya. Jangan lagi mengelak. Aku sudah tahu kalau kamu selingkuh. Kamu—“

“Bodoh! Itu salah kamu. Harusnya kamu yang nyadar kalau aku juga butuh seseorang waktu itu.—“

Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.

“Kamu laki-laki cemen!”

“Apa katamu?” kata si laki-laki

“Kamu laki-laki cemen! Habisnya tidak pernah ngerti perasaan perempuan!”

Plak!

Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Alesia perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.

Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding di balik kamar kos Alesia. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.

Alesia menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.

Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.

Laptop kumatikan. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.

“Lelaki bajingan!” teriak Alesia yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi.

“Beraninya sama perempuan!” lanjut Alesia. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu. Judes.

“Kamu perempuan munafik! Kita putus!” suara itu menggetarkan. “Tak ada lagi hubungan di antara kita.”

Aku terus menyimak dan menyimak. Semakin kupincingkan telinga. Pada saat itulah…

“Oke, kamu, kamu, jangan per—“

“Jangan banyak omong!”

Prang!

Suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah lelaki yang di dalam kamar kos Alesia itu pergi. Setelah gelas pecah, kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.

Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat lelaki itu pergi setelah hujan agak reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Dengan langkah cepat menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos.  Orangnya sepadan denganku. Hanya saja dengan jaket tebalnya itulah yang membuat terlihat lebih gagah.

Seperginya lelaki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Alesia. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi nanti dulu setelah ia tenang dari masalahnya. Dari tangisnya.

Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Ah, ada-ada saja di dunia ini.

Alesia adalah tetanggaku. Ketika hendak kuliah di Jogja, ia dipasrahkan orang tuanya padaku. Mereka kenal betul denganku. Sebab rumahku dekat sekali dengan rumah mereka. Sedangkan Alesia sendiri, bukan hanya kenal betul denganku, tapi ia seperti adik.  Sungguh, ketika pelajaran apa pun, ia sering minta bantuan denganku. Ia bukan sekelas denganku, dulu. Tapi adik kelas di sekolahan yang sama. Sehingga, kadang-kadang aku dan dia sering berangkat bersama berboncengan.

Di sini, sebagai mahasiswa yang senior darinya, akulah yang harus menjaganya. Itu tujuan awal. Tapi, seiring dia mulai dewasa, dan sekaligus sudah bisa mandiri, aku juga harus mengerti. Setiap orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing. Meskipun begitu, aku masih selalu menjaganya. Walau tidak seperti dulu. Sebab orang tuanya telah berpesan seperti itu.

Yang membuatku masih dekat dengannya ada beberapa alasan. Pertama-tama, ia ngekos di samping kosku. Sampai sekarang masih di sini. Karena masih sering minta bantuan masalah kuliahnya. Kedua, ia sering pulang. Setiap bulan pasti pulang ke rumah. Maka dari itu, aku juga sering nitip sedikit uang agar diberikan pada orang tuaku. Begitulah kedekatanku dengannya. Harusya ada beberapa lagi, tapi hal tersebut tidak terlalu penting buat cerita pendek ini.

Aku duduk kembali. Suara sesenggukan Alesia sudah berhenti. Aku mulai beranjak menuju kamarnya. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.

“Sya,” panggilku pelan. Pelan sekali.

Alesia mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara. Tentu dengan isyarat mata juga.

Aku membuka pintu. Bau harum semerbak menusuk hidung. Memang seperti inilah tempat tinggal perempuan. Yang masih gadis, maksudku. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Buka. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.

“Kak,” ia angkat bicara. “Saat ini aku pengen sendiri dulu.” Terusnya pelan. Seperti panggilku tadi.

Aku menyadari itu. Sebagai mahasiswa psikologi yang hampir wisuda, aku memang harus seperti itu.

Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Alesia kembali berbicara. “Maaf, Kak.”

“Ya, Sya. Tenangkan dulu hatimu. Aku juga mau nerusin ngerjain skripsiku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.

**

Satu bulan berlalu.

Alesia masih seperti dulu. Tiap harinya dilalui dengan kelabu. Selalu murung. Setiap kali aku mendekatinya, ia bicara agar aku jangan mendekatinya. Ia masih ingin sendiri. Selalu begitu. Maka, kalau seperti ini terus. Akulah yang terluka. Entah apa sebab pastinya, aku tak tahu sekaligus tak mengerti.

Di pantai ini, langit sore cerah sekali. Biru-biru kemerahan. Atau merah-merah kebiruan. Aku rasa sama saja. Suasana seperti inilah yang kumau. Yang kutunggu. Apalagi sesekali ada sekawanan burung melintas, matahari yang condong ke barat seperti ingin menyelami laut dan memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Semakin menambah jadi sempurna.

Di sini, aku menunggu seseorang. Sebagai pembaca yang baik pada cerita ini, tentulah kau tidak perlu menebak-nebak siapa orang itu. Pasti akan aku beri tahu. Aku menunggu Alesia. Seseorang yang cantik dan tidak lupa menarik. Dan ini sudah menjadi perjanjian, dia akan menemuiku sore ini.

Bersambung….

[Cerpen] Bapak dan Sebuah Kenangan

 Oleh: Daruz Armedian

Waktu kecil, bapak sering mengajakku pergi ke sebuah jembatan di salah satu desa tempat kami tinggal. Kata bapak, jembatan adalah penghubung jalan. Kalau tidak ada jembatan, kita akan kesulitan jika mau melewati sungai. Di situlah aku selalu diberi cerita macam-macam. Banyak sekali cerita yang diutarakan, sehingga banyak juga yang aku lupakan. Yang selama ini masih kuingat adalah cerita tentang tiga orang gadis cantik-cantik. Namanya Klenting Abang, dan Klenting Ijo. Kedua Klenting itu sifatnya sangat jahat. Hati mereka busuk. Kemudian ada Klenting Kuning yang sering dijadikan musuh bagi mereka meskipun Klenting Kuning tidak memusuhi dan malah selalu berbuat baik kepada mereka. Suatu hari, ada seorang pemuda putra raja bernama Ande-Ande Lumut yang hendak mencari pendamping hidup. Ketiga gadis itu ikut mendaftar menjadi calon pendamping meski jarak rumah mereka jauh sekali dengan kerajaan. Pagi sekali, Klenting Abang dan Klenting Ijo merias tubuhnya agar terlihat elok. Sementara Klenting Kuning disuruh emaknya—yang memang tidak suka pada Klenting Kuning—mencuci piring dan perabotan-perabotan lainnya.

Klenting Abang dan Klenting Ijo berangkat. Tetapi dalam perjalanan, mereka tidak tidak menemukan jembatan di sungai yang biasa ada jembatannya. Di sana hanya ada orang usil bernama Yuyu Kangkang yang sedang naik perahu sampan. Mereka berdua memanggil-manggil Yuyu Kangkang untuk meminta tolong menyeberangkan. Tapi Yuyu Kangkang tidak mau. Meski dengan syarat apa pun termasuk uang. Kecuali mencium pipi kanan dan kiri mereka. Klenting Abang dan Klenting Ijo yang mulanya tidak mau akhirnya terpaksa mau. Sementara Klenting Kuning datang telat dan tidak sempat merias wajahnya. Dengan pakaian yang jelek pula ia berangkat menuju kerajaan. Sampai di sungai, ada orang tua yang sukarela membantu menyeberangkannya sebab Yuyu Kangkang tidak mau.

Di dalam kerajaan, ternyata Ande-Ande Lumut tidak mau memilih Klenting Abang dan Klenting Ijo karena sudah menjadi sisa Yuyu Kangkang. Akhirnya Klenting Kuninglah yang dipilih. Meski datang terlambat, dengan paras muka yang jelek karena belum merias wajahnya dan masih menggunakan pakaian jelek. Tetapi Ande-Ande Lumut tahu kalau seseorang tidak dilihat dari seberapa elok paras tubuh, tetapi elok paras hatinya.

Begitulah, kemudian bapak hanya akan menasihatiku agar menjadi anak yang baik meski sering diejek teman-teman karena menjadi anak orang miskin. Sebab, setiap kebaikan mempunyai balasan sendiri-sendiri. Begitu juga kejelekan.

Setelah itu, biasanya bapak akan pulang. Dalam perjalanan pulang, bapak memboncengkanku di belakang. Kedua kakiku ditali dengan sapu tangan dan diikatkan pada besi di bawah sadel untuk mengantisipasi agar tidak kena jeruji. Pernah aku tidak mau kakiku diikat karena tidak bisa bergerak dengan bebas. Tapi naas, benar kata bapak, aku orangnya teledor. Kakiku masuk dalam ruas-ruas jeruji yang sedang berputar. Sakitnya lebih dari seminggu tidak sembuh-sembuh.

Ketika emak marah-marah padaku karena membuat kesalahan, bapak hanya diam. Ia tidak ikut memarahiku. Meskipun kadang bapak juga kena marah karena tidak memarahi anaknya, ia tetap tidak memarahiku. Dan sekarang aku tahu, kepada anak kecil kemarahan hanya akan membuatnya minder.

Ketika aku ingin sekali punya sepeda, bapak dengan diam-diam menabung hasil kerjanya untuk membeli sepeda. Meski saat itu ia rela tidak merokok dan tidak di warung kopi berhari-hari. Padahal biasanya merokok dalam satu hari habis lebih dari lima batang. Kemudian ia mengajariku naik sepeda. Jika saat aku jatuh, emak lihat dan menyuruhku berhenti saja. Karena jatuh itu sakit. Tapi bapak tidak, ia menyuruhku bangun sendiri dan memberdirikan sepeda sendiri. Kemudian bilang nanti lama-lama juga bisa kok.

Ketika aku kecil dan tak bisa berenang seperti teman-teman, bapak menggendongku, kemudian ia berenang. Seolah-olah aku sedang naik ikan. Aku tertawa bahagia.

Waktu remaja, aku minta dibelikan hape, tapi bapak menolak. Aku marah-marah. Bapak tetap teguh pada pendiriannya, walau aku murung setiap hari. Dan saat ini aku baru mengerti, bahwa bapak tak ingin aku lalai dalam sekolah karena nanti bakalan main hape terus-terusan.

Waktu bapak ingin sekali mengantarkanku sekolah dengan motor bututnya yang dengan susah payah mengumpukan uangnya untuk beli motor itu. Aku tidak mau. Aku malu sama teman-temanku. Dan bapak tidak marah. Ia hanya tersenyum sambil berkata “hati-hati di jalan.” Lalu saat ini aku sadar, bapak saat itu hanya ingin aku bangga anaknya masih punya bapak yang mau mengantarkan sekolah anaknya.

Dan saat di perantauan ini, ketika mendengar kabar bahwa bapak sakit, sedang aku masih menjalani ujian di perkuliahan dan tak bisa pulang, bapak kutelepon, di sana ia berpesan agar aku di sini tetap baik-baik saja. Jangan terlalu gusar. Fokus saja pada ujian.

Mungkin ada saatnya aku akan dikisahkan begini:

Ada seorang bapak, tubuhnya yang renta membawa telepon pemberian anaknya ke sebuah bengkel hape, ia bertanya pada tukang servis “Pak, ini hapenya apanya yang rusak?” dan tukang servis itu menjawab “Tidak ada yang rusak.” Dan seorang bapak itu berkata dengan nada lirih “Kalau tidak rusak, kok tidak ada telepon dari anakku?”

Tidak bapak. Aku tidak ingin seperti itu. Semoga bapak tetap sehat selalu. Maafkan anakmu.**

 

* Daruz Armedian, mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga dan bergiat di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

armediandaruz@gmail.com