Arsip Kategori: Cerpen

[Cerpen] Si Bayangan

Oleh: Iwangendut

Kecepatannya tidak dapat dilihat oleh mata telanjang lagi. Oleh karena itu, ia lebih dikenal sebagai si Bayangan. Sosoknya tinggi langsing. Wajahnya cukup tampan bagi ukuran landak.

Kostum yang dipakai serba hitam, yang membuatnya semakin samar dilihat.

Matanya kemerahan bening bersorot tajam. Hidung mungil tinggi, dengan mulut yang terkatup rapat. Ia adalah landak yang sedikit bicara, banyak kerja.

Mempunyai kecepatan gerak, melebihi kecepatan suara. Tubuhnya kuat. Ia juga mampu terbang.

Didunia landak Negeri Fantasi ia adalah salah seorang pahlawan super. Yang selalu membela keadilan dan menumpas kejahatan.

Ya, seperti kejadian di Mall malam itu….

Mall begitu padat pada hari Sabtu. Cyrcum Mall adalah mall terbesar di dunia landak di Negeri Nun Jauh. Lampu benderang disetiap sudut mall. Suara musik berdentum tanpa henti.

Landak landak berlalu lalang, hilir mudik, ada yang berbelanja ataupun hanya berjalan jalan mengisi malam panjang di akhir minggu.

Disebuah sudut Restoran Cepat Saji yang ramai pula. Satu meja lebar dengan 4 kursi di tempati oleh Keluarga Profesor Smart Setiawan. Malam ini adalah pesta ulang tahun Puteri Sulungnya Lintang. 5 November 2030. Genap 16 tahun.

Lintang adalah landak yang cantik menawan. Wajahnya halus dihiasi mata biru kehijauan yang besar, hidung mungil mancung, dan bibir merah nan mungil.

Tampak bahagia malam ini.

Didepannya semangkuk es krim Mocca tinggal setengah. Disampingnya adalah adiknya Canna berbeda dengan kakaknya. Walaupun berwajah cantik, namun kecantikan tersamarkan dengan kaca mata lebahnya yang cukup besar. Menyembunyikan keindahan matanya. Dan sikapnya sangat serius. Berbeda juga dengan Lintang, yang berwatak santai.

 

Canna sedang menikmati semangkuk es krim Vanilla. Mama Deity tampak cemerlang dengan dandananya yang sempurna, disampingnya Papa Smart yang asyik dengan Semangkuk Sup Makaroni Ayam. Sudah lama sekali, keluarga ini bisa berkumpul seperti ini kembali.

Karena kesibukan yang tiada henti dari Papa Smart.Yang telah berhasil dengan penemuannya yang spetakuler. Enzim Super Sonic nya yang mampu merubah landak biasa menjadi landak super. Dan Bayangan adalah landak hasil eksperimennya.

Malam semakin cemerlang, suasa pesta pribadi sangat memuaskan.

Namun tiba tiba….

Kejadiannya begitu cepat. Landak berpakain hitam panjang yang melintas disamping meja Profesor Smart, meloncat sigap ke arah Lintang. Sambil menodongkan pistol berperedam ke kening Lintang.

Kejadiannya cepat sekali….hitungan detik…Mama Deity belum sempat berteriak…karena Dengan isyarat yang jelas..kalau terjadi keributan.

……….

Si penjahat berpakaian hitam itu tidak akan segan segan membunuh Lintang.  Sedang Canna berhasil dipeluk dan dilindungi Papa Smart.

Dan pengunjung restoran yang lain tidak berani melakukan tindakan gegabah. Ternyata disudut sudut restoran itu, telah dijaga oleh kawanan penodong itu.

Dengan todongan pistol dikening, Lintang diseret mendekati Papa Smart.

Salah satu kawanan penodong, memisahkan Papa Smart dengan Canna. Kemudian bergegas  mengikuti penodong pertama menuju lorong pintu keluar Mall. Papa Smart dan Lintang di culik oleh kawanan penodong itu.

Setelah tidak terlihat keduanya, Mama Deity berteriak histeris sambil memeluk Canna.

“Penculikkkkk…..,” teriaknya membuat heboh restoran dan Mall….setelah berteriak Mama Deity menjadi shock dan pingsan.

Bersamaan datangnya keamanan Mall yang muncul terlambat.

Pesta ulang tahun yang berakhir petaka..

**

Di semua media televisi, di media sosial, penculikan Prof Smart dan anaknya menjadi topik dan perbincangan. Hingga berita itu sampai kepada si Bayangan.

Ia sedang minum kopi di Coffe Shop Robusta, sangat terkejut. Buru buru disesap habis kopinya, di bayar dan melesatlah ia ke Restoran tempat kejadian mencari informasi..

Beruntung lah ia telah disiapkan suatu alat seperti chip mikro yang dimasukan didalam jam tangan oleh Prof Smart. Alat itu selain untuk memantau keadaan vital tubuhnya, juga bisa mengetahui posisi keberadaannya. Demikian juga sebaliknya bisa menjadi sinyal keberadaan Prof Smart.

Dengan diam-diam sambil melakukan pekerjaannya untuk membuat Enzim Super Sonic, Prof Smart berhasil mengirim kode SOS pertolongan kepada si Bayangan.

Jam tangannya bergetar dan layar kecilnya menampilkan pesan …SOS…dan posisi dimana Prof Smart disekap.

Setelah dengan cermat dipahami pesan itu….melesatlah Si Bayangan ke angkasa…melalui jalur udara..ia akan menyelamatkan Prof Smart dan anak nya Lintang.

*

Di tempat penyekapan. Lintang dan Papa Smart ditempatkan terpisah. Lintang diluar laboratorium di jaga 3 landak yang berpakaian hitam dengan senapan mesin ditangan..siap siaga.

Papa Smart ditemani Boss Penculik Mr X yang dengan serius memperhatikan Prof bekerja.

Dari meja tempat Laptop yang digunakan menghitung formula. Dan bolak balik ke meja lebar tempat mencampur formula. Diatas meja penuh gelas gelas dan tabung tabung kaca..berisi cairan beraneka warna hasil eksperimen.

Kelihatannya Prof Smart bekerja serius dan bersungguh sungguh. Padahal ia hanya mengulur waktu menunggu penyelamatan oleh Si Bayangan. Untung saja Mr X bisa dikelabuhinya.

*

Ada bayangan berkelebat tiba, dua landak penjaga dipintu gerbang gudang penyekapan, terbanting pingsan. Dan disitu telah berdiri landak tampan tinggi langsing dengan gagahnya. Si Bayangan.

Kembali melesat kedalam..membuat kegaduhan kecil sebagai pancingan. Suara gaduhnya terdengar sampai dalam.

” Bram…coba kau lihat ada apa itu,!” Max si Landak berbadan besar, memerintah landak kecil kurus Bram, melihat situasi.

Bram dengan berindap indap keluar ruangan. Diangkat senapannya lurus siap siaga. Mengintip hati hati…

Di lihatnya bayangan hitam berkelebat..dilepaskan tembakan…

” Te tet..teretet..tet..tet,” tembakan menggema menghantam dinding gudang.

Meleset…luput dari sasaran.

Bersiap melepaskan tembakan berikutnya, Bram merasa bayangan berkelebat ke arahnya….dan dirasakan pukulan tangan yang besar menghantam rahangnya.

Kemudian disusul..pukulan samping tangan menghantam telak tengkuknya.

Hasilnya Bram pingsan dengan sukses.

Suara tembakan membuat Max dan satu kawannya menghambur kedepan..melepaskan Lintang dari pengawasan.

Lintang berlari bersembunyi, ditempat yang aman. Menunggu perkembangan situasi. Namun dari tempat sembunyinya, ia bisa melihat apapun yang akan terjadi di depan.

*

Kembali ke Si Bayangan….

Max dan Pedro berindap hati hati kedepan. Syaraf mereka menegang…syuutt…sebuah bayangan berkelebat menendang pantat Pedro. Yang langsung tersungkur mencium lantai. Senapannya terpental memuntahkan peluru tidak beraturan kesegala arah. Berdecing, memantul terkena tiang besi dan sebagian terbenam didinding tembok yang terkena.

” Auu…! Tret….tret..tet..tet,”!! Senapan Max menyalak, mengejar bayangan hitam yang begitu cepat bergerak. Dimuntahkan semua pelurunya..meleset dan berpantulan balik…salah.satunya pelurui itu mendesing menghantam bahu kanan Pedro.

Sudah jatuh tertimpa tangga pula, nasib si Pedro.

Max ternyata sudah kehabisan peluru. Dengan kesal, dibuang senapannya.

Max, berdiri ditengah ruangan, berkacak pinggang. Teriaknya menantang.

” Hai…kunyuk…jangan hanya berputar putar saja. Pengecut…,” makinya kesal.

Srett…..

Si Bayangan berdiri tenang, mulutnya terkatup rapat. Menunggu Max bertindak.

“Hah…landak degil rupanya, kau. Nih..terima pukulanku, Bet..bet…hiaaat,” tiga pukulan dan tendangan beruntun dilepaskan.

Tanpa menggunakan kekuatan supernya, Bayangan meladeni serangan Max dengan tenang.

Pukulan dan tendangan ditangkis dengan manis oleh Bayangan.

Jual beli pukulan dan tendangan dilepaskan silih berganti. Beberapa kali pukulan dan tendangan Bayangan menghantam Max. Wajah dan badannya sudah bengkak memar. Darah mengalir dari ujung mata dan bibirnya.

” Puaah…! Srett….!” sebuah belati berkilat tergenggam di tangan kanan Max. Sapuanya berdesing di udara..menusuk dan membabat kearah tubuh Bayangan.

Dengan lincah, dan trengginas dielakan dan dimentahkan serangan belati Max.

Max berkelahi sambil menyumpah serapah, setiap kali serangannya dipatahkan, dan dirinya malah mendapat pukulan dan tendangan Bayangan bertubi tubi.

Hingga suatu saat..ketika Bayangan meloncat sigap sambil meluncurkan pukulan kiri kanan, hook..upper cut…swingg…bergantian datang bagai badai…dan Hiaat….

Telak tendangan kaki kanannya menghantam dada “…huakkk…,” darah segar meloncat dari mulut Max disusul pukulan uppercut..telak menghajar dagu Max…Max terjajar ..terhuyung…jatuh menabrak dinding.

Bayangan melakukan aksinya tanpa suara. Tatapan matanya juga tidak berubah. Tetap tenang.

Cool…very cool,” batin Lintang yang dengan jelas melihat perkelahian itu.

” Ha…ha…ha…jangan mendekat. Kalau tidak akan kubunuh Profesor…,” ancam Mr X sambil menyandra Profesor dengan todongan di kepala yang muncul didepan gudang.

Lintang terkejut..dan ketakutan.

Bayangan melihat sekilas ke arah Lintang. Memberi isyarat untuk tenang. Bayangan dengan tatapan tajam, mengawasi gerakan Mr X…mencari celah kosong ..untuk..

” Wuut,….!!!” dengan kecepatan penuh Bayangan bergerak…tanpa ayal lagi…

” Brakk…..;!!..tubuh tambun Mr X terpental, segera diangka dan dipantek ke dinding..baju tersangkut di belati Max…tergantung gantung pingsan.

Dan sekali lagi berkelebat, tubuh Prof Smart dan Lintang sudah dibawa terbang..

***

Pesta.

” Happy birthday…happy biryhday…happy birthday to you..Lintang,” suara nyanyian selamat ulang tahun menggema dan tepuk tangan suka cita , bergemuruh diruang pesta.

Semua terlihat bahagia. Demikian juga Lintang. Dengan wajah cantiknya yang cerah..dan mata beningnya mengerling ke arah Bayangan yang berdiri disudut.

Diberikan senyuman yang paling manis kepada Bayangan.Dengan penuh cinta dan damba.

Bayangan hanya ,” Hmmmmmm,”!! []

  • Selamat ulang tahun anak ku tercinta…ini cerita untuk mu sebagai hadiah ulang tahunmu.
  • Selamat ulang tahun yang ke 13
  • Semoga jadi anak yang pintar dan sholehah.

______________________________________________

Iwan Setiawan, lebih dikenal Iwangendut, mungkin karena tubuhnya yang benar-benar gendut. Waktu mudanya selain pemain teater juga penulis naskah dan kadang juga jadi sutradaranya. Lelaki yang pernah menimba ilmu di STIE Jagakarsa Jakarta di tengah kesibukannya mengelola Koperasi Mitra Sejahtera kini jiwanya tergugah kembali untuk menekuni dunia kreatif yang sempat tertunda. Terlebih,  dalam sesi terkini ia selain menulis cerpen dan puisi, ia lebih mendalami cerita silat seperti “Jari Sakti Menusuk Matahri” salah satu karya populernya yang telah terpublish di Wattpad

 

[Cerpen] Membunuh Ibu

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Kemarau panjang melanda hati wanita berusia setengah abad itu. Matanya tak lagi cerah sejak bertubi-tubi cobaan Tuhan menimpa rumah tangganya. Hari-hari ia habiskan dengan tangis. Meratapi mengapa kehidupan dunia sekejam ini. Tubuhnya tak lagi gemuk, hanya kulit yang membungkus tulang-tulangnya. Semangatnya tak lagi ada, hingga berjalan pun ia terpapah. Kepahitan memakan habis sisa bahagia di umur senjanya. Tak ada lagi yang tersisa, hanya bongkahan duka yang terasa menghantam keras dadanya.

~
Bik Jah, begitu warga kampung Pinangjaga memanggilnya. Ia hanya buruh cuci yang setiap hari melahap baju kotor warga yang memerlukan tenaganya. Dari helai-helai baju itulah, ia bisa mengenyangkan perut kelima anaknya. Juga suaminya yang belakangan ini jarang pulang ke rumah. Entah bersebab apa, lelaki yang tujuh tahun lebih tua darinya itu mulai jarang berdiam diri di rumah. Pagi buta sudah pergi, malamnya lupa kembali.
Bik Jah tidak terlalu memikirkan kelakukan suaminya. Baginya, anak-anak adalah alasan mengapa ia terus bekerja keras. Suaminya bukan lagi prioritas. Ditengah ekonomi yang menghimpit, rasa-rasanya cinta bukan lagi hal pertama untuk dipikirkan. Biarlah hatinya patah-patah mendengar segala bisikan tetangga. Biarlah dadanya berlubang duka dihujani tatapan rasa iba.

.
Bukan Bik Jah tak bisa marah. Tapi ia memilih mengalah. Tak ada guna meributkan hal-hal yang belum tentu terjadi, usianya sudah tua, akan malu jika tengkarnya hinggap di telinga tetangga. Anak pertama dan keduanya pun kerap berkata demikian. Keduanya sudah bukan lagi anak-anak. Marni, anak pertama, bahkan sudah menikah. Namun suaminya entah kemana. Itulah mengapa ia masih tinggal serumah dengan Bik Jah dan keluarga.

.
Sementara anak keduanya, Ahmad, senangnya berkumpul di cakro yang ada di simpang rumahnya. Pagi ke siang ia tidur, sore ke malam ia memetik gitar bersama teman-temannya. Sesekali menggoda para gadis yang lewat di sana. Ingin Bik Jah memaki dan menyeret anak lelakinya itu untuk pulang ke rumah. Namun Bik Jah sadar, anaknya bukan lagi bocah yang bisa dimarahi sesuka hati. Beberapa kali dinasehati, Ahmad tidak peduli. Beberapa kali disuruh bekerja, ia mengomel sendiri.
“Mau kerja apa, Bu? Tamatan SD sepertiku mana ada yang mau terima,” katanya ketus.
“Kerja apa saja. Kuli bangunan juga tidak apa-apa,” jawab Bik Jah kala itu.
“Malu. Gengsi!” bantahnya masih dengan nada ketus.
“Ibu kalau modal gengsi dan rasa malu, mungkin kau dan adik-adikmu tidak akan hidup sampai detik ini!” Bik Jah menatapnya tajam. Marah sekali ia mendengar jawaban anaknya.
“Itu kan ibu, beda denganku!” Ahmad tetap membantah.
Sedih rasanya mendengar kalimat itu dari mulut anak lelakinya. Sementara Bik Jah dihujani tatap penasaran dari ketiga anaknya yang masih berusia SD dan SMP. Mereka masih belum mengerti apa yang tengah didebatkan ibu dan abangnya. Sambil menahan letupan kekecewaan, Bik Jah bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar. Meninggalkan gumpalan keheranan dari raut wajah anak-anaknya.
* * *
Bik Jah masuk rumah sakit. Bukan. Bukan karena kelelahan mencuci. Bukan pula karena sakit kepala menghadapi tingkah kelima anaknya. Tapi bersebab pikiran dan rasa sakit di hatinya yang berkepanjangan. Dua hari lalu, tengkar hebat terjadi di rumah kecil itu. Rumah yang sejak puluhan tahun ia tinggali bersama suami dan anak-anaknya. Rumah yang dikenal tetangga jarang terdengar pertengkaran di dalamnya. Dua hari lalu, berubah seketika.
Pecah sudah sabar Bik Jah menghadapi suaminya. Tak tanggung-tanggung, tangisnya ia tumpahkan tanpa jeda. Isaknya terdengar oleh tetangga. Tak peduli lagi bagaimana ia akan menjawab segala pertanyaan mereka esok hari. Suaminya pulang dengan kabar menjijikkan.
“Aku sudah menikah lagi.”
Sepenggal kalimat itu merobohkan pertahanan Bik Jah selama ini. Tangisnya, kesalnya, kekecewaannya, juga rasa sakitnya kini luruh satu-satu. Malam itu, Bik Jah menangis di hadapannya suaminya. Rasa sakit hati menghantam dadanya. Mengoyak sisa kekuatannya untuk tetap bertahan hidup. Lelahnya tidak lagi diperhitungkan lelaki yang puluhan tahun menjadi suaminya. Semuanya terasa amat sia-sia.
Bagaimana bisa suaminya menikahi wanita lain tanpa seizin darinya? Bukan hanya tanpa izin, tapi juga tanpa sepengetahuannya. Cincin lain sudah melekat di jari suaminya. Itu artinya bukan hanya ia yang kini menjadi makmumnya, melainkan ada wanita lain yang kini posisinya sama dengannya. Keterlaluan! Tangis Bik Jah tak bisa berhenti malam itu. Dadanya seperti terhimpit ribuan batu. Anak-anak mengintip dari kamar, menyaksikan ibu mereka bertarung dengan air mata. Tidak ada raut menyesal dari wajah lelaki yang tak lagi muda itu. Tak ada rasa kasihan yang ia tunjukkan lagi pada Bik Jah, wanita yang telah memberinya lima orang anak.
Bik Jah masih menangis. Dihapusnya berkali-kali, tetap saja air matanya jatuh lagi. Hatinya bukan saja tersakiti oleh kabar pernikahan itu. Melainkan kenyataan baru yang dilontarkan suaminya bahwa ia telah pindah agama. Habis sudah cinta Bik Jah pada lelaki itu. Habis sudah percayanya pada ayah kelima anaknya.
Suaminya menikahi wanita yang beda agama. Dan kini, suaminya tidak satu keyakinan lagi dengannya. Bagaimana ini? Bik Jah merasakan sakit yang luar biasa di bagian kepalanya. Mendadak ia terhuyung. Jatuh berdebam di atas lantai. Sontak jerit histeris keluar dari mulut anak-anaknya. Malam itu, Bik Jah bermalam di rumah sakit.


Seminggu sudah sejak kejadian itu. Bik Jah tak lagi seperti dulu. Ia tidak lagi menjadi buruh cuci. Marni-lah yang menggantikan tenaganya. Anak sulungnya itu mendadak menjadi yang paling mengerti ketika kondisinya tengah sekarat seperti ini. Sejak kejadian menyakitkan itu, kondisi Bik Jah semakin memburuk. Habis sudah tubuhnya kini, tinggal tulang yang menampakkan bahwa kondisinya tak sebaik dulu. Kini ia begitu kurus dan lesu. Tidak ada semangat dalam bola matanya lagi. Tidak ada cerah dalam raut mukanya kini.


Cobaan tidak berhenti sampai di situ. Imah, anak ketiganya yang masih duduk di kelas 3 SMP, mendadak membawa kabar duka bagi hati Bik Jah. Tercabik lagi jiwanya. Sepertinya Tuhan belum mau berhenti menguraikan tangisnya. Bik Jah jatuh pingsan mendengar pengakuan anak perempuannya itu. Imah telah hamil di luar nikah. Tamparan keras dari Marni pun mendarat tepat ke pipi kiri adiknya. Marni murka dan menusuknya dengan kalimat berurai air mata.
Selesai menunggui pejam Bik Jah karena pingsan, Marni mendekati ibunya. Dibelainya lembut tangan sang ibu dengan penuh kasih sayang. Dihapusnya sisa air mata yang masih menempel di sudut pipi sang ibu. Betapa Marni ikut merasakan kesakitan yang dirasakan ibunya selama ini. Dengan berurai air mata, Marni memeluk erat ibunya yang lemah. Bik Jah hanya diam. Air matanya ikut tumpah.
“Maafkan kami, Bu. Sungguh, maafkan kelakuan kami,” Marni bersuara dalam isaknya. Dadanya bergemuruh hebat. Tangisnya membasahi baju Bik Jah.
Bik Jah hanya menggeleng pelan, air matanya masih tumpah, susah payah ia berkata ‘tidak apa-apa’ namun suaranya tercekat dalam dada. Tubuhnya terasa tidak lagi bertenaga. Setelah apa yang telah ia alami belakangan ini, rasanya Bik Jah tak sanggup lagi untuk berdiri. Marni melepas pelukannya. Matanya merah, pipinya sudah basah. Ia menyekanya perlahan. Lantas tersenyum menatap Bik Jah.
“Ibu mau minum susu?” tanyanya.
Bik Jah menarik sudut bibirnya. Sudah lama ia tak mendapat perhatian seperti itu dari anak sulungnya. Sekilas Bik Jah mengangguk. Marni keluar kamar dan beberapa menit kemudian, ia kembali dengan susu putih di tangannya.
“Minumlah, Bu. Habiskan.” Marni menyodorkan gelas itu pada ibunya.
Tanpa rasa curiga, Bik Jah menghabiskan semuanya. Sementara Marni tampak menahan air mata. Ia menggigit bibir bawahnya. Kuat. Kuat sekali. Bik Jah telah menghabiskan isi dalam gelas itu. Ia merasa perutnya mulai hangat, pikirannya pun demikian. Hingga beberapa menit kemudian, ia merasakan sesuatu yang aneh dalam tubuhnya. Marni mulai menangis, menutup mulutnya.
Bik Jah mulai mengejang. Kepalanya pusing tak berkesudahan. Untuk setelahnya, buih menghiasi sudut bibirnya, Banyak, banyak sekali. Tangis Marni semakin kencang, ia pegang tangan ibunya yang memucat.
“Maafkan aku, Bu. Maafkan aku…” tubuhnya terguncang hebat.
Marni dengan sengaja mencampurkan obat serangga ke dalam gelas susu itu. Tak tahan hatinya melihat ibunya menderita lebih lama lagi. Maka dengan tega, ia ingin menyudahi kesedihan itu. Baginya, sang ibu sudah cukup menderita berada di dunia ini. Dengan gila, Marni melakukan semua ini. Dengan sesak di dada, Marni tega membunuh ibunya sendiri.
Napas Bik Jah mulai jatuh satu-satu. Kesusahan ia menghirup oksigen yang tampaknya semakin sempit. Matanya berkunang-kunang. Sebelum akhirnya ia menutup mata, Bik Jah menatap Marni tuk terakhir kalinya. Sulungnya berurai air mata, memanggil-manggil namanya. Begitulah adanya Bik Jah, bahkan menghadap kematiannya pun, ia tidak pernah berburuk sangka. Baginya, lumrah manusia menyakiti, lumrah baginya untuk memahami dan memaafkan tanpa henti. Bik Jah tidur untuk selamanya, sementara tangis Marni meraung di udara.[]

 

 

 

(Penulis adalah mahasiswi tingkat akhir di FKIP UMSU, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia)

[Cerpen] KOLAT

 Oleh: Sabda Alur

Aku benar-benar ingin menemui bapak sore ini. Semenjak banyak orang sering mendatangi kuburannya, aku tak lagi bisa bermain di samping gundukan tanah yang hanya ditandai sebuah batu sebagai nisan.

Suasana agak riuh, saat aku berjongkok di bawah pohon rambutan. Semakin mendekati adzan maghrib, orang-orang semakin berjubel. Sebagian ada yang sibuk merapal do’a sambil memegangi ujung nisan, sebagian lainnya menyirami kuburan dengan air kembang mawar. Wajah mereka sangat khusyu’. Matanya terpejam dengan sedikit mendongak ke langit.

“Kau pegang kolat tadi? Aku tak percaya ada jamur macam itu,” ucap seorang lelaki yang berjongkok di sampingku.

“Ya, barangkali Jumarto kasian melihat bini dan anaknya sengsara.”

Sebenarnya, aku tak ingin melihat orang-orang datang ke kuburan bapak. Kalau sekedar menengok rupa kolat yang tumbuh di dekat nisan, tak apa. Tapi, lihatlah sore ini. Orang-orang berdo’a dan meminta banyak keinginan di kuburan bapak terutama kesembuhan penyakit dan cepat kaya. Anehnya, Lek Man, saudara bapak satu-satunya, menjual air yang katanya telah didoa’kan secara khusus di atas makam bapak.

“Kau tau, kemarin lusa ada polisi datang kemari. Mau mencabut jamur itu. Bahkan sampai digergaji, kolat tetap tak bisa terpotong. Sepulang dari Seputih, polisi itu mati ditabrak truk.”

“Pasti itu karma, Jup. Sudah tau kuburan itu angker.”

“Kau benar. Barangkali mereka tak tau, itu kuburan siapa. Jumarto memang miskin. Tapi, kebaikannya tak ada yang menandingi.”

Jamur yang tumbuh di atas makam bapak memang tak seperti jamur lainnya. Tingginya tak sampai setengah meter. Bercabang seperti pohon dengan batang dan ranting. Sudah sebulan lebih kolat itu tumbuh dan sampai sekarang tak layu. Barangkali, ini yang membuat orang-orang dari luar kabupaten datang berkunjung. Meminta banyak keinginan, membeli air Lek Man dan sedikit memberi uang untuk emak.

“Eh, itu, Samad! Yang jongkok di samping laki-laki bersarung coklat.”

Puluhan orang-orang yang berada di sekitar kuburan, menoleh ke belakang. Mereka berlari ke arahku. Pastinya akan berebut menyalami tangan kecilku ini, lalu menyantuni dengan beberapa lembar rupiah. Tak cukup sampai disitu. Mereka akan meminta dido’akan, sebab hanya aku anak bapak yang kuburannya ditumbuhi kolat. Mereka percaya do’aku mandih. Dikabulkan Tuhan.

Aku tak mau turuti keinginan mereka. Kaki ini meliuk-liuk diantara kuburan berlari pulang. Sesampai di dapur dengan nafas tak teratur, kudapati suasana rumah cukup ramai. Masih dengan nafas terpotong-potong, kulihat banyak orang berpakaian dinas polisi duduk di dekat emak. Ada pula yang berpakaian seperti sesepuh di kampung. Ya, itu memang sesepuh.

“Tak mungkin kita biarkan terus menerus. Sebulan lebih jamur itu ada disana. Lihatlah orang-orang yang selalu seliweran berdo’a dan meminta.”

“Orang-orang mulai salah mengartikan ziarah. Mereka meminta agar penyakitnya disembuhkan. Itu tak boleh dalam agama.”

“Kalau begitu, apa bapak-bapak ini bisa mencabut kolat itu? Nyatanya, dulu digergaji tak bisa. Ini bukan kolat sembarangan. Ini takdir Tuhan berikan kolat di kuburan Jumarto. Kalau bapak mau mendapat karma, silahkan saja dicoba,” Lek Man berseloroh tinggi.

“Anak buah saya murni mati tertabrak truk. Benar-benar kecelakaan. Tak ada kaitannya dengan jamur itu. Kalau kalian semuanya tak mau bekerja sama dengan kepolisian, tak apa. Tapi, kalian semua akan berurusan dengan kami, sebab tak mau berkompromi demi kebaikan bersama.”

Suasana hening. Lek Man diam. Begitupun sesepuh kampung, turut mematung.

“Sekiranya itu demi kebaikan kita semua, saya ikhlas, Pak. Alangkah baiknya jamur itu memang dipotong atau bahkan dibuang.”

“Apa yang kamu lakukan Sa’ti? Kau tak bisa lihat, hidupmu lebih baik setelah kolat itu tumbuh? Benar-benar gila kau rupanya,” mata Lek Man  mendelik. Tersirap mendengar penuturan emak.

“Jumarto itu suamiku, Man. Lagi pula, aku tak menginginkan ini semua. Untuk apa rumah berbatu bata, lantai keramik, lalu uang melimpah kalau nyatanya orang-orang menjadikan kuburan Jumarto sebagai Tuhan,” bibir emak bergetar. Tak pernah kulihat wajah seperti itu sebelumnya.

“Ah, dasar manusia tak mau diuntung. Sudah baik aku urusi keuanganmu. Tak tau berterima kasih.”

Lek Man keluar tanpa salam. Dan, emak kembali mengusap matanya yang berair.

***

Keesokannya, suasana di kuburan bapak lebih riuh dari sebelumnya. Ratusan polisi menjaga area kuburan. Berita pencabutan jamur sudah menyebar. Ada yang setuju, sebagian besar lainnya berusaha menyerang polisi.

“Keparat kalian semua. Pasti kalian celaka.”

“Kalau kalian tak percaya, lihat saja sebentar lagi.”

Suasana semakin panas. Kulihat Lek Man berada di depan orang-orang. Mengeluarkan sumpah serapah tak karuan. Petugas tak hiraukan dengungan warga. Mereka tetap menggali sampai akhirnya berhenti.

“Angkat saja bambu-bambu itu!” perintah salah seorang lelaki berpakaian polisi, yang menyuruh para penggali mengeluarkan dinding areh. Sekat di dalam kuburan yang terdiri dari beberapa potongan bambu.

Saat dinding areh diambil, para penggali tercengang. Mendadak mereka loncat keluar dari kuburan. Tersisa seorang di bawah sana.

“Ada apa?”

Penggali tadi gemetar. Mukanya pucat.

“Jamur itu, tumbuh dari kepala jenazah, Pak.”

Komandan di hadapannya tak kalah tercengang. Ia turun ke dalam kuburan. Tiba-tiba hujan turun mengguyur. Petir saling bersahutan. Padahal terik matahari sebelumnya menyengat. Komandan tadi keluar. Menghampiri penggali tadi supaya turun kembali. Penggali kembali turun membawa gergaji. Suara gesekan gergaji dan jamur terdengar keras. Lagi-lagi penggali tadi menggelengkan kepala. Jamur tak bisa dipotong. Bahkan gergajinya patah. Jamur hanya berbekas lalu mengeluarkan darah.

Sesepuh kampung terkejut. Ia menyuruh komandan menghentikan pekerjaan ini. Komandan tetap bersikukuh. Ia mengeluarkan kembali gergaji baru. Menyuruh keluar para penggali. Ia turun ke kuburan. Memotong sendiri jamur itu. Tak sampai menyentuh jamur, petir menyambar tubuhnya. Sang komandan mendadak mati. Orang-orang yang semula mengeluarkan sumpah serapah, terdiam melihat tubuh kaku komandan. Mereka tak percaya, ucapannya terbukti.

Aku yang melihat tubuh komandan diangkat dari dalam kuburan, tak kuasa menopang tubuh. Seakan Tuhan benar-benar menjadikan kolat itu sebagai mukjizat layaknya para nabi. Tiba-tiba aku ingin menemui bapak. Melihat kain kafan dan tubuhnya yang tak tak terjamah tanah meski lima tahun telah meninggal.

“Bapak,” ucapku bercampur isak tangis.

Sesepuh kampung menghampiri. Menahan tubuhku yang bergerak turun ke dalam kuburan.

Tiba-tiba saja petir datang menyambar. Kilatan cahayanya jauh lebih silau. Semua mata tak bisa memandang. Kali ini tak ada yang mati tersambar petir. Manusia ataupun pepohonan. Aneh. Tubuh bapak tak lagi di dasar kuburan. Ia menghilang. Ya, ia terangkat ke atas. Seakan ada yang membawanya terbang. Langit seakan terbelah. Tubuh bapak terus terangkat. Aku melihatnya. Tubuh bapak diangkat ribuan orang berjubah putih. Terus menaik. Tiba-tiba sesuatu jatuh di dekat kaki. Kolat. Ini kolat seperti yang ada di kuburan bapak. Panjangnya sekitar dua puluh sentimeter. Memiliki batang dan ranting. Bercabang seperti kolat yang didatangi orang-orang kemarin.

 

Sabda Alur, Bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur

[Cerpen] Sebatas Angan

oleh: Teti Hodijah

SORE ini hatiku berbunga, badan pun mendadak segar. Entahlah, aku pun tak mengerti apa sebabnya. Yang jelas, hari ini Ema, Abah dan semua adikku dapat berkumpul di tempat ini. Ah, bagai hidup di alam mimpi saja. Indah sekali.

Apakah dokter juga dapat merasakan keindahan sore ini?

Iya, mestinya orang berduit seperti dokter setiap saat berbahagia dan dapat meraskan keindahan. Bukankah di dunia ini uang telah menjadikan segalanya?

Eh, maaf dokter, aku bicara lantang. Maklum saja, dokter juga tahu siapa aku. Seorang pembantu rumah tangga yang terpaksa harus mendekam di rumah sakit akibat dari kebodohan dan ketololan.

Dokter, jangan salahkan Ibu dan Bapak. Dan juga salahkan Ema dan Ayahku, aku sangat menyayangi mereka. Itulah sebabnya, pada usia empatbelas tahun ketika baru saja sembuh dari sakit yang berkepanjangan aku rela mninggalkan kampung halaman serta saudaraku yang berjumlah enam orang. Kutepiskan masa kecil yang teramat indah. Memang, rasanya terlalu muluk bagi orang miskin seperti aku harus mendambakan suatu kebahagiaan.

Dulu, ketika aku pergi bersama Bi Ocih, Ema, Abah dan keenam adikku ngantar sampai ke pinggir jalan. Ketika beca yang kutumpangi melaju kencang, mereka menatap seperti tak berkedip. Ingin aku menjerit sambil menangis. Aku sedih berpisah dengan orang-orang yang sangat mencintai dan dicintai. Berpisah yang entah untuk berapa lama.

Kesedihan itu sempat menghilang dokter, tatkala dalam pikiranku terbayang sebuah angan, setiap bulan dapat uang gaji, bisa beli baju dan perhiasan. Sisanya ditabung buat nanti lebaran. Ou, lebaran, hari bahagia bagi seluruh umat Islam. Betapa bangganya kedua orang tua serta adikku, bila pada saat lebaran nanti bisa memakai baju baru hasil dari keringat Si Sulung. Ah,,, siapa bilang orang seperti aku tidak dapat mendambakan kebahagiaan?

Dokter, kesedihan itu ternyata masih senang menguntitku. Buktinya, Si Enci yang minta dicarikan pembantu itu ternyata tidak mau menerima aku. Karena aku masih kecil katanya. Dia kira aku tidak akan bisa bekerja. Padahal, hampir semua orang di desaku mengetahui kalau aku ini cabe rawit. Mencangkul, mencari kayu bakar, menyabit rumput, memotong padi adalah pekerjaanku di desa. Masa bekerja di dapur saja yang tidak banyak mengeluarkan tenaga, tidak mampu?

Air mata tak dapat dibendung saat itu. Aku benar-benar sedih karena tidak jadi tinggal bersama Si Enci yang rumahnya besar itu. Yang konon sanggup membayar gaji 300 ribu sebulan.  Dan Bi Ocih pun seperti kebingungan, karena bekas ongkos pulang-pergi ke desa tidak jadi diganti oleh Si Enci. Rasanya aku benar-benar berdosa, dokter. Untung saja Bi Ocih tak bosan-bosannya  membujuk, agar aku tidak berkecil hati dan menyuruhku agar banyak berdoa kepada Tuhan.

Oh ya, dokter tahu kan, siapa Bi Ocih? Yang suka berjualan lotek di belakang kantoran yang gedungnya besar dan tinggi itu. Ia sering pulang ke desa, karena banyak orang kota yang minta dicarikan pembantu kepadanya. Banyak teman sebaya yang berhasil hidupnya setelah dibawa oleh Bi Ocih ke kota. Si Tumir, Si Supti, Si konoh, Si Kiloh, kalau pulang ke desa suka membawa banyak pakaian, bagus-bagus. Pipinya yang montok bersinar itu dihiasi anting dan kalung mas. Jadi banyak teman laki yang naksir, dan akhirnya dapat jodoh. Ah, anak perempuan cepat dapat jodoh, adalah impian orang-orang tua di desaku.

Boleh dong sesekali dokter main ke rumahku. Namun perlu diketahui rumahku berupa gubuk bambu terbilang kecil. Artinya tak seimbang dengan jumlah keluargaku yang sembilan, terdiri dari kedua orang tua dan tujuh orang anak. Terbayang kan, dok?

Jika musim paceklik tiba, kami cukup saja makan singkong. Karena padi hasil panen satu kali tak mampu bertahan hingga panen berikutnya.  Di tengah kesenggangan menggarap sawah orang, paling bisa ema dan abah mencari lidi kelapa untuk dibuat sapu lidi, yang dijual dengan harga 5.00 per ikat. Kalau satu hari dapat tiga-empat ikat, ya uangnya berkisar 1.500-2.000,  dapat apa? Namun kami bersyukur karena uang itu dapat ditukar dengan ikan asin, untuk kemudian dicampur dengan rebus singkong.

***

Oya, setelah seminggu aku tinggal bersama Ma Ocih (yang tentunya merepotkan Ma Ocih), tiba-tiba ada seorang ibu cantik mencariku. Siapa gerangan? Eh, anehnya beliau seperti sudah mengenali aku. Rupanya sering melihatku kalau aku sedang bantu-bantu Ma Ocih di warung. Dan yang paling mengherankan, kok ibu ini tahun persis tentang aku. Sampai dia bicara begini: “Omih pinter ngaji, kan? Nanti ajarin anak ibu yah,” bibir mungilnya tersenyum.

Pasti Si Ma Ocih yang cerita, bahwa aku pinter ngaji. Ah, Ma Ocih, malu-maluin orang!

***

Hampir Sembilan bulan aku tinggal bersama ibu cantik itu. Beliau baik sekali. Biarpun aku sering melakukan kesalahan, beliau tak pernah marah. Itulah sebabnya, walau badan terasa letih aku tak pernah mengeluh. Aku tidak mau merepotkan Ibu dan Bapak. Mereka perlu istirahat setelah seharian pikiran dan tenaganya dikuras di kantor. Biarlah ketiga anaknya aku yang ngurus. Anaknya yang paling gede sudah duduk di SD kelas dua. Adiknya usia empat tahun –sudah bisa main sendiri. Si bungsu –masih bayi, nggak usah digendong-gendong. Anak ibu sehat-sehat sih. Ngurusnya juga nggak terlalu repot.

Dokter, kira-kira tiga bulan yang lalu kepalaku mulai terasa pusing. Biasanya, kalau keadaan di rumah sepi, anak-anak semua pada tidur, ibu dan bapak masih di kantor, rasa pusing itu terasa parah. Saat itulah aku sempat menangis. Menangis hanya karena memikirkan nasib, membayangkan keadaan kedua orangtua serta adik-adikku di desa sana. Makan apa mereka hari ini. Apakah Si Oce mencretnya sudah sembuh. Si Oding juga, waktu ditinggal pergi korengnya masih ada nanahnya. Si Ikin sering ada cacingan. Si kecil pernah terserang batuk dan suhu badannya panas sekali, mudah-mudahan tak kambuh lagi. Yang menjadi pikiran, kapankah mereka bernasib baik seperti aku, bisa makan nasi dan lauknya tiap hari?

Suatu hari, ketika pusing kepalaku tak tertahankan, aku sempat muntah-muntah. Waktu itu ketahuan oleh Ibu, langsung diajak ke Puskesmas. Namun aku tolak. Karena sejak kecil aku tidak pernah berobat ke Puskesmas. Kalau badan terasa sakit cukup dengan obat-obatan tradisional, ya dengan dedaunan, akar-akaran, atau dengan air jampi dari Ma Amot.

Aneh, setiap aku kelihatan murung, ibu selalu mengajakku ke Puskesmas, dan selalu aku tolak. Lama-lama jengkel juga aku. Kepala jadi tambah pening, mata sering kunang-kunang. Sampai suatu saat aku jatuh pingsan. Tubuhku memang panas sekali waktu itu. Ketika sadar ternyata sudah ada di kamar ini, ruang sepuluh kamar empat. Mataku sempat melihat-lihat sekeliling ruang, sepertinya banyak juga orang yang senasib denganku. Hampir semua tempat tidur di ruang ini diisi.

Yang membuat hatiku bertanya-tanya, kok Ema dan Abah tiba-tiba ada di sampingku. Darimana mereka tahu kalau anaknya sakit? Aku yakin, Bapak atau entah siapa yang memberi tahu ke sana. Dan dari mana beliau berdua punya ongkos jalan. Duh, lagi-lagi aku merepotkan orang.

Lagi-lagi aku menangis, dokter. Mengapa orang seperti aku mesti mengalami dirawat di rumah sakit yang kata orang biayanya cukup mahal? Kendatipun Ibu dan Bapak kerap membujukku agar tidak mimikirkan apa-apa, karena semua biaya beliau yang akan menanggung. Namun tetap merasa berhutang budi dan berdosa.

Kalau saja dulu mau diajak ke puskesmas, mungkin tidak akan mengalami kejadian seperti ini. Apalagi jika mengingat keadaan orangtuaku yang jauh-jauh dari desa harus menjenguk ke rumah sakit. Padahal anak-anaknya masih kecil-kecil, bahkan masih ada yang menyusui. Yang paling membuatku ngeri, Si Nyai –adikku yang baru berusia tigabelas bulan– terpaksa berhenti minum ASI karena terlalu lama ditinggal Ema kemit di rumah sakit. Si Nyai ditinggalkan di rumah Bi Esih –adik Ema yang bungsu—yang suaminya sebagai buruh kuli bangunan. Adik-adikku yang lainnya sebagian tinggal di rumah nenek, sebagian lagi dititipkan di Ceu Munah, tetangga yang baik hati.

Rupanya penyakitku bandel juga ya, dok? Sehingga suhu badanku naik, muntah-muntah dan tak mau sembuh, serta sering sekali mengalami pingsan. Menjengkelkan ya, dok? Untung saja suster-suster di sini baik-baik. Sepertinya mereka tak membeda-bedakan, baik pasen kaya maupun miskin seperti aku, mereka layani dengan wajah yang ramah.

Dan akhirnya aku mengerti, dok, bahwa sehat itu lebih berharga daripada emas murni.

Pak Dokter, saat ini aku butuh kedamaian. Kedamaian yang hakiki.  Sampaikan salamku buat teman-teman, buat suster dan semuanya.@***

[Cerpen] Perempuanku

Oleh Pone Syam

(Tidak Ada Jarak Diantara Kita)
Aku hanya bisa memandanginya dengan mata nanar. Mulutku kaku untuk menyapa bahkan untuk sekedar menyebut namanya saja. Aku menelan air liur kepedihan membasahi hatiku yang terluka. Menyesal? Benarkan kata itu berlaku untukku?
Rahmatia, begitu orang memanggilnya. Dia gadis desa dengan segudang mimpi. Kecerdasannya mampu mengantarkannya pada cita-cita tertingginya namun tingkat kecerdasan itu tidak mampu beradaptasi dengan cinta pertamanya. Otaknya seperti lumpuh jika harus berdebat dengan realita kehidupan yang diselimuti manisnya cinta dan indahnya kebersamaan.
Atas nama cinta akupun merampas semua miliknya. Hidup dengan hartanya dan juga tubuhnya.
“Aku mencintaimu, ingin hidup selamanya denganmu. Jangan pernah berfikir tinggalkanku,” kalimat mengiba diiringi adegan berlutut dengan tetesan air mata palsu mampu untuk merobohkan pertahanannya.
Semua miliknya adalah milikku tanpa sadar bahwa aku lelaki biasa dengan segudang kebanggaan. Aku butuh pengakuan. Lalu aku membuatnya tak mampu hidup tanpaku.
Segudang cita-cita yang dia bawa dari kampung untuk diwujudkan di kota kini hancur lebur. Dunianya runtuh bahkan aku bisa yakin bahwa dia tidak akan pernah bangkit dan berakhir di rumah sakit jiwa.
Kecerdasannya tidak mampu mengimbangi logikanya. Dia seperti orang gila, berjalan tanpa arah dan tujuan, kakinya melangkah tanpa alas kaki. Membuat darah bercucuran ketika menginjak beling atau meringis perih sebab panasnya aspal.
“Ifal…ifal..ifal..­.” begitu mulutnya nyerocos menyebut namaku. Akupun bangga ketika semua orang seperti berdecak kagum dengan kehebatanku.
Lelaki biasa, tidak tampan dari golongan orang miskin. Bagaimana lagi aku membuktikan kehebatanku selain membuat orang mencintaiku terlihat tak mampu hidup tanpaku.
Kemudian aku kembali padanya. Aku tahu bahwa dia masih sangat terluka namun cinta yang tulus dan amat besar untukku mengalahkan segalanya. Dia kembali menjadi Rahmatia milikku seutuhnya. Memanjakanku dengan barang mahal yang tidak pernah mampu diberikan orang tuaku.
Uang memang segalanya bagiku dan hidup dari uang Rahmatia membuatku terpandang. Benar kata orang, meski kayu lapuk dan mati jika diselimuti berlian maka akan nampak indah, begitupun denganku terlihat begitu berkharisma hingga aku sadar bahwa di muka bumi ini bukan hanya aku yang menggilai uang, ada banyak diluar sana dan salah satunya adalah Susanti.
Aku jatuh cinta pada Susanti, seniorku di sekolah dulu dan kini bertemu dengannya. Statusnya sebagai janda kembang dengan harta berlimpah hasil gono gini dari pernikahannya dengan mantan anggota legislatif.
Logikakupun lumpuh ketika berhadapan dengan cinta. Semua harta pemberan Rahmata aku gunakan untuk membahagiakan Susanti hingga Rahmatia seperti orang gila mengejar ingin membunuh susanti.
“Pilih aku atau dia?” pertanyaan Susanti membuatku menentukan sikap dibawah terik mentari di jalan raya dan tentu saja aku memilih susanti dan membalap motorku meninggalkan Rahmatia yang menjerit menangis bahkan ikut mengejarku dengan motor yang dikendarainya namun nasibnya naas, dia menerobos lampu merah dan tertahan oleh polisi lalu lintas, dari kaca spion aku bisa melihat bagaimana dia berusaha lepas dan ingin mengejarku.
Tak ada rasa bersalah bahkan ketika dia menelfon dan mengirimkan pesan tentang keberadaannya di kantor polisi. Aku dan Susanti malah tertawa dan bersyukur dengan keadaannya. Itu kali terakhir aku melihat Rahmatia dan aku melanjutkan hidupku dengan bahagia bersama Susanti.
Semua tidak berjalan indah sesuai inginku. Harta susanti ludes dengan gaya hidup kami. Susanyi menuntutku untuk menghasilkan uang banyak tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Terlintas dibenakku untuk memanfaatkan Rahmatia tetapi tak ada yang tahu keberadaannya. Rumah miliknya telah dijual dan tak ada jejak untuk bisa mencarinya.
Lalu aku dan susanti menjalani hidup bak neraka hingga seseorang menawarkan surga dunia dengan pekerjaan mudah. Cukup menjadi kurir barang haram, aku dan susanti kembali hidup mewah tetapi itu tidak berlangsung lama, Susanti tertangkap sedangkan aku… Berakhir disini, menyusun skenario hidupku sendiri.
Penjara sangat menyeramkan bagiku sebab itu aku memilih untuk pura-pura gila agar terlepas dari jeratan hukum.
-….-
Rahmatia berbalik kemudian tersenyum kearahku. Aku ingin menjerit seperti ketika dia aku tinggalkan tetapi itu akan membuatnya menyadari kebohonganku.
Rahmatia menarikku untuk duduk dibawah pohon tepat di halaman rumah sakit jiwa tempatku diobati.
“Kau tidak usah membohongiku,” katanya memulai percakapan namun aku tidak ingin mwnghentikan sikapku, bersiul dan bermain seperti orang gila sesungguhnya.
“Aku sudah mengisi kelengkapan berkasmu, aku sudah disumpah. Tidak akan berbohong meski untuk orang yang aku cintai,” kata-kata Rahmatia membuatku tertegun dan melupakan bahwa aku sedang berakting menjadi orang gila.
“Jalani ifal.. Di depan masih terbuka lebar masa depan lebih baik,” katanya lirih dengan mata berkaca.
“Tidak untukku Rahmatia,” desahku.
“Aku bisa memberimu kehidupan seperti yang kau inginkan,” ucapnya lagi lalu beranjak dari duduknya.
“Aku tidak berhak untuk kau cintai,” kalimatku menghentikan langkahnya. “Aku tidak pantas untuk kau tunggu,” kataku lagi tertunduk dan terisak. Rahmatia berbalik dan tersenyum.
“Aku tahu itu, sayangnya cinta tak kenal logika,” jawabnya lalu berbalik meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Dicintai seperti itu membuatku siap menghadapi kejamnya jeruji besi.[]

 

Pone Syam, lahir 19 November 1988 di Kota Makasar. Perempuan yang punya rnama lengkap Rahmayunawati Syam, lulus dari SMU Negeri 1 Tamalate, saat ini tengah memfokuskan diri dalam menulis prosa. Sementara –katanya, sebelum berharap ada penerbit yang tertarik karya-karya tersebut ia simpan di blog pribadinya

[Cerpen] Wentira

Oleh: Pone Syam
“Acong…Acong…Aco­ng…” Teriak histeris Mak Dini ibunda Acong, sambil menangis meraung berusaha mengejar langkah Acong yang semakin menjauh. Mak Dini yang sudah tua tidak mampu menjejeri langkah Acong, bahkan lututnya malah bergetar, membuatnya terpaksa berhenti mengejar Acong dan jatuh tersungkur ke tanah.
“Acong…Acong…” Teriak Daeng Sialle berusaha untuk menghalangi langkah Acong.
“Acong.. Mau jadi anak durhaka kamu?” bentak Daeng Sialle sambil menarik pergelangan tangan Acong.
“Daeng Sialle, mau membiayai hidupku? Hidup mak Dini?” sergah Acong sambil menarik kasar pergelangan tangannya dan melanjutkan langkahnya.
Mak Dini terus saja meradang, menangisi putra tunggalnya yang semakin menjauh. Satu persatu warga datang untuk tenangkan Mak Dini.
“Kau terlalu serakah Acong,” teriak Daeng Sialle yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Acong tanpa berbalik.
“Ratusan tahun sejak leluhur kita lahir, kita sudah hidup dari bertani, kau sendiri yang mau mengubah sejarah Acong…ukhu…ukhuk­,..” kerongkongan Daeng Sialle jadi kering sebab berteriak. Daeng Sialle jengkel dan berlari ke kerumunan warga.
Daeng Sialle berusaha untuk membopong Mak Dini ke rumahnya. Semua warga berbisik-bisik tentang keputusan Acong yang tega meninggalkan Mak Dini sebatang kara.
Tangis Mak Dini belum reda meski sudah sejam yang lalu dia sudah tiba di rumahnya. Daeng Sialle kakak sepupu Acong berusaha menenangkan Mak Dini namun Mak Dini terus saja menangis.
Wajah Mak Dini memerah, Daeng Sialle memeriksa kening Mak Dini dengan punggung tangannya, “Mak demam,” lirihnya. Harus ada cara untuk mengalihkan perhatian Mak Dini, pikir Daeng Sialle.
“Ada apa dengan Acong mak?” tanya Daeng Sialle.
“Acong ingin menikah dengan karaeng Bulan,” jawab Mak Dini lirih.
“Mimpinya kelewatan,” Desah Daeng Sialle.
“Dia tidak sadarkan diri, kita dari kasta rendah. sedangkan Karaeng Bulan keturunan bangsawan,” kata Mak Dini terisak, tangisnya kini sudah tidak terdengar lagi.
“Dia pikir dengan harta bisa membeli gelar bangsawan? Itu warisan leluhur, meski seluruh air di lautan dia gunakan untuk mencuci darahnya tetap saja dia keturunan rakyat jelata,” desis Daeng Sialle dengan penuh amarah.
“Lalu dia akan kemana mak?” tanya Daeng Sialle.
Mak Dini menghapus air matanya, bangkit dari tempatnya duduk kemudian menutup pintu dan juga jendelanya. Daeng Sialle menatap heran.
“Cerita ini tidak boleh keluar dari rumah ini,” kata Mak Dini memulai ceritanya. Daeng Sialle menatapnya penasaran.
“Aku tidak ingin ketika Acong kembali, ketika sadar langkahnya salah. Dia malah dikucilkan warga,” desah Mak Dini.
“Aku paham soal itu Mak,” ujar Daeng Sialle.
“Acong akan merantau,” desah mak Dini.
“Kemana mak?” tanya Daeng Sialle makin penasaran.
“Terlalu menggelikan, kau pasti tidak akan percaya,” Mak Dini semakin sedih.
“Andai saja dia merantau ke tempat yang benar, yang bisa dijangkau oleh nalar, Mak tidak akan pernah sedih, bahkan mendukung. Tetapi ini,” lanjut mak Dini sedih.
“Wentira,” desah Daeng Sialle dengan mata merah. Daeng Sialle bahkan meninju meja di depannya untuk bisa melepaskan sedikit beban amarah yang telah meluap.

**
“Stop,” teriak Acong menghentikan bus malam yang ditumpanginya. Semua mata penumpang dan sopir menatap Acong heran. Acong tidak peduli, dengan santainya Acong mengambil rangselnya yang diletakkan dibawah kursinya. Setelah membayar sewa bus, Acong melompat turun dari bus sambil tersenyum bahagia.
“Lanjut,” katanya sambil mengetuk badan bus. Bus tersebut melaju meninggalkan Acong yang berdiri dalam kegelapan.

Acong menyulutkan api, memberikan penerangan pada gelap yang mengelilinginya. Dengan bantuan Api dari pemantik, Acong bisa melihat keadaan di sekitarnya. Acong tersenyum manis saat melihat tugu berwarna kuning dengan tulisan “Ngawa Uwentira” yang berarti kampung tak kasat mata.
“Itu dia,” ucap Acong sambil melangkah mendekati tugu tersebut. Dia duduk bersandar di tugu.
“Menurut cerita, di tugu ini ada jembatan peninggalan belanda, jika itu bisa dilihat maka itu pertanda bahwa gerbang wentira terbuka, kalau begitu aku istirahat dulu,” kata Acong.
Baru saja Acong memejamkan mata, tiba-tiba cahaya kuning keemasan menyinari mukanya hingga membuatnya terbangun. namun dengan mata menyipit agar ia bisa beradaptasi. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Acong malah tidak bisa melihat apa pun.
Cahaya tersebut sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya cahaya itu tersisa hanya berbentuk bayangan yang melangkah mendekati Acong, sedikit demi sedikit mengecil hingga padam dan menyisakan seorang gadis cantik jelita.
“Ciri-ciri manusia Wentira, jika tidak ada garis tengah diatas bibir dan di bawah hidung. Nach gadis ini orangnya,” desah Acong.
“Apa yang kau cari ditempat ini?” kata gadis itu sambil berlutut di depan Acong. Gadis tersebut menyusun tiga buah piring yang berisikan nasi putih, kuning dan hitam.
“Aku ingin ke wentira,” jawab Acong mantap.
“Untuk apa?” tanya gadis itu kemudian duduk dengan menekuk kedua lututnya berhadapan dengan Acong.
“Untuk mengadakan perjanjian dengan ratu wentira,” ucap Acong lantang penuh percaya diri. Gadis itu hanya tersenyum, menutup mulutnya menahan tawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Perjanjian apa?” tanya gadis itu penasaran.
“Hm…hmhmm” Acong berdehem, menarik jangkungnya kemudian memperbaiki duduknya dengan duduk bersila menegakkan badan.
“Pertama, saya bersedia menikahi ratu Wentira dengan syarat, dia menjamin kehidupan mak Dini dan Daemg Sibali di kampungku,” Kata Acong mantap.
“Perjanjian selanjutnya?” tanya gadis itu.
“Kirimkan bidadari secantik kamu untuk menjaga Mak Dini dan merangkap menjadi istri Daeng Sialle agar Daeng Sialle tidak dipandang sebelah mata,” katanya dengan suara sedih.
“Apalagi?” tanya gadis cantik itu.
“Cukup itu saja,” kata Acong lemas.
“Kau yakin?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika ratu Wentira menolakmu?” pertanyaan gadis cantik itu membuat Acong terbelalak.
“Bagaimana bisa?” tanya Acong sewot.
“Aku ini manusia, bukankah kalian bermimpi ingin bersuamikan manusia?” tanya Acong dengan dahi berkerut.
“Itu betul,”
“Lagi pula, aku ini tampan,” jawab Acong sombong.
“Di Wentira banyak yang lebih tampan darimu,” jawab Gadis cantik, membuat Acong berkerut.
“Ini hanya kemungkinan,” lanjut gadis itu, “Aku tidak ingin kau menyesal,”
“Kalaupun ratu Wentira menolak, aku bersedia jadi budak,” jawab Acong lemas.
“Kenapa?”
“Demi kehidupan layak untuk Mak Dini, sejak lahir Mak Dini tidak pernah bahagia,” tuturnya sedih.
“Kau kan bisa bekerja keras di dunia nyata,”
“Gengsi dong, cakep-cakep petani,”
“Baiklah, kau tahu kan resikonya? Silahkan menyantap separuhnya, sisanya kau akan lihat di wentira,”
“Tentu saja aku tahu segalanya tentang wentira,” kata Acong mulai menyuap nasi kuning ke mulutnya.
“Kau tahu arti nasi yang kau makan?”
“Aku tahu segalanya,” jawab Acong dengan mulut penuh nasi.
“Nasi putih, itu berarti kembali ke dunia nyata,” Lanjut Acong,”Nasi kuning, untuk tinggal selamanya di wentira dan nasi hitam berarti kematian.”
“Baiklah, selamat datang di Wentira, Atlantis yang hilang,” teriak gadis itu lalu berdiri berputar hingga menghasilkan warna kuning keemasan yang perlahan menyinari dunia. Tampak hutan kopi berubah menjadi negara yang makmur dengan kehidupan modern, gedung mewah dan mobil canggih. Acong sangat takjub.
“Hohohohohoho…” tiba-tiba kerongkongan Acong terasa sakit, nasi sisa di piring yang dipegangnya berwarna hitam.
“Itulah akibatnya berbohong, penglihatanmupun membohongimu,” kata gadis cantik itu.
“Aku bohong apa?”
“Kau ke sini untuk melupakan kehidupanmu di masa lalu dan ingin hidup bahagia dengan ratu wentira yang mirip dengan karaeng bulan kekasihmu, iyakan?” bentak gadis cantik itu. Acong sudah tidak bisa menjawab apapun sebab kini sudah terkulai lemas dengan mulut berbusa hitam[*]

Baca: Cerpen karya  Pone Syam lainnya

 

 

Rahmayunawati Syam atau Rahma Yunani  lebih populernya Pone Syam, seorang penulis yang lahir dan tinggal di Kota Makasar

Lelaki Yang Terus Menangis

Cerpen Otang K.Baddy

Siang dan malam, tak henti-henti,  bahkan hingga nyaris satu minggu ini, lelaki itu terus menangis.

Tangisnya tersedu seperti anak tak diberi jajan. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Melenguh seperti kerbau lapar. Kadang pula berteriak histeris seperti ketakutan.

Anak-isteri, sanak saudara, para kerabat, tak habis pikir kenapa lelaki itu terus menangis? Beberapa dokter dan ahli nujum, pun kewalahan dan geleng kepala. Untuk yang satu ini mereka benar-benar angkat tangan, sekedar menunjukkan ketidakbecusan atas kinerja yang dipercayakannya selama ini. Lelaki berusia hampir 60 tahun itu tetap saja menangis.
“Wiiw…wiwi wiiiww….!
Wualaw…., wawawaw….wowowow….!
Aouuuwwww……!”
Demikianlah ia kerap menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang kebetulan lewat depan rumahnya.

Dibilang sakit keras  sepertinya tidak karena setiap ditanya ia selalu menggeleng. Bahkan, karena penasaran, anak-istrinya secara rahasia mencoba menelanjangi lelaki itu di ruang tertutup, siapa tahu ada luka menganga atau semacam bisul yang ganas. Namun hasilnya nihil. Tak ada luka atau pun bisul ditemukan di sana. Selain kariput sedikit faktor usia, kulit lelaki itu masih tetap mulus.

Tapi lelaki itu tak henti-hentinya menangis. Kadang tersedu seperti anak tak diberi jajan. Terisak-isak seakan merana yang dalam. Melenguh seperti kerbau lapar. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Kadang pula berteriak histeris dan menjerit-jerit seperti sakit tersiksa dan ketakutan. Tak pelak dan kadang bikin merinding tatkala suara tangis lelaki itu seperti tangisnya perempuan. Bahkan ada yang meringkiknya seperti suara kuntilanak dalam film horor.

Jika di siang tak terlalu jadi soal, mungkin suara nyaring tangis itu terhambat cuaca panas atau bising kendaraan. Yang menjadi risih jika tangis itu didengar tengah malam. Cuaca yang dingin itu telah mengantarkan suara tangis itu ke volume yang lebih nyaring dan melengking. Karenanya tak sedikit yang merasa terganggu oleh tangis itu. terutama para tetangga dekat, di pagi hari banyak yang lemas karena tak bisa tidur semalam.

Namun mereka masih bisa menguasai diri hingga tak terjadi antipati. Bahkan rasa simpati kerap hadir di benak-benak mereka yang mendengarnya. Semua berpikir mencari solusi, dan menduga-duga, mungkin penyebab tangis yang tak berkesudahan itu disebabkan dari sakit hati yang teramat dalam.

Pak Ketua RT yang merasa bertanggungjawab serta cemas merasa kewalahan. Pasalnya setiap kali ia menjenguk tangis lelaki itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangisnya terbilang aneh dan luar biasa. Yang biasanya seputar tersedu, terisak, sedikit melolong dan melenguh, ini malah menggeram seperti haraimau.

Karenanya sang ketua RT tersebut segera meghubungi Pak Kadus untuk mencari solusi terbaik. Setelah bermbuk singkat mereka berdua  segera mengumpulkan warga kampung di dekat rumah yang bersangkutan. Satu persatu, lelaki atau perempuan dewasa dipanggil dan dipertemukan dengan lelaki penangis itu. Siapa tahu dari sejumlah itu ada di antara warga yang mengeluarkan perkataan kotor yang menyakitkan. Atau tak mustahil kalau-kalau di antara mereka ada yang terlibat konflik yang bisa mengakibatkan lelaki itu merana. Sayang, di antara warga yang tak kurang dari 500 orang itu tak satu pun yang punya masalah dengan lelaki itu.

Lalu kembali ke masalah internal. Yang ini lebih memungkinkan karena dari sekian waktu lebih banyak dihabiskan bersamanya. Pertama sang istri, suatu anggota keluarga yang paling dekat dengan penangis. Dari mulai pelayanan siang atau pun malam. Misal dari cara penyajian masakan, kalau-kalau ada yang kurang garam atau pun kepedasan, hingga ke masalah hubungan intim suami-istri. Semua dijawab dengan lancar, tak hambatan yang cukup berarti. Kemudian dipanggil kedua anaknya yang masih abg, siapa tahu di antara mereka terlibat perang mulut minta dibelikan laptop, handpone atau motor baru. Yang ini pun tetap lolos, tak ditemukan kenakalan di keduanya.

Lalu apakah penyebab lelaki itu hingga terus saja menangis?

Tangis itu seperti kesedihan karena ia kerap tersedu. Merengek seperti anak tak diberi jajan. Mencekam karena melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Mungkin rasa takut dan kesakitan karena sering berteriak keras dan menjerit-jerit.

“Ya Allah, Yang punya sifat Rahmaan-Rahiim, kasihanilah lelaki itu. Jangan biarkan ia menangis terus-menerus,” seseorang memohon doa, seolah mewakili yang lainnya. Kendatipun begitu semuanya tak tinggal diam. Terus mencari informasi dan solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Penelusuran pun tak henti. Dari mulai pekerjaan atau keseharian lelaki itu. Dia itu bukan pegawai negeri atau pun pegawai swasta. Kehidupan sehari-harinya bertani, menggarap sawah, mencangkul, menanam ketela, menyabit rumput untuk pakan sapi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, ia pun tak ketinggalan dengan yang namanya Hp, komputer, dan dunia online. Dalam arti lelaki itu tak ketinggalan info terkini.

Lantas, diperiksalah lumbung padi yang ia miliki, barangkali mengalami gagal panen? Tidak, beberapa karung gabah kering cukup tersedia untuk bekal sebelum panen berikutnya . Mungkin sapi peliharaannya ada masalah -misalnya beberapa kali gagal inseminasi? Juga tidak, malah sapi itu telah bunting delapan bulan.

Lalu, kenapa lelaki itu masih terus saja menangis?

Mungkin ada rasa bosan dengan makanan yang kerap tersaji di rumah. Maka istrinya diminta membuka ingatan tentang apa yang menjadi makanan favorit lelaki itu. O, beberapa bulan lalu ia sempat meminta dibelikan martabak telor dan pepes tawon. Karenanya dengan segera dicarikan penganan yang berbahan terigu campur telor, sebagai makanan favorit utama lelaki itu. Bahkan dipesan pada pembuatnya agar penganan itu dibuat lebih istimewa, selain empuk harus lebih manis dan gurih dari biasanya. Bukan masalah kendati harganya dua atau tiga kali lipat dari harga normal. Dengan terlonjak dirumus mantap, seorang anaknya memangku setumpuk tangkupan  martabak dan langsung diberikan pada ayahnya yang tengah menangis tersedu. Namun rumus mantap itu ternyata tak berpihak, setumpuk martabak super manis, gurih dan empuk tetap ditolak.

Nah, selanjutnya gampang-gampang susah. Pepes tawon. Bagi yang suka, makanan untuk sarapan ini lebih enak daripada martabak. Benar-benar lezat dan mantap! Pasti tangis lelaki itu akan segera berakhir dan kecengengannya bakal kucar-kacir tercumbui rasa gurih dan wangi bawang. Makanya meski mahal melebihi harga setumpuk martabak, tak perlu ditawar lagi, langsung saja gobrak dibayar.

“Yang ini pasti tak akan gagal lagi, alias mantap!” begitu pikir anak-istrinya, sebelum kemudian menyerahkannya pada penangis itu. Tapi, lagi-lagi kandas tak dapat ditolak, pepes tawon itu tak mampu merubah sikap lelaki itu. Bahkan penolakkan yang ini lebih keras dan berdampak malu pada sepihak.

“Makanan model ini kata sebagian orang, haram!” katanya seraya melempar pepesan itu ke lantai. Karuan saja penganan telur jenis larpa itu berceceran di lantai.

Anak dan istrinya kehabisan akal. Mereka tak mau lagi mencari solusi. Bahkan menjadi tak sudi, dan membiarkan lelaki itu terus menangis.

Mungkin punya pacar gelap seperti lelaki lebay pada umumnya? Inisiatif ini datang dari Pak RT, dan lantas ia menelusurinya dengan sendiri. Ada firasat lain ketika ingat beberapa waktu lalu ia sempat terjatuh dari jendela kamar Mbok Romlah -janda beranak lima yang berusia 73 tahun itu. Malam itu Pak RT tersentak dan meloncati jendela tatkala di kolong rumah panggung janda itu terdengar suara batuk terhanan hingga terkentut-kentut. Ternyata yang bikin teror lucu di bawah kamar itu adalah dia, lelaki yang kelak diketahui sering menangis. Tak ada dendam kesumat antara keduanya saat itu selain saling pengertian dengan tutup mulut.

Dan lelaki yang menjabat ketua RT itu pun tak habir pikir, kenapa teman karibnya tak mau terus terang? Bukanlah ia pun merupakan sama-sama maling?

Sementara di lain hari orang-orang itu berdatangan,  saat diketahui seorang janda tua telah mati membusuk dengan kepala terpisah bekas pembunuhan.(*) Bagaimana, mggak nyambung ya endingnya? Karena itu kirimkan cerpen Anda untuk ditampilkan di sini, kalau bisa ceritanya jangan yang ngelantur seperti cerpen saya ini..hehe.. ditunggu kirimannya..

Lelaki Penjual Kenangan

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Membaca kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.

Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu. Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.

Singkatnya, aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan menangis sendirian.

Dan kamu…
Kamu masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu. Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil dengan perasaan besarnya di sini.

Setiap hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas menyebutkan namanya.

Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita dan menertawakan apa saja.

Tiga tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan teman-teman.

Perlahan, aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati. Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku. Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata semenyakitkan ini.

Hingga enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.

Aku merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku? Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.

Aku melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu malu itu.

Sekarang aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak pernah berbalas itu.
Hingga pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku dan kesibukanmu.

Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan “pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk mendapatkannya?

Lupakan! Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik. Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.

Tapi aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia, akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab. Kita pergi nonton film, menikmati milk shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu cukup menukar luka-luka lama yang ada.

Sepulang mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu. Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau menyayangiku.

Kau seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku. Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.

Sekarang, mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar, tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.

Dengarlah…
Dengan ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa luka. Tanpa duka[]

Teruntuk pria,
yang sering memanggilku Milla
teruslah berbahagia

(Penulis adalah peracik kata yang hobi ketawa. Penikmat kopi tanpa roti. Pejuang rindu tanpa temu. Mari mampir ke blog pribadinya : nandadyaniamilla.blogspot.com , siapa tahu jatuh hati.)

 

 

 

Runtuhnya Sekelumit Mimpi

Cerpen Ratna Ning

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba ia datang, menyelinap dalam hidupku yang kupikir semula telah sempurna. Entahlah…mungkin karena satu sudut hatiku yang sesungguhnya telah berpenghuni ini tiba-tiba lengang setelah penghuninya menjauh secara ragawi.
Ya, sejak kepergian Dani ke Negeri sakura untuk magang kerja dari perusahaannya, aku merasa sebelah jiwaku hilang. Melayang dan seperti kehilangan arah. Kadang akupun bertanya, kesepiankah ini? Tapi mana mungkin, hampir setiap hari kami berkomunikasi. Lewat telefon, video call, sms ataupun inbox.
Aku yakin ini bukan tentang kesepian. Hanya karena keasyikan mulanya. Di sela jeda kelengangan hari-hariku selepas Dani pergi, Ken dengan luwesnya menyelinap masuk. Memanfaatkan ruang.
“Kita bisa saling menghibur, Mira. Akupun sama, berpisah jauh dengan kekasihku entah untuk berapa lama!” dimulai dengan sebuah prolog, hari-hari manispun bergulir.
Bagiku, Ken adalah lelaki yang berbeda. Ia kocak, santai, bisa menghiburku dengan jiwa seni yang dipunyainya.
Berbincang berdua sembari menyanyikanku lagu-lagu romantis dengan petikan gitarnya adalah salah satu moment romantis yang mengisi hari-hariku semenjak kenal dekat dengan Ken. Kutemukan rasa baru dengannya. Ken membuatku bergairah. Sedangkan Dani, ketenangan dan kebersahajaannya masih tetap menjadikan ia istimewa di hatiku. Dani membuatku merasa nyaman dan berharga. Kupikir, dua lelaki yang hadir dalam hidupku kini mempunyai style yang berbeda, sehingga dari keduanya aku tlah diberi mimpi-mimpi indah meski masih belum sempurna.

***
“Aku mencintaimu, Ra! Entah kapan perasaan itu hadir. Padahal kita sudah saling tahu kadaan kita sejak kita saling kenal. Tapi entahlah…rasa itu semakin hari semakin tumbuh, besar. Sampai akupun sudah tak mampu lagi menguasai logikaku!” Ken sudah nongkrong di depan wajahku dengan semburat sendu.
Aku hanya menunduk. Diam. Tak berusaha menjawab iya ataupun menampiknya. Tiba-tiba saja aku dirubung kebingungan.
“Ra…”Ia bergeming, tangannya meraih tanganku. Lalu tanpa bisa kucegah..
Cupp! Tanganku ditariknya ke bibirnya. Aku menggelinyar. Ada debar yang begitu parah dengan kejadian yang secepat kilat itu.
“Ngomong dong Ra! Apa kamu punya perasaan yang sama denganku? Atauuu…salah dengan semua yang kurasa ini? Perasaanku….”
Aku menggeleng. Kubekap mulutnya dengan kedua jariku. Mataku nanap menatapnya.
“Tidak Ken! Tak ada yang salah. Setiap orang berhak jatuh cinta. Boleh mencintai siapa saja. Bukankah cinta tak mengenal tempat untuk jatuh? Tapi…cinta juga tidak buta. Ia bisa memandang dengan akal sehat si empunya rasa untuk bisa memperlakukan rasa cinta itu jika memang ada kenyataan lain yang membuatnya tak bisa memiliki. Aku…akupun merasakan hal yang sama….” Kataku tersendat. Mata Ken begitu kejora menatapku.
“Betul Ra?”
Aku mengangguk. Lantas kubawa tundukku. Meredakan rasa yang tiba-tiba bergolak. Haiii…keep calm Ra. Kuasai akal sehatmu. Bukankah kamu sudah punya Dani? Tapi…bolehlah jika bisa bermain hati sedikit. Menjalin sebuah hubungan manis. Dan jatuh cinta? Bukankah setiap orang berhak jatuh cinta? Jatuh cinta! Bukan berarti harus saling memiliki. Toh kita tak dapat mencegah. Itu manusiawi. Orang bisa jatuh cinta ribuan kali pada orang yang berbeda di sepanjang hidupnya. Itu haya tentang rasa. Toh hati nanti tetap saja akan memilih salah satu diantaranya. Dua sisi hatiku saling mempengaruhi.
Di hadapanku, Ken senyum-senyum penuh arti. Tangannya bergerak mengacak rambutku. Membelainya lembut. Mengusap-ngusapkan jemarinya pada ubun-ubunku. Untuk sesaat aku hanya diam, merasakan perlakuan manis Ken. Hatiku terasa hangat.
“Kita akan melalui hari-hari kita dengan warna-warna cinta ya Ra. Aku akan selalu ada buat kamu. Begitu juga kamu. Kita akan saling mengisi…” bisik Ken.
“Kita?” Aku tersentak, menyadari sesuatu. “Tapi Ken…aku ragu. Aku tak mungkin bisa melupakan dan membuang Dani begitu saja dari hatiku….”
“Haiiii…kau kira aku juga bisa melupakan dan membuang Intan dari hidupku? Rasanya aku ragu juga. Aku tak siap kehilangan Intan. Tak mungkin!!” sabot Ken dengan suara tegas.
“Jadiiii??” kutatap mata romantisnya dengan rasa kebat-kebit.
“Yaaa..sementara mereka jauh dari kita apa salahnya kita jalani saja jalinan cinta ini diam-diam…”
“Artinya? Kita? Selingkuh?”
“Tapi indah khannnn?” Ken setengah menggoda. Aku tersenyum. Lebih untuk menetralisir suasana hatiku yang tiba-tiba acak-acakan tak karuan.

***
“Sedang apa sayang?”
“Menangis!” kutuliskan jawaban dengan memijit kalimat itu di inbox.
“Lho? Menangis kenapa?” Jawaban dari sana tak kugubris. Diam menunggu reaksinya.
“Dani paham apa yang Mira rasa…” tu khan, seperti tak sabar ia meneruskan jawabannya.
“Tapi tolong Mira dengar! Dani pergi untuk Mira juga. Untuk masa depan kita. Demi rasa sayang Dani sama Mira. Mira tahu, untuk mewujudkan rumah impian di hati kita, cinta saja tidak akan cukup Ra. Kita tak mungkin bisa hidup dengan ngucapin cintaaaa melulu tiap hari. Dani juga gak bisa kasih makan Mira cukup dengan say I love u. Dengan cinta Dani, Dani ingin mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh, kuat, dengan pilar-pilar yang megah, taman yang indah. Bangunan hati dan bangunan yang sesungguhnya. Cinta yang akan kita bangun di kehidupan rumah tangga nanti, sayang. Kamu yang sabar ya? Dani tak hanya ingin membuat Mira cinta mati sama Dani. Tapi Dani juga ingin memberikan keyakinan dan kebanggaan di hati Mira hingga Mira tak akan merasa menyesal tlah memilih Dani untuk Mira cintai. Mira ngerti khan?”
Aku mengangguk, meski Dani tak dapat melihat anggukanku. Seperti juga, ia tak bisa melihat luruhan air mataku yang semakin menderas. Rasa sedih, sepi, terharu bercampur aduk dengan rasa bersalah yang membuatku tak berdaya akhir-akhir ini. Tiba-tiba saja aku merasa kerdil di hadapan Dani yang begitu kuat menjaga dan memperjuangkan cintanya sementara aku? Aku malah asyik membagi hati disini. Betapa tololnya!
Satu kotak obrolan terbuka.
“Sayaaannggg….” Ken dengan sapaan manjanya.
“Iya!” kujawab dengan singkat. Masih menunggu Dani melanjutkan obrolan.
“Dingin banget jawabannya…” datang lagi rentetan kata dari ken. Tanganku berpindah box lagi.
“Truss? Mesti gimana?” send lagi.
“Bosen ya sama aku?”
Kuhela nafas, kesal. Ken selalu begitu. Jika telat menjawab sms atau inbox, begitupun kalau telefon tak sempat diangkat, ia akan melontarkan pertanyaan serupa. Huhh! Jenuh juga lama-lama.
“Kamu selalu bertanya seperti itu. Ken, jangan kayak anak kecil deh!”
“Abisnya, kamu gak ngerti sayang, aku tuh lagi butuh kamu. Aku galau banget niii…:”
“Whats? Galau? Makhluk apa tuh? Kamu tuh lelaki dewasa Ken. Bukan ababil lagi. Jadi dah gak penting deh bergalau ria…”
“Emang orang dewasa gak boleh galau ya? Justeru orang dewasa yang banyak galau. Banyak masalah.Kamu sama saja dengan Intan. Selalu gak punya cukup waktu untukku. Aku putus asa dengan hubungan kami, Mira. Intan selalu menyuruh aku setia menunggu, tapi iapun selalu tak punya cukup waktu untukku…padahal…”:
“Heiiii..jangan underestimate dulu. Dia disana bukan sedang liburan, sedang kerja Ken. Ya pastilah hari-harinya mesti lebih focus sama kerjaan. Kamu harusnya mengerti. Bukan malah kolokan begitu. Nanti bisa jadi beban buat Intan. Kasihan khan?”
“Entahlah…”
“Aku sudah gak mood. Kerjapun jadi malas. Gak ada semangat.sorry, kayaknya aku juga bakal jarang ngehubungi dia. Mungkin ngehubungi kamu juga. Aku lelah Mira!”
Obrolan berakhir. Notifikasi aktif yang berwarna hijau padam. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab.
“Mira sayang…sudah tenang kan sekarang?” inbox dari Dani muncul lagi.
“Baik-baik ya disana. Ingat selalu, Dani tuh sayaaang banget sama Mira. Dani ingin menjaga Mira seumur hidup Dani. Jangan khawatir sayang! Harus yakin. Oke? Dani off dulu ya?”
“Iya sayang. Mira sayang sama Dani!” jawabku mengakhiri obrolan.
Hening. Aku mencangkung di depan laptop yang masih menyala. Memikirkan kembali dua lelaki yang sempat menjadi dilema. Dani dengan kesederhanaan dan kesabarannya. Cintanya yang begitu besar yang membuatnya tegar menggapai dunianya. Ia begitu hidup dengan cinta yang tumbuh besar di hatinya. Ken, cowok yang mulanya begitu menarik dengan sifat humoris, romantis dan sempat mengantarkanku melayang dalam dunia angan tentang cinta yang begitu elegant. Tapi setelah berjalan dan merasakan setiap moment yang terjadi, Ken itu tak lebih cowok pendamba cinta yang begitu melankolik, rapuh dan mudah patah. Dibalik kekonyolannya ia adalah cowok egois yang keras hati. Tiba-tiba saja aku seperti disadarkan dari tidur dengan mimpi indah tentang seorang pangeran idaman.
Ahh, hidup ini bukanlah mimpi. Pangeran idaman itu haya hidup dalam mimpi. Sedangkan lelakiku yang sesungguhnya adalah dia yang sudah bersemayam indah di hatiku. Dia yang sesungguhnya sudah betah mendiami singgasana dan tak bisa lagi tergantikan.
“Laki-laki yang lembut hati tapi kuat dalam karakter dan pendirian. Mampu survive dan bisa mensugesti untuk suatu kemajuan, yang mampu menenangkanku dengan cintanya yang dibarengi keyakinan, dialah lelakiku!”
Di episode ini aku berhenti. Berhenti tuk melepaskan sekelumit impian yang sempat singgah. Ya, ken bagiku hanyalah sebuah impian. Karena pada kenyataannya, aku tak bisa beranjak untuk menjatuhkan pilihan pada ken meski aku sempat menjatuhkan hatiku dalam sebuah kekaguman yang berlebihan.
Kembali berjalan menggandeng hati Dani. Ialah lelakiku. Seseorang yang meskipun bersahaja tapi tak pernah melonggarkan ikatan kasihnya meski terpisah ribuan mill. Lelaki yang selalu memanggilku dengan kelembutan hatinya, tuk sentiasa kembali dan mendiami sudut indah dalam bangunan kami.
***

Biodata:

Ratna Ning, lahir di Subang Jawa barat pada tanggal 19 September. Mulai menulis pada tahun 1994. Pada tahun itu pula tulisannya di muat di media massa Kawanku. Dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2005 aktif menulis di Media Massa. Beberapa tulisannya berupa cerpen, cerpen islami, puisi, Cerpen daerah dimuat di beberapa Media Massa Nasional diantaranya Kawanku, Ceria Remaja, Annida, Muslimah, Puteri, tabloid Jelita dan beberapa media daerah dan instansi. Sempat vakum dari 2005 sampai dengan 2012. Padah tahun 2013 beberapa antologinya baik yang digawangi sendiri maupun yang ikut event telah dibukukan.
Ratna Ning bisa dihubungi di facebook Ratna Ning. Twitter ratnaning6. Ratnaning597Blogspot.com. No. kontak 087726550820.

 

Apa Hukumnya Menikah Bagi Kinata?

Cerpen: Redovan Jamil 

Ketika makan malam keluarga kecil itu. Tiba-tiba semua mata tertuju pada Kinata. Komat kamit mulutnya mengunyah nasi serta lauk, lalu sambil menundukkan kepala ia berucap, “Aku tidak ingin menikah. Batalkan saja pertunangan yang telah kita jalin bersama keluarga Duri!” Ibunya Kinata bingung atas apa yang dilontarkan anaknya. Hanya tinggal hitungan hari pesta itu akan segera diselenggarakan.

Kelopak mata jingga Kinata kini telah berat dengan bongkahan air yang ingin buncah. Setitik. Dua titik. Kemudian pecah dan mengalir deras membanjiri pipinya.

“Bapak dan ibu tidak bisa jadi panutan untukku. Keluarga ini tidak pernah akur. Siapa yang akan aku contoh? Apa untungnya sebuah pernikahan? Dan apa juga hukumnya menikah bagi seorang laki-laki?”, gerutu Kinata dalam hatinya yang  penuh pergolakan.

Peperangan hebat terjadi pada dirinya. Masa lalu atau masa depan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, terdengar kabar Kinata tertawa-tertawa sendiri sepanjang jalan di kotanya.

***
Mimpiku telah sirna,
Bersama petang tenggelam,
Kekosongan akan abadi,
Dalam gelap-gelap malam.
 

Lembabnya sisa air hujan semalam membasahi dedaunan di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Kinata. Kiri-kanan rumahnya ditumbuhi oleh pepohonan yang sengaja ditanam untuk menyejukkan kota. Program penanaman itu bertujuan untuk pengendalian ekosistem yang sudah mulai tidak stabil. Masyarakat yang tidak tahu benar akan hal itu menyetujui saja. Maka tumbuh suburlah beberapa pohon pelindung di sepanjang jalan di kota itu.

Terlihat Kinata tengah termenung sembari duduk di beranda rumah. Sarjana muda itu belum mendapatkan pekerjaan. Usai perayaan wisuda yang sudah beberapa bulan lalu, ia habiskan hari-harinya membantu orang tuanya bertani. Paginya ikut ibunya ke kebun untuk menyadap karet. Dan siangnya ia bekerja di sawah.

Sekarang adalah musim panen. Padi-padi telah menguning. Hamparan keindahan persawahan itu tersaji indah di depan mata. Bertumpak-tumpak sawah milik petani sudah siap untuk di panen. Terlihat Kinata tengah menyusuri pematang sawah sembari mengamati padinya siang itu. Wajah tersenyum dan hatinya berkata, “Sawah adalah taman kanak-kanakku, sebelum kehadiran lelaki asing itu. Apakah waktu bersedia berbalik haluan?”

Semua masa kecilnya itu sempurna hadir. Tidak sanggup ia menepis kenangan yang membuatnya rindu akan kedamaian itu. Di mana ia berlari sebisanya di dalam lumpur sawah. Memancing belut. Mengamati senyum ayah kandungnya yang penuh takjub pada kelihaiannya membuat pematang sawah.

“Anak bujangku yang pintar dan tangguh. Jagoan bapak yang nomor satu”,  ucapan ayah kandungnya sambil mengacungkan jempul ke udara. Kinata tersenyum penuh dengan rasa bangga. Anak kecil yang haus prestasi dan pujian dari orang yang dicintainya.

Kini Kinata telah beranjak dewasa. Orang asing selalu hadir di dalam keluarganya. Merenggut semua kebahagian yang dulu ada. Kinata sudah memvonis dalam dirinya bahwa lelaki itu adalah orang asing baginya. Selalu asing. Sampai detik ini.

“Kenapa IP kamu dari semester ke semester selalu menurun? Semester sebelumnya satu mata kuliah yang tidak tuntas. Untuk sekarang bertambah menjadi dua”, ibunya Kinata kesal sembari membaca lembaran nilai semesternya. Kinata hanya menundukkan kepala. Jika ibunya memarahi atas penurunan prestasinya, ia selalu mencoba tidak melawan. Walau di dalam hatinya banyak pernyataan-pernyataan pembelaan yang ingin ia lontarkan. Tentang keluh kesah yang menganjal di dalam dadanya. Tetapi kali ini ia hanya sanggup menahannya. Mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.

Tubuh Kinata terasa lemah dan tidak berdaya. Ia tidak ingin mengerjakan apa-apa. Kinata mengurung dirinya di kamar. Terdengar ibunya memanggil dan menyuruhnya ke kebun. Ia pura-pura tidak mendengarnya.

“Sarjana macam apa anakmu itu? Kerjanya hanya bermalasan saja. Disuruh kerja tidak mau. Lebih baik pergi saja dia dari rumah ini!”, terdengar sayup-sayup perbicangan lelaki asing itu dengan ibunya Kinata. Ibunya hanya diam. Tidak memihak siapapun. Lelaki asing itu terus memaki-maki Kinata. Menghujat semua kesalahan Kinata. Kinata hanya diam di dalam kamarnya.

‘Aku adalah orang asing, semenjak kedatangan lelaki asing itu di ramah ini. Aku adalah orang baru di rumah sendiri.’ Air bening telah mengalir di pipinya. Ia rindu akan ayah kandungnya. Orang yang menjadi jagoannya sekaligus teman bermain baginya. Orang asing itu tidak akan pernah sanggup menggantikan posisi ayah kandungnya. Sampai kapanpun.

***

“Apakah benar apa yang dibicarakan tetangga akhir-akhir ini Suharti. Tolong berikan penjelasan kepadaku?”, ayah kandung Kinata ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”, ibu menyergah ayah kandungnya Kinata.

“Berikanlah penjelasan yang pasti, Suharti! Saya tidak suka berbelit-belit.” Ayah Kinata mencoba mengendalikan emosinya. “Iya. Memang benar apa yang dilihat dan dibicarakan tetangga kita”, ibunya Kinata berucap tanpa ada penyesalan pada raut wajahnya.

Ayah Kinata hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka setega itu istrinya menghianati pernikahan mereka yang tidaklah seumuran jagung. Beraninya ibu Kinata membawa lelaki asing ke rumahnya. Ayah Kinata pergi beberapa hari dari rumah hanya untuk menjali tugas dinas dari sekolah. Selama itu wanita yang dari dulu ia cintai dan ia banggakan tega berselingkuh. Mengakui semua kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ayahnya Kinata sungguh kecewa. Hatinya tidak sanggup menerima kenyataan yang berdiri tegak di hadapannya.

Malam itu Kinata tidak ada di rumah. Ia tidak tahu pertengakaran hebat yang terjadi antara ibunya dengan ayah kandungnya.

“Ayah mana, Bu?”, dengan polosnya Kinata bertanya pada ibunya.

“Ayahmu sudah pergi semenjak tadi malam”, jawab ibunya datar. Mencoba untuk mengalihkan percakapan.

“Ayah dinas lagi, Bu?”, lanjut Kinata dengan penuh tanda tanya. Ia sudah menunggu kepulangan ayahnya beberapa hari ini.

“Ayahmu pergi selamanya. Mungkin tidak akan pulang lagi”.

Wajah Kinata merah padam.

Setelah ibunya mejelaskan semuanya. Semenjak itu Kinata benci dengan ibunya. Kinata sangat merasa kehilangan. Ia selalu menunggu ayahnya untuk kembali ke rumahnya. Tapi ayahnya tidak kunjung pulang. Hari-hari Kinata dipenuhi kesedihan dan kerinduan terhadap ayahnya.

***

Waktu makan malam, ibunya meminta waktu untuk membicarakan hal serius. Kinata hanya memasang wajah datar. Apapun yang ingin dibicarakan ibunya, baginya tidak penting. Kinata tidak begitu peduli lagi dengan ibunya, apalagi tentang masa depannya. Kini Kinata tidak memiliki semangat hidup. Rasanya ia ingin mencari ayahnya. Tapi ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Sampai saat ini Kinata tidak pernah lagi mendapat kabar dari ayahnya.

“Ibu ingin menikah lagi. Ibu harap kamu menyetujui rencana ini!” Beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang menghujam jantung Kinata. Kalimat yang dilontarkan ibunya bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang tanpa ada kata penolakan yang keluar dari mulut Kinata.

Kinata memandang wajah ibunya lamat-lamat untuk beberapa detik. Kinata dapat menafsirkan bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah sesuatu yang sungguhan. Kinata meletakkan sendok makannya dengan sembarangan dan meninggalkan bunyi yang keras. Berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Baginya kalimat yang disampaikan ibunya adalah sebuah kewajiban untuk sepakati.

Perasaan Kinata tidak karuan. Otaknya dipenuhi rasa benci terhadap ibunya. Setega itu ibunya menikah dengan orang lain dan menggantikan posisi ayahnya. Kinata mengurung diri di kamar dan tidak keluar-keluar.

***

“Siapa yang kamu bonceng kemarin siang? Ada tetangga yang bilang”, ibunya Kinata melontarkan pertanyaan kepada lelaki asing itu.

“Ooo…perempuan itu. Dia adalah teman lamaku, kebetulan bertemu tadi di pasar. Jadi aku mengantarnya pulang,” jawab lelaki asing itu seadanya sembarai memainkan cigaret.

“Sudah sering tetangga melihatmu bersama perempuan itu. Sekarang jujur saja”.

“Siapapun perempuan itu, memang bagaiman?”, dengan suara tinggi lelaki asing itu membentak ibunya Kinata.

“Apakah dia selingkuhanmu?”

“Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”. Persis dengan kalimat yang pernah dilontar ibu Kinata kepada ayah kandungnya. Air mata ibunya Kinata telah buncah dan menghujani pipinya. Semua telah terjadi. Kekecewaan telah terbalas kekecewaan. Tidak ada yang harus disalahkan, selain diri sendiri.[]

 

Biodata

Redovan Jamil, lahir Padang Benai pada 24 tahun yang lalu. Profesi  karyawan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia yang bertugas di Kepulauan Meranti, Riau. Ingin menebarkan virus cinta literasi kepada anak-anak marginal/ujung negeri. Berbagi apa punya, menuai apa yang disemai. Antologi puisinya juga pernah tergabung dalam Puisi Penyair Nusantara 6,5 Luka Pidie Jaya: 2016, Sajak Hujanku: 2016, dan Antologi Sajak-sajak Anak Negeri: Sajak Angin: 2017. Karya dan tulisannya juga pernah dimuat di media lokal dan nasional seperti Riau Post, Haluan Singgalang dan Rakyat Sumbar serta media online lainnya. Alamat Yayasan Fitrah Madani Meranti, jln. Siak no.70A Selatpanjang, pos 28753. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email redovanjamil1993@gmail.com, dan Facebook atas nama Redovan Jamil