Arsip Tag: Cerpen

[Cerpen] KOLAT

 Oleh: Sabda Alur

Aku benar-benar ingin menemui bapak sore ini. Semenjak banyak orang sering mendatangi kuburannya, aku tak lagi bisa bermain di samping gundukan tanah yang hanya ditandai sebuah batu sebagai nisan.

Suasana agak riuh, saat aku berjongkok di bawah pohon rambutan. Semakin mendekati adzan maghrib, orang-orang semakin berjubel. Sebagian ada yang sibuk merapal do’a sambil memegangi ujung nisan, sebagian lainnya menyirami kuburan dengan air kembang mawar. Wajah mereka sangat khusyu’. Matanya terpejam dengan sedikit mendongak ke langit.

“Kau pegang kolat tadi? Aku tak percaya ada jamur macam itu,” ucap seorang lelaki yang berjongkok di sampingku.

“Ya, barangkali Jumarto kasian melihat bini dan anaknya sengsara.”

Sebenarnya, aku tak ingin melihat orang-orang datang ke kuburan bapak. Kalau sekedar menengok rupa kolat yang tumbuh di dekat nisan, tak apa. Tapi, lihatlah sore ini. Orang-orang berdo’a dan meminta banyak keinginan di kuburan bapak terutama kesembuhan penyakit dan cepat kaya. Anehnya, Lek Man, saudara bapak satu-satunya, menjual air yang katanya telah didoa’kan secara khusus di atas makam bapak.

“Kau tau, kemarin lusa ada polisi datang kemari. Mau mencabut jamur itu. Bahkan sampai digergaji, kolat tetap tak bisa terpotong. Sepulang dari Seputih, polisi itu mati ditabrak truk.”

“Pasti itu karma, Jup. Sudah tau kuburan itu angker.”

“Kau benar. Barangkali mereka tak tau, itu kuburan siapa. Jumarto memang miskin. Tapi, kebaikannya tak ada yang menandingi.”

Jamur yang tumbuh di atas makam bapak memang tak seperti jamur lainnya. Tingginya tak sampai setengah meter. Bercabang seperti pohon dengan batang dan ranting. Sudah sebulan lebih kolat itu tumbuh dan sampai sekarang tak layu. Barangkali, ini yang membuat orang-orang dari luar kabupaten datang berkunjung. Meminta banyak keinginan, membeli air Lek Man dan sedikit memberi uang untuk emak.

“Eh, itu, Samad! Yang jongkok di samping laki-laki bersarung coklat.”

Puluhan orang-orang yang berada di sekitar kuburan, menoleh ke belakang. Mereka berlari ke arahku. Pastinya akan berebut menyalami tangan kecilku ini, lalu menyantuni dengan beberapa lembar rupiah. Tak cukup sampai disitu. Mereka akan meminta dido’akan, sebab hanya aku anak bapak yang kuburannya ditumbuhi kolat. Mereka percaya do’aku mandih. Dikabulkan Tuhan.

Aku tak mau turuti keinginan mereka. Kaki ini meliuk-liuk diantara kuburan berlari pulang. Sesampai di dapur dengan nafas tak teratur, kudapati suasana rumah cukup ramai. Masih dengan nafas terpotong-potong, kulihat banyak orang berpakaian dinas polisi duduk di dekat emak. Ada pula yang berpakaian seperti sesepuh di kampung. Ya, itu memang sesepuh.

“Tak mungkin kita biarkan terus menerus. Sebulan lebih jamur itu ada disana. Lihatlah orang-orang yang selalu seliweran berdo’a dan meminta.”

“Orang-orang mulai salah mengartikan ziarah. Mereka meminta agar penyakitnya disembuhkan. Itu tak boleh dalam agama.”

“Kalau begitu, apa bapak-bapak ini bisa mencabut kolat itu? Nyatanya, dulu digergaji tak bisa. Ini bukan kolat sembarangan. Ini takdir Tuhan berikan kolat di kuburan Jumarto. Kalau bapak mau mendapat karma, silahkan saja dicoba,” Lek Man berseloroh tinggi.

“Anak buah saya murni mati tertabrak truk. Benar-benar kecelakaan. Tak ada kaitannya dengan jamur itu. Kalau kalian semuanya tak mau bekerja sama dengan kepolisian, tak apa. Tapi, kalian semua akan berurusan dengan kami, sebab tak mau berkompromi demi kebaikan bersama.”

Suasana hening. Lek Man diam. Begitupun sesepuh kampung, turut mematung.

“Sekiranya itu demi kebaikan kita semua, saya ikhlas, Pak. Alangkah baiknya jamur itu memang dipotong atau bahkan dibuang.”

“Apa yang kamu lakukan Sa’ti? Kau tak bisa lihat, hidupmu lebih baik setelah kolat itu tumbuh? Benar-benar gila kau rupanya,” mata Lek Man  mendelik. Tersirap mendengar penuturan emak.

“Jumarto itu suamiku, Man. Lagi pula, aku tak menginginkan ini semua. Untuk apa rumah berbatu bata, lantai keramik, lalu uang melimpah kalau nyatanya orang-orang menjadikan kuburan Jumarto sebagai Tuhan,” bibir emak bergetar. Tak pernah kulihat wajah seperti itu sebelumnya.

“Ah, dasar manusia tak mau diuntung. Sudah baik aku urusi keuanganmu. Tak tau berterima kasih.”

Lek Man keluar tanpa salam. Dan, emak kembali mengusap matanya yang berair.

***

Keesokannya, suasana di kuburan bapak lebih riuh dari sebelumnya. Ratusan polisi menjaga area kuburan. Berita pencabutan jamur sudah menyebar. Ada yang setuju, sebagian besar lainnya berusaha menyerang polisi.

“Keparat kalian semua. Pasti kalian celaka.”

“Kalau kalian tak percaya, lihat saja sebentar lagi.”

Suasana semakin panas. Kulihat Lek Man berada di depan orang-orang. Mengeluarkan sumpah serapah tak karuan. Petugas tak hiraukan dengungan warga. Mereka tetap menggali sampai akhirnya berhenti.

“Angkat saja bambu-bambu itu!” perintah salah seorang lelaki berpakaian polisi, yang menyuruh para penggali mengeluarkan dinding areh. Sekat di dalam kuburan yang terdiri dari beberapa potongan bambu.

Saat dinding areh diambil, para penggali tercengang. Mendadak mereka loncat keluar dari kuburan. Tersisa seorang di bawah sana.

“Ada apa?”

Penggali tadi gemetar. Mukanya pucat.

“Jamur itu, tumbuh dari kepala jenazah, Pak.”

Komandan di hadapannya tak kalah tercengang. Ia turun ke dalam kuburan. Tiba-tiba hujan turun mengguyur. Petir saling bersahutan. Padahal terik matahari sebelumnya menyengat. Komandan tadi keluar. Menghampiri penggali tadi supaya turun kembali. Penggali kembali turun membawa gergaji. Suara gesekan gergaji dan jamur terdengar keras. Lagi-lagi penggali tadi menggelengkan kepala. Jamur tak bisa dipotong. Bahkan gergajinya patah. Jamur hanya berbekas lalu mengeluarkan darah.

Sesepuh kampung terkejut. Ia menyuruh komandan menghentikan pekerjaan ini. Komandan tetap bersikukuh. Ia mengeluarkan kembali gergaji baru. Menyuruh keluar para penggali. Ia turun ke kuburan. Memotong sendiri jamur itu. Tak sampai menyentuh jamur, petir menyambar tubuhnya. Sang komandan mendadak mati. Orang-orang yang semula mengeluarkan sumpah serapah, terdiam melihat tubuh kaku komandan. Mereka tak percaya, ucapannya terbukti.

Aku yang melihat tubuh komandan diangkat dari dalam kuburan, tak kuasa menopang tubuh. Seakan Tuhan benar-benar menjadikan kolat itu sebagai mukjizat layaknya para nabi. Tiba-tiba aku ingin menemui bapak. Melihat kain kafan dan tubuhnya yang tak tak terjamah tanah meski lima tahun telah meninggal.

“Bapak,” ucapku bercampur isak tangis.

Sesepuh kampung menghampiri. Menahan tubuhku yang bergerak turun ke dalam kuburan.

Tiba-tiba saja petir datang menyambar. Kilatan cahayanya jauh lebih silau. Semua mata tak bisa memandang. Kali ini tak ada yang mati tersambar petir. Manusia ataupun pepohonan. Aneh. Tubuh bapak tak lagi di dasar kuburan. Ia menghilang. Ya, ia terangkat ke atas. Seakan ada yang membawanya terbang. Langit seakan terbelah. Tubuh bapak terus terangkat. Aku melihatnya. Tubuh bapak diangkat ribuan orang berjubah putih. Terus menaik. Tiba-tiba sesuatu jatuh di dekat kaki. Kolat. Ini kolat seperti yang ada di kuburan bapak. Panjangnya sekitar dua puluh sentimeter. Memiliki batang dan ranting. Bercabang seperti kolat yang didatangi orang-orang kemarin.

 

Sabda Alur, Bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur

[Cerpen] Habitat Sudarmos

Cerpen Otang K.Baddy

Gila! Kiranya telah minuman apa lelaki itu. Juga tak jelas apa dikonsumsinya itu produk imfor, lokal berizin depkes atau sekadar oplosan. Tak ada yang tahu.  Selain ia tampak merasakan gatal yang luar biasa di sekujur serta tak enjoy duduk di kursinya. Tangan dan kakinya tak bisa diam. Jentak-jentik mirip cacing yang kepanasan di musim kemarau. Apakah ia  tengah  mabuk berat?

“Tidaakkk….!”  ia berteriak seraya menggebrak meja sekuatnya. Karuan saja berkas-berkas yang menumpuk itu terjatuh dan tercecer ke lantai.

“Eling, Tuan Mos?”

“Santai aja, Boss. Jangan emosi begitu, selesaikanlah dengan kepala dingin.”

“Iyalah, kayak  bocah kampung aja, pake cengeng!”

“Tidaaaakkk….!”

Sudarmos pun melompat keluar,  lalu diikuti beberapa anak buahnya yang takut kehilangan. Dari gerak-gerik serta ucapanya terus dicatat tanpa ada yang terlewat. Bahkan ketika lelaki itu berlari  hendak meninggalkan tanggungjawabnya.
*

Sudarmos melempar baju seragamnya. Kepada para pengikutnya ia mengajak untuk menanggalkan segala atribut yang selama ini telah menjadi kebanggaannya.

“Cih, semuanya cuma tikotok, jadi buat apa dipelihara!” katanya seraya  meludah. Demi melupakan kemelut yang  bak mencekik leher, ia mengajak rilek di tepi pantai.. Menurutnya itu merupakan cara terbaik dan harus dilakukan secara total. Dalam arti  tak cukup cuma dengan menikmati desir angin, melainkan harus diwujudkan dengan car berjoget. Demi keloyalan akan janji dan sumpah bawahan, tak seorang pun yang berani menolak. Bahkan beberapa pengawal bersenjata laras panjang pun segera melucuti senjatanya, lantas ikut pula berjoget bersama Sudarmos.

Mereka berojet tanpa musik. Mereka berdendang bersama debur ombak.
**
Sebenarnya bukan suatu kegembiraan, melainkan pelampiasan atas kemelut tanpa ujung selama ini. Sanjung puja atas kemenangannya menjadi seorang bupati terpilih di Saliwong, telah melahirkan lagu-lagu manja dari para pendukungnya. Minta sekian persen ke, minta tender anu ke, minta pulus pulus lainnya –yang padahal nyata-nyata gatal melebihi daun pulus.

Topik yang paling hangat dalam pembicaraan tiada lain mengenai Wisata Karang Toge. Satu agenda pengembangan wisata bahari andalan di kab Saliwong. Belum apa-apa sudah ricuh. Sedianya batu karang yang sebelumnya sempat dikenal sebagai tempat bertapa pemburu nomor togel tersebut hendak dikemas dengan balutan sorga seribu bidadari. Namun wacana gila itu berujung buntu dan saling lempar tanggungjawab. Semua investor yang sempat diundang tak seorang pun ada yang tertarik untuk menanamkan modalnya.

Hampir setiap hari sejak terpilih menjadi bupati,  Sudarmos sering mengadakan rapat darurat. Tapi hasilnya tetap buntu. Segala solusi yang diajukan tak ada yang pas, malah kesannya merupakan hayalan basa-basi belaka. Solusi terakhir yang dianggap dapat memecahkan masalah dengan kepala dingin, Sudarmos telah memilih tepi pantai yang damai. Namun tetap saja gagal, semua seperti benang kusut bercampur tikotok yang sulit diurai.

“Makanya, sejak kini kita semua tak usah kembali ke kantor. Kita terus berjoget saja di sini.”

“Wah?”
“Sampai kapan kelainan cinta ini berlangsung, Bos?”

Sudarmos tak menjawab. Ia terus saja berjoget. Tubuhnya yang semula kekar menjadi lentur. Ia menari gemulai seperti ular. Di benaknya ia mecoba menikmati sorga dengan seribu bidadarinya. Sesekali ia bersalto di atas ombak. Kadang tubuhnya berjungkir di atas pasir.
Melihat majikannya yang bertingkah aneh, para pengikutnya tak cuma cemas. Melainkan bulu kuduk mereka pun  seketika meremang, terlebih ketika melihat muka sang majikan itu berubah seperti kelelawar.

“Jong, saya berhenti jadi bupati, deh!” katanya dengan suara beda.

“Lho, memangnya kenapa.,boss?”

“Makhluk macamku tak mampu jadi pemimpin manusia!”  katanya, sebelum kemudian ia terbang jauh menuju ke habitanya sebagai hewan pemakan buah-buahan(*)

 

[Cerpen] Perempuanku

Oleh Pone Syam

(Tidak Ada Jarak Diantara Kita)
Aku hanya bisa memandanginya dengan mata nanar. Mulutku kaku untuk menyapa bahkan untuk sekedar menyebut namanya saja. Aku menelan air liur kepedihan membasahi hatiku yang terluka. Menyesal? Benarkan kata itu berlaku untukku?
Rahmatia, begitu orang memanggilnya. Dia gadis desa dengan segudang mimpi. Kecerdasannya mampu mengantarkannya pada cita-cita tertingginya namun tingkat kecerdasan itu tidak mampu beradaptasi dengan cinta pertamanya. Otaknya seperti lumpuh jika harus berdebat dengan realita kehidupan yang diselimuti manisnya cinta dan indahnya kebersamaan.
Atas nama cinta akupun merampas semua miliknya. Hidup dengan hartanya dan juga tubuhnya.
“Aku mencintaimu, ingin hidup selamanya denganmu. Jangan pernah berfikir tinggalkanku,” kalimat mengiba diiringi adegan berlutut dengan tetesan air mata palsu mampu untuk merobohkan pertahanannya.
Semua miliknya adalah milikku tanpa sadar bahwa aku lelaki biasa dengan segudang kebanggaan. Aku butuh pengakuan. Lalu aku membuatnya tak mampu hidup tanpaku.
Segudang cita-cita yang dia bawa dari kampung untuk diwujudkan di kota kini hancur lebur. Dunianya runtuh bahkan aku bisa yakin bahwa dia tidak akan pernah bangkit dan berakhir di rumah sakit jiwa.
Kecerdasannya tidak mampu mengimbangi logikanya. Dia seperti orang gila, berjalan tanpa arah dan tujuan, kakinya melangkah tanpa alas kaki. Membuat darah bercucuran ketika menginjak beling atau meringis perih sebab panasnya aspal.
“Ifal…ifal..ifal..­.” begitu mulutnya nyerocos menyebut namaku. Akupun bangga ketika semua orang seperti berdecak kagum dengan kehebatanku.
Lelaki biasa, tidak tampan dari golongan orang miskin. Bagaimana lagi aku membuktikan kehebatanku selain membuat orang mencintaiku terlihat tak mampu hidup tanpaku.
Kemudian aku kembali padanya. Aku tahu bahwa dia masih sangat terluka namun cinta yang tulus dan amat besar untukku mengalahkan segalanya. Dia kembali menjadi Rahmatia milikku seutuhnya. Memanjakanku dengan barang mahal yang tidak pernah mampu diberikan orang tuaku.
Uang memang segalanya bagiku dan hidup dari uang Rahmatia membuatku terpandang. Benar kata orang, meski kayu lapuk dan mati jika diselimuti berlian maka akan nampak indah, begitupun denganku terlihat begitu berkharisma hingga aku sadar bahwa di muka bumi ini bukan hanya aku yang menggilai uang, ada banyak diluar sana dan salah satunya adalah Susanti.
Aku jatuh cinta pada Susanti, seniorku di sekolah dulu dan kini bertemu dengannya. Statusnya sebagai janda kembang dengan harta berlimpah hasil gono gini dari pernikahannya dengan mantan anggota legislatif.
Logikakupun lumpuh ketika berhadapan dengan cinta. Semua harta pemberan Rahmata aku gunakan untuk membahagiakan Susanti hingga Rahmatia seperti orang gila mengejar ingin membunuh susanti.
“Pilih aku atau dia?” pertanyaan Susanti membuatku menentukan sikap dibawah terik mentari di jalan raya dan tentu saja aku memilih susanti dan membalap motorku meninggalkan Rahmatia yang menjerit menangis bahkan ikut mengejarku dengan motor yang dikendarainya namun nasibnya naas, dia menerobos lampu merah dan tertahan oleh polisi lalu lintas, dari kaca spion aku bisa melihat bagaimana dia berusaha lepas dan ingin mengejarku.
Tak ada rasa bersalah bahkan ketika dia menelfon dan mengirimkan pesan tentang keberadaannya di kantor polisi. Aku dan Susanti malah tertawa dan bersyukur dengan keadaannya. Itu kali terakhir aku melihat Rahmatia dan aku melanjutkan hidupku dengan bahagia bersama Susanti.
Semua tidak berjalan indah sesuai inginku. Harta susanti ludes dengan gaya hidup kami. Susanyi menuntutku untuk menghasilkan uang banyak tetapi aku tidak bisa berbuat apapun. Terlintas dibenakku untuk memanfaatkan Rahmatia tetapi tak ada yang tahu keberadaannya. Rumah miliknya telah dijual dan tak ada jejak untuk bisa mencarinya.
Lalu aku dan susanti menjalani hidup bak neraka hingga seseorang menawarkan surga dunia dengan pekerjaan mudah. Cukup menjadi kurir barang haram, aku dan susanti kembali hidup mewah tetapi itu tidak berlangsung lama, Susanti tertangkap sedangkan aku… Berakhir disini, menyusun skenario hidupku sendiri.
Penjara sangat menyeramkan bagiku sebab itu aku memilih untuk pura-pura gila agar terlepas dari jeratan hukum.
-….-
Rahmatia berbalik kemudian tersenyum kearahku. Aku ingin menjerit seperti ketika dia aku tinggalkan tetapi itu akan membuatnya menyadari kebohonganku.
Rahmatia menarikku untuk duduk dibawah pohon tepat di halaman rumah sakit jiwa tempatku diobati.
“Kau tidak usah membohongiku,” katanya memulai percakapan namun aku tidak ingin mwnghentikan sikapku, bersiul dan bermain seperti orang gila sesungguhnya.
“Aku sudah mengisi kelengkapan berkasmu, aku sudah disumpah. Tidak akan berbohong meski untuk orang yang aku cintai,” kata-kata Rahmatia membuatku tertegun dan melupakan bahwa aku sedang berakting menjadi orang gila.
“Jalani ifal.. Di depan masih terbuka lebar masa depan lebih baik,” katanya lirih dengan mata berkaca.
“Tidak untukku Rahmatia,” desahku.
“Aku bisa memberimu kehidupan seperti yang kau inginkan,” ucapnya lagi lalu beranjak dari duduknya.
“Aku tidak berhak untuk kau cintai,” kalimatku menghentikan langkahnya. “Aku tidak pantas untuk kau tunggu,” kataku lagi tertunduk dan terisak. Rahmatia berbalik dan tersenyum.
“Aku tahu itu, sayangnya cinta tak kenal logika,” jawabnya lalu berbalik meninggalkanku. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan. Dicintai seperti itu membuatku siap menghadapi kejamnya jeruji besi.[]

 

Pone Syam, lahir 19 November 1988 di Kota Makasar. Perempuan yang punya rnama lengkap Rahmayunawati Syam, lulus dari SMU Negeri 1 Tamalate, saat ini tengah memfokuskan diri dalam menulis prosa. Sementara –katanya, sebelum berharap ada penerbit yang tertarik karya-karya tersebut ia simpan di blog pribadinya

[Cerpen] Si Janin

Oleh: Zainuddin KR     

         Mestinya pada usia lima bulan si janin tak perlu resah atau bimbang memikirkan masa depannya. Sebab Tuhan , Yang Maha Rahman-Rahim telah memberikan jaminan pada setiap makhluk ciptaanNya. Artinya tidak dibeda-bedakan. Dan segala wewenangNya diserahkan sepenuhnya kepada para malaikat, dengan tugas masing-masing yang harus dipatuhi. Namun entah kenapa sang malaikat yang baru saja meniupkan roh pada si janin itu tiba-tiba tak berdaya. Ia merasa iba ketika menatap daging yang mulai bergerak-gerak pada rahim sang perempuan itu.

Malaikat itu tak mampu lagi terbang ke langit tingkat tujuh, dimana tempat bersemayamnya Loch al Mahfudz. Sayap-sayap yang telah diberikan Tuhan  untuk segala tugasnya bagaikan hilang fungsi.

“Cepatlah terbang sana, segeralah singgah di Loch al Mahfudz, ulislah  nasib saya di sana sesuai janji Tuhan!” ujar si Janin setengah berteriak, dan teriakan itu membuat malaikat semakin gemetar. Kewenangan Tuhan yang diberikannya merasa tidak mutlak.

“Pergilah secepatnya sebelum didahului para setan yang selalu ingin merontokkan daunan pohon itu!” tegas si janin merasa tak sabar, ketika dilihatnya malaikat itu bersimpuh pada dirinya. “Jangan bersimpuh pada saya, sujudlah pada Tuhan dan patuhi perintahNya. Segeralah ke sana, tuliskan nasib saya! Tuliskan nasib saya!”

“Demi Tuhan, nasibmu mutlak milikNya,” malaikat itu berucap datar, ”Aku diutus cuma memberimu gerak dari kebekuan. Coba tanyakan pada bapakmu, ada maksud apa dia menampung spermanya di rahim ibumu.”  Lalu malaikat itu merangkak sebisanya. Keluar dari rahim perempuan yang mengandung si Janin.

Dan perempuan ibunya si janin itu bergegas menyambut sang malaikat dengan wajah sumringah. Ia tergopoh-gopoh memanggil-manggil suaminya yang tengah rapat di bale desa, membahas soal pembebasan tanah warga.

“Akang, pulang dulu Kang,” rujuk perempuan itu pada suaminya. Semua mata yang ikut rapat itu menoleh. “Biarlah tak usah dipikir tentang ganti rugi yang tak seberapa itu,Kang. Tak ada nilainya uang sedikit di zaman sekarang dibanding tamu yang bertandang ke rumah kita. Malaikat..Kang!”

Suami perempuan itu terbelalak. Demikian juga Pak Lurah yang saat itu memimpin rapat pun melotot. Kaget dan juga campur kesal karena konsentrasi rapat sesaat buyar karena kedatangan perempuan itu. Walau mangkel, lelaki itu melangkah mendekati istrinya yang mengajak pulang.

“Lihatlah Kang, malaikat itu kemari membawa kabar baik,” kata perempuan itu sesampainya di rumah, mengarahkan pandangan suaminya di ruang tamu. Namun suaminya tak melihat siapa-siapa di sana.

“Si Janin sudah hidup Kang, sekarang sudah bisa bergerak-gerak. Dia sudah minta dibikin rujak. Sudah minta ditingkebi. Ya..sesuai adat kita, setiap usia Janin lima atau tujuh bulan harus ditingkebi. Kata ajengan acara tingkeban atau kekeba, adalah merupakan bukti ucapan terimakasih kita kepada Tuhan yang akan memberi kita anak. Ya..tasyakuran begitu.”

Lelaki itu menatap istrinya dengan tajam. Ia khawatir, bahwa istrinya telah terkena gangguan jiwa akibat akan terjadinya penggusuran.

“Ini lho tuan, suami saya masih tak percaya dengan apa-apa yang telah terjadi. Padahal dia seharusnya gembira dengan kabar baik ini.”

Malaikat yang diajak bicara itu tiba-tiba menghilang dari hadapan perempuan itu. Ia tak sanggup, tak tega, atau mungkin tak merasa perlu menyampaikan perihal yang dialami oleh Janin dalam rahim perempuan itu.

“Hah, malaikat itu telah pergi Kang!?” kata perempuan itu merasa kaget. Lalu ia segera memburunya, tapi tidak tahu kemana malaikat itu perginya. Hanya saja sebelum terbang ia sempat mendengar pesan; “si Janin sekarang urusan kalian”.

Perempuan itu terus melangkah. Tapi tidak ada sesuatu pun yang ditemuinya dalam perjalanan itu. Pohon-pohon sudah ditumbangkan, rumputan sekeliling pada mengering, dangubuk-gubuk telah rata dengan tanah. Tapi tiba-tiba ia dikejutkan oleh sesuatu yang menghadang langkahnya, ia berdiri tegak di depan hidungnya. Dari sayup-sayup suaranya yang terdengar, menandakan bahwa sesuatu itu adalah bisikan jaman, yang sngaja dilahirkan.

“Arahmu menuju jalan buntu”, kata buldoser.

“Saya mau mencari malaikat, adakah ia melewati jalanan ini?” kata perempuan itu.

“Saya tak kenal malaikat, tugas kami hanya melaksanakan pembangunan yang rasional,” jawab besi baja.

“Malaikat dan Tuhan adalah urusan orang yang kalah perang, atau gagal membentuk dirinya dengan akal, lalu mereka berhamburan mencariNya untuk mengadukan nasibnya,” tukas beton-beton sembari mengusir perempuan itu.

Perempuan itu mengalihkan langkahnya, ia menuju jalanan lain. Di jalan ini, jalan yang baru pertamakali dilaluinya. Banyak sekali peristiwa yang dijumpainya. Ayam, kambing, kerbau, sapi dan binatang-binatang ternak lainnya berbaris memadati jalan.

“Kalian mau kemana?” tanya perempuan itu pada ayam.

“Kami mau mencari pasar,” jawab kambing.

“Tuan-tuan kami pada sibuk dengan dirinya sendiri. Kami tidak sempat dirawat, tak dipiara secara wajar. Dan kandang-kandang kami sengaja dimusnahkan,” sapi menyela, “tapi kami telah ditakdirkan bangsa hewani. Menentang tuan berarti kami binasa dan akan dibantai,” lanjutnya kemudian, “Terpaksa akhirnya kami bersepakat menjual diri ke pasar-pasar.”

**

Suara adzan menggema dari atas munara masjid. Perempuan itu termangu memandang langit. Di ufuk barat tampak warna kuning kemerah-merahan. Berarti sudah waktu magrib. Di saat itu, seketika perempuan itu menemukan malaikat, bahkan malaikat itu memapahnya menuju Tuhan. Setelah mengambil air wudhu di kali kecil, lalu shalat dan membaca wirid. Tubuhnya terasa hangat

dalam dekapan Tuhan. Tapi tiba-tiba ketika ia ingat pada suaminya yang ditinggal di rumah tanpa pamit,  mendadak seluruh tubuhnya menggigil. Peluh dan keringat mengucur. Lalu perempuan itu terjatuh. Pingsan.

Warga berdatangan, mereka menyambut dengan rasa gembira. Suaminya sibuk menyambut para tamunya, mengatur ini dan itu. Perempuan itu pun seketika menguakkan bibirnya, meski ada kecemasan menggurat di dalam batinnya. Tersenyum. Si Janin yang baru saja terlahir dari rahim sang ibu menangis sekeras-kerasnya. Warga masyarakat yang menyambut kelahiran itu tak ada sedikitpun yang memahami kenapa bayi itu menangis. Termasuk juga ibu bayi itu, karena sewaktu hamil bulan kelima terlalu bangga, sewaktu kedatangan malaikat, ia terlalu bangga dan bahagia atas

kehamilannya. Hingga ia tak sempat memikirkan bagaimana nasib si Janin kelak. Malaikat pun tak sempat memberikan keterangan padanya. Ayah si bayi apalagi, suami perempuan yang melahirkan bayi itu sama sekali tak mengerti apa yang dimaui anaknya. Lelaki itu meng-adzani bayi itu, dan si bayi meloncat keluar dari raganya, ia membiarkan dirinya menangis sekerasnya dan ditonton oleh warga masyarakat.

Si Janin, bayi itu berlari menghambur mencari malaikat. Malaikat yang bertugas meniupkan roh dulu, sedang sibuk berdiskusi pada sesama malaikat lainnya. Mereka membahas sekitar masalah dan ikhwal mengenai tulisan nasib sang Janin – yang hingga kini sudah terlahir—belum tercatat dalam daunan pohon yang berada di Loch al Mahfudz, karena daunan itu telah rontok oleh para setan yang biadab. Mereka tidak menghendaki janin-janin yang lahir kelak dapat dengan leluasa menghendaki nasibnya sendiri.

“Mana tulisan nasib saya..! Mana tulisan nasib saya..!” teriak si bayi sebelum memasuki ruang rapat para malaikat, “Mana hak-hak saya, mana warisan saya..!” lanjutnya.

“Wahai Tuhan, siapa yang telah merampas warisan yang Kau berikan kepada saya. Dan, kalian para malaikat; kembalikan lagi saya kepada asal-muasal saya jika kalian tak sanggup mengembalikan hak-hak saya.”

Hiruk-pikuk suasana rapat jadi kacau, diskusi pun dihentikan.

“Baiklah, karena asalmu dari tanah, akan aku kembalikan lagi kepada tanah,”kata salah satu malaikat.

“Tidak, kerna ia berasal dari air, akan aku kembalikan kepada air,” kata malaikat yang lain.

“Akan aku kembalikan seperti udara, kerna ia berasal dari udara,” kata malaikat satunya lagi.

“Aku yang lebih berwenang mengembalikan dirinya menjadi api kembali, kerna ia diciptakan dari api,” kata malaikat ke-empat.

“Terserah kalian, pokoknya saya tak mau menyaksikan dunia yang retak-retak. Tuhan juga berfirman; manusia agar dipatri tetap utuh. Tapi siapa yang mau jadi tukang las di jaman kini, maka

kembalikan lagi saya kemana saja sebagaimana dulu kalian mengambil asal-muasal kejadian saya”.

Para malaikat itu sibuk. Masing-masing berusaha mengembalikan kepada asal-muasal sang bayi. Tapi dengan penuh ketakutan dan keletihan, malaikat pertama gagal mengembalikan si Janin

pada tanah. Sebab semua tanahnya sudah tergusur, dan menjadi hijau ranau serta terdapat banyak lubang-lubang setan di dalamnya.

Malaikat kedua, kembali dengan wajah keruh dan tubuh lesu tanpa membuahkan hasil. Ia tidak tega membiarkan si Janin terhanyut dan tenggelam ke dalam sungai berlimbah. Dan dengan tergopoh-gopoh malaikat ke-tiga kembali tetap bersama si Janin. Katanya; kini tiada lagi udara yang bersih , polusi pabrik  industri telah dengan seenaknya terbang mengotori angkasa. Berikutnya, malaikat yang ke-empat, melaporkan bahwa api kini telah seenaknya membakar gubuk-gubuk dan membiarkan para penghuninya kehilangan tempat berteduh. “Maka, tidak aku kembalikan si Janin pada api.”

“Baiklah, kalau kalian tidak sanggup mengembalikan kepada asal-muasal terjadinya saya, biarlah saya akan memilih nasib saya sesuka hati. Jangan salahkan jika terpaksa saya membantai para perampok nasib-nasib saya dan janin-janin lain setelah saya.”

Si Janin perlahan melangkah menuju hidup yang buram. Dan sejenak ia berhenti menundukkan kepalanya. “Tuhan, ijinkanlah saya hidup sengsara!@

(Catatan: Cerpen karya Zainuddin Kr ini pernah dimuat di SKM Swadesi tahun 90-an dan diketik ulang oleh admin. Karenanya mohon  maaf jika ada pengetikan maupun susunan paragraf yang tak semestinya)

[Cerpen] Wentira

Oleh: Pone Syam
“Acong…Acong…Aco­ng…” Teriak histeris Mak Dini ibunda Acong, sambil menangis meraung berusaha mengejar langkah Acong yang semakin menjauh. Mak Dini yang sudah tua tidak mampu menjejeri langkah Acong, bahkan lututnya malah bergetar, membuatnya terpaksa berhenti mengejar Acong dan jatuh tersungkur ke tanah.
“Acong…Acong…” Teriak Daeng Sialle berusaha untuk menghalangi langkah Acong.
“Acong.. Mau jadi anak durhaka kamu?” bentak Daeng Sialle sambil menarik pergelangan tangan Acong.
“Daeng Sialle, mau membiayai hidupku? Hidup mak Dini?” sergah Acong sambil menarik kasar pergelangan tangannya dan melanjutkan langkahnya.
Mak Dini terus saja meradang, menangisi putra tunggalnya yang semakin menjauh. Satu persatu warga datang untuk tenangkan Mak Dini.
“Kau terlalu serakah Acong,” teriak Daeng Sialle yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Acong tanpa berbalik.
“Ratusan tahun sejak leluhur kita lahir, kita sudah hidup dari bertani, kau sendiri yang mau mengubah sejarah Acong…ukhu…ukhuk­,..” kerongkongan Daeng Sialle jadi kering sebab berteriak. Daeng Sialle jengkel dan berlari ke kerumunan warga.
Daeng Sialle berusaha untuk membopong Mak Dini ke rumahnya. Semua warga berbisik-bisik tentang keputusan Acong yang tega meninggalkan Mak Dini sebatang kara.
Tangis Mak Dini belum reda meski sudah sejam yang lalu dia sudah tiba di rumahnya. Daeng Sialle kakak sepupu Acong berusaha menenangkan Mak Dini namun Mak Dini terus saja menangis.
Wajah Mak Dini memerah, Daeng Sialle memeriksa kening Mak Dini dengan punggung tangannya, “Mak demam,” lirihnya. Harus ada cara untuk mengalihkan perhatian Mak Dini, pikir Daeng Sialle.
“Ada apa dengan Acong mak?” tanya Daeng Sialle.
“Acong ingin menikah dengan karaeng Bulan,” jawab Mak Dini lirih.
“Mimpinya kelewatan,” Desah Daeng Sialle.
“Dia tidak sadarkan diri, kita dari kasta rendah. sedangkan Karaeng Bulan keturunan bangsawan,” kata Mak Dini terisak, tangisnya kini sudah tidak terdengar lagi.
“Dia pikir dengan harta bisa membeli gelar bangsawan? Itu warisan leluhur, meski seluruh air di lautan dia gunakan untuk mencuci darahnya tetap saja dia keturunan rakyat jelata,” desis Daeng Sialle dengan penuh amarah.
“Lalu dia akan kemana mak?” tanya Daeng Sialle.
Mak Dini menghapus air matanya, bangkit dari tempatnya duduk kemudian menutup pintu dan juga jendelanya. Daeng Sialle menatap heran.
“Cerita ini tidak boleh keluar dari rumah ini,” kata Mak Dini memulai ceritanya. Daeng Sialle menatapnya penasaran.
“Aku tidak ingin ketika Acong kembali, ketika sadar langkahnya salah. Dia malah dikucilkan warga,” desah Mak Dini.
“Aku paham soal itu Mak,” ujar Daeng Sialle.
“Acong akan merantau,” desah mak Dini.
“Kemana mak?” tanya Daeng Sialle makin penasaran.
“Terlalu menggelikan, kau pasti tidak akan percaya,” Mak Dini semakin sedih.
“Andai saja dia merantau ke tempat yang benar, yang bisa dijangkau oleh nalar, Mak tidak akan pernah sedih, bahkan mendukung. Tetapi ini,” lanjut mak Dini sedih.
“Wentira,” desah Daeng Sialle dengan mata merah. Daeng Sialle bahkan meninju meja di depannya untuk bisa melepaskan sedikit beban amarah yang telah meluap.

**
“Stop,” teriak Acong menghentikan bus malam yang ditumpanginya. Semua mata penumpang dan sopir menatap Acong heran. Acong tidak peduli, dengan santainya Acong mengambil rangselnya yang diletakkan dibawah kursinya. Setelah membayar sewa bus, Acong melompat turun dari bus sambil tersenyum bahagia.
“Lanjut,” katanya sambil mengetuk badan bus. Bus tersebut melaju meninggalkan Acong yang berdiri dalam kegelapan.

Acong menyulutkan api, memberikan penerangan pada gelap yang mengelilinginya. Dengan bantuan Api dari pemantik, Acong bisa melihat keadaan di sekitarnya. Acong tersenyum manis saat melihat tugu berwarna kuning dengan tulisan “Ngawa Uwentira” yang berarti kampung tak kasat mata.
“Itu dia,” ucap Acong sambil melangkah mendekati tugu tersebut. Dia duduk bersandar di tugu.
“Menurut cerita, di tugu ini ada jembatan peninggalan belanda, jika itu bisa dilihat maka itu pertanda bahwa gerbang wentira terbuka, kalau begitu aku istirahat dulu,” kata Acong.
Baru saja Acong memejamkan mata, tiba-tiba cahaya kuning keemasan menyinari mukanya hingga membuatnya terbangun. namun dengan mata menyipit agar ia bisa beradaptasi. Cahaya itu begitu menyilaukan hingga Acong malah tidak bisa melihat apa pun.
Cahaya tersebut sedikit demi sedikit meredup hingga akhirnya cahaya itu tersisa hanya berbentuk bayangan yang melangkah mendekati Acong, sedikit demi sedikit mengecil hingga padam dan menyisakan seorang gadis cantik jelita.
“Ciri-ciri manusia Wentira, jika tidak ada garis tengah diatas bibir dan di bawah hidung. Nach gadis ini orangnya,” desah Acong.
“Apa yang kau cari ditempat ini?” kata gadis itu sambil berlutut di depan Acong. Gadis tersebut menyusun tiga buah piring yang berisikan nasi putih, kuning dan hitam.
“Aku ingin ke wentira,” jawab Acong mantap.
“Untuk apa?” tanya gadis itu kemudian duduk dengan menekuk kedua lututnya berhadapan dengan Acong.
“Untuk mengadakan perjanjian dengan ratu wentira,” ucap Acong lantang penuh percaya diri. Gadis itu hanya tersenyum, menutup mulutnya menahan tawa sambil menggelengkan kepalanya.
“Perjanjian apa?” tanya gadis itu penasaran.
“Hm…hmhmm” Acong berdehem, menarik jangkungnya kemudian memperbaiki duduknya dengan duduk bersila menegakkan badan.
“Pertama, saya bersedia menikahi ratu Wentira dengan syarat, dia menjamin kehidupan mak Dini dan Daemg Sibali di kampungku,” Kata Acong mantap.
“Perjanjian selanjutnya?” tanya gadis itu.
“Kirimkan bidadari secantik kamu untuk menjaga Mak Dini dan merangkap menjadi istri Daeng Sialle agar Daeng Sialle tidak dipandang sebelah mata,” katanya dengan suara sedih.
“Apalagi?” tanya gadis cantik itu.
“Cukup itu saja,” kata Acong lemas.
“Kau yakin?”
“Tentu.”
“Bagaimana jika ratu Wentira menolakmu?” pertanyaan gadis cantik itu membuat Acong terbelalak.
“Bagaimana bisa?” tanya Acong sewot.
“Aku ini manusia, bukankah kalian bermimpi ingin bersuamikan manusia?” tanya Acong dengan dahi berkerut.
“Itu betul,”
“Lagi pula, aku ini tampan,” jawab Acong sombong.
“Di Wentira banyak yang lebih tampan darimu,” jawab Gadis cantik, membuat Acong berkerut.
“Ini hanya kemungkinan,” lanjut gadis itu, “Aku tidak ingin kau menyesal,”
“Kalaupun ratu Wentira menolak, aku bersedia jadi budak,” jawab Acong lemas.
“Kenapa?”
“Demi kehidupan layak untuk Mak Dini, sejak lahir Mak Dini tidak pernah bahagia,” tuturnya sedih.
“Kau kan bisa bekerja keras di dunia nyata,”
“Gengsi dong, cakep-cakep petani,”
“Baiklah, kau tahu kan resikonya? Silahkan menyantap separuhnya, sisanya kau akan lihat di wentira,”
“Tentu saja aku tahu segalanya tentang wentira,” kata Acong mulai menyuap nasi kuning ke mulutnya.
“Kau tahu arti nasi yang kau makan?”
“Aku tahu segalanya,” jawab Acong dengan mulut penuh nasi.
“Nasi putih, itu berarti kembali ke dunia nyata,” Lanjut Acong,”Nasi kuning, untuk tinggal selamanya di wentira dan nasi hitam berarti kematian.”
“Baiklah, selamat datang di Wentira, Atlantis yang hilang,” teriak gadis itu lalu berdiri berputar hingga menghasilkan warna kuning keemasan yang perlahan menyinari dunia. Tampak hutan kopi berubah menjadi negara yang makmur dengan kehidupan modern, gedung mewah dan mobil canggih. Acong sangat takjub.
“Hohohohohoho…” tiba-tiba kerongkongan Acong terasa sakit, nasi sisa di piring yang dipegangnya berwarna hitam.
“Itulah akibatnya berbohong, penglihatanmupun membohongimu,” kata gadis cantik itu.
“Aku bohong apa?”
“Kau ke sini untuk melupakan kehidupanmu di masa lalu dan ingin hidup bahagia dengan ratu wentira yang mirip dengan karaeng bulan kekasihmu, iyakan?” bentak gadis cantik itu. Acong sudah tidak bisa menjawab apapun sebab kini sudah terkulai lemas dengan mulut berbusa hitam[*]

Baca: Cerpen karya  Pone Syam lainnya

 

 

Rahmayunawati Syam atau Rahma Yunani  lebih populernya Pone Syam, seorang penulis yang lahir dan tinggal di Kota Makasar

Lelaki Yang Terus Menangis

Cerpen Otang K.Baddy

Siang dan malam, tak henti-henti,  bahkan hingga nyaris satu minggu ini, lelaki itu terus menangis.

Tangisnya tersedu seperti anak tak diberi jajan. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Melenguh seperti kerbau lapar. Kadang pula berteriak histeris seperti ketakutan.

Anak-isteri, sanak saudara, para kerabat, tak habis pikir kenapa lelaki itu terus menangis? Beberapa dokter dan ahli nujum, pun kewalahan dan geleng kepala. Untuk yang satu ini mereka benar-benar angkat tangan, sekedar menunjukkan ketidakbecusan atas kinerja yang dipercayakannya selama ini. Lelaki berusia hampir 60 tahun itu tetap saja menangis.
“Wiiw…wiwi wiiiww….!
Wualaw…., wawawaw….wowowow….!
Aouuuwwww……!”
Demikianlah ia kerap menjadi perhatian, terlebih bagi orang yang kebetulan lewat depan rumahnya.

Dibilang sakit keras  sepertinya tidak karena setiap ditanya ia selalu menggeleng. Bahkan, karena penasaran, anak-istrinya secara rahasia mencoba menelanjangi lelaki itu di ruang tertutup, siapa tahu ada luka menganga atau semacam bisul yang ganas. Namun hasilnya nihil. Tak ada luka atau pun bisul ditemukan di sana. Selain kariput sedikit faktor usia, kulit lelaki itu masih tetap mulus.

Tapi lelaki itu tak henti-hentinya menangis. Kadang tersedu seperti anak tak diberi jajan. Terisak-isak seakan merana yang dalam. Melenguh seperti kerbau lapar. Melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Kadang pula berteriak histeris dan menjerit-jerit seperti sakit tersiksa dan ketakutan. Tak pelak dan kadang bikin merinding tatkala suara tangis lelaki itu seperti tangisnya perempuan. Bahkan ada yang meringkiknya seperti suara kuntilanak dalam film horor.

Jika di siang tak terlalu jadi soal, mungkin suara nyaring tangis itu terhambat cuaca panas atau bising kendaraan. Yang menjadi risih jika tangis itu didengar tengah malam. Cuaca yang dingin itu telah mengantarkan suara tangis itu ke volume yang lebih nyaring dan melengking. Karenanya tak sedikit yang merasa terganggu oleh tangis itu. terutama para tetangga dekat, di pagi hari banyak yang lemas karena tak bisa tidur semalam.

Namun mereka masih bisa menguasai diri hingga tak terjadi antipati. Bahkan rasa simpati kerap hadir di benak-benak mereka yang mendengarnya. Semua berpikir mencari solusi, dan menduga-duga, mungkin penyebab tangis yang tak berkesudahan itu disebabkan dari sakit hati yang teramat dalam.

Pak Ketua RT yang merasa bertanggungjawab serta cemas merasa kewalahan. Pasalnya setiap kali ia menjenguk tangis lelaki itu semakin menjadi-jadi. Bahkan tangisnya terbilang aneh dan luar biasa. Yang biasanya seputar tersedu, terisak, sedikit melolong dan melenguh, ini malah menggeram seperti haraimau.

Karenanya sang ketua RT tersebut segera meghubungi Pak Kadus untuk mencari solusi terbaik. Setelah bermbuk singkat mereka berdua  segera mengumpulkan warga kampung di dekat rumah yang bersangkutan. Satu persatu, lelaki atau perempuan dewasa dipanggil dan dipertemukan dengan lelaki penangis itu. Siapa tahu dari sejumlah itu ada di antara warga yang mengeluarkan perkataan kotor yang menyakitkan. Atau tak mustahil kalau-kalau di antara mereka ada yang terlibat konflik yang bisa mengakibatkan lelaki itu merana. Sayang, di antara warga yang tak kurang dari 500 orang itu tak satu pun yang punya masalah dengan lelaki itu.

Lalu kembali ke masalah internal. Yang ini lebih memungkinkan karena dari sekian waktu lebih banyak dihabiskan bersamanya. Pertama sang istri, suatu anggota keluarga yang paling dekat dengan penangis. Dari mulai pelayanan siang atau pun malam. Misal dari cara penyajian masakan, kalau-kalau ada yang kurang garam atau pun kepedasan, hingga ke masalah hubungan intim suami-istri. Semua dijawab dengan lancar, tak hambatan yang cukup berarti. Kemudian dipanggil kedua anaknya yang masih abg, siapa tahu di antara mereka terlibat perang mulut minta dibelikan laptop, handpone atau motor baru. Yang ini pun tetap lolos, tak ditemukan kenakalan di keduanya.

Lalu apakah penyebab lelaki itu hingga terus saja menangis?

Tangis itu seperti kesedihan karena ia kerap tersedu. Merengek seperti anak tak diberi jajan. Mencekam karena melolong seperti anjing hutan pemandu siluman. Mungkin rasa takut dan kesakitan karena sering berteriak keras dan menjerit-jerit.

“Ya Allah, Yang punya sifat Rahmaan-Rahiim, kasihanilah lelaki itu. Jangan biarkan ia menangis terus-menerus,” seseorang memohon doa, seolah mewakili yang lainnya. Kendatipun begitu semuanya tak tinggal diam. Terus mencari informasi dan solusi untuk memecahkan masalah tersebut.

Penelusuran pun tak henti. Dari mulai pekerjaan atau keseharian lelaki itu. Dia itu bukan pegawai negeri atau pun pegawai swasta. Kehidupan sehari-harinya bertani, menggarap sawah, mencangkul, menanam ketela, menyabit rumput untuk pakan sapi. Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, ia pun tak ketinggalan dengan yang namanya Hp, komputer, dan dunia online. Dalam arti lelaki itu tak ketinggalan info terkini.

Lantas, diperiksalah lumbung padi yang ia miliki, barangkali mengalami gagal panen? Tidak, beberapa karung gabah kering cukup tersedia untuk bekal sebelum panen berikutnya . Mungkin sapi peliharaannya ada masalah -misalnya beberapa kali gagal inseminasi? Juga tidak, malah sapi itu telah bunting delapan bulan.

Lalu, kenapa lelaki itu masih terus saja menangis?

Mungkin ada rasa bosan dengan makanan yang kerap tersaji di rumah. Maka istrinya diminta membuka ingatan tentang apa yang menjadi makanan favorit lelaki itu. O, beberapa bulan lalu ia sempat meminta dibelikan martabak telor dan pepes tawon. Karenanya dengan segera dicarikan penganan yang berbahan terigu campur telor, sebagai makanan favorit utama lelaki itu. Bahkan dipesan pada pembuatnya agar penganan itu dibuat lebih istimewa, selain empuk harus lebih manis dan gurih dari biasanya. Bukan masalah kendati harganya dua atau tiga kali lipat dari harga normal. Dengan terlonjak dirumus mantap, seorang anaknya memangku setumpuk tangkupan  martabak dan langsung diberikan pada ayahnya yang tengah menangis tersedu. Namun rumus mantap itu ternyata tak berpihak, setumpuk martabak super manis, gurih dan empuk tetap ditolak.

Nah, selanjutnya gampang-gampang susah. Pepes tawon. Bagi yang suka, makanan untuk sarapan ini lebih enak daripada martabak. Benar-benar lezat dan mantap! Pasti tangis lelaki itu akan segera berakhir dan kecengengannya bakal kucar-kacir tercumbui rasa gurih dan wangi bawang. Makanya meski mahal melebihi harga setumpuk martabak, tak perlu ditawar lagi, langsung saja gobrak dibayar.

“Yang ini pasti tak akan gagal lagi, alias mantap!” begitu pikir anak-istrinya, sebelum kemudian menyerahkannya pada penangis itu. Tapi, lagi-lagi kandas tak dapat ditolak, pepes tawon itu tak mampu merubah sikap lelaki itu. Bahkan penolakkan yang ini lebih keras dan berdampak malu pada sepihak.

“Makanan model ini kata sebagian orang, haram!” katanya seraya melempar pepesan itu ke lantai. Karuan saja penganan telur jenis larpa itu berceceran di lantai.

Anak dan istrinya kehabisan akal. Mereka tak mau lagi mencari solusi. Bahkan menjadi tak sudi, dan membiarkan lelaki itu terus menangis.

Mungkin punya pacar gelap seperti lelaki lebay pada umumnya? Inisiatif ini datang dari Pak RT, dan lantas ia menelusurinya dengan sendiri. Ada firasat lain ketika ingat beberapa waktu lalu ia sempat terjatuh dari jendela kamar Mbok Romlah -janda beranak lima yang berusia 73 tahun itu. Malam itu Pak RT tersentak dan meloncati jendela tatkala di kolong rumah panggung janda itu terdengar suara batuk terhanan hingga terkentut-kentut. Ternyata yang bikin teror lucu di bawah kamar itu adalah dia, lelaki yang kelak diketahui sering menangis. Tak ada dendam kesumat antara keduanya saat itu selain saling pengertian dengan tutup mulut.

Dan lelaki yang menjabat ketua RT itu pun tak habir pikir, kenapa teman karibnya tak mau terus terang? Bukanlah ia pun merupakan sama-sama maling?

Sementara di lain hari orang-orang itu berdatangan,  saat diketahui seorang janda tua telah mati membusuk dengan kepala terpisah bekas pembunuhan.(*) Bagaimana, mggak nyambung ya endingnya? Karena itu kirimkan cerpen Anda untuk ditampilkan di sini, kalau bisa ceritanya jangan yang ngelantur seperti cerpen saya ini..hehe.. ditunggu kirimannya..

Lelaki Penjual Kenangan

Cerpen : Nanda Dyani Amilla

Membaca kisahmu berkali-kali, sungguh berhasil membawaku menekuri perjalanan masa SMA yang sejujurnya ingin kulupakan. Pada wajahmu, aku seolah membaca sebuah kepahitan yang telah lama kuhapus dari ingatan. Sebab pada wajah itu, tepatnya di matamu, aku pernah menitipkan cinta yang terbungkus dalam iba. Rasaku menempel pada sosokmu selama seribu sembilan puluh lima hari. Atau bahkan lebih? Entahlah, aku sendiri tidak mau lagi menghitungnya saat ini.

Aku pun tak begitu paham, mengapa dulu aku begitu menggilaimu. Padahal saat itu usiaku baru lima belas tahun, saat untuk pertama kalinya aku memakai seragam putih abu-abu. Dan saat pertama kalinya mata kita bertemu. Aku jatuh cinta pada tatapan teduhmu. Jatuh cinta pada suara lembut yang menyentuh gendang telingaku. Juga pada sikap tenangmu kala itu. Semua hal yang tak kutemui pada diri teman-teman kelas yang lain.

Singkatnya, aku menimbun rasa sejak pertama kali kita berkenalan. Apalah yang bisa aku lakukan sebagai seorang gadis pendiam yang tak punya nyali untuk mengatakan segalanya. Aku memperhatikanmu dari balik kacamataku. Memenuhi buku tulisku dengan deskripsi manis tentangmu. Atau membuat sajak-sajak romantis atas namamu. Layaknya gadis remaja yang sedang jatuh cinta, aku suka tersenyum dan menangis sendirian.

Dan kamu…
Kamu masih tetap acuh dengan perasaan gadis dingin sepertiku. Bukan, bukan karena kamu tidak tahu. Bukan pula karena kamu tidak merasakan semua sinyal yang pernah kulemparkan padamu. Hanya saja, ada hati yang sedang kamu jaga saat itu. Dan dia adalah gadis beruntung yang mendapatkan hatimu. Dia adalah gadis cantik yang telah membersamaimu jauh sebelum kita bertemu. Pantaslah, matamu tidak lagi memandang ke arah lain. Bahkan untuk sekadar menyadari ada gadis kecil dengan perasaan besarnya di sini.

Setiap hari, telingaku dijejali dengan beragam kisah cintamu. Tentu saja bukan denganku, tapi dengan gadis beruntung itu. Mereka bilang, kalian adalah pasangan sempurna. Meski aku suka mencibir dalam hati, “Masih kecil sudah pacar-pacaran.” Untuk setelahnya aku malu sendiri, bahwa sampai saat itu aku pun masih berharap menjadi kekasihmu. Tapi biarlah, setidaknya itu adalah bentuk protesku atas cerita yang mampir ke telingaku. Jika boleh jujur, aku benci mendengar kisah tentangmu dengan gadis itu. Meski hanya sebatas menyebutkan namanya.

Saat menuliskan ini, aku seperti terseret ke masa-masa dimana aku tidak ingin melupakanmu. Meski pada kenyataannya, saat ini aku sudah berhasil melupakan perasaan itu. Anehnya, mengapa Tuhan sekarang malah mempertemukan kita? Tiga tahun aku menunggu dan menyukaimu secara diam-diam. Bahkan mendengar helaan napasmu saja itu sudah cukup membuatku bahagia. Tiga tahun aku memimpikan bisa sedekat ini denganmu. Bisa bercerita dan menertawakan apa saja.

Tiga tahun setelahnya, kau menghilang. Aku menghilang. Cerita tentang kita menghilang. Kita? Bahkan kau dan aku tak pernah menjadi kita. Tapi biarlah, aku senang mengatakan itu. Aku senang membayangkan bahwa suatu hari kau dan aku menjadi kita. Itu pikirku dulu. Aku tidak tahu keberadaanmu setelah kita lulus SMA. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaanmu dan apa yang tengah kau kerjakan di sana. Aku pun tidak lagi mencari tahu apa-apa tentang dirimu. Aku disibukkan dengan kegiatan baruku. Pergi ke kampus, belajar, dan bercanda dengan teman-teman.

Perlahan, aku bisa melupakanmu. Melupakan rasa yang setiap hari hanya membuat perih hati. Meski di awal-awal masuk kuliah, aku masih sering berharap kau menghubungiku. Tapi bagaimana mungkin? Jika ketika dulu saja, hubungan kita hanya sebatas teman biasa. Hanya aku yang punya perasaan berlebih terhadapmu. Kamu? Jangan tanya. Jawabannya pasti membuat sesak di dada.
Mungkin sesekali kau harus menjadi aku. Agar kau tahu bagaimana rasanya menunggu selama itu. Agar juga kau tahu bahwa menunggu tak sebercanda itu. Ya, aku tahu, aku tak berhak menuntut apa-apa darimu. Karena sejatinya perasaan bukan romusha yang bisa dipaksa-paksa. Aku paham dan mencoba menerima dengan situasi yang tercipta saat itu. Menerima kenyataan bahwa mencintai seorang diri ternyata semenyakitkan ini.

Hingga enam tahun lamanya, perasaanku terbuang sia-sia. Suatu pagi, tangan Tuhan bekerja. Entah bagaimana caranya, yang kurasa rencana-Nya sungguh indah. Dia menjawab doa-doa yang sempat tertunda. Dia menjawab segala harap yang dulu sempat menguap. Dia memberikan kesempatan untuk kita kembali saling menatap. Kau tahu, apa hal pertama yang kurasa saat mendengar kabar bahwa kita akan berjumpa? Patah hati.

Aku merasa tidak ingin bertemu denganmu lagi. Tapi bagaimana caranya aku menolak ajakan teman-teman yang seakan berkonspirasi mengajakmu untuk bertemu denganku? Dan aku rasa, aku akan terlihat kekanak-kanakan jika aku membawa-bawa perasaan enam tahun lalu untuk perjumpaan kita kali ini. Itulah sebab aku mencoba menyambutmu dengan senang hati. Menjabat tanganmu untuk kedua kalinya. Jabatan tangan pertama kita, saat aku mengucapkan selamat ulang tahun padamu ketika masa SMA dulu. Mengucapkan hai-hallo sebagai tanda selamat bertemu kembali.

Aku melihat kau tidak jauh berbeda seperti dulu. Bedanya hanya wajah teduh itu tampak sedikit lebih mendewasa. Selebihnya, kamu sama. Masih hangat dan senang bercanda. Masih lembut dan suka tertawa. Sesekali aku mendapati retinamu menatapku. Entahlah, aku berusaha menepis semua prasangkaku tentang kamu. Tidak mungkin saat ini aku terhanyut dalam perasaan enam tahun lalu yang tidak tahu malu itu.

Sekarang aku sudah punya kekasih. Aku sudah mengubur dalam-dalam masa SMA kita. Keadaan sudah berubah. Usia hubunganku dengannya juga sudah beranjak menduduki angka dua. Meski belum genap sepenuhnya. Aku mencoba menatapmu dengan tatapan persahabatan. Teman-teman masih suka meledek soal kedekatan kita dahulu. Padahal aku yakin sekali, lebih tepatnya mereka meledek soal perasaanku yang tidak pernah berbalas itu.
Hingga pertemuan kita berakhir, kau berhasil meruntuhkan pertahananku untuk tidak bersikap biasa saja denganmu. Aku mulai rindu bercerita banyak denganmu. Membicarakan apa saja, tentang hal-hal yang kita lewati selama itu. Tentang aku dan kesibukanmu.

Hingga akhirnya dari mulutmu sendiri aku tahu, bahwa kau tidak lagi bersama gadis itu. Ah, gadis cantik yang malang. Jika sekarang kau sia-siakan “pangeranku” ,mengapa dulu kau sombong sekali menghalangiku untuk mendapatkannya?

Lupakan! Itu hanya pikiran burukku saja. Aku tidak sepenuhnya bisa menjadi orang baik. Terkadang aku dengan sosok lain muncul untuk memenangkan egoisku. Bukankah itu hal yang wajar untuk setiap manusia? Aku rasa jawabannya adalah ya.

Tapi aku tidak begitu bahagia mendengar kabar itu. Aku hanya merasa bahagia, akhirnya aku bisa sedekat ini denganmu lagi. Masa-masa yang begitu aku impikan sejak enam tahun lalu. Sejak awal aku mengenalmu. Kita menjadi sangat akrab. Kita pergi nonton film, menikmati milk shake, dan juga menghabiskan malam dengan tawa. Tidak berdua, tapi itu cukup menukar luka-luka lama yang ada.

Sepulang mengantarku ke rumah, aku mendapati sebuah pesan singkat masuk ke layar handphone-ku. Tertera namamu. Dan isinya cukup membuat rasa penasaranku terbayar. Mengenai sikapmu dua hari ini yang kurasa tidak biasa. Kalimat singkat tanpa emoticon itu menelusup masuk dalam otakku. Gila! Selarut itu kau menyuruhku untuk berpikir keras. Kalimat aku sayang kamu yang kau kirimkan padaku, sukses membuat aku membacanya berulang kali. Kupikir ini hanya candaan. Atau kau yang terbawa suasana usai menonton film malam itu. Tapi ternyata tidak, Kau mengatakan hal yang selama ini aku tunggu. Kau menyayangiku.

Kau seperti hujan. Dan aku adalah gadis yang menyukai hujan. Hanya saja, di antaranya ada payung yang kini tengah melindungiku. Menjagaku agar tetap terlindung dari hujan. Menjagaku agar hujan tak membuat aku sakit. Menjagaku agar hujan tak menyentuh kulitku walau sedikit. Payung itu adalah kekasihku. Kau tahu, gadis penyuka hujan itu sudah lama mencintai payung. Gadis itu telah lama menggunakan payung untuk berlindung dari balik hujan. Tapi bukan berarti dia akan selamanya mengenakan payung. Dan bukan selamanya pula dia akan menyukai hujan. Segalanya bisa berubah. Semua kisah sudah ditulis indah oleh tangan Yang Maha Kuasa. Si penulis hebat yang tiada tandingannya.

Sekarang, mari jalani hari-hari kita dengan rasa bahagia. Percaya saja, bahwa semua kehendak-Nya adalah indah. Menunggu selama enam tahun tidak mudah, tapi lihatlah… Tuhan menukarnya dengan pertemuan yang tak kalah luar biasa. Aku hanya ingin kau belajar meresapi segala kejadian lama kita. Bumi ini berputar, tapi Tuhan selalu menyelipkan bahagia meskipun kita sedang terluka.

Dengarlah…
Dengan ataupun tanpaku kelak, aku ingin melihat kau bahagia dan baik-baik saja. Tanpa luka. Tanpa duka[]

Teruntuk pria,
yang sering memanggilku Milla
teruslah berbahagia

(Penulis adalah peracik kata yang hobi ketawa. Penikmat kopi tanpa roti. Pejuang rindu tanpa temu. Mari mampir ke blog pribadinya : nandadyaniamilla.blogspot.com , siapa tahu jatuh hati.)

 

 

 

Runtuhnya Sekelumit Mimpi

Cerpen Ratna Ning

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba ia datang, menyelinap dalam hidupku yang kupikir semula telah sempurna. Entahlah…mungkin karena satu sudut hatiku yang sesungguhnya telah berpenghuni ini tiba-tiba lengang setelah penghuninya menjauh secara ragawi.
Ya, sejak kepergian Dani ke Negeri sakura untuk magang kerja dari perusahaannya, aku merasa sebelah jiwaku hilang. Melayang dan seperti kehilangan arah. Kadang akupun bertanya, kesepiankah ini? Tapi mana mungkin, hampir setiap hari kami berkomunikasi. Lewat telefon, video call, sms ataupun inbox.
Aku yakin ini bukan tentang kesepian. Hanya karena keasyikan mulanya. Di sela jeda kelengangan hari-hariku selepas Dani pergi, Ken dengan luwesnya menyelinap masuk. Memanfaatkan ruang.
“Kita bisa saling menghibur, Mira. Akupun sama, berpisah jauh dengan kekasihku entah untuk berapa lama!” dimulai dengan sebuah prolog, hari-hari manispun bergulir.
Bagiku, Ken adalah lelaki yang berbeda. Ia kocak, santai, bisa menghiburku dengan jiwa seni yang dipunyainya.
Berbincang berdua sembari menyanyikanku lagu-lagu romantis dengan petikan gitarnya adalah salah satu moment romantis yang mengisi hari-hariku semenjak kenal dekat dengan Ken. Kutemukan rasa baru dengannya. Ken membuatku bergairah. Sedangkan Dani, ketenangan dan kebersahajaannya masih tetap menjadikan ia istimewa di hatiku. Dani membuatku merasa nyaman dan berharga. Kupikir, dua lelaki yang hadir dalam hidupku kini mempunyai style yang berbeda, sehingga dari keduanya aku tlah diberi mimpi-mimpi indah meski masih belum sempurna.

***
“Aku mencintaimu, Ra! Entah kapan perasaan itu hadir. Padahal kita sudah saling tahu kadaan kita sejak kita saling kenal. Tapi entahlah…rasa itu semakin hari semakin tumbuh, besar. Sampai akupun sudah tak mampu lagi menguasai logikaku!” Ken sudah nongkrong di depan wajahku dengan semburat sendu.
Aku hanya menunduk. Diam. Tak berusaha menjawab iya ataupun menampiknya. Tiba-tiba saja aku dirubung kebingungan.
“Ra…”Ia bergeming, tangannya meraih tanganku. Lalu tanpa bisa kucegah..
Cupp! Tanganku ditariknya ke bibirnya. Aku menggelinyar. Ada debar yang begitu parah dengan kejadian yang secepat kilat itu.
“Ngomong dong Ra! Apa kamu punya perasaan yang sama denganku? Atauuu…salah dengan semua yang kurasa ini? Perasaanku….”
Aku menggeleng. Kubekap mulutnya dengan kedua jariku. Mataku nanap menatapnya.
“Tidak Ken! Tak ada yang salah. Setiap orang berhak jatuh cinta. Boleh mencintai siapa saja. Bukankah cinta tak mengenal tempat untuk jatuh? Tapi…cinta juga tidak buta. Ia bisa memandang dengan akal sehat si empunya rasa untuk bisa memperlakukan rasa cinta itu jika memang ada kenyataan lain yang membuatnya tak bisa memiliki. Aku…akupun merasakan hal yang sama….” Kataku tersendat. Mata Ken begitu kejora menatapku.
“Betul Ra?”
Aku mengangguk. Lantas kubawa tundukku. Meredakan rasa yang tiba-tiba bergolak. Haiii…keep calm Ra. Kuasai akal sehatmu. Bukankah kamu sudah punya Dani? Tapi…bolehlah jika bisa bermain hati sedikit. Menjalin sebuah hubungan manis. Dan jatuh cinta? Bukankah setiap orang berhak jatuh cinta? Jatuh cinta! Bukan berarti harus saling memiliki. Toh kita tak dapat mencegah. Itu manusiawi. Orang bisa jatuh cinta ribuan kali pada orang yang berbeda di sepanjang hidupnya. Itu haya tentang rasa. Toh hati nanti tetap saja akan memilih salah satu diantaranya. Dua sisi hatiku saling mempengaruhi.
Di hadapanku, Ken senyum-senyum penuh arti. Tangannya bergerak mengacak rambutku. Membelainya lembut. Mengusap-ngusapkan jemarinya pada ubun-ubunku. Untuk sesaat aku hanya diam, merasakan perlakuan manis Ken. Hatiku terasa hangat.
“Kita akan melalui hari-hari kita dengan warna-warna cinta ya Ra. Aku akan selalu ada buat kamu. Begitu juga kamu. Kita akan saling mengisi…” bisik Ken.
“Kita?” Aku tersentak, menyadari sesuatu. “Tapi Ken…aku ragu. Aku tak mungkin bisa melupakan dan membuang Dani begitu saja dari hatiku….”
“Haiiii…kau kira aku juga bisa melupakan dan membuang Intan dari hidupku? Rasanya aku ragu juga. Aku tak siap kehilangan Intan. Tak mungkin!!” sabot Ken dengan suara tegas.
“Jadiiii??” kutatap mata romantisnya dengan rasa kebat-kebit.
“Yaaa..sementara mereka jauh dari kita apa salahnya kita jalani saja jalinan cinta ini diam-diam…”
“Artinya? Kita? Selingkuh?”
“Tapi indah khannnn?” Ken setengah menggoda. Aku tersenyum. Lebih untuk menetralisir suasana hatiku yang tiba-tiba acak-acakan tak karuan.

***
“Sedang apa sayang?”
“Menangis!” kutuliskan jawaban dengan memijit kalimat itu di inbox.
“Lho? Menangis kenapa?” Jawaban dari sana tak kugubris. Diam menunggu reaksinya.
“Dani paham apa yang Mira rasa…” tu khan, seperti tak sabar ia meneruskan jawabannya.
“Tapi tolong Mira dengar! Dani pergi untuk Mira juga. Untuk masa depan kita. Demi rasa sayang Dani sama Mira. Mira tahu, untuk mewujudkan rumah impian di hati kita, cinta saja tidak akan cukup Ra. Kita tak mungkin bisa hidup dengan ngucapin cintaaaa melulu tiap hari. Dani juga gak bisa kasih makan Mira cukup dengan say I love u. Dengan cinta Dani, Dani ingin mewujudkan sebuah bangunan yang kokoh, kuat, dengan pilar-pilar yang megah, taman yang indah. Bangunan hati dan bangunan yang sesungguhnya. Cinta yang akan kita bangun di kehidupan rumah tangga nanti, sayang. Kamu yang sabar ya? Dani tak hanya ingin membuat Mira cinta mati sama Dani. Tapi Dani juga ingin memberikan keyakinan dan kebanggaan di hati Mira hingga Mira tak akan merasa menyesal tlah memilih Dani untuk Mira cintai. Mira ngerti khan?”
Aku mengangguk, meski Dani tak dapat melihat anggukanku. Seperti juga, ia tak bisa melihat luruhan air mataku yang semakin menderas. Rasa sedih, sepi, terharu bercampur aduk dengan rasa bersalah yang membuatku tak berdaya akhir-akhir ini. Tiba-tiba saja aku merasa kerdil di hadapan Dani yang begitu kuat menjaga dan memperjuangkan cintanya sementara aku? Aku malah asyik membagi hati disini. Betapa tololnya!
Satu kotak obrolan terbuka.
“Sayaaannggg….” Ken dengan sapaan manjanya.
“Iya!” kujawab dengan singkat. Masih menunggu Dani melanjutkan obrolan.
“Dingin banget jawabannya…” datang lagi rentetan kata dari ken. Tanganku berpindah box lagi.
“Truss? Mesti gimana?” send lagi.
“Bosen ya sama aku?”
Kuhela nafas, kesal. Ken selalu begitu. Jika telat menjawab sms atau inbox, begitupun kalau telefon tak sempat diangkat, ia akan melontarkan pertanyaan serupa. Huhh! Jenuh juga lama-lama.
“Kamu selalu bertanya seperti itu. Ken, jangan kayak anak kecil deh!”
“Abisnya, kamu gak ngerti sayang, aku tuh lagi butuh kamu. Aku galau banget niii…:”
“Whats? Galau? Makhluk apa tuh? Kamu tuh lelaki dewasa Ken. Bukan ababil lagi. Jadi dah gak penting deh bergalau ria…”
“Emang orang dewasa gak boleh galau ya? Justeru orang dewasa yang banyak galau. Banyak masalah.Kamu sama saja dengan Intan. Selalu gak punya cukup waktu untukku. Aku putus asa dengan hubungan kami, Mira. Intan selalu menyuruh aku setia menunggu, tapi iapun selalu tak punya cukup waktu untukku…padahal…”:
“Heiiii..jangan underestimate dulu. Dia disana bukan sedang liburan, sedang kerja Ken. Ya pastilah hari-harinya mesti lebih focus sama kerjaan. Kamu harusnya mengerti. Bukan malah kolokan begitu. Nanti bisa jadi beban buat Intan. Kasihan khan?”
“Entahlah…”
“Aku sudah gak mood. Kerjapun jadi malas. Gak ada semangat.sorry, kayaknya aku juga bakal jarang ngehubungi dia. Mungkin ngehubungi kamu juga. Aku lelah Mira!”
Obrolan berakhir. Notifikasi aktif yang berwarna hijau padam. Tanpa memberi kesempatan padaku untuk menjawab.
“Mira sayang…sudah tenang kan sekarang?” inbox dari Dani muncul lagi.
“Baik-baik ya disana. Ingat selalu, Dani tuh sayaaang banget sama Mira. Dani ingin menjaga Mira seumur hidup Dani. Jangan khawatir sayang! Harus yakin. Oke? Dani off dulu ya?”
“Iya sayang. Mira sayang sama Dani!” jawabku mengakhiri obrolan.
Hening. Aku mencangkung di depan laptop yang masih menyala. Memikirkan kembali dua lelaki yang sempat menjadi dilema. Dani dengan kesederhanaan dan kesabarannya. Cintanya yang begitu besar yang membuatnya tegar menggapai dunianya. Ia begitu hidup dengan cinta yang tumbuh besar di hatinya. Ken, cowok yang mulanya begitu menarik dengan sifat humoris, romantis dan sempat mengantarkanku melayang dalam dunia angan tentang cinta yang begitu elegant. Tapi setelah berjalan dan merasakan setiap moment yang terjadi, Ken itu tak lebih cowok pendamba cinta yang begitu melankolik, rapuh dan mudah patah. Dibalik kekonyolannya ia adalah cowok egois yang keras hati. Tiba-tiba saja aku seperti disadarkan dari tidur dengan mimpi indah tentang seorang pangeran idaman.
Ahh, hidup ini bukanlah mimpi. Pangeran idaman itu haya hidup dalam mimpi. Sedangkan lelakiku yang sesungguhnya adalah dia yang sudah bersemayam indah di hatiku. Dia yang sesungguhnya sudah betah mendiami singgasana dan tak bisa lagi tergantikan.
“Laki-laki yang lembut hati tapi kuat dalam karakter dan pendirian. Mampu survive dan bisa mensugesti untuk suatu kemajuan, yang mampu menenangkanku dengan cintanya yang dibarengi keyakinan, dialah lelakiku!”
Di episode ini aku berhenti. Berhenti tuk melepaskan sekelumit impian yang sempat singgah. Ya, ken bagiku hanyalah sebuah impian. Karena pada kenyataannya, aku tak bisa beranjak untuk menjatuhkan pilihan pada ken meski aku sempat menjatuhkan hatiku dalam sebuah kekaguman yang berlebihan.
Kembali berjalan menggandeng hati Dani. Ialah lelakiku. Seseorang yang meskipun bersahaja tapi tak pernah melonggarkan ikatan kasihnya meski terpisah ribuan mill. Lelaki yang selalu memanggilku dengan kelembutan hatinya, tuk sentiasa kembali dan mendiami sudut indah dalam bangunan kami.
***

Biodata:

Ratna Ning, lahir di Subang Jawa barat pada tanggal 19 September. Mulai menulis pada tahun 1994. Pada tahun itu pula tulisannya di muat di media massa Kawanku. Dari tahun 1994 sampai dengan tahun 2005 aktif menulis di Media Massa. Beberapa tulisannya berupa cerpen, cerpen islami, puisi, Cerpen daerah dimuat di beberapa Media Massa Nasional diantaranya Kawanku, Ceria Remaja, Annida, Muslimah, Puteri, tabloid Jelita dan beberapa media daerah dan instansi. Sempat vakum dari 2005 sampai dengan 2012. Padah tahun 2013 beberapa antologinya baik yang digawangi sendiri maupun yang ikut event telah dibukukan.
Ratna Ning bisa dihubungi di facebook Ratna Ning. Twitter ratnaning6. Ratnaning597Blogspot.com. No. kontak 087726550820.

 

Apa Hukumnya Menikah Bagi Kinata?

Cerpen: Redovan Jamil 

Ketika makan malam keluarga kecil itu. Tiba-tiba semua mata tertuju pada Kinata. Komat kamit mulutnya mengunyah nasi serta lauk, lalu sambil menundukkan kepala ia berucap, “Aku tidak ingin menikah. Batalkan saja pertunangan yang telah kita jalin bersama keluarga Duri!” Ibunya Kinata bingung atas apa yang dilontarkan anaknya. Hanya tinggal hitungan hari pesta itu akan segera diselenggarakan.

Kelopak mata jingga Kinata kini telah berat dengan bongkahan air yang ingin buncah. Setitik. Dua titik. Kemudian pecah dan mengalir deras membanjiri pipinya.

“Bapak dan ibu tidak bisa jadi panutan untukku. Keluarga ini tidak pernah akur. Siapa yang akan aku contoh? Apa untungnya sebuah pernikahan? Dan apa juga hukumnya menikah bagi seorang laki-laki?”, gerutu Kinata dalam hatinya yang  penuh pergolakan.

Peperangan hebat terjadi pada dirinya. Masa lalu atau masa depan. Beberapa bulan setelah kejadian itu, terdengar kabar Kinata tertawa-tertawa sendiri sepanjang jalan di kotanya.

***
Mimpiku telah sirna,
Bersama petang tenggelam,
Kekosongan akan abadi,
Dalam gelap-gelap malam.
 

Lembabnya sisa air hujan semalam membasahi dedaunan di sepanjang perjalanan menuju rumahnya Kinata. Kiri-kanan rumahnya ditumbuhi oleh pepohonan yang sengaja ditanam untuk menyejukkan kota. Program penanaman itu bertujuan untuk pengendalian ekosistem yang sudah mulai tidak stabil. Masyarakat yang tidak tahu benar akan hal itu menyetujui saja. Maka tumbuh suburlah beberapa pohon pelindung di sepanjang jalan di kota itu.

Terlihat Kinata tengah termenung sembari duduk di beranda rumah. Sarjana muda itu belum mendapatkan pekerjaan. Usai perayaan wisuda yang sudah beberapa bulan lalu, ia habiskan hari-harinya membantu orang tuanya bertani. Paginya ikut ibunya ke kebun untuk menyadap karet. Dan siangnya ia bekerja di sawah.

Sekarang adalah musim panen. Padi-padi telah menguning. Hamparan keindahan persawahan itu tersaji indah di depan mata. Bertumpak-tumpak sawah milik petani sudah siap untuk di panen. Terlihat Kinata tengah menyusuri pematang sawah sembari mengamati padinya siang itu. Wajah tersenyum dan hatinya berkata, “Sawah adalah taman kanak-kanakku, sebelum kehadiran lelaki asing itu. Apakah waktu bersedia berbalik haluan?”

Semua masa kecilnya itu sempurna hadir. Tidak sanggup ia menepis kenangan yang membuatnya rindu akan kedamaian itu. Di mana ia berlari sebisanya di dalam lumpur sawah. Memancing belut. Mengamati senyum ayah kandungnya yang penuh takjub pada kelihaiannya membuat pematang sawah.

“Anak bujangku yang pintar dan tangguh. Jagoan bapak yang nomor satu”,  ucapan ayah kandungnya sambil mengacungkan jempul ke udara. Kinata tersenyum penuh dengan rasa bangga. Anak kecil yang haus prestasi dan pujian dari orang yang dicintainya.

Kini Kinata telah beranjak dewasa. Orang asing selalu hadir di dalam keluarganya. Merenggut semua kebahagian yang dulu ada. Kinata sudah memvonis dalam dirinya bahwa lelaki itu adalah orang asing baginya. Selalu asing. Sampai detik ini.

“Kenapa IP kamu dari semester ke semester selalu menurun? Semester sebelumnya satu mata kuliah yang tidak tuntas. Untuk sekarang bertambah menjadi dua”, ibunya Kinata kesal sembari membaca lembaran nilai semesternya. Kinata hanya menundukkan kepala. Jika ibunya memarahi atas penurunan prestasinya, ia selalu mencoba tidak melawan. Walau di dalam hatinya banyak pernyataan-pernyataan pembelaan yang ingin ia lontarkan. Tentang keluh kesah yang menganjal di dalam dadanya. Tetapi kali ini ia hanya sanggup menahannya. Mencoba untuk terlihat biasa-biasa saja.

Tubuh Kinata terasa lemah dan tidak berdaya. Ia tidak ingin mengerjakan apa-apa. Kinata mengurung dirinya di kamar. Terdengar ibunya memanggil dan menyuruhnya ke kebun. Ia pura-pura tidak mendengarnya.

“Sarjana macam apa anakmu itu? Kerjanya hanya bermalasan saja. Disuruh kerja tidak mau. Lebih baik pergi saja dia dari rumah ini!”, terdengar sayup-sayup perbicangan lelaki asing itu dengan ibunya Kinata. Ibunya hanya diam. Tidak memihak siapapun. Lelaki asing itu terus memaki-maki Kinata. Menghujat semua kesalahan Kinata. Kinata hanya diam di dalam kamarnya.

‘Aku adalah orang asing, semenjak kedatangan lelaki asing itu di ramah ini. Aku adalah orang baru di rumah sendiri.’ Air bening telah mengalir di pipinya. Ia rindu akan ayah kandungnya. Orang yang menjadi jagoannya sekaligus teman bermain baginya. Orang asing itu tidak akan pernah sanggup menggantikan posisi ayah kandungnya. Sampai kapanpun.

***

“Apakah benar apa yang dibicarakan tetangga akhir-akhir ini Suharti. Tolong berikan penjelasan kepadaku?”, ayah kandung Kinata ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”, ibu menyergah ayah kandungnya Kinata.

“Berikanlah penjelasan yang pasti, Suharti! Saya tidak suka berbelit-belit.” Ayah Kinata mencoba mengendalikan emosinya. “Iya. Memang benar apa yang dilihat dan dibicarakan tetangga kita”, ibunya Kinata berucap tanpa ada penyesalan pada raut wajahnya.

Ayah Kinata hanya sanggup menggeleng-gelengkan kepala. Ia tidak menyangka setega itu istrinya menghianati pernikahan mereka yang tidaklah seumuran jagung. Beraninya ibu Kinata membawa lelaki asing ke rumahnya. Ayah Kinata pergi beberapa hari dari rumah hanya untuk menjali tugas dinas dari sekolah. Selama itu wanita yang dari dulu ia cintai dan ia banggakan tega berselingkuh. Mengakui semua kejadian itu tanpa rasa bersalah sedikitpun. Ayahnya Kinata sungguh kecewa. Hatinya tidak sanggup menerima kenyataan yang berdiri tegak di hadapannya.

Malam itu Kinata tidak ada di rumah. Ia tidak tahu pertengakaran hebat yang terjadi antara ibunya dengan ayah kandungnya.

“Ayah mana, Bu?”, dengan polosnya Kinata bertanya pada ibunya.

“Ayahmu sudah pergi semenjak tadi malam”, jawab ibunya datar. Mencoba untuk mengalihkan percakapan.

“Ayah dinas lagi, Bu?”, lanjut Kinata dengan penuh tanda tanya. Ia sudah menunggu kepulangan ayahnya beberapa hari ini.

“Ayahmu pergi selamanya. Mungkin tidak akan pulang lagi”.

Wajah Kinata merah padam.

Setelah ibunya mejelaskan semuanya. Semenjak itu Kinata benci dengan ibunya. Kinata sangat merasa kehilangan. Ia selalu menunggu ayahnya untuk kembali ke rumahnya. Tapi ayahnya tidak kunjung pulang. Hari-hari Kinata dipenuhi kesedihan dan kerinduan terhadap ayahnya.

***

Waktu makan malam, ibunya meminta waktu untuk membicarakan hal serius. Kinata hanya memasang wajah datar. Apapun yang ingin dibicarakan ibunya, baginya tidak penting. Kinata tidak begitu peduli lagi dengan ibunya, apalagi tentang masa depannya. Kini Kinata tidak memiliki semangat hidup. Rasanya ia ingin mencari ayahnya. Tapi ia tidak tahu ke mana ayahnya pergi. Sampai saat ini Kinata tidak pernah lagi mendapat kabar dari ayahnya.

“Ibu ingin menikah lagi. Ibu harap kamu menyetujui rencana ini!” Beberapa kata yang disusun menjadi sebuah kalimat yang menghujam jantung Kinata. Kalimat yang dilontarkan ibunya bukanlah sebuah pertanyaan, tetapi adalah sebuah pernyataan. Pernyataan yang tanpa ada kata penolakan yang keluar dari mulut Kinata.

Kinata memandang wajah ibunya lamat-lamat untuk beberapa detik. Kinata dapat menafsirkan bahwa apa yang diucapkan ibunya adalah sesuatu yang sungguhan. Kinata meletakkan sendok makannya dengan sembarangan dan meninggalkan bunyi yang keras. Berjalan dengan terburu-buru ke kamarnya. Baginya kalimat yang disampaikan ibunya adalah sebuah kewajiban untuk sepakati.

Perasaan Kinata tidak karuan. Otaknya dipenuhi rasa benci terhadap ibunya. Setega itu ibunya menikah dengan orang lain dan menggantikan posisi ayahnya. Kinata mengurung diri di kamar dan tidak keluar-keluar.

***

“Siapa yang kamu bonceng kemarin siang? Ada tetangga yang bilang”, ibunya Kinata melontarkan pertanyaan kepada lelaki asing itu.

“Ooo…perempuan itu. Dia adalah teman lamaku, kebetulan bertemu tadi di pasar. Jadi aku mengantarnya pulang,” jawab lelaki asing itu seadanya sembarai memainkan cigaret.

“Sudah sering tetangga melihatmu bersama perempuan itu. Sekarang jujur saja”.

“Siapapun perempuan itu, memang bagaiman?”, dengan suara tinggi lelaki asing itu membentak ibunya Kinata.

“Apakah dia selingkuhanmu?”

“Kalau benar kenapa? Jika tidak bagaimana?”. Persis dengan kalimat yang pernah dilontar ibu Kinata kepada ayah kandungnya. Air mata ibunya Kinata telah buncah dan menghujani pipinya. Semua telah terjadi. Kekecewaan telah terbalas kekecewaan. Tidak ada yang harus disalahkan, selain diri sendiri.[]

 

Biodata

Redovan Jamil, lahir Padang Benai pada 24 tahun yang lalu. Profesi  karyawan Yayasan Dompet Dhuafa sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia yang bertugas di Kepulauan Meranti, Riau. Ingin menebarkan virus cinta literasi kepada anak-anak marginal/ujung negeri. Berbagi apa punya, menuai apa yang disemai. Antologi puisinya juga pernah tergabung dalam Puisi Penyair Nusantara 6,5 Luka Pidie Jaya: 2016, Sajak Hujanku: 2016, dan Antologi Sajak-sajak Anak Negeri: Sajak Angin: 2017. Karya dan tulisannya juga pernah dimuat di media lokal dan nasional seperti Riau Post, Haluan Singgalang dan Rakyat Sumbar serta media online lainnya. Alamat Yayasan Fitrah Madani Meranti, jln. Siak no.70A Selatpanjang, pos 28753. Bisa dihubungi ke nomor 085265781291/ WA, email redovanjamil1993@gmail.com, dan Facebook atas nama Redovan Jamil

Keranda Yang Membelot

 Cerpen Otang K.Baddy

Para pengusung keranda itu mandi keringat. Semangat yang tinggi atas bayangan upah yang menjanjikan, telah membuatnya mati rasa. Mereka tak perduli apakah para penggali kubur merasa kesal dan pegal menunggu.  Juga, tak hirau akan keluguan iringan para pengantar yang sakral akan kalimah-kalimah toyibah yang menyertainya di gang setapak. Begitu pun soal tanda tanya semua orang di area pemakaman, tak jadi beban bagi mereka. Keranda berisi jasad perempuan tua itu bak emas murni, begitu sigap  disikat, dan telah berhasil  dibelotkan dari tujuan semestinya.

Keranda itu diusung lebih cepat, bahkan kalau perlu melompat demi menghindari kalau ada bola mata melihat. Bukan persoalan jika jasad itu terantuk-antuk atau terbanting ke kiri dan ke kanan membentur dinding keranda. Biarkan saja, yang penting sebujur tubuh kaku itu bisa terhindar dari penguburan di pesarean.
Mereka menaiki sebuah bukit dan batu cadas, untuk mencapai sebuah goa. Pengusungan pun agak hati-hati tatkala ditemui medan yang agak licin, mungkin bekas hujan semalam.
“Tinggal beberapa langkah lagi,” ucap salah seorang di antara mereka. Yang lain mengiyakan di tengah dengus nafas yang memburu. Memang mulut goa itu sudah di depan mata. Namun untuk mencapainya diperlukan pekerjaan yang ekstra ketat, mengingat mulut goa itu berada beberapa meter di atas kepala mereka. Jadi penyelesaianya bukan lagi berjalan, melainkan harus memanjat.
“Awas harus hati-hati!” kata seorang lelaki yang tiba-tiba muncul di mulut goa, bak seorang pribumi. “Yang dua orang naik dulu ke sini,” lanjutnya.
Setelah dua batang pinggulan depan keranda ditopangkan di tebing, dua orang itu memanjat ke bibir goa, sementara dua orang pengusung masih menahan di belakang. Lalu dua orang di bibir goa itu merengkuh kedua ujung keranda, dan perlahan menariknya ke atas. Demi menghindari kecemasan yang fatal, semua menahan nafas. Sebab posisi keranda itu tak cuma miring, melainkan berdiri seperti tangga.
          Entah ceroboh karena tergesa, atau mungkin keranda itu sudah cukup umur, tiba-tiba pintu keranda belakang tosblong bersamaan dengan melorotnya jasad kaku itu. Tanpa diduga mayat yang sudah mengeras itu terjatuh keras ke batu cadas dan terpelanting jauh, hingga terbontang-banting dari atas lereng bukit penuh bebatuan itu. Karenanya, kain kapan yang telah membungkusnya dengan rapi serta mewangi itu merosot dari jasadnya dan tersangkut pada sebuah tunggul.
“Goblog, kalian semua goblog!” maki seorang lelaki yang di goa tadi dengan geram. Giginya yang agak menghitam karena rokok, tampak gemeretak dirasuk amarah.
“Ini kegagalan total, dan merupakan aib besar! Aib besar sepanjang sejarah!” katanya seraya mata memandang langit, serta tangan kanan meninju-ninju telapak tangan kirinya.
Setelah empat orang itu melongo dan menyadari keteledorannya, seorang berkata penuh harap. “Mau kami Anda bersikap tenang saja, sebab ini bukan suatu kesengajaan. Bukankah jasad itu bisa diambil dan dikapani lagi seperti semula?”
“Sangat pesimis, mengingat jasad ibuku telah rusak!”
Entah apa maksud lelaki bujang lapuk itu. Memang tiada yang tahu pasti. Pengusung yang empat orang ini pun bukan sepenuhnya percaya padanya. Mereka bergiat lebih dikarenakan pada upah yang dijanjikan.
       Menurut Warong –satu-satunya anak lelaki almarhumah-perempuan yang kurus tinggal tulang itu belum sepenuhnya mati. Ketidakberdayaannya itu hanyalah koma semata. Di mata Warsad tubuh ibunya subuh tadi masih hangat, di pergelangan tangannya masih ada denyut. Dengan mendekatkan telinganya ke hidung jasad, ia masih mendengar dengus nafas. Tapi kenapa orang-orang telah memvonis sebuah kematian?
Pagi hari dada Warong panas menyesak. Bergumpal rasa, antara cemas dan harap begitu dahsyat menyergap. Bukan kesal pada warga yang datang dan turut belasungkawa, namun ia lebih benci dan dendam pada yang membuat keputusan.  Sumaring, kakak perempaun Warong satu-satunya, yang sok alim itulah biang keroknya. Dan menuding dirinya tak sayang orang tua, tak sayang pada ibunya.  Sumaring, merasa lelah akan ketelatenan mengurus perempuan tua yang sering sakit-sakitan selama adiknya itu pergi melanglang. Warong memang sering pergi dengan alasannya ingin melanglang buana. Dalam hidupnya ia tak cukup puas dengan hanya membaca buanakata, apalagi sampai dibuat situs model yang ini. Ia ingin menyelami kehidupan ini sampai ke buanarasa.
“Wah, kamu selalu ngaco, Warong. pola pikirmu telah ngawur. Istigfar kamu!” kata Sumaring kesal. Perempuan yang telah menjanda 4 anak itu sudah tak mau lagi mendengar omongan adiknya yang seperti punya kelainan tersebut.
Yang tak dimengerti oleh Sumaring– Warong sering mengembara itu mencari matahari yang tak terlihat di siang hari, mencari bulan yang tak pernah muncul di malam hari. Mencari bintang yang tak tampak berkedip, mencari mata yang buta saat belala. Mencari dirinya yang hilang ditelan kabut misteri. Begitulah Warong setiap hendak pergi kerap berujar di depan ibu dan Sumaring.
Dan dengan sering pergiannya Warong yang tak jelas tujuannya itu membuat Rukni  –ibunya, sering sakit-sakitan. Ibunya mengharap kepergian anak lelaki satu-satunya itu benar-benar mencari cinta atau iwanita seperti pada umumnya untuk dijadikan istri sekaligus mantunya. Namun entah yang kesekian kalinya setiap anak lelaki itu datang, sang ibu selalu mengurut dada. Kenapa anaknya itu kerap pulang melenggang dengan tetap melajang?
Kendatipun kedatangannya langsung bersimpuh, rasa kecewa ibunya tak terobati. Bahkan di hari berikutnya, perempuan yang sudah kurus-kering, tinggal kulit yang membungkus tulang itu, langsung merebahkan tubuhnya di dipan. Warsad tak cemas melihatnya, dalam batinnya, perubahan ibunya yang mendadak itu adalah sebuah bentuk dari kepuasan akan kepulangan dirinya.
       Semenatara Sumaring,  telah membaca gelagat bahwa perempuan ringkih itu sudah mendekati maut. Maka, nyaris tak luput setiap saat kerap menungguinya. Sedang Warong seperti mati rasa, ia lebih banyak berada di luar rumah memandang langit. Satu, dua orang temannya -yang sudah berkeluarga, seakan setia menemaninya ngobrol. Warong seakan lihai dalam mengurai kata, sehingga apa-apa yang diucapkannya itu seperti kebenaran. Dua orang temannya itu mengakui  Warong itu sebagai punya daya linuwih.
Maka ketika berita kematian terdengar di pengeras suara mereka tak percaya. Apalagi setelah Warong memeriksa keadaan tubuh ibunya, bukan sedih yang dibuat, melainkan tersenyum.
“Jangan tunjukkan kebodohanmu, Rong,” kata Sumaring tatkala adiknya berpendapat lain.
“Janganlah kau usik lagi Sang Ibu, biarlah dia menikmati peristirahatannya.,”
Warong tak berdaya untuk mengutarakan pembelaannya. Apalagi belum setengah jam, para warga sudah berdatangan.
Saat proses pemandian jenazah Warong tak bisa diam. Tampak terjadi bisik-bisik dengan kedua temannya itu. Di antara isi bisikkan itu, “Asal dengan kerja keras dan terampil uang sepuluh juta siap diberikan.” Dalam waktu singkat kesepakatan pun didapat. Dua teman itu segera mencari rekanan, hingga empat orang pengusung siap menyantap suap.
“Pengembaraanmu yang fana akan terus kujaga,” desis Warong, setelah sebelumnya ia pamit pada temannya untuk pergi menunggu di suatu tempat. Dalam teropong kacamata batinnya, ruh perempuan itu tengah mengembara ke dunia lain atau bisa disebut mati suri. Setidaknya tiga hari ke depan ruh itu akan kembali ke raga. Apa pun resikonya, jasad ini harus benar-benar dijaga, terutama jangan sampai terluka, begitu batin Warong.
Namun apakah yang terjadi? Jangankan dapat terjaga dari suatu luka, di dekatnya pun kini jasad itu sudah tiada[]
       (Merupakan cerpen revisi dari judul yang sama, karya Otang K.Baddy yang beberapa waktu lalu pernah dimuat di Kabar Priangan)