Oleh: Sabda Alur
Aku benar-benar ingin menemui bapak sore ini. Semenjak banyak orang sering mendatangi kuburannya, aku tak lagi bisa bermain di samping gundukan tanah yang hanya ditandai sebuah batu sebagai nisan.
Suasana agak riuh, saat aku berjongkok di bawah pohon rambutan. Semakin mendekati adzan maghrib, orang-orang semakin berjubel. Sebagian ada yang sibuk merapal do’a sambil memegangi ujung nisan, sebagian lainnya menyirami kuburan dengan air kembang mawar. Wajah mereka sangat khusyu’. Matanya terpejam dengan sedikit mendongak ke langit.
“Kau pegang kolat tadi? Aku tak percaya ada jamur macam itu,” ucap seorang lelaki yang berjongkok di sampingku.
“Ya, barangkali Jumarto kasian melihat bini dan anaknya sengsara.”
Sebenarnya, aku tak ingin melihat orang-orang datang ke kuburan bapak. Kalau sekedar menengok rupa kolat yang tumbuh di dekat nisan, tak apa. Tapi, lihatlah sore ini. Orang-orang berdo’a dan meminta banyak keinginan di kuburan bapak terutama kesembuhan penyakit dan cepat kaya. Anehnya, Lek Man, saudara bapak satu-satunya, menjual air yang katanya telah didoa’kan secara khusus di atas makam bapak.
“Kau tau, kemarin lusa ada polisi datang kemari. Mau mencabut jamur itu. Bahkan sampai digergaji, kolat tetap tak bisa terpotong. Sepulang dari Seputih, polisi itu mati ditabrak truk.”
“Pasti itu karma, Jup. Sudah tau kuburan itu angker.”
“Kau benar. Barangkali mereka tak tau, itu kuburan siapa. Jumarto memang miskin. Tapi, kebaikannya tak ada yang menandingi.”
Jamur yang tumbuh di atas makam bapak memang tak seperti jamur lainnya. Tingginya tak sampai setengah meter. Bercabang seperti pohon dengan batang dan ranting. Sudah sebulan lebih kolat itu tumbuh dan sampai sekarang tak layu. Barangkali, ini yang membuat orang-orang dari luar kabupaten datang berkunjung. Meminta banyak keinginan, membeli air Lek Man dan sedikit memberi uang untuk emak.
“Eh, itu, Samad! Yang jongkok di samping laki-laki bersarung coklat.”
Puluhan orang-orang yang berada di sekitar kuburan, menoleh ke belakang. Mereka berlari ke arahku. Pastinya akan berebut menyalami tangan kecilku ini, lalu menyantuni dengan beberapa lembar rupiah. Tak cukup sampai disitu. Mereka akan meminta dido’akan, sebab hanya aku anak bapak yang kuburannya ditumbuhi kolat. Mereka percaya do’aku mandih. Dikabulkan Tuhan.
Aku tak mau turuti keinginan mereka. Kaki ini meliuk-liuk diantara kuburan berlari pulang. Sesampai di dapur dengan nafas tak teratur, kudapati suasana rumah cukup ramai. Masih dengan nafas terpotong-potong, kulihat banyak orang berpakaian dinas polisi duduk di dekat emak. Ada pula yang berpakaian seperti sesepuh di kampung. Ya, itu memang sesepuh.
“Tak mungkin kita biarkan terus menerus. Sebulan lebih jamur itu ada disana. Lihatlah orang-orang yang selalu seliweran berdo’a dan meminta.”
“Orang-orang mulai salah mengartikan ziarah. Mereka meminta agar penyakitnya disembuhkan. Itu tak boleh dalam agama.”
“Kalau begitu, apa bapak-bapak ini bisa mencabut kolat itu? Nyatanya, dulu digergaji tak bisa. Ini bukan kolat sembarangan. Ini takdir Tuhan berikan kolat di kuburan Jumarto. Kalau bapak mau mendapat karma, silahkan saja dicoba,” Lek Man berseloroh tinggi.
“Anak buah saya murni mati tertabrak truk. Benar-benar kecelakaan. Tak ada kaitannya dengan jamur itu. Kalau kalian semuanya tak mau bekerja sama dengan kepolisian, tak apa. Tapi, kalian semua akan berurusan dengan kami, sebab tak mau berkompromi demi kebaikan bersama.”
Suasana hening. Lek Man diam. Begitupun sesepuh kampung, turut mematung.
“Sekiranya itu demi kebaikan kita semua, saya ikhlas, Pak. Alangkah baiknya jamur itu memang dipotong atau bahkan dibuang.”
“Apa yang kamu lakukan Sa’ti? Kau tak bisa lihat, hidupmu lebih baik setelah kolat itu tumbuh? Benar-benar gila kau rupanya,” mata Lek Man mendelik. Tersirap mendengar penuturan emak.
“Jumarto itu suamiku, Man. Lagi pula, aku tak menginginkan ini semua. Untuk apa rumah berbatu bata, lantai keramik, lalu uang melimpah kalau nyatanya orang-orang menjadikan kuburan Jumarto sebagai Tuhan,” bibir emak bergetar. Tak pernah kulihat wajah seperti itu sebelumnya.
“Ah, dasar manusia tak mau diuntung. Sudah baik aku urusi keuanganmu. Tak tau berterima kasih.”
Lek Man keluar tanpa salam. Dan, emak kembali mengusap matanya yang berair.
***
Keesokannya, suasana di kuburan bapak lebih riuh dari sebelumnya. Ratusan polisi menjaga area kuburan. Berita pencabutan jamur sudah menyebar. Ada yang setuju, sebagian besar lainnya berusaha menyerang polisi.
“Keparat kalian semua. Pasti kalian celaka.”
“Kalau kalian tak percaya, lihat saja sebentar lagi.”
Suasana semakin panas. Kulihat Lek Man berada di depan orang-orang. Mengeluarkan sumpah serapah tak karuan. Petugas tak hiraukan dengungan warga. Mereka tetap menggali sampai akhirnya berhenti.
“Angkat saja bambu-bambu itu!” perintah salah seorang lelaki berpakaian polisi, yang menyuruh para penggali mengeluarkan dinding areh. Sekat di dalam kuburan yang terdiri dari beberapa potongan bambu.
Saat dinding areh diambil, para penggali tercengang. Mendadak mereka loncat keluar dari kuburan. Tersisa seorang di bawah sana.
“Ada apa?”
Penggali tadi gemetar. Mukanya pucat.
“Jamur itu, tumbuh dari kepala jenazah, Pak.”
Komandan di hadapannya tak kalah tercengang. Ia turun ke dalam kuburan. Tiba-tiba hujan turun mengguyur. Petir saling bersahutan. Padahal terik matahari sebelumnya menyengat. Komandan tadi keluar. Menghampiri penggali tadi supaya turun kembali. Penggali kembali turun membawa gergaji. Suara gesekan gergaji dan jamur terdengar keras. Lagi-lagi penggali tadi menggelengkan kepala. Jamur tak bisa dipotong. Bahkan gergajinya patah. Jamur hanya berbekas lalu mengeluarkan darah.
Sesepuh kampung terkejut. Ia menyuruh komandan menghentikan pekerjaan ini. Komandan tetap bersikukuh. Ia mengeluarkan kembali gergaji baru. Menyuruh keluar para penggali. Ia turun ke kuburan. Memotong sendiri jamur itu. Tak sampai menyentuh jamur, petir menyambar tubuhnya. Sang komandan mendadak mati. Orang-orang yang semula mengeluarkan sumpah serapah, terdiam melihat tubuh kaku komandan. Mereka tak percaya, ucapannya terbukti.
Aku yang melihat tubuh komandan diangkat dari dalam kuburan, tak kuasa menopang tubuh. Seakan Tuhan benar-benar menjadikan kolat itu sebagai mukjizat layaknya para nabi. Tiba-tiba aku ingin menemui bapak. Melihat kain kafan dan tubuhnya yang tak tak terjamah tanah meski lima tahun telah meninggal.
“Bapak,” ucapku bercampur isak tangis.
Sesepuh kampung menghampiri. Menahan tubuhku yang bergerak turun ke dalam kuburan.
Tiba-tiba saja petir datang menyambar. Kilatan cahayanya jauh lebih silau. Semua mata tak bisa memandang. Kali ini tak ada yang mati tersambar petir. Manusia ataupun pepohonan. Aneh. Tubuh bapak tak lagi di dasar kuburan. Ia menghilang. Ya, ia terangkat ke atas. Seakan ada yang membawanya terbang. Langit seakan terbelah. Tubuh bapak terus terangkat. Aku melihatnya. Tubuh bapak diangkat ribuan orang berjubah putih. Terus menaik. Tiba-tiba sesuatu jatuh di dekat kaki. Kolat. Ini kolat seperti yang ada di kuburan bapak. Panjangnya sekitar dua puluh sentimeter. Memiliki batang dan ranting. Bercabang seperti kolat yang didatangi orang-orang kemarin.
Sabda Alur, Bertempat tinggal di Jember, Jawa Timur
Pone Syam, lahir 19 November 1988 di Kota Makasar. Perempuan yang punya rnama lengkap Rahmayunawati Syam, lulus dari SMU Negeri 1 Tamalate, saat ini tengah memfokuskan diri dalam menulis prosa. Sementara –katanya, sebelum berharap ada penerbit yang tertarik karya-karya tersebut ia simpan di 

