Arsip Tag: Nasrul M. Rizal

Masakan Ibu dan Cerita Yang Mengiringinya

Cerpen: Nasrul M. Rizal

Kamu tahu, apa yang membuat aku rindu rumah? Ya, kamu benar. Canda dan tawa adikku, beserta kenakalan yang mereka ciptakan. Tapi ada satu hal lagi yang membuatku sangat rindu rumah. Ingin sekali pulang walau beberapa hari yang lalu sudah pulang. Yang tidak bisa diobati meski berkomunikasi lewat sambungan telepon. Bahkan lewat video call sekalipun. Kamu ingin tahu? Aku merindukan masakan ibu.

Tidak terhitung berapa kali aku membeli makanan. Mulai dari makanan cepat saji hingga makanan lama tersaji. Beli di rumah makan biasa hingga mewah. Diwarteg hingga rumah makan padang. Mulai dari yang harganya ribuan rupiah hingga ratusan ribu. Tapi, tidak satu pun yang bisa menggantikan masakan ibu. Aku pun heran. Padahal jika diperhatikan, masakan ibu sangat sederhana. Aku juga bisa membuatnya, dengan resep dan cara yang sama. Anehnya rasa masakanku kalah jauh dibandingkan masakan ibu. Apa karena aku masaknya terlalu lama ya (baca: gosong) atau justru terlalu sebentar. Ah, perasaan sama kayak ibu. Dan kenapa rasanya terlalu asin. Apa karena aku pengin cepat-cepat nikah, seperti yang diucapkan ibu? Bisa jadi sih haha.

Di rumah, aku bersedia menunggu lama demi mencicipi masakan ibu. Sambil menunggu Ibu memasak, aku menjagasi bungsu yang mulai nakal. Si bungsu sering membuat onar. Namanya Alfath,walau masih merangkak tapi, kamu harus percaya, dia bisa menjadikan rumah seperti kapal pecah. Apa pun diperhatikan. Dimainkan. Lebih tepatnya dirusak. Remot TV dilempar gara-gara tidak bisa digigit. Mungkin dia kira biskuit. Yang lebih menggelikan, saat aku membuka kulkas, Al mendekat,sepertinya dia penasaran. Sebagai kakak yang baik hati, aku menuruti rasa ingin tahunya. Dengan semangat Al mengacak-acak isi kulkas. Tidak lama kemudian dia menangis. Aku mengenalkan dia dengan es batu,freezer.Mendengar si bungsu menangis, ibu berhenti masak, memarahiku sejadinya. Untung aku bukan anak kecil. Jadi meski dimarahi aku tidak menangis, seperti ketiga adikku.

Aku menyesal mengenalkan Al dengan es batu. Bukan karena dia menangis, tapi karena dia dibawa sama ibu. Artinya aku harus menunggu lebih lama unutk merasakan masakan ibu. Memasak sambil menggendong anak pasti merepotkan. Aku saja masak tanpa ada gangguan sangat repot, apalagi ini, diganggu Al. Semngat ya Bu. Eh, maksudnya semangat Bu.

Jarum jam menunjuk angka 10. Perut aku sudah berbunyi, krubuk, krukk. Sepertinya cacing di perutku sedang demo. Aku harap mereka tidak anarkis. Supaya tidak terjadi bentrok. Kan bahaya kalau bentrok. Bisa-bisa perutku semakin kencang bunyinya.

Karena sudah bebas tugas –tidak menjaga Alfath lagi– aku semedi di kamar. Aku mendudukkan si Hime dipangkuanku, membuka bajunya pelan-pelan, merabanya, memijitnya perlahan. Sungguh mulus si Hime. Dalam hati aku berkata, “Hime, sekarang hanya ada kau dan aku, kita bisa berlama-lama menikmati waktu.” Aku kembali memijit tubuh si Hime.Untung saja kuota aku masih banyak, jadi semediku pasti berjalan dengan mulus. Apa? Kamu pengin kenalan sama Hime? Hmm, baiklah. Dia laptopku. Sudah tiga tahun lamanya Hime menjadi sahabatku. Dia menemaniku mengerjakan tugas, menonton film, main game, berselancar di dunia maya, dan … rahasia. Sudah beberapa kali Hime sakit (baca: rusak) karena itu aku mengganti namanya. Awalnya nama dia Asu seperti mereknya, aku ganti jadi Hime. Berdasarkan kepercayaan orang-orang di kampung halamanku, kalau ada anak yang sakit-sakitan terus, maka namanya harus diganti. Nah, aku melakukan hal yang sama pada laptopku.

Belum lama aku semedi, pintu kamarku dibuka kasar. Mataku berpaling dari wajah si Hime, melihat sosok pembuka pintu. “Si raja onar pulang. Pasti dia ganggu,” batinku.

Aa[1] tadi Azka olahraga. Lari jauuuuhpisan[2]. Untung Azka biasa lari jadi teu cape teuing.[3]” Si pembuka pintu menembakku dengan ocehannya.

Aku mengembuskan napas panjang. Mencoba meniraukannya,kembali fokus menatap wajah si Hime.

“Wih si Aa jago perang. Tembak, terus tembak.” Tiba-tiba si pembuka pintu duduk di sampingku. Menyuruh ini dan itu layaknya komandan, “Tembak yang sebelah kiri. Itu di belakang. Awas bom. Ah, si Aa mah teu baleg maen teh[4]. Gantian! Azka yang maen.”

Tanpa dipersilakan Azka mengangkat si Hime dari pangkuanku, meletakkannya di kasur. Aku menatapnya sinis, dia merusak kebersamaanku dengan si Hime.

“Aa gimana cara maennya?” Azka bertanya dengan tampang polos khas anak SD.

Heeeeuhh kalau saja dia bukan adikku, daritadi sudah kutelan kepala pelontosnya. Menyebalkan sekali. Mana masuk kamar tidak izin dulu. Ganggu maen game. Merebut si Hime. Dan dengan polosnya bilang gimana cara maennya. Menyebalkan bukan? Dari ketiga adikku, Azkalah yang sering bikin onar. Si raja onar. Tidak ada hari tanpa “pertikaian” antara Azka denganku. Bahkan ketika matahari masih bersembunyi, emosiku sudah meninggi. Dengan wajah tanpa dosa, Azak memukul pipiku. Berteriak, “Bangun! Bangun! Hey kebo bangun!” Dengan sangat terpaksa aku bangun. Ingin sekali kutelan kepalanya yang mirip baso. Tapi niatku selalu urung. Dalam kondisi apa pun. Dalam keadaan bagaimanapun. Aku yang akan disalahkan. Ya, Ibu pasti memarahiku. Katanya aku ini sudah besar jadi harus mengalah. Benarkah seorang kakak harus selalu mengalah pada adiknya? Walau dalam keadaan apa pun? Apa kamu seperti itu?

Kedongkolanku sedikit berkurang. Ibu memanggilku. Meminta untuk menggendong Al. Harumnya masakan ibu membuatku semakin ngiler. Perutku berbunyi keras, krubuk, krubuk, krubuk. Sepertinya cacing di perutku menjadi anarkis. Ibu membersihkan dapur. Tak lama kemudian makanan sudah siap disantap. Kami (aku, Azka, Ibu dan Al) duduk, melingkar, di karpet tipis. Di rumahku tidak ada meja makan. Tapi meskipun begitu, makan dengan cara seperti ini sungguh nikmat. Sesekali cobalah!

“Biasakan berdoa dulu sebelum makan… Azka jangan buru-buru makannya. Deni jangan banyak-banyak lauknya, ingat Ayah sama adikmu, Anti.” ucap Ibu mengingatkan sekaligus menegur.

Dasar Azka, dia menghiraukan teguran Ibu. Mulutnya cepat mengunyah makanan. Tidak mau kalah dengan Azka, aku pun malahap masakan sederhan ini. Ya, kali ini Ibu memask tumis kangkung, tahu, tempe dan cumi. Tak lupa sambal terasi sebagai pelengkap. Walaupun sederhana tapi rasanya nikmat sekali.

Kalau Ayah dan Anti bergabung. Suasana makan pasti lebih hangat –lebih tepaya panas. Azka dan Anti berebut lauk. Walaupun Ibu sudah membaginya dengan adil. Tetap saja kedua anak itu tidak mau mengalah. Merasa bagian yang satu lebih banyak dari yang lainnya. Jika Ayah tidak turun tangan terkadang salah satu di antara ke duanya menangis. Lebih seringnya Azka yang menangis. Aku memanfaatkan situasi tersebut dengan mengambil lauk lagi. Menyembunyikannya di bawah nasi. Stttt! Ini rahasia.

Ya, aku ingin pulang karena rindu masakan ibu. Rindu makan bersama keluargaku. Lebih rindu lagi melihat Azka dan Anti bertengkar, sedangkan aku memanfaatkannya untuk menyelundupkan lauk.

Jadi kamu mau makan apa? Maaf aku malah bercerita hehe. Sesuai dengan janjiku, sebelum pulang ke rumah, kita makan bareng dulu. Silakan pilih saja. Tenang aku yang bayar[]

[1] Kakak

[2] Banget

[3] Tidak terlalu capai

[4] Tidak bener mainnya

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

 

 

Menyelamatkan Jejak di Kehidupan yang Singkat

Oleh: Nasrul M. Rizal

Banyak orang yang terlahir ke dunia ini, namun hanya segelintir saja yang dikenal oleh kebanyakan orang. Apakah kalian termasuk yang terkenal? Namun bagaimana jika sudah meninggal, masihkah dikenal? Boleh jadi lenyap begitu saja, dicerna oleh bumi, hilang di ingatan. Tapi ada satu cara supaya nama kita bisa abadi walau kita mati. Ya, menciptakan karya. Sebagaimana yang dikatakan Pramoedya Ananta Toer: “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Itulah yang saya maksudkan dengan jejak. Menyematkan jejak melalui karya tulis.

Keinginan menulis buku lahir dari teman saya. Sebelum perpisahan (SMA) dia menulis sebuah buku dan diterbitkan oleh penerbit mayor. Hal itu yang menjerumuskan saya untuk datang ke toko buku, ingin membeli bukunya. Dikarenakan baru pertama kali datang ke toko buku yang super komplit –karena di Garut tidak ada toko buku besar– saya ngiler melihat ribuan buku yang berjajar rapih. Saya mencari buku karya teman saya di setiap sudut toko. Sayangnya tidak saya temukan walau sebiji. Kepalang tanggung sudah di toko buku, saya memutuskan membeli beberapa buku. Kala itu buku Tere Liye (yang kemudian menjadi penulis favorite saya)

Sepulangnya dari toko buku saya menelepon teman saya. Dia tertawa bahak, lalu berkata, “Den, buku itu udah ditarik dari toko dan sudah gak dicetak lagi. Itukan buku tahun 2012 dan sekarang 2013, kalau pun ada juga, paling bekas atau dimakan rayap di gudang.”

Hmm.. saya merenung, buku Tere Liye yang saya beli bahkan diterbitkan tahun 2008 tapi sekarang (2013) masih ada, sedangkan buku teman saya sudah hilang di pasaran. Sebegitu ketat kah persaingan di dunia perbukuan?

Kata demi kata saya baca, lembar demi lembar saya cerna. Tidak terasa buku setebal 360 halaman bisa selesai dibaca dalam hitungan hari saja. Saya baru sadar ternyatadaya pikat novel sangat luar biasa. Andaikan buku kuliah yang dibaca, setidaknya perlu satu tahun untuk melahapnya. Berkat buku 360 halaman itu, keinginan saya untuk menulis bertambah. Ternyata apa yang dikatakan kebanyakan orang itu benar; penulis hebat ialah mereka yang mampu memberi inspirasi. Dan langkah pertama seorang penulis hebat adalah menulis. Kapan ya kira-kira saya bisa mulai menulis?

Di penghujung tahun 2014, saat reuni SMA, teman saya –perempuan- memaksa untuk menulis sebuah cerita yang pernah kami alami, di mana saya dan dia menjadi tokoh utamanya. Ia pula menjerumuskan saya datang ke toko buku, sehingga perlahan tapi pasti mencintai dunia literasi. Dengan berbagai pertimbangan, saya pun memutuskan untuk menulis cerita tersebut. Dan ini menjadi debut pertama saya berkecimpung di dunia tulis-menulis.

Tidak mudah untuk mempertemukan kata, mengawinkan kalimat, melahirkan paragraf. Walaupun saya masih ingat betul setiap kejadiannya, tetap saja tidak mudah untuk merangkainya dalam barisan kata. Baru beberapa kata ditulis, saya terdiam, lalu menghapusnya lagi, mengganti dengan yang baru, setelah diganti malah saya menyesal telah menggantinya. Ratusan hari saya habiskan untuk menulis cerita tersebut, berusaha menjadikannya sebagai buku. Frustasi senantiasa menghantui. Godaan untuk berhenti kian merajai. Saya membuktikan, menulis tidak semudah mencorat-coret kertas tak karuan.

Setelah satu tahun berjuang untuk menulis, akhirnya saya bisa merampungkannya.Sebuah buku lahir dengan judul ‘Ilusi Hati’. Saya menjadikan buku tersebut sebagai kado ulang tahunn teman perempuan saya. Bersama dengan buku itu, saya berjanji pada dia; “suatu saat dia akan membaca buku di mana penulisnya ialah saya, diterbitkan oleh penerbit ternama”. Tidak, ‘Ilusi hati’ tidak diterbitakan penerbit, hanya diprint lalu diberi cover seadanya di tempat fotocopy.

Keinginan membaca buku karya sendiri, saya tulis juga di kertas folio, walau “terpaksa”. Ada dosen yang memberi tugas nyeleneh. Kami disuruh untuk menulis keinginan, harapan, mimpi, impian, cita-cita ataupun yang sejenis, baik jangka pendek maupun panjang pada kertas folio –padahal mata kuliah kewirausahaan. Dari ratusan impiansaya, beberapa diantaranya berhubungan dengan dunia tulis-menulis; menjadi penulis, membaca buku karya sendiri, menulis buku best seller, menulis buku dengan berbagai genre, menulis buku fiski dan non-fiksi, dikenal banyak orang karena prestasi, dan melaharikan karya yang bermanfaat.

Tak lama setelah saya merampungkan tugas coretan “mimpi” tersebut, ada lomba cerpen dari salah satu penerbit indie. Lebih dari 800 naskah cerpen mewarnai daftar peserta, mungkin karena temanya bebas. Meniru gaya menulis Tere Liye dan menjadikan pengalaman pribadi sebagai ide dasar cerita. Lahirlah cerpen berjudul “Untukmu yang Aku Benci” yang kemudian tercantum dalam buku kumcer ‘My Destiny’. Awal tahun 2016, saya bisa membaca buku di mana salah satu penulisnya ialah saya. Selain itu, masih di bulan yang sama, artikel saya yang berjudul “Melawan Korupsi Dengan Terasi” (Temuan Rakyat Terintegrasi) menjadi 50 artikel terbaik –dipilih dari ratusan artikel lainnya– yang diposting di laman resmi Madrasah Anti Korupsidan berkesempatan menjadi juara. Berdasarkan banyaknya read, likeandshare serta kualitas artikel, artikel saya dinobatkan sebagai juara favorite. Satu kebanggaan tersendiri bagi saya ialah peserta yang ikut dalam lomba ini mempunyai latar belakang yang berbeda-beda; mahasiswa S1, S2, Guru, Dosen, dan kalangan lainnya.

Saat ini saya bisa membaca buku yang di dalamnya terpatri karya saya. Tidak mudah untuk menyematkan karya tersebut. Meskipun pada percobaan pertama, cerpen saya langsung dibukukan, ternyata tidak diikuti oleh cerpen-cerpen berikutnya. Ada puluhan cerpen yang ditolak mentah-mentah. Sedih, kesal, dan frustasi mengerubungi. Di saat frustasi membayangi, rupanya kegagalan terus menghampiri. Setiap bulannnya saya mengikuti lomba, dan setiap bulan pula kegagalan mewarnai. Tapi salah jika kalian berfikir saya akan menyerah. Karena, walaupun mudah, menyerah hanya akan menghancurkan apa yang telah saya bangun dengan tertatih. Saya intropeksi diri, mengevaluasi karya-karya yang telah dibuat. Membaca lebih banyak buku. Belajar dan terus belajar, memungut ilmu darimana pun, kapan pun dan dari siapapun. Sekarang saya memetik hasilnya. Walaupun saya belum bisa menembus penerbit mayor dan belum melahirkan buku tunggal, setidaknya saya melangkah di jalan yang mengarah ke sana.

Hidup ini singkat, maka tinggalkanlah jejak. Menulis kini menjadi hoby sekaligus mendatangkan rezeki. Selain tulisan fiksi (Cerpen) saya pun sering menulis non-fiksi (esai, artikel, KTI). Dari kedua jenis tulisan tersebut pundi-pundi mengalir. Namun, hal ini bukan tujuan utama saya menulis. Lebih dari itu, saya  menulis karena ingin orang-orang berdamai dengan masa lalu, menjadikannya pelajaran, menatap masa depan tanpa membenci bayangan (masa lalu), tidak pernah kehilangan harapan, menyederhanakan masalah lewat untaian kata, memberi solusi, motivasi serta inspirasi. Atau yang paling rendahnya ialah bisa menghibur saat lara.

Satu impian terbesar saya di dunia tulis-menulis ialah menulis novel bergenre sejarah -tentang ekonomi. Karena saya sadar, daya pikat novel lebih tinggi daripada buku pelajaran. Hitungan hari saja novel setebal ratusan halaman bisa selesai dibaca. Tapi butuh ratusan hari untuk membaca buku pelajaran yang tebalnya tidak lebih dari setengah novel. Dari hal itu saya berkeinginan menyuguhkan materi ajar (ekonomi) dengan tehnik penceritaan sebuah novel. Semoga naskah itu bisa rampung sebelum saya wisuda. Aamiin.

Ide adalah harta yang paling berharga. Darinya lahir berbagai karya. Ide menulis yang paling murah ialah pengalaman. Biarkan orang lain tahu bagaimana pengalamanmu, selama ada manfaat yang bisa dipetik oleh mereka. Terima-kasih J

Teruslah melangkah walau tak mudah. Teruslah berjuang meski banyak yang menghadang. Teruslah bangkit kendati sangat sulit.

Bandung, Agustus 2016.

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media, baik online maupun cetak. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

[Cerpen] Tidak Ada yang Sia-sia

Oleh: Nasrul M. Rizal

Nayla mengembuskan napas panjang sebelum mengetuk pintu rumahnya. Sudah cukup lama dia tidak pulang. Kesibukan sebagai mahasiswa tingkat akhir memaksanya memendam rindu. Namun beberapa minggu terakhir orang tua Nayla sering menghubungi,ada hal penting yang ingin dibicarakan secara langsung. Karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya terlalu lama, Nayla pun memutuskan untuk pulang.

“Assalamualaikum,” ucapnya Nayla setelah beberapa menit mematung di depan pintu.

“Waalaikum salam,” jawab seorang perempuan dari dalam rumah.Setelah itu pintu pun terbuka. Perempuan setengah baya langsung memeluk Nayla.

Nayla masuk ke rumahnya yang sepi, yang hanya dihuni oleh Ibu dan ayahnya saja. Kedua kakaknya (laki-laki) sudah berkeluarga dan tinggal di Bandung. Nayla pun terpaksa meninggalkan kedua orang tuanya karena harus kuliah di Ibu Kota. Siang ini Ayah Nayla masih ada di kebun.

Menyadari putrinya kelelahan, Ibu Nayla mempersilakan untuk beristirahat. Ia menahan diri untuk berbicara mengenai hal penting yang memaksa Nayla pulang. Sebetulnya Nayla sudah tahu apa pembicaraan “penting” yang dimaksud orang tuanya. Bukan, bukan tentangrasa sakit yang mereka derita.Apalagi perihal rindu yang menggebu. Tapi “sesuatu”yang membuat Nayla berpikir berkali-kali.

Ruangan berukuran 4 x 3 m2 di lantai dua, menjadi kamar Nayla. Ia beruntung mempunyai kamar sendiri. Tidak seperti kedua kakaknya yang harus berbagi tempat tidur. Nayla merebahkan badannya diatas kasur. Perjalanan lima jam Jakarta-Garut lebih dari cukup membuatnya lelah. Namun lelah yang dirasakan badannya tidak seberapa berat dibandingkan lelah yang menggelayuti hatinya. Nayla harus membujuk hatinya mengikuti kemauan orang tuanya. Ya, pembicaraan penting itu perihal rencanamenjodohkan Nayla dengan seorang lelaki pilihan orangtuanya. Lelai yang bahkan tidak dikenalNayla. Perkara satu ini membuatnya dilema.

Nayla tidak pernah meragukan pilihan orangtuanya. Ia sadar betul lelaki yang dipilih tentu saja lelaki baik-baik. Bahkan sesuai dengan kriteria yang ditetapkannya, berpendidikan tinggi dan berahlak baik. Ya lelaki itululus dariUniversitas Al-Azhar Mesir dengan predikat mumtaz. Dan dia juga hafidz 30 juz. Tidak ada alasan lagi untuk menolak perjodohan ini. Namun hati Nayla justru menolaknya, ia terlanjur memilih seseorang.

***

Sepuluh tahun silam Nayla aktif di Rohis Sekolah. Nayla suka membaca.Tak ayal perpustakaan di Sekre Rohis menjadi tempat favorite mengisi waktu luang. Baginya membaca merupakan kewajiban. Dia ingat ayat pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, Iqra (bacalah!). Dengan membaca dia mengenal dunia, mendapat pelajaran terhebat dari kisah orang-orang hebat, serta mempunyai pegangan untukmenjalani hidupnya. Tidak jauh berbeda dengan Nayla, ada seorang lelakiyang suka sekali membaca buku. Baginya buku adalah teman terbaik. Menghibur di saat duka dan pengingat kala bahagia. Dia kakak kelas Nayla.

Beberapa kali Nayla bertemu dengan lelaki itu. Hanya senyuman saja yang mewarnai pertemuan mereka. Tidak lebih. Perlahan tapi pasti sesuatu tumbuh di hati Nayla. Dia mengagumilelaki berkaca mata itu. Pintar, ramah, sopan dan baik, membuat lelaki itu menjadi idaman siswa perempuan. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bisa menggoyahkan prinsipnya. Ia tidak mau pacaran. Sungguh langka ada seoranglelakiseperti itu hidup di jaman sekarang.

Minggu depan lelaki itu lulus sekolah. Artinya dia akan meninggalkan Nayla. Dalam helaan napas yang sama, Nayla merasa bahagia dan juga sedih. Bahagia karena lelaki itu mendapat nilai tertinggi, sekaligus dinobatkan sebagai lulusan terbaik di sekolahnya. Dan sedih karena dia tidak bisa lagi bertemu dengan lelaki berkaca mata itu, yang selalu tersenyum manis ketika berpapasan dengannya.

Hari kelulusan pun tiba. Lelaki itu berbicara di depan ratusan siswa dan puluhan guru. Mewakili siswa-siwi kelas XII dia berterimakasih dan juga meminta maaf. Dia juga menitip pesan untuk menjaga silaturahim, terutama untuk anak-anak rohis. Air mata membanjiri sekolah. Perpisahan ialah hal yang amat dibenci. Sungguh kejam seseorang yang membuat mantra, “Setiap pertemuan pasti ada perpisahan”.

Mata Nayla menyapu seluruh bagian Sekre Rohis. Dia mencari seseorang, bermaksud memberi kenang-kenangan. Sayang orang tersebut tidak terlihat walau batang hidungnya. Air mata mentes dari mata Nayla. Dia tidak tahu betul alasan di balik air matanya. Susah payah Nayla membendung air mata tersebut.

Tiba-tiba seseorang menghampirinya, lalu bertanya, “Kamu kenapa Nay?”

“Tidak apa-apa Kak.” secepat mungkin Nayla mengusap air matanya.

“Beneran gapapa?”

Nayla mengangguk pelan.

Oh iya, kakak ingat sesuatu Nay.”

Nayla menatap heran.

Perempuan berlesung pipit yang dipanggil kakak mengambil sesuatu dari dalam tas. “Nay, kemarin dia nitip ini ke aku. Katanya maaf tidak bisa memberikannya secara langsung.”

Tiba-tiba air mata mengucur deras dari mata Nayla. Entah apa maknanya. Mungkinkah Nayla bahagia karena diberi kenang-kenangan? Atau justru sebaliknya? Tidak ada yang tahu persis makna air matanya.

“Terima kasih Kak Qiya.” Nayla berusaha tersenyum meski pipinya terlanjur basah.

“Iya sama-sama, jangan sedih gitu Nay. Ingat! Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu,” ucap Qiya menghibur Nayla. “Sudah dulu ya Nay, sampai jumpa lagi.”

***

Waktu berlalu sangat cepat, sepuluh tahun sudah Nayla tidak bertemu dengan lelaki itu. Selama sepuluh tahun pula dia menyimpan buku pemberian darinya. Tidak terhitung sudah berapa kali dia membacanya. Tidak terhitung pula berapa kali ia membuangnya. Meski beberapa saat kemudian ia pungut kembali. Ia selalu gagalmembuang barang yang membuat bibirnya tersenyum tapi matanya menangis.

Ketahuilah di dalam buku tersebut tersimpan secarik kertas, pesan dari si pemberi buku.

Air mata kembali mentes dari kelopak mata Nayla. Air mata sepuluh tahun silam yang sampai detik ini belum juga kering. Nayla lamat-lamat membaca buku lusuh itu. Bukan bukunya yang membuat dia menangis, tapi kenangan yang menyertainya. Kenangan dengan seseorang yang selalu tersenyum saat berpapasan dengannya. Seseorang yang ia jadikan sebagai motivator. Yang membuatnya bisa melangkah sejauh ini. Yang membuat namanya tercatat sebagai mahasiswa pada salah satu Universitas ternama di Indonesia.Yang membuat ia menyibukan diri. Ya, baginya kesibukan adalah senjata paling ampuh untuk mengusir kesedihan. Sibuk memperbaiki diri, memantaskan diri dan juga berprestasi. Nayla berusaha keras untukberdamai dengan hatinya. Berhenti menanti lelaki tersebut untuk datang ke rumahnya.

Pilihan berat dihadapi Nayla. Ia tidak bisa lari dari pilihan tersebut. Jika ia menolak untuk dijodohkan, tentu saja orang tuanya akan kecewa. Menyakiti perasaan orang tua merupakan pantangan bagi Nayla. Namun, jika dia menerima,itu sama saja dengan menyakiti hatinya sendiri. Membunuh perasaan itu. Mengalah pada takdir. Dia harus berusaha keras membujuk hatinya merelakan seseorang yang bertahun-tahun ada disana untuk pergi.

“Bismillah, ya Allah apapun yang terjadi, aku yakin itu yang terbaik untukku.” Nayla mengambil keputusan.

***

Ibu Nayla menyuruh anaknya untuk bersiap-siap, memakai baju yang bagus dan make up. Tanpa make up saja Nayla sudah cantik, apalagi memakai make up?bisa-bisa bidadari pun iri padanya. Tidak banyak orang yang diundang dalam acara penting ini, hanya beberapa keluarga Nayla saja.

Belasan pasang mata menatap Nayla, kecantikannya berhasil menghipnotis mereka. Ruangan hening seketika. Nayla malu-malu mencuri pandang pada lelaki yang akan melamarnya. Hatinya berbisik “sepertinya aku pernah melihat lelaki itu. Hmm… jangan-jangan dia ..” logikanya melarang dia berpikir aneh-aneh, “Bukan. Bukan dia!”

“Sebelumnya kami ucapkan terimakasih atas jamuannya. Langsung saja pada inti dari kedatangan kami kesini. Adapun maksud dari kedatangan kami yang pertama untuk menyambung tali silaturahim diantara keluarga bapak dan kami. Selain itu, kami juga mau membahas perihal anak kami yang beberapa minggu kemarin sudah menghubungi bapak. Sebelumnya mohon maaf. Saya atas nama anak saya, Fatih, bermaksud untuk meminang putri bapak,” ucap Ayah lelaki tersebut.

Jantung Nayla berdetak sangat kencang. Rupanya lelaki yang ingin melamarnya bernama Fatih. Hah Fatih? Sepertinya nama itu tidak asing untuknya.

“Kami juga ucapkan terimakasih karena bapak dan keluarga bersedia datang ke rumah sederhana ini. Mohon maaf bila jamuan kami tidak seperti hotel bintang lima,” ayah Nayla sedikit bergurau yang disambut tawa semua orang, “Megenai lamaran dari putra bapak, sepenuhnya kami serahkan kepada putri kami,” lanjutnya.

Belasan pasang mata kini tertuju pada Nayla. Menunggu jawaban darinya. Tatapan mereka membuat jantung Nayla berdetak sangat kencang. Tiba-tiba kenangan sepuluh tahun silam berkelebat di pikirannya. Seperti kaset yang berkali-kali diputar.Satu menit. Dua menit Nayla belum merespon. Ia masih membujuk hatinya. Belasan pasang mata tajam menatap Nayla. Dari belasan orang yang ada di sana, sudah dipastikan Fatihlah yang harap-harap cemas menanti jawaban dari lamarannya. Satu tarikan napas panjang, Nayla mengambil keputusan.

***

Satu bulan setelah lamaran, Nayla menikah dengan Fatih. Lulus dengan predikat cum laudge menjadi kado pernikahannya. Kini Nayla resmi menjadi istri Fatih. Dia harus berbagi tempat tidur dengannya. Mewarnai waktu yang ditawarkan siang dan menikmati secuil waktu yang disediakan malam.

Malam hari, rahasia besar pun terungkap. Fatih menemukan buku lusuh di almari Nayla. Menyadari hal tersebut, Nayla meminta maaf pada Fatih. Dia mengakui kalau sebelumnya menaruh hati pada seorang lelaki. Buku itu kenang-kenangan dari lelaki tersebut. Fatih menatap lamat-lamat Nayla. Tersenyum. Lalu berkata “Tidak apa-apa, karena lelaki yang memberi buku ini untukmu adalah aku. Maaf dulu aku tidak sempat memberikannya langsung.Soalnya harus pulang, malam itu juga harus terbang ke Mesir.”

Nayla langsung memeluk Fatih. Menangis bahagia.

Fatih berbisik membaca kata-kata yang ia selipkan di buku tersebut.  “Setiap orang diciptakan berpasang-pasangan. Allah sudah menentukan jodoh kita. Tidak ada yang bisa melanggar ketentuan itu.”

Sempurna sudah penantian Nayla.Hati Nayla berbisik “Ya Allah terimakasih, aku tahu tidak ada yang sia-sia dalam penantian ini. Terimakasih Kau telah anugerahkan dia untukku. Rahmatillah pernikahan kami.”

 

Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir ke bumi 22 tahun silam, tepatnya 27 Agustus 1995, di Garut. Aktif di komunitas kepenulisan, yang diisi oleh orang-orang galau dan jomlo, KAFE KOPI. Beberapa cerpennya telah dimuat di berbagai media daring. Bisa dikepoin melalui: mr.nasrul19@gmail.com

[Cerpen] Cukup Lima Huruf Saja

 

Oleh: Nasrul M. Rizal

Ruangan itu kurang lebih berkapasitas 200 orang. Semua kursi sempurna terisi. Tepat di bagian depan ruangan ada sebuah panggung. Di atas panggung tersebut ada dua sofa berwarna cokelat serta satu buah meja kecil. Bukan hanya itu saja, di belakang sofa terpampang backdrop bertuliskan Talk Show Bersama Dito, Penulis Novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu mulai hening saat seorang perempuan berdiri di atas panggung, memulai acara. Perempuan tersebut memperkenalkan diri. Nayla ujarnya. Nayla memanggil Dito untuk naik ke atas panggung. Sekali lagi ruangan menjadi riuh dengan tepuk tangan.

Dito duduk disebelah Nayla.

“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di Kampus Isola dan terimakasih karena Mas Dito berkenan datang kesini untuk berbagi cerita dengan kami. Saya merasa bangga bisa duduk di sebelah anda.” Nayla tersenyum. Memulai pembicaraan.

“Saya merasa bahagia bisa datang lagi kesini. Dulu saya sama seperti teman-teman, duduk di sana menjadi peserta. Sekarang Alhamdulillah saya datang lagi kesini, duduk di atas panggung menjadi pembicara,” ujar Dito tersenyum, Tangannya menunjuk kursi di bagian belakang.

Ratusan pasang mata sempurna melihat ke arah Dito. Mata tersebut berbinar seakan berkata “Wah hebat.”

“Mas, sebelum acara ini dimulai banyak sekali yang menghubungi saya. Mereka menitip pertanyaan untuk Mas. Sepertinya hari ini Mas akan cukup sibuk untuk menjawab.” Nayla bergurau.

“Tidak apa-apa, saya akan menjawab semuanya. Apalagi yang bertanya perempuan secantik kamu, tidak ada alasan untuk tidak menjawab.” Dito membalas gurauan Nayla.

Ratusan bibir tersenyum menanggapi gurauan Dito. Sedangkan Nayla tersipu malu, pipinya merah.

“Oh iya, manggilnya Bang aja yaa. Kalau dipanggil Mas kesannya sudah tua. Terus saya takut dijual, Mas kan mahal.” Ruangan berkapasitas 200 orang itu pecah oleh gelak tawa.

“Siap Mas, eh Bang hehe,” canda Nayla, “lanjut ya Bang. Beberapa bulan terakhir buku Abang laku keras. Nah itu kira-kira kenapa ya?”

“Kayanya pas beli buku matanya kelilipan. Jadinya beli buku saya, karena terlanjur dibeli, makanya dibaca,” Dito menjawab santai.

“Haha, Abang bisa aja.” Nayla tertawa, begitupun dengan yang lainnya. “Pertanyaan yang tadi cuma bercanda ya Bang, hehe.”

Dito tersenyum. Tanpa Nayla bilang, dia pun sudah tahu kalo itu cuma bercanda.

Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Lalu melontarkan pertanyaan.

“Bang, seperti yang kita tahu, novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ menjadi best seller dan meraih berbagai penghargaan. Kalau boleh tahu Abang mendapat ide darimana?” Nayla lanjut bertanya.

“Sebetulnya yang mendapat perhargaan itu bukan saya. Tapi semua orang yang sudah membacanya. Karena tanpa kalian, buku itu hanya sebatas tinta yang berjejer di atas kertas. Buku ‘Cukup Lima Huruf Saja’ merupakan buku yang paling lama saya tulis. Butuh lima tahun untuk merampungkannya. Saya memulainya saat menjadi mahasiswa.”

“Oh, gitu Bang. Lama juga ya prosesnya.”

Dito tersenyum.

Sekai lagi Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Di kertas tersebut terdapat daftar pertanyaan “titipan”.

“Dalam novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ si tokoh utama memberi sebuah buku pada seorang perempuan. Kenapa harus buku, Bang? Tidak bunga atau kue gitu?”

“Karena saya mencintai buku. Dan novel itu menceritakan perjalanan cinta saya. Keluh kesah saya merangkai huruf, menggambarkan kenangan, yang sedari dulu ingin dilupakan. Seiring dengan semakin banyaknya kata yang ditulis, akhrinya saya sadar, kenangan pahit itu justru menjadi penting bagi hidup saya, karenanya saya bisa menjadi lebih dewasa,” Dito tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.

“Melupakan apa Bang? Kenapa pengin dilupakan? Kenangan pahit, maksudnya?” Nayla bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.

Semua orang yang berada di ruangan berkapasitas 200 orang itu penasaran. Sangat penasaran.

“Hmm… sebelum menjawab pertanyaan itu, apakah saya boleh minum terlebih dahulu?. Sepertinya tenggorokan saya kering hehe.” Ucap Dito menghiraukan pertanyaan Nayla.

Nayla mengembuskan nafas panjang, rasa penasarannya bertambah lama.

“Silakan Bang,” Nayla tersenyum.

Dito membuka botol air mineral yang disediakan panitia. Botol itu bersebelahan dengan sekotak cemilan di atas meja kecil. Air masuk kedalam mulut, melewati tenggorokan yang kering, menghilangkan dahaga. Segar rasanya. Semua orang menatapnya, menunggu jawaban. Mereka sangat penasaran.

“Bisa dilanjutkan Bang?” ucap Nayla tidak sabaran.

“Ini pertanyaan yang agak susah. Karena susah, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Nayla punya kenangan?”

Nayla mengangguk mengiyakan.

“Banyak kenangannya?”

“Sangat banyak Bang.”

“Kenangan seperti apa?” Dito kembali bertanya.

“Eh, kenapa jadi saya yang diwawancara. Kan harusnya Abang yang saya wawancara hehe,” tukas Nayla.

“Daritadi Nayla terus bertanya, jadi sekarang giliran Abang yang bertanya. Abang lelah neng,” ujar Dito.

Ruangan berkapasitas 200 orang ini kembali dipenuhi oleh tawa. Dari semua orang yang tertawa, tawa Nayla paling keras.

Setelah ruangan ini kembali hening, Dito mulai menjawab pertanyaan Nayla.

“Semua orang mempunyai kenangan. Ada yang terus dijaga supaya tidak lupa, tapi akhirnya kenangan itu hilang. Ada juga yang mati-matian untuk dilupakan, tapi justru terus ingat. Dua hal itu adalah pilihan. Yang pasti mau dilupakan atau tidak, kenangan tersebut sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jujur dulu saya pengin melupakan kenangan tersebut, kenangan yang sangat pahit. Tapi, semakin ingin dilupakan justru kenangan tersebut semakin menghantui,” jelas Dito.

“Kenangan seperti apa yang Abang maksud?”

“Kenangan dengan seseorang.”

“Pacar?”

“Bukan,” jawab Dito singkat.

“Terus siapa Bang?”

Hari ini Nayla menjadi miss kepo. Pertanyaan satu dijawab, muncul lagi yang lain.

“Yang pasti dia seseorang yang sangat berharga bagi hidup saya. Karenanya saya bisa melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, memberi pemahaman baru akan sebuah kenangan, rasa sakit, luka, tawa, dan air mata.

“Pacar? Ya itu keinginan saya. Tiga tahun lamanya (semasa SMA) saya mati-matian untuk mendapatkan hatinya, berharap dia memiliki perasaan yang sama, menjadi orang yang paling spesial di hidup saya. Sayangnya, dia tidak mau, dan terus saja tidak mau. Yang lebih menyakitkan, dia bilang tidak ingin pacaran dengan siapa pun, nyatanya satu bulan setelah itu dia justru pacaran dengan lelaki yang sangat saya hafal. Sahabat saya.”

Nayla diam membeku. Dia kehabisan kata untuk melanjutkan pertanyaan, padahal masih banyak pertanyaan “titipan” pada secuil kertas yang dipegannya. Ruangan berkapasitas 200 orang ini hening seketika. Orang-orang saling tatap. Ketahuilah di antara ratusan pasang mata, ada sepasang mata yang mulai basah.

“Loh kenapa saya jadi curhat gini ya? Jadi malu hehe,” Dito bergurau, berusaha memecah kesunyian.

Nayla tersenyum canggung meladeni gurauan Dito.

“Tapi waktu itu saya benar-benar keliru,” lanjut Dito.

“Apa yang keliru Bang?”

“Jawabannya ada di novel yang kamu pegang, Nay.”

Nayla melihat novel tersebut. Novel berwana putih dengan gambar hati di covernya. Dia teringat sesuatu. Perkataan Alif (tokoh utama novel) saat bertemu dengan Safa.

“Selama ini aku keliru. Bagaimana bisa aku menyebut apa yang telah dilakukan itu sebagai pengorbanan? Kalaulah hawa nafsu yang menuntunnya. Bagaimana mungkin semua itu disebut perjuangan? Jika amarah yang merajainya. Aku menghabiskan masa-masa SMA untuk mengejarmu, berharap kau membalas cintaku. Aku benar-benar keliru, itu bukan cinta tapi nafsu.”

Nayla kembali menatap Dito.

Seorang perempuan yang duduk di baris paling depan berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak mata.

“Saya pernah merasakan sakit hati yang teramat dalam. Lelahnya bertepuk sebelah tangan. Membenci masa lalu, mengutuknya, menyumpahinya, menyesalinya. Pada akhirnya waktu memberi pelajaran yang sangat berharga, dia memberi tahu sesuatu. Menyesali masa lalu hanya menyia-nyiakan waktu, dan membencinya hanya menampakkan kebodohan di hadapannya.” Dito menatap seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan tersebut tertunduk, enggan menatap mata Dito.

“Novel ‘Cukup Lima huruf Saja’ hanya sebagian kecil dari kehidupan saya di masa lalu. Kita sepakat kalau semua orang mempunyai kenangan, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Maka tulislah kenangan itu, supaya orang lain bisa mengambil secuil pelajaran. Saya ingin semua orang berdamai dengan masa lalu yang pahit, memeluknya dengan erat. Memberi pemahaman baru tentang lima huruf  yang bisa mengubah hidup.”

Nayla menoleh jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi talk show ini berakhir.

“Bang, di antara banyaknya titipan pertanyaan yang saya dapatkan. Kebanyakan bertanya mengenai akhir cerita di novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’, bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa? Apa yang terjadi setelah mereka bertemu? Mungkin ini pertanyaan saya yang terakhir pada kesempatan ini.”

“Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan sejak novel itu baru beredar di pasaran. Jujur saya sebagai penulisnya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa.”

Nayla tidak mengerti dengan jawaban Dito. Bagaimana mungkin sang penulis tidak mengetahui akhir dari cerita yang ia tulis?

“Tapi, kalian beruntung, sangat beruntung. Karena hari ini saya akan mendapat jawabannya,” ucap Dito melihat wajah bingung Nayla.

Mendapat jawaban dari siapa? Tidak mungkin ada yang tahu jawabannya, karena anda penulisnya. Kami tidak tahu jawabannya.

Belum sempat Nayla membuka mulutnya, Dito beranjak turun dari panggung. Ratusan pasang mata menatapnya heran. Ternyata seorang penulis sekelas Dito tidak punya tatakrama. Dia meninggalkan panggung padahal belum dipersilakan.

Dito meraih tangan seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan yang sedaritadi berusaha menahan airmata yang menggenang di kelopak matanya. Dito menariknya ke atas panggung.

Nayla sempurna membeku, tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar di bibirnya.

“Kalian akan tahu bagaimana kelanjutan kisahnya dari Safa.” Di sebelah Dito tepat berdiri seorang perempuan yang kemudian diketahui namanya Safa.

Hah? Safa? Jadi perempuan yang tadi masuk bersama Dito itu, Safa? Tokoh dalam novel? Ternyata dia yang membuat Alif terpuruk dalam jurang nestapa. Tapi kenapa sekarang Dito membawanya kesini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak semua orang yang hadir di ruangan berkapasitas 200 orang itu. Sayangnya tidak ada yang berani mengeluarkan pertanyaan tersebut.

Dito berlutut di hadapan Safa.

Kenapa pula Dito harus berlutut di hadapan peremuan itu? Apa maksudnya? Harusnya dia membenci perempuan yang menyia-nyiakan dirinya, bukan berlutut di hadapannya. Apa arti dari semua ini?

“Safa, aku menghabiskan masa-masa SMA hanya untuk mengejarmu, mengharapkan cintamu. Sempurna kau menolakku. Dua tahun berikutnya aku tersungkur di jurang penderitaan. Memikirkanmu.. Aku membaca berbagai macam buku, berharap menemukan jawaban terhadap apa yang aku rasakan, tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Aku bertemu dengan ratusan orang, berharap mendapat penjelasan, tak ada yang mampu memberi penjelasan. Penjelasan kenapa perasaan itu masih ada, walaupun jarak membentang begitu jauh.

“Safa, sejak aku menulis buku, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit apa yang harus dilakukan. Menjauhimu, memperbaiki diri, mengejar cita-cita serta mewujudkan mimpi-mimpiku. Sempurna aku larut dalam kesibukan. Sibuk membangun masa depan, mengejar cita-citaku, mewujudkan mimpiku. Kesibukan berhasil menghancurkan kesedihan, kegalauan bahkan kerinduan. Rindu yang tak beralasan untukmu.”

Nayla tertegun menyadari apa yang tertangkap oleh matanya. Dia lupa waktu talk show telah habis. Panitia yang lain pun sama, lupa. Mereka seakan memberikan waktu ini untuk Dito, tidak peduli seberapa lama pun itu.

“Takdir berbaik hati padaku. Saat aku berhasil mewujudkan mimpi. Di pameran buku tempo hari kamu menghampiriku. Meminta untuk menandatangani Novel yang aku tulis, untukmu. Berkat novel itu aku menemukanmu,” Dito menghela nafas panjang. Orang-orang di ruangan itu bahkan sampai lupa bernafas. Mereka melihat dengan saksama apa yang terjadi di panggung.

“Jika kamu bertanya kenapa aku melakukan semua ini, jawabannya cukup lima huruf saja. Kamu tahu apa?”

Safa menggelengkan kepala. Dia tidak tahu jawabannya.

“C-I-N-T-A. CINTA. Karena aku mencintaimu,” Dito terdiam sejenak.

Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Safa. Dia hanya menangis. Tangisan yang selalu ditakuti Dito. Dua belas tahun yang lalu Safa menangis setiap menolak Dito. Lantas apa arti dari tangisannya yang sekarang?

“Safa saat ini aku tidak akan memintamu untuk jadi pacarku. Aku sudah melupakan itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku ingin memintamu untuk …” Dito menggantungkan ucapannya.

Dito menatap mata Safa lamat-lamat. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan. Jika dia tidak bisa mengungkapkannya sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan.

“Aku ingin memintamu menikmati waktu yang disediakan malam dan siang, bersama. Menghiasi hari demi hari dengan senyuman.

“Safa maukah kamu… kamu… kamu menikah denganku?” Dito mengeluarkan cincin. Cincin yang tersembunyi di dalam kotak kecil berbentuk hati.

Ruangan berkapasitas 200 orang itu menjadi sangat hening. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Bahkan cicak di balik jam dinding pun tidak berani bersuara. Semuanya ikut tegang menunggu jawaban dari Safa. Harap-harap cemas menanti kata yang akan keluar dari bibirnya. Rasa cemas Dito berhasil mengalahkan kecemasan semua orang.

Lima detik berlalu. Safa masih diam. Tidak ada jawaban.

Sepuluh detik masih sama.

Lima belas detik.

Tiga puluh detik..

Jantung Dito berdetak sangat kencang.

Empat puluh lima detik.

“Iya aku bersedia.”  Di detik yang ke enam puluh Safa menjawab. Jawaban yang sangat dinantikan Dito.

Dito memasukkan sebuah cincin pada jari manis Safa. Semua orang yang melihatnya bersorak bahagia, memberi tepuk tangan. Tidak terasa mata mereka basah. Di antara semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan Dito. Dua belas tahun berlalu, akhirnya Dito berhasil mendapatkan hati Safa. Bukan sebatas pacar, melainkan lebih dari itu.

Talk Show pun berakhir dengan bergugurannya air dari kelopak mata setiap orang yang menyaksikan sepotong kejadian ini.

***

Satu bulan setelah talk show, Safa dan Dito resmi menjadi pasangan suami istri. Sebuah rahasia besar terungkap. Semasa SMA, Safa tidak benar-benar pacaran dengan sahabat Dito. Dia melakukan itu supaya Dito berhenti mengejarnya, supaya dia fokus terhadap masa depannya. Begitupun keputusan Safa untuk kuliah di Jakarta. Membentangkan jarak, menjadikannya sebagai penghalang.

Ketahuilah, bertahun-tahun lamanya Safa memendam perasaan yang sama dengan Dito. Tidak ada yang tahu selain air mata saat menangis menahan rindu. Tidak ada yang paham selain buliran keringat saat dia larut dalam kesibukan.  Maka sempurna sudah penantian Safa dan perjuangan  Dito.

 

   Biodata Penulis

Nasrul M. Rizal lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Menulis adalah cara untuk memafaatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi dan melahirkan karya yang bermanfaat. Komunikasi lebih lanjut bisa melalui facebook: Nasrul Muhamad Rizal atau line: @mr_nasrul