Oleh: Nasrul M. Rizal
Ruangan itu kurang lebih berkapasitas 200 orang. Semua kursi sempurna terisi. Tepat di bagian depan ruangan ada sebuah panggung. Di atas panggung tersebut ada dua sofa berwarna cokelat serta satu buah meja kecil. Bukan hanya itu saja, di belakang sofa terpampang backdrop bertuliskan Talk Show Bersama Dito, Penulis Novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’.
Ruangan berkapasitas 200 orang itu mulai hening saat seorang perempuan berdiri di atas panggung, memulai acara. Perempuan tersebut memperkenalkan diri. Nayla ujarnya. Nayla memanggil Dito untuk naik ke atas panggung. Sekali lagi ruangan menjadi riuh dengan tepuk tangan.
Dito duduk disebelah Nayla.
“Sebelumnya saya ucapkan selamat datang di Kampus Isola dan terimakasih karena Mas Dito berkenan datang kesini untuk berbagi cerita dengan kami. Saya merasa bangga bisa duduk di sebelah anda.” Nayla tersenyum. Memulai pembicaraan.
“Saya merasa bahagia bisa datang lagi kesini. Dulu saya sama seperti teman-teman, duduk di sana menjadi peserta. Sekarang Alhamdulillah saya datang lagi kesini, duduk di atas panggung menjadi pembicara,” ujar Dito tersenyum, Tangannya menunjuk kursi di bagian belakang.
Ratusan pasang mata sempurna melihat ke arah Dito. Mata tersebut berbinar seakan berkata “Wah hebat.”
“Mas, sebelum acara ini dimulai banyak sekali yang menghubungi saya. Mereka menitip pertanyaan untuk Mas. Sepertinya hari ini Mas akan cukup sibuk untuk menjawab.” Nayla bergurau.
“Tidak apa-apa, saya akan menjawab semuanya. Apalagi yang bertanya perempuan secantik kamu, tidak ada alasan untuk tidak menjawab.” Dito membalas gurauan Nayla.
Ratusan bibir tersenyum menanggapi gurauan Dito. Sedangkan Nayla tersipu malu, pipinya merah.
“Oh iya, manggilnya Bang aja yaa. Kalau dipanggil Mas kesannya sudah tua. Terus saya takut dijual, Mas kan mahal.” Ruangan berkapasitas 200 orang itu pecah oleh gelak tawa.
“Siap Mas, eh Bang hehe,” canda Nayla, “lanjut ya Bang. Beberapa bulan terakhir buku Abang laku keras. Nah itu kira-kira kenapa ya?”
“Kayanya pas beli buku matanya kelilipan. Jadinya beli buku saya, karena terlanjur dibeli, makanya dibaca,” Dito menjawab santai.
“Haha, Abang bisa aja.” Nayla tertawa, begitupun dengan yang lainnya. “Pertanyaan yang tadi cuma bercanda ya Bang, hehe.”
Dito tersenyum. Tanpa Nayla bilang, dia pun sudah tahu kalo itu cuma bercanda.
Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Lalu melontarkan pertanyaan.
“Bang, seperti yang kita tahu, novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ menjadi best seller dan meraih berbagai penghargaan. Kalau boleh tahu Abang mendapat ide darimana?” Nayla lanjut bertanya.
“Sebetulnya yang mendapat perhargaan itu bukan saya. Tapi semua orang yang sudah membacanya. Karena tanpa kalian, buku itu hanya sebatas tinta yang berjejer di atas kertas. Buku ‘Cukup Lima Huruf Saja’ merupakan buku yang paling lama saya tulis. Butuh lima tahun untuk merampungkannya. Saya memulainya saat menjadi mahasiswa.”
“Oh, gitu Bang. Lama juga ya prosesnya.”
Dito tersenyum.
Sekai lagi Nayla melihat secuil kertas yang ia pegang. Di kertas tersebut terdapat daftar pertanyaan “titipan”.
“Dalam novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’ si tokoh utama memberi sebuah buku pada seorang perempuan. Kenapa harus buku, Bang? Tidak bunga atau kue gitu?”
“Karena saya mencintai buku. Dan novel itu menceritakan perjalanan cinta saya. Keluh kesah saya merangkai huruf, menggambarkan kenangan, yang sedari dulu ingin dilupakan. Seiring dengan semakin banyaknya kata yang ditulis, akhrinya saya sadar, kenangan pahit itu justru menjadi penting bagi hidup saya, karenanya saya bisa menjadi lebih dewasa,” Dito tidak sadar dengan apa yang dia ucapkan.
“Melupakan apa Bang? Kenapa pengin dilupakan? Kenangan pahit, maksudnya?” Nayla bertubi-tubi melontarkan pertanyaan.
Semua orang yang berada di ruangan berkapasitas 200 orang itu penasaran. Sangat penasaran.
“Hmm… sebelum menjawab pertanyaan itu, apakah saya boleh minum terlebih dahulu?. Sepertinya tenggorokan saya kering hehe.” Ucap Dito menghiraukan pertanyaan Nayla.
Nayla mengembuskan nafas panjang, rasa penasarannya bertambah lama.
“Silakan Bang,” Nayla tersenyum.
Dito membuka botol air mineral yang disediakan panitia. Botol itu bersebelahan dengan sekotak cemilan di atas meja kecil. Air masuk kedalam mulut, melewati tenggorokan yang kering, menghilangkan dahaga. Segar rasanya. Semua orang menatapnya, menunggu jawaban. Mereka sangat penasaran.
“Bisa dilanjutkan Bang?” ucap Nayla tidak sabaran.
“Ini pertanyaan yang agak susah. Karena susah, saya ingin bertanya terlebih dahulu. Nayla punya kenangan?”
Nayla mengangguk mengiyakan.
“Banyak kenangannya?”
“Sangat banyak Bang.”
“Kenangan seperti apa?” Dito kembali bertanya.
“Eh, kenapa jadi saya yang diwawancara. Kan harusnya Abang yang saya wawancara hehe,” tukas Nayla.
“Daritadi Nayla terus bertanya, jadi sekarang giliran Abang yang bertanya. Abang lelah neng,” ujar Dito.
Ruangan berkapasitas 200 orang ini kembali dipenuhi oleh tawa. Dari semua orang yang tertawa, tawa Nayla paling keras.
Setelah ruangan ini kembali hening, Dito mulai menjawab pertanyaan Nayla.
“Semua orang mempunyai kenangan. Ada yang terus dijaga supaya tidak lupa, tapi akhirnya kenangan itu hilang. Ada juga yang mati-matian untuk dilupakan, tapi justru terus ingat. Dua hal itu adalah pilihan. Yang pasti mau dilupakan atau tidak, kenangan tersebut sudah menjadi bagian dari hidup kita. Jujur dulu saya pengin melupakan kenangan tersebut, kenangan yang sangat pahit. Tapi, semakin ingin dilupakan justru kenangan tersebut semakin menghantui,” jelas Dito.
“Kenangan seperti apa yang Abang maksud?”
“Kenangan dengan seseorang.”
“Pacar?”
“Bukan,” jawab Dito singkat.
“Terus siapa Bang?”
Hari ini Nayla menjadi miss kepo. Pertanyaan satu dijawab, muncul lagi yang lain.
“Yang pasti dia seseorang yang sangat berharga bagi hidup saya. Karenanya saya bisa melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, memberi pemahaman baru akan sebuah kenangan, rasa sakit, luka, tawa, dan air mata.
“Pacar? Ya itu keinginan saya. Tiga tahun lamanya (semasa SMA) saya mati-matian untuk mendapatkan hatinya, berharap dia memiliki perasaan yang sama, menjadi orang yang paling spesial di hidup saya. Sayangnya, dia tidak mau, dan terus saja tidak mau. Yang lebih menyakitkan, dia bilang tidak ingin pacaran dengan siapa pun, nyatanya satu bulan setelah itu dia justru pacaran dengan lelaki yang sangat saya hafal. Sahabat saya.”
Nayla diam membeku. Dia kehabisan kata untuk melanjutkan pertanyaan, padahal masih banyak pertanyaan “titipan” pada secuil kertas yang dipegannya. Ruangan berkapasitas 200 orang ini hening seketika. Orang-orang saling tatap. Ketahuilah di antara ratusan pasang mata, ada sepasang mata yang mulai basah.
“Loh kenapa saya jadi curhat gini ya? Jadi malu hehe,” Dito bergurau, berusaha memecah kesunyian.
Nayla tersenyum canggung meladeni gurauan Dito.
“Tapi waktu itu saya benar-benar keliru,” lanjut Dito.
“Apa yang keliru Bang?”
“Jawabannya ada di novel yang kamu pegang, Nay.”
Nayla melihat novel tersebut. Novel berwana putih dengan gambar hati di covernya. Dia teringat sesuatu. Perkataan Alif (tokoh utama novel) saat bertemu dengan Safa.
“Selama ini aku keliru. Bagaimana bisa aku menyebut apa yang telah dilakukan itu sebagai pengorbanan? Kalaulah hawa nafsu yang menuntunnya. Bagaimana mungkin semua itu disebut perjuangan? Jika amarah yang merajainya. Aku menghabiskan masa-masa SMA untuk mengejarmu, berharap kau membalas cintaku. Aku benar-benar keliru, itu bukan cinta tapi nafsu.”
Nayla kembali menatap Dito.
Seorang perempuan yang duduk di baris paling depan berusaha menahan air mata yang mulai menggenang di kelopak mata.
“Saya pernah merasakan sakit hati yang teramat dalam. Lelahnya bertepuk sebelah tangan. Membenci masa lalu, mengutuknya, menyumpahinya, menyesalinya. Pada akhirnya waktu memberi pelajaran yang sangat berharga, dia memberi tahu sesuatu. Menyesali masa lalu hanya menyia-nyiakan waktu, dan membencinya hanya menampakkan kebodohan di hadapannya.” Dito menatap seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan tersebut tertunduk, enggan menatap mata Dito.
“Novel ‘Cukup Lima huruf Saja’ hanya sebagian kecil dari kehidupan saya di masa lalu. Kita sepakat kalau semua orang mempunyai kenangan, baik yang menyenangkan maupun menyedihkan. Maka tulislah kenangan itu, supaya orang lain bisa mengambil secuil pelajaran. Saya ingin semua orang berdamai dengan masa lalu yang pahit, memeluknya dengan erat. Memberi pemahaman baru tentang lima huruf yang bisa mengubah hidup.”
Nayla menoleh jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. Lima menit lagi talk show ini berakhir.
“Bang, di antara banyaknya titipan pertanyaan yang saya dapatkan. Kebanyakan bertanya mengenai akhir cerita di novel ‘Cukup Lima Huruf Saja’, bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa? Apa yang terjadi setelah mereka bertemu? Mungkin ini pertanyaan saya yang terakhir pada kesempatan ini.”
“Pertanyaan ini sering saya dengar, bahkan sejak novel itu baru beredar di pasaran. Jujur saya sebagai penulisnya sendiri tidak tahu bagaimana kelanjutan kisah Alif dan Safa.”
Nayla tidak mengerti dengan jawaban Dito. Bagaimana mungkin sang penulis tidak mengetahui akhir dari cerita yang ia tulis?
“Tapi, kalian beruntung, sangat beruntung. Karena hari ini saya akan mendapat jawabannya,” ucap Dito melihat wajah bingung Nayla.
Mendapat jawaban dari siapa? Tidak mungkin ada yang tahu jawabannya, karena anda penulisnya. Kami tidak tahu jawabannya.
Belum sempat Nayla membuka mulutnya, Dito beranjak turun dari panggung. Ratusan pasang mata menatapnya heran. Ternyata seorang penulis sekelas Dito tidak punya tatakrama. Dia meninggalkan panggung padahal belum dipersilakan.
Dito meraih tangan seorang perempuan yang duduk di barisan depan. Perempuan yang sedaritadi berusaha menahan airmata yang menggenang di kelopak matanya. Dito menariknya ke atas panggung.
Nayla sempurna membeku, tidak ada sepatah kata pun yang mampu keluar di bibirnya.
“Kalian akan tahu bagaimana kelanjutan kisahnya dari Safa.” Di sebelah Dito tepat berdiri seorang perempuan yang kemudian diketahui namanya Safa.
Hah? Safa? Jadi perempuan yang tadi masuk bersama Dito itu, Safa? Tokoh dalam novel? Ternyata dia yang membuat Alif terpuruk dalam jurang nestapa. Tapi kenapa sekarang Dito membawanya kesini? Pertanyaan demi pertanyaan muncul di benak semua orang yang hadir di ruangan berkapasitas 200 orang itu. Sayangnya tidak ada yang berani mengeluarkan pertanyaan tersebut.
Dito berlutut di hadapan Safa.
Kenapa pula Dito harus berlutut di hadapan peremuan itu? Apa maksudnya? Harusnya dia membenci perempuan yang menyia-nyiakan dirinya, bukan berlutut di hadapannya. Apa arti dari semua ini?
“Safa, aku menghabiskan masa-masa SMA hanya untuk mengejarmu, mengharapkan cintamu. Sempurna kau menolakku. Dua tahun berikutnya aku tersungkur di jurang penderitaan. Memikirkanmu.. Aku membaca berbagai macam buku, berharap menemukan jawaban terhadap apa yang aku rasakan, tak ada satu pun yang bisa menjawabnya. Aku bertemu dengan ratusan orang, berharap mendapat penjelasan, tak ada yang mampu memberi penjelasan. Penjelasan kenapa perasaan itu masih ada, walaupun jarak membentang begitu jauh.
“Safa, sejak aku menulis buku, aku mulai mengerti sedikit demi sedikit apa yang harus dilakukan. Menjauhimu, memperbaiki diri, mengejar cita-cita serta mewujudkan mimpi-mimpiku. Sempurna aku larut dalam kesibukan. Sibuk membangun masa depan, mengejar cita-citaku, mewujudkan mimpiku. Kesibukan berhasil menghancurkan kesedihan, kegalauan bahkan kerinduan. Rindu yang tak beralasan untukmu.”
Nayla tertegun menyadari apa yang tertangkap oleh matanya. Dia lupa waktu talk show telah habis. Panitia yang lain pun sama, lupa. Mereka seakan memberikan waktu ini untuk Dito, tidak peduli seberapa lama pun itu.
“Takdir berbaik hati padaku. Saat aku berhasil mewujudkan mimpi. Di pameran buku tempo hari kamu menghampiriku. Meminta untuk menandatangani Novel yang aku tulis, untukmu. Berkat novel itu aku menemukanmu,” Dito menghela nafas panjang. Orang-orang di ruangan itu bahkan sampai lupa bernafas. Mereka melihat dengan saksama apa yang terjadi di panggung.
“Jika kamu bertanya kenapa aku melakukan semua ini, jawabannya cukup lima huruf saja. Kamu tahu apa?”
Safa menggelengkan kepala. Dia tidak tahu jawabannya.
“C-I-N-T-A. CINTA. Karena aku mencintaimu,” Dito terdiam sejenak.
Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Safa. Dia hanya menangis. Tangisan yang selalu ditakuti Dito. Dua belas tahun yang lalu Safa menangis setiap menolak Dito. Lantas apa arti dari tangisannya yang sekarang?
“Safa saat ini aku tidak akan memintamu untuk jadi pacarku. Aku sudah melupakan itu beberapa tahun yang lalu. Sekarang aku ingin memintamu untuk …” Dito menggantungkan ucapannya.
Dito menatap mata Safa lamat-lamat. Dia berusaha mengatur nafasnya yang tidak karuan. Jika dia tidak bisa mengungkapkannya sekarang, tidak akan ada lagi kesempatan.
“Aku ingin memintamu menikmati waktu yang disediakan malam dan siang, bersama. Menghiasi hari demi hari dengan senyuman.
“Safa maukah kamu… kamu… kamu menikah denganku?” Dito mengeluarkan cincin. Cincin yang tersembunyi di dalam kotak kecil berbentuk hati.
Ruangan berkapasitas 200 orang itu menjadi sangat hening. Tidak ada seorang pun yang bersuara. Bahkan cicak di balik jam dinding pun tidak berani bersuara. Semuanya ikut tegang menunggu jawaban dari Safa. Harap-harap cemas menanti kata yang akan keluar dari bibirnya. Rasa cemas Dito berhasil mengalahkan kecemasan semua orang.
Lima detik berlalu. Safa masih diam. Tidak ada jawaban.
Sepuluh detik masih sama.
Lima belas detik.
Tiga puluh detik..
Jantung Dito berdetak sangat kencang.
Empat puluh lima detik.
“Iya aku bersedia.” Di detik yang ke enam puluh Safa menjawab. Jawaban yang sangat dinantikan Dito.
Dito memasukkan sebuah cincin pada jari manis Safa. Semua orang yang melihatnya bersorak bahagia, memberi tepuk tangan. Tidak terasa mata mereka basah. Di antara semua orang yang ada di ruangan itu tidak ada yang lebih bahagia dibandingkan dengan Dito. Dua belas tahun berlalu, akhirnya Dito berhasil mendapatkan hati Safa. Bukan sebatas pacar, melainkan lebih dari itu.
Talk Show pun berakhir dengan bergugurannya air dari kelopak mata setiap orang yang menyaksikan sepotong kejadian ini.
***
Satu bulan setelah talk show, Safa dan Dito resmi menjadi pasangan suami istri. Sebuah rahasia besar terungkap. Semasa SMA, Safa tidak benar-benar pacaran dengan sahabat Dito. Dia melakukan itu supaya Dito berhenti mengejarnya, supaya dia fokus terhadap masa depannya. Begitupun keputusan Safa untuk kuliah di Jakarta. Membentangkan jarak, menjadikannya sebagai penghalang.
Ketahuilah, bertahun-tahun lamanya Safa memendam perasaan yang sama dengan Dito. Tidak ada yang tahu selain air mata saat menangis menahan rindu. Tidak ada yang paham selain buliran keringat saat dia larut dalam kesibukan. Maka sempurna sudah penantian Safa dan perjuangan Dito.
Biodata Penulis
Nasrul M. Rizal lahir pada tanggal 27 Agustus 1995 di Garut. Menulis adalah cara untuk memafaatkan waktu di sela-sela kesibukannya sebagi mahasiswa di Universitas Pendidikan Indonesia. Berkeinginan mempunyai perpustakaan pribadi dan melahirkan karya yang bermanfaat. Komunikasi lebih lanjut bisa melalui facebook: Nasrul Muhamad Rizal atau line: @mr_nasrul