namamu begitu manja saat letupan suara memayungi rintik hujan; mengenang kepergian. barangkali kematian adalah pengingat, bahwa umur tidak harus usai dengan semestinya. kemudian angin memecah serangkaian perjanjian yang tak pernah berhenti; hilang dan timbul secara tiba-tiba disertai air, hembusan, dan pilu yang menyetujui adanya perpisahan.
Hujan
Hujan adalah ruang pesan tanpa kata dari langit. Tulus dan ikhlas menyusuri setiap pasang anak mata yang kehilangan induknya. Ia tak kenal dengan hitungan waktu mundur yang kian mendesak,
namun ia paham bahwa ada pilu yang harus segera diselamatkan.
Puisiku
Puisiku menggertak, menuntut
atas orang-orang yang pernah hidup
dalam rahimnya.
Sinar Mata
Matamu berpendar menghitung mundur sang waktu. Ketika sepi dan hujan saling bertautan di beranda rumah.Sinarmu lirih diatas lorong waktu yang semakin menepi. Apakah kau akan kehabisan sinar, saat jari-jariku akan menggenggam hangatmu?
Selepas Hujan
selepas hujan reda ia menanggalkan mantel yang mengikat menggigil sepanjang suara gemuruh terus mengalir melewati sela-sela urat nadi. jalanan yang berlumpur membayangkan pertemuan dengan tapak derap langkah yang selalu meninggalkan jejak saat ia mulai memasuki hutan. tiba-tiba ia membakar denyut nadinya sendiri dengan kobaran hujan yang terus mendera rasa ketakutan dengan begitu nyaring. matanya terpejam setelah hujan tak satu pun menyentuh pipinya.
“Berikan aku tetes hujan untuk malam ini saja, agar aku bisa menyamar”. Ucapnya lirih dengan luka dalam.
“Baiklah, tunggu sebentar”.
Mengapa Jari-jari Jendela Terus Terbuka?
kemudian ia begitu usang dan menghibur ketika lonceng mulai berbunyi dalam kekekalan malam yang semakin memanjang. ruangan yang sangat gaib dan hampa dicerca penuh rahasia, bergoyang-goyang tanpa menyebut nama anak kecil yang bertemu saat hujan terus menembus rongga dada yang menganga. kutanyakan “mengapa jari-jari jendela itu terus terbuka?” “agar aku bisa masuk tanpa permisi ataupun agar kau sadar bahwa hujan sudah sejak lama berubah” jawab siapa.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Mereka berbisik kepada pepohonan “Tolong, kabarkan berita duka kami”. Perlahan kematian menjemput dengan khidmat, mereda dihantam ketidaksiapan melawan perubahan. Kehidupan-kehidupan baru bermunculan; berkembang-biak dengan leluasa dan tidak semestinya.
Jelaga kerinduan masa purba terus-menerus meraba tubuh-tubuh baru.
Membalas Perbuatan
Sekelompok pendosa menyembah dengan segala desakan pertolongan. Tuhan menunjukan jalan yang benar. Murka dan sesat segera menyelusup di tengah-tengah mereka, kemudian sesal dan sesak tumbuh dalam dada, pembuluh darah, dan pemikiran sempit mereka.
Pada Manusia
Aku hidup di sela-sela dirimu. Berbisik, bersembunyi, dan tumbuh pada lubang menganga dalam dadamu. Tuhan ataupun rajamu salah kaprah dalam bermuslihat.
Percayalah, neraka adalah tempat ternyaman untuk mencintai kehidupan.
Luka Kakiku
Kakiku meraba tanah bergema di pinggiran jurang dengan luka menganga pada bagian samping; tergores air mata. Seorang perempuan mencari-cari sebabnya.
Dalam jurang ada tubuh saling menuduh.
Arif Tunjung Pradana, lahir pada 16 Juli 1997 dan besar di tanah kelahirannya Wonogiri, Jawa Tengah. Mengenyam pendidikan di Universitas Sebelas Maret.
Sebuah koran di lempar seorang kurir. bersepeda di pagi kabut
Dikabarkan dua juta hektar hutan terbakar
Aku membacanya di teras rumah sambil meneguk segelas kopi yang asap-asapnya mengepul dari hutan-hutan
Di pojok bawah, 10 desa dari dua kabupaten kebanjiran: ratusan rumah terendam sebab hujan tak kunjung reda. aku melihat langit: masih berkabung saja
Di bagian lain seorang istri di bunuh selingkuhan suami: Alangkah lucunya negeri ini!
Lembar berikut adalah lapak-lapak sesak lahan parkir mobilmobil,kavling rumah,warung makan,hotel,atau jajanan obat kuat
Mataku berjalan lalu saja membaca kabarkabar itu:Dari Barat ke Timur: sepenjuru mata angin: Kemacetan, Demo kenaikan sembako—BBM—,Mogok kerja, Politik yang sama panas dengan dua juta hektar hutan terbakar
Dan tangis rakyat membuat banjir bendungan dangkal
Kolomkolom pekerjaan sepi. padahal jutaan sarjana kita bosan cuti panjang sejak hari wisuda
Rubrikrubrik artis foyafoya subur ditanam di pojok utara. padahal jutaan anakanak kita kelaparan
Ahhh!
Inilah kemarau panjang. duka tak berkesudahan di negeri ini
Korankoran penuh berita tak mengenakan. sesak pencitraan
Inilah zaman baru
A-Z jadi murahan!
Ladangladang puisi kekeringan
Penyairpenyair bisu membela
Sebab semua huruf habis terjual
Para pembaca jadi penyakitan. berita penuh gula, micin, asin, keasaman
Ahhh!
inilah zaman baru Nestapa
inilah zaman baru Nestapa
inilah duka baru Nestapa
Aku tertawa
kopiku tumpah
koran jadi hitam dan basah
lalu ku koyak dan buang ke tong sampah
“Sudah habis episode koran hari ini”
Teras Rumah, Bulan Delapan 2017
Buku Catatan Harian Tentang Ibu
Kepada Rumah: tempat masa kanak berlari riang
di kafe ini. aku benar-benar sendiri. selembar tisu baru saja diterbangkan angin. gelembung dari minuman—bernama Honey….—yang setengah jam lalu ku pesan hampir habis meletup sejak sampai di permukaan. kursi di depanku diduduki sepi. senja membanjiri lantai dan dinding ruangan
sedang dilantai dua. di Kota Solo
setelah hari ini
“selamat datang SENDIRI. kamu sudah jadi penjajah. lalu bagaimana caranya merdeka? aku lupa. maafkan. aku sedang tidak menikmati ini: ia meletup di dada. seperti kenangan sebagai luka-luka.”
dan aku terjebak sepi yang membuka catatan harian tentang “rumah”. tangan Ibu yang senantiasa harum ketumbar, merica, cabai, bawang, dan rempah-rempah kala aku menciumnya
aku menghirup aroma dapur milik Ibu, tempat ia menghidangkan cintanya paling tulus setiap hari. meracik sesuatu yang kami suka. mendengar suara radionya yang baru dibeli tiga bulan lalu. alasan baginya untuk mengusir sepi yang seringkali mengusik
aku teringat oven besar milik Ibu. yang menebar hawa panas kala ia tengah membuat roti, diisinya keju, cokelat, dan kacang gula.
aku teringat meja makan. ada tujuh kursi dan hanya penuh di akhir ramadan. mejanya bisa diputar, sering kami rebutan makanan kesukaan
menyantap remah tawa. tak perlu memesan apa-apa: di atas meja, Ibu sudah menyiapkan semua yang kami suka: perkedel, tempe bacem, lempah kuning, bayem, kerupuk, atau lainnya. kadang ada bonus pempek atau martabak Bangka
tentang buku catatan harianku yang terbuka di atas meja kafe ini. aku tak memesan apa-apa selain segelas minuman tadi. lalu kuteguk beberapa rasa sakit di dada
lampu di lantai dua sudah dinyalakan. rinduku memancar
tentang Ibu. ia paling paham jika ada sesuatu yang rubuh di tubuhku. aku belajar betapa indahnya rahim bungamu. di tempat ini. puluhan mil terbentang antara aku dan Ibu. ditubuhku: malam hampir ranum. memoriku berguguran. menyemai selembar kertas di depanku
dalam dadaku. kolam jiwa menciptakan arus. ia berdebur begitu kencang. dan angin bergemuruh di antara perbukitan cadas yang curam. rindu makin runcing menghunus sisa jingga yang membakar tubuhku
Ibu
bidadarikah engkau?
aku tengah terpenjara kini. tiap detik yang berdetak menyebut namamu. hanya namamu Ibu. kenapa rindu seperti dua mata pisau yang menusukku?
Surakarta, Sembilan—Sembilan—Tujuhbelas 05.15 pm
Habib Safillah Akbariski
BIODATA PENULIS Habib Safillah Akbariski, demikianlah ia populer. Lahir 10 Juni 1999 di Bandung. Jadi usianya 18 tahun , terhitung sejak profil ini ditampilkan di Buanakata. Terlahir dari rahim orang yang paling dicintainya, Heniar dan lelaki yang bersedia berpeluh untuknya, Otto Rikintara. Namun secara teknis pria berwajah cakep ini dibesarkan di Bangka Belitung sejak umur empat tahun dan belajar merantau sejak umur 15 tahun. Sekarang tengah memulai dunia perkuliahan di Prodi Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta: berharap suka dan lulus secepatnya. Amin.
Info lebih lanjut beliau bisa dihubungi di Hp/Wa: 087797252549 dan aktif bersosial media di FB: Habib Safillah, Ig: Habibsafillah. Beberapa karyanya disemayamkan di habibsafillah.tumblr.com dan di tempat yang ia kehendaki. Alamat: Jl. Dahlia Dalam 1 No. 446 RT 003 RW 001 Kel. Bukit Merapin Kec. Gerunggang Kota Pangkalpinang Prov. Kep. Bangka Belitung (kode pos: 33123)