Arsip Tag: Intermezzo

Kakek Penjual Cendol

by Iwangendut

Setiap berbisnis, apapun bentuknya P Place (Tempat) akan menjadi faktor utama keberhasilan bisnis tersebut.
Tidak sembarang tempat bisa dipakai untuk lokasi berbisnis, berdagang.  Harus benar benar tempat yang strategis yang dipilih. Apalagi untuk para pebisnis dari China…ada hitungannya. Hoki,…apa tempatnya mempunyai HOKI.
Harus dilakukan survey terlebih dahulu….
Bahkan berani membayar berapapun ” tempat itu”
jika diyakini ….”NANTI” akan.memberikan keuntungan secara materi….

Standby ditempat yang strategis
Stay ditempat yang mudah dijangkau
Berada dikawasan “segi tiga emas”..menunggu customer datang.

Lain sekali bedanya. Bak bumi dengan langit….

Kakek Penjual Cendol sederhana itu mempunyai latar belakang yang berbeda.

Meskipun sudah tua, ia tetap berjualan cendol keliling.

Ia tidak mau menyusahkan anak anaknya, apalagi orang lain. Ia merasa masih mampu berjualan, maka itulah yang dilakukannya.

Sebenarnya lebih enak berjualan disuatu tempat tertentu (Place) Lokasi yang bagus…Anaknya bersedia menyewakan Kios untuk nya.

Tapi kakek tua itu mempunyai pandangan dan pemikiran berbeda. Walaupun berjualan cendol kelilingan dengan hasil tidak seberapa…namun ia dengan tekun dan iklas dan bahagia menjalani.

Di sisa usianya ia akan tetap berjualan keliling karena dengan keyakinan ALLAH menurunkan rezeki dimana saja. Oleh karena itu ia akan dengan yakin ” menjemput ” rezeki itu.

Rutinitas itu ia anggap sebagai kewajiban ikhtiar baginya..

Seperti beburungan dan makhluk lainnya yang telah dijamin rezekinya sama Allah
…tetap berburu menjemput rezeki….dimanapun tempat ..berada?

Place yang tepat adalah keniscayaan.

Teteh Penjual Kopi

 
 Oleh: Iwangendut

Bicara tentang keberhasilan suatu produk sebagai komoditi (dagangan) tergantung banyak faktor. Secara ilmu marketing, keberhasilan penjualan produk bisa karena, penetapan P4 yang tepat. Product (Produk), Price (Harga), Place (Tempat)  dan Promotion (promosi). Juga bisa mempertimbangkan analisa SWOT. Strenghts (Kekuatan), Weakness (Kelemahan), Oppurtunities ( Peluang ) dan Treats (Ancaman). Meramu secara tepat Strategi Pemasaran.

Ahhh…..begitu kompleksnya turunan dari permasalahan diatas. Kita pasti yakin bahwa

Teteh penjual kopi…tidak akan memakai semua tetek bengek diatas.

Ia hanya berjualan dan berjualan saja. Menjual produk yang menurut pemikirannya , orang membutuhkan produk tersebut. Belanja dari Toko besar, dijual kembali dengan mengambil keuntungan sekedarnya. Sewajarnya.

Setiap pcs dagangan yang laku disyukuri. Setiap keuntungan disyukuri dan diterimanya. Dengan senang hati dan tawakal.

Syukur dan narimo ini lah..yang bisa menjungkir balikan semua teori diatas. Teori yang disandarkan pada keberhasilan secara materi, kebendaan

Materialisme saja.

Tapi yang menjadi pembeda adalah kemampuan menerima keuntungan yang tidak seberapa, dengan syukur dan “nerimo” sehingga untung yang “kecil” menurut kacamata kita itu, sebenarnya mempunyai “Kekuatan besar”, added value, ..yang namanya berkah.

Tidak memikirkan quantitatif (jumlah), namun mementingkan Qualitas (mutu).

Dengan syukur semua berkah mengikuti dengan sendirinya.

Sehingga setiap penjualan yang terjadi, otomatis memberikan kekuatan berkah…

Dan apabila dilihat secara hasil akhir…

Walaupun hasilnya sedikit akan Terlihat Banyak Karena Fadillah Berkah Tersebut.

Teteh Penjual Kopi menyadarkan semua lakunya kepada pemilik berkah yaitu Allah Yang Maha Kaya.

Ide Ngawur Sekadar Memecah Kebekuan Dalam Latihan Nulis Fiksi

Oleh Otang K.Baddy

Karena tak mampu baca karakter, cukup saja kamu berlebay, merengek, pura-pura tergila padaku, sebelum kemudian menjebakku di perempatan jalan Rongewu. Satu tempat, arena kebal jiwa fiktif buatanmu. Oke, oke, Rustamah. Permainan kartu lusuh atau catur yang tengah kita mainkan. Bermain secara liar maupun beradab terserah mana suka. Yang penting imajinasimu bisa liar.

Oke, oke Rustamah –aslinya mungkin bisa saja Karwati, Kartamsah atau tak mustahil Kaswijan. Mau wanita sange atau lelaki pratpretprot yang muruput  –abaikan dulu soal kejujuran, karena kejujuran kadang tercetak pada poster atau baliho para politisi yang kerap terpasang tepi jalan raya, tempat strategis atau di kalender dan kaos. Ya, kadang terkesan menggelitik pokoknya. Betapa tidak, bedak dan gincu di muka yang mereka reka tak pelak dari 50% resfondes dapat terpedaya. Apalagi jika ditambah senyum santun bersahaja. Wow selain agamis kesannya menunjunjung budaya para leluhur yang bersahaja dan madani.

Baiklah, sekarang aku mulai berangkat dengan muka badak. Mungkin karena terlalu larut membayangkan wajahmu, jenis kelaminmu, jengjang leher dan dengus napasmu saat beradu nanti, kepalaku sempat terbanting di pintu bus. Dakk! Demikianlah sampai mulutku cerawak. Untungnya para penumpang tak ada yang tahu saat kutu-kutu dari batok kepalaku berloncatan ke kepala mereka. Beberapa lembar uban tersangkut di engsel bus. Biarkanlah suasana ngawur dan liar. Dimana satu penokohan aku yang terjerat oleh Rustamah, tokoh yang dibuatnya sendiri.

Namun aku berharap. Semoga kau benar Rustamah, bukan Kartoji atau Kaswijan yang sengaja bikin akun palsu dengan nama wanita cantik elegan. Soal daki, jarang gosok gigi, penyuka sambal terasi dan jengkol, tak berjilbab, tak ngerti budaya arab dan eksim di atas lutut, tak perlu dipermasalahkan. Begitupun soal kebiasaan sering kentut bak suara angsa atau suara motor butut di kamar mandi yang sering kamu curahkan sebagai bentuk penyimpangan jangan jadi pikiran Lagu silung atau nuansa humor itulah malah yang membuat akang senang. Yang penting nyai bener suka pada Akang yang sudah 5 tahun menduda.

 

Sesaat Pagi Di Sudut Taman

oleh : Marina Novianti

Ada sejuk angin berembus di sudut taman. Dua helai daun gugur menari turun perlahan bersamanya. Lembut aroma kuntum melati pagi malu – malu menghampiri hidungku, mengumumkan kejelitaan yang masih hijau. Lamat-lamat kudengar suara bocah kecil yang asyik bermain perosotan.  Ada tawa, ada canda, ada kata-kata kotor.

“Tai anjing, bau pesing, kurang ajar!” begitu racau si kecil, sambil terus bermain.

Sebentar! Rentetan kata-katanya tak serasi dengan suasana indah pagi ini. Mengapa kata-kata semacam itu keluar dari mulut bocah kecil yang sedang bermain di taman? Kutolehkan kepala mencari-cari kemana ibu atau pengasuh si kecil bermulut lancang.
Oh, itu dia! Sedang sibuk menyapu halaman depan sebuah rumah mungil bercat kuning. Sesekali kepalanya terdongak, memastikan bocah kecil itu belum mencelakakan dirinya sendiri dengan segala permainannya di taman. Sempat terpikir untuk menghampiri si ibu dan melontarkan kritik, jeng, kok anaknya bicara seperti itu dibiarkan saja? Apa tidak pernah diajarkan untuk berkata-kata yang lebih sopan, lebih indah?
Sesaat sebelum kulangkahkan kaki mendekati si ibu, kulihat ia kembali menegakkan tubuhnya. Didongakkannya kepala mengawasi si bocah. Ada sesuatu pada sorot mata ibu ini, ada makna mendalam pada seiris senyum manis di raut wajah yang mulai berhias kerutan letih. Aku tertegun saat mulai sadar, betapa ia sangat mengerti bahwa bocah kecilnya sedang belajar tumbuh mendewasa.
Si kecil sedang melatih semua kemampuan dan ketrampilannya, termasuk ketrampilan berbahasa dan berlogika.  Ia tak layak dituntut memenuhi standar kompetensi seorang dewasa. Jadi untuknya, berkata-kata kotor adalah semacam percobaan : seberapa ampuh kata-kata ini menarik perhatian dunia sekitarku, reaksi apa yang bisa kuperoleh bila kata-kata ini kulontarkan pada orangtua dan masyarakat? Dan dengan kagum kusadari, betapa si ibu sangat paham bahwa semakin besar respons keras dan negatif yang dia berikan untuk tiap kata-kata lancang bocahnya, semakin yakin si pembelajar kecil itu bahwa kata-kata lancang sangat ampuh sebagai senjata pemikat perhatian dunia.

Sambil menelisik ke dalam ruang hati, diam-diam terlontar umpatan malu pada diri sendiri. Siapa aku, berani-berani mengkritik ibu tadi, yang telah mengasuh dan memahami si kecil darah dagingnya sejak dalam kandungan? Di mana aku, saat ibu ini mengamati tiap peristiwa dalam tumbuh kembang anaknya? Apa yang telah kulakukan dalam kehidupan si kecil, sehingga aku berhak mengatai dia sebagai lancang, bocah bermulut kotor? Adakah aku mampu menyamai setengah saja pemahaman bijaksana si ibu tadi, dalam mendidik anakku sendiri?

“Nak, ayo masuk, mandi dulu, ya!” seru si ibu memanggil bocahnya.

“Nanti bu, aku masih mau main!” si bocah menegangkan tengkuk dan mengeraskan rahangnya. Tersenyum, si ibu meninggalkan sapunya dan menghampiri si bocah. Dengan lembut  ia menuntun lengan pemuda cilik yang darahnya menggelegak, berjalan menuju rumah mereka.

“Sebentar saja, sayang, setelah itu bisa bermain lagi,” bujuk si ibu.

“Aku tak mau! Maunya main saja! Ibu jahat!” racau si kecil, namun sambil menurut ia menggenggam erat tangan ibunya dan ikut melangkah ke rumah. Kupandangi dua manusia itu berjalan berdampingan, punggung mereka perlahan menjauhiku. Si ibu menelengkan kepala menatap buah hatinya,sementara kepala si kecil bersandar pada pinggang ibunya. Deras kata-kata protes bernada tinggi yang terdengar menjadi tak berarti, dimentahkan oleh sinaran kasih yang terpancar dari ibu dan anak.  Sesaat sebelum punggung keduanya menghilang kebalik pintu rumah bercat kuning, semua racauan si bocah pun sudah hilang dari pendengaranku.

*

Angin pagi masih berembus, walau tak lagi sesejuk tadi. Dedaunan gugur masih melayang turun ke tanah di sudut taman ini, yang coklat basah sisa hujan semalam. Lembaran mahkota flamboyan merah turut terbang dan menggelitik ujung mataku,  yang masih memandangi daun pintu rumah mungil bercat kuning. Sambil mengusap wajah, kutatap ke langit cerah dengan rasa malu. Di sana, di balik awan putih, ada seiris senyum seindah milik ibu tadi. Senyum itu untukku, senyum bijak penuh kasih dan pemahaman untuk semua kelancangan dan kekurangajaranku.  Diam-diam penuh rasa malu, kembali kulontarkan umpatan pada diri sendiri. (November 2013)

***

Jangan Perkosa Ibu Kita

Oleh: Marina Novianti

“Eropaku bukanlah Eropamu. Engkau berbicara tentang Eropa, tapi bedanya, bagimu Eropa adalah harta milik, sedangkan bagi kami sebaliknya, Eropalah yang memiliki kami.” (Surat Ketiga dari Surat Kepada Seorang Teman di Jerman, Albert Camus)

Dan kita? Adakah kita berbicara tentang Indonesia sebagai harta milik, atau sebagai pemilik kita; ibu yang melahirkan kita? Sebab kita pun teruja, tak sabar untuk mengangkangi Indonesia. Atas nama tanggung jawab sebagai pengelola, atas nama pemilik warisan kekayaan, kita merasa berhak melakukannya. Saat Indonesia dan lekuk – lekuknya telah berada di tangan, yang kita lakukan adalah mengambil, memakai, mengotori, merusakkan. Meraba-raba dan memperkosa Indonesia.

“Kulihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati. airmatanya berlinang, diperkosa anak tersayang.”

Indonesia adalah Ibu. Kepadanya aku selalu ingin pulang dan mengadu. Ibu akan menerimaku dengan tangannya yang pecah – pecah, upah kerja kerasnya untuk segenggam kehidupan. Kebaya lusuh seolah bersaing dengan kerut – kerut yang menghiasi senyuman teduh anggun, di wajah Ibu. Langkah yang tertatih tak menghalanginya memanggul bakul dagangan ke pasar dan berjalan kaki belasan kilometer jauhnya. Punggung yang ngilu tak menyebabkannya enggan menggendongku sambil mencangkul di sawah. Melihat ibuku seperti ini, aku semakin, semakin mencintainya. Ingin kubuat ibuku bangga, ingin kulekangkan senyum anggun itu di wajahnya, saat kuserukan padanya,

”Lihat Bu, semua kerja keras dan keberhasilanku adalah karenamu, untukmu, Indonesiaku!”

Jadi, adakah Indonesiamu juga Indonesiaku, yang Ibu? Kalau begitu, jangan perkosa ibu kita.

(Penulis adalah seorang cerpenis dari Medan)