oleh : Marina Novianti
Ada sejuk angin berembus di sudut taman. Dua helai daun gugur menari turun perlahan bersamanya. Lembut aroma kuntum melati pagi malu – malu menghampiri hidungku, mengumumkan kejelitaan yang masih hijau. Lamat-lamat kudengar suara bocah kecil yang asyik bermain perosotan. Ada tawa, ada canda, ada kata-kata kotor.
“Tai anjing, bau pesing, kurang ajar!” begitu racau si kecil, sambil terus bermain.
Sebentar! Rentetan kata-katanya tak serasi dengan suasana indah pagi ini. Mengapa kata-kata semacam itu keluar dari mulut bocah kecil yang sedang bermain di taman? Kutolehkan kepala mencari-cari kemana ibu atau pengasuh si kecil bermulut lancang.
Oh, itu dia! Sedang sibuk menyapu halaman depan sebuah rumah mungil bercat kuning. Sesekali kepalanya terdongak, memastikan bocah kecil itu belum mencelakakan dirinya sendiri dengan segala permainannya di taman. Sempat terpikir untuk menghampiri si ibu dan melontarkan kritik, jeng, kok anaknya bicara seperti itu dibiarkan saja? Apa tidak pernah diajarkan untuk berkata-kata yang lebih sopan, lebih indah?
Sesaat sebelum kulangkahkan kaki mendekati si ibu, kulihat ia kembali menegakkan tubuhnya. Didongakkannya kepala mengawasi si bocah. Ada sesuatu pada sorot mata ibu ini, ada makna mendalam pada seiris senyum manis di raut wajah yang mulai berhias kerutan letih. Aku tertegun saat mulai sadar, betapa ia sangat mengerti bahwa bocah kecilnya sedang belajar tumbuh mendewasa.
Si kecil sedang melatih semua kemampuan dan ketrampilannya, termasuk ketrampilan berbahasa dan berlogika. Ia tak layak dituntut memenuhi standar kompetensi seorang dewasa. Jadi untuknya, berkata-kata kotor adalah semacam percobaan : seberapa ampuh kata-kata ini menarik perhatian dunia sekitarku, reaksi apa yang bisa kuperoleh bila kata-kata ini kulontarkan pada orangtua dan masyarakat? Dan dengan kagum kusadari, betapa si ibu sangat paham bahwa semakin besar respons keras dan negatif yang dia berikan untuk tiap kata-kata lancang bocahnya, semakin yakin si pembelajar kecil itu bahwa kata-kata lancang sangat ampuh sebagai senjata pemikat perhatian dunia.
Sambil menelisik ke dalam ruang hati, diam-diam terlontar umpatan malu pada diri sendiri. Siapa aku, berani-berani mengkritik ibu tadi, yang telah mengasuh dan memahami si kecil darah dagingnya sejak dalam kandungan? Di mana aku, saat ibu ini mengamati tiap peristiwa dalam tumbuh kembang anaknya? Apa yang telah kulakukan dalam kehidupan si kecil, sehingga aku berhak mengatai dia sebagai lancang, bocah bermulut kotor? Adakah aku mampu menyamai setengah saja pemahaman bijaksana si ibu tadi, dalam mendidik anakku sendiri?
“Nak, ayo masuk, mandi dulu, ya!” seru si ibu memanggil bocahnya.
“Nanti bu, aku masih mau main!” si bocah menegangkan tengkuk dan mengeraskan rahangnya. Tersenyum, si ibu meninggalkan sapunya dan menghampiri si bocah. Dengan lembut ia menuntun lengan pemuda cilik yang darahnya menggelegak, berjalan menuju rumah mereka.
“Sebentar saja, sayang, setelah itu bisa bermain lagi,” bujuk si ibu.
“Aku tak mau! Maunya main saja! Ibu jahat!” racau si kecil, namun sambil menurut ia menggenggam erat tangan ibunya dan ikut melangkah ke rumah. Kupandangi dua manusia itu berjalan berdampingan, punggung mereka perlahan menjauhiku. Si ibu menelengkan kepala menatap buah hatinya,sementara kepala si kecil bersandar pada pinggang ibunya. Deras kata-kata protes bernada tinggi yang terdengar menjadi tak berarti, dimentahkan oleh sinaran kasih yang terpancar dari ibu dan anak. Sesaat sebelum punggung keduanya menghilang kebalik pintu rumah bercat kuning, semua racauan si bocah pun sudah hilang dari pendengaranku.
*
Angin pagi masih berembus, walau tak lagi sesejuk tadi. Dedaunan gugur masih melayang turun ke tanah di sudut taman ini, yang coklat basah sisa hujan semalam. Lembaran mahkota flamboyan merah turut terbang dan menggelitik ujung mataku, yang masih memandangi daun pintu rumah mungil bercat kuning. Sambil mengusap wajah, kutatap ke langit cerah dengan rasa malu. Di sana, di balik awan putih, ada seiris senyum seindah milik ibu tadi. Senyum itu untukku, senyum bijak penuh kasih dan pemahaman untuk semua kelancangan dan kekurangajaranku. Diam-diam penuh rasa malu, kembali kulontarkan umpatan pada diri sendiri. (November 2013)
***