Puisi: Muhammad Asqalani eNeSTe

Tarian Kampung Halaman

“ campong ale campong camporong lampu dinding,

on dope hami ro mangalapko da boru bujing.

bue-bue dainang bue!”*

 

ia nyanyikan jua baitbait pilu

yang padu padamkan rindu,

masih di jendela renta yang sama.

memanah angan.

terjun ke dalam liang bayangan.

ke dalam genangan linang.

gadis igomigomnya telah kehilangan pulang.

lupa pada kuning padi dan hijau ilalang.

lupa pada siul pipit tanpa sarang.

***

Oi pincang taman,

kalau tumbuh jua bunga cirik ayam.

sebab itu

akan mengunduh kampung halaman.

tentang joruk, joring dan rimbang, nasinasi, paparia

dan sawi.

tentang ayah yang mati di sungai Suligi,

selepas tarawih dan mengaji.

tentang kau yang tak ingat ziarah kubur

di sisasisa umur.

***

buah salak itu yang membesarkan dadamu.

merekahkan bibirmu,

memanjangkan rambutmu.

meramu mukamu.

pesonamu. hingga lelaki berbaju teluk belanga ungu

dengan kacamata abuabu

datang menjemputmu.

ia hanya memberimu restu

dengan bahasa paling gugu.

airmata dan doa satu..

2012

*selirik nyanyi dari Mandailing-Tapanuli Selatan

 

Dekke na Niarsik 3

hula hula

bagi pasu pasu

 

Nekke na Niarsik

telah lahir anak pertamaku

segala marga lebih keramat daripada hantu

 

lalu turunlah berkah

bersama tali darah yang naik sembah

kehidupan yang mesti seliat tabah

dan doadoa tak henti ditarah

 

pada mulanya

dongeng Adam dilaungkan

selepas adzan

selepas satusatu keinginan dikeramatkan

 

segalanya

mengkutuskan pantang larangan yang selalu silam

2013

 

Kania

kembalilah….

ada rumahrumah megah kehilangan ruhnya

seorang Adam yang kesepian,

selalu mengumandangkan adzan tengah malam

keningnya berdebu!

Kania

ketahuilah ada seribu sesal yang melingkar di pucuk dada Adam

tiap kali ia bayangkan wajahmu tiap kali pula ia lupa raut rupamu

ia kerap mengirim harapanharapan panjang ke pada tuhan

begitu dalam penyesalan, begitu dalam cinta, Kania

kembalilah!

ada rumahrumah megah kala kau benarbenar memaafkan Adam

yang lempang dada itu

2012

 

Slip Tounge

: Desi Sommalia

tak ada apa apa, tidurlah…

aku mengintip jendela rahasia yang sedikit lama kautinggalkan

kata kata yang mestinya kauutarakan, tergeletak di sana.

kata kata itu bermata tajam, penuh kecurigaan tapi juga nanar

dideliknya aku, seperti mengatakan: “kubunuh kau yang gelisah”

aku berlari, pura pura tenang di meja makan, kau datang

dengan beberapa potong goreng pisang. sangat dingin,

dan kau seolah menegaskan: “tak ada ramah tamah malam ini.

kecurigaan yang kauhaturkan telah menegaskan keterdiamanku”

aku pun memilih tak menyentuh apa pun, termasuk kopi panas

yang beberapa menit lalu dengan gairah kuseduh. aku ingat

kata ibu : “diam adalah percakapan paling dalam, maka kau

harus berusaha sedaya daya menghindar darinya”

aku memang berjalan ke ruang tidur, seperti anjuranmu.

tapi kata kata yang mestinya kau utarakan tergeletak di pintu

kamarku, wajahnya lelah, tapi matanya tak berubah: tajam,

penuh kecurigaan, dan nanar. aku langkahi tubuhnya, berusaha

biasa. meski aku telah menyediakan tubuh untuk seluruh insomnia.

dan pikiran pikiran tentang kata yang telanjang, salah jalan. sialan!

2013

 

 

Bulvari Menuju HF

Sayang, aku melihat mobius bunga di radius ujung pandangku.

Ia serupa cabang mahkota rusa di rimba tanpa tapa. Rimba

yang tak pernah terjangkau kaki manusia kecuali lewat lengan imaji.

Dimana orang orang suci membakta mimpi seperti bundar naluri.

Sayang, ingin sekali rasanya kukalungkan mobius bunga itu ke leherku,

andai aku sepenuh yakin bunga itu pernah tumbuh di lehermu, sebab aku

percaya, dengan begitu tali nyawaku akan lebih wangi dari kelopak sukma,

dari kelopak kurma manusia pertama.

Sayang, jika kau benar pemilik rusa tanpa rusuk, aku akan salibat daging

buruan sepanjang nafsu, maksudku selama hidupku dicungkup nafsu, tapi

bagaimana mungkin kutunggangi rusa yang merasuk ke dalam ruhmu tanpa

nafsu.

Sayang, seluruh yang tak mampu kutikung dengan rubayat selubung, adalah

bulvari terdekat dengan tubuhmu, aku ngin menjadi si buta di bulvari itu,

meraba sepanjang gazal tangan, sepanjang tubuhmu mampu kusentuh,

kusentuh keabadianmu

         Betung Semesta – 2014

 

 

Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pend. Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Pengajar English Conversation di Smart Fast Education – Pekanbaru. Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631. Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos. Sumut Pos, Pos Bali, Lombok Post, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Waspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa,dll. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER).

Tinggalkan komentar