Tarian Kampung Halaman
“ campong ale campong camporong lampu dinding,
on dope hami ro mangalapko da boru bujing.
bue-bue dainang bue!”*
ia nyanyikan jua baitbait pilu
yang padu padamkan rindu,
masih di jendela renta yang sama.
memanah angan.
terjun ke dalam liang bayangan.
ke dalam genangan linang.
gadis igomigomnya telah kehilangan pulang.
lupa pada kuning padi dan hijau ilalang.
lupa pada siul pipit tanpa sarang.
***
Oi pincang taman,
kalau tumbuh jua bunga cirik ayam.
sebab itu
akan mengunduh kampung halaman.
tentang joruk, joring dan rimbang, nasinasi, paparia
dan sawi.
tentang ayah yang mati di sungai Suligi,
selepas tarawih dan mengaji.
tentang kau yang tak ingat ziarah kubur
di sisasisa umur.
***
buah salak itu yang membesarkan dadamu.
merekahkan bibirmu,
memanjangkan rambutmu.
meramu mukamu.
pesonamu. hingga lelaki berbaju teluk belanga ungu
dengan kacamata abuabu
datang menjemputmu.
ia hanya memberimu restu
dengan bahasa paling gugu.
airmata dan doa satu..
2012
*selirik nyanyi dari Mandailing-Tapanuli Selatan
Dekke na Niarsik 3
hula hula
bagi pasu pasu
Nekke na Niarsik
telah lahir anak pertamaku
segala marga lebih keramat daripada hantu
lalu turunlah berkah
bersama tali darah yang naik sembah
kehidupan yang mesti seliat tabah
dan doadoa tak henti ditarah
pada mulanya
dongeng Adam dilaungkan
selepas adzan
selepas satusatu keinginan dikeramatkan
segalanya
mengkutuskan pantang larangan yang selalu silam
2013
Kania
kembalilah….
ada rumahrumah megah kehilangan ruhnya
seorang Adam yang kesepian,
selalu mengumandangkan adzan tengah malam
keningnya berdebu!
Kania
ketahuilah ada seribu sesal yang melingkar di pucuk dada Adam
tiap kali ia bayangkan wajahmu tiap kali pula ia lupa raut rupamu
ia kerap mengirim harapanharapan panjang ke pada tuhan
begitu dalam penyesalan, begitu dalam cinta, Kania
kembalilah!
ada rumahrumah megah kala kau benarbenar memaafkan Adam
yang lempang dada itu
2012
Slip Tounge
: Desi Sommalia
tak ada apa apa, tidurlah…
aku mengintip jendela rahasia yang sedikit lama kautinggalkan
kata kata yang mestinya kauutarakan, tergeletak di sana.
kata kata itu bermata tajam, penuh kecurigaan tapi juga nanar
dideliknya aku, seperti mengatakan: “kubunuh kau yang gelisah”
aku berlari, pura pura tenang di meja makan, kau datang
dengan beberapa potong goreng pisang. sangat dingin,
dan kau seolah menegaskan: “tak ada ramah tamah malam ini.
kecurigaan yang kauhaturkan telah menegaskan keterdiamanku”
aku pun memilih tak menyentuh apa pun, termasuk kopi panas
yang beberapa menit lalu dengan gairah kuseduh. aku ingat
kata ibu : “diam adalah percakapan paling dalam, maka kau
harus berusaha sedaya daya menghindar darinya”
aku memang berjalan ke ruang tidur, seperti anjuranmu.
tapi kata kata yang mestinya kau utarakan tergeletak di pintu
kamarku, wajahnya lelah, tapi matanya tak berubah: tajam,
penuh kecurigaan, dan nanar. aku langkahi tubuhnya, berusaha
biasa. meski aku telah menyediakan tubuh untuk seluruh insomnia.
dan pikiran pikiran tentang kata yang telanjang, salah jalan. sialan!
2013
Bulvari Menuju HF
Sayang, aku melihat mobius bunga di radius ujung pandangku.
Ia serupa cabang mahkota rusa di rimba tanpa tapa. Rimba
yang tak pernah terjangkau kaki manusia kecuali lewat lengan imaji.
Dimana orang orang suci membakta mimpi seperti bundar naluri.
Sayang, ingin sekali rasanya kukalungkan mobius bunga itu ke leherku,
andai aku sepenuh yakin bunga itu pernah tumbuh di lehermu, sebab aku
percaya, dengan begitu tali nyawaku akan lebih wangi dari kelopak sukma,
dari kelopak kurma manusia pertama.
Sayang, jika kau benar pemilik rusa tanpa rusuk, aku akan salibat daging
buruan sepanjang nafsu, maksudku selama hidupku dicungkup nafsu, tapi
bagaimana mungkin kutunggangi rusa yang merasuk ke dalam ruhmu tanpa
nafsu.
Sayang, seluruh yang tak mampu kutikung dengan rubayat selubung, adalah
bulvari terdekat dengan tubuhmu, aku ngin menjadi si buta di bulvari itu,
meraba sepanjang gazal tangan, sepanjang tubuhmu mampu kusentuh,
kusentuh keabadianmu
Betung Semesta – 2014
Muhammad Asqalani eNeSTe. Kelahiran Paringgonan, 25 Mei 1988. Alumnus Pend. Bahasa Inggris – Universitas Islam Riau (UIR). Pengajar English Conversation di Smart Fast Education – Pekanbaru. Menulis sejak 2006. Puisi-puisinya dijadikan skripsi “Lisensia Puitika Puisi-puisi Muhammad Asqalani; Sebuah kajian stilistika” disusun oleh Raka Faeri (NPM: 086210631. Pernah menjadi Redaktur Sastra Majalah Frasa. Meraih gelar “Penulis & Pembaca Puisi Muda Terpuji Riau 2011”. Puisi-puisinya dimuat di: Pikiran Rakyat, Suara Merdeka, Suara NTB, Minggu Pagi, Fajar Makassar, Riau Pos, Batam Pos, Tanjung Pinang Pos. Sumut Pos, Pos Bali, Lombok Post, Sastra Sumbar, Padang Ekspres, Medan Bisnis, Buletin Jejak, Tribun Sumsel, Waspada, Posmetro Prabu, Metro Riau, Haluan Riau, Koran Riau, Koran Madura, Inilah Koran, Dinamika News, Ruang Rekonstruksi, Majalah Sabili, Majalah Frasa, Majalah Noormuslima (Hongkong), Majalah Sagang, Koran Cyber, KOMPAS.com, Kuflet.com, Detak UNSYIAH, AKLaMASI, Bahana Mahasiswa,dll. Aktif di Community Pena Terbang (COMPETER).