Puisi Puisi: Vito Prasetyo

Buku Catatan Kita

Masa lalu…..
Puluhan tahun silam
seakan hidup ini milikmu
semua membelaimu
mengusapmu,
menimangmu,
dan menyayangimu
Begitu polos
penuh kasih sayang
Saat tangismu pecah
semua akan peduli padamu
Tak pernah ada bohong di wajahmu
tak pernah ada dusta di hatimu

Kini, masa itu telah berlalu
sering engkau menentang takdir
nasib seakan bisa terbeli
bohong dan dusta jadi bumbu hidup
segala nista terasa bagai hiasan dunia
terus memburu kenikmatan sesat
seakan tak pernah punah
tak pernah pupus diterjang badai
tak lapuk ditelan waktu
Aku datang sebagai sahabatmu
bukan malaikat yang mengingatkanmu
juga bukan perantara taubat
Diriku hanya hamba sahaja
masih penuh peluh di badan
dekil masih melekat di tubuhku
Mari kita uraikan waktu
mengenang masa kecil
saat hujan mengguyur tubuh kita
saat terik matahari memayungi tubuh kita
melepas tawa dan canda
seperti menggurat cakrawala di langit
menggaris lembayung di sudut pandang
dan membias dalam keceriaan kita

Roda hidup terus berputar
seperti matahari mengitari bumi
laksana bulan mengelilingi bumi
menyusuri semua lorong waktu
menuntaskan perjalanan hidup
Hingga tiba giliran kita
menutup buku catatan
saat penghujung waktu t’lah berakhir
– dan kadang hadir tanpa pesan

Malang – 2016

 

Bingkai Merenung

rindu ini seakan menjebakku
pada bingkai pigura ini wajahku pernah tersenyum
sekian lama ruang waktu kuarungi
jagad nusantara kujelajahi
kadang bintang gemintang turut mengiringi langkahku
aku tersanjung
terkadang kecewa menyelinap di antara goresan tintaku
itu semua membuat beban nafsu diriku
emosiku pun turut bicara
penaku mulai kehilangan nalar
ada sesuatu yang menyayat bathin
mungkin juga aku telah kehilangan perenungan diriapakah Tuhan mulai berpaling dariku

jiwa seakan mengarungin laut maha luas
disitu tangis seperti batu karang yang rapuh
ombak menerjang menelanjangi kulit tubuh
tetapi biarlah semua terbasuh
mungkin ada kesucian yang melebur kekotoran jiwa
hingga aku tetap terpaku pada bingkai itu—

(Tumapel – 2016)

 

Bidadari Langit Berpita Jingga

Saat sebuah tatapan terkesima langit
dan dari kaki-kaki langit
menjulur warna-warni pelangi
bercumbu garis lembayung
seakan menanti kehadiran bidadari
bidadari itu berpita jingga
membawa senandung merdu
memanjakan kicauan burung-burung
– yang bercengkrama di pucuk pepohonan
 

Pucuk pepohonan diam termenung
gemuruh angin datang menyibak rambutnya
tak ingin terlena menyambut datangnya bidadari
tatapannya penuh makna
seakan menerobos putihnya sinar
dan berkelana menggapai awan

 

Segenap langkah terhenti
di tepian telaga bertilam angin
meninggalkan sutera selimut malam
setelah melumat semua keindahan mimpi
Bidadari berpita jingga, di tengah kerinduan itu
menghujam batas pandang
dibaringkannya segenap penat
di antara garis lembayung dan kilau pelangi
membenamkan diri di telaga bisu
bermandikan bunga-bunga rindu
membasuh penat dan peluh tubuh
merekatkan kembali aroma baru
pada sekujur tubuh yang mempesona
mengundang kumbang berlalu-lalang
mencari serbuk-serbuk cinta
hingga tertanam di balik sekat resah
tanpa bisa memandang pesona bidadari
(makhluk indah turun dari langit)

 
Dalam tapaknya turun ke bumi
(dia) telah mencari bisikan hati
di atas bahu angin kemarau
tergenggam dalam kerapuhan tubuh
tertusuk rindu dengan jemari cintanya
Kini impiannya tertidur pulas
sebelum pesona malam hadir kembali
menggesek biola di tengah padang rumput
menyanyikan rindu kasmaran yang terpendam
ingin rasanya dia melepas kegelisahan sisa malam
dan berharap ada keteduhan air telaga
Sepasang merpati di kejauhan atap rumah
menyaksikan keresahan hatinya
seakan menerangkan tentang hidup
menuangkan dalam bejana waktu
mungkin esok masih tersisa kerinduan cinta

Malang – 2016

 

Biarkanlah Langit Berbicara                       

Aku melihat jiwamu
di mata langit
tertikam benang hitam
mengembara bersama mendung
suaramu merintih tersayat
entah apa yang menyiksamu
bidadari pun menatap dari kaki langit
berdiri di pangkuan pelangi
tanpa busana, nyaris telanjang
seakan ingin melumat semua birahi jiwamu
dan merobek sisa-sisa jasadmu

 
Sempat engkau berkata pada mereka
tapi mataku terlalu buta untuk memaknai itu
tanganmu ingin meraih benang hitam
benang itu menggulung
terjerat dan ditelan lidah pelangi
menyisakan napas-napasmu
bercengkrama di bahu angin
tergantung sesat di tubuh langit

 
Kalau saja aku punya sayap
ingin kuhantarkan padamu
memohon dengan segenap kekuatan bathin
saat Sang Ilahi masih iba
– dengan semua doa-doaku
agar jiwamu berkumpul bersama
anak-isterimu yang masih menunggu
membakar semua mimpi-mimpi kotor
menggantinya dengan menulis kata-kata suci
mungkin itu dinamakan ilham dari langit
tertulis pada kitab-kitab cinta di rumahmu

 
Sekali lagi kutatap tubuh langit
begitu dangkal nalarku membaca misteri itu
kadang kubaca aksara langit dengan sebuah kebohongan
mencoba menggapai jiwamu
entah dimana bisa kutemukan dirimu
karena takdir telah memvonis kasat mataku, dan
biarkanlah langit berbicara

(2016)

 

Biarkanlah Aksara Berbicara

Sudah lama tidur itu tanpa mimpi
kini angin berhembus menguak mimpi
menerangi akal lewat cahaya mentari
di tubuhnya ada segenggam senyum
selaksa keinginan pun menuangkan hasrat
dihembus angin dalam keranjang aksara
 

Dalam diam tidaklah harus terasa sunyi
semua kepalan tangan menyatukan keinginan
tak perlu lagi berjalan dengan langkah gontai
karena perang nalar hanyalah bias zaman
kadang (dia) berkelana pada ruas-ruas waktu
kadang menjelajah ke sudut-sudut kotor
hingga aksara itu menjadi sebuah kejernihan pikir
membuat semua malam jadi terkesima
– dan siapa pun serasa ingin memeluknya

 
Kalau saja boleh
aku ingin hidup pada dunia itu
meneruskan titah para penulis syair indah
mungkin, masih banyak mimpi “mereka” tersimpan
di balik pusara “mereka”, yang duduk membisu
tanpa peduli panas dan hujan
menerjang tanah-tanah penyimpan jasad “mereka”
– yang kadang berharap ada kiriman doa di atas tanah itu
atau mungkin kita hanya terbelenggu
dalam keindahan aksara peninggalan “mereka”
lewat susunan bait-bait pelipur makna
 

Zaman telah mengubah sejarah
walaupun pena terus memacu langkah
mencari batas-batas yang tak bertepi
dan aksara itu terus bicara
lewat orang-orang penulis syair
hingga dunia tak bisa lagi berpaling darinya

Malang – 2016

 

Bait-Bait Duka

Tak lagi kususun sebait kata
nalar ini seakan pergi
menembus gelapnya malam
 

Disitu, ada luka menganga
entah kapan akan kuobati
telah lama terkunci
– dan berselimut duka
 

Hari-hari berlalu
melangkah semakin jauh
meninggalkan keterpurukan nalarku
Haruskah bait-bait itu kubuang,
memenggalnya dengan pedang doa
atau dengan mensucikan diri?
Agar nalar ini tidak tersesat di persimpangan jalan
atau mungkin bait-bait itu telah terkunci
terbelenggu menyekat pikiran

 
Kini kuberharap untuk memulai lagi
menyusun aksara ke dalam bait-bait
penuh makna…
penuh harap…

Malang – 2016

 

 

Biodata:

 

VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Bernama lengkap: VICTORIO PRASETYO W — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang

Bergiat di penulisan sastra sejak 1983

Karya-karya Sastra pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Jawa Pos Radar Malang (Malang) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantara News.co – Harian Buanakata.Com

Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), Jurnal SM II (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016

Kumpulan Cerpen “Wanita-wanita, Menuju Ridho Allah” (2014 – 2015)

Sedang membuat Buku Antologi Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017)

E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com   —  HP: 081259075381 —

Tinggalkan komentar