Puisi Moh.Romli

Doa di Pagi Hari

Mentari, jangan duakan kami
walau terkadang kami enggan menjawab salammu di pagi hari

di wajahmu kami hidup, sebelum dedaun ranggas mengering

di biasmu kami hinggap, menyimpan ribuan nyawa anak-anak kami yang kelaparan.
mentari, di matamu terdapat seketsa kehidupan kami, dimana burung-burung itu mulai bernyanyi
mentari, di langkahmu kami belari-lari, dimana dedomba merangkak menuju wajahmu yang menari.

 

Mengagumu

Karyamu membuatku ada dari sebelumnya yang ada
mendobrak dua gerbang yang semalam hilang kuncinya
hampir saja aku ini menjadi seekor burung dalam sangkar
yang setiap hari harus bernyanyi menghibur tuannya.
malam menjadi tak gairah
di meganya yang membentangi bebintang
mengunci di antara hati dan otak batu yang semakin padat
Ah ..
kurasa sudah takkan hidup lagi obor ini
andai saja tak ada kabar pagi
dari risalahmu yang kejam yang menerjang dua gerbang itu
mungkin saja ding-ding ini retak
dan takkan lagi mampu berlayar.

 

Matamu Telanjang Sunna

Hentikan,
rasa itu milikku yang kau sebunyikan dariku
hempaskan,
rasa itu yang semakin melilit jiwamu
lepaskan,
rasa itu yang sebenarnya tak pernah singgah di hatimu
jiwamu gersang
matamu telanjang
sementara rasa itu terus mencekam
dan aku masih disini, menafsir matamu telanjang
sebab rasa ini belum kita benahkan.

 

Salahmu Sendiri

Sepasang merpati itu kembali sembunyi
dengan cemas mendekap anak-anaknya yang sedang bersenda gurau di kamarnya
dia melarang anak-anaknya untuk bersuara kali ini
sepertinya dia sangat memahami apa yang akan terjadi
angin ngebut, awan kabut dan kilatannya yang semakin ribut.

 

entahlah, yang kuheran para dewa dan dewi disitu masih tenang menukar sunyi
seakan mereka sama sekali tak terusik kerusuhan itu
mereka tak peduli, melupakan takdir yang sudah di kehendaki
hingga percikan menyapa dan menari
mengguyur dan menyeret jejak kaki
membuyarkan mimpi para dewa dewi.

 

Telanjang Kawan

Telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
lepas dan umbarkan bulu-bulu itu kawan, jangan malu, jangan sungkan padaku, kita hanya berdua dikamar ini.
jangan biarkan kutu-kutu itu menjadi penghuni
apalagi sampai persada itu menjadi miliknya

 

telanjanglah kawan, kita hanya berdua di kamar ini
jika sekiranya kau tak mampu
menangislah dan rekahkan hatimu di dadaku
tak kubiarkan getah-getahnya mengalir begitu saja
sebab tangismu adalah darahku yang tumpah.

 

====================================================================

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016)

No.085232343060

083853208689

 

Tinggalkan komentar