Puisi Redovan Jamil

Bukit Tertinggalkan Kawan

Bukit barisan terlihat tandus dan gundul. Pertapaannya telah usang ditinggal pohon. Kini tak ada lagi kawan merangkul erat, menjaga raga yang menggigil, dan menjawab cerita.

Corak dulu hijau permadani, terhampar luas membentang di jagad Sumatera. Pinus terjajar rapi menjulang langit, menopang tanah di lereng bukit. Kuat, liat, dan erat.

Rerintik hujan basahi pertiwi. Berkepanjangan, menggenang kali, sawah, dan rumah warga. Pekik keluh atas murka Tuhan. Sejenak dingin, berbau, susah beraktifitas, dan rezki terhalang.

Got terdampar sampah, air enggan beranjak pergi, bau sampah dan urat kayu ngambang di udara. Pemerintah menyegrah berbenah, warga sadar akan celaka, dan Tuhan mengutuk akan serakah penebang liar.

Padang, 01 Agustus 2016

 

Sebuah Perjuangan Untuk Sarjana

Lorong penuh kesakralan. Menghujam seram dan debaran jantung. Gemetar kaki memasuki ruang dan tatapan para peminta dan sangarnya mata. Puluhan mahasiswa duduk termangu sembari menunggu. Tentengan kertas tebal berjilid. Peluh bercucuran, kening mengerut, wajah merah padam, dan perut ciut.

Impian digantungkan pada setitik coretan tanda pengesahan. Usaha tak terkirakan pikir. Harapan tak seindah tabir. Menguak, meruah, menganga dan terdampar di sisi yang usang.

Coretan diganti perbaikan. Ulang diulang lagi. Malam berlanjut dinihari. Pagi tak terasa menjemput, fajar murung dan diakhiri hujan.

Bermimpi; ACC menghampiri kertas bertinta biru.

Padang, 02 Agustus 2016

 

Petani Berpacu Hidup

Pagi menyongsong sang surya yang cemerlang. Kaki-kaki baja petani menapak di tanah kering kerontang. Menyusuri jalan setapak yang diselimuti tebalnya embun pagi. Dingin menusuk pori-pori yang termakan usia. Waktu berlalu, hidup menuntut lebih.

Matahari terik menerpa ubun-ubun. Menjalar ke organ dalam yang letih. Dehidrasi, keringat kuyup di baju, dan wajah merah padam. Kepingan rupiah di kumpulkan. Harap sesuap nasi. Padi di sawah bertengkar dengan hama. Tikus-tikus merampas milik yang tak terampas. Memporak-porandakan benih panen yang di tuai berbulan. Babi hutan menyerang dikala sang surya lelap. Burung-burung hinggap di tangkai padi. Berburu dan menompang hidup.

Berbulan-bulan petani menanam, menunggu waktu datang menjemput berkah.

Padang, 31 Juli 2016

 

Cadarnya Pesona

Mata di balik cadar putih. Tersisakan sedikit raga, namun menggoda. Dikaukah itu relung cinta. Buat bibir ini bisu, mata ini nyalang. Hati ini berbisik harap.

Esok pagi dikau berjalan menuju rumah syurga. Elok laku dikau peragakan, senyum dikau tebarkan, buat mimpiku sakin jadi. Diantara bait-bait doa yang kusegerakan.

Dan, senja datang sebelum bianglala tenggelam. Dikau bernyanyi bersama detak jantung. Menyimak tiap canda tawa, hingga rasa tak tertahan.

Padang, 30 Juli 2016

Jika Rindu Bertamu, Kusengajai Bertemu

Malam-malamku dibaluti rindu yang terbentang. Keluh desah suara tersendat. Bungkam asaku kini tertahan, dejavu, melankolis, menjadi satu. Tangan bergetar, mata sayup-sayup menatap fotomu di dinding kamar. Merubah harap jadi getaran rindu yang tak tertahan.

Hujan turun basahi rindu. Usaha untuk mengikis relung-relung hampa tiada tara. Pekik pintu hati tertetes rerintik bulir bening. Membawanya mengalir hingga muara. Menyatu dengan asinnya air laut, bertengkar dengan ombak yang menghempas dan menerpa ke tepian. Rinduku terombang-ambing dalam buliran hujan yang beriak.

Dan, jika rindu sejatinya bertamu. Aku sengai berjumpa pada senja di dermaga kayu usang.

Padang, 03 Agustus 2016

 

===================================================

 

Redovan Jamil, kelahiran Sijunjung, Sumpur kudus 10 Mei 1993. Sedang menempuh perkuliah di STKIP PGRI Sumatera Barat, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Pernah menjadi Ketua HMJ Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2014/2015, Wakil Ketua BEM Kabinet Biru 56 STKIP PGRI Sumatera Barat periode 2015/2016. Aktif di organisasi IMABSII (Ikatan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia Se-Indonesia) periode 2014/2016. Aktif di organisasi IMAKIPSI (Ikatan Mahasiswa Keguruan dan Ilmu Pendidikan Seluruh Indonesia) periode 2016/2018. Ikut dan menjadi pengurus di komunitas menulis (Komunitas Daun Ranting). Perihal menulis; bagiku adalah sebuah kesenangan dan kecintaan. Sebuah terapi jiwa dan renungan hati yang suci.

Tinggalkan komentar