Ada Senja yang Bermain-main di Otakku
ada senja yang bermain-main di otakku,
berwarna kelabu membantang
kearah yang tak berlabuh, anginnya pun riuh,
membuntuti burung-burung menuju ke selatan
untuk berlabuh. senja bermain-main
membentuk pendar cahaya di danau; laut; air
dan juga selembar rayuan yang telah lama kumu.
kapan akan turun senja, sudah banyak orang yang bertanya
dan menunggu, tapi wajahnya direnggut kesedihan.
lalu gerimis datang menjadi bingkai sebelum
larut sebelum malam datang membawa bintang
dan mendung tipis-tipis lalu menebal.
ada senja di otakku sedang melilit kata di mataku.
Malang, 2016
Sepi Membunuh
sepi menikam tubuh, belati telah siap di tancapkan
tetapi mati tak lagi pasti
ruang menjadi bunting lalu malahirkan sepi yang baru lagi,
beranak pinak mengembang seperti soda gembira
di warung sebelah rumah yang dijual dengan harga mati
lalu perut mual menunggu orang keluar dari toilet umum
yang dibandrol dua ribu rupiah dengan sepasang sandal
yang di lepas di di depan pintu. tapi sayangnya terlalu kotor
toliet tersebut, baunya seperti keringat anjing kampung
yang tak pernah dimandikan oleh pemiliknya
yang bekerja di toilet umum itu.
sepi menikan tubuh, menjadikan soda tak lagi gembira
dan tak ada ruang yang bunting lagi
dan dukun beranak tak ramai seperti sebelumnya.
sepi menikam tubuh menjadikan luka
yang tak sempat sembuh sampai lupa kapan bertemu subuh.
Malang, 2016
Nasib Sebatang Rokok
satu batang rokok telah habis,
tiga batang lainnya menunggu dihabiskan,
satu batang rokok harga seribu lima ratus
dengan bea cukai lebih dari tiga ratus
lalu dikali empat batang rokok menjadi enam
ribu tanpa uang kembali sebab membelinya
dengan uang pas. seribu lima ratus dapat sebatang
rokok lalu di nyalakan untuk menemukan asap,
mencari sebab kematian yang terdakwa adalah rokok.
apakah rokok akan dipenjara? apakah ada lapas rokok?
mungkin orang-orang sedang bercanda,
padahal tuhan maha memafkan,
kenapa harus menghakimi padahal benda mati.
Malang, 2016
Tiga Jam Berlalu Melewatkan Ruang
tiga jam sudah berlalu, melewatkan ruang
yang belum bertatap muka dengan waktu
serta matahari yang belum sempat menunjukan
waktu akan terbit. begitulah telunjuk jarimu
menyentuh keningku saat subuh menjelma kabut
dan dingin bersekongkol bersama embun
membelenggu tubuh ringkih seperti ini.
tiga jam sudah aku duduk menunggu
sebelum jarimu menyentuh keningku lagi
Malang, 2016
================================================================
ACHMAD FATHONI, mahasiswa Universitas Negeri Malang. Aktif menulis puisi, cerpen, beberapa puisinya ada di berbagai media cetak lokal daerah, puisinya pun ada di berbagai buku antologi hasil lomba, cerpen-cerpennya beberapa kali mendapat apresiasi juara di perlombaan sayembara menulis. Kini aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis.
No Hp : 085733841571
Alamat : Jl. Semarang No.5 Kampus Universitas Negeri Malang, Gedung C3 UKM Penulis (Achmad Fathoni), Kode Pos 65145 (Malang)