Jatiswara
Bismillah mengajar nama-nama
kepada kitab yang berjalan
ayah pengasih, ibu penyayang
baca. bacalah labangkara
jatiswara lambang aksara
mata. kupaslah bawang
jika erang berhasil menghujam lubuk
maka batu rahasiaku sunyi rahasia
embun suluk. buah gading yang manis
turas tetes tangis Rengganis
Lombok Tengah, 11 Agustus 2015
Kalimasada
Hidup janin bergantung pada sumbu ari yang menempel di pusar. Setia dan bekerja tanpa pamrih. Menghantar semua bahan pelanjut hidup.
Saudara yang ikut selamat namun harus dibuang karena berlendir dan menjijikkan. Paling baik hanya mendapat penguburan. Atau pelabuhan sakral sebagai perantau di sungai. Atau menjadi makanan penghuni kerajaan lumpur.
Berbahagialah yang mati sebelum menemu tua. Sebab banyak yang ingin memutus kegentingan hidup karena merasa sia-sia.
Getih-getir memang memeras batin, sepahit maja yang menyengat lidah dan kepala. Tapi tidakkah kau ingat saudaramu sebelum engkau dapat memamah makanan, sebelum purna kepalamu, badanmu, gigimu dan ingatanmu. Di rahim cahaya dalam kegelapan, cangkang persemedian paling nyaman dari semesta yang pernah ditinggali.
Syahadat paling pertama dari tiada menjadi adamu yang mencipta duniamu dari selembar angin menjadi samudra sampai menumbuhkan tulang belakangmu yang dibungkus daging dan darah.
Ia yang membangunkanmu dari nyenyak panjang di tangkai Lauhilmahfuz, selagi engkau masih menjadi dedaunan sampai engkau menjadi fulan bin fulan, fulan binti fulan. Ia lebih dulu terlahir. Dan 120 malam umurmu, menarik kesaksianmu.
Jika benar kesaksianmu maka ditiuplah ruh, nama dan bagianmu. Di lahatmu pun kelak sebelum engkau memasuki alam baru, alam penantian untuk kesekian kali. Ia masih tetap tegak dan keharusanmu menuntutnya.
Kalimasada jauh telah lahir sebelum semua menjadi ada. Turunan semesta dari Nur Muhammad yang merenung selama ribuan tahun sebelum tiada menjadi ada. Dan hanya karena setetes cahaya perenungannya yang dibagi-bagi kembali, maka jadilah jagad raya.
Lombok Tengah, 02 Juni 2014
Subhanale
Barangkali, hasil sentuhan kearifan yang mengagumkan itu, berangkat dari kerinduan.
Seperti songket subhanale yang dapat membangkitkan syukur para pemabuk mistik.
Apa yang berkilau?
Di mihrab paling jernih. Perempuan Sasak melepas gulungan sanggul rambutnya. Lalu menyelam ke palung bawah sadarnya. Menyimak dengan intim sunyi bahasa sendiri, kemudian memetik kerinduan yang belum tercemar buah pengetahuan.
Tiga minggu adalah waktu yang dihisap untuk membantu sulaman kemuning dari benang banyu yang dipinang seharga puasa mutih 6 hari, terlahir. Maka lahirlah sajian warna dan motif ilham, Lahirlah heksagonal sarang lebah, Berdirilah pertahanan paling kokoh milik alam.
“Subhanallah, Subhanallah”. Menderas asma-asma ketakjuban Jayengrane.
“Subhanale. Subhanale”. Hasil daras Gde Nune dari motif heksagonal
Lombok Tengah, 30 Desember 2014
Tamu Bini Lumbar Betangko
untuk wali yang masih kuat menggenggam adat sasak
maka suka tak suka mempelai harus dihitung
walaupun, seumpama wali akan memeras air batu
sebab pengantin seperti mayat, tiada mampu berbenah sendiri
dua atau tiga hari sebelum hari gawe
juru kabar sampai di sila tamu laki
kurang lebih berpesan mempersilahkan:
tamu hadir di jamuan siang hari terutama bini
sebab, berikutnya diutamakan yang laki lumbar nyongkolan
seperti arisan, terasa ada hutang lawat yang mesti dilunasi
maka tamu bini lebih dulu lumbar betangko
membawa jemba’ yang terbungkus taplak berkembang-kembang
di galangan. semur, sayur ares dan nangka bersantan jadi jamuan lazim
dan entah cempaka atau bangkai sesiapa tak jarang diobrol garing
bila waktu dirasa cukup, tamu pamitan
air muka tuan rumah lintang pukang membalas pati
sekurang-kurangnya jemba’ kembali
dengan sebiris pisang lumut, rengginang dan opak-opak
Lombok Tengah, 04 Juni 2015
Putri Nyale
sekali dalam kemegahan tandur subuh
kala jejak mitos februari samar-samar di muka
sebudi daya jaga yang tersisa sejak semalam penantian
dari atas pasir, laron-laron merubungi akar samudra fajar
bersahutan serapah tentang kelamin perempuan
memanggil tujuh warna raut bianglala
yang kepalang tanggung belum genap meliuk
dan menggulung sauk pangeran sasak
berkejaran rama-rama dengan gelombang surut
sejauh hasrat mencicip siluman mandalika
hanya sekali setahun di jantung musim
ia kembali tedampar untuk berkabar
Kuta, 27 Februari 2016
Lamuh Syamsuar, Lahir di Lombok Tengah. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang dan Bali Pos. Berkesenian di Komunitas Akarpohon (Mataram). Buku puisi pertamanya Secauk Pasir Kesunyian (2014).
HP : 081917137920
