Cerbung: Daruz Armedian
Di langit, mendung-mendung bergelayut pelan. Hitam. Kelam. Kemudian tak terlalu lama menurunkan gerimis. Gerimis yang tipis. Membasahi rerumputan di depan beranda kos-kosan.
Di sini, pertengkaran dimulai. Aku yang bukan siapa-siapa, tidak mengerti apa-apa, cuma diam dan mendengarkan dari kamar kosku sendiri. Pertengkaran itu dari dua insan. Laki-laki dan perempuan. Pertengkaran yang memecah ritmisnya hujan. Pertengkaran yang begitu memuakkan. Pertengkaran yang merusak konsentrasi seseorang sedang membaca buku, sepertiku.
“Sya, ini salah kamu! Mengapa kamu tak menepati janji ke bandara kemarin pagi?!” teriak lelaki itu. Sebenarnya tidak semata-mata teriak, tapi juga membentak. Aku tidak tahu yang sejelasnya dia siapa. Barangkali mungkin pacar Alesia.
“Ha? Salah aku? sebagai laki-laki, harusnya kamu tahu. Harusnya kamu tuh, nyadar kalau aku memang benar-benar tidak bisa datang waktu itu. Kan sudah aku sms!” bantah Alesia, perempuan yang identitasnya sebagai temanku. Bukan hanya itu, teman dekat. Bahkan dekat sekali.
“Tidak! Aku tak percaya sama kamu. Bulshit! Jika aku yang minta, kamu pasti punya alasan begini begitu, tidak pernah satu kali pun menghargai aku!”
“Iya, iya, memang aku selalu salah di mata kamu. Selalu tidak berarti. Apa ini yang kamu namakan sebagai cinta? Ha? Cinta?” suara Alesia meninggi.
“Terserah apa katamu. Harusnya—“ suara si lelaki terpotong.
“Kamu seorang lelaki tak bisa menjaga hubungan. Aku sudah tahu segalanya. Jangan lagi mengelak. Aku sudah tahu kalau kamu selingkuh. Kamu—“
“Bodoh! Itu salah kamu. Harusnya kamu yang nyadar kalau aku juga butuh seseorang waktu itu.—“
Pembicaraan saling potong-memotong. Semakin panas. Semakin garang.
“Kamu laki-laki cemen!”
“Apa katamu?” kata si laki-laki
“Kamu laki-laki cemen! Habisnya tidak pernah ngerti perasaan perempuan!”
Plak!
Terdengar suara tamparan. Aku tergidik. Aku takut bila pertengkaran itu semakin menjadi-jadi. Tidak hanya adu mulut tapi adu fisik. Tentu Alesia perempuan yang lemah akan kalah. Laki-laki tidak tahu diri, batinku.
Aku masih di sini. Di kamar kosku sendiri. Duduk bersandar dinding di balik kamar kos Alesia. Di luar sana, gerimis sudah berubah menjadi hujan. Meski tidak terlalu deras, cukup untuk membuat suara pertengkaran semakin agak kurang jelas. Buku yang sedari aku pegang, kini kuletakkan di meja kecil dekat laptop. Simakanku menjadi serius. Sebab setelah tamparan itu, kini terdengar ada tangisan. Selain itu sudah tidak ada lagi suara-suara yang lain.
Alesia menangis sesenggukan. Agak lama tidak ada pembicaraan lagi.
Aku merutuk dalam hati. Agak lama tidak ada yang kubaca lagi.
Laptop kumatikan. Ternyata tebakanku salah. Masih ada perbincangan-perbincangan yang lain.
“Lelaki bajingan!” teriak Alesia yang membuatku merinding. Entah akan ada apa lagi setelah perkataan itu. Aku hanya bisa berharap tidak ada yang lebih mengerikan daripada tadi.
“Beraninya sama perempuan!” lanjut Alesia. Aku tidak kaget lagi omongan-omongan kasarnya. Sebab dari dulu memang seperti itu. Judes.
“Kamu perempuan munafik! Kita putus!” suara itu menggetarkan. “Tak ada lagi hubungan di antara kita.”
Aku terus menyimak dan menyimak. Semakin kupincingkan telinga. Pada saat itulah…
“Oke, kamu, kamu, jangan per—“
“Jangan banyak omong!”
Prang!
Suara gelas pecah. Seperti sengaja dibanting. Aku tak mau ikut campur dalam urusan yang serba kacau seperti ini. Nanti saja, setelah lelaki yang di dalam kamar kos Alesia itu pergi. Setelah gelas pecah, kudengar gebrakan pintu ditutup. Kembali lagi suara tangisan itu ada. Kali ini lebih memilukan daripada yang tadi.
Tak berapa lama, dari balik pintu yang terbuka sedikit, aku lihat lelaki itu pergi setelah hujan agak reda. Masih ada tetes sedikit-sedikit menyerupai embun pagi. Dengan langkah cepat menuju sepeda motornya yang sedari tadi bertengger di parkiran kos. Orangnya sepadan denganku. Hanya saja dengan jaket tebalnya itulah yang membuat terlihat lebih gagah.
Seperginya lelaki itu dari sini, dari lingkungan kos-kosan, masih kudengar sesenggukan dari dalam kamar kos Alesia. Sebenarnya aku ingin ke sana, tapi nanti dulu setelah ia tenang dari masalahnya. Dari tangisnya.
Kurebahkan tubuhku di kasur lantai. Ah, ada-ada saja di dunia ini.
Alesia adalah tetanggaku. Ketika hendak kuliah di Jogja, ia dipasrahkan orang tuanya padaku. Mereka kenal betul denganku. Sebab rumahku dekat sekali dengan rumah mereka. Sedangkan Alesia sendiri, bukan hanya kenal betul denganku, tapi ia seperti adik. Sungguh, ketika pelajaran apa pun, ia sering minta bantuan denganku. Ia bukan sekelas denganku, dulu. Tapi adik kelas di sekolahan yang sama. Sehingga, kadang-kadang aku dan dia sering berangkat bersama berboncengan.
Di sini, sebagai mahasiswa yang senior darinya, akulah yang harus menjaganya. Itu tujuan awal. Tapi, seiring dia mulai dewasa, dan sekaligus sudah bisa mandiri, aku juga harus mengerti. Setiap orang berhak menentukan kehidupannya masing-masing. Meskipun begitu, aku masih selalu menjaganya. Walau tidak seperti dulu. Sebab orang tuanya telah berpesan seperti itu.
Yang membuatku masih dekat dengannya ada beberapa alasan. Pertama-tama, ia ngekos di samping kosku. Sampai sekarang masih di sini. Karena masih sering minta bantuan masalah kuliahnya. Kedua, ia sering pulang. Setiap bulan pasti pulang ke rumah. Maka dari itu, aku juga sering nitip sedikit uang agar diberikan pada orang tuaku. Begitulah kedekatanku dengannya. Harusya ada beberapa lagi, tapi hal tersebut tidak terlalu penting buat cerita pendek ini.
Aku duduk kembali. Suara sesenggukan Alesia sudah berhenti. Aku mulai beranjak menuju kamarnya. Kuintip dari celah jendela, ia terduduk membisu. Pipiya masih basah oleh air mata.
“Sya,” panggilku pelan. Pelan sekali.
Alesia mendongakkan wajahnya. Mulutnya masih tetap membisu. Hanya saja matanya seperti bicara. Tentu dengan isyarat mata juga.
Aku membuka pintu. Bau harum semerbak menusuk hidung. Memang seperti inilah tempat tinggal perempuan. Yang masih gadis, maksudku. Kupandangi wajahnya dalam-dalam. Seperti ada luka yang begitu menyayat hatinya. Rambutnya acak-acakan seperti orang gila. Buka. Bukan. Maksudku seperti orang yang belum mandi dan belum merias diri.
“Kak,” ia angkat bicara. “Saat ini aku pengen sendiri dulu.” Terusnya pelan. Seperti panggilku tadi.
Aku menyadari itu. Sebagai mahasiswa psikologi yang hampir wisuda, aku memang harus seperti itu.
Aku kembali membuka pintu. Sebelum melangkah ke luar, mulut Alesia kembali berbicara. “Maaf, Kak.”
“Ya, Sya. Tenangkan dulu hatimu. Aku juga mau nerusin ngerjain skripsiku, kok.” Kataku tersenyum sambil berlalu. Masih kudengar lamat-lamat dari mulutnya sebuah kata maaf. Yang entah ke berapa kali.
**
Satu bulan berlalu.
Alesia masih seperti dulu. Tiap harinya dilalui dengan kelabu. Selalu murung. Setiap kali aku mendekatinya, ia bicara agar aku jangan mendekatinya. Ia masih ingin sendiri. Selalu begitu. Maka, kalau seperti ini terus. Akulah yang terluka. Entah apa sebab pastinya, aku tak tahu sekaligus tak mengerti.
Di pantai ini, langit sore cerah sekali. Biru-biru kemerahan. Atau merah-merah kebiruan. Aku rasa sama saja. Suasana seperti inilah yang kumau. Yang kutunggu. Apalagi sesekali ada sekawanan burung melintas, matahari yang condong ke barat seperti ingin menyelami laut dan memancarkan cahaya kekuning-kuningan. Semakin menambah jadi sempurna.
Di sini, aku menunggu seseorang. Sebagai pembaca yang baik pada cerita ini, tentulah kau tidak perlu menebak-nebak siapa orang itu. Pasti akan aku beri tahu. Aku menunggu Alesia. Seseorang yang cantik dan tidak lupa menarik. Dan ini sudah menjadi perjanjian, dia akan menemuiku sore ini.