Oleh: Redovan Jamil
Penulis mengajak pembaca untuk sejenak mengingat betapa spesialnya tanggal 21 Februari di setiap tahunnya. Di mana setiap hari itu di seluruh Indonesia memperingati kebangkitan emansipasi wanita atau persamaan hak wanita pribumi. Semua itu tidak lepas dari sepekterjang seorang wanita tangguh yang lahir di tengah-tengah keluarga bangsawan yang bernama R.A Kartini.

Sungguh sangat berarti dan terpatri di hati apa yang sudah ditorehkan oleh R. A Kartini untuk kemerdekaan wanita di Indonesia. Tapi penulis ingin memberitahu kepada pembaca bahwa masih banyak lagi R. A Kartini lain yang bermunculan di negeri kita ini. Salah satunya yaitu Ibu Riyati dari Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau.
Mengapa penulis bilang Ibu Riyati juga seorang R. A Kartini di era sekarang? Karena beliau sudah melakukan pekerjaan yang mulia dan tidak kalahnya dengan apa yang telah dilakukan R. A Kartini di masanya. Cuma beliau bergerak dibidang pendidikan, sedikit berbeda dengan R. A Kartini yang dulu.
Ibu Riyati dulunya seorang guru PNS di salah satu SD di desa sebelah. Sebagai seorang guru ia menunaikan tugasnya dengan baik, bahkan pernah mendapatkan penghargaan sebagai guru teladan. Apa yang telah dilakukan Ibu Riyati bukan sekedar itu saja. Sepulang sekolah beliau juga mengajar anak-anak suku akit. Anak-anak yang belum pernah mengenyam pendidikan. Buta akan angka-angka, huruf dan dunia canggih lainnya.
Dusun Bandaraya terletak di perbatasan antara Kecamatan Rangsang Pesisir dan Kecamatan Rangsang. Aksesnya sangat sulit karena jalannya yang masih dari tanah. Apabila hujan turun maka tidak bisa dilawati dengan keandaraan bermotor. Dampaknya anak-anak di Dusun Bandaraya belum tersentuh pendidikan.
Ada bangunan Balai Pertemuan Warga, di sanalah Ibu Riyati mengajar anak-anak suku akit (pedalaman) membaca dan berhitung. Tidak mengenal lelah dan juga imbalan. Beliau mengajar anak-anak suku akit dengan inisiatif sendiri. Seizin suami dan bantuan kerabatnya, jadilah sekolah darurat untuk anak pedalaman.
Beberapa papan yang dimiliki oleh suaminya disedekahkan untuk membuat beberapa meja untuk kelancaran anak-anak belajar. Disulaplah bangunan seadanya tersebut menjadi sekolah. Usai mengajar di SD tempat beliau mengabdi, membereskan keperluan keluarga, memberi anak-anaknya makan, setelah itu langsung pergi mengajar. Begitulah kegiatan Ibuk Riyati setiap harinya sehingga anak-anak suku akit bisa membaca, berhitung dan menulis.
Apa yang ditanam selama ini oleh Ibu Riyati berbuah manis. Tidak ada rotan, akar pun jadi, gayung disambut. Masuklah program Sekolah Guru Indonesia (SGI) Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa pada tahun 2016. Tidak luput juga kedatangan 2 orang guru hebat dari Dompet Dhuafa sekaligus bantuan pembangunan gedung sekolah untuk daerah marginal. Alhasil, anak-anak suku akit (pedalaman) sudah memiliki bangunan sekolah sendiri. Mereka sangat senang dan semangat belajar. Semoga semakin banyak bermunculan R.A Kartini di era yang kita hadapi saat ini.