Puisi Puisi Moh.Romli

LITER PAGI

Tak sanggup menahan embun yang berlalu

memaksaku menantang terik matahari

dengan wajah pucat

melawan jeritan lapar yang terasa semakin menyengat

 

lelah aku sangat lelah

Gemetar tangan dan kaki semakin kencang

melewati gang kecoak di bawah got-got panjang

namun tetap saja hasil kepingan logam itu masih tak dapat aku tukar dengan seliter beras dengan harga yang semakin deras

 

mengeluh, bosan dengan harga yang tak terbatas

lalu kucoba mendaki gunung barang kali ada bekas-bekas semalam yang bisa mengganjal perut kita

 

namun yang ku temui bukan itu, melainkan singa yang sedang mencabik – cabik tulang tanpa kasihan.

aku tak tau keadaanku begitupun dengan keluargaku yang masih menunggu liter-liter itu.

 

RINDU MAMAK

Rindu di ujung senja

Mamak, senja itu kembali menusukku

dengan ujung pedangnya yang gelap

 

mamak, senja itu kembali menyambukku

dengan kulit tangannya yang terkupas

seperti yang mamak lakukan waktu aku kecil dulu

 

menyeretku, mamandikanku, menyiapkanku

untuk bergegas di lamur senja itu.

 

terlepas dua gema adalah waktumu

menjemputku

merayuku, menggendongku

 

dan raungan yang kau tahan

hanya untuk duduk dan makan bersama anakmu.

 

Mamak, anakmu rindu akan itu.

 

TIRAKATMU – TIRAKATKU

Lantaran awan memutih

hujan berlalu tak pamit

menyumpahkan rindu kematian

mengabdi keabadian

 

entahlah, yang kurasa bukanlah hakikatnya

melainkan hikmah dari kehendakmu Yaa-Rab

 

atau mungkin ini adalah

pahatan doa mamak

yang masih engkau sapa selama ini

 

mampu membuatku ada

walaupun sebenarnya sudah tiada.

 

tirakatmu dan tirakatku

adalah janji tuhan yang dipersiapkan untukku.

 

AKU TAU ITU

Waktu itu.

Yaah.. sampai saat ini aku masih terus bertanya tentang waktu itu

waktu dimana tiga sukma yang hilang tertangisi.

saat itu aku masih kecil dan keluguannya yang sangat tampak dimata mereka

 

entah dengan kakak dan ibu yang mestinya juga harus bisu, meratap dan melugu

hanya mengasa dan berharap lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama kembali menyatuh di puskesmas itu.

 

kami tak pernah menyalahkan siapa dan siapa, sebab kami sadar berharap bukan menunggu, meminta bukan pula membeli.

 

karna kami adalah orang tiada yang cuma mengemis belas kasih tuhan, entah dari posisi mana datangnya, dari gumpalan darah kita sendiri atau malah dari orang lain yang sama sekali kita tak mengnalinya.

 

harapan semakin beku

sementara detik, menit dan jam mengalir saja di tong sampah

seakan tak ada seorangpun yang rela berkorban mencairi asa dan mengalirkan hingga ke tubuh yang terbaring diranjang sepon hitam itu, kecuali bibik yang juga menangisinya, dengan kerelaan, keiklasan dan ketulusan yang sampai melelapkan dirinya.

aku tau itu

 

lima daging dan darah yang tumpah dari rahim yang sama hanya tampak dua,

ketiga daging dan darah lainnya entah melesat kemana

jangankan bertaruh untuk adapun meraka terpaksa

aku tau itu

 

matanya yang dusta

lelahnya yang pura

suaranya yang nyampah

dan rugi nya yang tanpak nyata

aku tau itu.

 

AKU INGIN SURGAMU

Dengarlah desahan anakmu

tinggalkan malam-malam itu, malam yang kerap melukaimu

sebab aku tak rela jika pekatnya sampai menyentuh mu apalagi lirih nya menyelimuti tubuhmu

ibu urungkanlah niatmu

untuk bangun malam menyiapkan ramuan yang akan ibu jual di pagi hari nanti

sudahlah ibu kumohon berhenti jualan

sekian lama ibu harus membanting tulang demi menafkahi anak-anak ibu, dan mengabulkan apa yang di inginkannya

apapun ibu lakukan itu

walau terkadang fisik tak mampu menuruti kemauan jiwanya yang sudah menua

aku tau itu ibu

karna ibu tak ingin anak ibu merasa kekurangan apalagi sampai kelaparan

tapi itu dulu ibu, itu dulu.

di waktu anakmu masih kecil dan sekarang siklus telah beralih

lihatlah anakmu ibu

pandanglah anakmu

anakmu sudah besar

anakmu sudah bisa hidup mandiri

dan bahkan anakmu sudah siap bekerja untuk ibu.

ibu, izinkanlah anakmu untuk menepati janji-janjinya

janji pada ibu dan juga pada beliau (mamak) yang sudah tiada

ini kawajibanku ibu

dan tangga untuk menggapai surgamu

ibu, aku masih ingat pesan beliau di desah nafas terahirnya,

anakku kalau mamak sudah tiada

jangan nakal ya nak

jangan main terlalu jauh

jangan sampai ibumu bersedih karenamu dan bantulah ibumu dalam setiap kesibukannya

sebab dibalik kesibukan itu

ibumu senantiasa menyimpan mutiara yang setiap hari nya ia kumpulkan untuk masa depanmu kelak

karna beliau tak ada alasan untuk hidup kecuali untuk membahagiakan, membing-bing dan mengarahkan mu ke jalan yang benar nak, ke jalan yang di ridhoinya.

ketika ibumu di dapur sedang memasak siapkanlah kayu yang di butuhkannya

jangan biarkan ibumu yang mengambil dan menebas nya sendiri

karena mamak sudah tak lagi bisa melakukannya nak

dan ketika ibumu di ladang sedang menyabit rumput  untuk peliharaan yang ia pelihara hanya untukmu

bawalah hasil sabitan itu nak

jangan sampai ibumu sendiri yang memikulnya

di karenakan mamak sudah tak lagi di samping kalian

itulah pesan beliau ibu.

desahan itu masih tertera dengan jelas di hati dan di telinga anakmu

jadi kumohon berhentilah jualan demi kesehatan ibu.

 

 

Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995

Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.

Kumpulan Puisi Terbarunya DI SUDUT KOTA (2016).

No.085232343060

083853208689

Tinggalkan komentar