Menjahit Beda (Bag. 2)

Sambungan dari Bag-1
 

Oleh : Nanda Dyani Amilla

Keluarga Agatha tidak sedingin yang aku kira. Keramahan tampak keluar dari retina mata para penghuninya ketika aku sampai dan mengetuk pintu rumah mereka tiga kali. Saat itu, pintu dibuka oleh seorang perempuan berusia 30 tahunan. Perempuan dengan senyum ramah itu mempersilakanku masuk dan menggiringku menuju ruang keluarga. Kedatanganku ternyata telah ditunggu oleh orangtua dan kedua kakak Agatha. Ternyata perempuan yang membukakan pintu tadi adalah kakak iparnya, istri dari kakak laki-laki Agatha.

Setelah membaca pesan Agatha dan menimbangnya cukup lama, aku akhirnya memutuskan untuk menurunkan ego dan rasa takut, memilih siap menemui ayahandanya. Tentu ini bukan perkara mudah. Bagaimana bisa seorang lelaki muslim yang begitu taat kepada Tuhannya, tidak tergoyah sedikitpun imannya, berani mendatangi rumah gadis yang berbeda keyakinan dengannya. Bagaimana yakin ia bahwa keluarga gadis protestan itu akan menerimanya? Keberanian apa yang akan ia bawa untuk berhadapan dengan orangtua gadis tersebut?

Jawabannya hanya satu, lelaki itu mencintai gadis berwajah oriental itu. Lelaki itu ingin menjadikan gadis itu sebagai pasangan hidupnya. Dan ia akan berusaha semampu yang ia bisa, urusan hasil biarlah Tuhan yang menentukan. Sebelum pergi, aku sudah menyiapkan jawaban terbaik. Jika diterima, aku akan sangat bersyukur. Namun jika tidak, barangkali memang inilah takdir yang sudah Tuhan gariskan untukku.

Ayah Agatha mempersilakanku duduk. Aku berusaha meminimalisir gejolak dalam dadaku. Berusaha untuk tetap tenang, meski banyak pasang mata yang seolah melucuti keberanianku. Kulihat Agatha melirikku sekilas dan melemparkan senyum simpul. Aku membalas senyumnya, tipis saja.

“Silakan diminum tehnya, Nak Satya,” suara berwibawa itu keluar dari mulut ayahnya. Aku mengangguk kecil kepada lelaki yang kutaksir usianya sekitar 60 tahun itu. Kemudian menyeruput teh melati yang mereka suguhkan padaku.

“Saya rasa, Nak Satya ini sudah mengenal Agatha lumayan lama. Benar begitu?” bapak berkumis tebal itu kembali bersuara.

Aku mengangguk, “Benar, Pak,”

“Dan menurut cerita Agatha, kalian sudah menjalin hubungan spesial sejak Agatha masuk dan bekerja di perusahaan yang sekarang menjadi kantor bagi kalian berdua,”

“Iya, Pak. Benar sekali,” aku masih menjawab dengan tenang.

“Terima kasih sudah banyak mengajarkan dan membantu Agatha selama ia berada di perusahaan tersebut,” ayahnya tersenyum padaku. Sama sekali tidak tersirat kebekuan di dalam senyumnya.

Aku membalas senyum beliau, “Sama-sama, Pak. Sebenarnya Agatha juga banyak membantu saya di kantor. Dia adalah rekan kerja yang baik,” pujiku sambil melirik Agatha. Yang dilirik malah tersipu, meski tidak dengan ekspresi berlebihan.

“Apakah benar Nak Satya ini adalah seorang muslim?” tanya ayahnya lagi.

Aku rasa, pembicaraan ini akan segera menjurus ke hal-hal yang serius. Aku mengangguk tersenyum.

“Dan Nak Satya masih tetap bertahan menjalin sesuatu yang sama meski tahu bahwa Agatha itu berbeda?” tanyanya lagi.

Aku kembali tersenyum dan mengangguk, “Saya mencintai Agatha, Pak,” entah kekuatan darimana yang kudapatkan hingga aku berani mengatakan hal sekonyol itu di depan ayahandanya.

Kulihat beliau tersenyum, begitu juga dengan ibu dan kedua kakak Agatha. “Kalau saya boleh tahu, apa alasan Nak Satya bertahan sejauh ini dengan Agatha? Apakah memang sudah seserius itu?” beliau menatapku tajam. Seperti berusaha menjatuhkan keberanianku. Tapi lebih terkesan ingin menguji rasaku kepada anak gadisnya.

“Tidak ada alasan lain selain saya meyakini perasaan saya sendiri, Pak. Bahwa saya mencintai putri bapak. Terlepas dari segala perbedaan kami,” ungkapku. Aku masih berusaha tenang.

“Lalu, langkah apa yang akan Nak Satya tempuh untuk membuktikan ini semua? Sekaligus untuk meyakinkan kami sebagai keluarganya, bahwa benar-benar ada seorang lelaki yang begitu menginginkan Agatha?” beliau tersenyum lagi.

Aku menarik napas dalam. Mungkin inilah saatnya aku mengutarakan keinginanku sejak dulu. Demi rasaku, aku tidak ingin bermain-main dalam urusan perasaan. Dan setelah meminta pendapat ibu dari jauh-jauh hari, ada satu hal yang selalu kuingat. Bahwa sejatinya Tuhan menciptakan beda dan cinta dalam satu lingkup yang sama. Beda adalah penyakitnya, dan cinta sebagai penawarnya. Perbedaan tidak selalu menyakitkan. Perbedaan hanyalah ujian untuk membuktikan seberapa kuat kita menerima segala ketentuan Tuhan.

Ayah Agatha menyeruput tehnya, lalu melirikku. Masih menunggu jawaban. Dengan bismillah, aku utarakan keinginanku untuk menikahi Agatha. “Jika diizinkan, saya ingin meminta Agatha dari bapak dan ibu untuk masuk ke dalam keyakinan saya. Dengan sebuah janji, bahwa saya akan dengan sabar dan penuh cinta mengajarkan ia tentang segala ilmu di dalam keyakinan saya,” aku menunduk, tidak begitu berani menatap mata ayah Agatha lagi.

Aku menangkap raut-raut kaget dari kedua kakak Agatha. Untuk kemudian, kakak perempuan yang merupakan ipar Agatha menyahut, “Kenapa tidak Satya saja yang masuk ke dalam keyakinan kami?” terdengar seperti sebuah tawaran yang menampar keras gendang telingaku. Aku diam saja. Misiku bukan untuk memperdebatkan keyakinan di dalam rumah ini. Aku hanya ingin mendapatkan izin dan juga restu dari kedua orangtua Agatha. Khususnya ayahandanya.

Aku kembali menatap ayahnya, seperti meminta jawaban atas segala penjelasanku tadi. Ayahnya tersenyum, lalu menjawab, “Agatha sudah besar sekarang. Dia sudah dewasa. Saya yakin dia sudah bisa memilih mana yang baik dan buruk. Masalah keyakinan, saya serahkan seutuhnya pada Agatha. Dia yang akan menjalani hidupnya. Dia yang akan mengerti tentang pilihannya kelak. Tugas saya sebagai orangtua adalah mendidiknya sesuai dengan ajaran agama yang saya anut, sebab dia adalah anak saya. Ketika dewasa, dia berhak memilih keyakinannya sendiri,” terang beliau dengan sangat bijaksana.

Aku seperti mendapat angin segar. Seolah-olah ada setumpuk kebahagiaan yang tiba-tiba memenuhi rongga dadaku. “Agatha, apa kamu menerima segala yang telah diutarakan Satya?” beliau bertanya kepada putri bungsunya. Kulihat senyum Agatha merekah. Senyum itu jauh lebih indah dari biasanya. Agatha hanya mengangguk, lalu beranjak untuk kemudian memeluk ayah terkasihnya.

Percakapan menegangkan itu ditutup dengan jamuan makan siang bersama. Sambil membahas rencana hubunganku dengan Agatha selanjutnya, ruang makan itu terasa begitu hangat dan penuh dengan cinta. Aku sendiri begitu salut dan terpukau dengan kalimat yang tadi diungkapkan oleh ayah Agatha yang nantinya juga akan menjadi ayahku. Beruntungnya aku dipertemukan dengan orang-orang yang sepaham bahwa perbedaan bukanlah alat untuk memecah belah segala. Perbedaan ada untuk saling menguatkan rasa cinta.

Usai makan siang selesai, Agatha mengantarku sampai halaman. Aku pamit dengan banyak ucapan terima kasih atas pertemuan sehangat ini. Tak lepas kuperhatikan senyum menghiasi wajah Agatha.

“Kau tambah cantik,” kataku membuka percakapan.

“Jelas saja. Aku tambah cantik sepuluh kali lipat setelah mendengar restu itu keluar dari mulut ayahku,” Agatha tertawa.

“Usaha kita tidak sia-sia, bukan?” aku mengedipkan sebelah mataku.

“Iya, karena calon suamiku begitu gigih memperjuangkan segala. Dia berani menemui calon mertuanya dalam waktu yang mendadak seperti ini,” Agatha masih tertawa.

“Iya, dan kelak akan kuajarkan kepada anak laki-laki kita,” aku ikut tergelak.

“Sat…” panggil Agatha usai tawa kami reda.

“Ya?” aku menoleh dengan senyum.

“Aku sayang kamu,” katanya tersenyum.

“Tumben? Biasanya susah sekali mengatakan itu?” godaku.

Agatha menggebuk dua kali helm yang sudah kukenakan. “Aku sedang belajar mengatakan itu setiap hari. Karena setelah menikah nanti, aku akan mengatakan sayang padamu setiap pagi,” dia terkekeh sendiri.

Aku tertawa, mengacak rambutnya perlahan. Aku pamit pada Agatha. Dia melepasku dengan senyum bahagia. Hari-hari berikutnya akan terasa lebih mudah bagi kami berdua. Perbedaan ini akan segera menjadi sama. Tidak akan ada lagi kekhawatiran. Tidak akan ada lagi ketakutan. Beda yang kami jahit hampir sempurna. Dan akan terus menyempurna. Karena kami akan selalu belajar, bahwa perbedaan adalah bentuk cinta dalam bungkus yang berbeda.(Tamat)

 

(Penulis novel “Kejebak Friendzone”, Bentang Pustaka, 2017)

Tinggalkan komentar