
Seni Badud Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Beberapa orang kakek tampak kepayahan mendaki titian menuju puncak bukit. Nyaris tak ada yang melenggang dengan tangan kosong. Mereka mengangkut banyak hal, mulai dari perabot pertunjukan hingga kantung-kantung berisi penganan.
Ahad (7/8), selepas tengah hari, di bukit itu akan digelar sebuah prosesi seni-budaya. Para kakek berseragam hitam-hitam itu adalah seniman Badud, sebuah kesenian tradisi dari daerah Cijulang, Kabupaten Pangandaran. Jawa Barat.
Di puncak bukit berdiri sebuah arena pertunjukan sederhana yang dibangun dari tiang-tiang bambu dan atap dedaunan aren. Di sekelilingnya didirikan beberapa gubuk kecil tempat beristirahat. Saya dan dua kawan jurnalis hadir di sana untuk menyaksikan pertunjukan.
Tempat itu berada di di Dusun Margajaya, Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang. Terletak persis di tepi ngarai, di samping pangkal jembatan gantung yang melintang panjang di atas sungai, kawasan itu dibangun sebagai Kampung Budaya atau sering disebut Kampung Badud.
Dari Pantai Pangandaran, dibutuhkan waktu kira-kira satu jam menggunakan sepeda motor. Dari kelokan jalan raya menuju lokasi, butuh waktu sekitar 15 menit. Untuk mencapai lokasi, diperlukan sedikit perjuangan karena sebagian ruas jalan kondisinya berbatu dan terjal.
Kompleks pertunjukan sederhana itu merupakan ikhtiar warga sekitar untuk menghidupkan kembali seni Badud. Badud merupakan seni musik dan teater rakyat yang bercerita tentang kehidupan petani.
Tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah sosok Nenek serta sejumlah hewan, yakni macan, babi hutan dan monyet. Teater ini diiringi sajian musik khas, yakni tabuhan gendang Dogdog dan Angklung.
Seusai santap siang, pertunjukan dimulai. Sama sekali tak ada wisatawan yang hadir di sana, kecuali kami dan beberapa anak muda yang datang dari luar desa. Orang-orang yang berkumpul pun sebagian besar adalah kru dalam pertunjukan, termasuk ibu-ibu para pemain seni Gondang.
Rupanya, pertunjukan kali itu adalah sesi pembuatan video dokumenter kesenian Badud yang diprakarsai Pemerintah Desa. Tak heran, terkadang adegan diarahkan dan diulang demi pengambilan gambar.
Pertunjukan dimulai dengan penampilan Gondang, yakni seni perkusi alu dan lesung yang dibawakan oleh para ibu. Selanjutnya, tampil lah seni Badud. Hampir 20 orang yang terlibat dalam kesenian ini.
Formasi paling banyak adalah pemain Dogdog dan Angklung, lalu diikuti pemain teater, seorang juru tembang serta seorang paranormal. Sosok paranormal ini menyita perhatian karena dengan mantra dan sentuhan tangannya lah para pemain Badud konon dirasuki mahluk gaib dan disadarkan kembali.
Para pemain peran itu, tokoh macan, babi hutan dan monyet, menari-nari dan berjumpalitan mengikuti musik dan tembang. Gerakan mereka tampak lucu dan mengundang gelak tawa, sebelum akhirnya mereka bergulat satu sama lain dan suasana mulai mencekam.
Mereka lalu menakut-nakuti penonton dengan mata terbelalak seperti hilang akal. Kemudian, satu persatu mereka pun kejang-kejang kehilangan kesadaran. Adegan berbau unsur magis itulah yang membuat penonton, terutama anak-anak, antusias, bahkan berteriak histeris.
Seni Badud Desa Margacinta, Kecamatan Cijulang, Kabupaten Pangandaran. (Andi Nurroni/SwaraPangandaran.Com)
Dijumpai seusai pertunjukan, Sule (62), salah seorang seniman Badud bercerita, seni Badud digagas dua tokoh kampung setempat bernama Ki Ardasim dan Ki Ijot pada awal abad ke-19. Seperti dikisahkan leluhurnya, Menurut Sule, Badud berawal dari kegiatan hiburan petani selama berladang dengan memainkan Dogdog dan Angklung.
Bunyi-bunyian itu, kata Sule, dimaksudkan untuk mengusir hama dan hewan buas, semisal babi hutan dan macan. Pada perkembangannya, Sule bertutur, Badud menjadi bagian prosesi ritual panen raya serta menjadi seni hiburan ketika hajatan syukuran warga.
Dalam bentuk seni hiburan itu, kata Sule, ke dalam seni Badud ditambahkan unsur teater dengan menghadirkan tokoh-tokoh yang bermain peran. Peran-peran itulah yang belakangan menjadi ikon dalam seni Badud.
Sule bercerita, seni Badud perlahan mulai tersisih oleh kesenian lain, hingga akhirnya selepas tahun 1990-an sudah tidak lagi dimainkan. Baru pada tahun 2013, setelah Cijulang menjadi bagian dari pemekaran Kabupaten Pangandaran, kat Sule, kesenian ini berupaya dihidupkan lagi oleh warga dan mendapat dukungan pemerintah setempat.
“Badud yang dulu sama sekarang memang agak beda, kalau dulu kostum-kostum itu dibuat alakadarnya, kalau sekarang lebih bagus,” ujar Sule ketika diminta membandingkan seni Badud dulu dan hari ini.
Di usianya yang telah senja, Sule dan para kakek seniman Badud lainnya kini tengah berjuang menghidupkan kembali kesenian warisan leluhur mereka. Sule berharap, mereka segera mendapatkan penerus untuk melanjutkan estafet kesenian Badud.
Edi Supriadi, Kepala Desa Margacinta menuturkan, perjuangan mereka kini adalah menyesuaikan pertunjukan Badud agar bisa diterima publik dan menjadi atraksi wisata.
Perubahan konsep pertunjukan dan pengemasan ulang seni Badud, kata Edi, tidak bisa ditawar lagi. Beberapa hal dari pakem Badud terpaksa diubah, termasuk memangkas tembang dan menghilangkan unsur magis, setelah mendapat kritik dari unsur-unsur masyarakat sendiri.
“Jadi sebenarnya adegan kesurupan itu sudah tidak ada. Mereka hanya bermain peran, menirukan seni Badud jaman dulu,” ujar Edi yang juga keturunan seniman Badud.
Untuk mengemas ulang seni Badud ini, kata Edi, pihaknya akan menggandeng akademisi seni. Mereka juga berpikir untuk mengkolaborasikan seni Badud dengan unsur seni lainnya, seperti Pencak Silat.
Perjuangan lain yang tak kalah sulit, menurut Edi, adalah upaya pewarisan seni tersebut kepada generasi muda. Ia menyebut, kini seni Badud sudah diajarkan di beberapa SD di desa mereka.
Editor: Andi Nurroni
