Puisi Risen Dhawuh Abdullah

Hidup dalam Hujan

Hidup dalam hujan terasa membosankan dalam anganmu.
Memercikan api kebencian yang kau sulut sendiri melebihi sebuah kehangatan.
Sesabar inikah kau terdiam di tengah garis-garis hujan yang terpapar jelas dalam hati.
Berpayung harapan dan berangan-angan pena yang akan kau susun menjadi barisan doa.

Memang sebenarnya indah.
Tapi hidup dalam hujan itu menyakitkan dan tak lebih jauh dari tusukan duri yang menghunjam rongga batin yang tumpul.

Laksana sunyi, dipenuhi kehampaan.

Bantul, 2016

 

Jangan Coba Mengutuk Hujanku

Dulu aku telah bersusah payah membangun hujan dalam kepalamu.
Merengkuh asaku yang terpendam dalam kenihilan.
Berharap membawa kesegaran bagi ragamu.

Tapi apa imbalmu?
Hujan yang kusirami dengan puisiku agar tumbuh subur, telah kau babat habis hingga tak tersisa.
Mengapa kau begitu tega mengutuk hujan yang tak pernah menggoreskan duka di balik dadamu.
Apa salahnya?
Kuharap kau jangan coba kutuk hujanku lagi.

Bantul, 2016

Seekor Kuda

Kau kibaskan doa dengan ekormu.
Bercampur udara dosa yang menyebar dimana-mana.
Terhirup dengan paksa oleh hidungmu.
Bila hujan turun…
Lamunanmu seperti jalan yang menunjuk kebenaran.
Mengais aspal dengan besi-besi yang sebenarnya tidak pernah belajar untuk menjadi tajam.

Kebenaran
Dengan obor tergenggam kuat di tangan.
Berjalan dalam cahaya-cahaya yang dipenuhi dosa.
Mengais sana-sini tak juga ada.
Membelah jalan tanah, bahkan tidak menemukan.
Oh…
Telah sinar-sinar terbaik yang terangnya melebihi terang segala sinar.
Tapi mengapa begitu sulit menemukan.
Secercah yang kurindukan selama ini.
Nihil dan kosong yang ada.

Bantul, 2016

 

Mencintai Senja

Kau datang dengan tanda tanya
“Mengapa kau lebih mencintai senja dari pada diriku?”

Karena senja terlalu indah untuk menjadi kenangan.
Maka aku lebih memilih senja yang tidak pernah ingkar pada janji-janjinya.

Yang tidak pernah lupa dengan ucapan-ucapannya.
Tidak seperti kau yang bermulut busa dosa.
Seperti apa maafmu yang kau sampaikan lewat burung merpati itu.
Aku tetap memaafkan.

Tapi tidak untuk kembali.
Karena aku terlanjur mencintai senja.
Bantul, 2016

 


Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Sedang menimba ilmu di SMA N 2 Banguntapan, Bantul, Yogyakarta. Pelajar yang suka membaca dan menulis cerpen. Alumni bengkel bahasa dan sastra Bantul 2015, kelas cerpen.
Pernah berguru menulis kepada penyair Jogja, Evi Idawati.
Bermukim di Bantul, Yogyakarta.

Tinggalkan komentar