Seekor kucing belang dan gadis perawan
Kucing belang yang kulihat semalam
Duduk di bawah gemerlap lampu taman
Ia sedari ialah korban perkotaan
Keramaian kota yang ta pernah tua dan mati
; tak pernah tidur
Kucing itu diam
Ia rasakan semikir yang menghujaninya dari pepohonan
Aroma alkohol, rokok dan pengharum badan
Dari seorang gadis yang kini berjongkok di hadapan
Memungutnya dengan jemari yang lentik
Kemudian meletakkannya dalam gendongan
Berpeluk mesra
Kucing itu rasakan kenikmatan
Sayang ia hanya doyan ikan
Tak doyan nikmatnya pipi gadis perawan
Atau kursi jabatan
Kediri, 08/06/17
Kerdil
Ia datangi kota kota gemerlap dengan kakinya yang kecil
Saat malam-malam sepi berhiaskan sinar rembulan
Jalan jalanan yang menganggur
Dan aroma tapai di perumahan ujung jalan
Datang kembali, ia pada pagi yang sepi
Berbatas pada jarum jam di pukul tujuh
Ia berjalan lagi sampai malam sepi datang kembali
Harinya hanya sepi
Tak beristri, meskipun ingin
Tapi mustahil
Sebab keinginan hanyalah wujud dari kesepian
Perihal dunia sempat mengerdilkannya
Kemudian gila
Kediri, 08/06/17
Perempuan Tua di Kursi Goyang
Gugusan awan hitam dan ritmis gerimisnya
Membawa aroma hujan dan tanah
Mengingatkannya aroma kubur suami
Yang harum mewangi
Abadi
Perempuan itu termenung di sisi teras
Merapalkan dzikir daripada bibirnya
Kulitnya tak lagi mulus seperti muda; keriput
Menggelambir kulit daripada pipi dan lengannya
Matanya tak lagi bening
Tersimpan kalut dan ketakutan padanya
Perihal kematian di mana takdir tak dapat mengingkarinya
Atau menundanya
Laa ilaha illallah
Laa ilaha illallah
Bibirnya bergetar tak bergeming
Kapanpun malaikat bisa saja menjemputnya
Dengan kereta uap yang akan menghentikannya
Antara surga atau neraka
Perempuan itu terduduk di kursi goyang
Menyaksikan cucunya yang bermain di halaman
Dengan senyum yang mengembang sebisanya, ia katakan;
“Barakallah, Ngger, cah bagus. Jadilah pandai seperti kakekmu,
Rupawan seperti bapakmu, dan rendah hati seperti ibumu”
Kediri, 09/06/2017
Lelaki yang menamai dirinya pujangga
Datang hari menjelang malam
Ia terduduk di emperan rumah
Menunggu kopi buatan ibunya
Lelaki itu akan berpuisi
Seperti pemuisi-pemuisi dunia maya
Berkawan senja dan secangkir kopi
Ia goreskan bolpoinnya merangkai kata
Ia sebut dirinya pujangga
Ia tlah menulis seribu satu puisi cinta
Teruntuk kekasihnya
Dimuatnya ia mabuk dengan majas metafora
Memesonakan gadisnya, yang tlah tiada
Tepat saat puisi-puisi hinggap di kepalanya
Gadis itu ambruk di tepian jalan raya
Pada februari tnggal dua puluh tiga
Kediri, 09/06/2017
Seorang gila yang duduk di tepi jalan raya
Malam adalah permainanku
Aku akan berlari kecil menyusuri jalan raya depan rumahku
Hingga satu kilometer dari garpu kota
Kunikmati dunia saat semua orang menutup mata
Lelap dalam tidurnya
Kutemui seorang perempuan gila yang duduk di trotoar dekat pasar
Ia kenakan pakaian secukupnya
Hanya baju lusuh dan rok yang telah dirobek-robeknya
Ia kadang hanya mengenakan rok, bertelanjang dada
Meskipun ia perempuan
Tapi dia gila
Ia tak lagi punya malu; malu kepada siapa?
Meskipun ia punyai kemaluan
Yang kadang diumbarnya
Tapi dia gila
Lantas siapa waras mengikutinya?
Enggan yang entah
Kediri, 09/06/2017
Biodata diri:
Isa Asmaul Khusna lahir di Kediri, 12 Maret 1999. Menempuh pendidikan Tadris Bahasa Indonesia (TBIN) di IAIN Tulungagung mulai tahun ajaran 2017/2018. Menyukai dunia kepenulisan cerpen dan puisi.
- FB : Isa Asmaul Khusna
- Email : Isaasna@gmail.com
- Sms/WA : 089539302844
- Alamat : Becek-Tarokan, Kec. Tarokan Kab Kediri Jawa Timur 64152