Kiamat Sudah Dekat

Catatan Kecil (7) Sugiono Mp

Sugiono Mpp

Jangan kaget, itu cuma ilusiku. Tapi bukan tanpa alasan. Bermula dari menyimak tulisan-tulisan Hudan Hidayat belakangan ini, yang asyik bicara tentang kematian. Bahkan ia bilang, “Kematian dalam bahasa – bukan kematian yang nyata.” Atau, ada irama kematian dan bukan irama kehidupan. Luar biasa [sungguh pun ia juga mengulas karya-karya para sastrawan baik di dalam maupun di manca negara, yang bicara tentang kematian], seolah ia sedang jatuh cinta pada dunia yang dalam realitas terabaikan walau jelas suatu keniscayaan.

Keasyikannya luar biasa. Tak kenal lelah. Tak kenal waktu. Perjalanan kala seolah terhenti—tak ada pergantian siang dengan malam, suka-suka ia jadikan temaram bermentari, atau sebaliknya—di lintingan tembakau yang sesekali terkepul asapnya [kukira ia pengudut, setidaknya ketika muda, seperti Roval Alanov, Asrul Sani, Chairil Anwar, Albert Camus] dan jari-jarinya menari lincah membelah ruang space keyboard, mengetuk-ketuk tust merangkai irama tak sekedar kata, tapi pikir dan jiwa, menembus ruang tan batas, menejelajah seribu dunia, mengembara ke sepuluh ribu kehidupan.

Betapa tak!

Di tubir subuh ia masih ten-tag postingan menanggapi komentarku—yang juga sama begadangnya—dan huruf-huruf dalam kekata indah bernas penuh wawasan—tak cuma sastra, bahkan juga mendekat alam barzah, semacam faham tasawuf—pun menggelinjang-gelinjang di monitor para facebooker grup Majalah Sastra Maya. Aku tak tahu pasti, alasan apa yang membuat lelaki ini seperti orang kesurupan, kemasukan roh peradaban baru, peradaban cyber, sehingga antusiasmenya melampaui batas kewajaran seorang manusia biasa. Ia bekerja terus, tak kenal henti [mungkin hanya saat sholat dan buang hajat saja, atau ia telah berdamai dan mampu mengendalikan mekanisme biologisnya] meluncur bak roket penghantar pesawat ruang angkasa, atau pun luapan magma dan lahar gunung berapi ke tetanahan yang kelaknya akan menumbuhkan kehidupan baru sementara yang lama terpendam membatu, memfosil, yang tetap berdayaguna bagi kehidupan. Tapi tepatnya adalah, alir air yang menderas melaju ke hilir dari sumber alam di hulu yang tak habis-habisnya mengucur-muncratkan energi kehidupan. Itulah ekstase-mati [yang lebih hidup dari kehidupan] Hudan Hidayat dalam persetubuannya dengan sang kekasih, aksara yang penuh makna.

Kuintip, ada celah sunyi. Mungkin. Bertahun sudah pergulatan aksara ia lakukan tanpa ada tanggapan yang berimbang, bahkan seolah ia berlari paling depan sementara yang lain tertatih-tatih kepayahan mengikutinya. Bagaimana ia mampu bertahan selama itu tanpa mitra sepadan, sungguh, di luar batas kelaziman. Aku yang mencoba tetirah sebulan di kawasan ini—dalam literasi yang teramat sangat jauh di bawah kapasitas karya Hudan—megap-megap dan nyaris frustrasi karena tiada sambutan yang memadai, seolah melolong di dataran ompong. Tapi, syukur alhamdulilah, entah kenapa entah bagaimana, akhirnya kami bersinggungan, bersalam persahabatan, kukira saling megisi [walau aku yang lebih banyak tercurahi, tidak pun kan kucerapi] untuk tujuan yang padu: demi kemajuan literasi, peradaban, dan kehidupan yang lebih luas lagi. Itu nyata tersurat dalam pernyataannya, “…tulisan kita ini untuk dunia, bukan untuk satu orang ke satu orang, dan ini juga cyber dalam pengrtian medium”.

Kami menghentak sunyi. Menjabat siapa pun yang datang, bergandeng tangan. Bahkan putra Tanah Rencong kelahiran kota juang Bireuen, yang mukim di kota industri Lhokseumawe, Muklis Puna, yang memposting pengantar teori sastra, dan hari ini memunculkan artikelnya lagi, disambut dengan rasa alhamdulillah. Tapi memang, agaknya tulisan-tulisan berwawasan [esai, kritik sastra, jurnal/laporan sastra-budaya, dan sejenisnya] masih jauh lebih sedikit dibandngkan dengan beludagan karya-karya puisi, sketsa [mungkin juga ada cermin, cerpen?] di cyberspace ini, setidaknya di face book. Ada kesenjangan jumlah antara karya puisi dengan telaah, yang semestinya harus berimbang, sehingga kian menyubur-semarakkan dunia sastra.

Memang, ada bebeapa nama yang sering muncul dengan muatan kritik sastra, atau dialog tentang teknik kepenulisan, di anataranya [maaf yang baru aku ketahui]: Agung Pranoto [Pakdhe Agung/Akar Ilalang Arthawan], Eko Windarto, Indra Intisa, YO Henrie Suyidna, tapi rasanya masih harus bertambah lagi. Bukankah ada beberapa nama guru besar di tanah cyber sastra ini? Atau juga mereka yang senyatanya mampu—tapi belum mau—muncul di permukaan wacana pemikiran sepreti Roval, Ghouts [aku tahu mereka mempelajari tasawuf, terlihat dari kilasan puisi dan beberapa komentar mininya], kenapa tidak kalian turut beurun-rembug memakmurkan jagat sastra dalam literasi yang membuka cakrawala? Nah, kenapa tidak bersama berendeng-gandeng melangkah ke luar dari kegelapan?

Sesungguhnya, penulis di media cyber harus lebih berbangga dibandingkan dengan penulis di koran atau majalah dalam hal capaian audiens. Kenapa? Tadi pagi di laman hp-ku kedatangan tamu Mr. Facebook membagikan video [sayang aku gaptek jadi cuma melongo, atau karena hape butut yang muncul cuma fotoku] dengan ucapan selamat, dan meginfokan kalau facebook members, mencapai lebih dari dua milyar. Bayangkan, sekali tag postingan kita saat itu juga menjangkau jumlah fantastis itu. Ambil sepermil persen saja yang aktif melongok tulisan kita, berapa sudah bilangannya, jauh melebihi jumlah pembaca sebuah koran atau majalah. Tentang honorarium? Nah ini juga mengemuka dalam perbincanganm antara penulis di dunia maya. Jangan cemas, imbalan itu pasti ada, walau tidak berbentuk rupiah. Apa pun yang kita lakukan itu selalu mengunduh buah, bagaimana pun bentuknya. Ini sudah hukum alam. Kausalita. Ibarat bermain squash, lemparan bola akan memantul balik sesuai dengan kadar pukulannya. Bagi orang beragama, imbalan itu hanya Tuhan yang tahu dan yang akan memberikan, dan bukankah apa yang kita lakukan itu adalah meifestasi dari keibadahan?

Oleh karena itu saya berani menjamin, bahwa salaris [sebagai take ‘home’ pay] para penulis cyber adalah ‘kemuliaan’ karena anda-anda telah berandil dalam pembaharuan zaman, menapak ke peradaban anyar. Tidak sia-sialah menurut Kitab Kitab Suci kalian, karena tugas menusia menurut adalah untuk mengelola dunia, memperbaiki kehidupan, mencapai titik peradaban yang mulia. Maka, benar kata Pakdhe Agung, “Gak ada masalah antara penulis sastra maya atau pun sastra di sana, di kehidupan nyata.” Ya, sebetulnya perdebatan itu sudah tidak diperlukan. Jauh lebih penting lagi, bagaimana menggunakan medium “mati” [maya] ini untuk kemaslahatan bersama, dan kukira tidak hanya masalah sastra semata, melainkan budaya dan peradaban.

Renungkanlah ini: di hadapan benda mati, internet—apa pun bentuknya—kita merasa hidup, lebih hidup dari kehidupan di dunia nyata. Katakanlah, “hidup dalam kematian” [karena yang kita mainkan adalah roh, ide, gagasan, etos], sementara banyak meraka yang sudah ‘mati’ dalam dunia nyata [karena tak lagi memiliki eksistensi, dan hanya jadi bagian dari satu titik gagasan yang letaknya bisa di mana saja] tanpa mereka sadari. Dunia maya dengan keterbatasan spacenya ini, kalau bisa kita berdayagunakan, luar biasa mukjizatnya. Tengok di dunia sastra maya. Grup-grup bertumbuhan bagai jamur semusim hujan. Jumlahnya luar biasa. Dan keniskalaan dunia nyata memawujud di grup-grup maya ini. Sebuah grup yang owner-nya [nah ini istilah yang ngepop sekarang di samping admin, CEO, untuk grup sastra maya; bandingkan dengan sanggar, bahkan WS Rendra menyebut grupnya Bengkel Teater, suatu fenomena baru bahwa idiom ekonomi masuk di ranah sastra, yang dulu tiada] di Surabaya, terdiri dari komposisi pengurus di Riau, Malaysia, Jakarta, Batu/Malang, dan Sumenep/Madura, berjalan dengan lancar-lancar aja. Bahkan ada sebuah grup yang mengklaim beranggotakan 2.275 [saat kuposting ini dan bukan tak mungkin akhir Juli 2017 mencapai angka 3.000] dikelola oleh seorang mahasiswa semester dua universitas terbuka yang kesehariannya sebagai pekerja bengkel di Timika, Papua. Kini ia merangkap sebagai admin grup baru lagi.

Luar biasa.

Literasi ini sesungguhnya hendak menyampaikan kepada seluruh kerabat penulis cyber, janganlah hendaknya merasa minder karena tidak tampil di media konvesionil, bahkan ada yang mengais-kais pengakuan, seolah-olah cyberspace tak bermakna. Justru sebaliknya, pengisi laman cyber adalah orang-orang mulia karena tengah bersama-sama mengusung peradaban baru yang maha dahsyat pengaruhnya. Lihatlah, face book yang tadinya diciptakan karena keisengan yang mbeling mahasiswa tahun kedua Universitas Harvard, Mark Zuckerberg [28 Oktober 2003] yang secara resmi sebagai layanan jejaring sosial diluncurkan pada 4 Februari 2004, kini mencapai pemakai milyaran orang. Dan jauh sebelumnya, sudah ada mailing list [milis], grup diskusi dan interaksi antar anggotanya di internet. Di Indonesa grup ini dibawa oleh alumnus Berkeley, yang pada 1987-1988 telah membentuk grup diskusi maya dalam wadah ‘Persatuan Komunitas Pelajar dan Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri’, yang merupakan sarana strategis dalam pembangunan komunitas di Internet Indonesia. Milis yang masih betahan hingga kini antara lain itb@itb.ac.id dan dosen@itb.ac.id. Sejalan perkembangan internet, pada 1993 Marc Andersen memunculkan webblog pertama di halaman What’s New pada browser Mosaic [sebelum lahir Internet Explorer]. Januari 1994 muncul Justin’s Home Page, kemudian menjadi Links from the Underground. Weblog yang kemudian terpopuler sebagai ‘blog’ [kali pertama istilah itu digunakan oleh Jorn Barger, Desember 1997] yang modelnya nyaris seperti sekarang ini. Dalam perkembanganya Pyra Labs menyempurnakan sistem blog temuan yang kemudian diakuisisi Google [2002]. Selanjutnya muncul face bobok, lalu instagram.

Dengan kata lain literatur maya sudah dimulai sejak 30 tahun lalu [yang memberikan sumbangan yang berharga dalam perkembangan Indonesia], dan media facebook yang baru 13 tahun mampu mewadahi aneka karya literasi maya [aku baru masuki dua bulan ini di sastra maya, oh ‘koclok’]. Saya justru melihat akan banyak yang bisa diperbuat oleh syberspace ini sekiranya kita mau mengoptimalisasikan. Baiklah, dimulai dengan serius oleh saudaraku Hudan Hidayat, selayaknya beberapa kawan yang sudah menuangkan gagas budaya di laman fb seperti kakanda Waluya Dimas, sobat Martin Aleida, kakangmas Radhar Panca Dahana [yang agaknya belum berkenan memasuki sastra maya] bersama rembug di meja Hudan. Cyberspace ini lebih mengejutkan dan mampu menjadi bagian dari pekembangan peradaban.

Mari.
Tunggu apa lagi.
Kiamat sudah dekat.

Oh ya, seperti di alam nyata, di dunia maya juga ada goda-goda, bahkan keisengan yang tersengaja, atau pun tipu-tipu yang memperdaya. Hendaknya semua sahabat cukup piawai menangkap sinyal yang kurang beres, bisa berupa blokir, hack, atau lebih parah lagi bak penipu yang terorganisasi rapi. Untuk itu kututup literasi ini dengan secuil puisi mini kata:

PARA PENIPU

berkeliaran di jagat maya
berdiri di beranda sastra
smoga terberkati jadi
orang suci

juli kotahujan, namjuhbelasan

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai