Puisi Puisi Ivan Aulia

Aku adalah Lelaki Kota

Di malam penuh pujangga
Lelaki berjalan kaki di pinggir jalan
Membawa selembar doa
Pria musafir melangkah ke masjid
Untuk bermunajat pada Allah
Namun serupa hikmah yang dipetik
Seperti masalah kota hampir terjadi
Di kerap masyarakat

Buang jauh sampah berceceran di jalan
Lelaki biarkan sampah telah terbuang oleh orang lain
Setiap hari berjelaga dengan preman
Di tengah malam membuat kerusuhan
Membandingkan rasa hening
Begitu sepi disertai rasa kondusif
Mengapa pria kota membiarkan hal yang maksiat?
Karena selalu berusaha menjalani hidup
Penuh sabar dan cobaan dihadapi
Berkat allah kami berlindung dalam kemudahan maupun kebahagiaan dunia dan akhirat

10 Mei 2017

Padat di Jalan Raya

Betapa hari yang rasa menyesal
Dimana kendaraan hampir tumpuk
Dan berlalai secara memainkan perasaan
Sore dan senja dipertemukan
Jelang kepulangan membuat hati resah
Menerobos jembatan layang
Kadang ditilang dan biarkan sampai lolos
Polisi adalah musuh terkuat bagimu

Bagaikan hari dan waktu hampir mengulang
Akan tetapi dirimu telah rasa ampun
Tidak peduli cerita dan omong kosong kepada polisi
Terlibat peka terhasut sia-sia
Menendang emosi melalui suara terompet
Membakar dendam yang dihadang
Artinya jalan penuh sengsara
Dan terkesan kejam bila sudah terlewati akhirat

10 Mei 2017

Rasa Percuma

Lembar kertas meremuk
Membenci karya yang memuat rasa sedih
Membungkam rahasia di balik hati begitu putus
Untuk apa melakukan sesuatu yang bermanfaat?
Inilah jalan yang murka

Suka dan duka
Masih saja mengutip tanda tanya
Kira-kira dimanakah letak diri ke masa yang tenang?
Belum bisa percaya kepada tuhan
Selesaikan taubat dengan sekalung doa

Betapa satu berlian
Menghasilkan hidup yang berguna
Rasa percuma membuat perasaan semakin hampa
Buang jauh bila benci
Mengusir diri sebagai alat memusnahkan dosa
Tendang jauh hingga di akirat

10 Mei 2017

Ketika Si Kecil Menangis

: Bermula dari Keluarga Fika
Setiap hari
Merawat balita
Tetapi selalu ulah seperti itu
Setiap pagi mengiringi pangkuan ibu
Saling mengendong lalu menghibur si kecil
Sayang di tengah suasana yang tenang
Diva, Fidi, dan Fika saling bertengkar
Demi merebut es krim
Dan kadang membuat air mata menetes

Fika berceloteh air mata
Ia mengaku memanggil ayah
Jika sedang pergi atau sedang bekerja
Entah selalu berbuat apa?
Tapi jelas keluarga Fika selalu begitu
Diva menenangkan diri dan Fidi selalu nakal
Fika selalu berisik dengan tangisan air mata
Entah jutaan air mata menetes
Hingga dewasa nanti memulai masa yang manja

10 Mei 2017

Ketika Si Kecil Berteriak Sekencang Mungkin

: Bermula dari Keluarga Arkan
Arkan
Lelaki imut yang manis
Semenjak sendiri bersama Ibu
Ia berdiam lalu bermain dengan suara teriakan
Betapa menangis setiap saat seperti dugaan air mata Fika
Dan mengejar bersama sahabat lain
Entah kenapa setiap pagi hanya berteriak saja
Dimanakah Arkan bercerita kepada Ibu
Tentang sebenarnya dirimu terjadi
Percuma saja Ibu menduga keras serta menyiksa hati si kecil
Lalu air mata mulai berderai dicampuri teriak

Tidak mau meninggalkan Arkan
Orang tua selalu mengenggam tangan si kecil
Kesabaran hampir habis
Sampai kapan kasih sayang telah diulus
Ayah dan kakek akan mengontribusi sikap dan budi pekerti
Jangan sepenuh teriak dalam kebiasaan setan
Inilah masa yang panjang dan tidak terulang kembali masa yang sekarang

10 Mei 2017

Konflik antara Balita dengan Ibu

: Bermula dari Keluarga Saka
Saka
Menatap rumah yang sempit
Dampingi Ibu yang menguras tenaga
Lalu hiburlah dengan rasa canda tawa
Mainkan benda yang dimainkan
Sabarlah dan mengelus kasih
Lembar kasih akan terus-menerus
Inilah pertentangan hampir datang
Membentak kata pada si Ibu
Tinggal dengan segala paksa

Inilah air mata yang mengisahkan kesedihan
Andai air mata tak bergeruh
Mengetuk kejiwaan
Rasa senang selalu hilang
Kadang tak bisa mengutip sesuatu
Selalu langkah terasa beda
Inilah jiwa yang hampa
Saka hanya menunggu masa yang menanti

10 Mei 2017

Kembalikan Keyakinan-Mu

Kembalikan rasa pasrah
Setelah menghidap rasa peka
Serasa siang terasa hilang batin
Memeluk telapak kaki Ibu

Kembalikan rasa kecewa
Sehabis malam dilalap air mata
Rasa yakin hampir jauh
Tidak punya rasa percaya diri

Serahkan pasrah padamu
Kepada tuhan yang maha kuasa
Kembalikan harta
Dengan menyumbang infaq dan sedekah
Bukan harta yang digunakan
Di akhirat infaq sebagai tanda pertolongan padamu
Kepada maha penolong maha bijaksana

10 Mei 2017

BIODATA PENULIS
Ivan Aulia, nama pena dari M Ivan Aulia Rokhman. Aktif di Devisi Kaderisasi FLP Surabaya. Kelahiran Jember, 21 April 1996. Ia suka menulis Puisi, Esai, dan Resensi. Menulis adalah sebuah keterampilan antara akal dengan tangan. Kini saya telah menjadi Alumni SMAN 10 Surabaya. Saya seorang penulis ditengah berkebutuhan khusus (Disabilitas).
Telepon/WA : 083830696435
Email : rokhmansyahdika@gmail.com
Facebook : M Ivan Aulia Rokhman
Alamat Korespondensi : Jalan Klampis Ngasem VI/06-B, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, 60117

Tinggalkan komentar