
Deguk Jernih
sinar dan kicau lunak
bersihangat membuka kelepak lembayung
biji-biji kerling yang melayang
seperti sehimpun sayap laron di dinding pagi
menggerayangi lekuk
kelabu, lekuk kalbu
rinduku telah sampai ke deguk jernih
telaga yang hening sepanjang musim
Loteng, 07 Mei 2016
Tanah Pecatu
petak pecatu adalah tanah sengketa yang pulang ke tangan datu
begitulah awig-awig yang ada. tapi adanya sekarang jarang disinggung
padahal tanah seakan meninggal pesan tiada dicipta dua kali
kisahnya waktu itu amat sulit jika air sumur terangkat tanpa timba
maka pecatu digarap keliang. sebagai ganti berkat
lestari rukun kaula sepanjang kampung
sepertinya perjalanan kampung tak sanggup lagi menjinjing khasanah aguman
lantaran hamba-hamba yang lahir kemudian tak banyak tahu tanah pecatu
juga lantaran keliang hampir seluruhnya menyalin ladang nafkah
Loteng, 09 Juni 2015
Pelantun Solawat Subuh
:Uwak Asih
tidak seperti ketika lelap membuai baring kampung
perempuan cekung itu keluar menerobos tirai kabut
ia mengambil air yang diembuni langit
menyuci tapak-tapaknya yang berhadas malam
seakan lembaran sisa pagi melarangnya pulas di sela suara muadzin
selalu ia yang utama terdengar mengisi buta subuh
dengan lantun solawat yang tidak dapat tidak keluar gemetar
mungkin karena gelombang itu lahir dari dada yang tengah digitik gigil
masih dari rambat benang yang pecah dari pengeras surau
terbayang usaha yang dalam memeras jaga, memelihara khusyu
seingat bilamana dulu ia pernah capai lewat mata terpejam
dan yang lepas, seolah mengandung sedih telah lalai-luput menghatur sembah
Loteng, 01 Juli 2015
Durian dan Manggis
barangkali. kita adalah
sepasang buah yang tengah ranum
pada pokok yang berbeda.
aku durian. siapa tak kenal harum dagingku.
aku gemar meninggalkan ujung-ujung duri diriku
memanjat ke salah satu pohon pembaca di kotamu.
segera penciumanmu mengenali aku
sekali lagi. aku gampang mencuri selera darimu,
meruntuhkannya dari dahan jantungmu
sayangnya engkau manggis
meski telah manis
kau tahan tak menangis
kau cukup setia menunggu pencicip
di balik selimut daging merah tua itu
kau perempuan tabah yang tahan
menyekam bara tanpa bicara
barangkali kita sama-sama tengah ranum
bedanya, aku kerap gundah
saat biji mataku selalu menangkap raut tenang seratmu
seolah buah bibirku di depanmu bagai desis ular tak berbisa
Loteng, 29 September 2015
Perut Karung
di sebrang bahu jalan
inaq-inaq menjemur padi
terik memompa biji keringat
garu kayu dan kaki-kaki telanjang
hilir-mudik menggaruk gundukan
dan yang hampar gabahnya telah dirasa kering
inaq-inaq memindahnya ke perut karung
bekas pupuk pabrik
Penujak, 30 Maret 2015
Di Depan Masjid
susu kedelai, baju-baju jibril,
buku-buku masa depan, dan benih putik
merebak di punggung jumat
mata menjalar ke bawah pohon piling
macam-macam baju menawar onak durian
spesies transaksi yang lahir kemudian
pamflet-pamflet penguat kredo
berenang di bawah putih yang bertingkat
meminta bulan dan bintang segera memuai
sedang tukang parkir mengenakan baju Che Guevara
memarkir kata di bawah kubah yang subur
Mataram, 26 Februari 2015
Benih Batu
burung gereja tanpa gereja
sudah waktunya
membangunkan petapa
di dasar piramida
Sengkol, 10 Maret 2015
Mahatma
di hadapan cermin diri
sepicing mata tak kuat menahan silau
sebab di panggung sandiwara
perangai iblis-iblis yang meminjam lidah nabi
bagai sekoloni anjing seperakon
hanya bisu jiwa Mahatma yang tak mampu dikekang berhala
“tak ada amarah yang bisa membakarmu, kecuali
engkau memancing api dirimu sendiri”
Loteng, 25 Oktober 2015
Lamuh Syamsuar, Lahir di Lombok Tengah. Menyelesaikan Studi S1 di IKIP Mataram. Puisi-puisinya juga pernah dimuat di Suara NTB, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Bali Pos dan Riau Pos. Belajar sastra di Komunitas Akarpohon (Mataram). Buku puisi pertamanya Secauk Pasir Kesunyian (2014).