BAYANG IMAJI SEMU
Pupus sudah harapan semu
Raga rapuh mengeropos waktu
Nyala suara telah padam
Karam pada bara dalam sekam
Telah berapa jiwa ku jumpa
Memberi bayang warna yang sama
Kelabu semu tak indah di mata
Hanya menabur kilauan sephia, rona nista
Semu membaur di keheningan malam
Mengusik jiwa yang tenang
Lorong emosi terpendam
luapkan imaji rasa dendam
Sepi menyelimuti jiwa sunyi
luruh menjadi katalis perih hati
Blitar, 5 November 2016
MUNAFIK
Menutupi tabir gelap yang kau pilih
Sikapmu hilang redam dalam sekam
menyimpan rahasia nan mendalam
Mata, hati, telinga
masihkah mereka bekerja
sedangkan hati,
sudah lama mati
lama sudah mati
Aku hilang kepecayaan
hilang sudah kepercayaan
Janji-janji telah kau ingkari
dan aku pun selalu kau bohongi
kepercayaan yang kuberikan
sudah jelas kau sia-siakan
kini, aku pun tak lagi bias mengerti
jiwaku menyanyikan orkes sakit hati
Kata-katamu menusuk berkecamuk
menembus tembus palung hati terdalam
mengoyak kepercayaan dengan guratan nestapa
rona derita menyulubungi tubuh redam yang muram
Blitar, 26 Mei 2016
AKSARA JIWA
Menyingkap tabir waktu
bayangan darimu sebuah angan
membaur jiwa-jiwa yang tenang
sebuah tatapan, pandang
Nyala suara jiwa tak beraksara
tersirat darimu sebuah makna
yang terasa dalam hati
nian tak ku mengerti
Bunga-bunga merekahkan kelopak
mewangi pada setiap sudut sisi
Tersampailah harap sang rindu
Meski terbatas dimensi waktu
Baru ku tahu, bahwa itu
adalah seuntai
aksara
cinta
Blitar, 22 Maret 2016
MUSAFIR DI UJUNG SENJA
Menggulung senja
Pada huluan langit jingga
Deru-deru ombak samudera
Mengiring rona matari berkelana
Langit semakin menghitam
Mengelabuhi puspa cahya pesona
Langkah-langkah menapak tanah persada
Remuk redam tubuh sayu menuju temaram
Musafir di ujung senja
Mengitari rotasi jagat raya
Tapak kaki bergerak bersama
Beratap cakrawala, memecah samudera
Blitar, 15 Oktober 2016
MALAM MEMINANG PURNAMA
Berkas-berkas cahya menyinari langit yang legam
lentera malam tampak cerah maksimum
hilang sudah rona ekspresi muram
yang tampak hanyalah senyum
Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk ceria
semarak pesta memesona
Blitar, 23 Mei 2016
Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com