Puisi Ahmad Radhitya Alam

BAYANG IMAJI SEMU

Pupus sudah harapan semu
Raga rapuh mengeropos waktu
Nyala suara telah padam
Karam pada bara dalam sekam

Telah berapa jiwa ku jumpa
Memberi bayang warna yang sama
Kelabu semu tak indah di mata
Hanya menabur kilauan sephia, rona nista

Semu membaur di keheningan malam
Mengusik jiwa yang tenang
Lorong emosi terpendam
luapkan imaji rasa dendam
Sepi menyelimuti jiwa sunyi
luruh menjadi katalis perih hati

Blitar, 5 November 2016

 

MUNAFIK

Menutupi tabir gelap yang kau pilih
Sikapmu hilang redam dalam sekam
menyimpan rahasia nan mendalam
Mata, hati, telinga
masihkah mereka bekerja
sedangkan hati,
sudah lama mati
lama sudah mati

Aku hilang kepecayaan
hilang sudah kepercayaan

Janji-janji telah kau ingkari
dan aku pun selalu kau bohongi
kepercayaan yang kuberikan
sudah jelas kau sia-siakan

kini, aku pun tak lagi bias mengerti
jiwaku menyanyikan orkes sakit hati

Kata-katamu menusuk berkecamuk
menembus tembus palung hati terdalam
mengoyak kepercayaan dengan guratan nestapa
rona derita menyulubungi tubuh redam yang muram

Blitar, 26 Mei 2016

 

AKSARA JIWA

Menyingkap tabir waktu
bayangan darimu sebuah angan
membaur jiwa-jiwa yang tenang
sebuah tatapan, pandang

Nyala suara jiwa tak beraksara
tersirat darimu sebuah makna
yang terasa dalam hati
nian tak ku mengerti

Bunga-bunga merekahkan kelopak
mewangi pada setiap sudut sisi
Tersampailah harap sang rindu
Meski terbatas dimensi waktu
Baru ku tahu, bahwa itu
adalah seuntai
aksara
cinta

Blitar, 22 Maret 2016

 

MUSAFIR DI UJUNG SENJA

Menggulung senja
Pada huluan langit jingga
Deru-deru ombak samudera
Mengiring rona matari berkelana

Langit semakin menghitam
Mengelabuhi puspa cahya pesona
Langkah-langkah menapak tanah persada
Remuk redam tubuh sayu menuju temaram

Musafir di ujung senja
Mengitari rotasi jagat raya
Tapak kaki bergerak bersama
Beratap cakrawala, memecah samudera

Blitar, 15 Oktober 2016

MALAM MEMINANG PURNAMA

Berkas-berkas cahya menyinari langit yang legam
lentera malam tampak cerah maksimum
hilang sudah rona ekspresi muram
yang tampak hanyalah senyum

Malam meminang purnama
bintang-bintang merenda cahya
di tengah hiruk pikuk ceria
semarak pesta memesona

Blitar, 23 Mei 2016

 

  Ahmad Radhitya Alam, lahir di Blitar, pada tanggal 2 Maret 2001. Siswa SMAN 1 Talun dan santri di PP Mambaul Hisan Kaweron. Penulis bergiat di Teater Bara SMANTA. Karyanya termaktub dalam beberapa antologi puisi dan dimuat di Majalah MPA, Buletin Jejak, Radar Surabaya, Flores Sastra, RiauRealita.com, Radar Mojokerto, dan Malang Post.
Alamat Facebook : Ahmad RadhityaAlam/ facebook.com/mask.vendeta.5
Nomor HP : 085 706 022 133
Email : ahmadradhityaalam@gmail.com

Tinggalkan komentar