Burung-Burung pun Bersujud
Burung-burung itu
tak melekat buah pikirannya
terbang liar di kolong langit
sayapnya dikepakkan memotong ruang hampa
hanya naluri melekat di tubuhnya
kadang membelah ruang waktu
menembus batas-batas semu
kemudian hinggap di ranting pepohonan
Kicauannya merdu menyambut pagi
menciptakan syair indah tanpa musik
hingga membuat makhluk bumi terkesima
mengajarkan tentang sesuatu
yang bukan milik manusia
Kadang burung-burung itu
menjelajah seruas panjang siang
mungkin sampai puluhan kilometer
bahkan ratusan kilometer
tapi tak pernah ada keluh dan letih
tergambar dari raut wajahnya
Saat senja menghampiri penat siang
burung-burung itupun mencari peraduannya
seakan (mereka) terpanggil panggilan Ilahi
tanpa pernah menghitung pengabdiannya
dan seberapa banyak makanan
yang telah masuk kedalam perut (mereka)
karena penghujung senja itu
menjadi akhir perjalanan sehari
untuk menunggu hidup baru di esok hari
Mungkin dalam diam
ketika malam membasuh tubuh burung-burung itu
ada wujud syukur bersemayam
dalam dada mereka (burung-burung itu)
kepada Sang Ilahi
Malang – 2017
Coba Kita Renungkan
wahai engkau gemuruh pembawa maut
tidakkah ‘kau lihat tanahku, tempat berpijak
tak ada lagi pekik suara
karena ketakutan itu mencekam kami
pintu kami tertutup rapat
sedang anak kami menahan lapar
engkau berlari di sepanjang sepi
meninggalkan separuh zaman, – yang telah luka
sementara kami masih mendekap duka
pada titian hidup menanti sebuah kematian
– – –
sungguh kepasrahan ini telah menutup mata
pada tepian waktu, jiwa serasa begitu letih
kadang (dia) berkelana mencari dermaga
untuk menambatkan penat raganya
agar terkuak kembali catatan baru
– – –
tubuh-tubuh indah tak lagi berharga
tercabik dan teraniaya oleh pedang nista
merangkai langkah di semua persimpangan dusta
kini tak sanggup lagi memekik
tak akan luruh tanpa kebeningan doa
selain menunduk dan terus menunduk
merenungi dengan segala apa yang bukan milik mata
terkecuali memandang dengan mata bathin
hingga waktu menyelinap mensucikan diri kita
entah, sampai kapan…..
– – –
Malang – 2017
Episode Rindu
Aku telah mengupas hatimu
dengan separuh langkah hidupku
saat tertanam di ladang kerinduan
Ketika hampir senja,
kita menyusuri kenangan silam
pada tapak-tapak jalan penuh bunga
Bunga mawar pernah kutulis dalam mimpimu
engkau menciumnya tatkala hatimu gundah
dan aroma wangi merambah pada napasmu
Kini bunga itu layu
terpendam dalam gumpalan lara
telah kucoba untuk menanamnya kembali
Biarlah rindu terendam duka
dan air bahagia memercik di antara rimbun daunnya
kita bersihkan luka usang
Ladang itu masih menanti kerinduan kita
dan kicau burung di atasnya menanti sapamu
apakah mulutmu tersaput kebisuan?
Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lamanya
waktu meninggalkan kehampaan ini
kutorehkan garis penaku dalam lembar mimpimu
Akhirnya kini terjawab sudah
engkau telah meninggalkan semua episode rindu
dan membakarnya dalam kebencian abadi
(Malang – 2017)
Kolong Neraka
Nyanyian duka tak berkumandang lagi
sayup-sayup, sejuta harap tenggelam
tenggelam dalam pelukan misteri hidup
napas pun menderu tanpa jalan
Langit tak lagi berteduh dalam keperkasaannya
panas merah-hitam menyatu pada jasad-jasad yang gagal
tak ada malam,
juga tak ada satu pun siang
semua lorong-lorong hidup menjadi gelap
bahkan semua kolong-kolong langit menjadi gulita
Manusia tak lagi sanggup memuliakan dirinya
hanya desis ketakutan meniti pada sebuah kolong
yang teramat panjang dan begitu lama
Malang – 2017
Layu
Lihatlah wajahmu pada cermin
begitu kusut dan layu
kulit-kulit wajahmu pun seakan gersang
Buanglah cinta itu
– yang melekat begitu dalam
janganlah engkau menikamnya
ke batas jiwamu
kepenatanmu telah berada di ujung nestapa
tuntaskanlah hidup
hingga engkau terlahir
pada duniamu yang baru
Malang – 2017
Biodata: 
VITO PRASETYO, dilahirkan di Makassar(Ujung Pandang), 24 Februari 1964 — Agama: Islam — Bertempat tinggal di Malang – Pernah kuliah di IKIP Makassar
Bergiat di penulisan sastra sejak 1983
Karya-karya Sastra (cerpen – puisi – esai) pernah dimuat media cetak lokal dan nasional, antara lain: Harian Media Indonesia (Jakarta) – Harian Pikiran Rakyat (Bandung) – Harian Suara Merdeka (Semarang) – Harian Pedoman Rakyat (Makassar) – Harian Suara Karya (Jakarta) – Harian Radar Malang (Malang) – Harian Radar Surabaya (Surabaya) – Harian Solopos (Surakarta) – Harian Sumut Pos (Medan) – Harian Lombok Post (Mataram) – Harian Duta Masyarakat (Surabaya) – Harian Malang Post (Malang) – Harian Digital Nusantaranews.co – Harian Buanakata.Com – Majalah Puisi – Harian Digital LiniFiksi (Jakarta) – Harian Waktu (Cianjur) – Harian Republika (Jakarta) – Harian Haluan (Padang) – Harian Rakyat Sultra (Kendari) – Harian Fajar (Makassar)
Buku Antologi Puisi “Jejak Kenangan” terbitan Rose Book (2015)),“Tinta Langit” terbitan Rose Book (2015) -“2 September” terbitan Rose Book (2015), “Jurnal SM II” (2015) diterbitkan Sembilan Mutiara Publishing 2016
Sedang mempersiapkan Buku Kumpulan Puisi “Biarkanlah Langit Berbicara” (2016 – 2017) &
Buku Kumpulan Puisi “Sajak Kematian” (2017)
E-mail : vitoprasetyo1964@gmail.com — HP: 081259075381 —