PERNAHKAH TELAPAK KAKIMU DINGIN DAN JANTUNG BEDEBAR
pernahkah telapak kakimu dingin dan jantung berdebar, seperti kualami ketika pertama aku jatuh cinta? di usiamu yang sudah setua sekarang, apakah mungkin hal itu terjadi, sebenarnya hal ini tidak perlu aku pertanyakan kepadamu, tapi, hal itu tidaklah salah tentunya; cinta bisa datang kapan saja dalam suasana yang tidak terduga, dan dirimu boleh bernyanyi-nyanyi, menari-nari, juga menulis puisi karena jatuh cinta, o, cinta!
Cilacap, 02 Juli 2015
MENGEMAS LUKA-CAHAYA
selalu; dirimu mendengar detak-detik jarum jam dinding, apakah sering perih dan ngilu
kecewa pada malam yang turun perlahan?
chin, beberapa hari lagi padang kujelang
bandara minangkabau kujejak
kita pergi ke telukbayur, ke bukit lampu, ke pantai bungus
atau ke indarung rumah yunizar nassyam
mengemas luka-cahayaku
atau bila dirimu ingin mandi-mandi di laut, aku akan menjelma karang
karang tempat dirimu berlindung dari hempasan ombak
lalu sorenya, chin, kita makan sate padang dan minum es durian patimura ya?
Cilacap, 01 Juli 2015
SEGELAS AIRMATA
ia selalu menawarkan kepadamu segelas airmatanya untuk kauminum
nyaris pada setiap pertemuan yang selalu tidak direncanakan
bisa jadi di pesisir laut, di ruang tunggu bandara, di peron stasiun atau bahkan di sebuah kafe
dan engkau akan meminum airmatanya dengan begitu tenang
lalu beberapa saat kau dan ia saling peluk, kemudian berpisah lagi
dan entah kapan bertemu lagi.
Cilacap, 01 Juli 2015
SKETSA PUISI
berapa macam penyakit yang kauderita
engkau selalu menutupinya dengan tersenyum
izinkan, aku mengantarmu bila ke dokter
aku mau kau berobat dan bila harus dirujuk ke rumah sakit
aku akan menungguimu sambil terus membuat sketsa puisi
o, sketsa puisi!
Cilacap, 30 Juni 2015
RUANG INI TERLALU GADUH
ruang ini terlalu gaduh, bagaimana mungkin aku melukis bayang wajahmu
yang bergemuruh, wajah mulai menua tapi matamu masih menyala
dan parau suaramu memanggil-manggil namaku
: “edelweis, edelweis! bunga hutan yang tumbuh di dadaku
mersik di kedalaman jiwaku!”
Cilacap, 30 Juni 2015
BIODATA:

Eddy Pranata PNP, sekarang tinggal di Cirebah –sebuah dusun di pinggiran barat Banyumas, Jawa Tengah. Lahir 31 Agustus 1963 di Padang Panjang, Sumatera Barat. Sehari-hari beraktivitas di Disnav Ditjenhubla Pelabuhan Tanjung Intan Cilacap. Buku kumpulan puisi tunggalnya: Improvisasi Sunyi (1997), Sajak-sajak Perih Berhamburan di Udara (2012), Bila Jasadku Kaumasukkan ke Liang Kubur (2015), Ombak Menjilat Runcing Karang (2016).Puisinya dipublikasikan di Horison, Aksara, Kanal, Jejak, Indo Pos, Suara Merdeka, Media Indonesia, Padang Ekspres, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Batam Pos, Sumut Pos, Fajar Sumatera, Lombok Pos, Harian Rakyat Sumbar, Singgalang, Haluan, Satelit Pos, Radar Banyuwangi, Solopos dan lain-lain.Puisinya juga terhimpun ke antologi: Rantak-8 (1991), Sahayun (1994), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Antologi Puisi Indonesia (1997), Puisi Sumatera Barat (1999), Pinangan (2012), Akulah Musi (2012), Negeri Langit (2014), Bersepeda ke Bulan (2014), Sang Peneroka (2014), Metamorfosis (2014), Patah Tumbuh Hilang Berganti (2015), Negeri Laut (2015), Palagan Sastra (2016), Pesisir Karam (2016), Memo Anti Terorisme (2016) dan lain-lain.
Alamat rumah: Cirebah RT.02/RW.08 Desa Cihonje, Kecamatan Gumelar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kode Pos 53615.
Handphone: 082322062966