TOPENG SUCI
Intan,
Kumohon Jangan menyentuhku kali ini
jika tak ingin ku lumat bibir merahmu
hingga berdarah-darah
mengalir jadi telaga di tubuhku
hingga hutan-hutan kembali subur
berbuah lebat bebani dahannya
hingga hewan-hewan gemuk
juga singa-singa girang dengannya
sebabnya darahmu melebur
maka topeng suci ini akan hancur
dan imanku akan terguyur.
JELANG WAKTU
Aku bukan lagi bulu di matamu
yang setiap saat dapat melindungi matamu dari debu
aku juga bukan lagi kuku di ujung jarimu
yang sejeatinya masih kau butuhkan setiap waktu
tapi aku hanyalah bekas kulit yang menimpel di tubuhmu
yang terlepas dari darah dagingmu
dan itu tak lagi kau butuhkan dalam hidupmu
bahkan tiadapun takkan pernah merasa kehilangan
apalagi sampai kesakitan
buang saja diriku
jika sudah tak berkarisma lagi di tubuhmu
aku tak pernah berharap apa darimu
aku hanya ingin memberi apa yang mampu aku beri
sebab cinta tak mempunyai apa yang ingin aku dapatkan,
tapi cinta mempunyai apa yang aku mampu berikan.
GADIS ASING
Dibalik gantungan sampah maknai
setiap lubang berasap tak sempati
samping etalase tak sengaja dapati
bibir merah manis menjadi
pesonanya yang tak henti
anggun ulurkan lentik jari berduri
dantang mengusik ketenangan hati
entah siapa dan darimana tak pasti
namun cantikmu takkan abadi
kecuali kecantikan yang dari hati
kau tak lebih dari sampah dalam buih negri
nyaris terbawa mati.
PAGI YANG MALU
Bagaimana mungkin ini terjadi
pagi tercipta dari pecahan kaca yang tuhan ciptakan untuk membakar diriku sendiri
sepertinya pagi sudah enggan bercumbu denganku
atau mungkin dia cemburu dengan dinginnya malam yang terus mendekapku
hingga akhirnya geram, dan melemparku di wajah mentari yang bengis
dan memaksaku menyapa ribuan orang di pasar dengan wajah malu.
sebab batu-batu di tepian kolam itu belum aku benahi.
KARENA TUAN
Ketika jalur kehidupan mulai menyempit
mengimpit setiap air kehidupan senantiasa mengungkap jujur
merah memerah
Kaca berkaca
menjelma sebuah noktah
tubuh yang lelap
semakin melenyap
geming dalam penat
pada angkuhnya kota tetap bertuan
dasi melilit tanpak menjilat
dan kami adalah korban
tuan yang melamban
hanya demi umpan
yang mapan.
Moh.Romli, lahir di Bicabi Dungkek Sumenep Madura pada Tanggal 12 Januari 1995
Dan bergiat di Sastra Gubuk Reot Dungkek Pesisir Sumenep.
Kumpulan Puisi Terbarunya PASAR ASMARA (2016).
No.085232343060
083853208689